AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Rabu, 24 April 2013

Apakah Ulamak,Masyarakat,Umat Islam Harus Terlibat Politik

 

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102


                                     OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Apakah Ulamak,Masyarakat,Umat Islam Harus Terlibat Urusan Politik

Muqadimah

Perjuangan untuk menerapkan syariah Islam secara kâffah tidak bisa dipisahkan dari upaya meraih kekuasaan di tengah-tengah rakyat. Kekuasaan adalah jalan bagi penerapan Islam secara sempurna. Tanpa kekuasaan, Islam tidak akan pernah boleh diterapkan secara sempurna. Tanpa kekuasaan tidak akan terwujud pemerintahan Islam yang akan mengatur dan mengendalikan seluruh interaksi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dengan akidah dan syariah Islam.

Untuk itu, seluruh pejuang Islam harus terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk meraih kekuasaan dari tangan mereka. Sebab, kekuasaan adalah milik rakyat, dan rakyat akan menyerahkan kekuasaannya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Ketika rakyat menyerahkan kekuasaannya kepada pejuang Islam, maka gerakan tersebut telah berkuasa dan berhak mengatur seluruh urusan rakyat sesuai dengan pemikiran yang diperjuangkannya.

Namun, rakyat hanya akan menyerahkan kekuasaannya kepada pejuang Islam jika pemikiran-pemikiran (mafâhim), standarisasi-standarisasi (maqâyis) dan tatanilai (qanâ’ât) pejuang Islam telah diterima oleh rakyat. Ketika pemikiran, standarisasi, dan tatanilai yang diperjuangkan pejuang Islam didukung oleh rakyat, gerakan itu pasti akan mendapatkan limpahan kekuasaan dari rakyat. Dalam kondisi semacam ini, pejuang Islam tersebut telah berhasil meraih kekuasaan dari rakyat dan menegakkan kekuasaan Islam yang menjadi prasyarat penerapan Islam secara sempurna.



Filosofi Mendirikan Kekuasaan Islam

Cara mendirikan kekuasaan dan pemerintahan Islam harus dimulai dengan menanamkan pemahaman, standarisasi, dan tatanilai Islam di tengah-tengah rakyat. Tiga hal inilah yang akan melahirkan trust (kepercayaan) dari rakyat. Kepercayaan (trust) ini adalah dasar untuk membangun sebuah kekuasaan (negara). Jika trust terhadap pemahaman, standarisasi dan tatanilai Islam tumbuh di tengah-tengah rakyat, niscaya mereka akan memberikan kekuasaan kepada pihak yang membawa pemikiran, standarisasi, dan tatanilai Islam tersebut. Oleh karena itu, meraih kekuasaan dari tangan umat harus dimulai dengan cara menanamkan pemahaman, standarisasi dan nilai-nilai Islam di tengah-tengah masyarakat hingga pemikiran dan perasaan mereka menyatu dengan Islam.

Tidak hanya itu saja, hubungan yang ada antara rakyat dan penguasa harus dihancurkan dengan cara menyerang seluruh pemikiran, standarisasi dan tatanilai yang diterapkan oleh penguasa lama di tengah-tengah rakyat. Sebab, hanya dengan cara inilah trust islami bisa terbentuk dan trust sekularistik bisa dihancurkan. Ketika trust sekularistik telah hancur, rakyat akan menyerahkan trust-nya kepada partai politik Islam. Pada saat itu berdirilah kekuasaan Islam.


Manhaj
Rasulullah 

Kekuasaan adalah tharîqah (metode/jalan) untuk menerapkan syariah Islam. Cara untuk meraih kekuasaan dari tangan umat harus dilakukan sesuai dengan manhaj dakwah Rasulullah saw. Dakwah, sebagaimana ibadah-ibadah lain, harus selalu sejalan dengan sunnah Nabi saw. Berikut ini akan diuraikan manhaj dakwah Nabi saw. dalam mengubah masyarakat kufur menjadi masyarakat Islam.

Pertama: perjuangan membangun masyarakat Islam harus dilakukan secara kolektif (’amal jamâ’i), bukan individual. Caranya adalah dengan membentuk harakah, partai atau jamaah yang bersendikan akidah Islam dan bertujuan melangsungkan kehidupan Islam. Kewajiban mendirikan partai, firqah atau gerakan Islam didasarkan pada firman Allah Swt.:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imran [3]: 104).

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Maksud ayat ini adalah, hendaknya ada kelompok dari umat Islam) yang siap sedia menjalankan tugas tersebut (mendakwahkan Islam dan melakukan amar makruf nahi mungkar.”1

Imam Ali ash-Shabuni juga menyatakan, “Maksudnya, hendaknya dirikanlah kelompok dari kalian (umat Islam) untuk berdakwah menuju Allah; untuk mengajak pada setiap kebajikan dan mencegah setiap kemungkaran.”2

Kewajiban berdakwah secara jamâ’i juga didasarkan pada fakta sejarah perjuangan Rasulullah saw. dan para Sahabat. Nabi saw. dan para Sahabat merupakan gambaran faktual perjuangan kolektif. Rasulullah saw. berkedudukan sebagai pemimpin bagi kutlah (kelompok) Sahabat. Beliau memimpin para Sahabat untuk meruntuhkan kekuasaan kufur saat itu.3

Alasan lain, perjuangan menegakkan kembali sistem Islam tidak mungkin dipikul oleh perjuangan individual, tetapi mutlak memerlukan sebuah perjuangan kolektif. Berdasarkan kaidah ushul fiqh, mâ lâ yatimmu al-wâjib illâ bihi fahuwa wâjib, mendirikan dan bergabung dengan gerakan Islam hukumnya wajib.

Kedua: gerakan Islam yang harus didirikan oleh kaum Muslim dan kaum Muslim wajib bergabung di dalamnya adalah gerakan Islam yang berlandaskan akidah Islam; bukan partai sekular, sosialis maupun nasionalis. Gerakan/partai Islam itu juga harus bertujuan mengajak manusia menuju Islam dan syariah Islam serta melakukan amar makruf nahi mungkar. Di dalam surat Ali Imran ayat 104, selain ditetapkan adanya kewajiban untuk membentuk gerakan Islam, Allah Swt. juga menggariskan tujuan didirikannya gerakan Islam tersebut: mendakwahkan Islam dan melakukan amar makruf nahi mungkar.

Di dalam Tafsir ath-Thabari disebutkan: Abu Ja’far menyatakan, “…yakni adanya jamaah (kelompok) yang menyeru manusia menuju kebaikan (al-khair), yakni Islam dan syariah Islam yang telah disyariatkan Allah atas hamba-Nya serta melakukan amar makruf nahimungkar, yakni memerintahkan manusia untuk mengikuti Nabi Muhammad saw. dan agamanya yang berasal dari sisi Allah Swt. dan mencegah kemungkaran; yakni mereka mencegah dari ingkar kepada Allah serta (mencegah) mendustakan Nabi Muhammad saw. dan ajaran yang dibawanya dari sisi Allah…”4

Berdasarkan penjelasan ini dapat disimpulkan, bahwa gerakan Islam harus bertujuan mengajak manusia menuju Islam dan syariah Islam serta melakukan amar makruf nahi mungkar. Kaum Muslim dilarang mendirikan atau berkecimpung di dalam partai yang berdiri di atas akidah kufur semacam sekularisme, demokrasi, nasionalisme dan sosialisme; atau menyerukan selain syariah Islam.

Ketiga: gerakan Islam tersebut harus berjuang sesuai dengan manhaj dakwah Rasulullah saw. yang dimulai dari: (1) fase pembinaan; (2) fase berinteraksi dengan masyarakat; (3) fase penerimaan kekuasaan dari tangan umat.

Berkenaan dengan fase pertama, Rasulullah saw. telah membina para Sahabat di rumah Arqam dengan akidah dan hukum Islam hingga terbentuk kepribadian Islam pada diri para Sahabat. Aktivitas pertama yang dilakukan Nabi saw. adalah mengajarkan prinsip-prinsip tauhid kepada para Sahabat. Pembinaan yang dilakukan oleh beliau juga ditujukan agar para Sahabat memiliki bekal untuk berdakwah di tengah-tengah masyarakat.

Setelah turun perintah untuk mendakwah-kan Islam secara terang-terangan, dakwah Nabi saw. masuk ke fase kedua, yakni berinteraksi dengan masyarakat. Pada fase kedua ini, beliau dan para Sabahat terjun ke tengah-tengah masyarakat Jahiliah dengan menyerang keyakinan dan sistem Jahiliah sekaligus menjelaskan pertentangannya dengan akidah dan syariah Islam. Berbekal wahyu, beliau dan para Sahabat menyinggahi pasar-pasar, Baitullah dan tempat-tempat yang sering dituju oleh masyarakat untuk mendakwahkan Islam secara terang-terangan; mereka terus mengungkap kebusukan akidah dan pranata Jahiliah. Akibatnya, Nabi saw. dan para Sahabat harus menghadapi berbagai macam intimidasi dan siksaan dari kaum kafir Quraisy. Namun, beliau dan Sahabat terus bersabar hingga tiba pertolongan Allah Swt.

Pada saat perlawanan orang kafir terhadap dakwah dan kaum Muslim semakin meningkat, Nabi saw. menempuh strategi dakwah baru, yakni thalab an-nushrah (menggalang dukungan) dari ahl al-quwwah (para pemilik kekuasaan). Tujuannya adalah agar mereka rela membantu perjuangan Nabi saw. dalam menegakkan kekuasaan Islam. Di dalam Sîrah Ibn Hisyâm disebutkan, bahwa Nabi saw. menghubungi 18 kepala suku Arab untuk dimintai kekuasaannya. Namun, mereka menolak memberikan dukungan (nushrah) kepada Nabi saw. Nushrah akhirnya datang dari ahl al-quwwah di Madinah.

Keberhasilan Nabi saw. dalam meraih nushrah dari Madinah tidaklah datang secara tiba-tiba. Sebelumnya memang telah terjadi pembinaan Islam yang sangat intensif di tengah-tengah masyarakat Madinah oleh Sahabat beliau saw, Mushab bin Umair ra. Akhirnya, Islam menjadi opini umum di tengah-tengah masyarakat Madinah. Pada saat itulah, pemimpin dari suku Auz dan Khazraj bersedia memberikan kekuasaannya kepada Nabi saw. sekaligus menetapkan Madinah sebagai pusat Daulah Islamiyah melalui peristiwa Baiat Aqabah II di Bukit Aqabah.

Inilah manhaj dakwah Nabi saw. dalam mengubah masyarakat kufur menjadi masyarakat Islam. Manhaj inilah yang harus ditempuh oleh gerakan-gerakan Islam saat ini untuk mewujudkan kekuasaan Islam di muka bumi. Langkah-langkah dakwah yang dilakukan Rasulullah saw. adalah sunnah Nabi yang wajib dijadikan sumber hukum bagi umat Islam dalam menjalankan dakwah pada masa sekarang ini.


Perubahan Masyarakat

Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa perubahan masyarakat disangga oleh tiga pilar utama: (1) pembinaan (kaderisasi); (2) pembentukan opini umum; (3) dukungan ahl al-quwwah.

Pembinaan (tatsqîf) adalah proses internalisasi pemikiran, standarisasi dan tatanilai Islam yang ditujukan untuk dua hal: (1) membentuk kader-kader dakwah; (2) membentuk kesadaran umum di tengah-tengah masyarakat.

Kaderisasi dalam sebuah gerakan ditujukan untuk mencetak kader-kader dakwah yang memiliki kepribadian Islam serta mampu memikul tugas dakwah dan mempengaruhi masyarakatnya dengan Islam. Adapun membangun kesadaran umum dimaksudkan untuk membangun opini umum tentang Islam di tengah-tengah masyarakat agar umat bangkit menuntut perubahan secara radikal serta menyakinkan ahl al-quwwah agar rela memberikan dukungannya bagi perjuangan Islam.

Oleh karena itu, pembinaan (tatsqîf), baik yang ditujukan untuk kaderisasi maupun membina masyarakat secara umum, akan menentukan keberhasilan gerakan Islam dalam membentuk opini Islam di tengah-tengah masyarakat dan meraih dukungan dari ahl al-quwwah. Pembentukan opini umum tentang Islam di Madinah dan nushrah yang diberikan oleh pemimpin Auz dan Khazraj kepada Rasulullah saw. baru berhasil setelah sebelumnya beliau melakukan pembinaan dan penyadaran tentang Islam kepada masyarakat Madinah melalui utusan beliau, Mushab bin Umair ra. Dengan demikian, gerakan Islam tidak boleh mengabaikan pembinaan yang menjadi pilar terbentuknya opini umum tentang Islam di tengah-tengah masyarakat serta teraihnya dukungan (nushrah) dari ahl al-quwwah. Ketika pembinaan, opini umum dan dukungan ahl al-quwwah telah terwujud, maka terjadilah di sana suksesi (peralihan) kekuasaan yang bersifat sistemik dan revolusioner. Ketika suksesi ini berhasil dengan mulus, maka dengan ijin Allah, berdirilah Khilafah Islamiyah dengan kokoh dan kuat. Institusi inilah yang akan mengembalikan Islam dalam kehidupan sekaligus mengembalikan kemuliaan kaum Muslim yang kini dirampas oleh musuh-musuhnya.


Allah Mengambil Sumpah Ulama

Bukankah Allah Swt telah mengambil sumpah dari ulama bahwa mereka tidak boleh diam dan tenang menyaksikan kezaliman dan terjadinya kejahatan? “Wa Maa Akhdza Allahu Ala al-Ulamai Alla Yuqarru  Ala Kizzhati Zhalimin Wa Laa Saghabin Mazhlumin“. Bukankah Allah telah mengambil janji dari ulama untuk tidak diam menyaksikan kerakusan para pelaku kezaliman dan kelaparan orang-orang tertindas? (Nahjul Balaghah, Khutbah 3, Syiqsyiqiah)

Bukankah ulama merupakan hujjah para nabi dan maksumin as di atas bumi?

Bila memang demikian, hendaknya ulama, cendekiawan dan peneliti mengiyakan panggilan Islam dan menyelamatkannya dari keterasingan yang menyelimutinya. Jangan biarkan Islam menanggung kehinaan lebih dari ini. Mereka harus menghancurkan berhala kepemimpinan yang dipaksakan dari pelahap dunia. Mereka harus menampakkan wajah penuh cahaya dan kekuatan mereka dengan kepekaan hati dan politik. (Pesan haji Imam Khomeini ra 6/5/1366 Hs, Sahifah Nour, jilid 20, hal 127)
Penting Mereformasi Pemikiran Hauzah

Kita harus berusaha keras memperbaiki pemikiran dan moral kalangan hauzah. Kita harus melenyapkan dan melawan dampak pemikiran dan semangat yang muncul dari propaganda dan dogma pihak asing dan kebijakan negara-negara pengkhianat dan despotik.

Dampak dari pemikiran dan semangat ini dengan mudah dapat disaksikan. Sebagai contoh, kita melihat sebagian pelajar hauzah hanya duduk dan berbicara dengan yang lain bahwa kita tidak diciptakan untuk kerjaan yang semacam ini. Apa hubungannya dengan kita? Kerjaan kita adalah berdoa dan berbicara tentang masalah syariat.

Pemikiran seperti ini muncul dari propaganda dan dogma yang disampaikan pihak-pihak asing. Hasil dari propaganda keji ini adalah ratusan tahun imperialisme yang telah merasuki kedalam hauzah Najaf, Qom, Mashad dan hauzah yang lain. Pemikiran ini telah menciptakan depresi, kelemahan dan kemalasan. Fenomena ini tidak memberi kesempatan adanya pertumbuhan. Secara periodik mereka meminta maaf bahwa masalah politik bukan urusannya. (Velayat Faqih, hal 126)

Terlibat Urusan Politik Puncak Ajaran Nabi

Mereka menebar provokasi dan propaganda luas agar kita semakin terisolasi. Artinya, mereka bahkan mampu membaca isi otak kita dan kita sampai percaya bahwa kita tidak boleh mencampuri urusan politik.

Tidak!

Tidak benar!

Masalah utamanya bukan ini. Karena masalah terlibat urusan politik berada di puncak ajaran para nabi. Masalahnya adalah perang dan mengangkat senjata menghadapi orang-orang yang tidak bisa menjadi manusia dan ingin menghancurkan kehidupan rakyat. Ini merupakan puncak dari seluruh program para nabi. Tapi kita meninggalkan ajara para nabi. Kita justru mengamalkan bagaimana untuk tidak terlibat dalam urusan politik dan sosial. Yang kita pelajari hanya shalat, sementara yang lainnya kita tinggalkan.

Apakah mungkin seorang menyebut dirinya Islam dan hanya melaksanakan shalat, puasa, haji dan kewajiban yang seperti ini, sementara ia tidak mencampuri usuan umat Islam? Bila tidak ada orang orang memperhatikan urusan Muslimin, maka ia bukan seorang Muslim. Ini sesuai dengan riwayat dari Nabi Muhammad Saw.

Logika Para Nabi

Saya berharap Allah Swt merahmati dan menyadarkan kita. Semoga Allah menyadarkan kita akan hukum-hukum Islam dengan segala kelengkapannya dan segala dimensinya. Jangan berkhayal bahwa Islam hanya sepenggal ini; hanya shalat dan puasa. Tidak benar yang demikian itu!

Bila memang Islam hanya terbatas pada hal-hal seperti itu, tidak mungkin Nabi Muhammad Saw hanya duduk di masjid dan melakukan shalat. Mengapa Nabi Saw harus berusaha keras sepanjang umurnya. Beliau harus berperang, kena pukul, sempat kalah, memenangkan perang dan mengurusi hal-hal yang dapat dilakukannya. Saidina Ali juga demikian, begitu juga dengan yang lain. Hal yang sama dilakukan oleh orang-orang saleh. Mereka yang sadar pasti melakukan semua ini.

Tidak benar bahwa mereka hanya duduk di masjid dan tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan ini. Tidak benar bahwa mereka hanya duduk di rumahnya dan tidak punya urusan dengan orang lain. Mereka bersikap netral dengan semua orang. Bila memang demikian, kita tidak punya kewajiban untuk melakukan sesuatu seperti ini!

Bila logika para nabi seperti ini, maka Nabi Musa as tidak akan pergi menghadap Firaun, atau sebaliknya Firaun tidak perlu mencari-cari Nabi Musa as.

Bila logika para nabi seperti ini, maka Nabi Ibrahim as tidak akan melawan Raja Namrud. Nabi Muhammad Saw juga tidak akan berperang dengan orang-orang Musyrik dan Kafir.

Logika para nabi tidak demikian!

Logika yang dipakai para nabi terkadang asyidda, bersikap keras terhadap orang-orang Kafir dan siapa saja yang anti nilai-nilai kemanusiaan. Sementara pada saat yang sama bersifat lemah lembut dengan sesama Muslim. Sikap keras itu juga pada hakikatnya adalah rahmat bagi mereka.

Semoga Allah Swt menyadarkan kita dan menganugerahkan keselamatan dan kemenangan, Insya Allah.

Semoga Allah Swt menyelamatkan manusia tertindas dari kekuatan-kekuatan besar dan melindungi agama dan dunia kita semua. (Pidato di depan presiden, anggota dewan ahli kepemimpinan dan …, 14 Bahman 1363, Sahifah Nour, jilid 19, hal 96)

Politik Hak Nabi, Wali dan Ulama

Saya harus mengatakan kepada kalian bahwa politik merupakan hak ulama, nabi dan wali Allah. Tapi perlu dicamkan bahwa politik yang mereka miliki berbeda dengan politik yang dimiliki Barat.

Bila kita asumsikan bahwa ada seorang yang muncul untuk menerapkan politik yang benar, bukan dengan cara tak betul dan kefasadannya, sebuah pemerintahan, seorang presiden, sebuah negara yang melaksanakan politik yang benar dan tujuannya demi kebaikan rakyat, maka politik semacam ini merupakan dimensi dari politik yang menjadi hak para nabi dan wali Allah. Sementara sekarang hak itu untuk ulama Islam.


Hubungan antara Agama dan Politik

Mengenai idiom “agama harus dipisahkan dari politik dan ulama jangan mengintervensi urusan sosial dan politik” adalah ucapan para imperialis dan mereka juga yang menyebarkannya. Ungkapan ini diucapkan oleh orang-orang yang tidak beragama.

Apakah di masa Nabi Muhammad Saw politik dipisahkan dari agama?

Apakah di masa itu sebagian ulama dan sebagian lainnya politikus?

Apakah di masa khalifah, berhak atau tidak, di masa kekhalifahan Imam Ali as, politik terpisah dari agama?

Apakah ada dualisme waktu itu?

Ungkapan ini dibuat oleh para imperialis dan disebarkan oleh kaki tangan mereka agar agama dapat disisihkan dari urusan dunia dan mengatur masyarakat Islam. Selain itu, dengan ungkapan ini mereka ingin memisahkan ulama dari rakyat dan perjuangan di jalan kebebasan dan kemerdekaan. Hanya dalam kondisi ini mereka dapat menguasai rakyat dan menjarah kekayaan kita. Ini maksud dari ungkapan di atas! (Velayat Faqih, hal 16)

Rasulullah Penggagas Politik dalam Agama

Rasulullah Saw yang meletakkan prinsip-prinsip politik dalam agama. Beliau membentuk pemerintahan dan pusat-pusat politik.

Mereka yang percaya dengan pemisahan agama dan politik harus menolak seluruh khalifah Islam di periode awal Islam, selama belum menyimpang. Mereka harus mengenyahkan para ulama istana, mereka harus menolak Nabi Saw dan khalifah Islam dan mengatakan bahwa semuanya bukan muslim. Karena mereka semua mencampuri urusan politik.

Politik yang ada di periode awal Islam merupakan politik universal. Nabi Muhammad Saw mengulurkan tangannya dan mengajak seluruh dunia kepada Islam dan politik Islam. Beliau membentuk pemerintahan dan khalifah setelahnya juga membentuk pemerintah.

Di periode awal Islam, sejak masa Rasulullah Saw hingga ketika belum ada penyimpangan, politik dan agama bersatu. Ini semua akibat ulama istana dan istilah yang dibuat oleh Amerika dan Uni Soviet. Bila tidak, maka seluruh nabi dan khalifah para nabi harus disalahkan atau harus menyalahkan dirinya dan pemerintahannya. Bila istilah pemisahan agama dari politik itu benar, maka masalahnya terbatas pada dua kondisi ini, tidak ada yang ketiga.

Islam Agama Politik

Keyakinan kami bukan hanya ulama saja, tapi semua kalangan masyarakat harus terlibat dalam urusan politik. Karena politik bukan masalah warisan milik pemerintah, parlemen atau kalangan tertentu. Politik itu sendiri bermakna kondisi segala sesuatu yang terjadi di sebuah negara dari sisi pengelolaan negara. Di sini, semua warga negara memiliki hak politik. Ibu-ibu berhak terlibat dalam urusan politik dan kewajiban mereka memang demikian. Ulama juga berhak untuk terlibat dalam urusan politik dan itu menjadi kewajiban mereka. Agama Islam merupakan agama politik dan segalanya memiliki dimensi politik, bahkan dalam urusan ibadah. (Pidato di hadapan anggota Forum Pendidikan Tayebeh Pirasteh Langgaroud, Sahifah Nour, jilid 9, hal 136)
Wilayah Faqih Prinsip Terbaik UUD

Prinsip terbaik dari segala bab dalam UUD adalah Wilayah Faqih dan terkait masalah ini ada yang lalai dan sebagian lainnya punya niat buruk. (Wawancara Profesor Hamid Algar dengan Imam Khomeini ra, Sahifah Nour, jilid 11, hal 133)

Memperhatikan Urusan Muslimin

Memperhatikan urusan umat Islam bukan bermakna saya melakukan shalat dan menjadi makmum seorang muslim lainnya. Ini bukan urusan Muslimin. Ini urusan Allah. Urusan Muslimin adalah urusan politik dan sosial Muslimin. (Pidato di hadapan para Imam Jamaat Provinsi Khorasan, Sahifah Nour, jilid 15, hal 146)

Jangan Meninggalkan Bidang Politik

Kalian hendaknya berusaha untuk mensucikan jiwa, memperkokoh prinsip-prinsip Islam, memperkuat fiqih Islam dan memperluasnya. Karena fiqih Islam itu begitu kaya. Tidak ada di dunia ini yang menyamai fiqih kalian. Fiqih ini sangat kaya dan berusahalah untuk memperluasnya. Tapi pada saat yang sama, kalian sebagai faqih tidak boleh meninggalkan urusan politik. Berpikirlah dalam urusan politik dan terlibat di dalamnya. Tidak benar itu bila ada yang berkata, “Saya seorang faqih dan tidak ada urusan dengan masalah politik.”

Kalian adalah faqih dan ahli fiqih, tapi pada saat yang sama harus terlibat dalam urusan politik. Kalian harus terlibat dalam penentuan nasib rakyat. Kalian adalah penjaga Islam dan harus melindunginya.

Semoga Allah Swt menganugerahi kalian semua dengan taufik-Nya. Semoga Allah melindungi kita semua dalam naungan-Nya.

Generasi Muda Ulama Harus Serius Memikirkan Islam

Kalian generasi muda hauzah ilmiah dan ulama muda harus hidup dan menghidupkan perintah ilahi. Kalian generasi muda perlu menumbuhkan dan menyempurnakan pemikiran. Kalian harus menjauhkan diri dari pemikiran seputar kebenaran dan ketelitian ilmu. Karena ketelitian yang berlebihan akan menjauhkan kita untuk melakukan tanggung jawab yang penting.

Bantulah Islam dan selamatkan umat Islam dari bahaya!

Musuh sedang berusaha memusnahkan Islam dengan memakai nama hukum Islam, atas nama Rasulullah Saw. (Pidato di hadapan ulama dan santri Qom, Sahifah Nour, jilid 5, hal 169)

Fiqih, Pelajaran dan Pembahasan untuk Melindungi Islam

Fiqih, pelajaran dan pembahasan yang dilakukan harus bertujuan untuk melindungi Islam. Suatu hari ketika Islam membutuhkan para ahli fiqih untuk pergi ke medan perang, maka mereka harus pergi. Suatu hari ketika Islam membutuhkan agar hauzah diliburkan dan harus melakukan satu pekerjaan, maka demi melindungi pondasi Islam, mereka harus meliburkan pelajarannya. (Pidato di hadapan ulama dan santri Qom, Sahifah Nour, jilid 5, hal 146)
Kewajiban Ulama

Apakah Imam Ali as bukan seorang mulla dengan pidatonya yang begitu panjang? Apakah Rasulullah Saw dengan pidato panjangnya tidak tergolong mulla?

Tapi ketika sampai pada kita, mulailah kita membuat alasan. Karena kita tidak ingin melakukan sebuah kewajiban. Jangan sampai kalian dididik seperti ini!

Kalian semua memiliki kewajiban untuk melayani dan berkorban demi Islam. Kalian berkewajiban tidak hanya untuk belajar. Karena ini juga bagian dari melayani Islam. Kalian berkewajiban mencampuri urusan terkait masalah yang dihadapi umat Islam. Bila terjadi umat Islam menghadapi masalah, kalian berkewajiban untuk ikut campur.

Ulama Harus Menjadi Anggota Aktif Masyarakat

Tidak demikian bahwa manusia yang baik adalah orang yang duduk menyendiri, menghitung bulir-bulir tasbihnya dan berzikir di masjid. Bila orang baik didefinisikan sepert ini, Nabi Muhammad Saw dan Imam Ali as juga melakukan hal itu. Kita tidak pernah menyaksikan dalam sejarah ada orang yang mengatakan bahwa Nabi Saw dan Imam Ali as menyendiri, hanya duduk di masjid dan berzikir. Tapi kenyataan yang ada justru sebaliknya. Beliau hadir dan berpartisipasi di segala bidang.

Dengan demikian, tidak benar bila sebagian orang yang hanya duduk menyendiri dan mengatakan kita harus mengisolasi diri dari kehidupan. Ulama harus menjadi anggota masyarakat yang aktif dan membimbing masyarakat.

Kalian, wahai ulama, harus mengawasi apa yang terjadi di tempat tinggal kalian dan membimbing masyarakat. (Pidato di hadapan para Imam Jumat Provinsi Khorasan, Sahifah Nour, jilid 17, hal 84)

Kita Semua Harus Berkorban Demi Islam

Kullukum Ra’in wa Kullukum Mas’ulun” atau kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban. Kata Ra’in yang berarti pemimpin untuk kalian dan lebih banyak mengarah kepada kalian. Kata itu untuk ulama dan kita semua bertanggung jawab.

Bila kita dibantai secara berkelompok-kelompok, maka mereka yang akan datang belakangan akan mengambil tempat kita. Islam! Kita semua harus mengorbankan diri demi Islam. Nabi Muhammad Saw juga mengorbankan dirinya demi Islam. Imam Husein as juga mengorbankan dirinya demi Islam. Harus dicamkan bahwa Islam adalah sesuatu yang paling besar yang diamanatkan kepada manusia. Kita harus menguatkan tekad kita untuk syahid di jalan ini dan ulama harus lebih dari yang lain. (Pidato di hadapan ulama Tehran, Sahifah Nour, jilid 15, hal 58)

Kewajiban Terbesar Adalah Mendirikan Pemerintahan Hak

Apa yang sudah dikatakan dan akan dikatakan bahwa para nabi hanya berurusan dengan hal-hal spiritual dan tidak mengurusi pemerintahan dan urusan dunia, para nabi, auliya dan tokoh agama memalingkan diri dari dunia dan kekuasaan lalu kita mengambil kesimpulan bahwa kita juga harus melakukan hal yang demikian, maka ini satu kesalahan dan patut disayangkan. Akibat dari pemikiran ini adalah kebinasaan bangsa-bangsa Islam dan terbukanya jalan bagi para imperialis, penghisap darah manusia. Karena yang ditolak sebenarnya adalah pemerintahan setan, diktator dan kezaliman. Pemerintah untuk menguasai dengan motifasi menyesatkan dan punya tujuan duniawi yang telah dilarang dalam agama. Mereka hanya ingin mengumpulkan kekayaan, haus kekuasaan dan bersikap seperti taghut. Pada akhirnya, dunia yang membuat manusia lupa kepada Allah Swt.

Tapi kekuasaan dan pemerintahan hak yang didirikan demi kepentingan orang-orang lemah, mencegah kefasadan dan menegakkan keadilan sosial adalah kekusaan yang seperti dimiliki oleh Nabi Sulaiman bin Dawud dan Nabi Muhammad Saw serta para Imam Maksumin as. Mereka berusaha untuk mendirikan pemerintahan hak. Karena itu adalah kewajiban terbesar dan mendirikan pemerintahan hak merupakan ibadah terbesar. Sebagaimana politik yang sehat menjadi kelaziman dari pemerintahan hak.


Politik dibagi menjadi dua bagian:
  1. Politik Negatif : Menjalankan politik yang didasarkan untuk mencari kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu.

  1. Politik Positif : Menjalankan politik sebagai amanah untuk kemaslahatan umat bersama yang didasari semata karena Ridha Illahi.

Dari dua jenis politik tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasanya bukan politiknya yang buruk melainkan jiwa pelaku politik itu sendiri yang perlu difitrahkan.

Rasulullah adalah seorang politikus ulung, sekaligus sebagai da’i, guru, hakim juga sebagai kepala negara yang mampu mengendalikan umat dengan baik dengan cara yang baik pula yang disertai dengan kebeningan hati. Begitu juga empat khalifah sesudahnya juga seorang politikus yang menjalankan system pemerintahan mewarisi kebaikan akhlak Rasulullah.

Akan tetapi di jaman sekarang akibat makin meningkatnya nilai-nilai keburukan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme juga karena terjadinya degradasi moral para penguasa dan pelaku politik akhirnya banyak umat muslim yang membenci politik dan hal-hal yang berhubungan dengan politik akibat kesalahan persepsi yang harus diluruskan.

Justru situasi inilah yang dimanfaatkan oleh musuh islam untuk menjauhkan masyarakat muslim dari panggung politik dengan harapan dapat memangkas kekuatan Islam dari kekuasaan sebuah Negara, dengan demikian maka masyarakat muslim akan lebih mudah dikendalikan.

Kita tentu masih ingat dengan semboyan kelompok Islam Liberalisme dengan motto “ISLAM YES, POLITIK NO” secara sepintas terkesan baik dan mengajak umat muslim untuk lebih religius dan memfokuskan diri dalam ritual ibadah. Tetapi jika kita sadar sebenarnya umat muslim hendak dijauhkan dari kekuasaan sehingga bisa dikendalikan oleh non muslim.

Padahal sesungguhnya Islam tidak menyukai jika seorang muslim hanya tinggal didalam rumah sementara iblis berkeliaran bebas dimana-mana dan membuat kerusakan di muka bumi ini. Seorang muslim tidak boleh mencukupkan diri dengan hanya berdzikir, bertasbih dan bertahlil dimasjid-masjid saja tetapi Islam juga mewajibkan umat muslim berperan serta menghancurkan kejahatan dan kemungkaran dengan cara amar ma'ruf nahi munkar dan berjihad dijalan Allah sebagaimana umat muslim diwajibkan untuk shalat, puasa dan zakat. Karena jihad adalah tanda keimanan seseorang.

Berkenaan dengan politik ada pendapat dua ulama besar yang mewakili dua golongan.

Ibnu Taymiyah
Politik adalah tindakan yang mendekatkan manusia pada kebaikan dan menjauhkan diri dari kerusakan selama tidak bertentangan dengan syariah.

Imam Al Ghazali
Dunia adalah lading akhirat, dunia tidak sempurna kecuali dengan dunia. Penguasa dan agama adalah kembaran yang harus bersinergi, agama ibarat tiang sedang penguasa adalahpenjaganya. Sesuatu yang tidak mempunyai tiang pasti akan roboh dan sesuatu yang tidak dijaga pasti akan hilang. Seorang pemimpin dan kekhalifahan diartikan sebagai wakil Rasulullah dalam menjaga agama dan menata kehidupan dunia.

Dari dua pendapat dua ulama diatas rasanya tidak ada alasan bagi umat muslim untuk men-tabukan politik karena sesungguhnya politik juga salah satu bagian dari kehidupan beragama. Yang terpenting adalah komitment kita dalam menentukan dan menjalankan kehidupan dengan baik berdasarkan rambu-rambu syariah Islam. Yang terjun dipolitik maka jadilah politisi yang berakhlak baik dengan mengedepankan kemaslahatan bersama bagi yang tidak ingin terjun sebagai politikus maka jadilah umat yang baik dan selalu mengingatkan mereka dengan cara yang baik dan benar.

Politik Dalam Islam


Kepemimpinan adalah politik, sedangkan jiwa politikus adalah moral. Karenanya, politikus harus berpolitik dengan moral. Sehingga, manuver dan kebijakan politik apapun yang ia ambil adalah produk berkualitas dari moral yang ia olah.

Ketika Allah SWT menurunkan Islam di bumi ini, tidak pernah mengindikasikan bahwa Islam akan mengemban tugas untuk mendeklarasikan otoritas negara atau politik sebagai bagian dari misi pembumian Islam, tetapi Islam lebih menitik beratkan pada pengembangan mental dan rohani masyarakat yang direalisasikan melalui pengisian hal-hal religius dan kualitas positif agama di masing personal sociality berupa ajaran tauhid.

Komponen tersebut akhirnya menjadi benih yang menata pranata-pranatanya sendiri seperti suatu negara.

Konsepsi islam merupakan konsepsi kolektif yang mencerminkan realitas kolektif sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Atas dasar inilah Islam mau tidak mau harus terlibat dalam dunia politik kaumnya dengan menetapkan qanun (aturan main) dalam berpolitik yang sealir dengan ideologinya. Pendapat bahwa politik harus lepas dari ikatan agama adalah kesalahan presepsi memandang islam.

Doktrin politik dalam Islam sebenarnya tidak terlalu mengikat pada setiap aspek secara literal --seperti permasalahan ritual-- dengan garis besar doktrin tersebut identik dengan apa yang dikatakan nurani “benar”. Sebab, kebenaran yang telah dirangkai dalam ikatan tekstual al-Qur'an dan al-Hadist yang universal, dengan meletakkan keadilan sebagai “kehidupan layak” setiap masyarakat.

Tuntutan akan persamaan merupakan sifat permanen dari konsep keadilan tersebut, sedangkan keadilan tak mungkin termanifestasikan bila persamaan hak bagi semua orang hanya dianggab kotoran sampah belaka.

Selama keadilan, baik di bidang HAM, ekonomi, ataupun sosial dan keamanan masih berbentuk hal yang abstrak, maka perpolitikan akan tetap dalam ambang kehancuran meskipun gong reformasi dan amandemen di beberapa undang-undang diberlakukan.

Sayangnya keadilan di tanah air kita masih belum bisa terealiasi. Permasalahan internal seperti pemekaran korupsi, perluasan narkoba, kezaliaman aparat, kasus Ambon, Poso atau Papua, menjadi back ground hilangnya kata “adil” dalam sepak terjang politikus Indonesia. Ditambah lagi dengan sifat egois dan agresif yang over acting dari para manusia bernama politikus.

Umar Bin Khattab dalam pidato sambutan kepemimpinannya mengatakan “Dimata saya tidak ada dari kalian orang yang lebih kuat dari orang yang lemah diantara kalian, sebelum saya berikan haknya, dan tidak ada orang yang lebih lemah dari orang yang kuat sebelum saya cabut haknya”.

Keadilan dan rasa sayang pada komunitas "duafa” (orang lemah) menjadikan Umar RA seorang pemimpin yang dikagumi rakyatnya.

Islam mengibaratkan politikus adalah “penggembala” umat yang bertanggung jawab atas idiologi Allah di muka bumi, oleh karena itu kedekatan spiritual dalam hubungan vertikal merupakan hal primer. Menjalankan Syariat Islam merupakan kewajiban yang tidak dapat ditawar.

Hal tersebut harus dicerminkan dalam etika lazim keseharian seorang politikus. Moral seseorang politikus adalah cermin dalam menganalisa mendalam kebaikan dan kejelekan yang ia lakukan, atau dengan kata lain moral adalah suatu sistem nilai yang sanggup memanajemen prilaku seseorang.

Sebab kerusakan moral pada diri politikus atau pemimpin adalah tanda kehancuran suatu bangsa.

Politikus yang baik dalam Islam, adalah politikus yang dekat dengan rakyat. Kesuksesan politik yang diraih dengan
mengorbankan prinsip dan pemonopolian rakyat adalah awal dari kehancuran. Dan menjauhi rakyat sama saja dengan membuat buta mata mereka akan persoalan bangsa. Sehingga yang terjadi seperti bangsa kita, sesuatu yang kecil tampak besar, yang benar tampak salah, yang salah tampak benar di hadapan masyarakat, hingga kebenaran harus bercampur dengan kepalsuan.


Jika tetap menjauhi rakyat, seorang politikus hanya memiliki dua pilihan, Pertama, ia melakukan kebenaran, lantas mengapa harus menyembunyikannya dari rakyat. Kedua, ia melakukan kesalahan, maka dengan kedekatannya dengan rakyat membuat ia tidak akan melakukannya lagi.



Kebenaran memang tidak pernah memiliki ciri yang jelas. Karenya, hanya dengan kedekatan dengan rakyat hal tersebut akan dapat dibedakan.



Ajaran islam akan pendekatan rakyat telah diterjemahkan dalam biografi Sayyidina Umar, diriwayatkan bahwa beliau ---yang berkaliber presiden-- pada suatu malam, seperti biasanya berkeliling memantau keadaan rakyatnya. Di tengah malam ia mendapati seorang perempuan yang anaknya meraung-raung menangis dikeliling kuali yang direjang diatas api untuk menipu sang anak.



Oleh Umar wanita itu kemudian dibawakan sekarung gandum yang diangkatnya di atas panggulnya sendiri, dan segera membawanya ke rumah sang ibu tersebut.



Kedekatannya pada rakyatnya di wujudkan lagi dengan keinginannya untuk turun gunung ke pelosok kekuasannya yang mencakup jazirah Arab. ”Kalau saya masih hidup, pasti saya akan mengunjungi seluruh rakyatku setahun penuh !”, ujarnya suatu ketika. Sayang ajal telah mendahulinya sebelum keinginannya yang mulia tercapai.



Di negara kita, reformasi yang digembor-gemborkan, mulai dari runtuhnya rezim Soeharto, ternyata belum mampu membawa Indonesia sampai pada klimaks tujuannya.



Politikus berwajah reformis masih sama dengan politikus zaman Soeharto. Lebih ironisnya, manuver politik dengan berdalih reformasi tanpa standar malah dijadikan senjata ampuh untuk “perang cari muka” di hadapan publik demi mempertahankan reputasi.



Di mata Islam kepemimpinan adalah amanat serta pengabdian tanpa pamrih, harus direalisasikan sebagai bukti kongkrit potensi manusia sebagai khalifah di muka bumi.



Sayyidina Ali Bin Abi Thalib dalam suratnya ke gubernur Basrah, mengatakan, “Pemimpinmu (Ali) hanya memiliki dua pakaian usang dari potongan kain-kain, kalau saja aku mau, bisa saja aku minum madu, berpakaian sutra, menyimpan gandum, namun naudzubillah min dzalik, mungkinkah aku lalui malamku dengan perut kenyang, padahal di sekelilingku banyak rakyatku kelaparan ?, takutlah pada Allah putra Khunaif !, dan merasa cukuplah dengan lembaran roti yang kau dapatkan”.



Bagi beliau, kepemimpinan adalah amanat yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, tujuan berpolitik adalah menegakkan idelogi Allah, bukan tempat menimbun harta.



Konsensus ulama’ (Ijma’) telah menetapkan bahwa pemimpin harus orang yang bermoral, karena ilmu pemimpin adalah cahaya bagi rakyatnya.



Seorang pemimpin harus dapat mengendalikan rasa bangga, emosi, tangan dan lidah, sebesar apapun jabatannya. Karenanya, politikus yang baik, dia adalah manusia yang akan kembali pada Tuhannya.



Kemungkaran harus di tangani secara serius, karena Allah tidak akan ridha pada suatu kaum yang bergelimang dengan dosa, kegoncangan ekonomi dan kemarau berkepanjangan hanya secuil dari siksa yang Allah turunkan pada bangsa kita.



Ali RA pernah berkata “pemerintahan yang tidak mempraktekkan kebenaran dan tidak melenyapkan kebohongan adalah makhluk terburuk di dunia”.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.  
 AL FADHIL USTAZ MUHAMMAD NAJIB
Catatan
1 Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, QS Ali Imran [3]: 104. Lihat juga: Imam Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, QS Ali Imran [3]: 104; Imam Suyuthi, Tafsir Jalâlayn, dan kitab-kitab tafsir lainnya.
2 Imam Ali ash-Shabuni, Shafwat at-Tafâsiî, 1/221.
3 Lihat Ibn Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah. Bandingkan pula dengan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Dawlah al-Islâmiyyah, hlm. 13-14.
4 Imam ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabari, QS Ali Imran [3]: 104.
5.Kitab Assiyasah Ashar Iyyah .


Jumaat, 19 April 2013

PERAN PEMUDA ISLAM DALAM PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAN PERADABAN ISLAM


PERAN PEMUDA ISLAM DALAM PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAN PERADABAN ISLAM

PENDAHULUAN

Perkembangan kebudayaan dan peradaban zaman pada saat ini telah mempengaruhi dan merubah semua aspek dalam kehidupan manusia. Pengaruh itu meliputi aspek sosial dan budaya, ekonomi, politik dan agama. Peran ilmu pengetahuan dan teknologi adalah faktor penting dan utama yang menjadi dasar perkembangan dunia semakin maju. Namun perkembangan itu berdampak kehancuran pada alam dan lingkungan serta meliputi tatanan hidup manusia yang mencakup segala aspek. Perkembangan itu terjadi akibat pemikiran dan pemahaman kaum musyrik yang begitu menentang Islam dan merupakan bentuk propaganda dalam upaya melemahkan Umat Islam. Secara tidak langsung dampak dari pengaruh itu telah merusak pemikiran Umat Islam, yaitu dengan menyebarkan paham dan pemikiran dengan cara memasuki dan menanamkan kebudayaan Barat pada Umat Islam serta berusaha menyatukan kebudayaan Islam dengan Barat. Tanpa disadari pengaruh dan propaganda ini  berusaha meruntuhkan keyakinan dan akidah Umat Islam secara perlahan.

Menurut Bieren de Hann, pengertian Kebudayaan dan peradaban adalah sebagai berikut : peradaban adalah keseluruhan mengenai kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan teknik. Peradaban adalah bidang kehidupan untuk kegunaan yang praktis, sedangkan kebudayaan ialah yang berasal dari hasrat dan gairah yang lebih dan murni yang berada di atas tujuan yang praktis mengenai hubungan kemasyarakatan. Jadi dapat kita simpulkan, dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam saat ini merupakan sasaran dan akses utama kaum musyrik yang berusaha menguasai dan mempengaruhi umat Islam melalui pengaruh kebudayaan sehingga tujuan menjauhkan Umat Islam dengan Al-Qur’an dan sunnah, agar umat Islam kehilangan pedoman hidup. Pada akhirnya akan membuat Umat Islam ikut terpengaruh oleh pemikiran dan kesesatan dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban Barat yang telah disebarkan dan ditanamkan kedalam diri dan pemikiran Umat Islam. Menyikapi serangan dan propaganda kaum Musyrik dengan cara memasuki dan merusak kebudayaan dan peradaban Islam. Umat Islam harus membentengi diri dengan Iman dan harus menegakan serta menjalankan syariat Islam sepenuhnya dalam kehidupan yang berdasarkan Al-Qur ‘an dan sunnah. Peran pemuda Islam sangat penting dan berpengaruh dalam gerakan menegakan syariat Islam.

Pemuda memiliki potensi yang sangat besar dalam melakukan proses perubahan. Pemuda adalah sosok yang suka berkreasi, idealis dan memiliki keberanian serta menjadi inspirator dengan gagasan dan tuntutannya. Umat Islam saat ini sedang menantikan siapa yang akan mengembalikan bangunannya kembali, mengeluarkan Umat Islam dari kejahiliahan, dan menyelesaikan problem-problem keumatan. Bukan hanya ulama, umara, politisi atau pengusaha yang mampu mengatasi problematika umat, tapi pemuda memiliki peran yang lebih besar. Eksistensi pemuda Islam dalam kehidupan sangat penting, karena pemuda Islamlah yang memiliki potensi untuk mewarnai perjalanan sejarah perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam. Selain itu jika kita menelaah ideologi yang berorientasi pada strategi revolusi, yang menganggap pemuda sebagai tenaga paling revolusioner karena secara psikologis manusia mencapai puncak hamasah (gelora semangat) dan quwwatul jasad (kekuatan fisik) pada usia muda. Hal tersebut menumbuhkan semangat pergerakan, perubahan, bukan stagnasi ataupun status quo dan  hal ini merupakan salah satu alasan yang menjadi dasar dan tolak ukur penting dalam menyikapi peran pemuda Islam.

Pemuda merupakan para generasi penerus dan merupakan calon penganti pera pemimpin terdahulunnya. Generasi muda adalah penentu perjalanan bangsa di masa berikutnya. generasi muda, mempunyai kelebihan dalam pemikiran yang ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya. Pemuda adalah motor penggerak utama perubahan. Pemuda diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejenuhan sehingga kita menyadari bahwa masa depan Islam terletak diatas pundak para pemudanya. Pemuda Islamlah yang akan memegang kendali bahtera Islam selanjutnya dan pemuda Islamlah yang akan melanjutkan peran generasi sebelumnya dalam menegakan, mempertahankan dan menyebarkan kebudayaan dan perdaban Islam yang semakin luntur dan mulai terpengaruh kebudayaan Barat. Kemana pemuda Islam bergerak (berdakwah), maka  kesanalah bahtera kebudayaan dan perdaban Islam itu melaju dan berkembang. Dari pernyataan ini dapat diambil kesimpulan bahwa kebangkitan Islam di masa mendatang dimenifestasikan oleh pemuda Islam, dengan syarat pemuda Islam mempunyai kesadaran dan kecintaan penuh pada dirinya dan agamanya. Jika prasyarat ini gagal ditanamkan pada jiwa pemuda, niscaya tragedi kebangkitan Islam tidak akan pernah berkumandang di dunia ini, akibatnya sekularisme, pluralisme dan leberalisme yang merupakan paham dan pemikiran kaum musyrik (kaum Barat) akan terus berkembang lagi di negeri-negeri Islam. Maka, lahirlah Ataturk-Ataturk baru yang mengagumi Barat dan Yahudi (kaum Musyrik) beserta aturannya 

Pujian perlu diberikan kepada para pemuda mukmin karena mereka telah menghidupkan kembali sunnah-sunnah dan adab-adab Islam di kalangan lapisan terpelajar dan orang-orang yang hanya sedikit mempunyai perhatian terhadap agama. Maka setelah sekian lama berada dalam kevakuman, muncullah di tengah masyarakat, orang-orang yang ditengarai oleh Allah SWT, "Mereka adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat mungkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. " (at-Taubah: 112). Untuk mewujudkan misi suci ini, menjamurlah berbagai kelompok halaqah dan harakah di universitas-universitas. Dengan bersemangat mereka membangun masjid-masjid dan mengumandangkan azan. Bangkitlah jamaah pria maupun wanita untuk menyambut panggilan Islam. Meluaslah pemakaian jilbab, bahkan cadar, di kalangan akhwat (wanita muslim). Buku-buku dan berbagai literatur keislaman dipublikasikan secara luas. Generasi rabbani yang berkomitmen terhadap Islam tampil dengan ghirah membara. Gerakan inilah yang secara nyata merupakan fenomena paling besar dan strategis di Arab dan dunia Islam dewasa ini. Peran pemuda Islam adalah harapan dan benteng ajaran agama Islam yang akan memeprtahankan perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam, agar Islam kembali berjaya dan dapat menyeruhkan kebenaran Islam kepada umat yang telah mulai melupakan dan lalai terhadap perintah serta larangan Allah SWT dan ajaran Nabi Muhammad 

PEMBAHASAN

Pemuda dengan segala kelebihan dan kekurangannya merupakan tiang masa depan yang amat potensial. Pemuda adalah kekuatan yang memotori kemajuan bagi peradaban manusia, sebab energi dari pemuda maha kuat pancarannya di tengah-tengah dunia. Karenanya masa muda adalah masa yang paling produktif. Mengingat pentingnya arti masa muda inilah, maka tidak mengherankan bila seluruh perhatian terkonsentrasi pada pergerakan destruktif atau organisasi-organisasi di dunia untuk mengeksploitasinya. Sebab setiap perubahan yang terjadi pada kalangan pemuda adalah perubahan yang terjadi terhadap kebudayaan dan peradabannya.

Kebudayaan dan peradaban merupakan gambaran dan kilasan yang dapat mengantarkan kita dalam mengenal dan memamahami sebuah asal, sejarah, perubahan dan perkembangan. Kebudayaan dan peradaban memiliki posisi penting dalam mengamati perkembangan dunia dan peran pemuda Islam saat ini. Adapun pengertian kebudayaan menurut Sidi Gazalba (1962) mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan manifestasi dari ruh, zauq, iradah dan amal (cipta, rasa, karsa, dan karya) dalam seluruh segi kehidupan insan sebagai fitrah, ciptaan, dan karunia Allah SWT. Berdasarkan defenisi tersebut dapat dipahami bahwa kebudayaan muncul dari pengarahan semua potensi yang diberikan Allah SWT kepada Manusia. Tanpa ada anugrah potensi Allah SWT. Manusia tidak akan mampu melahirkan kebudayaan yang sesuai dengan fitrahnya. Selanjutnya istilah peradaban tidak diambil dari kata adab, karena kata adab dalam bahas Arab berarti sastra melainkan kata al-haadharah  yang setara dengan  civilization dalam Bahasa Inggris. Pengertian peradaban cenderung pada suatu kebudayaan yang maju dan kompleks (Badri Yatim, 2002:2). Peran pemuda Islam sangat diharapkan dapat menegakan, mempertahankan  dan menegakan kebudayaan dan peradaban Islam saat ini.

Islam adalah agama yang langsung dari Allah SWT. Berdasarkan tuntunan-Nya yang dibawa oleh Rasulullah, bukan dari cipta, rasa dan karsa manusia. Jadi, kebudayaan dan peradaban Islam selalu terkait dengan nilai-nilai ilahiyah  yang bersumber dari ajaran kitab suci Al-Qur’an dan hadist serta ajtihad sehingga dapat dipahami bahwa kebudayaan Islam itu adalah implementasi dari Al Qur’an dan sunnah olehumat Islam dalam kehidupannya baik dalam bentuk pemikiran, tingkah laku maupun karya untuk kemaslahatan umat manusia dalam rangka mendekatkan diri (taqurub) kepada Allah SWT demi mencari kerdihaan-Nya. Agama Islam melahirkan dan mendorong manusia untuk melahirkan, mengembangkan dan memelihara kebudayaan dan peradaban. Adanya prinsip-prinsip dasar dan acuan norma ekonomi, politik, sosial, kemasyrakatan, seni dan termasuk kerja atau amal serta imu pengetahuan dari wahyu Allah SWT.  Islam memiliki konsep original tentang berbagai aspek kebudayaan, baik itu berupa sikap, tingkah laku, pergaulan dan gaya hidup. Contoh yang paling mudah seperti budaya berpakaian dalam Islam yang menekankan pada dua aspek, yaitu sitrulautrat adalah berpakaian yang menutup aurat dan libasutttaqwa adalah pakaian yang memelihara rohani dan jasmani serta budaya persaudaraan yang menyuruh mencintai dan menyayangi orang lain seperti mencintai diri sendiri.

Kebudayan dan peradaban Islam lahir dari pengalaman umat terhadap agama Islam itu sendiri. Bahkan dari penjelasan tentang pengertian kebudayaan dan peradaban memberikan pemahaman bahwa sebuah kebudayaan dalam Islam muncul dan tercipta karena adanya potensi dan pedoman hidup yang diberikan oleh  Allah SWT dengan melakukan berbagai aktivitas yang shaleh untuk memenuhi kebutuhan hidup akhirnya tercapai kebahagia hidup di dunia dan di akhirat. Upaya manusia mempelajari sumber ajaran Islam akhirnya melahirkan gagasan atau ide, melakukan berbagai aktivitas dan menghasilkan banyak karya. Namun Islam tetap mengarahkan semua ide, kelakuan dan karya tersebut tetap dalam tuntunan dan menurut aturan Allah SWT sehingga semua bernilai pengabdian kepada-Nya. Perwujudan kebudayaan dan peradaban dalam Islam tetap berdasarkan pada prinsip-prinsip yang terdapat di dalam ajaran agam Islam. Sebab, kehidupan, kekuasaan yang diberikan dan keberadaan alam ini adalah fasilitas bagi umat manusia yang diberikan oleh Allah SWT untuk dikelolah, dijaga dan dilestarikan. Prinsip dasar yang membedakan antara kebudayaan secara umum dengan kebudayaan Islam terletak pada sumber yang menjadi pijakan atau pedoman umat. Kebudayaan secara umum merupakan hasil produk manusia semata, sementara kebudayaan Islam hasil produk manusia yang prinsip dasarnya ditentukan dan ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan sunnah. Di antara prinsip-prinsip kebudayaan dan peradaban Islam itu adalah sebagai berikut:

1.      Allah SWT sebagai sumber dan tempat kembali segalanya (Q. S 30:11).

2.      Allah SWT sang pencipta Semuanya (Q.S 23:62).

3.      Semua mkhluk punya ketergantungan kepada khliknya (Q.S 112 : 2 dan Q.S 11:6).

4.      Allha mengangkat manusia sebagai khalifah di bumi (Q.S 2:30 ).

5.      Manusia diberi potensi yang lebih dari makhluk lainnya ( Q.S 45: 13).

6.      Manusia dituntut pertanggungjawaban atas amanah yang telah diberikan Allha SWT kepadannya (Q.S 102: 8).

Keenam prinsip dasar itu secara eksplisit menjelaskan bahwa manusia diberi fasilitas dan tanggung jawab untuk melakukan berbagai hal dalam kehidupan. Dengan adanya fasilitas dan tanggungjawab itu akan melahirkan motivasi dalam diri setiap manusia dan termasuk peran pemuda Islam untuk berpikir, melakukan inovasi sehingga melahirkan karya-karya yang bermanfaat bagi Umat Islam yang memiliki misi menjaga, menyebarkan (dakwah) dan mempetahankan kebudayaan Islam. Pada puncak manusia akan membentuk dan memiliki kebudayaan. Kebudayaan itu akan terus berkembang dengan seiringnnya waktu dan diikuti dengan perkembangan pemikiran manusia.

Enam prinsip dasar kebudayaan tersebut sekaligus menjadi indikator dari kebudayaan Islami yaitu sebagai berikut :

1.      Dibangun atas dasar nilai-nilai ilahiyah.

2.      Sesuai dengan fitrah manusia dan sekaligus sebagai pengembangan dan pemenuhan kebutuhan kehidupan manusia.

3.      Sasaran kebudayaan dan peradaban adalah kebahagian manusia di dunia dan akhkirat, keseimbangan alam dan penghuninya.

4.      Manusia dituntut untuk selalu memaksimalkan usaha berpikirdan gagasan ide dalam berbuat serta berkarya.

5.      Keseimbangan dan kesejahteraan individu, social, dan antara makhluk lain dengan alam semesta merupakan cita tertinggi dari sebuah kebudayaan.

Berdasarkan prinsip-prisnsip dasar kebudayaan  tersebut Islam berperan sebagai implikasi dari nilai-nilai yang diyakini dan diamalkan, serta sesuai dan terkait dengan yang bersumber dari wahyu Allah SWT, bukan dari hasil pemikiran manusia. Oleh karena itu kajian kebudayaan membahas manusia dari berbagai aspek, maka agama dimasukan dalam bagian kebudayaan. Hal ini terjadi, karena kebudayaan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Apabila kebudayaan  adalah implikasi atau terlahir dari keyakinan atau pengamalan agama, maka apapun yang dilakukan Umat Islam seharusnya berpedoman pada ajaran agam Islam. Di dalam Al Qur’an  Allah SWT  telah menjelaskan berbagai aspek  kehidupan manusia itu sendiri seperti ekonomi, sosial, politik, hokum, seni, ilm pengetahuan, teknologi dan sebagainya. Peran pemuda Islam sangat diharapkan dan memilik peran penting dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam. Perkembangan kebudayaan akan menciptakan sebuah peradaban. Kebudayaan yang maju dan berkembang akan menentukan sebuah peradaban bangsa atau umat Islam kedepannya. Dalam perkembangan zaman ini pemuda Islam menjadi agen memiliki peran penting dalam menyampaikan dan menyeruhkan kebenaran demi perbaikan atau revolusi akhlak serta berkaitan dengan kebangkitan Islam dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam. Maka pemuda Islam memiliki peran penting untuk mempertahankan kebudayaan dan peradaban Islam.

Ibnu Jauzy  menuliskan dalam kitabnya (Shifatush Shofwan, jilid. IV, hal. 24) “Wahai para pemuda, kerahkan potensi dirimu selagi masih muda karena belum pernah aku lihat karya yang paling berharga selain yang dilakukan oleh para generasi muda”. Ibnu Jauzy dalam tulisannya memiliki harapan besar terhadap peran pemuda, begitu juga dengan Founding Father  Negara Indonesia. Ir. Soekarno, M. Hatta, dan para pejuang kemerdekaan terdahulu, yang memiliki harapan besar terhadap peran pemuda dalam mempertahankan dan memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemuda meraih ketinggian itu atas dasar kesadaran yang tertanam dalam benaknya bahwa masa muda adalah masa yang paling menentukan dalam meniti langkah berikutnya. Akan tetapi situasi yang kita lihat saat ini menampakkan perbedaan yang cukup mencolok di banding dengan periode sebelumnya.

Di zaman modern ini tidak jarang para generasi mudanya terbuai dalam impian-impian kosong, terpedaya oleh gemerlapnya duniawi yang semu dan menjadi propaganda-propaganda utama perzinaan. Para pemuda tidak mempunyai aktifitas yang mengarah pada kebaikan dunia dan akhirat selain hanya hura-hura memperturutkan hawa nafsunya, melakukan pergaulan bebas, konsumtif, hendonisme (bermegah-megah),boros, dan akhlak dan kelakuan yang mulai rusak. Hal ini merupakan pengaruh dari kebudayaan Barat atau kaum musyrik yang mulai diserap dan dicontoh oleh Umat Islam dan khususnya pemuda Islam. Pada akhirnya tidak ada lagi para pemuda yang akan menjalankan dan berusaha menegakan Kebudayaan dan peradaban Islam. Peran pemuda Islam pada saat ini yaitu berusaha mempertahankan dan melakukan perubahan pola pikir dan keyakinan dalam menjalankan segala syariat Islam. Perubahan yang di maksud juga pernah terjadi pada zaman Rasulullah Saw, di mana beliau lebih memusatkan dakwahnya kepada pemuda dari usia 8 hingga 40 tahun. Sehingga Rasulullah Saw pun bersabda, “Perjuanganku didukung oleh pemuda, oleh sebab itu wasiat yang baik untuk mereka”. Pada akhirnya ditangan pemudalah berdiri Daulah Islamiyah dan pemuda menjadi pemimpin bagi dunia dan mengaturnya dibawah panji-panji Islam. Sesungguhnya jihad pemuda bagaikan kekuatan yang bergelora, sebab mereka akan menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru yang baik, mewujudkan cita-cita yang tak akan pernah sanggup dicapai oleh orang-orang yang lemah dan tidak memiliki semangat (Imam Hasan Al Banna). Dalam hal ini, Imam Asy Syahid Hasan Al Banna pernah berkata, “Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang didalamnya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan siap untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Keempat rukun ini yakni; (1) Keimanan, (2) Keikhlasan, (3) Semangat, dan (4) Amal, merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah hati yang peka, dasar keikhlasan adalah hati yang jernih, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah tekad yang membaja. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda. Oleh karena itu, sejak dahulu hingga sekarang, pemuda merupakan pilar kebangkitan setiap umat, rahasia kekuatan pada setiap kebangkitan, dan pembawa bendera setiap fikrah. ‘ Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk’. (QS. Al Kahfi: 13)”. (Prof. Dr. Abdul Hamid Al Ghazali, Pilar-Pilar Kebangkitan Umat, hlm. 57)

Dengan demikian pemuda telah mengikrarkan dirinya untuk sebuah kebangkitan atau kemunduran sebuah kebudayaan dan peradaban Islam. Dalam sejarah dunia, pemuda terus-menerus mempelopori aksi-aksi yang mengundang decak kagum sampai hinaan yang paling hina, demikian pula terjadi pada sejarah Islam yang melahirkan mujahid-mujahid muda unggul dalam setiap tahun dan abad. Nabi Muhammad SAW ketika diangkat Rasul berumur empat puluh tahun. Pengikut beliau yang utama adalah pemuda. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1.       Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, masing-masing berumur 8 tahun.

2.       Thalhah bin Ubaidillah (11).

3.       al Arqam bin Abil Arqam (12).

4.       Abdullah bin Mas’ud (14).

5.       Sa’ad bin Abi Waqash (17).

6.       Umar bin Khatthab (26).

7.       Ja’far bin Abi Thalib (18).

8.       Zaid bin Haritshah (20).

9.       Mushab bin Umair (24).

10.   Abu Bakar Ash Shiddiq (37).

11.   Hamzah bin Abdul Muthalib (42).

12.   dan sebagainya. Dikalangan  perempuan diantaranya Siti Khadijah, Siti Aisyah, Fatimah bin Khatthab, Sumayyah bin Khayyat, dan banyak lagi yang lainnya.

Selain itu generasi selanjutnya dapat kita lihat contohnya, Imam Syafi’i telah hafal Al Qur’an pada umur 9 tahun dan mulai diminta ijtihadnya pada usia kira-kira 13 tahun, sebelum akhirnya ia menjadi mujtahid dan salah satu imam madzhab terkemuka. Hasan Al Banna mendirikan gerakan Ikhwanul Muslimin pada usia 23 tahun. Usamah bin Ziad telah memimpin pasukan besar pada usia 18 tahun dan lainya. Selain itu kurang 500 tahun yakni dari 622-1250 M, banyak sekali kemajuan yan telah dirintis oleh Islam. Kemajuan ini meliputi berbagai aspek, antara lain :

1.      Lembaga dan kegiatan ilmu pengetahuan.

2.      Gerakan keilmuan.

3.      Kemajuan dalam bidang keagamaan.

4.      Perkembangan politik, ekonomi dan administrasi.

Akan tetapi pada saat ini semua kemajuan yang telah dicapai tersebut telah mulai terkikis dan hilang oleh masa, kerena sikap malas dan ketidak pedulian umat.

Menurut Hasan Al-Banna, perbaikan suatu umat tidak akan terwujud kecuali dengan perbaikan individu, yang dalam hal ini adalah pemuda. Perbaikan individu (pemuda) tidak akan sukses kecuali dengan perbaikan jiwa. Perbaikan jiwa tidak akan berhasil kecuali dengan pendidikan dan pembinaan, yang dimaksud dengan pembinaan adalah membangun dan mengisi akal dengan ilmu yang berguna, mengarahkan hati lewat do’a, serta memompa dan menggiatkan jiwa lewat instropeksi diri. Dr. Syakir Ali Salim AD berpendapat, pemuda Islam merupakan tumpuan umat, penerus dan penyempurna misi risalah Ilahiah. Perbaikan pemuda berarti adalah perbaikan umat. Oleh karena itu, eksistensinya pemuda Islam sangat menentukan di dalam masyarakat. Beberapa ulama menggolongkan peranan pemuda Islam seperti di bawah ini :

1. Pemuda sebagai Generasi Penerus

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. (QS. Ath-Thur : 21)

2. Pemuda sebagai Generasi Pengganti

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintainya (QS. Al-Maidah : 54)

3. Pemuda Sebagai Generasi Pembaharu (Reformer)

     Ingatlah ketika ia (Ibrahim-pen) berkata kepada bapaknya : wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun (QS. Maryam : 42).



Dari pernyataan tersebut, dapat kita simpulkan peran pemuda Islam sangat di harapkan dalam kehidupan ini. Hal ini juga berkaitan dengan perkembangan kebudayaan dan peradaban, karena Pemuda Islam menjadi akan genarasi penerus, penganti dan pembaharuan dalam  perkembangan Islam.

Selain itu dalam perbedaan jarak dan waktu bukan alasan bagi kita untuk menjadi generasi yang lemah, penakut dan tidak peduli terhadap perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam.  Pemuda yang berjuang dan menegakan kebenaran di jalan Allah untuk kepentingan Agama Islam dan Umat akan menjadi sebuah jihad serta mendapatkan pahala di mata Alla SWT. Adapun sifat-sifat yang menyebabkan para pemuda tersebut dicintai Allah SWT dan mendapatkan derajat yang tinggi sehingga kisahnya diabadikan dalam al-Qur’an dan dibaca oleh jutaan manusia dari masa ke masa, adalah sebagai berikut :

1.      Karena pemuda selalu menyeru pada al-haq (QS al A’raf :181)

2.      Pemuda mencintai Allah SWT, maka Allah SWT mencintai mereka (QS Al Ma idah:54).

3.      Pemuda saling melindungi, menegakkan shalat (QS At Taubah :71) tidak sebagaimana para pemuda yang menjadi musuh Allah SWT (QS At Taubah :67)

4.      Pemuda adalah para pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah SWT (QS Ar Ra’d :20).

5.      Pemuda tidak ragu-ragu dalam berkorban diri dan harta mereka untuk kepentingan Islam (QS Al Hujarat :15) (http://www.al-ikhwan.net/peranan-pemuda-dalam-islam-1-pemuda-sebagai-generasi-harapan-islam-30/).



Perana pemuda dan Umat Islam Allah SWT  mencintai dan memberikan drajat yang tinggi kepada Pemuda. pemuda yang baik oleh karenanya adalah pemuda Islam yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Mereka beramal/bekerja dengan didasari dengan keimanan/aqidah yang benar.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri(QS Haa Miim : 33).

2. Mereka selalu bekerja membangun masyarakat.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS Al Kahfi : 7).

3.Dan mereka memahami bahwa orang yang baik adalah orang yang paling bermanfaat untuk umat dan masyarakatnya. (http://mujahidbasit.blog.friendster.com/2008/10/peran-pemuda-muslim/).

“Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”(QS At Taubah : 105).

Perkembangan zaman pada saat ini para pemuda hendaknya menyadari bahwa mereka haruslah menjadi kelompok yang mampu menjadi teladan dan mempresentasikan nilai-nilai Islam secara utuh bagi masyarakat dalam mempertahankan perkembangan kebudayaan dan peradaban, yaitu:

1. Pemuda menjadi generasi yang hidup qalbunya karena senantiasa dekat dengan al-Qur’an, dan tenang dengan dzikrullah (QS Ar Ra’d :28) [1], bukan generasi yang berhati batu (QS Al Hadid :16) [2] akibat jauh dari nilai-nilai Islam, ataupun generasi mayat (QS Al An’am :122) [3] yang tidak bermanfaat tetapi menebar bau busuk kemana-mana.

2. Dalam menghadapi kesulitan dan tantangan, maka para pemuda harus sabar dan terus berjuang menegakkan Islam, hendaklah mereka berprinsip bahwa jika cintanya kepada Allah SWT benar, semua masalah akan terasa gampang.

3. Dalam perjuangan, jika yang menjadi ukurannya adalah keridhoan manusia maka akan terasa berat, tetapi jika ukurannya keridhoan Allah SWT maka apalah artinya dunia ini (QS Al Nahl :96) [4].

Pernyataan di atas dan yang didukung wahyu Allah di dalam Al Qur’an. Adalah cara pemuda Islam untuk mempertahankan kebudayaan dan peradaban Islam. Dalam pergerakan dan dakwahnya, peran pemuda sebagai agen yang menyiarkan, mempertahankan dan menegakan syariat Islam, pemuda memberikan contoh dengan tindakan dan sikap dalam kehidupan keseharian bagi seluruh Umat Islam untu dapat melaksanakan misi agama Islam demi perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam ke depannya sebagai wujud untuk membangkitkan kejayaan Islam.

Perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam pada zaman khalifah berkembang semakin pesat setelah sepeninggalan Nabi Muhammad SAW. Namun dengan seiringnya waktu semua kejayaan Islam perlahan telah memudar dan luntur akibat dari serangan kaum musyrik yang menyerang melalui perang pemikiran, yang telah merusak akidah dan keyakinan Umat Islam dengan paham sekularisme, liberalisme san pluralisame. Kebudayaan dan peradaban Islam harus dipertahankan, disebarkan dan tegakan kembali. Maka peran pemuda Islamlah yang akan menjadi pilar kebangkitan Islam. Pemuda Islam yang akan menjadi motor atau pengerak dari perkembangan Islam. Pemuda Islam seharus menjalankan dan mengamalkan semua perintah dan segala larangan Allh, pemuda Islam akan menjadi genarasi yang akan menjadi teladan dari segal tindakan dan perbuatannya, yang menyeruhkan dan saling menigngatkan demi keselamatan Umat di dunia dan di akhirat. Amain.

PENUTUP

            Pemuda adalah motor penggerak utama perubahan. Pemuda diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejenuhan dalam masyarakat
sehingga kita menyadari bahwa masa depan Islam terletak diatas pundak para pemudanya. Pemuda Islamlah yang akan memegang kendali bahtera Islam selanjutnya dan pemuda Islamlah yang akan melanjutkan peran generasi sebelumnya dalam menegaka
n, mempertahankan dan menyebarkan kebudayaan dan perdaban Islam yang semakin luntur dan mulai terpengaruh kebudayaan Barat. Kemana pemuda Islam bergerak (berdakwah), maka  kesanalah bahtera kebudayaan dan perdaban Islam itu melaju dan berkembang. Dari pernyataan ini dapat diambil kesimpulan bahwa kebangkitan Islam di masa mendatang dimenifestasikan oleh pemuda Islam, dengan syarat pemuda Islam mempunyai kesadaran dan kecintaan penuh pada dirinya dan agamanya. Jika prasyarat ini gagal ditanamkan pada jiwa pemuda, niscaya tragedi kebangkitan Islam tidak akan pernah berkumandang di dunia ini, akibatnya sekularisme, pluralisme dan leberalisme yang merupakan paham dan pemikiran kaum musyrik (kaum Barat) akan terus berkembang lagi di negeri-negeri Islam. Pemuda Islam sangat diharapkan dalam menegakan dan mempertahankan syariat Islam dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam sehingga dapat membangkitakan kejayaan Islam di muka. Amin.