AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Khamis, 22 Ogos 2013

Sillaturrahim Dalam Lebaran

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Sillaturrahim Dalam Lebaran

Idul Fitri, di kalangan kita dikenal dengan lebaran. Berasal dari kata 'lebar', (bahasa Jawa) berseri sudah, atau lebar, yang artinya luas. Maka, idul fitri disebut lebaran, karena usai melaksanakan puasa, dan atau lapang, artinya lapang dada. Karena itu dalam tradisi kita, lebaran diisi dengan bersilaturrahim dan saling minta ma'af atas segala kesalahan dan kekhilafan.

Hari Raya, atau 'Iedun itu sendiri dalam bahasa Arab artinya adalah bersenang-senang, bergembira ria. Dalam sebuah riwayat, dikatakan bahwa ada dua gadis (hamba sahaya) bernyanyi dan menabuh tabuhan di hadapan Nabi Saw, yang ketika itu adalah hari raya. Lalu Abu Bakar masuk, dan dilaranglah oleh Abu Bakar. Maka jawab Nabi Saw: " Biarkan, hai Abu Bakar, ini kan hari raya". Jadi, berarti hari raya itu adalah hari bersenang-senang. Dan karena Nabi Saw tidak menetapkannya apa bentuk bersenang-senang itu, maka boleh saja orang mengadakan bentuk bersenang-senang menurut seleranya, sepanjang tidak menyimpang dari ajaran Islam. Bersilaturahim, adalah salah satu bentuk bersenang-senang. Sekaligus salah satu bagian penting dalam ajaran Islam, dengan jaminan akan mendapatkan berbagai kebaikan, sebagaimana sabdanya Anas bin Malik meriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau berabda : " Barangsiapa yang ingin rezekinya diluaskan dan umurnya dipanjangkan, maka hendaklah dia bersilaturahim ". (HR Bukhari dan Muslim).

Dan kalau kemudian dihubungkan dengan 'minta ma'af' orang Jawa menyebutnya dengan keluputan, karena ada kaitannya dengan puasa, yang notabene untuk penghapusan dosa, baik dosa dengan Allah ataupun dosa dengan sesama manusia, agar tidak menjadi orang yang muflis seperti yang ditakutkan oleh Rasulullah Saw, dalam hadisnya : Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : Taukah kalian siapakah orang yang bangkrut di kalangan kita ini ? Mereka menjawab : Orang yang bangkrut di kalangan kita yaitu orang yang tidak mempunyai uang dan barang sesuatu apapun. Lalu jawab beliau : Orang yang bangkrut di kalangan kita yaitu orang yang nanti menghadap Allah dengan membawa pahala shalat, pahala puasa dan pahala zakat, tetapi dia juga datang (dengan membawa dosa) karena mencacimaki ini dan menuduh ini, makan harta ini, menumpahkan darah ini dan memukuli ini, lalu yang ini diberi sebagian dari kebaikan-kebaikannya dan yang ini diberi dari sebagian kebaikan-kebaikannya, sehingga apabila kebaikan-kebaikannya itu habis sebelum terpenuhi apa yang menjadi tanggungannya, maka diambillah sebagian dari kejelekan-kejelekan orang yang disakitinya itu untuk dilemparkan kepadanya, kemudian dia dilempar ke neraka. (HR Muslim).

Dengan bersilaturrahim, kiranya segala kekurangan di atas itu dapat teratasi, yaitu dapat saling mema'afkan. Tidak saja itu, bahkan kesatuan dan persatuan akan terwujud dengan penuh kekuatan. Karena bersilaturrahim itu mempunyai daya ikat yang sangat kuat sekali. Kalau kondisi kita sekarang ini dalam ketertinggalan dalam berpacu dengan pihak lain, factor utamanya karena tidak adanya persatuan di kalangan kita, padahal silaturrahim itu amat sangat ditekankan dalam Islam, padahal amaliyah-amaliyah ibadah kita pun satu macam. Itu menggambarkan betapa persatuan dan kesatuan itu ditekankan dalam Islam. Barangkali ini penyebabnya karena kekurangan kita dalam bersilaturrahim, dalam arti yang sebenarnya. Atau karena salah ucap. Yaitu "silaturahmi" bukan "silaturrahim". Karena antara silaturahmi dan silaturrahim berbeda pengertiannya. Dalim kamus Munjid silaturahmi adalah "daun fir rahim" atau penyakit dalam rahim. Sedang silaturrahmi yaitu dua kata "silah" (menyambung) dan "rahim" yang berarti kasih sayang. Tempat kandungan disebut rahim, karena di tempat inilah rasa kasih sayang ibu terhadap anak tumbuh. Sehingga "silaturrahim" berarti menghubungi penyakit dalam rahim, karena anak-anak itu dari situ, maka anak-anak ini harus dihubungkan agar satu sama lain saling sayang menyayangi. Sehingga silaturrahim berarti hubungan keluarga dengan penuh rasa kasih sayang.

Silaturrahim dalam Islam tidak sebatas antar keluarga yang ada keturunan darah, tetapi jauh lebih luas, antara sesama karyawan, sesama pegawai, sesama pimpinan instituisi, sesama jama'ah suatu jam'iyah, bahkan antara pimpinan lembaga. Dan semuanya itu harus dengan niat demi cinta dan kasih sayang, sebagai pencerminan dari ukhuwah, yang oleh al-Qur'an diibaratkan saudara sekandung. (Qs al-Hujurat 10). Maknanya : Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Ukhuuwah atau ikhwah. dalam hadis diibaratkan sebuah bangunan yang kompo-sisinya satu sama lain saling mengikat : Abu Musa meriwayatkan dari Nabi Saw beliau bersabda : Sesungguhnya seorang mukmin satu dengan mukmin lainnya itu bagaikan sebuah bangunan yang komponen satu mengikat komponen lainnya, sambil beliau menganyam jari jemarinya (HR Bukhari dan Muslim).

Atau seperti sebuah tubuh, yang apabla satu anggota terkena sakit yang lain ikut merasakan sakit juga : Nu'man bin Basyir mengatakan : Rasulullah Saw bersabda : " Perumpmaan orang-orang mukmin dalam hal kecintaan, kasih sayang dan belaskasihnya sesama sudaranya itu tak ubahnya sebuah tubuh, jika satu anggota sakit seluuruh tubuhnya turut merasakan tidak bisa tidur dan terasa demam ", (HR Ahmad dan Muslim ).

Silaturahim dengan perasaan seperti itulah, yang kini tidak ada pada jiwa kita, yang nampak hanya simbolis belaka. Sehingg kalau kita bertemu atau mengadakan pertemuan, termasuk bersliturrahim berkenaan dengan Hari Raua Fithri, lebih banyak simblis, atau basa basi.

Kalau ayat al-Qur'an surat Ali Imran 112 mengatakan, yang maknanya : Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

Maka ayat ini sebenarnya menyindir kita, Yakni kita kaum muslimin akan terhina, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia, selama hubungan kita dengan Allah dan hubungan kita sesama manusia ini kurang baik. Bahkan murka Allah pun akan menimpa kita di mana saja kita berada, dan gejalanya sudah banyak. Justru itu kondisi seperti ini harus segera kita perbaiki. Salah satu caranya ialah dengan silaturrahim. Puasa Ramadhan.. yang baru saja kita lalui adalah media yang sangat efektif, tinggal diteruskan. Betapa tidak, dengan tradisi buka bersama di masjid, mushalla. Kantor, perushaan, antar anggota masyarakat dari yang kaya sampai dengan yang miskin, antara karyawan, bahkan antar aparat pemerintah dengan rakyat. Semua berjalan dengan baik, sehngga rasanya alangkah kalau sekiranya hal seperti itu terjadi setiap bulan. Yang dari berbuka bersama dapat dibcarakan berbagai permasalahan yang timbul. Masjid, juga tempat bersilaturrahim yang sangat efektif : (Qs al-Baqarah 125). Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud"

Mari kita jadikan masjid kita ini medan silaturrahim seperti yang digambarkan dalam ayat di atas.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan makhluk sehingga setelah selesai menciptakan mereka, maka rahim berdiri dan berkata: Ini adalah kedudukan yang tepat bagi orang yang berlindung dari memutuskan hubungan silaturrahim, Allah Ta'ala berfirman: "Benar, bukankah engkau senang jika Aku menyambung orang yang menyambung silatur-rahim dan saya memutus orang yang memutuskan silaturrahim. Dia berkata: "Ya, Allah Ta'ala berfirman: "Itulah permohonanmu yang Aku kabulkan."

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bacalah jika kalian mau firman Allah Ta'ala (artinya): "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22)

Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : "Rahim bergantung di 'Arsy, lalu berkata: "Barangsiapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskanku, maka Allah akan memutuskannya".

Sesungguhnya orang-orang yang berakal dan berfikir serta berhati yang jernih akan mampu mencerna makna nasihat kebenaran dan kemudian menjadi peringatan baginya.

Allah Ta'ala berfirman, (QS Ar-Ra'd: 21) maknanya : "Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hari hisab yang buruk". (Ar-Ra'd: 21)

Inilah sifat seorang mukmin, setiap apa-apa yang diperintahkan Allah Ta'ala untuk menghubungkan, maka mereka pun menghubungkan. Mentaati secara sempurna dan istiqamah di atas kebenaran dan berjalan di Kitabullah dan sunnah Nabi SAW akan mampu menyelamatkan kita dari penyelewengan dan kesesatan. Semoga kita semua bisa melakukannya sebagai bentuk ketundukan kita kepada Allah Sang Pencipta alam semesta.


1. Bermula pada malam hari raya lagi iaitu setelah terbenam matahari (Waktu maghrib) disunatkan bertakbir dan berulang-ulang mengucapkan takbir.
baca lagi Klik TAJUK ENTRI  ni
2. Pada pagi hari raya, minum atau makan pagi dahulu.
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas Ibnu Malik berkata:
"Rasulullah saw tidak akan keluar pada pagi Aidilfitri sehingga dia memakan beberapa tamar dan dia akan makan bilangan ganjil".
3. Mandi sunat hari raya.
4. Berangkat menuju ke masjid atau tanah lapang. Sebaik-baiknya berjalan kaki.
Dilaporkan oleh Sa'id Ibnu Jubair, berkata :"3 perkara yang menjadi sunnah pada hari Aidilfitri: berjalan kaki (ke tempat solat), mandi dan makan sebelum keluar.
5. Memakai pakaian terbaik yang ada berdasarkan kemampuan. Dari Jabir r.a. berkata:
"Nabi saw, mempunyai Jubbah yang beliau akan memakainya pada hari Aidilfitri dan hari Jumaat".
6. Bertegur sapa. Ucap selamat dan mendoakan antara satu sama lain. (Sebab itulah digalakkan berjalan kaki dan pilihlah tempat solat yang terdekat.)
7. Sesampainya di masjid, maka sebelum duduk, solat dahulu tahiyyatul masjid dua rakaat. Kalau di tanah lapang tidak ada tahiyyatul masjid, hanya duduklah menuggu dimulakan solat hari raya.
8. Sementara menuggu dimulakan solat hari raya, maka perbanyakkanlah takbir iaitu;
الله أكبر ( 3 كالى ) لا إله إلا الله والله أكبر الله اكبر ولله الحمد.
Allaahu akbar ( 3 kali ) Laa ilaaha illa llaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.
9. Setelah diulang takbir tersebut beberapa kali maka dibaca pula takbir berikut;
الله أكبر ( 3 كالى ) الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره المشركون. لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده. لا إله إلا الله والله أكبر الله اكبر ولله الحمد.
Allaahu akbar ( 3 kali ) Allahu akbaru kabiiran walhamdu lillaah kathiiran wasubhaana llaahi bukratan wa-asiila. Laa ilaaha illa llaahu walaa na`budu illa iyyaahu mukhlisiina lahu ddiina walau karihal mushrikuun. Laa ilaaha illa llaahu wahdah, sodaqa wa`dah, wanasoro `abdah, wa-a-`azza jundahuu wahazamal ahzaaba wahdah. Laa ilaaha illa llaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.
10. Setelah itu dimulakan pula dengan takbir yang mula-mula tadi beberapa kali dan disambung dengan takbir yang berikutnya sehingga sampainya waktu untuk bersolat.
11. Setelah selesai solat, menukar jalan balik supaya tidak sama jalan pergi dan balik. (Tujuannya supaya dapat bertemu dengan lebih ramai orang dan dapat bertegur sapa dengan orang yang berlainan)
Dari Jabir r.a. meriwayatkan bahawa Nabi saw menukar jalannya pada hari Aidilfitri tatkala pergi dan balik dari tempat solat hari raya, Rasulullah sentiasa pergi dan balik melalui jalan yang berlainan, menurut Jabir r.a. (Hadis riwayat Bukhari)
12. Perkataan yang baik untuk ucapan. Mana-mana perkataan yang baik boleh diucapkan. Tapi kalau nak tahu perkataan apakah yang pernah diucapkan oleh nabi dan para sahabat pada hari raya aidilfitri, iaitu;
 تقبل الله منا ومنكم

ILMU ,IMAN DAN TAQWA

ILMU,IMAN DAN TAQWA

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
Bagi orang mukmin, ilmu adalah penyuluh hidupnya. Pengalamannya adalah pengajaran, iktibar dan penasihatnya. Takutnya kepada Tuhan adalah pengawal diri. Sabarnya adalah perisai hidupnya. Redha dengan Tuhan kerana baik sangka dengan Tuhannya. Tawakalnya adalah harapan masa depannya. Bacaan Al Quran adalah hiburannya dan bercakap-cakap dengan Tuhan. Juga perbualannya dan bercakap dengan Tuhan Pencipta manusia. Selawat adalah penyejuk dan pelembut hatinya. Doa dan permintaannya kepada Tuhannya tanda dia hamba. Hamba adalah hina, lemah, memerlukan pertolongan Tuhannya. Sembahyang adalah pembaharuan ikrar dan membaharukan syahadah. Serta membersihkan jiwa dari mazmumah. Begitulah peranan setengah daripada sifat-sifat mahmudah. Juga setengah daripada peranan mendirikan solat. Kalau begitu cuba gambarkan orang yang tidak bersembahyang. Yang juga memiliki sifat-sifat mazmumah. Ertinya segala masalah berkumpul di kepala dan jiwanya. Bagaimana tidak menderita dan terseksa. Mampukah menanggungnya?
Dalam jalan ke arah Usaha Taqwa, ilmu Fardhu Ain adalah sangat penting dan diperlukan sebagai penyuluh kepada perjalanan menuju Allah  dalam usaha membaiki diri, mempertingkatkan diri, melatih diri, menjadi orang yang bertaqwa serta mendapat redha dan kasih sayang Allah. Maka Fardhu Ain memainkan peranan bagi setiap Muslim sebagai panduan hidup di dunia sebagai persiapan ke alam akhirat yang kekal abadi.
Di dalam ajaran Islam, secara umum ilmu-ilmu Fardhu Ain yang penting itu boleh dibahagikan kepada tiga bahagian iaitu:
1. Usuluddin (aqidah)
2. Feqah (syariat)
3. Tasawuf (akhlak)

Dalam pengamalannya, setiap orang Islam mestilah melaksanakan secara serentak ketiga-tiga ilmu tadi. Sama ada dari segi teori mahupun praktikal, atau dari segi ilmiah dan amaliahnya.
Tiga ilmu ini merupakan tiga serangkai yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Kalau dipisah pisahkan salah satu daripada tiga serangkai itu, maka akibatnya rosaklah yang lainnya. Ertinya amalan Islam itu menjadi sah apabila ketiga-tiga ilmu tersebut dilaksanakan sekaligus dan serentak. Ia tidak boleh diamalkan satu-satu sahaja tanpa yang lain. Ber`feqah’ saja atau ber`usuluddin’ saja atau berakhlak saja, tentu akan merosakkan ke-Islaman seseorang. Jadi tiga serangkai ilmu ini tidak boleh dipisah-pisahkan dalam seluruh tindakan hidup. Kalau dipisahkan dalam pengamalan seharian, paling tidak seseorang itu akan jadi orang fasiq. Bahkan berkemungkinan ia akan jatuh kepada kafir tanpa ia sedar.
Dari ketiga-tiga ilmu ini, tapak atau asasnya adalah ilmu usuluddin. Di atas tapak ilmu yang menjadi pegangan dan keyakinan setiap orang Islam itu, maka ditegakkan syariat (feqah) dan akhlak (tasawuf). Kalau diibaratkan kepada sebuah bangunan, usuluddin itu adalah foundationnya. Bangunan rumah serta peralatanperalatannya itulah syariat dan akhlak. Kalau begitu rumah dan peralatan rumah itu tidak dapat ditegakkan sekiranya foundation rumah tersebut tidak ada. Atau ia tidak kukuh dan tidak kuat. Justeru itu, dalam ajaran Islam:
1. Usuluddin itu adalah asas Islam atau tapak Islam.
2. Syariat dan tasawuf ialah furu’ dan cabang-cabangnya.
Kalau begitu, ilmu usuluddin dalam ajaran Islam amat penting dan utama. Kerana ia mengesahkan syariat dan akhlak. Syariat dan akhlak tidak ada nilai di sisi ALLAH, kalau aqidah atau usuluddinnya telah rosak.
Perkara-perkara yang berkaitan dengan ilmu usuluddin ialah:
1. Keyakinan kita dengan ALLAH dan sifat-sifat-Nya sama ada
sifat-sifat yang wajib, sifat-sifat yang mustahil atau sifat-sifat yang harus.
2. Keyakinan kita dengan para rasul dan sifat-sifatnya.
3. Keyakinan dengan kitab-kitab yang pernah diturunkan oleh ALLAH seperti Al Quran, Zabur, Injil dan Taurat.
4. Keyakinan kepada para malaikat.
5. Keyakinan pada Qadha dan Qadar ALLAH.
6. Yakin kepada Syurga dan Neraka serta perkara-perkara lain yang
merangkumi perkara di Alam Ghaib.
Maka ilmu usuluddin yang menjadi asas kepada ajaran Islam merupakan ilmu yang paling penting. Ia menjadi perkara utama dan pertama untuk setiap individu Islam yang mukallaf mempelajarinya. Belajar ilmu usuluddin ini hukumnya fardhu ain yakni wajib bagi setiap individu yang mukallaf. Bahkan jatuh berdosa besar bagi orang yang tidak mempelajarinya. Hatta boleh jatuh kufur secara tidak sedar kalau jahil tentang ilmu ini.
Ilmu usuluddin yang berkait dengan ALLAH dan sifat-sifat-Nya, kalau tidak dipelajari, paling mudah untuk menyebabkan terjatuh kepada kufur. Sebab itu dihukumkan wajib bagi setiap mukallaf mempelajarinya terlebih dahulu mendahului ilmu-ilmu yang lain.
Dalam Hadis, Rasulullah SAW ada menyebut:  Awal-awal agama ialah mengenal ALLAH.
Oleh itu ilmu usuluddin itu tidak boleh dicuaikan dari mempelajarinya supaya ia dapat dijadikan pegangan dan keyakinan yang mantap (teguh) di hati tanpa dicelahi dengan unsur-unsur jahil, syak, zan dan waham. Sekiranya dicelahi oleh jahil, syak, zan dan waham, atau salah satu darinya, maka seluruh amal ibadah itu tidak sah atau  tertolak. Ertinya tidak dapat apa-apa di sisi ALLAH. Amalan itu hanya sia-sia sahaja. Walau bagaimana baik dan kemas sekalipun ibadah yang dipersembahkan pada ALLAH, sekiranya dicelahi oleh salah satu daripadanya, maka ibadah itu akan dicampak semula ke muka pengamalnya.
Mengikut kebiasaan, walaupun cantik amalan syariat atau akhlak, ia masih tetap bergantung kepada aqidah. Sekiranya aqidahnya baik, maka baiklah syariat dan akhlaknya. Tetapi kalau aqidahnya rosak, maka rosaklah syariat dan akhlaknya. Tamsilannya seperti sebatang pokok. Kalau pokoknya subur, itu adalah kesan daripada akar tunjang yang kuat tadi. Yang menjadikan ianya berdaun, menghijau, menghasilkan bunga cantik dan harum mewangi serta
buah yang banyak (lebat) lagi sedap rasanya. Sehingga menjadikan kepingin semua makhluk terutama manusia untuk mendekati dan bernaun’g di bawahnya serta mengambil manfaat darinya.
Begitulah juga bagi mereka yang aqidahnya baik, tentunya syariatnya jadi sempurna dan akhlaknya cantik. Semua hukum-hakam yang lima yakni yang wajib dan sunat dapat ditegakkan, yang haram dan makruh dapat dijauhi, dan yang harus (mubah) terpulang hingga ia mencorak hidup individu dan masyarakat.
Di sinilah pentingnya pelajaran aqidah atau usuluddin ini kerana ia boleh mencorakkan hati seseorang. Sehingga yang lahir dalam tindakan adalah gambaran hatinya itu. Alhasil, kalau sudah ramai yang aqidahnya tepat dan kuat, maka akan lahirlah negara yang aman makmur yang mendapat keampunan ALLAH. Kerana aqidah yang tepat dan kuat itu mendorong hamba-hamba-Nya bersyariat dan berakhlak atau menjadi orang yang bertaqwa.


A. AQIDAH
1. Pengertian Iman
Kata iman berasal dari bahasa Arab yang artinya percaya.
 Menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.

2. Pengertian Taqwa
Dari segi bahasa berasal daripada perkataan “wiqayah”  yang diartikan “memelihara”. Maksud dari pemeliharaan itu adalah memelihara hubungan baik dengan Allah SWT., memelihara diri daripada sesuatu yang dilarangNya. Melaksanakan segala titah perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.
Iman dan taqwa dalam beberapa ayat al Qur’an maupun hadits Nabi disebutkan antara lain dikaitan dengan rukun iman, manifestasi iman, tanda-tanda orang yang beriman, penghargaan atau janji Allah pada orang-orang yang beriman sebagai berikut:
Rukun iman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya” (al Nisa’: 136 ).

Manifestasi orang beriman:
عن أبي هريرة قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ثم   من كان يؤمن بالله  واليوم الآخر فلا يؤذ جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت
Artinya:
Dari Abu Hurairah ia berkata Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memulyakan tamunya, serta barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah dengan santun atau lebih baik diam”

عن أنس بن مالك عن النبي  صلى الله عليه وسلم قال ثم لا يؤمن أحدكم  حتى يحب لأخيه أو قال لجاره ما يحب لنفسه
Artinya :
Dari Anas bin Malik Rasulullah bersabda “tidaklah dikatakan beriman (secara sempurna) seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudara atau tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِين عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
Artinya:
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali Imran: 134)

Tanda-tanda orang yang beriman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)
Artinya:
 135.  Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.(QS. Ali Imran:134)

Penghargaan bagi orang beriman: 
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (البقرة :25)
Artinya:
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya[QS. Al Baqarah:32].

Demikian pula pengertian taqwa dikaitkan pula dengan tanda-tanda orang yang bertaqwa atau manifestasi taqwa serta penghargaan Allah terhadap orang-orang yang bertaqwa sebagai berikut:
Tanda orang bertaqwa:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِين عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
Artinya:
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali Imran: 134)
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)
Artinya:
 135.Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.(QS. Ali Imran:135)

Penghargaan bagi mereka yang bertakwa:
أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)
Artinya:
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.(al Imran:136)

 إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15)
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (al Hijr: 45)

Iman kepada Allahmerupakan pokok keimanan yang menjiwai seluruh rukun iman lainnya yakni suatu kepercayaan yang mantap dan kepercayaan itu menyebabkan orang tersebut melakukan kehidupannya sesuai dengan keimanannya itu. Keimanan seseorang tidak dapat diketahui dari kepercayaan dan ucapannya saja, keimanan seseorang dapat diketahui dari perbuatannya dalam menjalani hidup.
Karena itu dalam sejumlah ayat al Qur’an disebutkan bahwa kata iman senantiasa diikuti dengan “amal shalih”. Dari perilaku tersebut sebatas manusia dapat mengenali bagaiman kualitas iman seseorang yang jelas berbeda dengan ukuran Allah Yang Maha Tahu.
Adapun keenam rukun iman yaitu iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, iaman kepada para rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadla’ dan qadar merupakan landasan atau fundasi bagi orang yang menyatakan dirinya sebagai muslim beserta konsekwensinya. Dari landasan kepercayaan yang kokoh sesuai dengan petunjuk Allah ini seseorang disebut memiliki aqidah. Kata aqidah secara bahasa disebut pula “rabth”  yang artinya tali, pegangan. Aqidah merupakan keyakinan yang keluar dari interpretasi ajaran yang dipastikan kebenarannya (berdasarkan wahyu). Dari aqidah inilah dibangun syari’ah dan etika moral yang menjadikan kesempurnaan hidup manusia sebagai hamba Allah yang mampu melakukan hubungan vertikal dengan benar dan baik kepada Dzat Yang Maha Sempurna, dan melakukan hubungan baik dengan sesama manusia.

3. Sifat-sifat Allah
Untuk mengantarkan seseorang tidak terkecuali dia sebagai pendidik dan tenaga kependidikan yang berperan sebagai uswah hasanah (contoh yang baik) bagi anak didiknya, Islam mengajarkan agar kita memahami, menghayati dan melakukan kebaikan yang bersumber dari sifat-sifat Allah dengan cara sesuai batas-batas kemanusiaannya. Misalnya sifat Nafsiyah yakni sifat yang berhubungan dengan zat Allah SWT, yaitu: Wujud  ( ada ). “Wujud” artinya ada, mustahil Allah bersifat “adam” artinya tidak ada. Allah wajib ada. Alam ini atau setiap makhluk ada yang membuatnya (Khalik) yaitu Allah SWT.   
Sifat Salbiyah:  sifat yang menolak dan meniadakan sebaliknya, hukum kausalitas ( hukum sebab akibat ), yaitu Wujud (Ada), Qidam (Lebih dahulu), Baqa’ (Kekal), Mukhalafatu li al Hawaditsi ( berbeda dengan Makhluk-Nya), Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri), Wahdaniyah ( Esa ). Sifat ma’na, yaitu memastikan yang disifati itu bersifat dengan sifat tersebut Qudrat (Maha Berkuasa), Iradah (Maha Berkehendak), Ilmu  ( Maha Mengetahui ), Hayat ( Maha Hidup ), Sama’ (Maha Mendengar ), Bashar ( Maha Melihat ). Sedangkan sifat yang bergantung dan berhubungan dengan sifat ma’ani. Tiap-tiap ma’ani tentu ada sifat ma’nawiyah, yakni kelanjutan daripada sifat ma’ani dan bukan merupakan sifat tersendiri. Sifat ma’nawiyah ada tujuh yaitu : Qadiran (Maha Kuasa), Muridan (Maha Berkehendak), Aliman (Maha Mengetahui), Hayyan (Maha Hidup), Sam’an (Maha Mendengar), Bashiran (Maha Melihat), Mutakalliman (Maha berfirman).
Melalui pemahaman terhadap sifat-sifat Allah, kita dapat megambil hikmah antara lain sebagai berikut: Pertama, menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik sebatas kemanusiaannya, sebab manusia dengan keterbatasannya berusaha untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan petunjuk Allah SWT; Kedua, menumbuhkan rasa kagum, iman dan taqwa kepada Allah melalui sifat-sifatNya Yang Agung, dengan demikian kita merasa sebagai makhluk kecil, lemah, tidak berdaya, hanya Allah Yang Maha Besar dan Maha Segalanya; Ketiga, menempatkan diri sebagai hamba Allah yang taat dan senantiasa berbuat baik, sebab Allah menyediakan balasan bagia siapa saja yang taat dengan balasan tertentu maupun yang ma’shayat kepadaNya akan mendapat adzabNya; Keempat, menumbuhkan rasa kasih sayang, menghormati sesama, jujur, pemaaf, tawakal, qana’ah, optimis, kreatif dan bertanggung jawab sehingga sikap dan perilaku kita akan terkontrol dengan baik; Kelima, mengingat Allah kapan dan di mana saja kita berada.

4. Sifat-sifat Wajib bagi Rasul
Disamping memahami sifat-sifat wajib bagi Allah, kita juga wajib memahami dan mencontoh Rasulullah melalui sifat-sifat wajibnya yaitu:
Shiddiq: Artinya setiap Rasul itu wajib berkata, bersikap, dan berbuat benar dalam kehidupannya, mustahil para Rasul sebagai utusan Allah SWT itu berdusta didalam menyampaikan wahyu yang datangnya dari Allah, karena para Rasul itu senantiasa terjaga dari perbuatan dosa (maksum).
Amanah: Setiap Rasul yang diutus oleh Allah SWT wajib berlaku amanah baik terhadap Allah SWT maupun terhadap umatnya, tidak mungkin para Rasul itu berkhianat terhadap yang diamanatkan oleh Allah kepadanya
Tabligh: Para utusan Allah SWT pasti menyampaikan wahyu yang ia terima kepada umatnya. Ia tidak menambah atau mengurangi wahyu Allah SWT tersebut. Ia sampaikan semua wahyu Allah kepada semua manusia tanpa melihat suku, ras , atau pangkat dan kedudukan. Seorang Rasul tidak mungkin menyembunyikan apa yang ia peroleh dari wahyu Allah SWT.
Fathanah: Tugas para Rasul itu sangat berat, berbagai rintangan, tantangan, dan hambatan senantiasa berada di depan mereka pada saat melaksanakan misi dakwah, para Rasul dituntut untuk bisa menyelesaikan dan mengatasi berbagai persoalan yang ada pada umatnya, untuk itu para Rasul diberi  sifat fathonah  (kecerdasan) oleh Allah sehingga dapat menyelesaikan semua persolan yang dihadapinya, mustahil para utusan Allah itu bersifat bodoh (baladah).

5. Asma al husna
Kebaikan Allah SWT tersebut tergambar pada seluruh Al-Asma’ul Husna. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Al-Asma’ul Husna
انّ لله تسعة وتسعين اسمامائةالا واحدامن احصا ها دخل الجنة[رواه البخاري ومسلم]
Artinya:“Seseungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga.(H.R. Bukhari dan Muslim)

Jumlahnya 99, sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut:    Dari sembilan puluh sembilan nama tersebut semuanya menjelaskan dan menggambarkan betapa baiknya Allah SWT tersebut. Al-Asma’ul Husna hanya milik Allah SWT. Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya dapat memahami, mempelajari dan meniru kandungan makna dari nama-nama yang baik tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya diucapkan ketika berzkir atau berdoa. Ketika berdoa, nama-nama dalam Al-Asma’ul Husna kita baca dan kita pilih sesuai dengan permintaan kita. Misalnya kita mohon diberi sifat kasih saying, maka bacalah Ar-Rahman, artinya Maha Pengasih. Bila kita mohon petunjuk, maka yang kita baca adalah Al-HAdi, yang berartu MAha Pemberi Petunjuk, dan demikian selanjutnya dengan nama-nama yang lain.
Asma al husna adalah nama-nama baik milik Allah yang mengandung makna sangat dalam jika kita mampu menggalinya pada setiap nama tersebut. Disebutkan dalam ayat al Qur’an:
 ولله الا سماءالحسنى فا د عوه بها و ذرواالّذين يلحدون في اسما ئه سيجزون ما كانوايعملون
Artinya:“Hanya milik Allah Al-Asma’ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Al-Asma’ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-A’raf,7:180)
Ayat tersebut mengandung beberapa maksud sebagai berikut:
a. Allah pemilik nama-nama yang baik.
b. Sumber kebaikan yang tak tertandingi dan terbantahkan.
c. Memohon kepada Allah melalui nama-namaNya Yang Baik.
d. Larangan menyebut nama-nama lain yang menyesatkan keimanan dan kebenaran.
e. Balasan baik bagi orang yang menyebut, mengingat, berdoa dengan namaNya disertai dengan iman, dan sebaliknya bagi orang yang mengingkari akan mendapatkan balasan atas perbuatannya.
Adapun contoh Nama-nama Allah dan bagaimana mengimplementasikan nama-nama baik bagi Allah dalam kehidupan manusia, misalnya  Al Aziz (Maha Perkasa), Al Wahhab (Maha Pemberi), Al Fattah (Maha Pemberi Keputusan), Al Qayyum (Maha Berdiri Sendiri), Al Hadi (Maha Pemberi Petunjuk), Al Salam ( Maha Sejahtera), Al Khaliq (Maha Pencipta), Al Ghaffar (Maha Pengampun), Al Adl (Maha Adil), Al Shabur (Maha Sabar)
   

B. IBADAH
1. Pengertian Ibadah
Ibadah berasal dari kata “abdun” : menyembah, taat, menggambarkan kekokohan, tumbuhan yang harum. Ibadah juga dipahami sebagai ritus atau tindakan ritual yang merupakan elemen penting dari setiap aliran kepercayaan atau agama. Merupakan manifestasi dan pembuktian pernyataan iman.
Muhammad Abduh memmaknai ibadah adalah sebagai berikut:
Suatu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya, akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap apa (siapa) yang kepadanya ia harus tunduk, (rasa) tidak diketahui sumbernya, serta (akibat) adanya keyakinan bahwa yang Dia (yang kepadaNya seseorang itu tunduk) memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau oleh arti dan hakekatnya. Maksimal  yang dapat diketahui adanya bahwa Dia menguasai seluruh jiwa raganya, namun Dia berada di luar jangkauannya.

2. Hakekat Ibadah
Ja’far al Shadiq merumuskan bahwa hakekat  ibadah mencakup tiga unsur yaitu:
a. Si pengabdi tidak menganggap apa yang dimiliki menjadi miliknya, karena apa yang dimiliki adalah miliki yang memiliki dirinya.
b. Berusaha melaksanakan perintah yang kepadanya ia mengabdi.
c. Tidak memastikan apa yang dilakukan kecuali atas ijin kepada siapa ia mengabdi kepadanya.

3. Macam-macam Ibadah
Ibadah mahdlah adalah ibadah yang merupakan pembuktian kepatuhan dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Ibadah yang didalamnya tidak dicampuri kemanfaatan lain kecuali kebaktian dan kepasrahan total kepada Allah. Ibadah ini adalah ibadah yang sifatnya rigid (tauqifi) sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah seperti Shalat, Zakat, Puasa, Haji
Ibadah ghoiru mahdhah atau ibadah mustfadah adalah ibadah yang dapat diambil manfaatnya dari ibadah itu sendiri.
Dalam al Qur’an disebutkan:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)
“Katakanlah, ‘sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk ALLAH SWT,Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulahyang diperintahkan kepadaku,,, “ (Al – An’am: 162-163).

4. Prinsip Ibadah yang baik dan benar
a. Sesuai dengan rukun dan syarat: Sebagaimana telah disebut diatas ibadah mahdhah  adalah ibadah yang sifatnya  rigid artinya harus dilaksanakan sesuai dengan contoh Rasulullah. Setiap ibadah memiliki syarat-syarat yang jika tidak dipenuhi ibadah tersebut tidak sah. Demikian juga sahnya ibadah tergantung pada rukun-rukunnya. Jika dua hal ini diabaikan maka ibadah bukan hanya tidak sah tetapi juga kehilangan makna.
b. Ikhlas dan penuh kesadaran: Pengertian ikhlas terbagi beberapa bagian: Pertama, ikhlas ialah mengkhususkan tujuan semua perbuatan kepada Allah SWT semata. Pengkhususan ini mengharuskan tujuan perbuata itu hanya untuk-Nya, bukan yang lain. Kedua, ikhlas ialah melupakan pandangan manusia, sehingga hanya melihat Sang Pencipta alam. Orang yang menangis kerena takut kepada Allah SWT, memberikan infaq, atau mengerjakan shalat di tengah ribuan, bahkan jutaan orang akan tetap ikhlas karena tidak menggubris pandangan manusia tadi. Ia hanya melihat pandangan Allah SWT semata. Ketiga, ikhlas diartikan dengan tidak memaksudkan perbuatan agar dilihat orang, namun memaksudkan agar dilihat oleh Allah SWT.
Sebagaiman firman Allah :
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا
“Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan kebenaran agar menjelaskan keseluruhan agamaNya dan cukup lah Allah SWT sebagai saksi…” ( Al-Fath: 28 )
c.Istiqamah: Secara bahasa, kata istiqamah merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata istaqama, yastaqimu yang artinya lurus, teguh, dan konsisten. Namun, pengertian secara bahasa ini belumlah cukup untuk mewujudkan istiqamah sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Oleh karena itu, ulama tasawuf mendefinisikan bahwa istiqamah adalah bersikap konsisten terhadap pengakuan iman dan Islam, serta dengan tulus mengabdikan diri kepada Allah SWT untuk mengharapkan ridha-Nya di dunia dan akhirat. Dari sekian banyak definisi yang dikemukakan para ulama, dapat dipahami bahwa dalam beristikamah ada dua hal pokok yang harus dipenuhinya. Pertama, beriman kepada Allah SWT. Kedua, mengikuti risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW, baik secara lahir maupun batin. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa orang yang istiqamah adalah orang yang bisa mengaktualisasikan nilai keimanan, keIslaman, dan keihsanan dalam dirinya secara total. Meski untuk bisa mencapai tingkatan istiqamah itu terasa amat sulit, namun harus tetap berusaha dan ber-munajah sebatas kemampuan. Sebab, seperti dikatakan Ibnu Katsir dalam menjelaskan ayat istiqamah (QS Hud:112) ini, bahwa istiqamah merupakan media yang paling baik untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT dalam menghadapi berbagai kesulitan duniawi.

5. Hikmah ibadah
Allah adalah al-Hakim, pemilik hikmah, tidak ada sesuatu yang Dia syariatkan kecuali ia pasti mengandung hikmah, tidak ada sesuatu dari Allah yang sia-sia dan tidak berguna karena hal itu bertentangan dengan hikmahNya, sebagai manusia dengan keterbatasan tidak mungkin mengetahui dan mengungkap seluruh hikmah yang terkandung dalam apa yang Allah syariatkan dan tetapkan, apa yang kita ketahui dari hikmah Allah hanyalah sebagian kecil, dan yang tidak kita ketahui jauh lebih besar, “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra`: 85). Sekecil apapun dari hikmah Allah dalam sesuatu yang bisa kita ketahui, hal itu sudah lebih dari cukup untuk mendorong dan memacu kita untuk melakukan sesuatu tersebut karena pengetahuan tentang kebaikan sesuatu mendorong orang untuk melakukannya.

a. Hikmah ibadah shalat
1) Menyakini kebesaran Allah
2) Membentengi diri dari perbuatan fakhsay’ dan munkar
3) Meningkatkan kesucian diri lahir dan bathin
4) Sikap disiplin dan tanggung jawab
5) Kebersamaan dalam naungan Allah
6) Kepemimpinan, keteladanan bagi imam, dan ketaatan bagi ma’mum

b. Hikmah ibadah zakat
1) Membersihkan diri melalui harta sebagai karunia Allah
2) Menumbuhkan solidaristas sosial (kasih sayang)
3) Pemerataan kesejahteraan ekonomi
4) Meningkatkan ketaatan kepada Allah
5) Mengatasi kemiskinan dan kesenjangan sosial

c. Hikmah ibadah puasa
Dalam QS. Al Baqarah ayat a183 ditegaskan
d. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)
Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebsgaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kalian bertaqwa
Dari ayat tersebut di atas, perintah puasa dimulai dari sasarannya yaitu orang-orang yang beriman. Iman merupakan landasan dilaksanakannya ibadah puasa untuk membangun kesadaran bahwa setiap orang yang merasa dirinya sebagai orang yang beriman menyadari pentingnya berpuasa. Ayat ini tidak menentukan siapa yang mewajibkannya, sehingga dipahami bahwa andaikat Allah tidak mewajibkan, maka yang mewajibkan adalah dirinya sendiri. Demikian pula jika dilihat dari kapan dimulainya tradisi puasa dalam agama-agama, maka puasa merupakan ajaran agama yang telah dilakukan sejak zaman kuno. Sebelum manusia mengenal agama samawi, puasa telah menjadi praktik ritual kepercayaan-kepercayaan bangsa-bangsa di dunia. Puasa dikenal di kalangan pemeluk Yahudi, Budha, Kristen, Hindu dan berbagai kepercayaan yang hidup di masyarakat dengan ragam tatalaksananya.
Tujuan puasa yang terkandung dalam ayat tersebut adalah mencetak manusia yang bertaqwa yaitu terhindar dari segala macam sanksi dan dampak buruk baik di dunia maupun di akhirat. Untuk meraih ketaqwaan melalui puasa ini, seseorang dianjurkan melaksanakan kewajiban puasa dengan niat yang sungguh-sungguh, memenuhi rukun dan syaratnya, serta mampu mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Adapun secara rinci beberapa hikmah puasa adalah sebagai berikut:
1) Mempertahankan ketaqwaan
2) Melatih kejujuran
3) Menumbuhkan rasa empati pada fakir-miskin
4) Menahan hawa nafsu/ mengontrol diri
5) Menghindari dari penyakit
6) Melatih kedisiplinan
7) Menumbuhkan rasa sabar dan syukur kepada Allah

e.Hikmah ibadah haji
Haji merupakan suatu lambang dari puncak ”ketangguhan pribadi” dan puncak ”ketangguhan sosial”. Haji adalah sublimasi dari keseluruhan rukun iman; lambang perwujudan akhir dari langkah-langkah rukun Islam. Haji merupakan langkah penyelarasan nyata antar suara hati dan aplikasi. ia juga merupakan simbol langkah sempurna; transformasi dari suatu pemikiran yang ideal (fitrah) ke alam nyata secara sempurna. Secara singkat haji adalah wujud keselarasan antara idealisme dan langkah, keselarasan antara iman dan Islam.
Secara prinsip haji adalah langkah yang berpusat kepada Allah SWT dimana segala tujuan tak lagi berprinsip kepada yang lain. Seperti yang dikatakan Covey:”pusat prinsip (principle center) anda, kesadaran diri (self awareness) anda, dan suara hati (conscience) anda dapat memberikan rasa aman intrinsik, pedoman serta kebijaksanaan yang memberi kekuatan kepada anda untuk menggunakan kehendak bebas anda serta mempertahankan integritas pada hal yang benar-benar penting”.
Secara sosial haji merupakan simbol dari kolaborasi tertinggi, yaitu pertemuan pada sekala tinggi, dimana seluruh umat Islam sedunia melaksanakan core values atau nilai dasar yang sama dengan tujuan dasar atau core purposes yang sama. Inilah contoh ketangguhan sosial yang sesunggunya. Tidak ada sinergi antara manusia dengan manusia, atau antara negara dengan negara, namun juga antara manusia dengan Tuhannya, dimana Ia berdiri di tengah sebagai pemimpin segenap suara hati manusia yang fitrah. Inilah kolaborasi Maha dahsyat yang pernah dibuktikan kehebatanya pada abad ketujuh dan kedelaan masehi, ketika zaman keemasan Islam berjaya. Saat itulah Islam melahirkan generasi peretas terbaik bagi seluruh umat manusia-manusia berhati emas dan bermental baja.(Ary Giananjar,2001:359).
Adapun setiap manasik haji sesungguhnya memiliki simbol-simbol yang mengandung hikmah bagi orang yang melaksanakannya. Misalnya:
Ihram: simbol melepas identitas seseorang dari berbagai gelar dan pangkat
Talbiyah: simbol kesiapan menjalankan perintah Allah
Thawaf: hanya kepada Allah tujuan semua ibadah kita
Sa’i: membangun sikap mental yang tahan uji
Wuquf: membangun kesetaraan di hadapan Allah, membuang rasa sombong
Melempar jumrah: simbol perlawanan terhadap hawa nafsu dan gangguan eksternal (setan, jin, manusia)
Menyembelih korban: simbol kepatuhan dan siap berjuang dan berkorban.

C.AKHLAQ
1.Akhlaq terhadap Allah
Sikap batin dan perilaku manusia terhadap Allah dalam rangka memenuhi hak Allah, dan menunaikan kewajiban manusia terhadap Allah.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
Contoh-contoh Akhlaq terhadap Allah :
1. Beriman dengan benar/tidak musyrik
2. Menjalankan perintah, menjauhi laranganNya
3. Husnu dzan terhadap Allah
4. Membaca (mempelajari) tanda-tanda kekuasaan Allah
5. Syukur atas nikmat Allah
6. Sabar atas cobaan Allah
7. Tawakkal
8. Qana’ah pemberian Allah
9. Rendah diri di hadapan Allah
10.Merasa banyak berdosa

2.Akhlaq terhadap Rasul
Sikap batin dan perilaku umat Rasul dalam rangka memenuhi hak Rasul dan menunaikan kewajiban umat terhadap Rasulnya.
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (QS: al-Hasyr, 59: 7)
Bentuk Akhlaq terhadap Rasul
1) Meneladani sifat-sifatnya (Shiddiq, amanah, tabligh, fathanah)
2) Memegangi ajaran-ajarannya
3) Menjalankan sunnahnya
4) Mengucapkan shalawat dan salam kepadanya
5) Menghormati keluarganya (ahl al bait)
6) Menghormati shahabat-shahabat, dan pengikutnya

3.Akhlaq terhadap Diri Sendiri
Sikap batin dan perilaku yang berhubungan dengan diri sendiri baik dari aspek pemenuhan hak asasi/privasi, maupun dari aspek menunaikan kewajiban terhadap diri sendiri. Sebagai pribadi manusia wajib menjaga keselamatan dirinya, baik jasmani maupun rohani, wajib memelihara keduanya secara seimbang dan memperlakukannya secara adil. Kewajiban untuk memenuhi kebutuhan fisik dan mental spiritual adalah mutlak. Bagi manusia yang mengabaikan pemenuhan kebutuhan spiritualnya dan hanya memikirkan dan memuaskan kebutuhan jasmaniyahnya berarti ia tidak adil dan tidak menunaikan kewajibannya sebagai pribadi secara sempurna.

4.Akhlaq terhadap sesama manusia
Akhlaq terhadap guru: Akhlaq terhadap guru dalam ajaran Islam mempunyai posisi yang khas. Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim banyak dijelaskan tentang hubungan murid dan guru. Keberkahan ilmu yang diperoleh murid antara lain juga karena hubungan yang baik dan serasi yang dijalin oleh murid terhadap gurunya. Sikap menghormati dan menyayangi guru, menuruti nasihatnya dan membuatnya gembira dan bahagia dengan prestasi belajar yang tinggi akan lebih menghasilkan prestasi yang gemilang dan keberkahan, bukan hanya di dunia bahkan sampai ke alam akhirat, karena jika orang tua adalah sebagai penunjang kehidupan jasmani anak dengan sandang, pangan dan papan, sementara guru adalah penunjang kehidupan rohani dan budi pekerti anak. Guru adalah digugu (dipercaya) dan ditiru, dalam al-Qur’an surat al-Kahf dikisahkan tentang bergurunya Nabi Musa dengan Nabi Khidr as.
Akhlaq terhadap tetangga: Islam mengajarkan supaya manusia hidup bertetangga secara baik sabda Nabi saw: “Man kana yu’minu billahi wal yawmil akhiri fal yukrim jarahu.” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka hendaklah memuliakan tetangganya. Nabi juga menganjurkan apabila seseorang hendak pindah rumah, dianjurkan supaya mengecek dulu siapa yang akan menjadi tetangganya. Tetangga terkadang dapat pula berfungsi sebagai keluarga, karena merekalah yang terlebih dulu mengetahui apabila ada peristiwa yang terjadi kepada seseorang sebelum keluarganya sendiri.
Peran rukun tetangga mejadi penting, karena sebagai alat dan sarana untuk saling kenal dan saling bantu, serta saling kontrol jika ada orang yang tidak dikenal masuk ke wilayah tersebut. Rukun tetangga juga berfungsi untuk pengamanan bagi penduduk dan warga yang tinggal disitu, baik yang menyangkut pengamanan harta, jiwa dan raga masyarakat. Tentang tetangga sejauh 40 rumah dari rumah seseorang masih digolongkan tetangga, bahkan Nabi menganjurkan jika memasak dan mungkin tercium aroma masakan tersebut maka hendaklah berbagi dengan tetangga.Islam menekankan kepada orang-orang mukmin agar bersikap simpatik terhadap para tetangganya. Ia dituntut untuk menolong, bekerja sama, atau meminjamkan fasilitas kepada mereka tanpa membedakan status sosial, ras, etnis, warna kulit, agama, dan sebagainya.
Akhlaq terhadap tamu: Islam mengajarkan etika bertamu. Beberapa ayat al-Qur’an berbicara khusus tentang tamu sesuai dengan masing-masing konteksnya. Ada sebuah hadits Nabi Muhammad saw tentang menghormati tamu, Nabi bersabda: “man kana yu’minu billahi wal yawmil akhiri falyukrim dlaifahu.”
Akhlaq yang muda terhadap yang tua, dan yang tua terhadap yang muda: Adat bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang ramah.KeramahtaMahan ditunjukkan antara lain dengan memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Sesungguhnya sikap yang demikian adalah sesuai dengan akhlak atau budi pekerti yang diajarkan Islam. Hadits Nabi saw berbunyi:  laysa minna man lam yarham shaghirana wa lam yuwaqir haqqa kabirana.  Artinya: “Tidaklah sempurna menjadi ummat kami mereka yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menunaikan hak/menghormati yang lebih tua.”
Akhlaq terhadap teman sejawat: Berprilaku baik terhadap teman sebaya/sejawat adalah sangat penting, karena banyak hal yang tak dapat dikomunikasikan dengn orang tua, biasanya dapat dengan mudah didiskusikan dengan teman sebaya. Perasaan senasib sepenanggungan karena usia yang relatif sama akan memperlancar komunikasi dan melakukan curhat, oleh karena itu mempunyai akhlaq yang baik terhadap teman sebaya adalah mutlak diperlukan. Rasa saling percaya dan menghargai serta berupaya mendiskusikan alternatif solusi dari masalah yang dihadapi akan sangat menolong dan menimbulkan rasa percaya diri.
Kaum Muslimin dengan sesamanya adalah bersaudara dan menurut hadits Nabi ibarat satu tubuh yang apabila sakit anggota tubuh tertentu, maka seluruh badan terasa sakit.
Dalam sebuah hadits Nabi SAW dijelaskan bahwa: “Hak  seorang Muslim terhadap sesama Muslim  ada enam, apabila berjumpa hendaklah ucapkan salam, jika mengundang penuhilah, jika minta nasihat nasihatilah, jika bersin dan membaca hamdalah maka jawablah, jika sakit ziarahilah, dan jika ia mati antarkanlah ke kuburnya (H.R. Muslim).

5.Akhlaq terhadap Lingkungan
Flora: Menurut Jamaluddin Husein Mahran, penyebutan ini terdapat dalam 112 ayat yang tersebar pada 47 surah, dan terdapat 16 jenis tumbuhan disebut secara tegas dalam al-Qur’an.
Menurut Sayyed Abdul Sattar al-Miliji, ayat-ayat yang berbicara tentang tumbuh-tumbuhan dari berbagai aspeknya berjumlah 115. Para ulama telah banyak melakukan penelitian sehingga mengetahui bahwa manfaat tumbuhan untuk pengobatan adalah sangat besar.
Ayat-ayat tentang tumbuhan dalam konteks menjelaskan berbagai nikmat Allah yang harus disyukuri, kekuasaanNya untuk membangkitkan manusia kembali setelah mati, atau menghidupkan sesuatu dari yang mati dan sebaliknya.
FAUNA: Diantara wawasan al-Qur’an tentang eksistensi binatang adalah:
Sebagai kekuasaan Allah (al-Jatsiyah 45: 4);
Binatang adalah bagian ummat seperti manusia (Al-An’am 6: 38);
Seperti hal nya manusia, binatang juga mendapat rezeki (Hud: 11: 6);
Binatangpun bertasbih memuji Allah (Al-Nur 24: 41);
Binatang sebagai bagian dari kesenangan dunia (Ali ‘Imran 3: 14);
Binatang sebagai perumpamaan yang buruk bagi manusia (yang lalai dari petunjuk Allah) lihat  Al-A’raf 7: 179);
Binatang yang dikaitkan dengan halal untuk dikonsumsi (Al-Ma’idah 5:1);
Binatang untuk berkurban (Al-Hajj 22: 34)
Dilarang berburu binatang dan membunuhnya ketika sedang berhaji (al-Maidah 5: 1)

6.Akhlaq terhadap alam semesta
Manusia menjadi bagian dari alam yang harus memperhatikan etika terhadap alam itu sendiri. Manusia tidak dapat hidup tanpa alam, namun manusia diberi tugas mengelola alam dengan etika sebagai khalifah Allah. Ketergantungan manusia dengan alam tidak sama dengan ketergantungannya dengan Allah, karena itu manusia wajib hanya bergantung pada Allah bukan pada alam yang sama dengan diri sendiri yang diciptakan oleh Allah.

7.Akhlaq terhadap kehidupan
Etika sosial budaya: interaksi untuk membangun nilai-norma-kerarifan lokal yang sejalan dengan ajaran Islam   
Etika politik: strategi mengelola negara, pemerintahan untuk kesejahteraan warganya dengan prinsip-prinsip yang bersumber dari niali-nilai Islam
Etika ekonomi: Cara memperoleh, mengelola dan mendistribusikan harta sesuai dengan prinsip-prinsip Islam
Etika hukum: penghargaan terhadap hukum, kepatuhan menjalankan hukum, penegakan hukum dalam berbagai situasi sesuai dengan ajaran Islam
Etika pertahanan dan keamanan: mempertahankan yang haq dengan cara yang benar dan dengan etika sesuai dengan aturan dan nilai-nilai Islam.

Amar ma'ruf nahi munka

Arti Amar ma'ruf nahi munka

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Amar ma'ruf nahi munkar (al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar) adalah sebuah frasa dalam bahasa Arab yang maksudnya sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat. Frasa ini dalam syariat Islam hukumnya adalah wajib.

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa alkhayri waya/muruuna bialma'ruufi wayanhawna 'ani almunkari waulaa-ika humu almuflihuuna

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. ﴾ QS Ali Imran:104 ﴿

Didalam Ayat diatas sudah sangat jelas, bahwa perintah Allah adalah suatu kewajiban, dan kewajiban yang tak boleh ditawar-tawar, Sebab Firman Allah yang Berbunyi,, "Waltakun”, yang artinya : Wajiblah ada. Ini terang sekali bahwa perintahnya menunjukan adanya kewajiban yang harus dilaksanakan, dikerjakan dan  diusahakan. Dalam Ayat itu juga dijelaskan bahwa  datangnya kebahagiaan itu semata-mata bergantung adanya amar Ma’ruf dan Nahi Munkar. Resapkan Firman Allah yang berbunyi : waulaa-ika humu almuflihuun, ARTINYA : merekalah orang-orang yang beruntung.

Disamping itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kewajiban ini adalah FARDLU KIFAYAH, Bukan Fardlu A’in, jelasnya apabila sudah ada suatu golongan yang melaksanakannya dari seluruh umat itu, maka gugurlah kewajiban tadi bagi yang lain-lainnya.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ﴾ QS At Taubah:71 ﴿

Disini Allah dengan jelas menyebutkan sifat-sifat orang mukmin BAIK laki-laki atau perempuan selagi ia beriman kepada Allah, yaitu bahwa mereka suka beramar ma’ruf dan nahi munkar. jadi bila ada seseorang yang meninggalkan kewajiban beramar Ma’ruf dan Nahi Munkar, Maka sudah pasti dia sudah dihanggap keluar dari golongan orang mukminin

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. ﴾ QS Al Maidah:78-79 ﴿

Maksut ayat yang diatas adalah ancaman yang sangat ama keras bagi Manusia yang tidak melakukan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, mereka itu telah dilaknati Allah karena meninggalkan Nahi Munkar. Tidak hanya itu sajah, bahkan mereka senang melakukan perbuatan keji dengan rasa gembira.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. ﴾ QS Ali Imran:110 ﴿

Hendaklah kamu beramar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo’a dan tidak dikabulkan (do’a mereka). (HR. Abu Dzar)

Pengertian Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

I.                    MUQADDIMAH
Segala puji hanya bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memeberinya petunjuk.
II.                  PEMBAHASAN
Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah sesuatu  yang dengannya Allah menurunkan  Kitab-KitabNya, dan mengutus para  Rasul-RasulNya, dan ini  bagian dari agama.
A.      Definisi Amar Ma’ruf Nahi Munkar
a.       Menurut Etimologi
Al-Ma’ruf adalah segala hal yang dianggap baik oleh manusia dan mereka mengamalkannya serta tidak mengingkarinya.
Al-Munkar adalah  segala hal yang dianggap jelek oleh manusia, mereka mengingkari serta menolaknya.
b.      Menurut Terminologi
Al- ma’ruf adalah segala hal yang dianggap baik oleh syari’at, diperintahkan untuk melakukannya, syari’at memujinya serta memuji orang yang melakukannya.
Al – Munkar adalah segala hal yang diingkari, dilarang, dan dicela oleh syari’at serta dicela oleh orang yang melakukannya.
Adapun menurut Para Ulama pengertian Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  •  Ar-Raghib  al- Ashfahanirahimahullah ( wafat th. 425 H )
Al- Ma’ruf adalah Nama setiap perbuatan yang dipandang baik menurut akal atau agama (syara’).
Al-Munkar adalah setiap perbuatan yang oleh akal sehat dipandang jelek, atau akal tidak memandang jelek atau baik, tetapi agama (syari’at ) memandangnya jelek.
  •  Syaikhul Ibnu Taimiyah rahimahullah (wafat th. 728)
Al-Ma’ruf adalah Suatu nama yang mencakup segala apa yang dicintai oleh Allah, berupa iman dan amal shalih.
Al-munkar adalah suatu nama yang mencakup segala apa yang Allah larang.
  • Ibnu Atsir rahimahullah (wafat th. 606 H )
Al-ma’ruf adalah suatu nama yang mencakup setiap perbuatan dikenal sebagai suatu ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah dan berbuat baik ( ihsan ) kepada manusia.
Sedangkan  Al- Munkar berarti sebaliknya yaitu
suatu nama yang mencakup setiap perbuatan dikenal sebagai suatu ketidak patuhan dan menjauhkan diri kepada Allah dan berbuat buruk / jelek kepada manusia.
  • Ibnul Jauzi rahimahullah ( wafat th. 597 )
Al-ma’ruf adalah ketaatan kepada Allah.
Al-Munkar adalah bebuat maksiat kepada-Nya.
B.      Ukuran menentukkan Amar Ma’ruf nahi Munkar
Ukuran menentukan suatu itu sebagai al-ma’ruf atau al-munkar  sebagaimana dijelaskan Imam asy-Syaukani rahimahullah :“ Dalil yang  menunjukkan bawa sesuatu dikatan ma’ruf atau munkar adalah al-Qur’an dan as-Sunnah.”
 Yang menjadi tolok Ukur bukanlah perasaan, fikiran manusia, adat, atau tradisi dari masyarkat kita.
C.      Hukum Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Mengajak kepada al- Mar’ruf  dan melarang dari al-munkar , termasuk diantara fardhu-fardhu kifayah
Ibnu Taimiyah rahimahullah, berkata :
“ kewajiban ini adalah kewajiban atas keseluruhan umat, dan ini yang oleh para ulama disebut  fardhu kifayah. Apabila segolongan dari umat melaksanakannya, gugurlah kewajiban itu dari yang lain. Seluruh umat dikenai kewajiban itu, tetapi bila segolongan umat telah ada yang melaksanakannya, maka tertunailah kewajiban itu dari yang lain.”
1.       Dalil Al-Qur’an
dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” ( QS. Ali- Imran: 104)
2.      Dalil dari As-Sunnah

من رأ ى منكم منكرًا فَليُغَيِّر هُ بِيَدِه , فَإِ ن لَم يَستَطِع فَبِلِسَا نِهِ, فَإٍن لَم يَستَطِع فَبِقَلبِهِ, وَذلَكَ أَضْعَفُ الإِيمَا نِ
( روا ه مسلم)
“barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman.”

Hadis Tentang Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar

NASKAH HADIS
عَنْ حُذَيْقَةَ بْنِ اْليَمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ اَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ اَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ قَالَ اَبُوْ عِيْسَى هَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ
"Dari Huzaifah bin al-Yaman, dari Nabi SAW ia bersabda: "Demi Zat yang diriku ada dalam genggaman kekuasan-Nya, sungguh hendaklah kalian memerintahkan yang ma'ruf dan melarang kemungkaran atau sungguh Allah mempercepat kiriman siksaan terhadap kalian kemudian kalian memohon kepada-Nya, maka tidak diijabah bagi kalian". Abu Isa berkata, hadis itu hasan. (HR. Tirmizi)
PENJELASAN
Hadis diatas secara tegas untuk melaksanakan amar ma'ruf (menyuruh berbuat kebaikan) dan melarang berbuat kemunkaran. Kuatnya perintah dinyatakan dengan "sumpah" dan "tambahan lam ta'kid'. Para ulama sepakat bahwa hukum amar ma'ruf nahi munkar adalah fardhu kifayah. Perintah untuk amar ma'ruf nahi munkar ini ditegaskan dalam al-Qur'an surat Ali Imran ayat 104:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) ma'ruf dan mencegah dari kemunkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung"
Yang dimaksud dengan ma'ruf adalah segala kebaikan atau segala perbuatan yang dipandang baik oleh syara' atau agama. Sedangkan kemunkaran adalah lawan dari ma'ruf, yaitu perbauatan yang dipandang buruk berdasarkan agama atau syari'at.
Meninggalkan perintah akan menimbulkan konsekuensi. Dalam hadis tersebut ditegaskan bahwa manusia diberi pilihan untuk melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar atau datangnya azab siksaan dengan segera. Dari pernyataan ini dapat dipahami bahwa, memiarkan kemunkaran akan mengakibatkan datangnya azab dan siksaan di dunia maupun di akhirat. Allah menegaskan dalam firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan-tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS. ar-Rum: 41)
Berbagai bukti menunjukkan bencana/siksaan yang datang karena perbuatan manusia. Contohnya musibah banjir yang datang melanda dan memakan banyak korban, pada dasarnya bukan hanya sekedar peringatan dari Tuhan, melainkan juga karena ulah tangan-tangan manusia itu sendiri. Berbagai bentuk penebangan hutan secara liar, pembuangan sampah di tempat sembarangan, pembangunan gedung tanpa memperhatikan tata kota, penciutan dan pendangkalan sungai, semua itu adalah perbuatan-perbuatan manusia.
Contoh musibah lain yang sampai sekarang belum ada penanggulangannya adalah penyebaran virus HIV/AIDS. Semua itu tidak akan terjadi jika manusia mampu menjaga moral dan tidak membiarkan kemunkaran dan kenistaan menderanya.
Amar ma'ruf nahi munkar dapat menghindarkan umat manusia tertimpa bencana dan malapetaka. Al-Qur'an menggambarkan bahwa siksa dan azab dapat datang hanya kerena sebagian orang/kelompok yang melakukan kemunkaran. Tragisnya siksaan dan azab itu menyerang bukan hanya kepada pelakunya, melainkan kepada seluruh umat manusia (orang-orang yang ada di sekelilingnya). Firman Allah dalam QS. al-Anfal: 25:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya".
Ayat di atas menegaskan bahwa membiarkan kemunkaran sama dengan saja dengan membiarkan kazaliman merajalela. Dan dari setiap kezaliman yang ada berimplikasi datangnya siksaan bagi pelakunya dan orang-orang di sekitarnya.

Tingkatan Menegakkan Amar Ma'ruf Nahi Munkar

NASKAH HADIS
عَنْ اَبِيْ سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَنْ رَأَيْ مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَاْليُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَّمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
"Dari Abu Said al-Khudri r.a. ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu selemah-lemahnya iman" (HR. Muslim)
PENJELASAN
Kemunkaran menurut bahasa berarti sesuatu yang dibenci. Sedangkan menurut istilah, kemunkaran berarti perbuatan yang dibenci oleh syara' atau agama. Contohnya meninggalkan kewajiban atau menerjang hal-hal yang diharamkan. Meninggalkan kewajiban misalnya meninggalkan shalat, meninggalkan puasa ramadhan, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Contoh menerjang yang diharamkan misalnya mengkonsumsi miras, berzina, berjudi, dan perbuatan lainnya yang diharamkan.
Seorang mukmin perintahkan untuk merespon segala bentuk kemunkaran dengan melaksanakan upaya dan usaha perubahan. Merubah dari berbuat munkar menjadi berbuat ma'ruf, atau setidaknya menghentikan perbuatan munkar tersebut. Tingkatan usaha-usaha tersebut adalah:
1. merubah dengan tangan
Merubah kemunkaran dengan tangan dimaknai: (1) tangan yang sebenarnya/fisik (makna hakiki), atau (b) merubah dengan kekuatan/kekuasaan yang dimilikinya (makna majazi/metafora).
Pengertian hakiki merubah kemunkaran dengan tangan, misalnya seorang guru menjatuhkan hukuman fisik yang tidak membahayakan kepada siswa yang melanggar tata tertib tingkat tinggi. Orangtua yang memukul anaknya yang sudah aqil baligh karena meninggalkan shalat, dan contoh-contoh lainnya.
Merubah kemunkaran dengan tangan dalam arti metafora maksudnya melakukan menghentikan kemunkaran melalui kekuasaan yang dimiliki seseorang. Misalnya pencabutan ijin usaha kepada perusahaan yang melakukan pelanggaran hukum, etika, norma atau aturan agama. Misalnya menjual miras, menjual barang-barang hasil curian, dan barang-barang haram lainnya. Seorang atasan memecat secara tidak hormat bawahannya yang melakukan pelanggaran etika/moral keagamaan.
Langkah perubahan ini dengan tangan atau kekuasaan merupakan tingkatan upaya paling tertinggi.
2. Merubah dengan Lisan
Langkah menghentikan kemunkaran dengan lisan dilakukan apabila langkah pertama (menghentikan dengan kekuatan) tidak dapat dilaksanakan. Merubah kemunkaran dengan lisan dapat dilakukan dalam bentuk-bentuk yang bemacam-macam: dengan nasihat, mau'izah, gertakan, ucapan, tuilisan, pernyataan dan lain-lainnya.
Melakukan perubahan dengan cara lisan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek kepribadian dan kejiwaan mereka yang diajaknya. Karenya, mengajak berbuat ma'ruf atau menghentikan kemunkaran harus dilakukan dengan kebijaksanaan, memberikan nasihat yang baik atau berdiskusi secara sehat. Allah berfirman:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan, nasihat yang baik dan berdebat dengan cara yang baik" (QS. al-Nahl: 125)
Berdasark kepada ayat di atas, maka mengubah perbuatan munkar secara lisan harus dilakukan secara lemah lembuh, sopan, dan menggunakan kata-kata atau cara yang baik juga argumen yang kuat. Langkah ini merupakan hal yang penting agar mereka yang diajak untuk berbuat baik tidak berlari atau menjauhi kita. Dalam ayat lain Allah berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
"Dan karena rahmat dari Allah engkau berlemah lembut kepada mereka. Seandainya engkau membenci dan keras hati, niscaya mereka akan berlari dari sekelilingmu…" (QS. Ali Imran: 159).
3. Merubah dengan Hati
Langkah-langkah menanggulangi kemunkaran dengan dua cara di atas memerlukan fasilitas dan skills yang khusus. Jika fasilitas dan skills tersebut tidak dimiliki, tidak berarti bahwa upaya penggulangan boleh ditinggalkan. Kewajiban tetap harus dilaksanakan, hanya saja menggunakan kadar atau tingkatan usaha yang lebih ringan, yaitu dengan hati dalam artian "ketidakridhaan hati terhadap kemunkaran" atau "berdo'a agar kemunkaran berhenti".
Merubah dengan hati digambarkan oleh Rasulullah sebagai "selemah-lemahnya iman". Artinya batas minimal menanggulangi kemunkaran adalah dilakukan dengan hati. Dengan demikian, maka berdiam diri dan bersikap apatis terhadap kemunkaran merupakan langkah yang salah, karena sikap yang demikian itu merupakan sikap yang "tidak peduli terhadap sesama mukmin".
Mawas Diri dan Instropeksi Diri dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Kewajiban menegakkan amar ma'ruf nahi munkar tidak hanya berlaku bagi orang lain saja. Penegakkan ini juga harus berjalan beriringan dengan penegakkan amar ma'ruf nahi munkar bagi diri sendiri/pribadi. Dengan demikian, maka tidak akan terjadi ketimpangan, dimana seseorang mampu menegakkan perintah tersebut bagi orang lain, sementara dirinya tidak terjamah dengan perintah tersebut.
Nabi menggambarkan kondisi orang tersebut sebagai seorang yang yang dilemparkan ke Neraka, kemudian di dalamnya ia berputar-putar di sekitar penduduk neraka seperti keledai memutari mesin giling tepung:
عَنْ اُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ بْنِ حَارِثَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ يُجَاءُ بِرَجُلٍ فَيُطْرَحُ فِى النَّارِ فَيَطْحَنُ فِيْهَا كَطَحْنِ اْلحِمَارِ بِرَحَاهُ فَيَطِيْفُ بِهِ اَهْلُ النَّارِ فَيَقُوْلُوْنَ أَيْ فُلَانٌ اَلَسْتَ كُنْتَ تَأْمُرُ بِاْلمَعْرُوْفِ وَتَنْهَي عَنِ اْلمُنْكَرِ فَيَقُوْلُ اِنِّى آمِرٌ بِاْلمَعْرُوْفِ وَلَا أَفْعَلُهُ وَاَنْهَى عَنِ اْلمُنْكَرِ وَأَفْعَلُهُ
"Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Suatu saat nanti ada seorang laki-laki yang didatangkan dan kemudian dilemparkan ke dalam api neraka. Di dalamnya ia berputar-putar seperti keledai yang berputar-putar mengelilingi mesin giling tepung, maka berkumpullah penghuni neraka mengelilingi dan bertanya: "Hai Fulan!, Bukankah engkau adalah yang dulu memerintah untuk berbuat ma'ruf dan mencegah dari kemunkaran? Ia menjawab, "Ya, dulunya aku adalah yang menyuruh berbuat ma'ruf tapi aku sendiri tidak melakukannya. Aku mencegah kemunkaran, namun aku sendiri melakukannya". (HR. Bukhari)
Orang yang digambarkan dalam hadis di atas ibarat lilin. Ia mampu menerangi di sekitarnya, akan tetapi ia sendiri habis termakan api. Allah mencerca dan mempertanyakan kepribadian orang tersebut sebagai orang yang tidak berfikir.
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti (berfikir)? (QS. Al-Baqarah: 44).
Meski demikian, bukan berarti bahwa untuk amar ma'ruf nahi munkar harus menunggu pribadi seseorang menjadi baik. Al-Asqalani menyatakan bahwa sebagian ulama berpendapat, wajib hukumnya melakukan amar ma'ruf nahi munkar bagi seseorang yang ada telah memiliki kemampuan untuk itu dan tidak ada kekhawatiran bahaya pada dirinya sekalipun di tidak melakukannya. Karena secara umum, orang melakukan amar ma'ruf diberi pahala apalagi kalau dia merupakan seorang yang patuh menjalankan agama.
Lebih lanjut al-Asqalani menyatakan bahwa menegakkan amar ma'ruf nahi munkar dilakukan pada saat seseorang telah menegakkannya pada dirinya adalah merupakan konsep ideal (afdhal).
Wallahu A'lam

Jumaat, 2 Ogos 2013

Berhari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah

Berhari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah


Tiap-tiap 1 Syawal kita berhari raya ‘Iedul Fitri. Wahai Saudariku, ketahuilah bahwa hari raya ini merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebut ‘Ied karena pada hari itu Allah memberikan berbagai macam kebaikan yang kepada kita sebagai hambaNya. Diantara kebaikan itu adalah berbuka setelah adanya larangan makan dan minum selama bulan suci Romadhan dan kebaikan berupa diperintahkannya mengeluarkan zakat fitrah.
Para ulama telah menjelaskan tentang sunah-sunah Rasulullah yang berkaitan dengan hari raya, diantaranya:
1. Mandi pada hari raya.
Sa’id bin Al Musayyib berkata: “Sunah hari raya ‘idul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan, makan sebelum keluar dan mandi.”
2. Berhias sebelum berangkat sholat ‘Iedul Fitri.
Disunahkan bagi laki-laki untuk membersihkan diri dan memakai pakaian terbaik yang dimilikinya, memakai minyak wangi dan bersiwak. Sedangkan bagi wanita tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan baju yang mewah dan menggunakan minyak wangi.
3. Makan sebelum sholat ‘Idul Fitri.
“Dari Anas RodhiyAllahu’anhu, ia berkata: Nabi sholAllahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar rumah pada hari raya ‘Iedul fitri hingga makan beberapa kurma.” (HR. Bukhari). Menurut Ibnu Muhallab berkata bahwa hikmah makan sebelum sholat adalah agar jangan ada yang mengira bahwa harus tetap puasa hingga sholat ‘Ied.
4. Mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari sholat ‘Ied.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, beliau mengambil jalan yang berbeda saat pulang dan perginya (HR. Bukhari), diantara hikmahnya adalah agar orang-orang yang lewat di jalan itu bisa memberikan salam kepada orang-orang yang tinggal disekitar jalan yang dilalui tersebut, dan memperlihatkan syi’ar islam.
5. Bertakbir.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat menunaikan sholat pada hari raya ‘ied, lalu beliau bertakbir sampai tiba tempat pelaksanaan sholat, bahkan sampai sholat akan dilaksanakan. Dalam hadits ini terkandung dalil disyari’atkannya takbir dengan suara lantang selama perjalanan menuju ke tempat pelaksanaan sholat. Tidak disyari’atkan takbir dengan suara keras yang dilakukan bersama-sama. Untuk waktu bertakbir saat Idul Fitri menurut pendapat yang paling kuat adalah setelah meninggalkan rumah pada pagi harinya.
6. Sholat ‘Ied.
Hukum sholat ‘ied adalah fardhu ‘ain, bagi setiap orang, karena Rosulululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengerjakan sholat ‘Ied. Sholat ‘Ied menggugurkan sholat jum’at, jika ‘Ied jatuh pada hari jum’at. Sesuatu yang wajib hanya bisa digugurkan oleh kewajiban yang lain (At Ta’liqat Ar Radhiyah, syaikh Al Albani, 1/380). Nabi menyuruh manusia untuk menghadirinya hingga para wanita yang haidh pun disuruh untuk datang ke tempat sholat, tetapi disyaratkan tidak mendekati tempat sholat. Selain itu Nabi juga menyuruh wanita yang tidak punya jilbab untuk dipinjami jilbab sehingga dia bisa mendatangi tempat sholat tersebut, hal ini menunjukkan bahwa hukum sholat ‘Ied adalah fardhu ‘ain.
Waktu Sholat ‘Ied adalah setelah terbitnya matahari setinggi tombak hingga tergelincirnya matahari (waktu Dhuha). Disunahkan untuk mengakhirkan sholat ‘Iedul Fitri, agar kaum muslimin memperoleh kesempatan untuk menunaikan zakat fitrah.
Disunahkan untuk mengerjakan di tanah lapang di luar pemukiman kaum muslimin, kecuali ada udzur (misalnya hujan, angin kencang) maka boleh dikerjakan di masjid.
Dari Jabir bin Samurah berkata: “Aku sering sholat dua hari raya bersama nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa adzan dan iqamat.” (HR. Muslim) dan tidak disunahkan sholat sunah sebelum dan sesudah sholat ‘ied, hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat hari raya dua raka’at. Tidak ada sholat sebelumnya dan setelahnya (HR. Bukhari: 9890)
Untuk Khutbah sholat ‘ied, maka tidak wajib untuk mendengarkannya, dibolehkan untuk meningggalkan tanah lapang seusai sholat. Khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dibuka dengan takbir, tapi dengan hamdalah, dan juga tanpa diselingi dengan takbir-takbir. Beliau berkutbah di tempat yang agak tinggi dan tidak menggunakan mimbar. Rasulullah berkutbah dua kali, satu untuk pria dan satu untuk wanita, ketika beliau mengira wanita tidak mendengar khutbahnya.
7. Ucapan selamat Hari Raya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang mengucapkan selamat pada hari raya dan beliau menjawab: “Adapun ucapan selamat pada hari raya ‘ied, sebagaimana ucapan sebagian mereka terhadap sebagian lainnya jika bertemu setelah sholat ‘ied yaitu: Taqabbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima amal kami dan kalian) atau ahaalAllahu ‘alaika (Mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepadamu) dan semisalnya.” Telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi bahwa mereka biasa melakukan hal tersebut. Imam Ahmad dan lainnya juga membolehkan hal ini. Imam Ahmad berkata, “Saya tidak akan memulai seseorang dengan ucapan selamat ‘ied, Namun jika seseorang itu memulai maka saya akan menjawabnya.” Yang demikian itu karena menjawab salam adalah sesuatu yang wajib dan memberikan ucapan bukan termasuk sunah yang diperintahkan dan juga tidak ada larangannya. Barangsiapa yang melakukannya maka ada contohnya dan bagi yang tidak mengerjakannya juga ada contohnya (Majmu’ al-Fatawaa, 24/253). Ucapan hari raya ini diucapkan hanya pada tanggal 1 Syawal.
8. Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada hari raya.

Saat hari raya, kadang kita terlena dan tanpa kita sadari kita telah melakukan kemungkaran-kemungkaran diantaranya:
  1. Berhias dengan mencukur janggot (untuk laki-laki).
  2. Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.
  3. Menyerupai atau tasyabuh terhadap orang-orang kafir dalam hal pakaian dan mendengarkan musik serta berbagai kemungkaran lainnya.
  4. Masuk rumah menemui wanita yang bukan mahram.
  5. Wanita bertabarruj atau memamerkan kecantikannya kepada orang lain dan wanita keluar ke pasar dan tempat-tempat lain.
  6. Mengkhususkan ziarah kubur hanya pada hari raya ‘ied saja, serta membagi-bagikan permen, dan makanan-makanan lainnya, duduk di kuburan, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, melakukan sufur (wanitanya tidak berhijab), serta meratapi orang-orang yang sudah meninggal dunia.
  7. Berlebih-lebihan dan berfoya-foya dalam hal yang tidak bermanfaat dan tidak mengandung mashlahat dan faedah.
  8. Banyak orang yang meninggalkan sholat di masjid tanpa adanya alasan yang dibenarkan syari’at agama, dan sebagian orang hanya mencukupkan sholat ‘ied saja dan tidak pada sholat lainnya. Demi Allah ini adalah bencana yang besar.
  9. Menghidupkan malam hari raya ‘ied, mereka beralasan dengan hadits dari Rasulullah: “Barangsiapa menghidupkan malam hari raya ‘iedul fitri dan ‘iedul adha, maka hatinya tidak akan mati di hari banyak hati yang mati.” (Hadits ini maudhu’sehingga tidak dapat dijadikan dalil).

Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Fitri


1.            Bangun pagi
Bangun pagi supaya bisa mempersiapkan segala sesuatunya lebih awal.
2.            Mandi pagi
عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
“Dari Malik dari Nafi’, ia berkata bahwa Abdullah bin Umar dahulu mandi pada hari Idul Fitri sebelum pergi ke mushalla (lapangan).” (Shahih, HR. Malik dalam Al-Muwaththa` dan Al-Imam Asy-Syafi’i dari jalannya dalam Al-Umm)
Dalam atsar lain dari Zadzan, seseorang bertanya kepada ‘Ali radhiallahu ‘anhu tentang mandi, maka ‘Ali berkata: “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Ia menjawab: “Tidak, mandi yang itu benar-benar mandi.” Ali radhiallahu ‘anhu berkata: “Hari Jum’at, hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Idul Fitri.” (HR. Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa`, 1-176-177))
3.            Berpakaian rapih sesuai sunnah
Ummu Athiyyah berkata:
أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِيْ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَ ذَوَاتِ الْخُدُوْرِ . فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ؟ قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا
“Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam memerintahkan kami mengeluarkan para wanita gadis, haidh, dan pingitan. Adapun yang haidh , maka mereka menjauhi sholat, dan menyaksikan kebaikan dan dakwah/doanya kaum muslimin.Aku berkata: ” Ya Rasulullah, seorang di antara kami ada yang tak punya jilbab”. Beliau menjawab: “Hendaknya saudaranya memakaikan (meminjamkan) jilbabnya kepada saudaranya”. [Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (971) dan Muslim dalam Ash-Shohih (890)]
Namun berpakaian rapih disini bagi wanita bukan berarti berdandan dan memakai wewangian, karena hal tersebut tidak diperbolehkan bagi kaum muslimah.
4.            Makan sebelum sholat
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. وَقَالَ مُرَجَّأُ بْنُ رَجَاءٍ: حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا
Dari Anas bin Malik ia berkata: Adalah Rasulullah tidak keluar di hari fitri sebelum beliau makan beberapa kurma. Murajja‘ bin Raja‘ berkata: Abdullah berkata kepadaku, ia mengatakan bahwa Anas berkata kepadanya: “Nabi memakannya dalam jumlah ganjil.” (Shahih, HR Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Akl Yaumal ‘Idain Qablal Khuruj)
5.            Jalan kaki ke musholla (tempat sholat) Ied
Ali bin Abi Tholib-Radhiyallahu anhu- berkata:
مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيْدِ مَاشِيًا
“Termasuk perbuatan sunnah, kamu keluar mendatangi sholat ied dengan berjalan kaki”. [HR.At-Tirmidzy dalam As-Sunan (2/410); di-hasan-kan Al-Albany dalam Shohih Sunan At-Tirmidzy (530)]
Abu ‘Isa At-Tirmidzy- rahimahullah-berkata dalam Sunan At-Tirmidzy (2/410), “Hadits ini di amalkan di sisi para ahli ilmu. Mereka menganjurkan seseorang keluar menuju ied dengan berjalan kaki”.
6.            Takbir ketika menuju musholla
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di Hari Raya Idul Fitri lalu beliau bertakbir sampai datang ke tempat shalat dan sampai selesai shalat. Apabila telah selesai shalat beliau memutus takbir.” (Shahih, Mursal Az-Zuhri, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengan syawahidnya dalam Ash-Shahihah no. 171)
Asy-Syaikh Al-Albani berkata: Telah shahih mengucapkan 2 kali takbir dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu:
أَنَّهُ كَانَ يُكَبِرُ أَيَّامَ التَّشْرِيْقِ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهٌ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Bahwa beliau bertakbir di hari-hari tasyriq:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهٌ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
(HR. Ibnu Abi Syaibah, 2/2/2 dan sanadnya shahih)
Namun Ibnu Abi Syaibah menyebutkan juga di tempat yang lain dengan sanad yang sama dengan takbir tiga kali. Demikian pula diriwayatkan Al-Baihaqi (3/315) dan Yahya bin Sa’id dari Al-Hakam dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dengan tiga kali takbir.
Dalam salah satu riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلَّ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
(Lihat Irwa`ul Ghalil, 3/125)
7.            Sholat ‘Ied berjama’ah
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوْصِيْهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ
“Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia mengatakan: Bahwa Rasulullah dahulu keluar di hari Idul Fitri dan Idhul Adha ke mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat, lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia sedang mereka duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan memberi wasiat kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila beliau ingin mengutus suatu utusan maka beliau utus, atau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Khuruj Ilal Mushalla bi Ghairil Mimbar dan Muslim)
8.            Mendengarkan Khutbah
Jamaah Id dipersilahkan memilih duduk mendengarkan atau tidak, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَ فَلَمَّا قَضَى الصَّلاَةَ قَالَ: إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ
Dari ‘Abdullah bin Saib ia berkata: Aku menyaksikan bersama Rasulullah Shalat Id, maka ketika beliau selesai shalat, beliau berkata: “Kami berkhutbah, barangsiapa yang ingin duduk untuk mendengarkan khutbah duduklah dan barangsiapa yang ingin pergi maka silahkan.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, no. 1155)
9.            Mengucapkan Tahni’ah “Taqobbalallohu minna wa minkum”
Ibnu Hajar mengatakan: “Kami meriwayatkan dalam Al-Muhamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair bahwa ia berkata: ‘Para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu di hari Id, sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
“Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kamu.” (Lihat pula masalah ini dalam Ahkamul ‘Idain karya Ali Hasan hal. 61, Majmu’ Fatawa, 24/253, Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/167-168)
10.          Pulang dengan rute yang berbeda
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيْدٍ خَالَفَ الطَّرِيْقَ
Dari Jabir, ia berkata:” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila di hari Id, beliau mengambil jalan yang berbeda. (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain, Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2/472986, karya Ibnu Rajab, 6/163 no. 986)