AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Jumaat, 23 Ogos 2013

SUMBER AJARAN SYI'AH SESAT,IMAM ATAU TUHAN,TAQIYAH SYI'AH

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI


 SUMBER AJARAN SYI'H SESAT

Sebenarnya dari mana umat syiah mengambil ajaran agamanya? Mengapa kita sering mendengar kawan-kawan syiah berdalil dari Shahih Bukhari?
Sebagaimana Ahlussunah memiliki kitab hadits yang berasal dari Nabi,maka sebagai mazhab, syiah harus memiliki kitab-kitab yang berisi sabda para imam ahlulbait, mereka yang wajib diikuti bagi penganut syiah. Lalu mengapa syiah mengemukakan dalil dari kitab-kitab hadits sunni seperti shahih Bukhari dan Muslim? Mereka menggunakan hadits-hadits itu dalam rangka mendebat ahlussunah, bukan karena beriman pada isi hadits itu. Lalu apa saja rujukan syiah Imamiyah?




Syiah Imamiyah menganggap sabda 12 imam ahlulbait sebagai ajaran yang wajib diikuti, ini sesuai dengan ajaran mereka yang menganggap 12 imam ahlulbait sebagai penerus risalah Nabi. Sabda-sabda tersebut tercantum dalam kitab-kitab syiah, namun sayangnya kitab-kitab itu tidak begitu dikenal atau tepatnya sengaja tidak disebarluaskan oleh penganut syiah di Nusantara. Insya Allah kami akan memudahkan pembaca untuk mendownload sebagian kitab rujukan mereka yang memuat sabda-sabda para imam ahlulbait. Tapi pembaca pasti penasaran untuk membaca sabda ahlulbait, karena salah satu murid Imam Ja’far As Shadiq yang bernama Zurarah mengatakan dalam sebuah riwayat dari Al Kisyi yang meriwayatkan dalam bukunya Rijalul Kisyi dengan sanadnya dari Muhammad bin Ziyad bin Abi Umair dari Ali bin Atiyyah bahwa Zurarah berkata: jika aku menceritakan seluruh yang kudengar dari Abu Abdillah (Ja’far Asshadiq) maka laki-laki yang mendengar perkataan Imam Ja’far pasti akan berdiri kemaluannya. Rijalul Kisyi hal 134 (kira-kira cerita apa yang dibawa oleh Imam Ja’far sehingga membuat kemaluan berdiri?)
Sedangkan umat syiah mengatakan bahwa para imam mendapat ajaran dari imam sebelumnya yang mendapatkan ajaran dari Nabi. Juga umat syiah mengajarkan bahwa ajaran para imam harus diikuti. Tapi ternyata imam yang satu ini suka mengajarkan cerita-cerita yang membuat kemaluan berdiri. Jangan-jangan ajaran di atas sudah disensor. Lalu bagaimana hukum menyensor ajaran ahlulbait yang wajib diikuti?
Literatur syiah yang dianggap sebagai literatur utama yang memuat riwayat sabda ahlulbait ada 8 kitab utama, ulama mereka menyebutnya dengan sebutan “al jawami’ ats tsamaniah” (kitab kumpulan yang delapan) ini sesuai dengan yang tercantum dalam kitab Muftahul Kutub Al Arba’ah jilid 1 hal 5 dan A’yanus Syiah jilid 1 hal 288. Dalam makalahnya yang berjudul metode praktis untuk pendekatan sunnah syiah (dimuat dalam masalah Risalatus Islam, juga dimuat bersama makalah lain yang diambil dari majalah yang sama dengan judul “persatuan islam” hal 233, Muhammad Shaleh Al Ha’iri mengatakan: kitab shahih imamiyah ada delapan, empat di antaranya di tulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup terdahulu, tiga lagi ditulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup setelah tiga yang pertama, yang kedelapan ditulis oleh Al Husein Nuri Thabrasi.
Kitab pertama dan yang tershahih di antara delapan kitab di atas adalah Al Kafi. Ini seperti disebutkan dalam kitab Adz Dzari’ah jilid 17 hal 245, Mustadrak Al Wasa’il jilid 3 ha 432, Wasa’il Asy Syi’ah jilid 20 hal 71. kitab-kitab di atas menyebutkan bahwa kitab Al Kafi adalah kitab yang tershahih dari empat kitab utama mereka, karena kitab Al Kafi ditulis pada era Ghaibah Sughra, yang mana saat itu masih mungkin untuk mengecek validitas riwayat yang ada dalam kitab itu. karena pada era ghaibah sughra imam mahdi masih dapat dihubungi melalui “duta yang empat” yang dapat berhubungan dengan imam mahdi dan menerima seperlima bagian dari harta syiah.
Jumlah riwayat kitab Al Kafi ada 16099, seperti diterangkan dalam kitab A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280. Kitab Al Kafi dijelaskan oleh para Ulama Syi’ah, di antaranya adalah Al Majlisi –penulis Biharul Anwar- yang menulis penjelasan kitab Al Kafi dan diberi judul Mir’aatul Uquul. Dalam kitabnya itu Majlisi juga menilai validitas hadits Al Kafi, di antara hadits yang dianggapnya shahih adalah hadits yang menerangkan bahwa Al Qur’an telah diubah. Berikut terjemahan nukilan dari Mir’atul Uqul:
Abu Abdillah berkata: “Al Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad adalah 17 ribu ayat”. Al Kafi jilid 2 hal 463. Muhammad Baqir Al Majlisi berkata bahwa riwayat ini adalah muwathaqah. Lihat di Mir’atul Uqul jilid 2 hal 525.
Begitu juga ada kitab lain yang berisi penjelasan riwayat Al Kafi, yaitu Syarh Jami’ yang ditulis oleh Al Mazindarani begitu juga terdapat kitab yang berjudul As Syafi fi Syarhi Ushulil Kafi, ada lagi kitab yang judulnya At Ta’liqah Ala Kitabil Kafi yang ditulis oleh Muhammad Baqir Al Husaini, tapi hanya menjelaskan sampai Kitabul Hujjah saja. Ada lagi kitab Al Hasyiyah Ala Ushulil Kafi karangan Rafi’uddin Muhammad bin Haidar An Na’ini, juga Badruddin bin Ahmad Al Husaini Al Amili.
Kitab kedua adalah Man la Yahdhuruhul Faqih yang ditulis oleh Muhammad bin Babawaih Al Qummi, yang juga dikenal dengan sebutan As Shaduq, keterangan mengenai kitab ini adapat dilihat dalam kitab Raudhatul Jannat jilid 6 hal 230-237, A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280, juga dalam Muqaddimah kitab Man La Yahdhuruhul Faqih, kitab ini memuat 176 bab, yang pertama adalah bab Thaharah dan ditutup dengan bab Nawadir. Kitab ini memuat 9044 riwayat.
Disebutkan dalam pengantar bahwa penulisnya sengaja menghapus sanad dari setiap riwayat agar tidak terlalu memperbanyak isi kitab, juga disebutkan bahwa penulisnya mengambil riwayat untuk ditulis dalam buku ini dari kitab-kitab yang terkenal dan dapat diandalkan, penulis hanya mencantumkan riwayat yang diyakini validitasnya. Ditambah lagi dengan kitab Tahdzibul Ahkam, keterangan mengenai kitab ini dapat ditemui dalam kitab mustadrakul wasa’il jilid 4 hal 719, kitab adzari’ah jilid 4 hal 504, juga dalam pengantar tahdzibul ahkam sendiri. Kitab ini ditulis untuk memecahkan kontradiksi yang terjadi pada banyak sekali riwayat syiah, kitab ini berisi 393 bab. Mengenai jumlah haditsnya akan kita bahas kemudian.
Begitu juga kitab Al Istibshar, yang terdiri dari tiga jilid, dua jilid memuat bab ibadah, sementara pembahasan fiqih lainnya dicantumkan pada jilid ketiga. Kitab ini memuat 393 bab, dalam kitabnya ini penulis hanya mencantumkan 5511 hadits dan mengatakan: saya membatasinya supaya tidak terjadi tambahan maupun pengurangan. Sementara dalam kitab Adz Dzari’ah ila Tashanifisy Syi’ah disebutkan bahwa jumlah haditsnya ada 6531, berbeda dengan penuturan penulisnya sendiri. Silahkan dirujuk ke Ad Dzari’ah jilid 2 hal 14, A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280, pengantar Al Istibshar, tulisan Hasan Al Khurasan. Kedua kitab di atas – Tahdzibul Ahkam dan Al Istibshar- adalah karya ulama tersohor syiah yang bergelar “ Syaikhut Tha’ifah” yaitu Abu Ja’far Muhamamd bin Hasan Al Thusi (wafat 360 H). Al Faidh Al Kasyani dalam Al Wafi jilid 1 hal 11 mengatakan: seluruh hukum syar’i hari ini berporos pada empat kitab pokok, yang seluruh riwayat yang ada di dalamnya dianggap shahih oleh penulisnya.
Agho Barzak Tahrani – salah satu mujtahid syiah masa kini- mengatakan dalam kitab Adz Dzari’ah jilid 2 hal 14 : empat kitab ditambah dengan kitab kumpulan hadits adalah dasar bagi hukum syar’I hingga saat ini. Pada abad 11 Hijriah para ulama syiah menyusun beberapa kitab, empat di antaranya disebut oleh ulama syiah hari ini dengan : Al Majami’ Al Arba’ah Al Mutaakhirah” (empat kitab kumpulan hadits belakangan); empat kitab itu adalah: Al Wafi yang disusun oleh Muhamad bin Murtadha yang dikenal dengan julukan Mulla Muhsin Al Faidh Al Kasyani –wafat tahun 1091 H– terdiri dari tiga jilid tebal, dicetak di Iran, memuat 273 bab. Muhammad Bahrul Ulum mengatakan bahwa kitab Al Wafi memuat 50 000 hadits (lihat footnoote kitab Lu’lu’atul Bahrain hal 122) sementara Muhsin Al Amin mengatakan bahwa Al Wafi memuat 44244 hadits, bisa dilihat dalam A’yanus Syi’ah.
Lalu kitab Biharul Anwar Al Jami’ah Li Durar Akhbar Aimmatil At-har karya Muhammad Baqir Al Majlisi –wafat tahun 1110 atau 1111 H-. Ulama syiah menyatakan bahwa Biharul Anwar adalah kitab terbesar yang memuat hadits dari kitab-kitab rujukan syiah, bisa dilihat keterangan mengenai kitab ini dalam Adz Dzari’ah jilid 3 hal 27, juga A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 293. selain itu juga ada kitab wasa’ilus syi’ah ila tahsil masa’ilisy syari’ah yang disusun oleh Muhammad bin Hasan Al Hurr Al Amili, yang dianggap sebagai kitab terlengkap yang memuat hadits hukum fiqih bagi syiah imamiyah.
Dalam kitab ini terkumpul riwayat dari kitab empat utama dan ditambah dengan riwayat lain dari kitab-kitab lain yang dianggap sebagai rujukan, yangkonon jumlahnya mencapai tujuh puluh kitab-seperti dikatakan oleh penulis kitab Adz Dzari’ah. Tetapi Syirazi dalam pengantar kitab wasa’il menyebutkan jumlah kitab yang menjadi rujukan adalah 180 kitab lebih, Al Hurr Al Amili menyebutkan judul-judul kitab yang menjadi rujukannya yang berjumlah lebih dari delapan puluh kitab, dia juga menyebutkan bahwa dia mengambil rujukan dari kitab0kitab selain yang telah disebutkan, tetapi dia merujuknya dengan perantaraan nukilan kitab lain. Silahkan merujuk pada Muqaddimatul Wasa’il yang situlis oleh Asyirazi, begitu juga A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 292-293, Adz Dzari’ah jilid 4 hal 352-353, Wasa’ilusy Syi’ah jilid 1 hal 408, jilid 20 hal 36-49.
Lalu kitab mustadrakul wasa’il wa mustanbtul masa’il yang disusun oleh Husein Nuri Thabrasi –wafat 1320 H-. Agho Barzak Tahrani mengatakan: kitab mustadrak wasa’il menjadi seperti kitab kumpulan hadits lainnya yang harus ditelaah dan dijadikan rujukan oleh para mujtahid dalam memutuskan hukum syareat, kebanyakan ulama kami saat ini tunduk mengikuti kitab itu. Lihat kitab Adz Dzari’ah jilid 2 hal 110-111. lalu Agho Barzak memperkuat pernyataannya dengan nukilan dari ulama-ulama syiah yang menjadikan kitab mustadrak wasa’il sebagai rujukan utama mereka. Adz Dzari’ah jilid 2 hal 111.

Jika pembaca merasa pernah mendengar nama Nuri Thabrasi, dia adalah penyusun kitab Fashlul Khitab fi Itsbati Tahriifi Kitaabi Rabbil Arbab – pemutus perkara, pembuktian bahwa kitab Tuhan telah dirubah-, kitab itu menyebutkan dalil-dalil yang memperkuat pendapat bahwa Al Qur’an yang ada hari ini telah diselewengkan dan diubah oleh “tangan-tangan kotor”. Dalam muqaddimah mustadrakul wasa’il, Agha Barzak Tahrani mengatakan : Dia adalah salah seorang imam ahli hadits dan rijalul hadits di masa ini, termasuk jajaran ulama besar syiah dan ulama besar islam di abad ini.

Bagaimana orang yang tidak beriman pada Al Qur’an menjadi ulama besar syiah? Pada pengantar mustadrak wasa’il, Agha Barzak Thrani mengatakan bahwa salah satu karya Husein Nuri Thabrasi adalah kitab Fashlul Khitab.


Imam atau Tuhan ?

Syiah meyakini adanya dua belas imam yang menjadi penerus kenabian. Bagi syiah, masalah imamah sudah tidak bisa ditawar lagi, karena siapa saja yang menolak beriman pada salah satu saja dari dua belas imam itu maka dia divonis menjadi kafir. Menolak beriman pada salah satu imam saja sudah kafir –apalagi menolak beriman pada kedua belas imam tersebut-.
Karena yang menolak dianggap kafir, maka sudah tentu masalah imamah ini merupakan pokok yang terpenting bagi mazhab syiah. Begitu juga para imam memiliki kedudukan yang sangat penting bagi syiah. Sudah tentu penting, karena syiah meyakini bahwa para imam adalah penerus kenabian. Barangkali pembaca bertanya-tanya apakah syiah meyakini bahwa misi kenabian Nabi Muhammad belum selesai sehingga masih diperlukan penerus lagi? Tetapi inilah keyakinan syiah. Syaikh Muhammad Ridha Muzhaffar dalam kitab Aqaidul Imamiyah –yang berisi keyakinan mazhab Syiah Imamiyah- pada halaman 66 mengatakan bahwa imam adalah penerus kenabian. karena para imam adalah penerus kenabian, sudah tentu memiliki sifat-sifat "linuwih" kelebihan yang membuat para imam berbeda dengan kita-kita. Boleh jadi pembaca yang kebetulan syiah akan merah telinganya ketika imamnya dibandingkan dengan kita-kita. Ok lah, supaya para imam berbeda dengan para sahabat Nabi yang merampas hak khilafah secara tidak berhak –ini sesuai dengan pendapat syiah-. Jika imam sama dengan para sahabat Nabi, maka bisa jadi sahabat yang menjadi imam, karena tidak ada perbedaan antara mereka. Maka akal mengharuskan adanya perbedaan antara imam dan orang biasa.
Kembali kita simak Syaikh Muhammad Ridha Muzhaffar dalam kitabnya di atas pada halaman 67: Kami meyakini bahwa imam adalah sama seperti Nabi, harus memiliki sifat yang sempurna dan menjadi yang terbaik dari seluruh manusia.
Lalu mana dalil dari Al Qur'an? Semestinya dalam Al Qur'an telah disebutkan hal di atas, karena imam sama dengan Nabi. Tetapi sampai saat ini saya belum menemukan satu ayat pun yang menerangkan adanya imam yang menjadi penerus para Nabi. Jika dalam Al Qur'an termaktub bahwa Allah mengutus para Nabi, dan memang Allah menjadikan imam sebagai penerus Nabi, mestinya hal itu disebutkan dalam Al Qur'an. Kita lihat Al Qur'an banyak sekali memuat ayat yang memerintahkan kita beriman pada Nabi. Tetapi saya belum menemukan ayat yang menyuruh kita beriman pada imam. Yang ada malah ayat yang menyuruh kita berdoa pada Allah minta dijadikan imam bagi orang bertaqwa:
Dan orang-orang yang berkata: "Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 25:74)
Apakah mungkin kita diminta untuk menjadi penerus para Nabi yang memiliki sifat "linuwih"? jika demikian maka jumlah imam tidak bisa dibatasi dengan dua belas.
Kita kembali ke pembahasan inti kita, yaitu para imam memiliki sifat "linuwih" kelebihan. Lalu apa kelebihan para imam syiah yang dua belas? Tidak ada kitab ahlussunnah yang menerangkan kelebihan dua belas imam syiah. Karena tidak ada, terpaksa kita meng"explore" kitab syiah lagi. Saya ucapkan selamat pada pembaca karena dengan membaca makalah ini anda beruntung membaca riwayat-riwayat yang tidak bisa dibaca oleh banyak orang. Bahkan penganut syiah sendiri belum tentu pernah membaca riwayat-riwayat di bawah ini. Salah satu sisi kelebihan para imam adalah dari sisi keilmuan. Ilmu para imam lebih dari ilmu manusia seluruhnya. Jika ilmu para imam sama dengan ilmu para sahabat Nabi –misalnya- maka apa bedanya para imam dan sahabat Nabi? Riwayat dari kitab Al Kafi jilid 1 hal 192, dari Abu Ja'far mengatakan: Kami adalah wali perintah Allah, kami adalah pembawa ilmu Allah dan penyimpan wahyu Allah.
Sepertinya Allah dianggap memerlukan para imam untuk menyimpan ilmuNya, jadi harus "dititipkan" pada para imam syiah. Para imam menyimpan ilmu Allah berarti para imam mengetahui segala sesuatu tanpa batas. Karena ilmu Allah tidak ada batasannya. Bahkan dalam Al Qur'an ilmu Allah sebegitu luas sehingga jika ditulis dengan tinta sebanyak tujuh lautan masih kurang. Sebegitulah ilmu para imam. Ini jelas menyamakan antara imam dengan Allah, karena ilmu Allah dianggap sama dengan ilmu para imam. Lalu bagaimana dengan para Nabi? Jelas para Nabi tidak menyimpan segala ilmu Allah, para Nabi adalah manusia biasa yang diutus oleh Allah utnuk menyampaikan risalahNya kepada manusia. Segala tindakan Nabi dituntun oleh wahyu yang turun pada mereka. maka sudah jelas para Nabi tidak memiliki ilmu Allah, tidak mengetahui apa yang Allah ketahui. Berbeda dengan para imam yang menjadi tempat simpanan ilmu Allah, artinya mereka mengetahui apa saja yang Allah ketahui, ilmu mereka sama dengan ilmu Allah. Jika memang demikian mestinya yang diutus oleh Allah bukannya Nabi tetapi imam. Para Nabi sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi pada ummat mereka setelah mereka wafat:
(Ingatlah), hari diwaktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka): "Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu." Para rasul menjawab: "Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib." (QS. 5:109)
Tetapi imam Ja'far di atas menyatakan bahwa para imam juga mengetahui perkara-perkara yang ghaib, sama seperti Allah. Nabi Isa pun tidak tahu apa yang terjadi dengan ummatnya. Allah bertanya pada Nabi Isa apakah pernah menyuruh ummatnya untuk menyembah diri dan ibunya. Beliau menjawab pertanyaan Allah:
Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. (QS. 5:116)
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: "Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan atas segala sesuatu. (QS. 5:117)
Ini dikuatkan lagi oleh riwayat berikutnya –pada kitab dan halaman yang sama- dari Surah bin Kulaib, Abu Ja'far –Muhammad Al Baqir- mengatakan padanya: Demi Allah kami adalah penyimpan Allah di bumi dan langitnya, bukan menyimpan emas dan perak tetapi menyimpan ilmuNya. Sebagai bukti bahwa mereka memiliki ilmu Allah, terdapat riwayat yang menjabarkan ilmu yang dimiliki para imam. Jelas para Nabi tidak memiliki ilmu Allah. Mereka hanya memiliki pengetahuan hal ghaib ketika diberitahu oleh Allah:
Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (QS. 72:26)
Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72:27)
Saya katakan pembaca benar-benar beruntung, mendapat kesempatan membaca nukilan dari kitab syiah yang terbesar, yaitu kitab Biharul Anwar yang terdiri dari kurang lebih 110 jilid –besar sekali-. Kali ini kita menukil dari jilid 26 halaman 132:
Bab Allah membuatkan tiang bagi para imam untuk melihat perbuatan hamba.
Dari Abu Abdullah –imam Ja'far Ash Shadiq-: mengatakan: Imam mendengarkan suara ketika di perut Ibunya, ketika berusia empat bulan di kandungan dituliskan di lengan kanannya: Dan telah sempurna kalimat Allah yang benar dan adil, jika imam tersebut telah lahir maka akan nampak cahaya antara langit dan bumi, jika dia mulia berjalan maka dibuatkan baginya tiang dari cahaya untuk melihat apa yang ada antara timur dan barat.
Dalam judul bab jelas sekali bahwa imam mengawasi perbuatan manusia yang ada di bumi. Di sini kita bertanya lalu apakah tugas imam sebenarnya? Apakah imam bertugas meneruskan kenabian atau bertugas mengawasi hamba? Lalu ngapain si imam melihat perbuatan hamba? Apa tujuan imam melakukan hal itu? Para Nabi tidak pernah dibuatkan tiang oleh Allah untuk melihat perbuatan hamba di seluruh bumi. Tugas para Nabi adalah menyampaikan risalah Allah, agar seluruh manusia menyembah Allah dan menjauhi tuhan-tuhan palsu yang dibuat sendiri oleh penyembahnya. Para Nabi tidak tahu apa yang terjadi esok hari, kecuali dengan apa yang diberitahukan Allah pada mereka. Nabi tidak tahu menahu terhadap perbuatan hamba –yang akan dibalas oleh Allah dengan balasan setimpal-. Tetapi tidak untuk para imam, mereka juga melaksanakan tugas malaikat untuk mengawasi hamba-hambanya.
Dalam Al Kafi jilid 1 hal 261 Imam Abu Abdillah –Ja'far Ashadiq- Masih banyak lagi riwayat tentang ke"linuwih"an para imam, semoga kita bisa mengungkapnya. Para sahabat Nabi bukanlah imam yang bisa mengetahui yang ghaib, mereka adalah manusia biasa yang lahir dalam keadaan normal –tanpa tulisan ayat di lengannya-, bahkan banyak dari mereka adalah para "mantan" preman, pemabok, penjudi dan banyak lagi sifat-sifat lainnya. Anda tidak akan pernah menemukan riwayat dalam kitab ahlussunnah yang menyatakan bahwa para sahabat adalah penyimpan ilmu Allah dan mampu melihat amalan seluruh manusia di penjuru planet bumi ini. Sahabat tidak memerlukan riwayat riwayat buatan manusia seperti itu, tetapi cukup dengan ayat Al Qur'an yang abadi dan tidak akan dapat berubah selamanya, yang hanya diyakini oleh orang Islam:
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. 48:18)
Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 48:19)
Ayat di atas membahas para sahabat yang bersama Nabi dalam peristiwa baiat di hudaibiyah, jumlah mereka sekitar 1500 orang.  Allah telah ridha pada mereka padahal mereka masih hidup di dunia. Mereka para sahabat yang dianggap "gembel" oleh raja persia, dan akhirnya kerajaan persia dikubur oleh para sahabat untuk selamanya, ternyata diridhai oleh Rabb mereka. Meskipun bangsa persia benci dan mendendam dalam hatinya. Tenang saja, dendam itu tidak akan membangkitkan kerajaan Persia Raya dari kuburnya.
Dengan keridhaan Allah ini cukuplah kebanggaan bagi mereka, cukuplah alasan bagi kita untuk mencintai mereka, sebagai konsekwensi kecintaan kita kepada Allah. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk membenci mereka yang dicintai Allah. Tidak ada alasan bagi anda untuk membenci mereka, jikalau anda masih beriman pada ayat di atas. Jika anda membenci sahabat, -ingat, Abubakar dan Umar termasuk mereka yang berbaiat pada Nabi di Hudibiyah-, silahkan anda keluar dari islam dan nyatakan dengan terus terang, jangan malu atau takut menyuarakan keyakinan anda. Jika anda menyembunyikan kebencian anda pada Abu Bakar dan Umar dalam hati, maka Allah tetap mengetahui apa yang ada dalam hati kalian. Anda mesti mengedepankan penilaian Allah daripada penilaian teman, guru, tetangga maupun keluarga anda sendiri. Ini jika anda masih ingin disebut muslim di dunia dan akherat. 


Taqiyah Adalah Perisai Perlindungan Bagi Syiah




Taqiyyah adalah ajaran penting dalam mazhab syi'ah, penting untuk anda ketahui.
Setiap ajaran pasti memiliki keyakinan-keyakinan dan ajaran tertentu, dan lazimnya sebuah ajaran yang diinginkan untuk berkembang, keyakinan itu ditulis dalam buku. Kita lihat prakteknya agama Islam sendiri memiliki kitab yang memuat ajaran yang harus diyakini oleh seorang muslim yaitu Al Qur'an, yang mengandung perintah untuk bertanya kepada yang tahu ketika tidak mengerti tentang segala sesuatu. Begitu juga Al Qur'an memuat sumpah Allah dengan pena, yang dipahami oleh ummat Islam sebagai perintah untuk menulis dan membaca. Sehingga keterangan dari ulama dituangkan dalam kitab-kitab yang dapat dibaca hingga kini. Mazhab-mazhab fiqih dalam islam pun memiliki kitab-kitab rujukan yang memuat pendapat mazhab itu. "Mazhab syiah" pun demikian pula memiliki kitab-kitab rujukan yang memuat keyakinan-keyakinan syiah, kitab ini berisi ucapan-ucapan ahlulbait, 11 imam yang konon harus diikuti. Konon lagi, 11 imam itu disebut juga sebagai salah satu dari tsaqalain (dua pusaka) yang harus diikuti oleh orang muslim. Pusaka satu lagi adalah Al Qur'an. Selain ucapan ahlulbait, kitab-kitab itu juga memuat penjelasan-penjelasan ulama syiah, yang juga harus diikuti karena status ulama menjelaskan ayat-ayat Al Qur'an dan ucapan ahlulbait di atas. Tapi belakangan ulama syiah naik pangkat menjadi wakil imam ma'sum (yang juga ma'dum = tidak ada) untuk mengatur kehidupan keberagaamaan para penganut syiah.
Tetapi buku-buku yang memuat ajaran syiah itu hampir seluruhnya susah diakses. Terutama buku-buku yang memuat ucapan-ucapan ahlulbait, sumber legalitas bagi syiah selain Al Qur'an, sehingga kita hanya mengetahui ajaran syiah dari mulut-mulut pengikutnya atau dari buku-buku yang ditulis oleh ulama masa kini dan tidak memuat langsung ucapan ahlulbait. Ini menimbulkan kerancuan, di satu sisi orang akan mengira bahwa itulah sebenarnya mazhab syiah, tetapi ada golongan lain dari umat Islam yang berkesempatan untuk mengakses ke kitab-kitab induk syiah dan mendapati ternyata ucapan dari penganut syiah tentang mazhabnya ternyata tidak sesuai dengan isi kitab-kitab itu. Perlu diketahui bahwa kitab-kitab syiah itu memuat ajaran-ajaran yang tidak pernah didapat dalam Al Qur'an serta sabda Nabi SAW. Di sini umat dibuat bingung, akhirnya diadu domba. Ini karena adanya sebagian umat yang celakanya mereka adalah kaum intelektual tetapi terjangkit penyakit lugu dan polos. Mereka begitu saja percaya dengan ucapan-ucapan penganut syiah yang berpropaganda tentang ajarannya tanpa ingin mengecek ke sumber asli. Mereka berbenturan dengan orang-orang yang ikhlas ingin mengingatkan umat akan ajaran yang tidak sesuai dengan Al Qur'an dan sabda Nabi SAW. Akhirnya umat pun diadu domba. Lebih berbahaya lagi bahwa mereka adalah kaum intelektual yang didengar suaranya di masyarakat. Kasihan masyarakat yang terbius oleh "angin surga" baik yang dilontarkan oleh penganut syiah maupun dari intelektual yang lugu lagi polos –tapi intelek-.
Tidak ada yang aneh jika kita melihat fenomena "intelek tapi lugu",  karena sikap lugu mereka tertipu oleh angin surga dari da'i-da'i syiah. Tetapi yang patut dicermati adalah penganut atau ustadz-ustadz syiah, mengapa mereka terkesan menutupi isi riwayat-riwayat dari ahlulbait? Mengapa ucapan mereka berbeda dengan apa yang tercantum dalam buku-buku riwayat-riwayat ahlulbait? Apakah mereka sengaja ingin menyembunyikan riwayat ahlulbait atau mengapa? Ini yang barangkali terlintas pada benak kita. Ataukah riwayat itu hanya diperuntukkan bagi kalangan khusus yang sudah dianggap layak untuk mengaksesnya? Apa pun jawabannya, kitab-kitab syiah sudah bukan barang langka lagi, mereka yang benar-benar ingin pasti akan dapat menemukan dan mengaksesnya, meskipun para ustadz syiah mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan.
Sebagai misal, anda tidak akan mendengar penganut atau ustadz syiah menukil riwayat di bawah ini:
Dari Abu Abdillah –Ja'far Ash Shadiq- mengatakan: Ambillah harta orang nashibi di mana saja kamu dapatkan, lalu bayar seperlimanya pada kami.
Riwayat ini terdapat dalam kitab Tahdzibul Ahkam jilid 4 hal 122, Al Wafi jilid6 hal 43, begitu juga dinukil oleh Al Bahrani dalam Al Mahasin An Nifsaniyah, Al Bahrani mengatakan riwayat ini diriwayatkan dari banyak jalur.
Siapakah yang disebut dengan nashibi? Nashibi adalah orang yang memusuhi ahlulbait. Tetapi syiah memiliki terminologi yang berbeda atas kata memusuhi ahlulbait. yang dimaksud memusuhi ahlulbait bukanlah memusuhi alias lawan kata cinta, seperti orang yang memusuhi Ali atau membenci Fatimah, anda tidak akan menemui sikap demikian kecuali pada sebagian orang khawarij yang memang sesat. Tetapi nashibi di sini bermakna mereka yang mendahulukan selain Ali dalam khilafah, alias mereka yang berkeyakinan bahwa Ali bukanlah yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Kita lihat Al Bahrani di atas –nama lengkapnya Husain bin Muhammad Al Ashfur Ad Darazi Al Bahrani- dalam kitab yang sama pada hal 157 memberikan definisi bagi kata nashibi:
Ini karena kamu telah tahu bahwa nashibi adalah mereka yang mendahulukan selain Ali…
Maka kata nashibi meliputi seluruh penganut ahlussunnah wal jamaah yang meyakini fakta dan kenyataan yang ada bahwa khalifah setelah Nabi adalah Abu Bakar. Riwayat di atas adalah ajakan untuk merampok, mencuri, mencopet dan merampas harta ahlussunnah. Ini jelas dari riwayat di atas yang menjelaskan ambillah harta nashibi –sunni-  di mana saja, di jalan, di rumahnya, di kantor, pokoknya di mana saja terdapat harta itu. Barangkali situasi di Indonesia belum kondusif untuk melaksanakan riwayat itu, tetapi riwayat di atas dipraktekkan di Irak hari ini, di mana milisi syiah melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh pasukan ortodok Serbia kepada muslimin Bosnia.
Anda tidak akan mendengar riwayat ini dari ustadz syiah. Mengapa demikian? Ternyata ajaran syiah terdapat sebuah ajaran yang membolehkan bagi penganut syiah untuk menyembunyikan keyakinannya di depan non syiah, keyakinan itu disebut dengna taqiyyah. Lagi-lagi menurut keterangan ulama syiah sendiri bahwa taqiyah hukumnya wajib hingga imam ke 12 bangkit dari "tidur panjangnya". Ibnu Babawaih Al Qummi yang dijuluki Ash Shaduq –yang selalu berkata benar- mengatakan:
Keyakinan kami bahwa taqiyah adalah wajib, meninggalkan taqiyah sama seperti meninggalkan shalat, tidak boleh ditinggalkan hingga keluarnya Imam Mahdi siapa yang meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Imam Mahdi maka telah keluar dari agama Allah (Islam), keluar dari agama Imamiyah dan menyelisihi Allah, Rasul dan para imam. Bisa dilihat dalam kitab Al I'tiqadat  hal 114. Pada cetakan Darul Mufid tex di atas ada pada hal 108.
Ucapan ini tentunya tidak berasal dari omong kosong maupun pendapat sendiri, karena dalam ucapan di atas kita lihat ada kata: Keyakinan kami, berarti adalah keyakinan mazhab syiah menurut As Shaduq. Juga ini bukan satu-satunya ucapan ulama syiah tentang wajibnya taqiyah. Ucapan di atas berdasar pada riwayat Ja'far Ash Shadiq yang bersabda:
Jika kamu katakan bahwa orang yang meninggalkan taqiyah sama dengan orang yang meninggalkan shalat maka kamu telah berkata benar.
Bisa dilihat di kitab Biharul Anwar jilid 50 hal 181, jilid 75 hal 414, hal 421, As Sarair hal 476 Kasyful Ghummah jilid 3 hal 252, Man Laa Yahdhuruhul Faqih jilid 2 hal 127 dan beberapa sumber lain.
Juga terdapat riwayat yang mengatakan: Orang yang meninggalkan taqiyah adalah kafir. Bisa dilihat  di kitab Biharul Anwar 87 347 Fiqhur Ridha 338.
Dari sini saja kita sudah bisa mengetahui bahwa tidak ada orang syiah yang tidak bertaqiyah, tetapi sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga, sepandai-pandai syiah bertaqiyah akhirnya terbongkar juga –bagi mereka yang tidak lugu-. Perkataan As Shaduq di atas memberi jawaban bagi kebingungan kita tentang mengapa ucapan ustadz syiah berbeda dengan isi kitab mereka sendiri. Di samping itu kita jadi tahu dan akhirnya berhati-hati dalam mendengar ucapan penganut syiah, karena apa yang diucapkan di mulutnya tidak sesuai dengan keyakinan hatinya. Ini dilakukan agar keyakinan yang sebenarnya diyakini tidak diketahui orang, akhirnya dia selamat dan tidak dijauhi teman-temannya. Karena kaum muslimin masih memiliki tingkat resistensi yang tinggi pada mereka yang beraliran sesat, sehingga orang yang beraliran sesat bisa dijauhi dan dimusuhi. Jika saja penganut syiah menampakkan keyakinan aslinya pasti dia dimusuhi dan dijauhi. Kondisi demikian kurang menguntungkan karena gerak penganut syiah untuk menyebarkan ajarannya menjadi sempit karena dia ditolak di mana-mana.
Praktek menyembunyikan keyakinan agar tidak dibenci orang ini mirip dengan yang disebutkan dalam surat An Nisa' 41:
Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman.
Juga dalam surat A Fath ayat 11:
mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.

Juga dalam surat Ali Imran ayat 167:

Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya.

Repotnya, kita tidak memiliki indikator yang membuat kita tahu apakah penganut syiah yang sedang berbicara dengan kita sedang bertaqiyah atau tidak. Kita mengusulkan pada mereka yang berkompeten untuk menciptakan penemuan baru berupa indikator taqiyah, yang mungkin berupa lampu yang menyala bila seorang syiah sedang bertaqiyah. Jika tidak bisa lampu maka apa saja, seperti kerlingan mata atau tanda di kepala atau apa saja, yang penting orang lain di sekitarnya bisa tahu apakah dia sedang bertaqiyah atau tidak. Penemuan ini begitu mendesak supaya kaum muslimin tidak tertaqiyahi –baca: Tertipu- oleh penganut syiah yang menyembunyikan keyakinannya ketika tidak dalam keadaan bahaya. Lalu apakah para imam juga bertaqiyah? Sudah semestinya demikian, karena bagaimana sang imam menyuruh orang untuk bertaqiyah tapi diri mereka sendiri tidak bertaqiyah.

Di sini terdetik pertanyaan besar, yaitu bagaimana kita tahu para imam sedang bertaqiyah atau tidak? Jika kita membaca sebuah riwayat dari salah seorang imam, maka kita tidak tahu apakah sang imam mengucapkan sabdanya dalam keadaan taqiyah atau tidak hal ini penting untuk diketahui karena seperti di atas, taqiyah adalah menyembunyikan keyakinan sebenarnya dalam hati dan mengucapkan hal yang berbeda dengan apa yang diyakininya dalam hati. Maka penganut syiah tidak tahu apakah riwayat yang ada adalah benar-benar ajaran imam yang sebenarnya atau hanya taqiyah? Ini adalah masalah yang harus diselesaikan oleh syiah. Jika ada syiah yang berani menyanggah dengan mengatakan bahwa penerapan taqiyah dimulai dari era ghaibah –hilangnya imam- sughra maupun kubra, maka dengan mudah kita jawab: Jika memang demikian maka perintah taqiyah akan muncul tepat sebelum masa ghaibah, yaitu pada era imam Hasan Al Askari, bukannya muncul dari Imam Ja'far As Shadiq yang hidup jauh sebelum era ghaibah. Maka tidak ada yang menjamin bahwa sabda imam adalah benar-benar ajaran Allah, karena imam juga melakukan taqiyah. Di sini syiah terjebak dalam taqiyah, di mana dia tidak bisa membedakan ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang disampaikan saat bertaqiyah, yang sudah tentu berbeda dengan ajaran imam yang sebenarnya. Dari mana kita mengetahui ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang bertaqiyah? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti. Jadi ajaran syiah tidak diketahui mana yang benar-benar ajaran syiah 'yang dari Allah' dan mana yang taqiyah. Mestinya penganut syiah hari ini berhati-hati, jangan-jangan ajaran yang mereka anut saat ini bukanlah ajaran syiah sebenarnya, tetapi adalah ajaran dari para imam yang sedang bertaqiyah?!

Mari kita simak ucapan Al Bahrani dalam kitab Al Hadaiq An Nadhirah jilid 1 hal 89:

Banyak riwayat-riwayat syiah yang diucapkan ketika sedang bertaqiyah yang tidak sesuai dengan hukum sebenarnya.

Ini pengakuan yang berbahaya, yaitu banyak riwayat syiah yang memuat keterangan kebalikan dari keterangan sebenarnya. Pengakuan ini juga masih bisa kita ragukan, yaitu dari mana diketahui bahwa imam sedang bertaqiyah? Juga ini adalah riwayat yang diketahui bahwa imam mengucapkannya dalam keadaan bertaqiyah, lalu bagaimana dengan riwayat lain? Lagipula bagaimana imam bisa ketahuan sedang bertaqiyah? Apakah taqiyah imam bisa diketahui?
Dan banyak lagi pertanyaan yang susah didapat jawabannya. 

Semoga bermanfaat untuk kita semua Agar dapat menguatkan Ajaran kita yakni Ahli Sunnah Waljamaah Yang kita Yakini khatta dapat merobek hujah-hujah para pendakwah Syi'ah yang sesat lagi menyesatkan.

Sunni-Syiah, Minyak-Air

Sunni-Syiah, Minyak-Air


بسم الله الرحمن الر حيم


إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI


POLEMIK Sunni-Syiah adalah problem masa lalu yang tetap aktual hingga akhir zaman, keduanya tidak akan mungkin bersatu sebagaimana minyak dan air. Bersatunya Syiah atau Sunni dengan para pengkut agama lain jauh lebih mudah dibanding menyatukan kedua aliran yang memiliki Tuhan dan Nabi yang sama ini. Di Iran, terutama di Taheran dengan mudah kita temui tempat-tempat ibadat agama lain selain Islam, seperti gereja milik umat Kristen dan Sinagoge sebagai tempat beribadah orang Yahudi, namun tak satu pun masjid milik pengikut Sunni yang bisa diguna pakai melakukan salat Jumat, sebagaimana di Mesir dan Malaysia yang tidak membolehkan kepada para penganut Syiah mendirikan masjid sendiri.

Di Indonesia juga demikian, jauh-jauh hari, demi menghindari adanya konflik antara kedua aliran di atas, maka Departeman Agama Republik Indonesia sebagai lembaga keagamaan resmi negara sudah mengeluarkan edaran terkait kesesata Syiah yang jika dibiarkan tumbuh dan berkembang di negara ini akan melahirkan konflik.

Di antara ajaran-ajaran Syiah yang dianggap menyimpang oleh Depag adalah:

a) Menganggap Abu Bakar dan Umar telah merampas jabatan Khalifah dari pemiliknya yang sah yaitu Ali bin Abi Thalib ra. Oleh karena itu mereka memaki dan melaknat kedua beliau tersebut.

b) Mereka memberikan kedudukan kepada Ali ra sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan.

c) Bahkan ada yang berpendapat bahwa Ali ra dan imam-imam yang lain memiliki sifat-sifat ketuhanan.

d) Mereka percaya bahwa imam itu ma’shum alias terjaga dari segala kesalahan besar atau kecil.

e) Mereka tidak mengakui adanya ijma’ kecuali apabila ijma’ itu direstui oleh imam.

f) Mereka menghalalkan nikah mut’ah yaitu nikah yang sementara waktu, misalnya satu hari, satu minggu, atau satu bulan, dan

g) Mereka berkeyakinan bahwa imam-imam yang sudah meninggal akan kembali ke dunia pada akhir zaman untuk memberantas segala perbuatan kejahatan dan menghukum lawan-lawan golongan Syiah. Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. (Edaran Depag No: D/BA.01/4865/1983).

MUI juga tak mau ketinggalan mengeluarkan rekomendasi terkait Syiah sebagai berikut. “ Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syiah dan Ahlussunnah, terutama mengenai perbedaan tentang ‘Imamah’ (pemerintahan), Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berpaham Ahlussunnah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syiah.” (Kumpulan Fatwa MUI, Jakarta 7 Maret 1984, hal.48-49).

Setelah peristiwa Sampang (jilid I) akhir tahun 2011, PP Muhammadiyah, lewat sidang plenonya menyatakan sikap terhadap kelompok Syiah, yaitu:

a) Muhammadiyah meyakini hanya Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wasallam yang ma’shum. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep kesucian imam-imam (‘Ismatul aimmah) dalam ajaran Syiah;

b) Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wasallam tidak menunjuk siapapun pengganti beliau sebagai khalifah. Jadi kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radiallhu ‘anhum adalah sah, oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep rafidah-nya Syiah;

c) Muhammadiyah menghormati Ali bin Abi Thalib sebagaimana sahabat-sahabat yang lain, tetapi Muhammadiyah menolak kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya;

d) Syiah hanya menerima hadits dari jalur ahlul bait, ini berakibat ribuan hadis shahih –walaupun riwayat Bukhari dan Muslim- ditolak oleh Syiah. Dengan demikian banyak sekali perbedaan antara Syiah dan Ahlussunnah, baik masalah akidah, ibadah, munakahat, dan lainnya. Oleh karena itu umat Islam pada umumnya dan warga Muhammadiyah pada khususnya agar mewaspadai ajaran Syiah tersebut.

Di samping itu realitas, fakta, dan kenyataan menunjukkan kepada kita bahwa di mana suatu negara yang terdapat kelompok Syiah, hampir dapat dipastikan akan terjadi konflik horizontal. Hal tersebut harus menjadi perhatian kita semua jika kita ingin NKRI tetap utuh dan ukhuwah Islamiyah tetap terjaga. (Majalah Tablig Edisi.IX/Jumadal Akhir 1433 H).

Satu-satunya jalan untuk melerai polemik Suni-Syiah dalam pandangan ulama kontemporer masa kini, M. Qurasih Shihab sebagaimana yang tertuang dalam bukunya “Sunni-Syiah Bergandengan Tangan Mungkinkah?” adalah melaksanakan Keputusan Muktamar Doha tentang dialog antara mazhab-mazhab Islam pada tgl. 20-22 Januari 2007 yang antara lain pada butir ke-7 tertulis: “Mengajak para pemimpin dan tokoh rujukan agama dari kalangan Sunnah dan Syiah agar tidak mengizinkan adanya penyebaran tasyayyu’ (paham-paham syiah) di negeri-negeri (penganut aliran) Sunnah, tidak juga penyebaran tasannun (paham-paham khas Sunnah) di negeri-negeri (penganut aliran) Syiah, demi menghindari kekacauan dan perpecahan antara putra-putri umat yang satu (umat Islam).

Kita tidak bisa pungkiri jika Syiah di Indonesia telah berkembang pesat pada satu dasawarsa terakhir ini, dan merupakan hal yang naif jika melakukan kekerasan terhadap mereka dengan dalih bahwa mereka bertentangan dengan Sunni sebagai anutan mayoritas umat Islam Indonesia. Yang kita harus lakukan bersama-sama adalah mencegah penyebaran paham Syiah yang telah ditetapkan oleh Depag dan MUI sebagai aliran sesat dan harus diwaspadai dengan cara yang bijak (bil hikmah).

 Semoga bermanfaat untuk kita semua Agar dapat menguatkan Ajaran kita yakni Ahli Sunnah Waljamaah Yang kita Yakini khatta dapat merobek hujah-hujah para pendakwah Syi'ah yang sesat lagi menyesatkan.

  Wallahu A’lam

DOKTRIN SESAT AJARAN SYIAH

 بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

DOKTRIN SESAT AJARAN SYIAH

 (DOKTRIN adalah suatu bentuk tindakan mengharuskan/memaksakan bahwa suatu kasus harus diyakini dan dibenarkan seperti apa yang disampaikan.DOKTRIN juga dapat diartikan sumber hukum yang berasal dari para ahli hukum..)

 


Terdapat 17 doktrin atau ajaran Syi’ah yang tersembunyi dari kaum muslimin terutama dari golongan ahli sunni  (Ahli Sunnah Wal Jammah) sebagai bahagian dari pengamalan doktrin taqiyah(menyembunyikan Syi’ahnya). Ketujuh belas doktrin rahsia ini terdapat dalam kitab-kitab suci Syi’ah seperti kitab Usuhulu Kaafi dan Rijalul Kashi. Ajaran ini juga bertangung-jawab dalam mengubah keaslian dan kesucian Qalamuallah Al Quran ul karim. Berikut adalah antara doktrin-doktrin yang sesat lagi menyesatkan :
  1. Dunia dengan seluruh isinya adalah milik para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki(Ushulul Kaafi, hal.259, Al-Kulaini, cet. India).Jelas Doktrin semacam ini bertentangan dengan firman Allah SWT QS: Al-A’raf 7: 128,“Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, Dia dikaruniakan kepada siapa yang Dia kehendaki”. Kepercayaan Syi’ah diatas menunjukkan penyetaraan kekuasaan para imam Syi’ah dengan Allah dan doktrin ini merupakan aqidah syirik.
  2. Ali bin Abi Thalib yang diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang dhahir dan yang bathin sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hadid, 57: 3 (Rijalul Kashi hal. 138).Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi’ah yang berdusta atas nama Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan doktrin semacam ini Syi’ah menempatkan Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah pasti merupakan tipu daya Syi’ah terhadap kaum muslimin dan kesucian aqidahnya.
  3. Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah (Ushulul Kaafi, hal. 83).
  4. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang ghaib (Ushulul Kaafi, hal. 84).
  5. Keinginan para imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga (Ushulul Kaafi, hal. 278).
  6. Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu maka ia tidak berhak menjadi imam (Ushulul Kaafi, hal. 158).
  7. Para imam Syi’ah mengetahui apapun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal ghaib sebagaimana yang Allah ketahui (Ushulul Kaafi, hal. 193).
  8. Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40).Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi’ah Allah bersifatbada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232).
  9. Para imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para imam Syi’ah bersifat Ma’sum (Bersih dari kesalahan dan tidak pernah lupa apalagi berbuat Dosa). Allah menyuruh manusia untuk mentaati imam Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya dan mereka menjadi hujjah (Argumentasi Kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushulul Kaafi, hal. 165).
  10. Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Saw (Ibid).
  11. Yang dimaksud para imam Syi’ah adalah Ali bin Abi Thalib, Husein bin Ali, Ali bin Husein, Hassan bin Ali dan Muhammad bin Ali (Ushulul Kaafi, hal. 109)
  12. Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab, hal. 180).
  13. Menurut Syi’ah, Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat (Ushulul Kaafi, hal. 671).
  14. Menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan imam-imam Syi’ah (Haqqul Yaqin, hal. 519 oleh Muhammad Baqir Al-Majlisi).
  15. Menghalalkan nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Saw. (Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).
  16. Menghalalkan saling tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama temannya. Kata mereka, imam Ja’far berkata kepada temannya: “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku.” (Al-Istibshar III, hal. 136, oleh Abu Ja’far Muhammad Hasan At-Thusi).
  17. Rasulullah dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi sebelum hari kiamat akan datang dan dia membongkar kuburan Abu Bakar dan Umar yang ada didekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan maka kedua orang ini akan disalib (Haqqul Yaqin, hal. 360, oleh Mullah Muhammad Baqir al-Majlisi).
Kesemua 17 doktrin Syi’ah di atas, apakah boleh dianggap sebagai aqidah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah Saw. dan dipegang teguh oleh para Sahabat serta kaum Muslimin yang hidup sejak zaman Tabi’in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa Syi’ah itu bagian dari umat Islam? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, barangsiapa yang tidak MENGKAFIRKAN aqidah Syi’ah ini, maka dia termasuk Kafir.
Semua kitab tersebut diatas adalah kitab-kitab induk atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab hadits Imam Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasa’i, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, upaya-upaya Syi’ah untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah adalah bagian dari kaum Muslimin, hanya berbeza dalam beberapa hal yang tidak prinsip, adalah dusta dan harus ditolak sepenuhnya !!!.

 Semoga bermanfaat untuk kita semua Agar dapat menguatkan Ajaran kita yakni Ahli Sunnah Waljamaah Yang kita Yakini khatta dapat merobek hujah-hujah para pendakwah Syi'ah yang sesat lagi menyesatkan.

Hukum Bermakmum dengan Imam Shalat Syiah

Bermakmum dengan Imam Shalat Syiah

 

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
Pertanyaan:
Apa hukumnya shalat di belakang imam yang bermadzhab syi’ah, Sedangkan dalam kesehariannya orang tersebut tidak shalat di masjid juga tidak Shalat Jum’at. Saya juga mendengar ia mencaci maki dan memusuhi para sahabat Rasulullah SAW, apakah saya termasuk dalam golongan yang dikatakan oleh Rasulullah SAW: “Tidak masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi.” Bagaimana hukumnya apabila saya memutuskan hubungan dengannya?
ما حكم الصلاة خلف إمام شيعي، يترك الصلاة في المساجد وصلاة الجمعة أيضا وسمعته يسب ويعادي كبار الصحابة ، وهل ادخل ضمن من قال الحبيب المصطفي صلوات الله عليه ( لا يدخل الجنة قاطع رحم ) إذا قاطعته ؟
Jawaban:
Meninggalkan Shalat Jum’at bagi yang memenuhi kriteria wajib jum’at, yaitu: muslim, baligh, berakal, mampu hadir ke tempat dilaksanakannya Shalat Jum’at, mukim, bukan musafir dan laki-laki, adalah termasuk dosa paling besar dari sekian banyak dosa besar. Telah disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:
 من ترك ثلاث جمع متوالية تهاوناً بها طبع الله على قلبه بطابع النفاق
“Barangsiapa yang meninggalkan tiga kali Shalat Jum ‘at berturut-turut karena meremehkannya (tanpa udzur) niscaya Allah mencap hatinya dengan sifat munafik “
Melakukan hal tersebut termasuk kefasikan, na’uzubillah, begitu juga mencaci-maki para sahabat, mereka adalah generasi yang terbaik. Sementara telah disebutkan dalam hadis shahih bahwa mencaci-maki seorang muslim adalah suatu kefasikan, muslim manapun mencaci-makinya menjadi fasik. Bagaimana mencaci-maki muslimin terbaik? Apalagi mencaci-maki para pembesar dari golongan generasi pertama (para sahabat Rasulullah) yang telah di istimewakan oleh Allah menjadi generasi awal, berhijrah bersama Rasulullah SAW dan membela beliau. Allah telah berfirman:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” (Surat At-Taubah ayat: 100).
Allah memerintahkan kita untuk mengikuti mereka dan Allah menjanjikan kepada orang yang mengikuti mereka dengan baik akan bersama mereka dan mendapatkan keridhaan serta masuk ke dalam surgaNya, Maka wajib bagi kita mencegah orang Adapun dari segi memutuskan hubungan, manakala ada manfaatnya atau meggugah kesadarannya, maka boleh saja memutuskannya, dengan catatan bukan karena faktor hawa nafsu atau urusan dunia tetapi marah karena Allah. Namun, jika ada harapan untuk menyelamatkannya dari jurang itu dengan cara menjalin hubungan persaudaraan dengannya, maka itulah yang harus dilakukan dan itu lebih bagus. Anda harus melihat perkara tersebut dari segala sisi dan mintalah petunjuk serta bersungguh-sungguhlah kepada Allah dalam masalah itu.
Jika pelaku perbuatan haram termasuk orang yang tidak mengingkari yang “Ma’lum minaddiin bidzdzarurah” (perkara agama yang umum diketahui) maka dibolehkan menjadi makmumnya, tapi mencari seorang imam yang lebih mendekati keshalehan dan sifat istiqamah lebih utama dan lebih bagus. Disebutkan dalam hadis: “Shalatlah kalian di belakang orang yang baik dan yang tidak baik.” Hanya saja shalat di belakang orang yang lebih bertaqwa dan lebih shaleh, lebih afdhal dan lebih bagus. Sebagaimana makna yang terkandung dalam hadits:“Imam adalah seorang penjamin”, tidaklah seorang menjadi penjamin melainkan ia memiliki kekuatan, kedudukan dan pangkat.
Mudah-mudahan Allah memberikan taufik kepada Anda untuk selalu istiqamah di jalan lurus yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, ahli bait dan orang-orang terbaik dari umatnya dari abad ke abad dan generasi ke generasi. Semoga Allah menjauhkan Anda dari segala musibah seperti membuat bid’ah dalam agama dan lancang terhadap para pembesar dari kalangan mukminin dan generasi terbaik dari hamba-hamba Allah.
Semoga Allah teguhkan kaki Anda di jalan yang baik untuk menyelamatkan orang yang teijerumus di jurang kelalaian dan tipuan yang di propagandakan oleh berbagai macam kelompok yang mengajak untuk mencaci, mencela, berpecah belah, berseteru, menggunjing dan mengadu domba serta melakukan kerusakan-kerusakan lainnya.
ترك صلاة الجمعة ممن وجبت عليه وهو المسلم البالغ العاقل الذي يقدر على الحضور إلى الجمعة المقيم غير المسافر الذكر، فمن اجتمعت فيه هذه الشروط فتركه للجمعة من أكبر الكبائر، وقد جاء عنه صلى الله عليه وسلم ( من ترك ثلاث جمع متوالية تهاوناً بها طبع الله على قلبه بطابع النفاق )، فقصد ذلك من الفسوق والعياذ بالله تبارك وتعالى، وكذلك سب أصحاب المصطفى عليه الصلاة والسلام فهم خيار الأمة، كيف وقد صح في الحديث عن نبينا أن سباب المسلم فسوق، فأي مسلم يكون سبابه فسوقاً، فكيف بخيار المسلمين؟ فكيف بقمتهم من الرعيل الأول الذين اختصهم الله بالسبق والهجرة مع رسول الله والنصرة له؟ قال تعالى: ( والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان )، فأمرنا تعالى أن نتبعهم ووعد من اتبعهم بإحسان أن يكون معهم حائزاً للرضى ودخول الجنة ( والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار )، فيجب زجر فاعل ذلك المتأخر عن صلاة الجمعة والساب للصحابة ولغيرهم من المسلمين بكل ما أمكن زجره به، وإنكار ذلك عليه وعدم الإصغاء إليه، والفكر في تخليصه من ذلك السوء الذي أصابه.
وأما من جهة المقاطعة، فإن كانت تثمر أو تفيد بشيء من المنافع فلا شيء فيها مهما لم تكن لهوى نفس ولا لشيء من شؤون الدنيا؛ ولكن غضباً لله تبارك وتعالى.
ولكن إن كان يمكن التوصل إلى إنقاذ ذلك الشخص القريب من تلك الهوة بشيء من التواصل بأي وجه فهو المتعين وهو الأولى، فينبغي أن تراعى الأمور من جوانبها وأن يعامَل الحق تبارك وتعالى في تلك القضايا.
ثم إن فاعل المحرمات ممن لم ينكر معلوماً من الدين بالضرورة تجوز الصلاة خلفه، إلا أن طلب الإمام الأقرب إلى الصلاح والاستقامة أفضل وأولى بالإنسان، فقد جاء: ( صلوا خلف كل بر وفاجر )، وإنما الصلاة خلف الأتقى والأقرب إلى الصلاح أولى وأفضل، كما يفيده حديث: ( الإمام ضامن )، وإنما يكون الضامن ذا مكانة ورتبة ومنزلة.
وفقك الله للاستقامة على المنهج السوي الموروث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحابته وأهل بيته وخيار أمته قرناً بعد قرن وجيلاً بعد جيل، وجنبك مصائب الابتداع في الدين والتجري على أكابر المؤمنين وخلاصة عباد الله الصالحين، وثبت قدمك على حسن الإنقاذ لمن وقع في ورطات الغفلات والبعد والاغترارات لما يروج من قبل مختلف الفئات الداعية إلى السباب والشتائم والتفرق والنزاع والغيبة والنميمة وغير ذلك من أوجه الفساد، وبالله التوفيق
Hukum Bermakmum dengan Imam Syi’ah dalam Sholat

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sholat dibelakang seorang pelaku bid’ah masih menjadi masalah yang diperselisihkan dan perlu perincian. Apabila anda tidak mendapatkan seorang imam pun selainnya seperti pada sholat jum’at yang tidak bisa dilaksanakan kecuali di satu tempat atau seperti sholat di kedua hari raya.. hal itu bisa dilakukan dibelakang imam yang berprilaku baik dan buruk sebagaimana kesepakatan para ulama Ahluss Sunnah Wal Jama’ah.
Sholat-sholat tersebut tidak boleh dilakukan dibelakang ahli bid’ah seperti Rafidhah dan yang lainnya dari golongan orang-orang yang tidak melihat adanya sholat jum’at dan jama’ah apabila tidak ada di kampung itu kecuali satu masjid. Sholatnya dibelakang imam yang buruk lebih baik daripada sholat di rumahnya sendirian karena hal ini akan menjadikannya meninggalkan berjama’ah secara mutlak.
Adapun apabila memungkinkan baginya untuk sholat dibelakang imam yang bukan pelaku bid’ah maka hal itu lebih baik dan lebih utama tanpa suatu keraguan, akan tetapi jika dia sholat dibelakangnya maka terdapat perselisihan terhadap sholat yang dilakukannya. Madzhab Syafi’i dan Abu Hanifah mengatakan sah sholatnya. Adapun Malik dan Ahmad didalam madzhab mereka berdua terdapat perselisihan.
Dan hukum ini adalah pada bid’ah menyalahi Al Qura’an dan Sunnah seperti bid’ah Rafidhah, Jahmiyah dan yang lainnya. (Majmu’ Fatawa juz XXIII hal 355)
DR. Wahbah mengatakan bahwa seorang pelaku bid’ah adalah orang yang meyakini sesuatu yang bertentangan dengan hal-hal yang ma’ruf dari Rasulullah saw dan mendurhakainya akan tetapi semacam syubhat seperti basuhan seorang syi’ah terhadap kedua kakinya (saat berwudhu) dan pengingkaran mereka terhadap pengusapan terompah dan lain-lain.
Yang perlu diperhatikan bahwa setiap yang termasuk dalam ahli kiblat kita (kiblatnya sama dengan kiblat kita) maka tidaklah dikafirkan hanya karena perbuatan bid’ah yang jelas-jelas syubhatnya bahkan terhadap kaum khawarij yang menghalalkan darah dan harta kita serta mencerca Rasulullah saw, mengingkari sifat Allah swt dan membolehkan melihat-Nya dikarenakan ta’wil dan syubhatnya. Dalilnya adalah diterimanya kesaksian mereka.
Namun apabila seorang pembuat bid’ah mengingkari bagian-bagian agama yang prinsip (aksioma) maka ia telah kufur, seperti orang yang mengatakan bahwa Allah memiliki tubuh seperti halnya tubuh-tubuh yang lain, mengingkari sahabat Rasulullah saw yang di dalamnya terdapat kebohongan terhadap firman Allah swt
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ
Artinya : “Dia (Rasulullah saw) berkata kepada temannya (sahabat).” (QS. At Taubah : 40) maka tidak sah sholat dibelakangnya. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz II hal 1206)
Apabila seorang sunni meyakini bahwa sifat sholat imam syi’ah tidaklah berbeda dengan sifat sholatnya baik zhuhur, ashar, maghrib maupun yang lainnya, mengerjakan sholatnya dalam keadaan suci serta tidak ada kemaksiatan didalamnya maka boleh baginya bermakmum dengannya karena mereka adalah bagian dari kaum muslimin.
Sebaliknya dengan yang anda dapati saat sholat jumat berjama’ah dengan mereka, yaitu terdapat beberapa perbedaan didalam berwudhu untuk sholatnya maupun didalam sholatnya sendiri meskipun sebagian yang anda sebutkan tidaklah masuk dalam perkara yang diwajibkan oleh para ulama sunni, seperti bersedekap ataupun menengok ke kanan maupun kekiri saat salam.
Namun ada baiknya, selain perbedaan diatas anda juga mencoba untuk mengetahui tentang keyakinan mereka terhadap prinsip-prinsip islam, seperti keyakinannya terhadap sahabat Ali bin Abi Thalib, para sahabat Rasul saw maupun prinsip-prinsip lainnya.
Apabila ternyata anda mendapati adanya penyimpangan dalam diri imam tersebut maka anda tidak boleh sholat di belakangnya, termasuk sholat jum’at. Untuk selanjutnya anda berusaha mencari masjid lain menyelenggarakan sholat jum’at bagi orang-orang sunni atau yang sholatnya tidak berbeda dengan sholat orang-orang sunni.
Namun apabila masjid yang demikian juga tidak didapat, terlalu jauh jaraknya dari tempat tinggal anda atau sulit dijangkau maka dibolehkan bagi anda untuk melakukan sholat jum’at di rumah walaupun hanya dengan 5 orang, sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan Muhammad bahwa sholat jum’at bisa dilakukan minimal oleh tiga orang selain imam, walaupun mereka orang yang musafir atau orang sakit.

فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ
Artinya : “Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al Jumu’ah : 9)
Akan tetapi jika anda meyakini bahwa tidak ada penyimpangan keyakinan didalam diri imam tersebut terhadap prinsip-prinsip islam atau anda tidak mengetahuinya dan anda juga melihat bahwa hal-hal yang tidak dilakukan oleh imam itu didalam sholatnya adalah bukan termasuk didalam rukun-rukun sholat maka anda dibolehkan bermakmum dengannya didalam setiap sholat termasuk sholat jum’at karena pada asalnya ia tetap termasuk dalam kelompok umat islam.
Kemudian gerakan-gerakan sholat anda tetaplah seperti yang anda yakini dalam sunnah-sunnah sholat meskipun ada beberapa hal yang berbeda dengan yang dilakukan imam tersebut.

 Semoga bermanfaat untuk kita semua Agar dapat menguatkan Ajaran kita yakni Ahli Sunnah Waljamaah Yang kita Yakini khatta dapat merobek hujah-hujah para pendakwah Syi'ah yang sesat lagi menyesatkan.

Wallahu A’lam

Khamis, 22 Ogos 2013

Hakikat Sabar dan maknanya.

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

PENJELASAN : Hakikat Sabar dan maknanya.

Ketahuilah kiranya bahwa sabar itu merupakan suatu maqam (Tingkat) dari beberapa tingkatan agama. Dan suatu kedudukan dari beberapa kedudukan orang yang berjalan menuju kepada Allah Ta’ala (saalikiin).
Semua maqam-maqam agama itu hanya dapat tersusun dari tiga hal : ma’irfah, haal, dan amal perbuatan. Ma’rifah adalah pokok. Dialah yang mewariskan haal ihwal. Dan haal itu yang membuahkan amal perbuatan.
Ma’rifah itu seperti pohon kayu. Hal ihwal itu seperti ranting dan amal perbuatan itu seperti buah. Dan ini terdapat pada semua maqam orang-orang yang berjalan menuju Allah Ta’ala.
Dan nama iman, sesekali dikhususkan dengan ma’rifah sesekali disebutkan secara mutlak kepada semuanya sebagaimana telah kami sebutkan pada perbedaan nama iman dan islam pada kitab “Kaidah-kaidah ‘aqaid”. Seperti ini pula sabar, tiada akan sempurna sabar itu selain dengan ma’rifah yang mendahuluinya dan dengan hal-ihwal yang tegak berdiri.
Maka sabar pada hakikatnya adalah ibarat dari ma’rifah itu sendiri. Dan amal perbuatan adalah seperti buah yang keluar dari ma’rifah. Dan ini tidak dapat diketahui selain dengan mengetahui cara tertibnya antara malaikat, insan dan hewan. Maka sabar itu adalah ciri khas pada insan. Dan tidak tergambar adanya sabar itu pada hewan dan malaikat karena totalitasmya.
Penjelasannya adalah bahwa hewan-hewan itu dikuasai nafsu syahwat. Dan ia diciptakan untuk nafsu syahwat tersebut. Maka tidak ada pembangkit bagi hewan tersebut kepada gerak dan diam selain nafsu dan syahwat. Dan tiada pula pada hewan itu suatu kekuatan yang berbenturan dengan nafsu syahwat dan yang menolaknya dari yang dikehendaki nafsu syahwat. Sehingga dinamakan ketetapan kekuatan pada menghadapi nafsu syahwat dengan istilah sabar.
Adapun para malaikat AS, maka mereka itu di juruskan pada merindui hadlirat ketuhanan. Dan merasa cemerlang dengan tingkat kedekatan kepada hadlirat ketuhanan itu. Dan mereka tiada dikuasai nafsu syahwat yang membelokkan dan yang mencegah dari hadlirat ketuhanan sehingga memerlukan pada pembenturan yang memalingkannya dari hadlirat Yang Maha Agung dengan tentara lain yang akan mengalahkan dan membelokkan.
Adapun insan maka sesungguhnya ia diciptakan pada permulaan masa kecilnya dalam keadaan kekurangan seperti halnya hewan. Tidak dijadikan padanya selain keinginan makan yang diperlukannya. Kemudian lahirlah keinginan bermain dan berhias padanya. Kemudian nafsu keinginan kawin, diatas tartib yang demikian. Dan tidak ada sama sekali pada insan itu kekuatan sabar karena sabar itu adalah ibarat dari ketetapan tentara untuk menghadapi tentara lain sehingga terjadilah peperangan diantara keduanya, untuk melawani kehendak dan tuntutan keduanya. Dan pada anak kecil itu tidak ada sesuatupun kecuali tentara hawa nafsu seperti yang ada pada hewan. Akan tetapi Allah Ta’ala dengan karunia-Nya dan keluasan kemurahan-Nya memuliakan anak Adam dan meninggikan derajat mereka dari derajat hewan-hewan. Maka Allah Ta’ala mewakilkan kepada manusia itu ketika sempurna dirinya mendekati kedewasaan dengan dua malaikat. Yaitu satu memberinya petunjuk dan yang satu lagi menguatkanya. Maka berbedalah manusia itu dengan pertolongan dua malaikat tadi daripada hewan-hewan.
Dan insan itu khusus ditentukan dengan dua sifat “
Pertama – mengenal Allah Ta’ala dan mengenal Rasul-Nya. Kedua, mengenal kepentingan-kepentingan yang menyangkut dengan akibat (bagi masa yang akan datang). Semua dari yang demikian itu berhasil dari malaikat yang diserahkan kepadanya petunjuk dan pengenalan.
Maka hewan tidaklah memiliki ma’rifah, dan tiada petunjuk kepada kepentingan akibat-akibat, akan tetapi hanya kepada yang dikehendaki nafsu keinginannya yang sesaat saja. Oleh karena itu hewan tidak mencari selain yang dirasa enak. Adapun terhadap obat yang bermanfaat, serta adanya obat itu mendatangkan melarat seketika, maka hal itu tidak dicarinya dan tidak dikenalnya.
Maka jadilah insan itu dengan sinar hidayah dapat mengetahui bahwa mengikuti nafsu syahwat itu memiliki hal-hal yang ghaib (yang belum kelihatan sekarang), yang tidak disukai akan akibatnya. Akan tetapi petunjuk ini belumlah memadai, selama tidak ada baginya kemampuan untuk meninggalkan sesuatu yang mendatangkan melarat. Berapa banyak yang mendatangkan melarat bagi manusia – seperti penyakit yang bersarang pada dirinya umpamanya, akan tetapi tiada kemampuan baginya untuk menolak. Lalu ia memerlukan pada kemampuan dan kekuatan yang dapat menolaknya yaitu kepada menyembelih nafsu syahwat itu. Lalu ia melawan nafsu syahwat itu dengan kekuatan tersebut sehingga diputuskannya permusuhan nafsu syahwat tadi darinya. Maka Allah Ta’ala mewakilkan seorang malaikat lain padanya yang membetulkannya, meneguhkan dan menguatkannya dengan tentara yang tiada engkau dapat melihatnya. Ia memerintahkan tentara ini untuk memerangi tentara nafsu syahwat. Maka sesekali tentara ini yang lemah dan sesekali ia yang kuat. Yang demikian itu menurut pertolongan Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya dengan penguatan. Sebagaimana nur/petunjuk juga berbeda pada makhluk dengan perbedaan yang tiada terhingga.
Maka kami menamakan sifat tersebut – yang membedakan manusia dan hewan, pada pencegahan nafsu syahwat dan pemaksaannya dengan nama penggerak keagamaan. Dan hendaklah kami namakan penuntutan nafsu syahwat dan semua yang dikehendaki nafsu syahwat itu dengan nama penggerak hawa nafsu.
Hendaklah dipahami bahwa peperangan itu terjadi antara penggerak agama dan penggerak hawa nafsu. Dan peperangan diantara keduanya itu berlangsung terus menerus. Adapun medan peperangan ini adalah hati hamba. Sumber bantuan kepada penggerak agama datangnya dari para malaikat yang menolong barisan tentara Allah Ta’ala. Dan sumber bantuan kepada penggerak hawa nafsu itu datangnya dari setan-setan yang membantu musuh-musuh Allah Ta’ala.
Maka sabar itu adalah ibarat dari tetapnya penggerak agama untuk menghadapi penggerak nafsu syahwat . kalau penggerak agama itu dapat tetap sehingga dapat memaksa penggerak nafsu syahwat dan terus menerus menantangnya, maka penggerak agama itu telah menolong tentara Allah Ta’ala dan berhubungan dengan orang-orang yang sabar. Dan kalau ia tinggalkan dan lemah sehingga ia dapat dikalahkan oleh nafsu syahwat dan ia tidak sabar pada menolaknya, niscaya ia berhubungan dengan mengikuti setan-setan.
Jadi meninggalkan perbuatan-perbuatan yang penuh nafsu syahwat itu adalah amal perbuatan yang dihasilkan oleh suatu hal yang dinamakan s a b a r, yaitu tetapnya penggerak agama yang berhadapan dengan penggerak nafsu syahwat. Tetapnya penggerak agama itu adalah suatu hal yang dihasilkan oleh ma’rifah dengan memusuhi nafsu syahwat dan melawankannya, karena itulah sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Apabila telah kuat keyakinannya yakni ma’rifah, yang dinamakan iman yaitu keyakinan bahwa adanya nafsu syahwat itu musuh yang memutus jalan kepada Allah Ta’ala maka akan kuatlah tetapnya penggerak agama. Dan apabila telah kuat tetapnya penggerak agama itu, maka sempurnalah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan yang dikehendaki oleh nafsu syahwat. Kuatnya ma’rifah dan iman akan mengkejikan apa yang ghaib dari nafsu syahwat dan buruk akibatnya.
Dua malaikat tersebut adalah yang menanggung dua tentara tadi dengan izin Allah Ta’ala. Dan dijadikannya kedua malaikat tersebut untuk yang demikian. Malaikat tersebut adalah dari malaikat-malaikat yang menulis amal perbuatan manusia. Keduanya adalah malaikat yang ditugaskan kepada tiap-tiap orang dari anak Adam.
Apabila anda telah mengetahui bahwa pangkat malaikat penunjuk itu lebih tinggi dari malaikat yang menguatkan niscaya tidak tersembunyi lagi bagi anda bahwa yang disamping kanan adalah yang termulia bagi dua sisi dari dua pihak, yang seyogyanya diserahkan kepadanya. Jadi dialah yang empunya kanan (shahibul yamin) sedangkan yang lain adalah yang empunya kiri (shahibus syimal).
Hamba itu memiliki dua hal : kelalaian dan berpikir, melepaskan dan bermujahadah. Dengan kelalaian maka hamba itu akan berpaling dari shahibul yamin dan berbuat jahat kepadanya. Lalu berpalingnya itu dituliskan sebagai kejahatan. Dengan berpikir, hamba itu akan menghadap kepada shahibul yamiin untuk mengambil faedah dan petunjuk padanya. Maka dengan demikian hamba itu berbuat baik terhadap shahibul yamiin. Oleh karena itu penghadapannya kepada shahibul yamiin tersebut akan dituliskan baginya sebagai kebaikan.
Demikian pula dengan melepaskan maka dia itu berpaling dari shahibul yasar, meninggalkan meminta bantuan kepadanya, maka dengan demikian ia berbuat jahat kepadanya, lalu ditetapkan hal tersebut sebagai kejahatan atasnya. Dan dengan mujahadah ia meminta bantuan dari tentaranya. Lalu ditetapkan hal tersebut sebagai kebaikan baginya.
Sesungguhnya ditetapkannya kebajikan dan kejahatan dengan penetapan dua malaikat tersebut, Oleh karena itulah keduanya dinamakan para malaikat mulia yang yang menuliskan amal manusia (Kiraamal Katibiin).
Adapun al-Kiraam (yang mulia atau yang pemurah), maka dikarenakan dimanfaatkan oleh hamba dengan kemurahan keduanya, dan karena para malaikat itu semua adalah yang mulia yang berbuat kebajikan. Adapun al-Katibiin (penulis) maka karena keduanya itu yang menetapkan (menulis) kebajikan-kebajikan dan kejahatan-kejahatan. Dan keduanya sesungguhnya menuliskan pada lembaran-lembaran yang terlipat dalam rahasia hati dan terlipat dari rahasia hati, sehingga tiada terlihat kepadanya di dunia ini. Maka kedua malaikat tersebut – suratannya, tulisannya, lembarannya, dan apa saja yang menyangkut kedua malaikat itu adalah dari jumlah alam ghaib dan alam malakut tidak dari alam syahadah (alam yang dapat disaksikan dengan panca indera).
Setiap sesuatu dari alam malakut itu tidak dapat dilihat oleh mata di alam ini. Kemudian lembaran-lembaran amal yang terlipat itu akan disiarkan sebanyak dua kali. Sekali pada kiyamat kecil (kematian), sekali pada kiyamat besar.
Yang dimaksud kiyamat kecil adalah waktu mati karena Nabi SAW bersabda, “Man maata faqad qaamat qiyaamatuhu”. Yang artinya, “Barang siapa yang mati maka sesungguhnya telah berdiri kiyamatnya”.
Pada kiyamat kecil ini, adalah hamba itu sendirian dan pada kiyamat ini dikatakan, “Walaqad ji’tumuuna furaada kamaa khalaqnaakum awwala marrat”. Yang artinya dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendirian sebagaimana Kami menjadikanmu pada kali pertama”. (Al-An’am 94).
Pada kiyamat kecil dikatakan pula, “Kafaa binafsikal yauma ‘alaika hasiibaa”. Yang artinya “Cukuplah pada hari ini engkau membuat perhitungan atas dirimu sendiri (Al-Isra’ 14).
Adapun pada kiyamat besar yang mengumpulkan semua makhluk, maka hamba itu tidaklah sendirian, akan tetapi kadang-kadang akan dilakukan perhitungan amal (hisab) dihadapan banyak makhluk. Pada kiyamat besar, orang-orang yang bertaqwa akan dibawa ke sorga. Dan orang-orang berdosa dibawa ke neraka secara beramai-ramai, tidak sendirian.
Huru hara pertama adalah huru hara kiyamat kecil. Dan bagi semua huru hara kiyamat besar ada perbandingannya dengan kiyamat kecil, seperti goncangnya bumi-misalnya. Sesungguhnya bumi engkau yang khusus bagi engkau itu bergoncang pada kematian. Maka sesungguhnya engkau mengetahui bahwa kegoncangan itu apabila bergoncang pada suatu negeri niscaya benarlah untuk dikatakan “sesungguhnya bumi mereka telah bergoncang walaupun negeri-negeri yang mengelilingi negeri tersebut tidak bergoncang. Bahkan jika tempat tinggal seorang manusia sendirian bergoncang, maka telah berhasilah kegoncangan itu terjadi padanya karena dia sesungguhnya memperoleh melarat ketika bergoncangnya semua bumi dengan kegoncangan tempatnya tidak dengan kegoncangan tempat tinggal orang lain. Maka bagian dari kegoncangan itu telah sempurna tanpa ada kekurangan.
Ketahuilah kiranya bahwa anda adalah makhluk dari tanah yang paling diridha-i, dan keberuntungan engkau yang khusus dari tanah adalah badan engkau saja. Adapun badan orang lain maka bukanlah keberuntungan (urusan) engkau. Dan bumi tempat engkau duduk itu jika dikaitkan kepada badan engkau adalah laksana karung dan tempat. Dan sesungguhnya engkau takut akan kegoncangan tempat itu bahwa badan engkau akan bergoncang disebabkan kegoncangan tempat tersebut. Kalau tidak demikian, maka udara itu selalu juga bergoncang akan tetapi engkau tidak takut kepadanya karena badan engkau tidak ikut bergoncang dari sebab yang demikian. Maka keberuntungan (efek) engkau dari kegoncangan bumi secara keseluruhan adalah kegoncangan badan engkau saja. Maka itulah bumi engkau dan tanah engkau yang khusus dengan engkau. Tulang-belulang engkau adalah bukit-bukit daripada bumi engkau. Hati engkau adalah matahari dari bumi engkau. Pendengaran engkau, penglihatan engkau dan lain-lain yang khusus bagi engkau, adalah laksana bintang-bintang langit engkau. Bercucurnya keringat dari badan engkau adalah laut dari bumi engkau. Rambut engkau adalah tumbuh-tumbuhan bumi engkau. Angota badan engkau adalah pohon-pohonan bumi engkau. Dan begitulah pada semua bagian tubuh.
Apabila sendi-sendi badan engkau telah roboh karena kematian, maka sesungguhnya telah bergoncanglah bumi sebagai kegoncangannya. Maka apabila tulang-belulang telah bercerai dari daging, maka sesungguhnya bukit-bukit itu telah diangkat lalu dihancurkan sekali hancur. Apa bila tulang belulang telah hancur, maka gunung-gunung itu telah dihancurkan. Apabila hati engkau gelap gulita sesudah mati, maka sesungguhnya matahari itu telah digulung. Apabila pendengaran engkau, penglihatan engkau dan panca indera engkau yang lain tiada berguna lagi, maka sesungguhnya bintang-bintang itu telah berhamburan. Apabila otak engkau pecah maka sesungguhnya langit itu telah pecah. Apabila dari huru haranya mati lalu terpancarlah keringat kening engkau, maka sesungguhnya lautan itu telah terpancar airnya. Apabila salah satu betis engkau telah berpaling dari yang lain dan keduanya itu adalah lipatan badan engkau, maka sesungguhnya unta-unta betina itu telah telah ditinggalkan. Apabila nyawa itu telah berpisah dari tubuh, maka bumi itu dibawa lalu dipanjangkan sehingga ia mencampakkan isinya dan melepaskannya.
Aku tiada akan memperpanjangkan semua perbandingan hal-ihwal dan huru hara itu, akan tetapi aku mengatakan bahwa hanya dengan semata-mata kematian, maka telah tegak berdirilah kiyamat kecil ini. Dan tiada luput bagi engkau dari kiyamat besar itu sesuatu dari apa yang khusus bagi engkau bahkan apa yang khusus bagi orang lain dari engkau. Sesungguhnya masih adanya bintang-bintang itu bagi orang lain, maka apa manfaatnya bagi engkau daripadanya ?. dan telah berguguranlah panca indera engkau yang dengannya engkau dapat mengambil manfaat dengan memandang bintang-bintang itu. Dan orang buta sama baginya antara malam dan siang, gerhana matahari dan terangnya, karena matahari sesungguhnya baginya telah gerhana terhadap dirinya dan itu adalah bahagian nya dari matahari.
Maka terangnya matahari sesudah itu adalah menjadi bahagian orang lain. Dan siapa yang pecah kepalanya, maka sesungguhnya telah pecah langitnya. Karena langit itu adalah ibarat dari apa yang mengiringi pihak kepala. Maka siapa yang tiada memiliki kepala niscaya tiada langit baginya. Maka darimanakah bermanfaat baginya tetapnya langit bagi orang lain ? (tentu tidak ada manfaatnya).
Maka inilah kiyamat kecil itu. Takut itu sesudah yang di bawah, dan huru hara itu sesudah yang penghabisan. Yang demikian itu adalah apabila telah datang bencana yang besar, maka terangkatlah yang khusus, binasalah langit dan bumi, hancurlah gunung-gunung dan bertambahlah huru hara itu. Ketahuilah kiranya bahwa kiyamat kecil ini walaupun kami panjangkan mensifatkannya, maka sesungguhnya kami tidak menyebutkannya seper seratus dari sifat-sifatnya. Dan kiyamat kecil itu jika dibandingkan kiyamat besar adalah seperti kelahiran kecil dibandingkan kelahiran besar.
Sesungguhnya manusia itu memiliki dua kelahiran.
Pertama keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan kepada tempat simpanan rahim wanita. Manusia itu berada di dalam rahim adalah pada keadaan yang tetap, tenang, sampai kepada kadar/masa yang ditentukan. Dan manusia dalam perjalanannya kepada kesempurnaan, memiliki tempat-tempat dan tahap-tahap, dari setitik air mani (nuthfah), segumpal darah, segumpal daging, dan lainnya sehingga manusia itu keluar dari kesempitan rahim ibu kepada alam dunia yang lapang. Maka perbandingan secara umum kiamat besar dengan khususnya kiyamat kecil adalah seperti perbandingan luasnya alam yang lapang dengan luasnya lapang rahim ibu. Dan bandingan luasnya alam yang didatangi hamba itu dengan mati jika dibandingkan dengan luasnya dunia adalah seperti bandingan lapangnya dunia juga kepada rahim ibu, bahkan lebih luas dan lebih besar.
Maka kiaskanlah akhirat itu dengan dunia, maka tidaklah kejadian kamu dan kebangkitan kamu, selain seperti satu diri saja. Dan tidaklah kejadian yang kedua melainkan sebagai kiasan yang pertama, bahkan bilangan kejadian itu tidak terhingga pada dua saja. Dan kepada yang demikian itu diisyaratken oleh firman Allah Ta’ala, “Wanunsyi-a kum fii maa laa ta’lamuun”. Yang artinya, “Dan Kami menjadikan kamu dalam rupa yang tiada kamu ketahui”. (Al-Waqi’ah 61).
Orang yang mengakui adanya dua kiyamat itu adalah orang- yang beriman terhadap alam ghaib dan alam syahadah dan yakin dengan alamul mulki wal malakuut. Orang yang mengaku adanya kiyamat kecil dan tidak mengakui adanya kiyamat besar, adalah orang yang memandang dengan mata yang juling kepada salah satu dari dua alam. Yang demikian itu adalah bodoh, sesat dan mengikuti dajjal yang bermata satu / juling.
Alangkah bersangatannya kelalaianmu hai orang-orang yang patut dikasihani. Dan kita semua adalah orang yang patut dikasihani, sedang dihadapan engkau itu ada huru hara tersebut.
Jikalau engkau tidak beriman dengan kiyamat besar disebebkan bodoh dan sesat, maka apakah tidak mencukupi bagimu dalil kiyamat kecil ? Atau tidakkah engkau mendengar sabda Penghulu nabi-nabi SAW,”Kafaa bil mauti mau’idhan” mencukupilah kematian sebagai pemberi pelajaran. Atau tidakkah engkau mendengar susahnya Nabi SAW ketika akan wafat sehingga beliau berdo’a “Allahumma hawwin ‘ala Muhammad sakaraatil maut” yang artinya, “Yaa Allah mudahkanlah kepada Muhammad sakarat maut”.
Atau tidakkah engkau malu dengan keterlambatanmu akan serangan maut karena mengikuti orang-orang lalai dan hina yang tiada yang mereka tunggu selain pekikan yang akan menyiksa mereka dan mereka berbantahan dengan sesamanya ? Mereka tiada berkesempatan menyampaikan pesan dan tiada pula dapat kembali kepada keluarganya. Maka datanglah sakit kepada mereka yang memperingatkan kepada mati, tetapi mereka tidak memperoleh peringatan daripadanya. Dan datanglah kepada mereka itu ketuaan sebagai utusan dari kematian. Maka tidakkah mereka mengambil ibarat daripadanya ?
Alangkah ruginya hamba yang datang rasul kepadanya lalu mereka memperolok-olok rasul itu. Apakah mereka menyangka bahwa mereka akan kekal di aunia ?, atau tidakkah mereka melihat berapa banyak yang telah Kami binasakan sebelum mereka, dari berabad-abad lamanya bahwa mereka itu tidak kembali kepadanya. Ataukah mereka menyangka bahwa orang-orang mati itu telah berjalan jauh dari mereka, lalu mereka itu dianggap tidak ada lagi ?
Tidaklah sekali-lagi demikian ! masing-masing dengan tanpa kecuali akan dihadapkan kepada Kami. Akan tetapi apa yang datang kepada mereka salah satu dari ayat-ayat Tuhannya lalu mereka itu berpaling daripadanya. Dan yang demikian itu karena Kami adakan tutup di hadapan dan dibelakang mereka, lalu mereka Kami tutup. Oleh karena itu mereka tiada juga mau percaya.
Sekarang marilah kita kembali kepada yang dimaksud. Sesungguhnya semua yang tersebut itu adalah isyarat yang mengisyaratkan kepada hal-hal yang lebih tinggi dari ilmu muammalah. Maka kami terangkan bahwa telah jelas bahwa sabar itu adalah tetapnya penggerak agama untuk melawan penggerak hawa nafsu. Dan perlawanan ini termasuk ciri khas anak Adam, karena diwakilkan kepada mereka malaikat-malaikat yang mulia yang menuliskan amal perbuatan mereka.
Dua malaikat yang menuliskan amal anak Adam itu tidak menuliskan sesuatu dari anak-anak kecil dan orang gila karena telah kami sebutkan dahulu bahwa kebaikan itu adalah pada menghadapkan diri untuk mengambil faedah daripada keduanya (malaikat). Dan kejahatan itu ada pada berpaling dari keduanya (malaikat). Bagi anak-anak kecil dan orang-orang gila , maka tiada jalan bagi mereka untuk mengambil faedah tersebut. Maka tiadalah tergambar dari anak kecil dan orang gila itu untuk menghadap dan berpaling. Dan kedua malaikat penulis amal itu tiada menulis selain menghadap atau berpaling dari orang-orang yang mampu kepada menghadap dan berpaling itu.
Demi umurku, sesungguhnya telah nampak tanda-tanda permulaan kecemerlangan sinar petunjuk ketika tiba pada usia tamzis (usia yang telah dapat untuk membedakan antara bahaya dan manfaat). Tanda kecemerlangan itu tumbuh dan berangsur-angsur sampai kepada tahun datangnya dewasa (baligh). Sebagaimana menampak sinar pagi sampai kepada terbitnya bundaran matahari.
Akan tetapi itu adalah petunjuk yang singkat, yang tiada menunjukkan kepada hal-hal yang mendatangkan melarat di akhirat, akan tetapi pada hal-hal yang mendatangkan melarat di dunia.
Oleh karena itulah seorang anak akan dipukul karena meninggalkan shalat seketika itu juga dan ia tidak disiksa karena meninggalkan shalat itu kelak di akhirat, dan pula tidak dituliskan pada lembaran-lembaran amal yang akan ditebarkan di akhirat. Akan tetapi menjadi tanggung jawab yang mengurus anak itu yang adil dan walinya yang baik yang penuh belas kasihan kalau ia termasuk orang-orang yang baik.
Dan ini adalah sikap dari para malaikat yang mulia, yang selalu menulis amal, yang berbuat baik lagi pilihan, bahwa dituliskan bagi anak kecil itu akan kejahatan dan kebaikannya di atas lembaran hatinya. Lalu dituliskan kepadanya dengan pemeliharaan. Kemudian disiarkan kepadanya dengan memperkenalkan, kemudian ia dihukum dengan pemukulan.
Maka setiap wali anak kecil yang demikian sikapnya terhadap anak kecil itu, maka sesungguhnya ia telah mewarisi sikap para malaikat, dan ia mengaplikasikanya terhadap anak kecil itu. Maka dengan demikian, ia akan memperoleh derajat kedekatan dengan Tuhan semesta alam sebagaimana yang diperoleh para malaikat. Maka Wali tersebut bersama nabi-nabi, orang-orang yang dekat dengan Allah (Al-Muqarrabiin) dan orang-orang yang membenarkan agama (Shidiqiin).
Kepada itulah diisyaratkan dengan sabda Nabi Muhammad SAW “Anaa wakaafilul yatiim kahaataini fil jannah” Artinya, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim adalah seperti dua ini di surga”. Nabi SAW mengisyaratkan kepada dua anak jarinya SAW yang mulia.