AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
Selasa, 1 Oktober 2013
Tanggungjawab Suami Isteri Mengikut Islam
إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURIPEMIMPIN
MELAYAN & MENGGAULI ISTERI DENGAN BAIK
Nabi صلى الله عليه وسلم diantara lain sabdanya :
فقوله صلى الله عليه وسلم : من سلك طريقا يطلب فيه علما سلك الله به طريقا إلى الجنة.
(Man salaka thariiqan yathlubu fiihi 'ilman salakallaahu bihi tharii- qan ilal jannah).
Artinya :"Barangsiapa menjalani suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dianugerahi Allah kepadanya jalan ke sorga".
Panduan bagi Wanita Muslimah Keluar Rumah
بسم الله الرحمن الر حيم
إن
الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات
أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا
الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران
– الآية: 102
OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURIPanduan bagi Wanita Muslimah Keluar Rumah
Perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى
اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ
أَمْرِهِمْ ، وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا
مُبِينًا} [الأحزاب: 36]
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula)
bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya
Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.” [Al-Ahzaab:36]
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ} [الأنفال: 24]
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan
seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi
kehidupan kepada kamu.” [Al-Anfaal:24]
Menyalahi aturan Allah adalah mendzalimi diri sendiri.
{وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ} [الطلاق: 1]
“Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, Maka Sesungguhnya dia Telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” [At-Thalaaq:1]
Perintah berdiam di dalam rumah.
Seorang wanita muslimah yang taat kepada ajaran agamanya senantiasa
menjadikan rumah sebagai benteng yang melindunginya dari segala macam
fitnah yang bisa merusak kehidupan dunia dan akhiratnya. Senantiasa taat
kepada Allah Tuhan Yang Menciptakan dan Memuliakannya, Yang
Memerintahkannya untuk berdiam di dalam rumah. Allah berfirman:
{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ} [الأحزاب: 33]
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu”. [Al-Ahzab: 33]
Dari Abdullah bin Mas’ud; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إن المرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان ، وأقرب ما تكون من وجه ربها و هي في قعر بيتها [صحيح ابن خزيمة]
“Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka jika ia keluar
rumah setan akan memuliakannya, dan tempat yang paling dekat bagi wanita
dari wajah Tuhannya adalah ketika ia di dalam rumahnya.” [Sahih Ibnu Khuzaimah]
Ummu Humaid istri Abu Humaid As-Sa’idy mendatangi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Ya Rasulullah sesungguhnya aku suka jika salat bersamamu. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي،
وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ،
وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ،
وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ
قَوْمِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ
فِي مَسْجِدِي
“Aku sudah tau kalau engkau suka salat bersamaku, akan tetapi
salat di kamarmu lebih baik dari pada di luar kamar, dan di luar kamar
lebih baik daripada di luar rumah, dan di luar rumah lebih baik daripada
di mesjid kaummu, dan di mesjid kaummu lebih baik daripada di
mesjidku.” [Musnad Ahmad: Hadits hasan]
Akan tetapi jika ada keperluan mendesak yang mengharuskan seorang
muslimah untuk keluar rumah, maka ia boleh keluar dengan memperhatikan
aturan yang telah ditetapkan syari’at.
Dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ، وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلَاتٌ [سنن أبي داود: صححه الألباني]
“Jangan kalian melarang hamba Allah (wanita) pergi ke mesjid,
akan tetapi hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian.” [Sunan Abu Daud: Sahih]
Aisyah radiyallahu ‘anha berkata:
لَوْ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَأَى مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ الْمَسْجِدَ كَمَا مُنِعَتْ
نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ [صحيح البخاريٍ ومسلم]
Seandainya Rasulullah melihat apa yang diperbuat wanita jaman
sekarang maka ia akan melarang mereka pergi ke mesjid sebagaimana wanita
bani Israil dilarang. [Sahih Bukhari dan Muslim]
Ada beberapa kewajiban yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya
yang harus dipatuhi oleh seorang wanita ketika keluar rumah.
Diantaranya:
Keluar seizin walinya (suami, ayah, saudara laki2 yang balig, atau paman).
Sebagaimana hadits Abu Hurairah di atas: “Jangan kalian melarang hamba Allah (wanita) pergi ke mesjid”. Kalau
seandainya perempuan boleh keluar rumah tampa seizin walinya maka tidak
perlu Rasulullah memberi peringatan tersebut. Wallahu a’lam !
Memakai pakaian yang sesuai dengan aturan syari’at.
{وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى} [الأحزاب: 33]
“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. [Al-Ahzaab:33]
Tidak mengundang perhatian laki-laki.
{وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ} [النور: 31]
“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” [An-Nuur: 31]
Jangan menguasai jalan.
Abu Usaid Al-Anshary berkata: Suatu hari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam keluar
dari mesjid dan melihat laki-laki dan perempuan berbaur (ikhtilath) di
jalan, maka Rasulullah bersabda kepada kaum wanita:
اسْتَأْخِرْنَ، فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ
الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ [سنن أبي داود: حسنه
الألباني]
“Minggirlah karena sesungguhnya kalian tidak boleh berjalan di tengah jalan, hendaklah kalian berjalan di sisi jalan.”
Setelah itu kaum wanita berjalan menempel ke dinding sampai pakaian
mereka tersangkut di dinding karena terlalu menempel. [Sunan Abu Daud:
Hadits hasan]
Berjalan dengan penuh rasa malu.
{فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ } [القصص: 25]
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan”. [Al-Qashash:25]
Jangan berbicara dengan cara yang bisa mengundang nafsu.
{يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ
النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ
الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا} [الأحزاب: 32]
“Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita
yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam
berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya
dan ucapkanlah perkataan yang baik”. [Al-Ahzaab:32]
Menundukkan pandangan dari yang haram.
{قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ
بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ
أَبْصَارِهِنَّ} [النور: 30، 31]
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah
mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian
itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman:
“Hendaklah mereka menahan pandangannya”. [An-Nuur: 30-31]
{يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ} [غافر: 19]
Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. [Gaafir:19]
Dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا،
مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ،
وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ
الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا،
وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ
وَيُكَذِّبُهُ [صحيح مسلم]
“Telah ditetapkan bagi anak cucu Adam bagian mereka dari zina,
akan menimpa mereka dan tidak lapas darinya. Sesungguhnya mata berzina
dengan pandangan, telinga berzina dengan pendengaran, lidah bezina
dengan ucapan, tangan berzina dengan sentuhan, kaki berzina dengan
langkah, hati bernafsu dan mendabakan, kemudian dilakukan oleh kelamin
atau ditinggalkan.” [Sahih Muslim]
Meminta sesuatu kepada laki-laki yang bukan muhrim dari belakang tabir.
{وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ
وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ}
[الأحزاب: 53]
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka
(isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang
demikian itu lebih Suci bagi hatimu dan hati mereka.” [Al-Ahzaab:53]
Tidak bersentuhan dengan laki-laki bukan muhrim.
Dari Ma’qil bin Yasar; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لأن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لا تحل له [صحيح الترغيب والترهيب]
“Jika ditusukkan pada kepala seseorang dari kalian dengan jarum
besi lebih baik baginya daripada menyentuh perempuan yang tidak halal
baginya”. [Sahih At-Targiib wa at-tarhiib]
Tidak berduaan dengan laki-laki bukan muhrim.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ
“Janganlah kalian berduaan dengan wanita” (yg bukan muhrim).
Seorang laki-laki dari kaum Anshar bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana dengan kerabat laki2 suami? Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: الحَمْوُ المَوْتُ
“Berduaan dengan kerabat laki-laki suami adalah kebinasaan” [Sahih Bukhari]
Dari Umar bin Khattab; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ألا لا يخلون رجل بامرأة إلا كان ثالثهما الشيطان [سنن الترمذي : صححه الألباني]
“Sesungguhnya tiada seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” [Sunan Tirmidzi: Sahih]
Tidak bepergian jauh (musafir) kecuali bersama muhrim.
Dari Ibnu Abbas; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لاَ تُسَافِرِ المَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ، وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ
“Tidak boleh seorang wanita bepergian jauh kecuali bersama
muhrimnya, dan janganlah seorang laki-laki bersama dengan wanita kecuali
wanita tersebut bersama muhrimnya.”
Seorang sahabat bertanya: Ya Rasulullah, saya ingin ikut pada suatu
peperangan, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallammenjawab: اخْرُجْ مَعَهَا
“Pergilah bersamanya (menunaikan ibadah haji).” [Sahih Bukhari]
Isteri keluar rumah tanpa izin derhaka?
Adapun tentang hukum keluar rumah tanpa izin suami ia tetap haram dan berdosa dan mereka yang berbuat demikian dianggap derhaka (nusus) dan apabila berlaku nusus tersebut maka ia boleh menggugurkan nafkah daripada pihak suami. Ia dibenarkan keluar kerana tujuan tertentu seperti untuk menyelamatkan diri daripada kebakaran dan sebarang ancaman yang lain. Demikian juga dibenarkan isteri keluar rumah untuk mempelajari ilmu yang wajib (fardu ain) dalam agama sedangkan di rumahnya tidak disediakan kelas tersebut sama ada oleh suaminya sendiri atau dengan memanggil orang lain ke rumahnya yang merupakan tugas dan tanggungjawab suami terhadap isterinya sendiri.
Adapun tujuan yang tidak perlu seperti keluar menziarah kawan atau ke pasar atau bersiar-siar ia adalah dilarang keras oleh agama. Begitu juga membawa orang lain ke dalam rumah tanpa kebenarannya (suami). Inilah yang banyak berlaku dalam masyarakat kita hari ini tanpa disedari.
Perbuatan kurang sopan ini dilarang keras oleh agama kita yang maha suci, tetapi dipandang remeh oleh orang kita yang mana ia banyak menyebabkan keruntuhan rumah tangga dalam masyarakat hari ini dan ini patut menjadi renungan kita semua.
Penderhakaan dan kufur nikmat ini banyak sangat berlaku dalam masyarakat kita. Sebab itu apabila baginda dibawa melawat ke neraka pada malam mikraj, baginda melihat ramai kaum wanita di dalam neraka sehingga mereka (wanita) bertanya Rasulullah, kenapa ramai kaum wanita berada di dalam neraka?
Jawab baginda: “Kerana mereka mengingkari pergaulan dan jasa suaminya serta tidak bersyukur.” Dan apabila baginda ditanya bagaimana sebenarnya kufur nikmat itu? Sabda baginda: Seseorang kamu sudah lama membujang, akhirnya dikurniakan suami dan lama hidup bersamanya dan serta memperoleh cahaya mata dengannya. Tetapi bila berlaku sebarang ketegangan dalam rumah tangga terus sahaja isteri tadi bersumpah serta mengungkit mengatakan suami tidak pernah melakukan sebarang kebaikan dan berjasa terhadapnya.
Sikap seperti itulah kata Rasulullah kufur nikmat yang diulanginya sampai tiga kali. Demikian juga kaum lelaki yang sudah lama hidup bersama isterinya dan mempunyai ramai anak dengan isteri tersebut, tetapi bila sekali sekala isteri melakukan kesilapan, maka terus ditempeleng atau diterajangnya. Maka sikap mudah hilang pertimbangan seperti inilah yang menyebabkan ramai manusia masuk ke neraka di akhirat nanti tanpa mengira lelaki atau perempuan.
Dalam hal ini sesiapa saja yang mudah hilang sabar dan pertimbangan maka dia akan dimasukkan ke neraka. Kaum wanita tidak perlu bimbang sekiranya mereka tidak terlibat dengan sikap negatif tadi, kerana bukan kerana jenis kejadiannya (lelaki atau perempuan) seseorang itu dimasukkan ke neraka, tetapi kerana sikap buruk tadi, iaitu mudah meradang dan hilang kesabaran.
Tetapi kaum lelaki selalu membawa cerita ini untuk menggambarkan kaum wanita itu jahat dan ramai dalam neraka. Sedangkan mereka tidak sedar sebab dan puncanya seseorang itu ke neraka ialah bukan kerana lelaki atau wanita tetapi disebabkan tabiat buruk tadi.
Dalam sesuatu keadaan, kita harus menggunakan akal kewarasan sewajarnya, agar tidak mudah terkeluar dari batasan manusia.
Malah darjatnya sudah jatuh ke peringkat haiwan, inilah maksud firman Allah s.w.t. : Demi sesungguhnya kami jadikan manusia itu dalam bentuk kejadian yang terbaik tetapi kemudian akan Kami tolak turun manusia ke peringkat yang paling rendah sampai jatuh ke peringkat haiwan, melainkan orang beriman dan beramal saleh untuk mereka pahala yang melimpah-ruah tapa putus-putus. (surah Attin: 4-6).
Pertimbangan akal itulah garis pemisah yang membezakan antara manusia dan haiwan. Sebab itu setiap individu hendaklah berhati-hati agar tidak jatuh martabatnya ke peringkat haiwan, cuma Islam sajalah yang dapat mempertahankan darjat manusia ini malah mengangkat martabatnya ke peringkat yang lebih tinggi hatta lebih tinggi daripada malaikat. Buktinya adalah Rasulullah. Baginda adalah semulia-mulia makhluk tanpa pengecualian lagi.
Wallahualam.
Adapun tentang hukum keluar rumah tanpa izin suami ia tetap haram dan berdosa dan mereka yang berbuat demikian dianggap derhaka (nusus) dan apabila berlaku nusus tersebut maka ia boleh menggugurkan nafkah daripada pihak suami. Ia dibenarkan keluar kerana tujuan tertentu seperti untuk menyelamatkan diri daripada kebakaran dan sebarang ancaman yang lain. Demikian juga dibenarkan isteri keluar rumah untuk mempelajari ilmu yang wajib (fardu ain) dalam agama sedangkan di rumahnya tidak disediakan kelas tersebut sama ada oleh suaminya sendiri atau dengan memanggil orang lain ke rumahnya yang merupakan tugas dan tanggungjawab suami terhadap isterinya sendiri.
Adapun tujuan yang tidak perlu seperti keluar menziarah kawan atau ke pasar atau bersiar-siar ia adalah dilarang keras oleh agama. Begitu juga membawa orang lain ke dalam rumah tanpa kebenarannya (suami). Inilah yang banyak berlaku dalam masyarakat kita hari ini tanpa disedari.
Perbuatan kurang sopan ini dilarang keras oleh agama kita yang maha suci, tetapi dipandang remeh oleh orang kita yang mana ia banyak menyebabkan keruntuhan rumah tangga dalam masyarakat hari ini dan ini patut menjadi renungan kita semua.
Penderhakaan dan kufur nikmat ini banyak sangat berlaku dalam masyarakat kita. Sebab itu apabila baginda dibawa melawat ke neraka pada malam mikraj, baginda melihat ramai kaum wanita di dalam neraka sehingga mereka (wanita) bertanya Rasulullah, kenapa ramai kaum wanita berada di dalam neraka?
Jawab baginda: “Kerana mereka mengingkari pergaulan dan jasa suaminya serta tidak bersyukur.” Dan apabila baginda ditanya bagaimana sebenarnya kufur nikmat itu? Sabda baginda: Seseorang kamu sudah lama membujang, akhirnya dikurniakan suami dan lama hidup bersamanya dan serta memperoleh cahaya mata dengannya. Tetapi bila berlaku sebarang ketegangan dalam rumah tangga terus sahaja isteri tadi bersumpah serta mengungkit mengatakan suami tidak pernah melakukan sebarang kebaikan dan berjasa terhadapnya.
Sikap seperti itulah kata Rasulullah kufur nikmat yang diulanginya sampai tiga kali. Demikian juga kaum lelaki yang sudah lama hidup bersama isterinya dan mempunyai ramai anak dengan isteri tersebut, tetapi bila sekali sekala isteri melakukan kesilapan, maka terus ditempeleng atau diterajangnya. Maka sikap mudah hilang pertimbangan seperti inilah yang menyebabkan ramai manusia masuk ke neraka di akhirat nanti tanpa mengira lelaki atau perempuan.
Dalam hal ini sesiapa saja yang mudah hilang sabar dan pertimbangan maka dia akan dimasukkan ke neraka. Kaum wanita tidak perlu bimbang sekiranya mereka tidak terlibat dengan sikap negatif tadi, kerana bukan kerana jenis kejadiannya (lelaki atau perempuan) seseorang itu dimasukkan ke neraka, tetapi kerana sikap buruk tadi, iaitu mudah meradang dan hilang kesabaran.
Tetapi kaum lelaki selalu membawa cerita ini untuk menggambarkan kaum wanita itu jahat dan ramai dalam neraka. Sedangkan mereka tidak sedar sebab dan puncanya seseorang itu ke neraka ialah bukan kerana lelaki atau wanita tetapi disebabkan tabiat buruk tadi.
Dalam sesuatu keadaan, kita harus menggunakan akal kewarasan sewajarnya, agar tidak mudah terkeluar dari batasan manusia.
Malah darjatnya sudah jatuh ke peringkat haiwan, inilah maksud firman Allah s.w.t. : Demi sesungguhnya kami jadikan manusia itu dalam bentuk kejadian yang terbaik tetapi kemudian akan Kami tolak turun manusia ke peringkat yang paling rendah sampai jatuh ke peringkat haiwan, melainkan orang beriman dan beramal saleh untuk mereka pahala yang melimpah-ruah tapa putus-putus. (surah Attin: 4-6).
Pertimbangan akal itulah garis pemisah yang membezakan antara manusia dan haiwan. Sebab itu setiap individu hendaklah berhati-hati agar tidak jatuh martabatnya ke peringkat haiwan, cuma Islam sajalah yang dapat mempertahankan darjat manusia ini malah mengangkat martabatnya ke peringkat yang lebih tinggi hatta lebih tinggi daripada malaikat. Buktinya adalah Rasulullah. Baginda adalah semulia-mulia makhluk tanpa pengecualian lagi.
Wallahualam.
Nabi صلى الله عليه وسلم diantara lain sabdanya :
فقوله صلى الله عليه وسلم : من سلك طريقا يطلب فيه علما سلك الله به طريقا إلى الجنة.
(Man salaka thariiqan yathlubu fiihi 'ilman salakallaahu bihi tharii- qan ilal jannah).
Artinya :"Barangsiapa menjalani suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dianugerahi Allah kepadanya jalan ke sorga".
Sabtu, 28 September 2013
Kewajipan Menutup Aurat
بسم الله الرحمن الر حيم
إن
الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات
أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا
الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران
– الآية: 102
OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURIKewajipan Menutup Aurat
Dewasa ini kita menyaksikan ramai wanita yang telah memakai tudung di tempat-tempat awam samada yang berjubah, berbaju kurung atau berseluar. Ini merupakan satu fenomena yang baik jika dibandingkan dengan zaman datuk nenek kita yang mana sukar untuk kita melihat para wanita memakai tudung. Namun begitu, ada juga sesetengah wanita di zaman ini yang kurang mengerti apakah pengertian sebenar menutup aurat. Sekadar memakai tudung di tempat-tempat awam telah disangkanya menutup aurat, sedangkan menutup aurat dan hanya memakai tudung melitupi kepala adalah dua perkara yang berbeza. Fenomena bertudung ini akan bertambah baik sekiranya para wanita memahami pengertian aurat dan bagaimana menutup aurat dengan sempurna serta mempraktikkannya dalam kehidupan seharian. Artikel ini akan cuba untuk mendefinisikan apakah aurat wanita yang sebenar dan penulis akan membawakan dalil yang menunjukkan kewajipan menutup aurat menurut al-Quran dan Sunnah, syarat-syarat pakaian yang menutup aurat menurut syara’ serta definisi mahram.
Kepentingan menutup aurat
Mengapa manusia perlu menutup aurat? Dan mengapa urusan berpakaian ini tidak diserahkan kepada manusia? Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pencipta kita, Dia lebih mengetahui perihal hambaNya lebih daripada hambaNya mengenali dirinya sendiri. Jika urusan pakaian ini diserahkan kepada manusia, nescaya ia boleh membawa kepada kerosakan. Kita lihatlah sendiri, sedangkan hukum pun telah ditetapkan, ramai wanita yang hampir sahaja bertelanjang di luar sana, apatah lagi jika hukum ini diserahkan kepada manusia. Setiap insan, baik lelaki mahupun wanita, perlulah berpegang teguh dengan pakaian syar’ie iaitu cara penutupan aurat yang telah ditetapkan oleh Allah. Tidak semestinya perihal berpakaian ini termasuk urusan keduniaan, maka kita sewenang-wenangnya boleh melanggar perintah ini. Seperti yang kita sedia maklum, Islam merupakan agama yang meliputi urusan akhirat dan dunia. Oleh itu, ketaatan merupakan suatu kewajipan bagi kita terhadap kedua-dua jenis urusan ini, baik ukhrawi mahupun duniawi.
Definisi aurat
Dari segi bahasa, aurat membawa maksud kecacatan atau keaiban pada sesuatu. Ia juga bermaksud apa jua yang ditutupi oleh manusia kerana rasa malu[1]. Manakala secara istilahnya, aurat bermaksud setiap anggota yang wajib ditutup dan haram untuk dilihat[2]. Di sini, penulis akan membincangkan apakah anggota yang wajib ditutup oleh seorang wanita Muslimah yang telah baligh. Apabila kita membincangkan aurat yang wajib ditutup, ia mempunyai cabang yang banyak; aurat di hadapan mahram, aurat di hadapan bukan mahram (ajnabi), aurat di hadapan suami, aurat di hadapan wanita Muslimah atau kafir. Tulisan ini secara khususnya akan membincangkan aurat yang wajib ditutup di hadapan bukan mahram. Definisi mahram dan penerangan lanjut mengenainya akan diterangkan kemudian di dalam penulisan ini.
Dalil wajibnya menutup aurat
Kewajipan menutup aurat telah disebut oleh Allah Ta’ala di dalam al-Quran di beberapa tempat. Antaranya, Allah Ta’ala berfirman :
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Maksudnya : Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutup kain tudung ke dadanya… (al-Nuur : 31)
Allah Ta’ala juga menyebut di dalam al-Quran :
وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Maksudnya : Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin kahwin (lagi), tiadalah dosa atas mereka menanggalkan pakaian (pakaian luar yang kalau dibuka tidak menampakkan aurat) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Nuur : 60)
Seterusnya, Allah Ta’ala juga menyebut :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Maksudnya : Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin : “Hendaklah mereka menghulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Ahzab : 59)
Ini ialah perintah yang turun dari tujuh petala langit kepada para wanita Muslimah supaya memelihara aurat dan kehormatan mereka. Dan hendaklah para wanita bersegera untuk menyahut seruan Allah ini kerana ia merupakan tanda keimanan, kehambaan serta kepatuhan kita kepadaNya. Ayat-ayat suci ini diulas dan diperincikan dengan lebih lanjut oleh hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam supaya para wanita memahami bagaimanakah untuk menutup aurat seperti yang dikehendaki oleh agama dan bukannya menutup aurat mengikut syariat sendiri ataupun kemahuan sendiri.
Dalam masalah aurat ini, Dr. Abdul Karim Zaidan hafizhahullah mengatakan kaedah yang diguna pakai secara umumnya ialah : “Setiap aurat wanita wajib ditutup dan disembunyikan dari pandangan lelaki yang bukan mahram, dan anggota badan wanita yang bukan aurat boleh dinampakkan dan tidak perlu ditutup dari pandangan lelaki yang bukan mahram melainkan jika ada sebab-sebab tertentu”[3]. Apakah anggota badan wanita yang dikira aurat dan apa pula yang bukan aurat? Majoriti para ulama’ mengatakan bahawa seluruh anggota badan wanita ialah aurat kecuali muka dan kedua tapak tangannya. Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ‘kecuali yang (biasa) nampak daripadanya’ dari ayat 31 dalam surah al-Nuur sebagai muka dan tapak tangan[4]. Jadi setiap wanita Muslimah yang telah baligh wajib menutup seluruh anggota badannya dari pandangan lelaki yang bukan mahram kecuali muka dan kedua tapak tangannya.
Dalam sebuah hadis Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha maksudnya : “Asma’ binti Abi Bakr al-Siddiq masuk menemui Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan dia memakai pakaian yang nipis, Baginda shallallahu ‘alayhi wa sallam berpaling daripadanya dan berkata : ‘Wahai Asma’, sekiranya seorang wanita telah didatangi haid, anggota badannya tidak boleh diperlihatkan kecuali ini dan ini’, Baginda shallallahu ‘alayhi wa sallam mengisyaratkan ke mukanya dan kedua tapak tangannya”[5].
Syarat pakaian wanita Muslimah
Menutup aurat bukanlah juga semata-mata tidak menampakkan anggota badan kecuali muka dan tapak tangan, tetapi syariat Islam telah menetapkan beberapa syarat pada pakaian wanita Muslimah. Setiap syarat ini perlu dipatuhi supaya ianya memenuhi maksud menutup aurat itu sendiri. Jika salah satu syarat ini tidak dilaksanakan oleh seseorang wanita itu, maka ia tidak dikira sebagai menutup aurat.
Pertama; hendaklah pakaian itu melitupi seluruh badan kecuali anggota yang bukan aurat. Syarat ini telah dibahaskan serba-sedikit di atas. Di sini, penulis akan menyebutkan jenis-jenis pakaian wanita yang digunakan untuk menutup aurat.
1) Khimar (tudung). Perkataan khimar ini ada disebutkan di dalam al-Quran dalam surah al-Nur ayat 31. Allah Ta’ala berfirman : وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ. Khimar bermaksud kain yang digunakan untuk menutup kepala. Disebutkan di dalam tafsir al-Qurtubi bahawa sebab ayat ini turun adalah kerana wanita pada masa itu memakai tudung dengan mengikatnya dan melabuhkannya ke belakang, oleh itu ia menampakkan leher dan telinga. Kemudian Allah memerintahkan supaya tudung tersebut dilabuhkan ke atas tempat potongan leher supaya ia menutup dada mereka[6]. Oleh itu, dari ayat ini serta sebab turunnya ayat ini, jelaslah seorang wanita Muslimah itu mesti memakai tudung dengan sempurna dengan tidak menampakkan leher, telinga dan dada.
2) Jilbab. Perkataan jilbab disebut di dalam al-Quran dalam surah al-Ahzab ayat 59. Allah Ta’ala berfirman : يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا. Ibn al-‘Arabi rahimahullah berkata mengenai tafsir ayat di atas : ‘Manusia berselisih pendapat mengenai makna ‘jilbab’ dengan lafaz yang saling menghampiri maknanya antara satu sama lain. Secara umumnya, ia adalah baju yang dipakai untuk menutup seluruh anggota badan’[7]. Jilbab atau dalam erti kata lainnya, pakaian yang menutup aurat wanita itu wajib dipakai ketika keluar dari rumah supaya aurat wanita terlindung dari pandangan lelaki ajnabi. Selain itu, ia juga wajib dipakai walaupun di dalam rumah sekiranya ada lelaki yang bukan mahram. Ini adalah satu perkara yang sering disalah fahami oleh wanita zaman sekarang. Mereka beranggapan bahawa menutup aurat itu hanya apabila keluar dari rumah sedangkan aurat itu perlu ditutup dari terlihat oleh lelaki yang bukan mahram, tidak kiralah walau di mana jua pun tempatnya.
Kita telah mengetahui bahawa wanita wajib menutup seluruh anggota badannya kecuali muka dan tapak tangan, adakah ini bermakna panjang kain wanita itu tiada hadnya dan dia boleh melabuhkannya sesuka hati? Kita lihat suatu hadis yang berbunyi : ‘Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha isteri Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika Baginda menyebut mengenai kain sarung (larangan melabuhkannya bagi lelaki) : Bagaimana pula dengan wanita wahai Rasulullah? Baginda berkata : Labuhkanlah ia sejengkal. Ummu Salamah berkata : Jadi akan terlihatlah kaki kami. Baginda berkata lagi : Labuhkanlah sehasta dan tidak boleh lebih dari itu’[8]. Maksud hadis ini ialah wanita boleh melabuhkan kainnya dengan kadar sehasta dari paras tengah betis dan tidak boleh lebih dari itu kerana hadis ini telah jelas melarangnya. Pada zaman Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, para wanita melabuhkan kain untuk menutup kedua kakinya.
Kedua; hendaklah pakaian itu tebal dan tidak nipis. Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata : ‘Dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah aku lihat : satu kaum yang mempunyai cemeti seperti ekor lembu, mereka memukul manusia dengannya, dan wanita yang berpakaian tetapi bertelanjang, mereka jauh dari ketaatan kepada Allah serta mengajar yang lain tentang perbuatan mereka (tidak menutup aurat), kepala mereka seperti bonggol unta, mereka ini tidak masuk syurga dan tidak mencium bau syurga sedangkan bau syurga itu dapat dihidu dari jarak ini dan ini’[9].
Hadis ini menunjukkan bahawa haramnya bagi seorang wanita untuk memakai pakaian yang nipis yang menampakkan warna kulit. Ibn Abd al-Barr berkata : ‘Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam memaksudkan wanita yang memakai pakaian yang nipis yang menyifatkan badan mereka serta tidak menutupinya, mereka ini secara namanya berpakaian tetapi pada hakikatnya bertelanjang’[10].
Ketiga; hendaklah pakaian itu longgar dan tidak ketat. Pakaian yang ketat dan menampakkan susuk tubuh wanita tidak memenuhi maksud menutup aurat kerana ia boleh membangkitkan syahwat dan mendatangkan fitnah serta kerosakan. Pakaian yang ketat tetap dilarang walaupun ianya tebal dan tidak nipis. Dalam sebuah hadis dari Ibn Usamah bin Zaid dari bapanya, beliau berkata : ‘Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam memakaikan aku qubtiyyah (sejenis pakaian dari Mesir yang nipis berwarna putih) yang tebal, yang dihadiahkan oleh Dihyah al-Kalbi. Lalu aku memakaikannya pada isteriku. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata kepadaku : ‘Mengapa kamu tidak memakai qubtiyyah?’ Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah, aku telah memakaikannya pada isteriku’. Baginda shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata : ‘Pergilah kepadanya dan suruhlah dia memakai ghilalah[11] di bawahnya, sesungguhnya aku takut ia akan menampakkan susuk tubuhnya’[12].
Apakah faedahnya memakai pakaian lain di dalam sedangkan baju tersebut adalah tebal? Ini kerana ada baju yang boleh menampakkan susuk tubuh walaupun ia tebal kerana tekstur baju tersebut yang lembut dan licin. Maka oleh itu, wanita perlulah memakai pakaian lain di dalamnya supaya tidak menampakkan lekuk tubuh. Begitu juga jika pada asalnya baju tersebut memang ternyata ketat dan mengikut bentuk tubuh badan, maka ia juga tidak memenuhi syarat menutup aurat dan seorang wanita Muslimah tidak boleh berpakaian sedemikian rupa.
Keempat; pakaian tersebut tidak menyerupai pakaian lelaki. Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : ‘Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki’[13]. Apabila dalam suatu hadis menyebut perkataan ‘laknat’, ini membawa maksud bahawa perbuatan itu merupakan suatu dosa yang besar. Terdapat banyak lagi hadis yang melarang lelaki menyerupai wanita dan wanita menyerupai lelaki. Ibn Hajar rahimahullah menjelaskan bahawa perkara yang dilarang serupa antara lelaki dan wanita ialah pakaian, perhiasan, cara bercakap dan cara berjalan[14].
Definisi mahram
Adalah amat penting bagi para wanita untuk mengetahui siapakah mahram mereka supaya mereka dapat menjaga aurat dari terlihat oleh orang yang tidak sepatutnya. Mahram ialah lelaki yang haram dikahwini oleh seseorang wanita buat selama-lamanya contohnya bapa kepada si perempuan. ‘Kemahraman’ seseorang itu boleh terjadi sebab nasab (keturunan), penyusuan atau al-mushoharah (disebabkan oleh perkahwinan).
Mahram dari sebab keturunan disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam ayat 31 surah al-Nur. Mereka ialah :
- Bapa; iaitu bapa dan ke atas (datuk, moyang dan seterusnya) kepada si perempuan, samada dari sebelah bapa atau ibunya.
- Anak lelaki; iaitu anak kepada si perempuan. Termasuk di dalamnya ialah anak lelaki kepada anak (cucu) dan ke bawah, samada daripada anak lelaki atau perempuan.
- Adik-beradik lelaki; samada daripada yang seibu dan sebapa, atau seibu sahaja atau sebapa sahaja.
- Anak lelaki kepada adik-beradik lelaki dan ke bawah.
- Anak lelaki kepada adik-beradik perempuan dan ke bawah.
- Bapa saudara dari sebelah ibu dan bapa; mereka adalah mahram yang disebabkan keturunan walaupun tidak disebutkan dalam ayat 31 surah al-Nur. Ini kerana mereka menduduki tempat ibubapa. Bapa saudara turut dipanggil bapa; ini direkodkan dalam al-Quran dalam surah al-Baqarah ayat 133, apabila anak-anak Nabi Yaakob ‘alayhis-salam berkata : ‘Kami (akan) menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapa-bapamu (iaitu) Ibrahim, Isma’il dan Ishaq..’. Nabi Isma’il ‘alayhis-salam adalah bapa saudara kepada anak-anak Nabi Yaakob ‘alayhis-salam.
Dan mahram yang disebabkan oleh mushoharah bermaksud mahram yang disebabkan oleh perkahwinan. Contohnya, bapa kepada si suami (bapa mertua) menjadi mahram dan haram berkahwin dengannya selama-lamanya walaupun perempuan tadi telah bercerai dengan suaminya. Begitu juga anak lelaki kepada si suami yang datang daripada isterinya yang lain juga menjadi mahram kepada perempuan tadi. Dan suaminya juga menjadi mahram kepada ibu perempuan.
Inilah serba-sedikit perincian mengenai hukum-hakam dalam menutup aurat. Semoga para wanita Muslimah dapat memahami apakah tuntutan syara’ yang sebenar dalam kewajipan mereka untuk menutup aurat dan semoga setiap butir ilmu ini dijadikan amalan dan praktikal dalam kehidupan seharian. Allahu’alam.
Nabi صلى الله عليه وسلم diantara lain sabdanya :
فقوله صلى الله عليه وسلم : من سلك طريقا يطلب فيه علما سلك الله به طريقا إلى الجنة.
(Man salaka thariiqan yathlubu fiihi 'ilman salakallaahu bihi tharii- qan ilal jannah).
Artinya :"Barangsiapa menjalani suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dianugerahi Allah kepadanya jalan ke sorga".
Bertudung,Jilbab Menurut Islam, Kristen dan Yahudi: Mitos dan Realita
بسم الله الرحمن الر حيم
إن
الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات
أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا
الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران
– الآية: 102
OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURIBertudung,Jilbab Menurut Islam, Kristen dan Yahudi: Mitos dan Realita
Marilah kita buka satu persoalan yang di negara-negara Barat dianggap sebagai simbol dari penindasan dan perbudakan wanita, yaitu jilbab atau tudung kepala.Apakah betul tidak terdapat pembahasan mengenai jilbab di dalam tradisi Jahudi-Kristen?. Mari kita lihat bukti catatan yang ada. Menurut Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya “The Jewish woman in Rabbinic Literature” menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Beliau disana mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: “Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala” dan “Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut isterinya terlihat” dan “Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan”.
Hukum Rabbi melarang pemberian berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya, karena rambut yang tidak tertutup dianggap “telanjang”. Dr. Brayer juga mengatakan bahwa “Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak 400 zuzim untuk pelanggaran tersebut”.
Dr. Brayer juga menerangkan bahwa jilbab bagi wanita Yahudi bukanlah selalu sebagai simbol dari kesopanan. Kadang-kadang, jilbab justru menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya ketimbang ukuran kesopanan. Jilbab atau tudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Jilbab juga diartikan sebagai penjagaan terhadap hak milik suami.
Jilbab menunjukkan suatu penghormatan dan status sosial dari seorang wanita. Seorang wanita dari golongan bawah mencoba menggunakan jilbab untuk memberikan kesan status yang lebih tinggi. Jilbab merupakan tanda kehormatan. Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal 237). Wanita-wanita Yahudi di Eropa melanjutkan menggunakan jilbab sampai abad ke-19 hingga mereka bercampur-baur dengan budaya sekuler. Tekanan eksternal dari kehidupan di Eropa pada abad ke-19, memaksa banyak dari mereka pergi keluar tanpa penutup kepala.
Beberapa wanita Yahudi kemudian lebih cenderung menggantikan penutup tradisional mereka dengan rambut palsu sebagai bentuk lain dari penutup kepala. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang saleh, tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239). Sementara beberapa dari mereka seperti sekte Hasidic, masih menggunakan rambut palsu (Alexandra Wright, 19??, hal 128-129).
Bagaimanakah jilbab menurut tradisi Kristen?
Kita sendiri menyaksikan sampai hari ini bahwa para Biarawati Katolik menutup kepalanya yang suruhannya sebetulnya telah ada semenjak 400 tahun yang lalu. Tetapi bukan hanya itu, St. Paul (atau Paulus) dalam Perjanjian Baru, I Korintus 11:3-10, membuat pernyataan-pernyataan yang menarik tentang jilbab sebagai berikut: “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala Kristus adalah Allah. Tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga mengguting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan dicipt akan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena malaikat”. (I Korintus 11:3-10).
St. Paul memberikan penalaran tentang wanita yang berjilbab atau berkerudung adalah bahwa jilbab memberikan tanda kekuasaan pada laki-laki, yang merupakan gambaran kebesaran Tuhan, atas wanita yang diciptakan dari dan untuk laki-laki. St. Tertulian di dalam risalahnya “On The Veiling Of Virgins” menulis: “Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu.”
Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning, 1974, hal 272). Beberapa golongan Kristen, seperti Amish dan Mennoties contohnya, mereka hingga hari ini tetap mengenakan tutup kepala. Alasan mereka mengenakan tutup kepala, seperti yang dikemukakan pemimpin gerejanya adalah: “Penutup kepala adalah simbol dari kepatuhan wanita kepada laki-laki dan Tuhan,” logika yang sama seperti yang ditulis oleh St. Paul dalam Perjanjian Baru (D. Kraybill, 1960, hal 56).
Dari semua bukti-bukti di atas, nyata bahwa Islam bukanlah agama yang mengada-adakan dan mewajibkan penutup kepala, tetapi Islam telah mendukung hukum tersebut. Al Qur’an memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan yang beriman untuk menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Juga memerintahkan wanita beriman agar memanjangkan penutup kepalanya sampai menutupi leher dan dadanya.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat….. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya” (QS. an-Nuur:30-31)
Di dalam Al Qur’an jelas tertulis bahwa kerudung sangat penting untuk menutup aurat. Mengapa aurat itu penting?. Hal itu dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Ahzab 59: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (QS. al-Ahzab:59)
Pada intinya, kesederhanaan digambarkan untuk melindungi wanita dari gangguan atau mudahnya, kesederhanaan adalah perlindungan.
Jadi, tujuan utama dari jilbab atau kerudung di dalam Islam adalah perlindungan. Kerudung di dalam Islam tidak sama seperti di dalam tradisi Kristen dimana merupakan tanda bahwa martabat laki-laki berada di atas wanita dan merupakan simbolisasi tunduknya wanita terhadap laki-laki. Kerudung di dalam Islam juga bukan seperti di dalam tradisi Yahudi dimana kerudung merupakan tanda keagungan dan tanda pembeda sebagai wanita bangsawan yang menikah. Kerudung di dalam Islam hanya sebagai tanda kesederhanaan dengan tujuan melindungi wanita, tepatnya semua wanita. Pada falsafah Islam dikenali prinsip bahwa selalu lebih baik menjaga daripada menyesal kemudian. Al Qur’an sangat memperhatikan wanita dengan menjaga tubuh mereka dan kehormatan mereka atas pernyataan laki-laki yang berani menuduh ketidaksucian seorang wanita, mereka akan mendapat balasan;
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (mereka yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-Nuur 4)
Bandingkan sikap Al Qur’an yang sangat tegas, dengan hukuman yang sangat longgar bagi pemerkosa di dalam Injil:
“If a man find a damsel that is a virgin, which is not betrothed, and there was none to save her. Then the man that lay with her shall give unto the damsel’s father fifty shekels of silver, and she shall be his wife; because he hath humbled her, he may not put her away all his days” (Deut. 22:28-29).
Terjemahannya: “Jika seorang laki-laki menemui seorang gadis yang tidak dijanjikan untuk dinikahkan kemudian memperkosanya, dia harus membayar sebesar lima puluh shekels perak kepada ayah gadis itu. Laki-laki itu harus menikahi gadis tersebut karena perbuatannya dan dia tidak boleh menceraikannya selama hidupnya” (Ulangan. 22:28-29).
Patut ditanyakan, siapa yang sebenarnya dihukum dalam hal ini?. Orang yang membayar denda karena telah memperkosa ataukah gadis yang dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang memperkosanya dan harus tinggal bersamanya sampai dia mati?. Pertanyaan lainnya: Mana yang lebih melindung seorang wanita sikap tegas Al Qur’an atau sikap kendor moral (lax) daripada Injil?.
Beberapa kalangan, terutama di belahan negara-negara Barat, mungkin cenderung untuk menertawakan bahwa kesederhanaan (modesty) berguna untuk perlindungan. Alasan mereka adalah perlindungan yang terbaik yaitu memperluaskan pendidikan, berperilaku yang sopan, dan pengendalian diri. Kami akan mengatakan: semua itu baik tapi tidak cukup.
Jika tindakan yang ada dipandang perlindungan yang sudah cukup, lalu mengapa wanita-wanita di Amerika Utara saat ini tidak berani berjalan sendirian di kegelapan atau bahkan cemas melewati tempat parkir yang sepi?. Jika pendidikan adalah suatu penyelesaian lalu mengapa Universitas Queen yang terkenal pelayanan pendidikannya terpaksa harus mengantar pulang para mahasiswi di dalam kampus?. Jika pengendalian diri adalah jawabannya, lalu mengapa kasus pelecehan sex di tempat kerja diberitakan di media masa nyaris setiap hari?. Contohnya, yang tertuduh melakukan pelecehan sex dalam beberapa tahun terakhir: para perwira Angkatan Laut, Manager-manager, Professor-professor, Senators, Pengadilan Tinggi (Supreme Court Justices), dan bahkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sendiri !
Saya tercengang saat saya membaca statistik yang ditulis dalam sebuah pamflet yang dikeluarkan oleh Dean of women’s office di Universitas Queen berikut :
* Di Canada, setiap 6 menit ada seorang wanita yang mengalami pelanggaran sexual.
* 1 dari 3 wanita di Canada akan mengalami pelanggaran sexual pada suatu saat dalam kehidupannya.
* 1 dari 4 wanita berada dalam resiko diperkosa atau usaha pemerkosaan dalam kehidupannya.
* 1 dari 8 wanita akan mengalami pelanggaran sexual saat menjadi mahasiswi unitersitas.
* Sebuah penelitian menemukan bahwa 60% dari mahasiswa laki-laki mengatakan mereka akan berbuat pelanggaran seksual jika mereka yakin mereka tidak ditangkap.
Ada sesuatu yang secara fundamental amat sangat keliru di masyarakat kita ini [negara Barat, penerjemah] Suatu perubahan yang radikal sangat perlu dilakukan di dalam gaya hidup dan budaya kita ini. Budaya hidup sederhana (modesty) teramat sangat dibutuhkan.Sederhana dalam berpakaian, dalam bertutur kata, dan dalam sopan santun berhubungan antara pria dan wanita. Kalau perubahan tidak dilakukan, maka angka-angka statistik yang kelabu di atas akan makin suram dari hari ke hari hingga benar-benar semuanya terjerembab dalam kegelapan. Dan sialnya, penanggung beban masyarakat yang paling berat adalah para wanita.
Sesungguhnya kita semua menderita sebagaimana Khalil Gibran (sastrawan Nasrani dari Libanon, penerjemah) pernah mengatakan: “for the person who receives the blows is not like the one who counts them.” (Khalil Gibran, 1960, hal 56). Oleh sebab itu, sebuah masyarakat seperti Perancis yang pernah mengusir seorang gadis dari sekolahnya lantaran si gadis menampilkan kesederhaan dengan mengenakan tudung, sesungguhnya hanyalah tindakan yang mencelakakan masyarakat itu sendiri.
Adalah sebuah ironi maha besar di dalam dunia yang kita tinggali saat ini. Secarik tudung penutup kepala mereka katakan sebagai simbol ‘kesucian’ saat dikenakan oleh seorang biarawati Katolik, padahal dalam ajaran Kristiani hal itu untuk menunjukkan kekuasaan pria. Namun apabila secarik tudung kepala tersebut dikenakan oleh seorang muslimah untuk keperluan melindungi diri, justru dituduh sebagai simbol penindasan pria atas wanita! []
Catatan Redaksi: Artikel berikut adalah salah satu bab dari buku kecil karangan Dr. Sherif Abdel Azeem, seorang professor di Queen University, Ontario, Canada. Judul bukunya (terbitan 1996) adalah Women in Islam versus Women in the Judaeo-Christian Tradition; The Myth and The Reality. Hak Cipta ada pada pengarang dimana beliau mengijinkan untuk penyalinan dan terjemahan sepanjang tidak mengurangi isinya. (muslimdaily.net)
Nabi صلى الله عليه وسلم diantara lain sabdanya :
فقوله صلى الله عليه وسلم : من سلك طريقا يطلب فيه علما سلك الله به طريقا إلى الجنة.
(Man salaka thariiqan yathlubu fiihi 'ilman salakallaahu bihi tharii- qan ilal jannah).
Artinya :"Barangsiapa menjalani suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dianugerahi Allah kepadanya jalan ke sorga".
Rahasia dan Sejarah Hajar Aswad hajar aswad
بسم الله الرحمن الر حيم
إن
الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات
أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا
الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران
– الآية: 102
OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURIRahasia dan Sejarah Hajar Aswad
Hajar Aswad terdiri dari delapan keping yang terkumpul dan diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam itu sudah licin karena terus menerus di kecup, dicium dan diusap-usap oleh jutaan bahkan milyaran manusia sejak Nabi Adam, yaitu jamaah yang datang ke Baitullah, baik untuk haji maupun untuk tujuan Umrah. Harap dicatat bahwa panggilan Haji telah berlangsung sejak lama yaitu sejak Nabi Adam AS. Bahkan masyarakat Jahilliah yang musyrik dan menyembah berhala pun masih secara setia melayani jemaah haji yang datang tiap tahun dari berbagai belahan dunia.
Nenek moyang Rasulullah, termasuk kakeknya Abdul Muthalib adalah para ahli waris dan pengurus Ka’bah. Atau secara spesifik adalah penanggung jawab air zamzam yang selalu menjadi primadona dan incaran para jemaah haji dan para penziarah. Hadist Sahih riwayat Tarmizi dan Abdullah bin Amir bin Ash mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda :
Satu riwayat Sahih lainnya menyatakan:
“ Rukun (HajarAswad) dan makam (Batu/Makam Ibrahim) berasal dari batu-batu ruby surga yang kalau tidak karena sentuhan dosa-dosa manusia akan dapat menyinari antara timur dan barat. Setiap orang sakit yang memegangnya akan sembuh dari sakitnya”
Hadist Sahih riwayat Imam Bathaqie dan Ibnu ‘Abas RA, bahwa Rasul SAW bersabda:
“Allah akan membangkitkan Al-Hajar (Hajar Aswad) pada hari kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar”.
Hadis Siti Aisyah RA mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda:
“Nikmatilah (peganglah) Hajar Aswad ini sebelum diangkat (dari bumi). Ia berasal dari surga dan setiap sesuatu yang keluar dari surga akan kembali ke surga sebelum kiamat”.
Berdasarkan bunyi Hadist itulah antara lain maka setiap jamaah haji baik yang mengerti maupun tidak mengerti akan senantiasa menjadikan Hajar Aswad sebagai ‘target’ berburu …. saya harus menciumnya. Mencium Hajar Aswad!!!.
Tapi apa bisa? Dua juta jemaah, datang dimusim haji secara bersamaan dan antri untuk keperluan dan target yang sama. Begitu padatnya, maka anda harus rela dan ikhlas untuk hanya bisa memberii ‘kecupan’ jarak jauh sembari melafaskan basmalah dan takbir: Bismillah Wallahu Akbar.
Hadis tersebut mengatakan bahwa disunatkan membaca do’a ketika hendak istilam (mengusap) atau melambainya pada permulaan thawaf atau pada setiap putaran, sebagai mana, diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. Artinya:
“Bahwa Nabi Muhammad SAW datang ke Ka’bah lalu diusapnya Hajar Aswad sambil membaca Bismillah Wallahu Akbar”.
Lanjutannya dikisahkan bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa waktu.
RIWAYATNYA
Dalam riwayat lanjutannya bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa lama dan secara ajaib ditemukan kembali oleh Nabi Ismail AS ketika ia berusaha mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka’bah yang masih sedikit kurang. Batu yang ditemukan inilah rupanya yang sedang dicari oleh Nabi Ibrahim AS, yang serta merta sangat gembira dan tak henti-hantinya menciumi batu tersebut. Bahkan, ketika sudah tiba dekat ka’bah, batu itu tak segera diletakan di tempatnya. Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS menggotong batu itu sambil memutari Ka’bah tujuh putaran.
DIANGKUT DENGAN SORBAN MUHAMMAD
Diantara peristiwa penting yang berkenaan dengan batu ini adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah (606 M) yaitu ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, karena keempat kabilah dalam suku Quraisy itu terus bersitegang ngotot pada pendapat dan kehendak masing-masing siapa yang mengangkat dan meletakkan kembali batu ini ketempat semula karena pemugaran Ka’bah sudah selesai.
Akhirnya muncul usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Mukhzumi yang mengatakan
”Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari ini.”
Pendapat sesepuh Quraisy Abu Umayyah ini disepakati. Dan ternyata orang pertama masuk pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun. Menjadi rahasia umum pada masa itu bahwa akhlak dan budi pekerti Muhammad telah terkenal jujur dan bersih sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya).
Muhammad muda yang organ tubuhnya yaitu HATI-nya pernah dibersihkan lewat operasi oleh Malaikat, memang sudah dikenal luas tidak pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji. Lalu apa jawaban dan tindakan Muhammad terhadap usul itu?
Muhammad menuju tempat pernyimpanan Hajar Aswad itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu ditengah-tengah sorban kemudian meminta satu orang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu dan bersama-sama menggotongnya kesudut dimana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang batu itu ketempat semula.
RAHASIA HAJAR AL-ASWAD
Kita semua tahu bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak memberikan mudorat atau manfaat, begitu juga dengan Ka’bah, ia hanyalah bangunan yang terbuat dari batu. Akan tetapi apa yang kita lakukan dalam prosesi ibadah haji tersebut adalah sekedar mengikuti ajaran dan sunnah Nabi SAW. Jadi apa yang kita lakukan bukanlah menyembah Batu, dan tidak juga menyembah Ka’bah.
Umar bin Khatab berkata “Aku tahu bahwa kau hanyalah batu, kalaulah bukan karena aku melihat kekasihku Nabi SAW menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu”
Allah memerintahkan kita untuk Thawaf mengelilingi Ka’bah dan Dia pula yang telah memerintahkan untuk mencium Hajar Aswad. Rasulullah juga melakukan itu semua, dan tentu saja apa yang dilakukan oleh beliau pastilah berasal dari Allah, sebagaimana yang terdapat dalam firmanNya : “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (QS. An-Najm : 53 ) “.
Hajar Aswad berasal dari surga. Batu ini pula yang menjadi fondasi pertama bangunan Ka’bah, dan ia menghitam akibat banyaknya dosa manusia yang melekat disana pada saat mereka melakukan pertaubatan. Tidakkah orang yang beriman merasa malu, jika hati mereka menghitam akibat dosa yang telah dilakukan. Rasulullah bersabda “Ketika Hajar Aswad turun, keadaannya masih putih, lebih putih dari susu, lalu ia menjadi hitam akibat dosa-dosa anak Adam (HR Tirmidzi).
Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.
Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke
luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, di berkata : “Planet Bumi
ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang
menggantungnya ?.”

Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada asalan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.
Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut ( dari Ka’Bah ) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.
Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam. ( Jami al-Tirmidzi al-Hajj (877) )


About these ads
Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada asalan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.
Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut ( dari Ka’Bah ) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.
Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam. ( Jami al-Tirmidzi al-Hajj (877) )
Nabi صلى الله عليه وسلم diantara lain sabdanya :
فقوله صلى الله عليه وسلم : من سلك طريقا يطلب فيه علما سلك الله به طريقا إلى الجنة.
(Man salaka thariiqan yathlubu fiihi 'ilman salakallaahu bihi tharii- qan ilal jannah).
Artinya :"Barangsiapa menjalani suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dianugerahi Allah kepadanya jalan ke sorga".
Langgan:
Catatan (Atom)
