AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Khamis, 3 Oktober 2013

Amalan Tanpa Ilmu Laksana Fatamorgana

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI


Amalan Tanpa Ilmu Laksana Fatamorgana

Allah l berfirman,
“Orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ‘air’ itu, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (an-Nur: 39—40)
Allah l menyebutkan dua permisalan untuk orang-orang kafir, permisalan fatamorgana dan permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ini karena orang-orang yang berpaling dari petunjuk dan kebenaran itu ada dua macam. Salah satunya adalah seseorang yang mengira bahwa dirinya di atas suatu kebenaran, lalu menjadi jelas baginya saat terbukti hakikatnya berbeda dengan apa yang dia kira. Inilah kondisi orang-orang yang bodoh dan kondisi para pengikut bid’ah. Mereka mengira bahwa mereka berada di atas petunjuk dan ilmu. Ketika hakikatnya tersingkap, menjadi jelas bagi mereka bahwa ternyata mereka tidak berada di atas petunjuk. Mereka juga tahu, keyakinan dan amal mereka yang berasal dari ilmu mereka, hanya fatamorgana yang berada di tanah datar, yang terlihat oleh mata yang memandangnya sebagai air padahal tiada nyatanya.
Demikian pula amalan-amalan yang bukan karena Allah l dan tidak berlandaskan perintah-Nya. Si pelaku menyangkanya bermanfaat baginya, padahal tidak demikian. Amalan inilah yang dikatakan oleh Allah l,
“Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)
Coba perhatikan, bagaimana Allah l menjadikan fatamorgana itu di atas tanah yang datar lagi kosong, tidak ada bangunan, pepohonan, dan tumbuhan. Di situlah tempat terjadinya fatamorgana: tanah yang kosong, tidak ada sesuatu. Memang, fatamorgana itu sesuatu yang tidak ada nyatanya. Permisalan ini sesuai dengan amalan dan kalbu mereka yang kosong dari iman dan hidayah.
Perhatikanlah firman-Nya,
“Orang yang dahaga menyangkanya air….”
Artinya, ketika orang yang sangat dahaga melihat fatamorgana, mengiranya sebagai air sehingga ia mengejarnya. Tetapi, ternyata ia tidak mendapatkan apa-apa. Fatamorgana itu menipunya di saat ia sangat membutuhkan air. Demikian juga keadaan mereka. Ketika amal mereka bukan karena taat kepada Rasul n dan bukan karena Allah l, amal mereka dijadikan laksana fatamorgana. Amalan itu akan ditampakkan kepada mereka saat mereka sangat kehausan dan sangat membutuhkannya, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka justru mendapati Allah l yang akan membalasi amal mereka dan akan memenuhi hisab mereka.
Dalam sebuah hadits tentang hari kiamat dalam kitab ash-Shahih, dari hadits sahabat Abu Sa’id al-Khudri z, dari Nabi n,
“Lalu didatangkan Jahannam dan ditampakkan laksana fatamorgana. Dikatakan kepada Yahudi, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka mengatakan ‘Kami dahulu menyembah Uzair, putra Allah.’ Lantas dikatakan kepada mereka, ‘Kalian berdusta. Allah tidak memiliki istri dan anak, lantas apa yang kalian maukan sekarang?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau beri kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan di Jahannam. Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nasrani, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah al-Masih, putra Allah.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Kalian dusta. Allah l tidak memiliki istri atau anak, lantas apa yang kalian inginkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau memberi kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan….”
Inilah kondisi setiap pelaku kebatilan. “Kebaikan” mereka akan mengkhianati mereka saat mereka sangat membutuhkannya, karena kebatilan itu tidak ada nyatanya. Sama dengan namanya, batil (yang dalam bahasa Arab berarti ‘sesuatu yang akan lenyap’), jika sebuah keyakinan tidak sesuai dengan (tuntunan) dan tidak benar, yang terkait dengannya juga batil.
Demikian pula jika tujuan sebuah amalan itu batil, seperti beramal karena selain Allah l atau tidak di atas perintah-Nya, amalnya batil dengan sebab kebatilan tujuannya. Pelakunya akan merasa celaka karena sia-sianya amal tersebut. Ia justru akan mendapatkan kebalikan dari apa yang dia angan-angankan… Ia tersiksa dengan lenyapnya manfaat amalannya dan perolehan yang sebaliknya. Oleh karena itu, Allah l berfirman,
“Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (an-Nur: 39)
Inilah permisalan seseorang yang dia mengira dirinya berada di atas petunjuk.
Macam yang kedua, adalah pemilik permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan petunjuk, namun lebih mengutamakan kegelapan kebatilan dan kesesatan daripada kebenaran tersebut. Akhirnya, menumpuklah kegelapan tabiatnya, kegelapan jiwanya, kegelapan kebodohannya, dan kegelapan kesesatan serta hawa nafsu, yang mereka tidak mengamalkan ilmu mereka sehingga mereka menjadi bodoh.
Keadaan mereka laksana seseorang yang berada di lautan yang dalam lagi tidak bertepi, sementara itu ombak meliputinya. Di atas ombak itu ada ombak lagi. Di atasnya lagi ada awan yang gelap. Jadilah ia berada di kegelapan lautan, kegelapan ombak, dan kegelapan awan. Ini seperti kegelapan yang ia berada padanya. Kegelapan yang Allah l tidak mengeluarkannya darinya menuju cahaya iman.
Dua permisalan ini, permisalan fatamorgana yang dia kira sumber kehidupan, yaitu air, dan permisalan kegelapan-kegelapan yang berlawanan dengan cahaya, mirip dengan permisalan orang-orang munafik dan orang-orang mukmin, yaitu permisalan air dan api. Allah l menjadikan bagian bagi mukminin dari keduanya adalah kehidupan dan cahayanya, sedangkan bagian untuk munafik adalah kegelapan yang merupakan lawan dari cahaya dan kematian yang merupakan lawan dari kehidupan.
Demikian juga orang-orang kafir dalam dua permisalan ini. Bagian mereka hanyalah fatamorgana yang menipu orang yang melihatnya—sesuatu yang tidak ada kenyataannya—dan bagian mereka adalah kegelapan-kegelapan yang berlapis-lapis.
Bisa jadi, maksud ayat ini adalah keadaan salah satu dari kelompok-kelompok orang kafir. Mereka kehilangan sumber kehidupan dan cahaya karena mereka berpaling dari wahyu. Oleh karena itu, dua permisalan ini adalah untuk satu golongan.
Namun, bisa jadi pula, maksudnya adalah macam-macam keadaan orang kafir. Permisalan pertama adalah mereka yang beramal tanpa ilmu, hanya dengan kebodohan dan baik sangka terhadap para pendahulu (nenek moyangnya). Mereka mengira telah berbuat baik. Adapun permisalan kedua adalah bagi yang lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk dan mendahulukan yang batil daripada yang haq. Mereka buta padahal sebelumnya melihatnya. Mereka pun mengingkari padahal sebelumnya mengetahui. Inilah keadaan orang-orang yang dimurkai. Adapun yang pertama adalah keadaan orang-orang yang sesat.








بسم الله الرحمن الر حيم


Kepada Dato’Datin,Tuan Puan,Muslimin  dan Muslimat kami sangat mengalualukan bantuan  bagi membantu usaha yang murni ini bagi membiyayai kos pengurusan Sek.Ren.Islam Darul Thulab yang  menyediakan   kelas Agama dan aktiviti kemasyaraatan dan aktiviti seperti tersebut di atas untuk masyarakat sekitanya khususnya yang kurang berkemampuan, kami sangat mengalu-alukan YAB Dato’Sri untuk memberi pandangan atau buah fikiran untuk kebaikan dan kemajuan Sek.Ren.Islam Darul Thulab untuk masa-masa akan datang,tanpa bantuan Dato’Datin,Tuan Puan,Muslimin  dan Muslimat kami yakin Sekolah ini pada masa akan datang tidak akan terkubur bersama terkuburnya ahli jemaah yang gigih mempertahankan selama ini,kerana tidak mampu membayar sewa bangunan dan lain-lain lagi sekiranya mendapat bantuan dari Darto’Datin,Tuan Puan,Muslimin  dan Muslimat,terima kasih diatas bantuannya Semoga di murahkan Rizki amin .


Bantuan boleh melalui cek berpalang diatas nama “ SEKOLAH AGAMA DARUL THULAB”.atau masukkan terus ke maybank no akaun 564221210758,

atau atas nama PIBG SEK.AGAMA DARUL THULAB”. atau masukkan terus ke AM ISLAMIC BANK BERHAD no akaun 458-088-0202-0002014282.
 
ATAU HUBUNGI TALIAN 012 6172673 (AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB)
/013 2120873( USTAZAH ROSIDAH SENONG)
 

Jauhi Azab dengan Cara Menolak Maksiat




بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Jauhi Azab dengan Cara Menolak Maksiat


Jauhi Azab dengan Cara Menolak Maksiat






SEORANG aktivis Islam Liberal (JIL),  menulis di sebuah akun Twitter mempertanyakan azab Allah Subhanahu Wata’ala kepada kaum Luth. "Kalau memang benar Kaum Luth diazab, kenapa Allah tidak menurunkan azab yang sama di zaman ini?”
Dengan kata lain, ia secara ragu mempertanyakan janji Allah Subhanahu Wata’ala yang tertulis dalam al-Quran Surat Huud tersebut. Sesungguhnya, jika dia memang benar-benar telah bersaksi sebagai seorang, Muslim tentu ia wajib mengimani dan meyakini kebenaran al-Qur’an. Sebab di antara Rukun Islam yang lima, nomor satu adalah; mengucap dua kalimat syahadat yang inti nya menerima bahwa Allah itu tunggal dan Nabi Muhammad itu rasul Allah. Menerima Allah berarti menerima sebua janji Allah yang telah disampaikan melalui al-Quran, di mana yang jelas-jelas menyatakan kaum Luth benar-benar diazab.
فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,” (QS. Huud [11]:82)
وَقَوْمَ نُوحٍ مِّن قَبْلُ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَى
وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى
“Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka. Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah.” (QS. an-Najm [53]:52-53)
إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِباً إِلَّا آلَ لُوطٍ نَّجَّيْنَاهُم بِسَحَرٍ
“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu, kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing,” (QS. al-Qomar [54]:34).
Pertanyaan tokoh JIL di atas paling tidak mengindikasikan dua hal, pertama dia tidak yakin kaum Luth diazab Allah, dan yang kedua —ini adalah tujuan dari pertanyaan tersebut—  dia menjustifikasi dan mempromosikan perbuatan menyimpang homoseksual. Sekali lagi jika dia memang benar-benar Muslim tentu selain meyakini adanya azab terhadap kaum Luth juga berusaha mencegah azab Allah tidak turun bagi dirinya sendiri dan orang lain/orang banyak baik di dunia maupun di akhirat dengan cara tidak menjustifikasi dan mempromosikan perbuatan-perbuatan maksiat.
Memelihara Keluarga
Tak seorangpun mengharapkan azab menimpa diri, keluarga, masyarakat dan bangsanya, untuk itu logis jika menjadi kewajiban setiap diri berusaha menolak dan tidak mendukung dan mempromosikan maksiat agar jauh dari azab karena siksaan Allah tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat maksiat tapi juga orang-orang lain yang baik-baik yang tidak berbuat maksiat.
Karena itulah Allah memerintahkan pada kita menjaga diri agar tidak tergelincir. Perintah ini disampaikan kepada semua pihak, baik yang imannya lemah atau yang mengaku imannya kuat sekalipun.
وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. al-Anfaal [8]:25)
Bukannya justru mendukung maksiat seperti memperkuat statement bahkan mendukung kemaksiatan dengan cara menjaga keamanan dalam acara-acara maksiat yang sedang berlangsung.
Sebagai seorang Mukmin, kita harus punya keyakinan, bahwa azab yang ditimpakan Allah kepada manusia tidaklah terbatas berupa bencana-bencana alam seperti banjir, gempa dan angin kencang, tapi azab Allah juga berupa penghidupan sempit berupa bencana-bencana dalam bidang ekonomi, sosial dan politik seperti yang hingga kini masih melilit diri kita bangsa Indonesia.
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat  dalam keadaan buta".” (QS. Thaahaa [20]:124)
Azab Allah juga berupa musibah-musibah dalam bentuk lain seperti kecelakaan kereta api, jatuhnya pesawat, banjir, gempa dll.
Sepatutnya kepedulian untuk menolak maksiat dan kemunkaran guna menjauhi azab kita jadikan kebiasaan hidup dan menjadi bagian dari gaya hidup kita.  Usaha-usaha kita dalam menolak maksiat dan kemungkaran dengan segala cara dan media menunjukan kualitas keimanan kita. Tidak peduli dan mendiamkannya dengan diiringi perasaan benci saja berarti iman yang kita miliki adalah selemah-lemahnya iman, apatah lagi tidak peduli dan mendiamkannya tanpa diiringi perasaan benci (biasa-biasa saja) atau malah menyukainya, bisa-bisa di dalam hati kita sama sekali tidak ada iman sama sekali. Na’udzubillah min dzalik.
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)
Allah menginformasikan mereka yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah orang-orang yang beruntung. Sebaliknya mereka yang tidak peduli dan tidak melakukan apa-apa adalah orang-orang yang tidak beruntung.
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Hendaklah di antara kalian ada segolongan umat yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran. Dan merekalah termasuk orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3]:104)
Semoga diri dan keluarga kita terhindar dari kemaksiatan dan fitnah zaman ini. Serta dijauhkan dari siksa dan azab Allah.*

Rabu, 2 Oktober 2013

HUKUM ZAKAT PENGHASILAN MENURUT ISLAM

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

HUKUM ZAKAT PENGHASILAN MENURUT ISLAM



Zakat adalah salah satu rukun Islam yang utama. Instrumen penting yang kerap disandingkan dengan perintah shalat dan memiliki banyak dimensi.

Zakat yang secara bahasa berarti berkembang atau suci itu diberlakukan dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Mulai dari objek wajib zakat, kadar, batas kewajiban, dan subjek pendistribusian zakat.

Satu di antara persoalan zakat kontemporer ialah pelaksanaan zakat penghasilan atau profesi. Baik penghasilan yang diperoleh secara rutin, seperti gaji karyawan swasta, pejabat negara, maupun penghasilan tidak rutin, seperti dokter, pengacara, konsultan, penceramah, dan sejenisnya, serta penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Prof Ballah Al Hasan Umar Musa’id dalam makalahnya berjudul “Zakat Ar Rawatib wa Al ujur wa Iradat Al Mihan Al Hurrat” mengatakan, permasalahan ini mengemuka karena memicu rentetan pertanyaan. Persoalan paling mendasar ialah, ada atau tidakkah legalitas perintah zakat jenis ini dalam tuntunan zakat yang diajarkan Rasulullah?

Ballah lantas menguraikan topik ini dalam karyanya yang dipublikasikan di Majalah Universitas King Saud, Arab Saudi. Menurutnya, secara umum inti persoalannya ialah ketiadaan dalil yang dengan tegas mewajibkan jenis zakat ini.

Karenanya, praktik zakat profesi pun tidak didapati semasa Rasulullah. Pangkal perbedaan kemudian juga timbul ketika menganalogikan (qiyas) jenis ini dengan zakat al mal al mustafad.

Menurut Ballah, terkait zakat profesi muncul opsi pandangan dari sejumlah pakar fikih terkemuka. Syekh Muhammad Al-Ghazali berpendapat, zakat ini wajib dikeluarkan. Argumentasinya merujuk pada Surah Al-Baqarah 267 yang berlaku umum. Secara logika, bila seorang petani saja dibebankan berzakat, seyogianya zakat profesi diwajibkan.
 Pendapat serupa juga disampaikan oleh deretan nama pakar tersohor, yakni Syekh Abdurrahman Hasan, Muhammad Abu Zahrah, dan Abdul Wahab Khalaf. 
Zakat itu wajib dikeluarkan bila telah mencapai haul (satu tahun) dan cukup nishab-nya (kadar wajib zakat). 
Syekh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya, Fiqh Az-Zakat, juga berpandangan sama. Menurutnya, kewajiban zakat profesi bisa disejajarkan dengan hukum zakat al mal al mustafad. Almarhum Prof Husain Syahatah, guru besar Fikih Universitas Al-Azhar, Mesir, berpendapat sama. 
Pendapat ini juga diserap oleh Lembaga Fatwa Kerajaaan Arab Saudi pada 1392 H. Kongres Zakat Internasional pertama yang digelar 1984 mufakat, zakat profesi wajib hukumnya. Fatwa ini juga diadopsi di sejumlah negara, seperti Kuwait dan Sudan. 
Ballah juga menyebut opsi pendapat ke dua. Hanya saja, tidak diketahui secara pasti ulama kontemporer mana sajakah yang condong pada opsi terakhir ini, yaitu pendapat yang menyatakan zakat jenis ini tak wajib dikeluarkan. 
Prof Kautsar Al-Abji dalam bukunya berjudul “Muhasabat Az Zakat wa Ad Dharaib fi Daulat Al Imarat Al Arabiiyah”, sekadar mengisyaratkan opsi ini ada tanpa menyebut pasti siapa. Beberapa argumentasi yang dijadikan dasar kelompok ini ialah fakta bahwa jenis zakat tersebut tidak pernah dicontohkan pada zaman Rasulullah. 
Kedua, qiyas terhadap zakat al mal mustafad dinilai tidak tepat. Di satu sisi, pemberlakuan zakat ini nyaris sama dengan kosep pajak dalam sistem konvensional. Dan, hal ini tidak diperbolehkan dalam konsep Islam. 
Nishab 
Terkait batas wajib kena zakat penghasilan, Ballah menuturkan muncul silang pendapat dari kalangan yang mewajibkannya. 
Opsi pertama mengatakan nishabnya disamakan dengan zakat pertanian. Yaitu, bila penghasilan yang bersangkutan mencapai 653 kg hasil bumi, telah wajib zakat. 
Menurut pendapat kedua, nishabnya sama dengan zakat harta kekayaan ialah sebesar 85 gram emas. Sedangkan pendapat yang kedua membedakan antara zakat profesi rutin dan tidak rutin. 
Untuk profesi rutin, nishabnya 85 gram, sementara profesi tak rutin disamakan dengan zakat pertanian, yaitu 653 kg. Namun, kata Ballah, ada hal yang penting diketahui.
Sejalan dengan pendapat Syekh Qaradhawi, zakat ini diambil dari penghasilan netto. Artinya, penghasilan yang ia peroleh dikurangi dengan kebutuhan-kebutuhan wajib sehari-hari atau tuntutan utang yang mendesak dibayar. 
MUI 
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dikeluarkan pada 2003, juga menyatakan hukum zakat jenis ini ialah wajib. Ketentuannya selama penghasilan tersebut halal dan telah mencapai nishab dalam satu tahun. Nishab yang dirujuk fatwa MUI ialah 85 gram emas.
Terkait waktu, menurut fatwa ini zakat da pat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab. Bila belum mencapai nishab, semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun. Kemudian, zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya telah cukup nishab. Sedangkan, kadar zakat yang wajib dikeluarkan adalah 2,5 persen.

Bab zakat dalam rukun Islam
عَنْ عَبَدِاللهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
بُنِىَ الاسْلَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ
أَنْ لا إِلَهَ الا اللهُ وَأَنَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ
وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Dari Abdullah b. Umar katanya :
"Bersabda Rasulullah s.a.w. : "Islam itu dibina atas lima perkara
dua kalimah syahadat, menegakkan sembahyang, mengeluarkan
zakat, mengerjakan haji dan berpuasa bulan Ramadhan".
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab zakat diperintahkan Rasulullah s.a.w.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ قَالَ قَدِنَ وَفْدُ عَبْدِالْقَيْسِ
عَلَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا هَذَا الْحَىَّ مِنْ رَبِيْعَةَ
وَقَدْ حَالَتْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ كفارُ نُضَرَ فَلا نَخْلُصُ
اِلَيْكَ إِلا فِى شَهْرِ الْحَرَامِ فَمُرْنَا بِأَمْرٍ نَعْمَلُ بِهِ
وَنَدْعُو إِلَيْهِ مَنْ وَرَاءَ مَا قَالَ آمُرُكُم بِاَرْبَعٍ
وَأَنَّهَا كُمْ عَنْ أَرْبَعٍ الِايْمَانِ بِاللهِ
ثُمَّ فَسَرَهَا لَهُمْ فَقَالَ شَهَادَةِ
أَنْ لا إِلَهَ الا اللهُ وَأَنَ مُحَمَّدًا رَسُولُهُ
وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَأَنْ تُؤَدُّوا خُمُسَ مَا
غَنِنْتُمْ وَأَنَّهَا كُمْ عَنِ الدُّبَاءِ وَالْحَنْتَمِ
وَالنَّقِيْرِ وَالْمُقَيَّرِ
Dari Ibnu Abbas r.a. katanya :
"Rasulullah s.a.w. dikunjungi oleh deleasi Abdulqais
kata mereka itu: "Kamin ini dari perkampungan suku Rabi'ah
antara tenpat kami dengan tuan (Madinah) dibatasi oleh
kaum Mudhar yang masih kafir. Dan kami tak dapat
sampai kepada tuan kecuali pada bulan-bulan haram.
Oleh sebab itu perintahkanlah kami dengan suatu
kewajipan untuk kami kerjakan sendiri dan mengajak
kaum kami kepadanya". Kata Rasulullah s.a.w. :
"Kuperintahkan kepada empat perkara : Keimanan
kepada keesaan Allah dan mengakui Kerasulan
Muhammad, Mendirikan Sembahyang, mengeluarkan
zakat dan menyerahkan seperlima dari harta rampasan
perang. Dan kamu kularang dari pembuatan arak
di dalam labu, guci, pasu kayu dan di dalam wadah
yang dicat dengan tar".
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab Rukun Islam
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
 قَالَ  سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ :
 بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ :
شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ
وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ
رواه الترمذي ومسلم
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al- Khottob r.a. dia berkata :
 Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda :
 "Islam dibangun diatas lima perkara;
 Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad utusan Allah,
 menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan."
 Hadis sahih Riwayat Turmuzi dan Muslim
Bab terima amil zakat dengan baik
عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِاللهِ قَالَ جَاءَ نَاسٌ
مِنَ الاعْرَابِ إِلَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
فَقَالُوا اِنَّ نَاسًا مِنَ الْمُصَدِّقِيْنَ يَأتُونَنَا فَيَظْلِمُو نَنَا
قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
اَرْضُوا مُصَدِّقِيْكُمْ
Dari Jabir bin Abdillah katanya :
"Datang beberapa orang Arab dusun kepada Rasulullah s.a.w.
dan mengatakan : "Sesungguhnya beberapa amil zakat (petugas)
datang kepada kami dan mereka tidak bersikap jujur kepada kami."
Rasulullah s.a.w. menjawab :
"Bersikap baiklah kepada petugas-petugas zakat itu!."
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab balasan tidak mengeluarkan zakat
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
مَا مِن صَاحِبِ مَالٍ لا يُؤَدِّى زَكَاتَهُ اِلا تَحَوَّلَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
شُجَاعًا أَقْرَعَ يَتْبَعُ صَاحِبَهُ حَيْثُمَا ذَهَبَ وَهُوَ يَفِرُّمِنْهُ
وَيُقَالَ هذَا مَالُكَ الَّذِى كُنْتَ تَبْخَلُ بِهِ فَإِذَارَأىَ
أَنَّهُ لا بُدَّمِنْهُ اَدْخَلَ يَدَهُ فِى فِيْهِ
فَجَعَلَ يَقْضَمُهَا لَمَا يَقْضَمُ الْفَحْلُ
Dari Jabir bin Abdillah r.a. katanya
Rasulullah s.a.w. bersabda :
"Setiap orang yang mempunyai kekayaan dan tidak membayar zakatnya
nanti di hari kiamat kekayaannya menjadi seekor ular besar yang berbisa
Ular tadi mengikut orang empunya kekayaan itu kemana dia pergi
sedang orang itu melarikan diri daripadanya.
Lalu dikatakan kepadanya :
Inilah hartamu yang kamu sangat bakhil (mengeluarkan zakat)
Setelah orang itu mengetahui bahawa dia tidak dapat melarikan dirinya
lalu dimasukkan tangannya ke dalam mulut ular itu.
Digigit orang itu seperti unta jantan yang menggigit."
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab zakat sepersepuluh dan seperdua puluh
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
 فِيمَا سَقَتْ الْأَنْهَارُ وَالْغَيْمُ الْعُشُورُ وَفِيمَا سُقِيَ بِالسَّانِيَةِ نِصْفُ الْعُشْرِ
Dari Jabir bin Abdullah r.a. katanya
Rasulullah s.a.w. bersabda :
"Tanaman yang diairi sungai dan hujan, zakatnya sepersepuluh dan
yang diairi dengan onta (yang memutar kincir air) zakat seperdua puluh
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab hamba juga bayar zakat
عَنْ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ
 قَالَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 قَالَ لَيْسَ فِي الْعَبْدِ صَدَقَةٌ إِلَّا صَدَقَةُ الْفِطْرِ
Dari Abu Hurairah r.a. katanya:
"Rasulullah s.a.w. bersabda :
"Hamba sahaya tiada berkewajiban membayar zakat
selain zakat fitrah
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab jangan cepat menuduh orang enggan berzakat
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
 بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 عُمَرَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَقِيلَ مَنَعَ ابْنُ جَمِيلٍ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَالْعَبَّاسُ
عَمُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللَّهُ
وَأَمَّا خَالِدٌ فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا قَدْ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ
وَأَعْتَادَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا الْعَبَّاسُ فَهِيَ عَلَيَّ وَمِثْلُهَا مَعَهَا
 ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرُ أَمَا شَعَرْتَ أَنَّ عَمَّ الرَّجُلِ صِنْوُ أَبِيهِ
Dari Abu Hurairah r.a. katanya :
"Rasulullah s.a.w. mengutus Umar untuk mengumpulkan sedekah (zakat)
lalu ada yang mengatakan : "Ibnu Jamil, Khalid bin Walid dan Abbas
paman Rasulullah s.a.w enggan membayar zakat.
Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab : Yang menyebabkan Ibnu Jamil
yang enggan memberikan zakat hanyalah kerana dia dahulunya
seorang miskin. Kemudian Allah memberikan kepadanya kekayaan
Adapun kamu Khalid , kamu tidak jujur kepadanya
(menuduhnya dengan tiada beralasan) pada hal seluruh susu ternaknya
dan alat senjatanya dilah dipergunakannya untuk perjuangan di jalan Allah.
Adapun 'Abbas zakatnya menjadi tanggunan ku dan selanjutnya begitu
Kemudian itu Nabi s.a.w. berkata :
"Hai Umar! Bukankah engkau sudah mengetahui, bahawa paman
seseorang itu adalah cabang (belahan) bapaknya?"
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab zakat fitrah satu gantang
عَنْ ابْنِ عُمَرَ
 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ
 صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنْ الْمُسْلِمِينَ
Dari Imbu Umar r.a. (menceritakan):
"Bahawa Rasulullah s.aw. mewajibkan zakat fitrah di bulan Ramadhan kepada
orang banyak, sebanyak satu gantang kurma atau satu gantang jagung
untuk setiap orang meredeka dan hamba sahaya lelaki dan perempuan kaum muslimin".
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab kadar zakat fitrah
عَنْ ابْنِ عُمَرَقَالَ
 فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا
 مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ حُرٍّ صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ
Dari Ibnu umar r.a. katanya :
Rasulullah s.a.w. mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu gantang
kurma atau satu gantang jagung untuk setiap hamba sahaya
atau orang merdeka, yang kecil atau yang besar".
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab tanaman yang perlu berzakat
عَنْ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُ
 كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
 أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ
Dari Abu Sa'id A Khudri r.a. katanya :
Pernah kamu mengeluarkan zakat fitrah sebanyak satu gantang kurma
atau satu gantang keju atau satu gantang anggur kering
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab zakat antara amalan membawa ke syurga
عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
 أَنَّ رَجُلاَ قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ قَالَ مَا لَهُ مَا لَهُ
 وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 أَرَبٌ مَا لَهُ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
 وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ
Dari Musa bin Thalhah dari Abu Ayyub r.a.
Bahawasanya ada seorang lelaki berkata kepada Nabi s.a.w.
"Beritahu aku  suatu amalan yang dapat memasukkan aku kedalam syurga"
Orang banyak sama-sama berkata :
"Apakah yang ia miliki? Apakah yang ia punyai?"
Nabi s.a.w. bersabda :
"Agaknya apa yang ditanyakan oleh orang itu penting sekali baginya.
Yang dapat memasuki kamu ke dalam syurga ialah
menyembah (mengabdikan diri) kepada Allah
dan jangan mensyirikkanNya dengan segala sesuatu
dan mendirikan solat dan menunaikan zakat
dan mempereratkan hubungan kekeluargaan
Hadis sahih riwayat Bukhari
Bab amalan-amalan ahli syurga
عَنْ وُهَيْبٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدِ بْنِ حَيَّانَ
عَنْ أَبِي زُرْعَةَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
 أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 فَقَالَ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ
 قَالَ تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوبَةَ
وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ
قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا فَلَمَّا وَلَّى
 قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا
Dari Wuhaib dari Yahya bin Said bin Hayyan dari Abu Zar'ah
dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya seorang Arab yakni orang yang
tinggal di pedalaman datang kepada Nabi s.a.w.
lalu ia berkata : "Tunjukkanlah kepadaku perihal satu amalan
yang apabila aku kerjakannya, maka aku dapat masuk syurga"
Bersabda (Nabi s.a.w) :
"Hendaklah menyembah Allah dan jangan mensyirikkanNya dengan sesuatu
dan mendirikan solat yang diwajibkan dan menunaikan zakat yang diwajib
jika sudah berkemampuan mengerluarkannya
danberpuasa dalam bulan Ramadhan"
Orang itu lalu berkata : "Demi Zat yang jiwaku ada di dalam
gengaman dan kekuasaanNya aku tidak akan menambahkan dari apa
yang diwajibkan itu padaku
Setelah orang itu kembali meningalkan beliau s.a.w.
kemudian beliau s.a.w. bersabda :
"Barangsiapa yang suka kalau melihat seseorang yang termasuk
dalam golongan ahli syurga, maka hendaklah dia melihat atau
memerhatikan kepada orang itu tadi"
Hadis sahih riwayat Bukhari
Bab 4 perkara yang dituntut dan 4 yang dilarang
عَنْ حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا أَبُو جَمْرَةَ قَالَ
 سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ
 قَدِمَ وَفْدُ عَبْدِ الْقَيْسِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذَا الْحَيَّ مِنْ رَبِيعَةَ قَدْ حَالَتْ بَيْنَنَا
 وَبَيْنَكَ كُفَّارُ مُضَرَ وَلَسْنَا نَخْلُصُ إِلَيْكَ اِلاَّ فِي الشَّهْرِ الْحَرَامِ
 فَمُرْنَا بِشَيْءٍ نَأْخُذُهُ عَنْكَ وَنَدْعُو إِلَيْهِ مَنْ وَرَاءَنَا
 قَالَ آمُرُكُمْ بِأَرْبَعٍ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ أَرْبَعٍ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ
وَشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَعَقَدَ بِيَدِهِ هَكَذَا
وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَأَنْ تُؤَدُّوا خُمُسَ مَا غَنِمْتُمْ
وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الدُّبَّاءِ وَالْحَنْتَمِ وَالنَّقِيرِ وَالْمُزَفَّتِ
Dari Hammad bin Zaid berkata : "Kami diberitahu oleh Abu Jamrah katanya:
"Aku mendengar Ibnu Abbas r.a. berkata:
"Ada tamu datang kepada Nabi s.a.w. iaitu Abdul Qais yakni ketua dari
satu kabilah dan ia datang bersama-sama beberapa anak buahnya.
Mereka lalu berkata:
"Ya Rasulullah ! sesungguhnya kabila kita ini antara tempat kita dengan
tempat anda terhalang oleh kaum kafir dari kabilah Mudlar.
Jadi kita sukar untuk mendatangi tempat anda sewaktu-waktu
Kita tidak dapat sampai kemari kepada anda melainkan dalam bulan suci
Oleh sebab itu berikanlah kita semua perintah perihal sesuatu
yang dapat kita terima pada saat ini dan dapat pula kita mengajak
orang-orang dibelakang kita( orang yang tidak ikut menghadap
serta orang-orang yang sesudah kita meninggal dunia)
Sabda Nabi s.a.w. :
"Aku perintahkan kamu empat perkara dan melarang kamu
empat perkara, beriman kepada Allah iaitu
bersaksikan tiada tuhan melainkan Allah dan beliau s.a.w.
menyimpulkan tangannya demikian, (tangan kanan digengam
lalu dibuka satu persatu). (Seterusnya Nabi s.a.w. berkata : )
"Aku juga memerintahkan kamu mendirikan solat dan menunaikan zakat
dan supaya kamu memberikan seperlima dari harta rampasan yang
kamu peroleh untuk kepentingan Islam. Mengenai yang ku larang
ialah duba' hantam, naqir dan muzaffat."
Hadis sahih riwayat Bukhari
Bab bai'at menunaikan zakat dan solat
بَاب الْبَيْعَةِ عَلَى إِيتَاءِ الزَّكَاةِ
 فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوْا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ
Firman Allah :
"Jakalau mereka itu sudah bertaubat, mahu mendirikan solat dan menunaikan zakat
maka mereka itu adalah saudara-saudaramu dalam memeluk agama (Islam)
عَنْ إِسْمَاعِيلُ عَنْ قَيْسٍ قَالَ قَالَ جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ
 بَايَعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
Dari Ismail dari Qais, katanya : Jabir bin Abdullah berkata :
"Aku membai'at Nabi s.a.w. untuk mendirikan solat, menunaikan zakat
dan memberi nasihat kepada setiap orang Islam
Hadis sahih riwayat Bukhari
Bab azab enggan berzakat
بَاب إِثْمِ مَانِعِ الزَّكَاةِ وَقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى
 وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
 فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ
فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ
هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
 
Firman Allah Taala
Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan enggan menafkahkannya
untuk kepentingan agama Allah (yakni tidak dipergunakan untuk kebaikan
bersama serta tidak mengeluarkan zakat)
maka beritakanlah kepada mereka bahawa mereka akan
mendapat siksaan yang pedih.
Pada hari itu semua yakni emas dan perak tadi dibakar dineraka Jahanam,
lalu diseterikalah dengan harta simpanannya dahi, rusuk dan punggung-punggung
meeka. Kerana mereka itu dikatakanlah,
"Inilah yang kamu simpan untuk dirimu sendiri sewaktu didunia dahulu.
Maka dari itu rasakanlah olehmu semua siksa ini sebagai akibat
dari segala sesuatu yang kamu semua simpan dulu"
حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ
حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ هُرْمُزَ الْأَعْرَجَ
  حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
 قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 تَأْتِي الْإِبِلُ عَلَى صَاحِبِهَا عَلَى خَيْرِ
 مَا كَانَتْ إِذَا هُوَ لَمْ يُعْطِ فِيهَا حَقَّهَا تَطَؤُهُ بِأَخْفَافِهَا
وَتَأْتِي الْغَنَمُ عَلَى صَاحِبِهَا عَلَى خَيْرِ
 مَا كَانَتْ إِذَا لَمْ يُعْطِ فِيهَا حَقَّهَا تَطَؤُهُ بِأَظْلَافِهَا
 وَتَنْطَحُهُ بِقُرُونِهَا وَقَالَ وَمِنْ حَقِّهَا أَنْ تُحْلَبَ عَلَى الْمَاءِ
 قَالَ وَلاَ يَأْتِي أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِشَاةٍ يَحْمِلُهَا عَلَى رَقَبَتِهِ لَهَا
 يُعَارٌ فَيَقُولُ يَا مُحَمَّدُ فَأَقُولُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ بَلَّغْتُ
 وَلاَ يَأْتِي بِبَعِيرٍ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ لَهُ رُغَاءٌ فَيَقُولُ يَا مُحَمَّدُ
فَأَقُولُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا قَدْ بَلَّغْتُ
Dari Abu Zanad bahawasanya Abdurrahman bin Hurmuz A'raj
memeberitahu kepadanya , ia mendengan Abu Hurairah r.a. berkata
Nabi s.a.w. bersabda :
"Unta ini akan datang pada orang yang memilikinya yakni pada hari kiamat
dan unta tadi yang tidak dikeluarkan zakat dalam keadaan sebaik-baiknya.
Jadi sekalipun waktu didunia kurus dan jelek tetapi diakhirat diubah
menjadi gemuk danbaik. Oleh sebab haknya tidak dipenuhi lalu sebagai
siksaannya ialah bahawa orang yang tidak mengeluarkan zakat wajibnya akan
dipijak-pijak oleh unta tadi dengan kuku-kuku yang ada dikakinya
dan demikian pula halnya dengan kambing, kambing-kambing itu akan
datang kepada orang yang memilikinya dalam keadaan yang baik,
apabila sewaktu di dunia tidak diberikan haknya yakni zakat
yang wajib. Pemiliknya akan dipijak-pijak dengan kuku-kuku
kakinya dan ditanduk dengan tanduknya
Nabi s.a.w. meneruskan sabdanya :
"Di antara haknya binatang-binatang tersebut ialah supaya diperah susunya di dekat air"
(maksudnya ialah agar susunya itu dapat diberikan kepada kaum fakir miskin, sebab
ditempat-tempat air itu mereka jadikan tempat berkumpul dan memang
begitulah keadaannya)
Nabi s.a.w. bersabda lagi:
"Pada hari kiamat nanti, janganlah hendaknya ada seorangpun di antara kamu
semua dari golongan kaum muslimin yang datang kepada ku dengan
memikul kambing dilehernya lalau kambing itu terus menerus meraung
(mengembik keras-keras) kemudian berkata kepadaku :
"Hai Muhammad" (dengan tujuan meminto pertolongan kepadaku sebagai Nabi)
Aku pun berkata :
"tiada sesuatu kuasaan sedikitpun yang kupunyai untuk memberikan pertolongan
kepadamu. Aku benar-benar telah menyampaikan akan ada peristiwa ini
kepada sesiapa pun jua. Begitulah juga janganlah ada di antara kamu semua
yang datang dengan memikul unta dilekernya, lalu unta itu terus menerus maraung,
kemudian berkata kepadaku: "Hai Muhammad". Aku menjawab :
"tidak sesuatu kekuasaan sedikitpun yang ku punyai untuk memberikan
pertolongan kepadamu. Aku telah benar-benar menyampaikan akan
peristiwa ini kepada sesiapapun juag
Hadis sahih riwayat Bukhari
Bab memerangi orang yang enggan berzakat
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
 قَالَ لَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنْ الْعَرَبِ
فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ
 وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
فَمَنْ قَالَهَا فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ
وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ
فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ
وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا
 إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا
 قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَوَاللَّهِ مَا هُوَ
 إِلَّا أَنْ قَدْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ
Dari 'Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud
bahawasanya Abu Hurairah r.a. berkata :
"Ketika Rasulullah s.a.w. wafat dan yang menjadi penggantinya (khalifah)
ialah Abu Bakar r.a. Ketika itu kembali menjadi kafirlah manusia yang
menyukai kekafiran yakni golongan dari bangsa Arab.
Kemudian Umar r.a. berkata :
"Bagaimanakan anda dapat anda memerangi untuk mengikis habis
orang banyak, padahal Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
"Aku diperintah untuk memerangi manusia, sehingga mereka
mengucapkan 'Tiada Tuhan yang disembah selain Allah'
Maka barang siapa yang mengucapkannya, maka benar-benar
 telah terpelihara lah daripadaku perihal harta dan jiwanya,
melainkan dengan haknya yakni dengan hak Islam
-misalnya membunuh orang lain yang diharamkan hukumnya,
tidak mahu solat, mengeluarkan zakat pada hal sudah
berkewajiban dan lain-lain lagi -
dan hisabnya terserah kepada Allah"
(Jadi tujuan ucapan Umar r.a. itu telah menanyakan dasar apa
yang digunakan untuk memerangi kaum yang kembali kufur sepeninggalan
Nabi s.a.w. yang enggan mengeluarkan zakat itu)
Mendengar itu Abu bakar r.a. berkata :
"Demi Allah, Nescaya betul-betul akan kuperangi orang yang
memisah-misahkan antara solat dan zakat
(yakni yang suka mengerjakan solat , namun enggan berzakat
sebab sesungguhnya zakat hanya harta - jadi bagaimana solat hanya tubuh
Demi Allah, andaikata mereka menolak untuk memberikan
seekor kambing betina yang dahulunya mereka mahu memberikannya
kepada Rasulullah s.a.w. nescaya aku akan memeranginya sebab
menolak memberikan kepadaku sebagai khalifah"
Umar r.a. lalu berkata :
"Demi Allah , hal itu tiada lain hanyalah kerana Allah telah melapangkan dada
Abu Bakar r.a. yakni untuk memerangi orang-orang yang enggan memberikan
zakat itu. Akhirnya aku pun mengetahui bahawa Abu Bakar r.a. adalah
benar tindakannya"
Hadis sahih riwayat Bukhari
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 إِذَا أَتَاكُمْ الْمُصَدِّقُ فَلْيَصْدُرْ عَنْكُمْ وَهُوَ عَنْكُمْ رَاضٍ
Dari Jarir bin Abdullah r.a. katanya :
Rasulullah s.a.w. bersabda :
"Apabila datang kepada kamu orang yang bertugas mengumpul sedekah,
hendaklah dia kembali pulang, hendaklah dia merasa senang kepada kamu"
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab mendokan pemberi sedekah
عَنْ  عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى قَالَ
 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ
 فَأَتَاهُ أَبِي أَبُو أَوْفَى بِصَدَقَتِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى
Dari Abdullah bin Abu Aufa r.a. katanya :
"Pernah Rasulullah s.a.w. apabila satu kaum datang membawa sedekah mereka
beliau mendoakan : "Ya Allah! Berilah mereka rahmat"
Abu Aufa datang membawa sedekahnya lalu beliau mendoakan :
"Ya Allah, berikanlah keluarga Abu Aufa rahmat"
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab Rasulullah s.a.w. terima hadiah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَانَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ أَكَلَ مِنْهَا
 وَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا
Dari Abu Hurairah r.a. (menceritakan)
"Bahawa Nabi s.a.w. apabila dihidangkan makanan kepada beliau
ditanyakan. Kalau dikatakan "Hadiah" beliau makan sebahagiannya
Tetapi kalau dikatakan "Sedekah", tidak beliau makan."
Hadis sahih riwayat Muslim
Sedekah Nabi s.a.w. telah sampai
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ
 بَعَثَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 بِشَاةٍ مِنْ الصَّدَقَةِ فَبَعَثْتُ إِلَى عَائِشَةَ مِنْهَا بِشَيْءٍ
 فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِلَى عَائِشَةَ قَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ
قَالَتْ لَا إِلَّا أَنَّ نُسَيْبَةَ بَعَثَتْ إِلَيْنَا مِنْ الشَّاةِ
الَّتِي بَعَثْتُمْ بِهَا إِلَيْهَا قَالَ إِنَّهَا قَدْ بَلَغَتْ مَحِلَّهَا
Dari Ummu 'Athiah r.a. katanya :
Rasulullah s.a.w. mengirim kepada saya kambing sedekah.
Lalu bahagianya saya kirimkan kepada 'Aisyah.
Setelah Rasulullah s.a.w. datang kepada 'Aisyah
beliau bertanya : "Adakah kamu mempunyai makanan agak sedikit?
Aisyah menjawab : "Tidak ada, hanya Nusaibah (Ummu Athiah)
mengirimkan kepada kita kambing dari yang engkau kirimkan
kepadanya" beliau s.a.w. berkata :
"Sesungguhnya sedekah itu telah sampai ke tempatnya."
Hadis sahih riwayat Muslim
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
 كَانَتْ فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ قَضِيَّاتٍ كَانَ النَّاسُ يَتَصَدَّقُونَ عَلَيْهَا
 وَتُهْدِي لَنَا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 فَقَالَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَلَكُمْ هَدِيَّةٌ فَكُلُوهُ
Dari 'Aisyah r.a. katanya :
"Berkenaan dengan Barirah telah terjadi tiga peristiwa.
Banyak orang yang telah bersedekah kepadnya dan dihadiahkannya
kepada kami. Lalu hal itu saya beritakan kepada Nabi s.a.w.
Beliau s.a.w. menjawab sedekahkan kepada Barirah dan
kamu memperoleh hadiah dari pahalanya."
Hadis sahih riwayat Muslim
عَنْ قَتَادَةَ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ
 أَهْدَتْ بَرِيرَةُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 لَحْمًا تُصُدِّقَ بِهِ عَلَيْهَا فَقَال هُوَ لَهَا صَدَقَةٌ وَلَنَا هَدِيَّةٌ
Dari Anas bin Malik r.a. katanya :
"Barirah menghadiahkan kepada Rasulullah s.a.w. daging yang
disedekahkan orang kepadanya" Nabi berkata :
"Daging itu sedekah kepada Barirah dan (dari Barirah) hadiah kepada kita"
Hadis sahih riwayat Muslim
عَنْ أَبِيهِ سَعْدٍ
 أَنَّهُ أَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 رَهْطًا وَأَنَا جَالِسٌ فِيهِمْ قَالَ فَتَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 مِنْهُمْ رَجُلًا لَمْ يُعْطِهِ وَهُوَ أَعْجَبُهُمْ إِلَيَّ فَقُمْتُ
 إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَسَارَرْتُهُ
فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ عَنْ فُلَانٍ
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَاهُ مُؤْمِنًا قَالَ أَوْ مُسْلِمًا
 فَسَكَتُّ قَلِيلًا  ثُمَّ غَلَبَنِي مَا أَعْلَمُ مِنْهُ
فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ عَنْ فُلَانٍ
 فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَاهُ مُؤْمِنًا قَالَ أَوْ مُسْلِمًا
  فَسَكَتُّ قَلِيلًا ثُمَّ غَلَبَنِي مَا أَعْلَمُ مِنْهُ
 فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ عَنْ فُلَانٍ
 فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَاهُ مُؤْمِنًا قَالَ أَوْ مُسْلِمًا
 قَالَ إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ خَشْيَةَ
 أَنْ يُكَبَّ فِي النَّارِ عَلَى وَجْهِهِ
Dari Sa'id r.a katanya
Rasulullah s.a.w. memberikan sedekah kepada beberapa orang
dan saya duduk bersama mereka. Rasulullah s.a.w.  meninggalkan seorang
lelaki di antaranya sedang beliau tidak memberinya,
orang itu lebih saya kagumi di antara mereka
Lalu saya berdiri mendekati Rasulullah s.a.w. dan membisikkan
kepada beliau, mengatakan :
 "Ya Rasulullah ! Mengapakah si Anu tidak engkau beri?
 Demi Allah , sesungguhnya saya melihatnya seorang yang beriman atau seorang Islam!
Kemudian saya diam sebentar dan sesudah itu perasaan saya didesak
oleh apa yang saya ketahui tentang lelaki itu. Lalu saya mengatakan lagi :
 "Ya Rasulullah ! Mengapakah si Anu tidak engkau beri?
 Demi Allah , sesungguhnya saya melihatnya seorang yang beriman atau seorang Islam!
Sesudah itu saya diam sebentar,
kemudian perasaan saya didesak oleh apa yang saya ketahui tentang lelaki itu.
lalu saya mengatakan :
 "Ya Rasulullah ! Mengapakah si Anu tidak engkau beri?
 Demi Allah , sesungguhnya saya melihatnya seorang yang beriman atau seorang Islam!
Nabi s.a.w menjawab :
"Sesungguhnya aku memberi seorang lelaki, sedang orang lain lebih saya sukai
untuk menjaga supaya orang yang diberi itu jangan sampai
ditelungkupkan mukanya dalam neraka
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab pemberian kepada yang baru Islam
عَنْ  أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ
 أَنَّ أُنَاسًا مِنْ الْأنْصَارِ قَالُوا يَوْمَ حُنَيْنٍ حِينَ أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ
 مِنْ أَمْوَالِ هَوَازِنَ مَا أَفَاءَ فَطَفِقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 يُعْطِي رِجَالًا مِنْ قُرَيْشٍ الْمِائَةَ مِنْ الْإِبِلِ
 فَقَالُوا يَغْفِرُ اللَّهُ لِرَسُولِ اللَّهِ يُعْطِي قُرَيْشًا وَيَتْرُكُنَا وَسُيُوفُنَا تَقْطُرُ مِنْ دِمَائِهِمْ
قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ
فَحُدِّثَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 مِنْ قَوْلِهِمْ فَأَرْسَلَ إِلَى الْأَنْصَارِ
  فَجَمَعَهُمْ  فِي قُبَّةٍ مِنْ أَدَمٍ فَلَمَّا اجْتَمَعُوا جَاءَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 فَقَالَ مَا حَدِيثٌ بَلَغَنِي عَنْكُمْ
فَقَالَ لَهُ فُقَهَاءُ الْأَنْصَارِ أَمَّا ذَوُو رَأْيِنَا
 يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يَقُولُوا شَيْئًا وَأَمَّا أُنَاسٌ مِنَّا حَدِيثَةٌ أَسْنَانُهُمْ
 قَالُوا يَغْفِرُ اللَّهُ لِرَسُولِهِ يُعْطِي
  قُرَيْشًا وَيَتْرُكُنَا وَسُيُوفُنَا تَقْطُرُ مِنْ دِمَائِهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 فَإِنِّي أُعْطِي رِجَالًا حَدِيثِي عَهْدٍ بِكُفْرٍ أَتَأَلَّفُهُمْ أَفَلَا تَرْضَوْنَ
أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالْأَمْوَالِ وَتَرْجِعُونَ إِلَى رِحَالِكُمْ
 بِرَسُولِ اللَّهِ فَوَاللَّهِ لَمَا تَنْقَلِبُونَ بِهِ خَيْرٌ مِمَّا يَنْقَلِبُونَ بِهِ
 فَقَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ رَضِينَا
قَالَ فَإِنَّكُمْ سَتَجِدُونَ أَثَرَةً شَدِيدَةً فَاصْبِرُوا
حَتَّى تَلْقَوْا اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنِّي عَلَى الْحَوْضِ قَالُوا سَنَصْبِرُ
Dari Anas bin Malik r.a. (menceritakan)
"Sesungguhnya beberapa orang dari kaum Ansar mengucapkan di hari perang Hunain
ketika Allah memberikan harta rampasan kepada Rasulullah s.a.w. dari kaum Hawazin
Lalu Rasulullah s.a.w. memberikan seratus ekor unta kepada  beberapa orang
dari kaum Quraisy. Mereka (beberapa orang Ansar) mengucapkan :
"Kiranya Allah mengampuni Rasulullah, Beliau memberikan kaum Quraisy
dan meninggalkan kami sedang pedang kami meneteskan darah mereka"
Anas bin Malik berkata : "lalu diberitakan kepada Rasulullah s.a.w. tentang
perkataan mereka. Sebab itu beliau s.a.w. menyuruh datang kaum Ansar dan
mengumpulkan mereka dalam suatu kemah dari kulit.
Setelah mereka berkumpul Rasulullah s.a.w. datang dan mengatakan :
"Benarkah berita yang sampai kepadaku daripada kamu?"
Orang-orang yang berfikiran dari kaum Ansar menjawab :
"Adapun orang-orang yang berfikiran di antara kami Ya Rasulullah
mereka tidak mengucapkan apa-apa"
Haya beberapa orang di antara kami yang masih muda umurnya mencucapkan
"Kiranya Allah mengampuni Rasulullah, Beliau memberikan kaum Quraisy
dan meninggalkan kami sedang pedang kami meneteskan darah mereka"
Lalu Rasulullah s.a.w. berkata :
"Sesungguhnya aku memberikan beberapa orang yang belum lama
keluar daripada kekafiran, untuk memujuk hati mereka,
Apakah kamu tidak merasa senang kalau orang lain pulang membawa harta
dan kamu pulang ke rumah kamu bersama Rasulullah?"
Sebab itu, demi Allah sesungguhnya apa yang kamu bawa pulang
adalah lebih baik  daripada apa yang mereka bawa."
Mereka menjawab : "Ya (merasa senang), ya Rasulullah
kami telah merasa senang !" Nabi s.a.w. berkata :
"Sesungguhnya kamu akan dapati orang -orang yang sangat mementingkan
diri sendiri (loba). Sebab itu sabarlah kamu, sampai kamu menemui Allah
dan RasulNya, kerana aku (nanti) berada di kolam.
Mereka menjawab : "Kami sabar"
Hadis sahih riwayat Muslim
Bab menyimpan untuk yang berhak
عَنْ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ أَنَّهُ قَالَ
 قَسَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَقْبِيَةً وَلَمْ يُعْطِ مَخْرَمَةَ شَيْئًا
فَقَالَ مَخْرَمَةُ يَا بُنَيَّ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 فَانْطَلَقْتُ مَعَهُ قَالَ ادْخُلْ فَادْعُهُ لِي
 قَالَ فَدَعَوْتُهُ لَهُ فَخَرَجَ إِلَيْهِ وَعَلَيْهِ قَبَاءٌ مِنْهَا
فَقَالَ خَبَأْتُ هَذَا لَكَ قَالَ فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَضِيَ
مَخْرَمَةُ
Dari Miswar bin Makhramah r.a. katanya:
"Rasulullah s.a.w. membahagi-bahagikan beberapa helai baju
dan belum memberi Makhramah sesuatu apapun.
Sebab itu Makhramah berkata :
"Hai anakku (Miswar)! Mari kita berpi kepada Rasulullah s.a.w"
Lalu saya pergi bersama dengan dia. Kata Makhramah :
Masuklah (menemui Nabi s.a.w.) dan panggillah beliau"
Lalu saya memanggil Nabi s.a.w. untuk bertemu segera
dengan Makhramah. Lalu Nabi s.a.w. datang menemui Mahkramah
membawa sehelai baju dan mengatakan (kepada Mahkramah):
"Ini ku simpan untuk engkau" Nabi s.a.w. memandang kepadanya
dan mengatakan
"Kiranya Makhramah merasa senang"
Hadis sahih riwayat Muslim

PENGERTIAN AMAL JARIAH DAN DOSA JARIAH

 بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

PENGERTIAN AMAL JARIAH DAN DOSA JARIAH

image
Sering kita mendengar sebuah kata yaitu amal jariah.
Amal jariah dalam bahasa arab
berarti amal yang mengalir. Definisinya adalah,
perbuatan baik yang mendatangkan pahala bagi yang
melakukannya, meskipun ia telah berada di akhirat.
Pahala dari amal perbuatan tersebut terus mengalir kepadanya selama orang yang hidup mengikuti atau memanfaatkan hasil amal perbuatannya ketika di dunia.
Di sinilah kelebihan amal jariah dibanding amal-amal lain yang hanya diberi balasan sekali dalam satu perbuatan.


Kata ‘amal’ dapat diterapkan pada semua perbuatan lahiriah, seperti melaksanakan shalat, membayar zakat,menunaikan ibadah haji, dan kegiatan-kegiatan sosial.
Dapat juga diterapkan pada perbuatan batiniah, seperti niat, beriman kepada Allah SWT, bersabar menahan penderitaan, tabah menghadapi ujian, dan sebagainya.
Berdiam diri tidak melaksanakan perbuatan yang dilarang Allah SWT juga dapat disebut amal. Kata ” jariah” diibaratkan dengan air yang secara terus-menerus mengalir dari sumbernya tanpa habis-habisnya.
Dalil yang populer sebagai dasar keberadaan amal jariah ialah hadist dari Abu Hurairah yang menerangkan
bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala)
amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu
sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Ketiga amal jariah tersebut ialah sebagai berikut:


1. Sedekah jariah, yaitu harta yang diwakafkan.
Dalam hukum Islam, wakaf diartikan sebagai penahanan terhadap suatu harta (tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan). Kemudian manfaat dari harta itu diberikan untuk kepentingan umat Islam.


2. Ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang diajarkan
kepada orang lain dan orang lain tersebut
memanfaatkannya untuk kemaslahatan hidup baik secara individu maupun secara bersama. Selama ilmu yang diajarkan itu dimanfaatkan oleh orang, selama itu pula pahalanya mengalir kepada yang mengajarkannya di akhirat.


3. Anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.
Anak yang saleh ialah anak yang baik-baik. Tidak hanya anak, tetapi masuk juga dalam kategori ini keturunannya seperti cucu dan seterusnya.
Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda
“Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya meninggal dunia ialah ilmu yang disebarluaskannya, anak
soleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibina, rumah yang dibina untuk penginapan orang yang sedang
dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang ramai, dan harta yang disedekahkannya “(Hadist Riwaya Ibnu Majah).


  Mari sekarang kita kupas lebih detail.


1. Ilmu yang di sebarluaskan :
Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat,baik melalui pendidikan formal (seperti sekolah,universitas) dan pendidikan tidak formal seperti perbincangan ilmiah, tazkirah di masjid-masjid, ceramah umum, program dakwah dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini
adalah menulis buku-buku yang berguna , menulis kitab-
kitab agama dan menyebarkan bahan-bahan pendidikan
Islam melalui artikel-artikel tazkira samaada di facebook atau blog.


2. Anak soleh yang ditinggalkan :
Yaitu mendidik anak menjadi anak yang soleh. Anak yang soleh
akan selalu berbuat kebaikan di dunia. Menurut keterangan hadist ini, kebaikan yang diperbuat oleh anak soleh pahalanya sampai kepada orang tua yang
mendidiknya yang telah meninggal dunia tanpa mengurangi nilai atau pahala yang diterima oleh anak-anak tadi.
Doa anak yang soleh kepada orang tuanya
mustajab di sisi Allah SWT.


3. Mushaf (kitab-kitab agama) yang diwariskannya :
Mewariskan kitab suci al-Quran, kitab tafsir al-Quran,mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan
masyarakatnya. Selagi kitab-kitab tersebut
digunakan sebagai bahan bacaan dan rujukan maka orang yang mewakafkan akan mendapat pahala yang berterusan.
Jadi jika mass n’ miss punya buku-buku islami atau yg bermanfaat dan kebetulan sudah jarang dibaca dan masih dalam kondisi baik,alangkah baiknya jika disumbangkan di perpustakaan masjid.Kebiasaan masyarakat kita adalah sering membuat buku yasin disaat peringatan seribu hari meninggalnya anggota keluarga untuk disumbangkan kepada anggota jamaah yasin…dan menurut masshar itu juga bagus dan bermanfaat.


4. Masjid yang dibina :
Membangun masjid. Perkara ini selaras dengan sabda Nabi SAW yang bermaksud, “Barangsiapa yang membangunkan sebuah masjid kerana Allah walau sekecil
apa pun, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di syurga” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
Orang yang membina masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang mengerjakan amal ibadah di masjid tersebut. Termasuk juga mewakafkan
tanah untuk pembinaan masjid.


5. Rumah yang dibina untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan :
Membangun rumah musafir atau pondok bagi orang-orang yang bermusafir untuk kebaikan adalah suatu amalan sangat di tuntut. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk beristirahat  sebentar maupun untuk bermalam dan kegunaan lain yang bukan untuk
maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membinanya ( bukan bisnis hotel ).


6. Sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang ramai:
Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tempat-tempat orang yang memerlukannya atau menggali perigi ditempat yang sering dilalui atau didiami orang ramai.
Setelah orang yang mengalirkan air itu meninggal dunia dan air itu tetap mengalir serta terpelihara dari kecemaran dan dimanfaatkan orang yang hidup maka ia
mendapat pahala yang terus mengalir.
Semakin ramai orang yang memanfaatkannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat. Rasulullah SAW
bersabda, “Barangsiapa membina sebuah telaga lalu diminum oleh jin atau burung yang kehausan, maka Allah akan memberinya pahala kelak di hari kiamat.” (Hadist Riwaya Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah).


7. Harta yang disedekahkannya :
Menyedekahkan sebahagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang
berlipat ganda. Selain daripada harta yang diberikan sebagai sedekah, termasuk juga mewakafkan tanah untuk pembangunan pendidikan Islam, rumah anak yatim, tanah perkuburan dan rumah oarng-orang
tua(panti jompo).Selagi tanah tersebut digunakan untuk kebaikan maka pahalanya akan berterusan kepada pemberi tanah wakaf tersebut.
Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya sedekah itu benar-benar dapat memadamkan panas kubur bagi pelakunya, sesungguhnya orang mukmin kelak di hari
kiamat hanyalah bernaung dalam naungan sedekahnya(Hadis Riwayat Al-Tabrani).
Jadi, Sedekah dapat di jadikan sebagai pemberi syafaat bagi pelakunya . Di dalam kubur ia mendapatkan kesejukan berkat sedekahnya dan terhindar dari panasnya kubur.
Demikian pula di hari kiamat, ia akan mendapatkan naungan dari amal sedekahnya, padahal ketika itu kebanyakan manusia berada di dalam kepanasan yang tiada taranya.
Dalam hadist lain di sebutkan bahwa sedekah itu dapat menolak kemurkaan Allah.
Inilah sebenarnya yang Islam kehendaki,yaitu yang kaya membantu mereka yang miskin. Barulah bermakna dan bermanfaat segala harta dunia yang dimiliki.
Apalah artinya harta melimpah kalau kita tidak sedekah.
 
Rasulullah SAW sepanjang hayat sangat
menjunjung tinggi sikap dermawan yang tidak bakhil dengan menyumbangkan hartanya ke jalan kebaikan.
Dengan kenyataan yang juga berbentuk satu motivasi bagi umatnya, baginda rosul  berpesan kepada kita: “Tangan
yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, dan tangan yang di atas suka memberi dan tangan yang
di bawah suka meminta.” (Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Abu Daud).
Teruskan beramal jariah kerana inilah jenis amalan yang berterusan umpama air sungai yang mengalir kepada mukmin yang melakukannya samasa mereka
masih hidup di dunia ataupun ketika telah meninggal dunia.


Adakah dosa jariah ???
 ” ada “.
Seperti di awal saya sampaikan bahwasanya kata jariah sendiri artinya mengalir.
Jadi apapun itu baik kebaikan maupun keburukan tentu ada balasannya.
Untuk dosa jariah sendiri maksudnya bagaimana ?
Nah, anda tentu pernah dan sering mendengar kisah – kisah orang dahulu melalui buku-buku sejarah islam.
Disitu banyak dikisahkan ,sebagai contoh saja tentang fir’aun .
Oya…fir’aun sendiri adalah gelar bagi raja-raja mesir saat itu.kalau di china dikenal dengan istilah dinasti..dan pada saat kisah nabi musa yg bertahta adalah menepthan ( mudah-mudahan tidak salah nyebut ).
Kita sudah tahu bahwa fir’aun membangun piramide untuk sembahyang (menyembah dewa-dewa) dan juga untuk kuburnya ssndiri..nah jika semenjak Fir’aun meninggal dan banyak orang sembahyang disitu  dan meneruskan tradisinya bagaimana..tentunya ini adalah dosa yg akan berkelanjutan …sekarang tinggal pilih ,bangun masjid apa tempat maksiat???
Satu lagi yg akan saya singgung adalah tradisi.
Siapa yang memulai ritual sesajen ,minta pada penunggu pohon angker misalnya atau sesajen nglarung di laut kidul misalnya…itu jelas perbuatan syirik atau menyekutukan Tuhan..
Barang siapa sekarang masih melakukan itu dan melaksanakan tradisi itu maka ia akan mendapatkan dosa jariah atau dosa yg terus mengalir padanya.
Jadi jika mass n’ miss semua suka mencoba hal yg aneh- aneh ,mulai sekarang dipikir-pikir dulu deh,.
Bertentangan dengan hukum agama atau tidak..takutnya akan menjadi dosa jariah.
Jadi hati-hati yaa…
Boleh lah kita membuat tradisi sendiri dalam keluarga kita, yg baik- baik juga banyak kog..misalnya tiap tahun patungan ikut Qurban, atau tiap ulang tahun merayakannya bersama anak yatim dan sekalian bersedekah…dan lain sebagainya.

Apa bedanya amal jariah dan shodaqoh
Shodaqoh/sedekah dlm arti sempit maknanya adl zakat.Sebagaimana dlm QS at-Taubah: 60 tentang 8 golongan yang berhak menerima zakat.
Juga hadits sbb :
ﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﺣﺐٍّ ﻭﻻ ﺛﻤﺮٍ ﺻﺪﻗﺔٌ ﺣﺘّﻰ ﻳﺒﻠﻎَ ﺧﻤﺴﺔَ ﺃﻭﺳُﻖٍ
Tdk ada kewajiban zakat pd biji2an dan kurma hingga mencapai 5 wasaq (HR Muslim).
Sedangkan sedekah dlm arti luas, meliputi :
- berbuat adil thd 2 pihak
- menolong org keatas kendaraannya
- ucapan2 yg baik (kalimah thoyibah)
- setiap langkah menuju tempat sholat
- menyingkirkan gangguan di jalanan (HR Muslim)
Jadi bisa digaris bawahi bahwa perbedaan yang mendasar adalah :
- kalau amal jariah pahalanya terus mengalir selagi masih ada orang yang memanfaatkannya.
- sedangkan sedekah pahalanya hanya sekali saat itu saja ( itu arti mudahnya ).

image 


7 Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir


Amal Jariyah adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah meninggal dunia. Amalan tersebut terus menghasilkan pahala yang terus mengalir kepadanya.

Hadis tentang amal jariyah yang popular dari Abu Hurairah menerangkan bahawa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, iaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya "(HR. Muslim).

Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang disebarluaskannya, anak soleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibina, rumah yang dibina untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya "(HR. Ibnu Majah).

Di dalam hadis ini disebut tujuh macam amal yang tergolong amal jariah sebagai berikut.

1. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan formal dan nonformal, seperti perbincangan, ceramah, dakwah, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah menulis buku yang berguna dan mempublikasikannya.

2. Mendidik anak menjadi anak yang soleh. Anak yang soleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia. Menurut keterangan hadis ini, kebaikan yang dipeibuat oleh anak soleh pahalanya sampai kepada orang tua yang mendidiknya yang telah meninggal dunia tanpa mengurangkan nilai / pahala yang diterima oleh kanak-kanak tadi.

3. Mewariskan mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya.

4. Membangun masjid. Hal ini selaras dengan sabda Nabi SAW, "Barangsiapa yang membangunkan sebuah masjid kerana Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di syurga" (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Orang yang membina masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di masjid itu.

5. Membangun rumah atau pondok bagi orang-orang yang bepergian untuk kebaikan. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk berehat sebentar mahupun untuk bermalam dan kegunaan lain yang bukan untuk maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membinanya.

6. Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tampat-tempat orang yang memerlukannya atau menggali sumur di tempat yang sering dilalui atau didiami orang ramai. Setelah orang yang mengalirkan air itu wafat dan air itu tetap mengalir serta terpelihara dari kecemaran dan dimanfaatkan orang yang hidup maka ia mendapat pahala yang terus mengalir.

Semakin banyak orang yang memanfaatkannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membina sebuah telaga lalu diminum oleh jin atau burung yang kehausan, maka Allah akan memberinya pahala kelak di hari kiamat." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah).

7. Menyedekahkan sebahagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.