AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Sabtu, 12 Julai 2014

bahaya perdebatan ,Syarat-syarat yang di bolehkannya.

Perdebatan

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102


                                     OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

الباب الرابعفي سبب إقبال الخلق على علم الخلاف وتفصيل آفات المناظرة والجدل وشروط إباحتها

Bab Keempat:   Mengenai sebabnya manusia suka kepada ilmu khilafiah.Penghuraian    bahaya perdebatan dan pertengkaran. Syarat-syarat pembolehannya.
Ketahuilah bahwa jabatan khalifah sesudah Nabi صلى الله عليه وسلم  dipegang oleh khulafa' rasyidin dengan petunjuk Allah (yaitu : Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Mereka adalah imam, ahli ilmu dan paham segala hukum Allah. Bebas mengeluarkan fatwa dan sanggup me mennyelesaikan segala peristiwa hukum. Tak usah meminta bantuan ahli-ahli hukum Islam (fuqaha'). Kalau pun ada maka amat jarang sekali, yaitu mengenai peristiwa-peristiwa yang harus dimusyawa-rahkan.
Dari itu, maka para alim ulama dapat menghadapkan perhatian dan segala kesungguhannya kepada ilmu akhirat. Menolak mengeluarkan fatwa dan apa yang ada hubungannya dengan hukum duniawi. Mereka menghadapkan diri dengan kesungguhan yang maksi-mal kepada Allah Ta'ala, sebagaimana dapat dibaca dalam riwayat hidup para alim ulama itu sendiri.
Sewaktu jabatan khalifah jatuh ke tangan golongan-golongan sesudah khulafa rasyidin itu, yang mengendalikan pemerintahan tanpa hak dan kesanggupan dengan ilmu yang berhubungan dengan fatwa dan hukum maka terpaksalah meminta tolong kepada para fuqaha' dan mengikut-sertakan mereka dalam segala hal untuk meminta fatwa waktu menjalankan hukum.
Dalam pada itu, masih ada juga diantara para ulama tabi'in, yang tetap dalam suasana yang lampau, berpegang teguh kepada tradisi agama, tidak melepaskan ciri-ciri ulama salaf (ulama terdahulu). Mereka ini bila diminta, lalu melarikan diri dan menolak. Sehingga terpaksalah para khalifah itu melakukan paksaan dalam pengang-katan anggota kehakiman dan pemerintahan.
Maka kelihatanlah kepada rakyat umum kebesaran ulama dan perhatian para pembesar dan wali negara kepada mereka. Sedang dari pihak alim ulama itu sendiri, menolak dan men jauh kan diri. Lalu rakyat umum tampil menuntut ilmu pengetahuan, ingin memperoleh kemudahan dan kemegahan mereka bertekun mempelajari ilmu yang berhubungan dengan fatwa dan hukum. Kemudian datang memperkenalkan diri kepada para wali negeri, memohonkan kedudukan dan jabatan.
Diantaranya ditolak dan ada juga yang diterima. Yang diterima tidak luput dari kehinaan meminta-minta dan mohon dikasihani. Maka jadilah para fuqaha" itu meminta sesudah tadinya diminta. Hina dengan menyembah-nyembah kepada pembesar sesudah tadinya mulia dengan berpaling dari penguasa-penguasa itu. Yang terlepas dari keadaan tersebut ialah orang-orang dari para ulama agama Allah yarig memperoleh taufiq dari padaNya.
Amat besar perhatian pada masa itu kepada ilmu fatwa dan hukum karena sangat diperlukan, baik didaerah-daerah atau di pusat pemerintahan.
Sesudah itu lahirlah dari orang-orang terkemuka dan pembesar-pem besar golongan yang suka memperhatikan percakapan manusia tentang kaidah-kaidan kepercayaan dan tertarik hatinya mendengar dalil-dalil yang dikemukakan. Maka timbullah kegemaran bertukar-pikiran dan berdebat dalam ilmu kalam. Perhatian orang banyak-pun tertumpah kepada ilmu itu. Lalu diperbanyak karangan dan disusun cara berdebat. Dan dikeluarkanlah ulasan tentang mana kata-kata yang ber ten tangan.
Mereka mendakwakan bahwa tujuannya ialah mempertahankan agama Allah dan Sunnah Nabi saw. serta membasmi bid'ah sebagaimana orang-orang sebelum mereka ini, mendakwakan untuk agama dengan bekerja dalam lapangan fatwa dan mengurus peri hal hukum. Karena belas-kasihan kepada makhluk Tuhan dan untuk pengajaran kepada mereka.
Sesudah itu muncul lagi, dari kalangan terkemuka orang-orang yang memang tidak benar terjun ke dalam ilmu kalam dan membuka pintu perdebatan didalamnya. Sebab telah menimbulkan kefanatik-an yang keji dan permusuhan yang meluap-luap, yang membawa kepada pertumpahan darah dan penghancuran negeri. Tetapi golongan ini tertarik kepada bertukar-pikiran tentang fiqih dan khusus memperbandingkan mana yang lebih utama diantara madzhab Syafi'i dan madzhab Abu Hanifah ra.
Maka manusia-pun meninggalkan ilmu kalam dan bahagian-bahagi-annya, terjun ke dalam masalah-masalah khilafiah antara aliran Syafi'i dan Abu Hanifah khususnya. Dan tidak begitu mementingkan apakah yang terjadi antara malik, Sulfan Ats-Tsufridan Ahmad ra. serta ulama-ulama lainnya.

167
Mereka mendakwakan bahwa maksudnya adalah mencari hukum agama secara mendalam, menetapkan alasan-alasan madzhab dan memberikan kata peng-antar bagi pokok-pokok fatwa. Lalu diperbanyak karangan dan pemahaman hukum, disusun bermacam-macam cara berdebat dan mengarang.
Keadaan itu djteruskan mereka sampai sekarang. Kami tidak dapat menerka, apa yang akan ditaqdirkan Tuhan sesudah kami, pada masa-masa yang akan datang,
Maka inilah kiranya penggerak kepada orang sampai bertekun dalam masalah khilafiah dan perdebatan. Tidak lain!
Kalaulah condong hati penduduk dunia untuk berselisih dengan imam yang lain dari imam-imam tadi atau kepada ilmu yang lain dari bermacam-macam ilmu pengetahuan, maka golongan yang tersebut di atas akan tertarik juga dan tidak tinggal diam dengan alasan bahwa apa yang dikerjakannya itu adalah ilmu agama dan tujuannya tak lain dari pada mendekatkan diri kepada Tuhan seru sekalian alam.
* * *
PENJELASAN: Penipuan tentang samanya perdebatan itu dengan musyawarah para shahabat dan pertukar-pikiran ulama salaf.
Ketahuilah bahwa golongan tersebut, kadang-kadang menjerumus-kan manusia ke dalam pahamnya dengan mengatakan : "Bahwa maksud kami dari perdebatan itu mencari kebenaran supaya kebenaran itu nyata, karena kebenaranlah yang dicari. Bertolong-tolong-an membahas ilmu dan melahirkan isi hati itu, ada faedah dan gunanya. Dan begitulah 'adat kebiasaan para shahabat ra. dalam bermusyawarah yang diadakan mereka seperti musyawarah mengenai masalah nenek laki-laki, saudara laki-laki (dalam soal warisan), hukuman minum khamar, kewajiban membayar atas imam (kepala pemerintahan) apabila iabersalah. Seperti kejadian seorang wanita keguguran kandungannya karena takut kepada Umar ra. dan seperti masalah pusaka dan lainnya. Dan seperti persoalan-persoalan yang diterima dari Asy-Syafi'i, Ahmad, Muhammad bin Al-Hasan, Malik, Abu Yusuf dan lainnya dari para ulama. Kiranya dirahmati Allah mereka itu sekalian!".
Akan tampak kepada anda penipuan itu, dengan apa yang akan saya terangkan ini. Yaitu, benar bahwa bertolong-tolongan mencari kebenaran itu sebahagian dari agama. Tetapi mempunyai syarat dan tanda yang delapan macam

168
PERTAMA : Bahwa tidak bekerja mencari kebenaran yang termasuk dalam fardlu-kifayah itu, orang-orang yang belum lagi menyelesaikan fardlu 'ain. Dan orang yang masih berkewajiban dengan sesuatu fardiu 'ain, lalu mengerjakan fardlu-kifayah dengan dakwa-an bahwa maksudnya benar, adalah pendusta. Contohnya seumpama orang yang meninggalkan shalatnya sendiri, bekerja menyediakan kain dan menjahitkannya dengan mengatakan : "Bahwa maksud ku hendak menutup aurat orang yang bershalat telanjang dan tidak memperoleh kain".
Penjawaban itu mungkin cocok dan bisa saja terjadi, seumpama apa yang didakwakan oleh ahli fiqih, bahwa kejadian hal-hal yang luar biasa, yang menjadi bahan pembahas dan perselisihan itu, bukan tidak mungkin.
Yang jelas, orang-orang yang 'asyik bertengkar itu, menyianyiakan urusan yang telah disepakati atas fardlu 'ainnya. Orang yang dihadapkan kepadanya untuk mengembalikan barang simpanan sekarang juga, lalu tegak berdiri bertakbir melakukan shalat suatu ibadah yang mendekatkan manusia kepada Tuhannya,adalah berdosa.
Jadi tidak cukup untuk menjadi seorang yang ta'at, sebab perbuat-annya termasuk perbuatan ta'at, sebelum dijaga padanya waktu, syarat dan tata-tertib pada mengerjakannya.
KEDUA : bahwa tidak melihat fardlu-kifayah itu lebih penting dari perdebatan. Jika ia melihat ada sesuatu yang lebih penting, lalu mengerjakan yang lain maka berdosalah ia dengan sikapnya itu. Contohnya seumpama orang yang melihat serombongan orang ke-hausan yang hampir binasa dan tak ada yang menolongnya. Orang tadi sanggup menolong dengan memberikan air minum. Tetapi dia pergi mempelajari berbekam dengan mendakwakan bahwa pelajaran berbekam itu termasuk fardlu-kifayah dan kalau kosong negeri dari pengetahuan berbekam maka akan binasalah manusia. Dan kalau dikatakan kepadanya bahwa dalam negeri banyak ahli bekam dan lebih dari cukup

169
lalu jawabnya bahwa-ia 'tidak dapat merobah pekerjaan berbekam menjadi tidak fardiu kifayah lagi. Maka peristiwa orang yang pergi mempelajari berbekam dan menyia-nyiakan nasib orang yang menghadapi bahaya kehausan itu, dari orang muslim in, samalah halnya dengan peristiwa orang yang 'asyik mengadakan perdebatan sedang dalam negeri terdapat banyak fardiu kifayah yang disia-siakan, tak ada yang mengerjakannya.
Mengenai fatwa maka telah bangun segolongan manusia melaksanakannya.
Tak ada satu negeripun yang didalamnya fardiu kifayah, yang tidak disia-siakan. Dan para ulama fiqih tidak menaruh perhatian kepadanya. Contoh yang paling dekat ialah ilmu kedokteran. Hampir seluruh negeri tidak didapati seorang dokter muslim yang boleh diperpegangi kesaksiannya mengenai sesuatu yang dipegang pada agama atas adpis dokter. Dan tak ada seorangpun dari pada ahli fiqih yang suka bekerja dalam lapangan kedokteran.
Begitu pula amar ma'ruf dan nahi munkar, termasuk dalam fardiu kifayah. Kadang-kadang seorang pendebat dalam majlis perdebatan melihat sutera dipakai dan dipasang pada tempat duduk. Dia tinggal berdiam diri dan terus berdebat dalam persoalan, yang sekalipun tak pernah terjadi. Kalaupun terjadi maka bangunlah serombongan fuqaha' menyelesaikannya. Kemudian mendakwakan bahwa maksudnya dengan fardiu kifayah tadi, ialah mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.
Diriwayatkan Anas ra. bahwa orang bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم
يا رسول الله متى يترك الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر
(Mataa yutrakul amru bilma'ruufi wannahyu 'anil munkar)
 Artinya "Pabilakah amar ma'ruf dan nahi munkar itu ditinggalkan orang?".
Maka menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم 
فقال عليه السلام إذا ظهرت المداهنة في خياركم والفاحشة في شراركم وتحول الملك في صغاركم والفقه في أراذلكم
(1)

170
Artinya :"Apabila telah lahir sifat berminyak air dalam kalangan orang pilihan dari kamu dan perbuatan keji dalam kalangan orang jahat dari kamu dan berpindah pemerintahan dalam kalangan orang-orang kecil dari kamu dan fiqih (hukum) dalam kalangan orang-orang yang hina dari kamu ". (1)
KETIGA : bahwa adalah seorang pendebat itu mujtahid, berfatwa dengan pendapatnya sendiri, tidak dengan madzhab Asy-Syafi'i, Abi Hanifah dan lainnya. Sehingga apabila lahirlah kebenaran dari madzhab Abi Hanifah maka ditinggalkannya yang sesuai dengan pendapat Asy-Syafi'i dan berfatwalah dia menurut kebenaran itu seperti yang diperbuat para shahabat ra. dan para imam.
Adapun orang, yang tidak dalam tingkat ijtihad dan memang begi-tulah keadaan orang sekarang maka berfatwalah dia dalam persoal-an yang ditanyakan kepadanya menurut madzhab yang dianutnya. Kalau ternyata lemah madzhabnya maka tak boleh ditinggalkannya.
Dari itu, apakah faedahnya ia mengadakan perdebatan, sedang madzhabnya sudah dikenal dan dia tak boleh berfatwa dengan yang lain?
Kalau ada yang sulit, dia harus mengatakan : "Semoga ada jawaban tentang ini pada yang empunya madzhabku. Karena aku tidak berdiri sendiri dengan berijtihad pada pokok-pokok agama".
Kalau ada pembahasannya mengenai persoalan yang mempunyai dua pendapat atau dua kata (qaul) dari yang empunya madzhab itu sendiri, maka dalam hal ini dapat meragukan baginya. Mungkin dia berfatwa dengan salah satu dari dua pendapat itu, karena sepan-jang penyelidikannya, ia coridong kepada yang satu itu. Maka tak adalah sekali-kali jalan untuk berdebat dalam hal tersebut.
Tetapi mungkin pula, ditinggalkannya persoalan yang mempunyai dua pendapat atau kata itu dan dicarinya persoalan yang ada perse-lisihan pendapat padanya sudah pasti.

1.Dirawikan Ibnu Majah dengan isnad hasan.
171
KEEMPAT : bahwa tidak diperdebatkan selain dalam persoalan yang terjadi atau biasanya akan terjadi dalam masa dekat. Karena para sbahabbt ra. tidak mengadakan musyawarah selain dalam persoalan yang selalu terjadi atau biasanya terjadi seumpama persoalan warisan (faraidl).
Tetapi, kami tidak melihat tukang berdebat itu mementingkan pengecaman dengan mengeluarkan fatwa tentang persoalan yang Bering terjadi. Akan tetapi mereka memukul tambur dengan suara nyaring, supaya lingkaran pertengkaran itu semakin meluas dengan tak memikirkan apa yang akan terjadi.
Kadang-kadang ditinggalkan mereka persoalan yang banyak terjadi itu dengan mengatakan  "Itu soal kabar angin atau soal yang diketepikan yang tak layak diperdengarkan".
Yang mengherankan, ialah tujuan mereka mencari kebenaran. Tetapi persoalan yang semacam itu ditinggalkan, beralasan kabar angin. Dan pada kabar angin tak dapat diperoleh kebenaran. Atau persoalan itu tak layak diketengahkan ke muka umum. Mengenai hal ini, tak usah kami perpanjang kalam. Menuju kepada kebenaran biarlah dengan kata yang ringkas, lekas menyampaikan kepada maksud, ttdak berpanjang-panjang.
KELIMA : bahwa perdebatan itu lebih baik diadakan pada tempat yang sepi dari pada dihadapan orang ramai dan di muka para pem-besar dan penguasa-penguasa. Pada tempat yang sepi, pemikiran itu dapat dipusatkan dan lebih layak untuk memperoleh kejernihan hati, pikiran dan kebenaran.
Kalau di muka umum, dapat menggerakkan ria, mendorong masing-masing pihak untuk menjadi pemenang, benar dia atau salah.
Anda tahu bahwa orang suka ke tempat umum dan dihadapan orang banyak, tidaklah karena Allah Ta'ala. Kalau di tempat yang sepi, masing-masing mau memberikan kesempatan waktu kepada kawan-nya untuk berpikir dan berdiam diri. Kadang-kadang dimajukan saran dan dibiarkan tidak menjawab dengan cepat.
Tetapi bila di muka umum atau dihadapan pertemuan besar, masing-masing pihak tidak mau meninggalkan kesempatan, sehingga mau dia saja yang berbicara.
KEENAM : bahwa dalam mencari kebenaran itu, tak ubahnya seperti orang mencari barang hilang. Tak berbeda antara diperolehnya sendiri atau orang lain yang menolongnya.

 172
Dia memandang temannya berdebat itu penolong, bukan musuh. Diucapkannya terima kasih, waktu diberitahukannya kesalahan dan dilahirkannya kebenaran.
Seumpama kalau dia mengambil jalan mencari barangnya yang hilang, lalu temannya memberitahukan bahwa barang yang hilang itu berada pada jalan yang lain, Tentu akan diucapkannya terima kasih, bukan dimakinya. Tentu akan dimuliakannya dan disambutnya dengan gembira.
Demikianlah adanya musyawarah para shahabat Nabi saw. itu. Seorang wanita pernah membantah keterangan Umar ra. dan menerangkan kepadanya yang benar, di waktu Umar sedang berpidato dihadapan rakyat banyak.
Maka menjawab Umar : "Benar wanita itu dan salah laki-laki ini!".
Bertanya seorang laki-laki kepada Ali ra. Lalu Ali memberi penja-waban atas pertanyaan itu.
Lalu menyahut laki-laki tadi : "Bukan begitu wahai Amirul mu'-minin. Tetapi bagini.............begini.........................!".
Maka menjawab Ali : "Anda benar dan aku salah. Di atas tiap-tiap yang berilmu, ada lagi yang lebih berilmu".
Ibnu Mas'ud menyalahkan Abu Musa Al-Asy'ari ra. dalam suatu persoalan. Maka berkata Abu Musa : "Janganlah kamu bertanya kepadaku tentang sesuatu, selama tokoh ini masih dihadapan kita".
Persoalan itu yaitu Abu Musa ditanyakan tentang orang yang ber-perang sabilullah lalu tewas, maka menjawab Abu Musa : "Masuk sorga".
Abu Musa ketika itu menjadi amir di Kufah.
Tatkala mendengar pfinjawaban Abu Musa tadi, maka bangun Ibnu Mas'ud seraya berkata : "Ulang lagi pertanyaan tersebut kepada Amir itu, barangkali dia belum mengerti!".
Yang hadlir mengulangi lagi pertanyaan di atas dan Abu Musa menjawab pula seperti tadi. Maka berkata Ibnu Mas'ud : "Saya mengatakan bahwa jika orang itu tewas maka ia memperoleh kebenaran, maka dia dalam Sorga".
Maka menjawab Abu Musa : "Yang benar ialah yang dikatakan Ibnu Mas'ud".
Demikianlah kiranya keinsyafan bagi orang yang mencari kebenaran.
Kalau umpamanya seperti itu sekarang dikatakan kepada seorang riya dengan mengatakan : "Tak perlu dikatakan, -diperolehnya kebenaran, sebab hal itu semua orang sudah tahu".

173
Lihatlah tukang-tukang berdebat masa kita sekarang ini, apabila kebenaran itu datang dari mulut lawannya, maka hitamlah mukanya. Dia merasa malu din berusaha sekuat tenaganya, menentang kebenaran tadi. Dan betapa pula dicacinya terus-menerus selama hidup-nya, orang yang telah mematahkan keterangannya itu.
Kemudian tidak pula malu menyamakan dirinya dengan para shahabat ra. tentang bekerja sama dan tolong-menolong mencari kebenaran.
KETUJUH : Jangan dilarang teman yang berdebat, berpindah dari satu dalil ke lain dalil dan dari satu persoalan ke lain persoalan. Demikianlah adanya perdebatan ulama salaf pada masa yang lampau.
Tetapi sekarang lain, dari mulut orang berdebat itu meluncur seluruh bentuk pertengkaran yang tidak-tidak, baik terhadap dirinya sendiri atau terhadap orang Iain. Seumpama katanya  "Ini tidak perlu saya sebutkan. Itu bertentangan dengan keterangan saudara yang pertama. Dari itu tidak diterima".
Sebenarnya, kembali kepada kebenaran adalah merombak yang batil dan wajib diterima. Anda melihat sekarang seluruh majelis perdebatan, habis waktunya menolak dan bertengkar, sampai memberi keterangan dengan alasan-alasan sangkaan.
Untuk menolak alasan tadi, lalu yang sepihak lagi bertanya : "Apa keterangannya, maka untuk menetapkan hukum masalah itu, didasarkan kepada alasan tadi?".
Pihak pertama menolak dengan mengatakan : "Itulah yang ada padaku. Kalau ada pada saudara yang lebih terang dan kuat dari itu, coba terangkan supaya saya dengar dan saya perhatikan!".
Maka terus-meneruslah orang itu bertengkar dan menyebut kata-kata yang lain lagi yang tidak saya sebutkan tadi, seumpama : "Saya tahu, tetapi tidak mau saya sebutkan, sebab tidak perlu saya menyebutkannya!
Yang sepihak lagi mendesak untuk diterangkan apa yang disebutnya itu. Tetapi pihak yang kedua ini tetap menolak.
Bertele-tele majelis perdebatan itu dengan bersoal dan berjawab.

174
Pihak yang mengatakan bahwa dia tahu,'tetapi tidak bersedia menerangkannya, beralasan tidak perlu, adalah bohong, membohongi agama. Karena bila sebenarnya ia tidak tahu, tetapi mengatakan tahu supaya lawannya lemah, maka dia itu adalah seorang fasiq pendusta, durhaka kepada Allah dan berbuat yang dimarahi Allah dengan mengatakan tahu, padahal tidak.
Kalau benar ia tahu, maka dia menjadi seorang fasiq karena menyembunyikan apa yang diketahuinya dari ilmu agama, sedang saudaranya seagama telah bertanya untuk mengerti dan mengetahuinya. Kalau saudara seagama itu seorang yang berilmu, maka dia dapat kembali kepada kebenaran. Kalau seorang yang berilmu kurang, maka lahirlah kekurangannya dan dapatlah ia keluar dari kegelapan bodoh kepada sinar ilmu yang terang-benderang.
Dan tak khilaf lagi bahwa melahirkan apa yang $iketahui dari ilmu agama setelah ditanyakan, adalah wajib dan perlu.
Dari itu, katanya : "Tidak perlu bagi saya menyebutkannya" adalah berlaku perkataan itu dalam perdebatan yang diadakan untuk me-menuhi hawa nafsu dan ingin mencari jalan untuk melepaskan diri. Kalau bukan demikian, maka menerangkan yang diketahui itu adalah wajib sepanjang agama. Maka dengan enggannya menerangkan, jadilah dia pendusta atau fasiq.
Perhatikanlah musyawarah para shahabat ra. dan bersoal jawab para ulama salaf! Adakah anda mendengar semacam itu? Adakah dilarang orang berp indah dari satu dalil ke dalil yang lain, dari qias ke perkataan shahabat dan dari hadits ke ayat? Tidak, bahkan seluruh perdebatan mereka termasuk ke dalam golongan-tadi. Karena mereka menyebutkan apa yang terguris di hati, dengan tidak sembunyi-sembunyi. Dan masing-masing mendengamya dengan penuh perhatian.
KEDELAPAN : bahwa perdebatan itu diadakan dengan orang yang diharapkan ada faedanya bagi orang itu, seperti orang yang sedang menuntut ilmu.
Biasanya sekarang, orang menjaga jangan sampai berdebat dengan tokoh-tokoh yang terkemuka dalam lapangan ilmu pengetahuan. Karena takut nanti lahir kebenaran dari mulut mereka. Dari itu dipilih dengan orang yang lebih rendah ilmunya, karena mengharap yang batil itu bisa laris.

175
Di balik syarat-syarat yang tersebut, ada lagi teberapa syarat yang penting juga. Tetapi dengan syarat yang delapan itu, cukuplati kiranya memberi petunjuk kepada anda, siapa kiranya yang berdebat karena Allah dan siapa yang berdebat karena sesuatu maksud.
Ketahuilah secara keseluruhan, bahwa orang yang tidak mendebati setan, di mana setan itu ingin menguasai hatinya dan musuhnya yang terbesar, yang senantiasa mengajaknya kepada kebinasaan, lalu tampil mendebati orang lain mengenai masalah-masalah, di mana seorang mujtahid memperoleh pahala atau mendapat bahagian dari orang yang memperoleh pahala, maka orang tersebut membawa tertawaan setan dan menjadi ibarat bagi orang-orang yang ikhlas,
Karena itu, waspadalah terhadap tipuan setan, yang selalu berusaha menjerumuskan manusia ke dalam kegelapan bahaya yang akan kami perinci dan menerangkan penjelasannya.
Kepada Allah Ta'ala kita meminta pertolongan yang baik serta taufiq!.
PENJELASAN: Bahaya berdebat (bermunadharah) dan hal-hal yang terjadi dari padanya, tentang kerusakan budi.
Ketahuilah dan yakinlah bahwa perdebatan yang diadakan dengan tujuan mencari kemenangan, menundukkan la wan, melahirkan kelebihan dan kemuliaan diri, membesarkan mulut di muka orang banyak, ingin kemegahan dan kebebasan serta ingin menarik perhatian orang, adalah sumber segala budi yang tercela pada Allah dan terpuji pada Iblis musuh Allah. Hubungannya kepada sifat-sifat kekejian bathin, seumpama takabur, 'ujub, dengki, ingin di muka, menyangka diri bersih, suka kemegahan dan lainnya, adalah seumpama hubungan minum khamar kepada sifat-sifat kekejian dhahir, seumpama zina, menuduh orang berbuat zina (qazaf), membunuh dan mencuri.
Sebagaimana orang yang disuruh memilih antara minum an yang memabukkan dan perbuatan-perbuatan keji yang lain, lalu dianggap-nya minuman itu lebih enteng maka minumlah dia. Lalu oleh minuman itu, diajaknya ketika sedang mabuk, kepada perbuatan-perbuatan keji yang lain, maka demikian pulalah orang yang didesak oleh keinginan menjatuhkan orang lain, memperoleh kemenangan dalam perdebatan, kemegahan dan keangkuhan, mengajaknya kepada bermacam-macam sifat keji yang tersembunyi dalam jiwanya-Dan menggelagaklah padanya segala budi pekerti yang tercela.

176
Segala budi pekerti itu akan diterangkan nanti dalil-dalilnya, baik hadits atau ayat yang menyatakan tercelanya pada : "Bahagian Sifat-sifat Yang Membinasakan".
Sekarang kami tunjukkan keseluruhan sifat-sifat jahat yang ditimbulkan oleh munadharah itu. Diantaranya : "dengki".
Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
  الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب
(Al-hasadu yaTculul hasanaati kamaa ta'kulun naarul hathaba).
Artinya :"Dengki itu memakan yang baik seperti api memakan kayu kering'.(1)
Seorang pendebat tidak terlepas dari sifat dengki. Karena dia sekali menang, sekali kalah. Sekali kata-katanya dipuji orang dan sekali kata-kata lawannya dipuji orang. Selama di dunia ini ada orang yang dipandang lebih banyak ilmunya dan pemandangannya atau disangka lebih cakap dan lebih kuat pemandangannya, maka selama itu pula, ada orang yang dengki kepadanya dan mengharap nikmat itu hilang dan berpindah kepada orang yang dengki itu.
Dengki adalah api yang membakar. Orang yang menderita penya kit dengki, di dunia beroleh 'azab sengsara dan di akhirat lebih hebat dan dahsyat lagi. Karena itulah, berkata Ibnu Abbas ra. : "Ambillah ilmu pengetahuan di mana saja kamu dapati. Dan janganlah kamu terima perkataan fuqaha", karena diantara sesama mereka itu berselisih satu sama lainnya, seperti berselisihnya kambing-kambing jantan dalam kandang".
Diantara sifat-sifat jahat itu ; takabur dan mau tinggi sebenang dari orang lain.

1.Dirawikan Abu Dawud dari Abu Hurairah. Kata Al-Bukhari, hadits ini tidak benar.
177
من تكبر وضعه الله ومن تواضع رفعه الله
(Man takabbaia wa dla'ahullaahu wa man tawaadla'a rafa'ahullaahu)
Artinya :"Barangsiapa takabur, niscaya direndahkan oleh Tuhan dan barang siapa merendahkan diri, niscaya ditinggikan oleh Tuhan". (1)
Bersabda Nabi saw. menceriterakan firman Allah Ta'ala :
 العظمة إزاري والكبرياء ردائي فمن نازعني فيهما قصمته 
(Al-adhamatu izaarii wal kibriyaa-u ridaa-ii faman naaza 'anii fiihi-maa qashamtuhu).Artinya :"Kebesaran itu kain sarungKu, takabur itu selendangKu. Maka barangsiapa bertengkar denganKu tentang yang dua itu, niscaya Aku binasakan dia". (2)
Selalulah orang yang berdebat itu menyombong terhadap teman dan kawannya, ingin lebih tinggi dari yang wajar. Sehingga mereka berperang tanding dalam majelis perdebatan, berlomba-lomba meninggi dan merendahkan, mendekati dan menjauhkan diri dari tiang tengah, dahulu mendahulukan masuk pada jalan yang sempit.
Kadang-kadang si bodoh dan si keras kepala dari mereka, mengemukakan alasan bahwa maksudnya dengan perdebatan itu memeli-hara kemuliaan ilmu dan "bahwa orang mu'min itu dilarang meng-hinakan diri". Lalu mengatakan tentang sifat merendahkan diri (tawadlu') yang dipujikan Allah dan para NabiNya dengan menghinakan diri dan tentang sifat takabur yang dicelai Allah dengan memuliakan agama, merupakan penyelewengan nama dan menyesatkan orang banyak, sebagaimana yang telah diperbuat terhadap nama hikmah, ilmu dan lainnya.
Diantara sifat-sifat jahat itu : dendam.  Hampir seluruh orang yang suka berdebat, tidak terlepas dari sifat pendendam.
Nabi saw. pernah bersabda : "Orang mu'min tidaklah pendendam ".(3)

1.Dirawikan Al-Khatib dari Umar dengan isnad shahih.
2.Dirawikan Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah.
3.Menurut Al iraqi, dia tidak pernah menjumpai hadits Ini.
Banyak lagi dalil yang mencela sifat pendendam itu, yang tak tersembunyi lagi.
Seorang yang mengambil bahagian dalam perdebatan, tidak sanggup membersihkan jiwanya dari sifat pendendam, terhadap orang yang menyambut dengan baik keterangan iawannya, sedang terhadap keterangannya sendiri dipandang sepi dan tidak diperhatikan dengan baik.
Apabila dilihatnya demikian, maka bersemilah dalam hatinya penyakit dendam, makin lama ma kin mendalam. Akhimya menjadi sifat munafiq yang tersembunyi dan membayang kepada dhahir, yang biasanya tidak dapat dibantah lagi.
Bagaimanakah melepaskan diri dari ini? Dan tidaklah tergambar kesepakatan seluruh pendengar untuk memperkuatkan keterangannya dan memandang baik dalam segala hal, caranya menolak dan memberi alasan. Bahkan jika timbul dari Iawannya sedikit saja yang menyebabkan kurang perhatian kepada perkataannya maka terta-namlah dalam dadanya sifat pendendam itu yang payah hilang sampaii bercerai badan dengan nyawa.
Diantara sifat-sifat yang jahat itu : mengupat.
Sifat mengupat itu diserupakan oleh Allah dengan memakan bangkai. Maka senantiasalah orang yang berdebat itu memakan bangkai. Karena dia tidak dapat melepaskan diri dari menceriterakan Iawannya dan mencacinya. Paling tinggi, dipeliharanya kebenaran dalam ceriteranya dan tidak membohong. Maka diceriterakannya sudah pasti— keadaan-keadaan yang menunjukkan kekurangan ilmu lawan, kelemahan dan kurang kelebihannya. Dan itulah mengupat  nama-nya. Sedang berdusta yaitu mengada adakan yang tidak-tidak.
Begitu pula tidak sanggup dia menjaga lidahnya dari membentangkan hal keadaan orang yang menentang perkataannya dan memperhatikan perkataan Iawannya dan menerimanya. Sehingga orang itu disebutnya bodoh, dungu, kurang paham dan bebal.
Diantara sifat-sifat yang jahat itu : membersihkan diri.
Berfirman Allah Ta'ala :
 فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
(Falaa tuzakkuu anfusakum huwa a'lamu bimanit taqaa).
Artinya:"Janganlah kamu membersihkan dtrimu. Dialah (Allah) yang Maha Mengetahui siapa yang bertaqwa  (surah.An  Najm, ayat 32)

179
Ditanyakan kepada seorang ahii'hikmah (hukama) : "Manakah kebenaran yang buruk?".
Menjawab hukama' itu : "Memuji manusia akan dirinya'.
Tidaklah terlepas, si pendebat itu memuji dirinya dengan kekuatan, kemenangan dan kelebihan dari teman-temannya. Senantiasa ia mengatakan ketika berdebat : "Saya bukan orang yang tidak mengerti dalam segala hal ini. Saya mengetahui bermacam-macam ilmu, berpaham sendiri tentang pokok-pokok agama dan menghafal banyak hadits". Dan lain-lain perkataan yang timbul dari orang-orang yang memuji diri. Sekali untuk memujikan dirinya saja dan sekali dengan tujuan supaya- kata-katanya laris,
Sebagai dimaklumi bahwa memuji diri sendiri, baik ada ataupun tidak ad£ yang disebutkan itu, adalah tercela sepanjang agama dan akal pikiran yang sehat.
Diantara sifat-sifat yang jahat itu : mengintip dan mengikuti hal  ihwal orang.
Berfirman Allah Ta'ala :
وَلا تَجَسَّسُوا
(Wa laa tajassasuu).(S. Al-Hujurat, ayat 12).
Artinya :"Janganlah kamu mengintip-ngintip (memata-matai)".
(S. Al-Hujurat, ayat 12).
Si pendebat itu senantiasa mencari kesilapan teman dan kekurangan Iawannya. Sehingga bila datang seorang pendebat lain ke tempatnya lalu dicarinya orang yang dapat menerangkan rahasia hidup pendebat yang datang itu. Ditanyainya keburukan-keburukannya untuk menjadi bahan yang akan disiarkan dan ditonjolkan nanti apabila keadaan memerlukan.
Penyelidikan itu sampai kepada keadaan hidup si pendebat yang datang itu semasa kecil dan kekurangan-kekurangan yang ada pada badannya. Dengan demikian, diperolehnya kekurangan atau kecederaan tubuh seumpama bekas borok atau lainnya.

180
Kemudian, apabila dirasanya perlu, lalu dibentangkannya jika ada hubungannya dengan perdebatan. Hal itu dipandangnya baik untuk memperoleh sebab-sebab kemenangan. Dan tidak menjadi halangan, menerangkan hal tersebut dengan diselang-selangi penghinaan dan pengejekan, sebagaimana biasa dilakukan oleh pendebat-pendebat terkemuka yang terhitung tokoh-tokoh penting.
Diantara sifat-sifat yang jahat itu : perasaan gembira dengan kesusahan lawan dan perasaan susah dengan kegembiraan lawan.
Orang yang tidak menyukai pada saudaranya muslim apa yang disukainya pada dirinya sendiri, maka adalah dia jauh dari budi pekerti orang mu'min. Tiap-tiap orang yang mencari kemegahan dengan mengemukakan kelebihannya, maka pastilah menyenangkan baginya dengan timbul kesusahan bagi teman dan kawannya yang menjadi saingannya. Pertentangan bathin diantara mereka, samalah halnya dengan pertentangan bathin diantara wanita-wanita yang dimadukan. Maka sebagaimana seorang wanita yang. dimadukan, apabila melihat dari jauh saingannya, lalu gemetarlah sendi-sendi-nya dan pucatlah mukanya. Maka demikian pula halnya dengan orang yang berdebat itu, apabila melihat Iawannya lalu berubahlah warna mukanya dan kacaulah pikirannya. Seolah-olah dia melihat setan yang menggoda atau binatang buas yang menerpa.
Maka dimanakah sayang-menyayangi dan cinta-mencintai itu, yang berlakudiantara para alim ulama ketika berjumpa? Dan dimanakah persaudaraan, bertolong-tolongan dan senasib-sepenanggungan pada masa duka dan suka sepanjang riwayat yang diterima dari ulama-ulama yang terdahulu? Imam Asy-Syafi'i ra. pernah berkata : "Ilmu pengetahuan diantara orang-orang yang terkemuka dan berpikiran tinggi itu, adalah dalam bersilatur-rahmi yang sambung-menyambung".
Dari itu saya tidak mengerti, bagaimana mendakwakan diri mengikuti madzhab Imam Asy-Syafi'i oleh segolongan manusia, di mana ilmu pengetahuan itu diantara mereka telah menjadi alat permusuh-an yang memutuskan silatur-rahmi? Mungkinkah tergambar sayang menyayangi diantara mereka, di samping mencari kemenangan dan kemegahan? Amat jauh panggang dari api! Waspadalah diri dari kejahatan yang mengakibatkan berbudi pekerti munafiq dan terlepas dari budi pekerti mu'min dan muttaqin.
Diantara sifat-sifat yang jahat itu : nifaq (sifat orang munafiq, lain di luar, lain di dalam).

181
Tidak perlulah rasanya diterangkan dalil-dalil yang menceia sifat nifaq itu.
Orang-orang berdebat itu memerlukan kepada sifat nifaq. Karena apabila bertemu dengan lawan, pencinta-pencinta lawan dan golongan lawan, maka tak ada jalan lain, selain dari melahirkan kata pershahabatan dengan lisan, kata kasih-sayang dan memuji-muji kedudukan dan keadaan lawan.
Hal itu disadari oleh si pembicara dan yang dihadapkan pembicaraan itu kepadanya, bahkan oleh seluruh yang mendengar, bahwa itu bohong, dusta, nifaq dan zalim. Karena berkasih-sayang dengan lisan, berdendam-khasumat dengan hati. Berlindunglah kita dengan Allah dari sifat nifaq itu!.
Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
إذا تعلم الناس العلم وتركوا العمل وتحابوا بالألسن وتباغضوا بالقلوب وتقاطعوا في الأرحام    لعنهم الله عند ذلك فأصمهم وأعمى أبصارهم
(Idzaa ta'allaman naasul 'ilma wa tarakul 'amala wa tahaabbuu bil alsuni wa tabaaghadluu bil quluubi wa taqaatha'uu fil arhaami la'anahumullaahu 'inda dzaalika fa-a-ehammahum wa a'maa abshaa-rahum.) 1
Artinya :
"Apabila manusia mempelajari ilmu dan meninggalkan amal, berka-sih-kasihan dengan lisan dan bermarah-marahan dengan hati, serta berputus-putusan silatur-rahmi, maka kenalak kutukan Allah ketika itu. Ditulikan telinganya dan dibutakan matanya. (1)
Hadits ini diriwayatkan Al-Hasan. Dan benarlah demikian dengan dipersaksikan keadaan itu!.
Diantara sifat-sifat yang jahat itu : menyombong, menolak kebenaran dan bersungguh-sungguh menantangnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa yang amat dimarahi oleh seorang pendebat ialah lahirnya kebenaran dari lidah Iawannya. Maka bagaimanapun kebenaran itu sudah terang ibarat matahari waktu siang, mau juga di tanking dan dilawannya dengan segala usaha dan kemungkinan yang ada, baik dengan penipuan, pengkhianatan dan kebusukan hati. Sehingga jadilah menantang kebenaran itu adat yang lazim bagi seorang pendebat. Bila saja didengarnya perkataan lawan, terus datang keinginannya menantang. Sampai hal itu melekat pada hatinya, tidak saja terhadap keterangan biasa, bahkan juga terhadap dalil dari Al-Quran dan kata-kata lain dari agama. Maka jadilah dalil-dalil itu berantakan satu sama lain.

1.Dirawikan Ath Thabrani dari salman dengan isnad dlaif
182
Berdebat menghadapi yang batil itu harus dengan hati-hati. Nabi saw. berseru supaya meninggalkan perdebatan mengenai hal yang benar melawan yang batil.
Nabi sawصلى الله عليه وسلم  Bersabda :
من ترك المراء وهو مبطل بنى الله له بيتا في ربض الجنة ومن ترك المراء وهو محق بنى الله له بيتا في أعلى الجنة
(Man tar akal miraa-a wabuwa mubthilun banallaahu lahu baitan fii rabadlil jannati wa man tar akal miraa-a wahuwa muhiqqun banallaahu lahu baitan fii a'-lal jannati).1
Artinya :Barangsiapa meninggalkan perdebatan sedang dia di pihak yang batil, maka dtbangun Allah baginya sebuah rumah dalam perkampungan sorga. Dan barangsiapa meninggalkan perdebatan sedang dia di pihak yang benar, maka dibangun Allah baginya sebuah rumah dalam sorga tinggi". (1)
Allah Ta'ala menyamakan antara orang yang mengada-adakan terhadapNya dengan kedustaan dan orang yang mendustakan kebenaran. FirmanNya :
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ
(Wa man adhlamu mimmanif taraa 'alallaahi kadziban au kadzdzaba bil haqqi lammaa jaa-ahu).
Artinya :"Siapakah yang lebih besar kesalahannya dari orang-orang yang mengada-adakan kedustaan tentang Allah atau mendustakan kebenaran tatkala datang kepadanya (Al-Ankabut, ayat 68).
Dan firmanNya :
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ
(Faman adhlamu mimman kadzaba 'alallaahi wa kadzdzaba bish-sbidqi idzjaa-ahu).
Artinya :"Siapakah yang lebih besar kesalahannya dari orang yang berbuat kedustaan tentang Allah dan orang yang mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya!". (S-Zumar, ayat 32).

1.Dirawitkan Ath Tarmidzi dari ibnu Majah dari Anas
183
Diantara sifat-sifat yang jahat itu : ria, ingin memperlihatkan amalannya kepada orang banyak, berusaha menarik hati dan pandangan mereka kepadanya.
Ria adalah penyakit bathin yang amat berbahaya, dapat menjerumuskan ke dalam dosa besar, sebagaimana akan diterangkan nanti pada "Kitab Ria".
Seorang pendebat, tidaklah bermaksud, kecuali namanya muncul di muka umum. Lidah orang banyak lancar memujinya.
Inilah sepuluh perkara dari induk kekejian bathin, selain dari yang timbul secara kebetulan dari orang-orang di luar pendebat itu sendiri, yang merupakan permusuhan yang mengakibatkan pemukulan, penempelengan, pengoyakan kain, penarikan janggut, pemakian ibu-bapa, pengupatan guru dan tuduhan-tuduhan yang tegas me-nyakitkan hati. Mereka ini tidaklah terhitung dalam golongan orang yang masuk bilangan.
Sesungguhnya orang-orang yang terkemuka dan yang terkenal pintar dari mereka, tidaklah terlepas dari perkara yang sepuluh itu.
Benar, sebahagian dari mereka terpelihara dari beberapa sifat tadi, di samping ada pula yang tidak begitu jelas atau sangat jelas dengan sifat-sifat itu. Atau karena jauh dari kampungnya dan unsur-unsur kehidupannya, maka sifat-sifat itu berbeda antara satu sama lainnya.

184
Pendek kata, payahlah terlepas dari -sifat-sifat tersebut bagi siapa juapun dalam bentuknya yang bermacam-macam, melihat kepada tingkat orang itu sendiri. Kemudian dari sifat yang sepuluh tadi, masing-masing daripadanya bercabang pula kepada sepuluh yang lain yang tak kurang kejinya.
Kami tidak berpanjang kalam menyebut dan menguraikannya satu-persatu, seumpama keras hidung, marah, dendam, loba, ingin memperoleh harta dan kemegahan untuk tetap dalam kemenangan, bang ga, keras kepala, suka membesarkan orang kaya dan penguasa serta pulang-pergi menghadap dan mengambil hati mereka. Berlomba lomba dengan kecantikan kuda dan lain kendaraan serta pakaian yang terlarang. Suka menghina orang lain dengan keangkuhan dan kesombongan, turut campur barang yang tak perlu, banyak bicara, hilang rasa-takut, hilang gemetar dan belas-kasihan di dalam hati, dikuasai sifat lalai padanya. Sehingga diantara mereka yang mengerjakan shalat, tak tahu lagi tentang shalatnya, bacaannya dan dengan siapa dia sedang- bermunajat.
Dia tidak merasa khusyu' dalam hatinya, padahal umurnya telah dihabiskannya mempelajari ilmu pengetahuan yang dapat menolongkannya dalam perdebatan, ilmu mana tak ada gunanya di akhirat. Seumpama pengetahuan membaguskan susunan kata, dengan sajak, dengan menghafal kata-kata yang ganjil dan lain-lain sebagainya yang tak terhitung banyaknya.
Orang-orang yang suka berdebat itu, berlebih-kurang tingkat dari sifat-sifat tersebut. Bermacam-macam tingkat dan derajatnya. Meskipun yang terkuat beragama dan terpintar diantara mereka, tidak juga terlepas dari keseluruhan unsur-unsur budi-pekerti. Hanya usahanya ada untuk menyembunyikannya atau berjuang menjauhkan diri dari padanya.
Dan ketahuilah bahwa budi pekerti yang rendah tadi, melekat juga pada orang yang bekerja dalam lapangan memberi nasehat dan pelajaran apabila tujuannya mencari kerelaan orang, menegakkan kemfegahan, memperoleh kekayaan dan kemuliaan.
Melekat juga pada orang yang bekerja dalam lapangan pengetahuan madzhab dan fatwa-fatwa, apabila tujuannya ingin menjadi kadli, menjadi penguasa harta wakaf dan terkemuka dari teman.
Pendek kata, kerendahan budi itu menimpa kepada tiap-tiap orang yang menuntut ilmu bukan karena mengharap pahala daripada

185
Allah Ta'ala di akhirat Maka ilmu itu tidak saja menyianyiakan orang yang berilmu itu, bahkan juga membinasakannya atau menghidupkannya sepanjang zaman.
Karena itu, bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
 أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لا ينفعه الله بعلمه
(Asyaddun naasi 'adzaaban yaumal qiyaamati 'aalimun laa yanfa-'uhullaahu bi'ilmihi).Artinya :"Manusia yang sangat menderita adzab pada hari qiamat,ialah orang yang berilmu yang tiada bermanfa'at dengan ilmunya(1).
Maka ilmu itu telah memberi melarat kepada yang berilmu itu sendiri, di samping tidak ada gunanya. Mudah-mudahan kiranya terlepaslah dari keadaan yang tersebut dan dapatlah orang yang berilmu itu, memperoleh manfa'at dengan ilmu pengetahuannya!.
Sesungguhpya, bahaya ilmu itu besar. Orang yang mencari ilmu, adalah ibarat orang yang mencari kekayaan yang abadi dan kesenangan yang tidak kunjung hilang. Maka tak terlepaslah ia dari kekayaan atau kebinasaan, seperti orang yang mencari kekayaan duniawi. Kalau kebetulan tidak diperolehnya harta, jangan diharap dia terpelihara dari kehinaan, bahkan —tidak mustahil—lebih buruk dari itu lagi.
Jika anda mengatakan, bahwa ada gunanya diberi kesempatan mengadakan perdebatan. Yaitu membawa manusia suka menuntut ilmu. Karena kalaulah bukan karena cinta menjadi kepala, maka ilmu itu telah terbenam.
Benar perkataan anda itu dari satu segi. Tetapi faedahnya tidak ada. Anak kecilpun tidak suka pergi ke sekolah bila tidak dijanjikan bermain bola, bermain anggardan bermain mengadu pipit. Keadaan yang demikian, tidaklah menunjukkan bahwa kesukaan yang seperti itu, kesukaan yang terpuji. Dan kalaulah tidak karena suka menjadi kepala, lalu ilmu pengetahuan itu terbenam. Itupun tidak menunjukkan bahwa mencari kedudukan kepala itu dapat melepaskan diri dari kebinasaan. Tetapi termasuklah diantara orang yang diterangkan Nabi صلى الله عليه وسلم dengan sabdanya

1.Dirawikan Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi dari Abi Hurairah dengan isnad dla'if
186
 إن الله ليؤيد هذا الدين بأقوام لا خلاق لهم
(Innallaaha layuayyidu haadzad diina birrajulil faajiri).
Artinya :"Sesungguhnya Allah akan menguatkan agama ini dengan kaum (orang-orang )yang tak berbudi. (1)
Dan Sabdanya Dalam Hadis Lain
وقال صلى الله عليه وسلم:  إن الله ليؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر 
Sesungguhnya Allah Akan menguatkan Agama ini dengan orang zalim (2)
Orang yang mencari kedudukan kepala bagi dirinya sendiri adalah binasa. Kadang-kadang ia dapat memperbuat perbaikan bagi orang lain, kalau ia mengajak kepada meninggalkan dunia. Yaitu orang yang dhahimya sebagai seorang ulama salaf (ulama terdahulu), tetapi bathinnya, ia menyembunyikan tujuannya mencari kemegahan.
Orang yang seperti itu, adalah seumpama iilin yang membakar dirinya sendiri dan menerangi orang lain. Kebaikan yang diperoleh orang lain, adalah terletak dalam kebinasaannya.
Maka apabila orang yang berilmu itu memanggil manusia untuk mencari dunia, adalah seumpama api pembakar, yang membakar dirinya sendiri dan lainnya.
Dari itu, maka ulama ada tiga, adakalanya membinasakan diri sendiri dan orang Iain, yaitu mereka yang berterus-terang mencari dunia dan memusatkan seluruh perhatiannya kepada dunia. Adakalanya membahagiakan dirinya sendiri dan orang lain, yaitu mereka yang memanggil manusia ke jalan Allah, dhahir dan bathin. Dan adakalanya membinasakan dirinya dan membahagiakan orang lain, yaitu orang yang memanggil manusia ke jalan akhirat, tetapi dia

1.Dirawikan An-nasa-i dari Anas dangan isnad shahih.
2.Dirawikan Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah.
187
sendiri menolak dunia pada dhahirnya, sedang pada bathinnya bertujuan mempengaruhi orang banyak dan menegakkan kemegahan diri.
Maka lihatlah! Dalam bahagian manakah anda berada dan orang yang menjadi tanggunganmu?
Janganlah anda menyangka bahwa Allah Ta'ala menerima ilmu dan amal dari orang yang tak ikhlas kepadaNya. Akan diterangkan kepadamu nanti pada Kitab Ria dan dalam seluruh Bahagian Yang Membinasakan. Sehingga segala keragu raguan hilang dari hati nuranimu, Insya Allah!.

تصنيف
حجة الإسلامالإمام أبي حامد الغزالي
وهو أبو حامد محمد بن محمد بن محمد الغزالي
الطوسيتغمده الله برحمتهومعه تخريج الحافظ العراقي رحمه الله

Jihad Fii Sabiilillaah

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102


OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Apakah...? Jihad Fii Sabiilillaah Menurut Ulama'Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Jihad adalah salah satu syi’ar Islam yang terpenting dan merupakan puncak keagungannya. Kedudukan jihad dalam agama sangat penting dan senantiasa tetap terjaga. Jihad fii sabiilillaah tetap ada sampai hari Kiamat.

A. Definisi Jihad
Secara bahasa (etimologi) kata jihad diambil dari kalimat:

جَهَدَ: الْجَهْدُ، الْجُهْدُ = الطَّاقَةُ، الْمَشَقَّةُ، الْوُسْعُ.

Yang berarti kekuatan usaha, susah payah dan kemampuan.[1]

Menurut ar-Raghib al-Ashfahani (wafat th. 425 H) rahimahullah : الْجَهْدُ berarti kesulitan dan الْجُهْدُ berarti kemampuan.[2]

Adapun jihad diambil dari kata-kata: جِهَاداً - يُجَاهِدُ -جَاهَدَ

Menurut istilah syar’i (terminologi):

اَلْجِهَادُ: مُحَارَبَةُ الْكُفَّارِ وَهُوَ الْمُبَالَغَةُ وَاسْتِفْرَاغُ مَا فِي الْوُسْعِ وَالطَّاقَةِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ.

“Al-Jihad artinya memerangi orang kafir, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh mencurahkan kekuatan dan kemampuan baik berupa perkataan atau perbuatan.” [3]

اَلْجِهَادُ وَالْمُجَاهَدَةُ: اسْتِفْرَاغُ الْوُسْعِ فِي مُدَافَعَةِ الْعَدُوِّ.

“Jihad artinya mencurahkan segala kemampuan untuk memerangi musuh.”

Jihad ada tiga macam:
1. Jihad melawan musuh yang nyata.
2. Jihad melawan syaithan.
3. Jihad melawan hawa nafsu.

Tiga macam jihad ini termaktub di dalam Al-Qur-an surat al-Hajj: 78, at-Taubah: 41, al-Anfaal: 72. [4]

Menurut al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-Asqalani (yang terkenal dengan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, wafat th. 852 H) rahimahullah : “Jihad menurut syar’i adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang-orang kafir.” [5]

Istilah Jihad digunakan juga untuk melawan hawa nafsu, syaithan, dan orang-orang fasiq. Adapun melawan hawa nafsu yaitu dengan belajar agama Islam (belajar dengan benar), lalu mengamalkannya kemudian mengajarkannya. Adapun jihad melawan syaithan dengan menolak segala bentuk syubhat dan syahwat yang selalu dihiasi oleh syaithan. Jihad melawan orang kafir dengan tangan, harta, lisan, dan hati. Adapun jihad melawan orang-orang fasiq dengan tangan, lisan dan hati. [6]

Perkataan al-Hafizh Ibnu Hajar tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

جَاهِدُوا الْمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ.

“Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.”[7]

Jihad menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah adalah: “Mencurahkan segenap kemampuan untuk mencapai apa yang dicintai Allah Azza wa Jalla dan menolak semua yang dibenci Allah.” [8] Kata beliau: “Bahwasanya jihad pada hakikatnya adalah mencapai (meraih) apa yang dicintai oleh Allah berupa iman dan amal shalih, dan menolak apa yang dibenci oleh Allah berupa kekufuran, kefasikan, dan maksiyat.” [9]

Definisi ini mencakup setiap macam jihad yang dilaksanakan oleh seorang Muslim, yaitu meliputi ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya. Kesungguhan mengajak (mendakwahkan) orang lain untuk melaksanakan ketaatan, yang dekat maupun jauh, muslim atau orang kafir dan bersungguh-sungguh memerangi orang-orang kafir dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan selain itu. [10]

Jihad tidak dikatakan jihad yang sebenarnya melainkan apabila jihad itu ditujukan untuk mencari wajah Allah, menegakkan kalimat-Nya, mengibarkan panji kebenaran, menyingkirkan kebathilan dan menyerahkan segenap jiwa raga untuk mencari keridhaan Allah. Akan tetapi bila seseorang berjihad untuk mencari dunia, maka tidak dikatakan jihad yang sebenarnya.

Barangsiapa yang berperang untuk mendapatkan kedudukan, memperoleh harta rampasan, menunjukkan keberanian, mencari ketenaran (kehebatan), maka ia tidak akan mendapatkan ganjaran dan tidak akan mendapat pahala.[11]

Jihad dalam Islam merupakan seutama-utama amal. Allah memerintahkan jihad yang termaktub di dalam Al-Qur-an, yaitu pada surat al-Baqarah: 190, 193, 216, Ali ‘Imran: 142, an-Nisaa’: 95, at-Taubah: 73, al-Anfaal: 74, al-Hajj: 78, al-Furqaan: 52 dan ash-Shaaf: 11.

‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : ‘Amal apa yang paling utama?’ Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: ‘Jihad fii sabiilil-laah.’” [12]

Abu Dzarr Radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Amal apa saja yang paling utama?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Beriman kepada Allah dan berjihad fii sabiilillaah...” [13]

‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata: “Sesungguhnya seutama-utama amal sesudah shalat adalah jihad fii sabilillaah.” [14]

Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang berperang karena mengharap ghani-mah (harta rampasan perang), ada yang lain berperang supaya disebut namanya, dan yang lain berperang supaya dapat dilihat kedudukannya, siapakah yang dimaksud berperang di jalan Allah?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

“Barangsiapa yang berperang supaya kalimat Allah tinggi, maka ia fii sabiilillaah (di jalan Allah).” [15]

B. Hukum Jihad
Hukum jihad adalah fardhu (wajib) dengan dasar firman Allah al-Qaahir:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah: 216]

Ayat ini merupakan penetapan kewajiban jihad dari Allah Azza wa Jalla bagi kaum Muslimin, agar mereka menghentikan kejahatan musuh dari wilayah Islam.
Muhammad bin Syihab az-Zuhri (wafat th. 124 H) rahimahullah berkata: ‘Jihad itu wajib bagi setiap individu, baik yang dalam keadaan berperang maupun yang sedang duduk (tidak ikut berperang). Orang yang sedang duduk, apabila dimintai bantuan, maka ia harus memberikan bantuan, jika diminta untuk maju berperang, maka ia harus maju perang, dan jika tidak dibutuhkan, maka hendaklah ia tetap di tempat (tidak ikut).’” [16]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda pada waktu Fat-hu Makkah (pembebasan kota Makkah):

لاَهِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا.

“Tidak ada hijrah setelah Fat-hu Makkah (pembebasan kota Makkah), akan tetapi yang ada adalah jihad dan niat baik. Bila kalian diminta untuk maju perang, maka majulah!” [17]

Hukum jihad adalah fardhu kifayah [18] dengan dalil-dalil dari Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih serta penjelasan ulama Ahlus Sunnah antara lain dari Al-Qur-an surat an-Nisaa’: 95-96, at-Taubah: 122, al-Muzzamil: 20, dan beberapa hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih.

Empat Imam Madzhab dan lainnya telah sepakat bahwa jihad fii sabiilillaah hukumnya adalah fardhu kifayah, apabila sebagian kaum Muslimin melaksanakannya, maka gugur (kewajiban) atas yang lainnya. Kalau tidak ada yang melaksanakannya maka berdosa semuanya.[19]

Para ulama menyebutkan bahwa jihad menjadi fardhu ‘ain pada tiga kondisi:

Pertama: Apabila pasukan Muslimin dan kafirin (orang-orang kafir) bertemu dan sudah saling berhadapan di medan perang, maka tidak boleh seseorang mundur atau berbalik.

Kedua: Apabila musuh menyerang negeri Muslim yang aman dan mengepungnya, maka wajib bagi penduduk negeri untuk keluar memerangi musuh (dalam rangka mempertahankan tanah air), kecuali wanita dan anak-anak.

Ketiga: Apabila Imam meminta satu kaum atau menentukan beberapa orang untuk berangkat perang, maka wajib berangkat. Dalilnya adalah surat at-Taubah: 38-39. [20]

Jihad diwajibkan atas:
1. Setiap Muslim.
2. Baligh.
3. Berakal.
4. Merdeka.
5. Laki-laki.
6. Mempunyai kemampuan untuk berperang.
7. Mempunyai harta yang mencukupi baginya dan keluarganya selama kepergiannya dalam berjihad.[21]

Bagi kaum wanita tidak ada jihad, jihad mereka adalah haji dan ‘umrah. Hal ini berdasarkan hadits RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ketika beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ ؟ قَالَ: نَعَمْ، عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ: الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ.

“Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita wajib berjihad? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: ‘Ya, kaum wanita wajib berjihad (meskipun) tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu (ibadah) haji dan ‘umrah.’”[22]

C. Keutamaan Jihad
Keutamaan jihad sangat banyak sekali, di antaranya adalah:
1. Geraknya mujahid (orang yang berjihad di jalan Allah) di medan perang itu diberikan pahala oleh Allah.[23]
2. Jihad adalah perdagangan yang untung dan tidak pernah rugi.[24]
3. Jihad lebih utama daripada meramaikan Masjidil Haram dan memberikan minum kepada jama’ah haji. [25]
4. Jihad merupakan satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid).[26]
5. Jihad adalah jalan menuju Surga. [27]
6. Orang yang berjihad, meskipun dia sudah mati syahid namun ia tetap hidup dan diberikan rizki. [28]
7. Orang yang berjihad seperti orang yang berpuasa tidak berbuka dan melakukan shalat malam terus-menerus. [29]
8. Sesungguhnya Surga memiliki 100 tingkatan yang disediakan Allah untuk orang yang berjihad di jalan-Nya. Antara satu tingkat dengan yang lainnya berjarak seperti langit dan bumi. [30]
9. Surga di bawah naungan pedang. [31]
10. Orang yang mati syahid mempunyai 6 keutamaan: (1) diampunkan dosanya sejak tetesan darah yang pertama, (2) dapat melihat tempatnya di Surga, (3) akan dilindungi dari adzab kubur, (4) diberikan rasa aman dari ketakutan yang dahsyat pada hari Kiamat, (5) diberikan pakaian iman, dinikahkan dengan bidadari, (6) dapat memberikan syafa’at kepada 70 orang keluarganya.[32]
11. Orang yang pergi berjihad di jalan Allah itu lebih baik dari dunia dan seisinya.[33]
12. Orang yang mati syahid, ruhnya berada di qindil (lampu/ lentera) yang berada di Surga. [34]
13. Orang yang mati syahid diampunkan seluruh dosanya kecuali hutang.[35]

D. Tujuan Disyari’atkannya Jihad
Jihad memerangi musuh Islam tujuannya agar agama Allah tegak di muka bumi, bukan sekedar membunuh mereka.

Allah al-‘Aziiz berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah saja. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” [Al-Baqarah: 193]

Ibnu Jarir ath-Thabari (wafat th. 310 H) rahimahullah berkata: “Perangilah mereka sehingga tidak terjadi lagi kesyirikan kepada Allah, tidak ada penyembahan kepada berhala, kemusyrikan dan ilah-ilah lain, sehingga ibadah dan ketaatan hanya kepada Allah saja tidak kepada yang lain.” [36]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ...

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah…” [37]

Abu ‘Abdillah al-Qurthubi (wafat th. 671 H) rahimahullah berkata: “Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa sebab ‘qital’ (perang) adalah kekufuran.” [38]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata: “Maksud dan tujuan dari perang di jalan Allah bukanlah sekedar menumpahkan darah orang kafir dan mengambil harta mereka, akan tetapi tujuannya agar agama Islam ini tegak karena Allah di atas seluruh agama dan menghilangkan (mengenyahkan) semua bentuk kemusyrikan yang menghalangi tegaknya agama ini, dan itu yang dimaksud dengan ‘fitnah’ (syirik). Apabila fitnah (kemusyrikan) itu sudah hilang, tercapailah maksud tersebut, maka tidak ada lagi pem-bunuhan dan perang.” [39]

Jadi, jihad disyari’atkan agar agama Allah tegak di muka bumi. Karena itu sebelum dimulai peperangan diperintahkan untuk berdakwah kepada orang-orang kafir agar mereka masuk Islam. [40]

E. Tingkatan Jihad
Menurut Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah jihad memiliki empat tingkatan [41], yaitu:

Pertama: Jihaadun Nafs (Jihad melawan hawa nafsu).
Jihad ini ada empat tingkatan:
1.Berjihad untuk mempelajari ilmu dan petunjuk, yaitu mem-pelajari agama yang haq. Seseorang tidak akan dapat mencapai kejayaan, kebahagiaan di dunia dan akhirat melainkan dengan ilmu dan petunjuk. Apabila dia tidak mau mempelajari ilmu yang bermanfaat, maka dia akan celaka dunia dan akhirat.

2. Berjihad untuk mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya. Bila hanya semata-mata berdasarkan ilmu saja tanpa amal, maka bisa jadi ilmu itu akan mencelakainya bahkan tidak bermanfaat baginya.

3. Berjihad untuk mendakwahkannya, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya, maka apabila dakwah ini tidak dilakukannya maka hal ini termasuk menyembunyikan ilmu yang telah Allah turunkan baik berupa petunjuk maupun keterangan-keterangan [42]. Maka ilmunya tidak akan bermanfaat dan tidak pula dapat menyelamatkannya dari adzab Allah.

4. Berjihad untuk sabar terhadap kesulitan-kesulitan dalam ber-dakwah di jalan Allah dan juga sabar terhadap gangguan ma-nusia. Dia menanggung kesulitan-kesulitan dakwah itu semata-mata karena Allah. Apabila terpenuhi keempat tingkatan tersebut maka ia akan termasuk sebagai orang yang Rabbani. Maka, para Salafush Shalih bersepakat bahwa seseorang tidak dapat disebut sebagai seorang yang Rabbani sampai ia dapat mengetahui kebenaran, mengamalkannya dan mengajarkannya. Oleh karena itu orang yang berilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya, maka ia akan disanjung di sisi para Malaikat-Nya.

Kedua: Jihaadus Syaithaan (Jihad Melawan Syaithan)
Jihad jenis ini ada dua tingkatan:
1. Berjihad untuk membentengi diri dari serangan syubhat dan keraguan yang dapat merusak iman.
2. Berjihad untuk membentengi diri dari serangan keinginan-keinginan yang merusak dan syahwat.

Tingkatan Jihadusy Syaithan yang pertama akan ada sesudah adanya keyakinan dan pada tingkatan yang kedua akan ada sesudah adanya kesabaran.
Allah al-Haafizh berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” [As-Sajdah: 24]

Allah mengabarkan bahwa kepemimpinan dalam agama hanya dapat diperoleh dengan sabar dan yakin. Sabar itu akan dapat menolak syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak. Sedangkan yakin akan dapat menolak dari keraguan dan syubhat.

Ketiga: Jihaadul Kuffaar wal Munaafiqiin
Pada jihad ini terdapat empat tingkatan:
1. Jihad dengan hati.
2. Jihad dengan lisan.
3. Jihad dengan harta.
4. Jihad dengan jiwa

Jihadul Kuffar (jihad melawan orang-orang kafir) lebih khusus (konteksnya dilakukan) dengan tangan (kekuatan), sedangkan Jihadul Munafiqin (jihad melawan orang-orang munafiq) lebih khusus (konteksnya dilakukan) dengan (kekuatan) lisan.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” [At-Taubah: 73] [43]

Keempat: Jihaad Arbaabizh Zhulm wal Bida’ wal Mun-karaat (Jihad Melawan Tokoh-Tokoh yang Zhalim, Pelaku Bid’ah dan Kemungkaran)
Pada jihad ini terdapat tiga tingkatan:
1. Dengan tangan apabila sanggup.
2. Apabila tidak sanggup maka dengan lisan.
3. Apabila tidak sanggup maka dengan hati.

Demikianlah tiga belas tingkatan dari jihad.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ، وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ، مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ.

“Barangsiapa meninggal dunia sedang ia tidak pernah ikut berperang dan ia juga tidak terbetik dalam benaknya untuk berperang, maka matinya termasuk dalam satu cabang kemunafikan.” [44]

Jihad harus dilaksanakan bersama ulil amri, baik ulil amri itu baik ataupun jahat.

F. Pembagian Jihad
Jihad melawan orang-orang kafir dibagi menjadi 2 (dua):

Pertama: Jihadul Fat-h wath Thalab (jihad ofensif).
Jihad ini memerlukan terpenuhinya syarat-syarat syar’iyyah (syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syari’at Islam), sebagai berikut:
1. Adanya seorang imam (pemimpin).
2. Ada Daulah (negara).
3. Ada ar-Raayah (bendera jihad).

Kedua: Jihadud Difaa' (jihad defensif, pembelaan terhadap sebuah negeri Muslim).
Jihad ini hukumnya fardhu ‘ain atas seluruh penduduk negeri yang diserang oleh musuh (agresor). Jika penduduk negeri tersebut lemah, maka mereka harus dibantu oleh penduduk negeri tetangga-nya yang terdekat.

Jihad syar’i harus memiliki persiapan syar’i dan persiapan itu terbagi menjadi 2 (dua):
Pertama, persiapan pembinaan keimanan sehingga umat dapat menegakkan hakekat ibadah kepada Allah Rabb semesta alam, melatih jiwa mereka di atas Kitabullah, mensucikan hati mereka di atas Sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga mereka dapat menolong agama Allah Azza wa Jalla dan syari’at-Nya.

Hal tersebut sesuai dengan firman-Nya:

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ

“Dan sungguh Allah pasti menolong siapa saja yang menolong (agama)-Nya.” [Al-Hajj: 40]

Kedua, persiapan fisik, yakni mempersiapkan jumlah pasukan dan perlengkapannya untuk melawan musuh-musuh Allah dan memerangi mereka.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetar-kan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedangkan Allah mengetahui-nya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” [Al-Anfaal: 60]

Menghidupkan kewajiban jihad dengan segala ketentuan syari’atnya adalah wajib dengan memenuhi syarat-syaratnya.

Memberikan sifat kepada orang-orang yang menghidupkan jihad yang wajib -menurut ketentuan syari’at- dengan kata-kata terorisme adalah kesalahan yang besar, fitnah, tuduhan yang tidak benar dan kesalahan yang fatal serta kebodohan yang sangat.

Adapun melakukan kekacauan (anarki), menteror orang, melemparkan bom, bunuh diri dengan bom mobil, menakut-nakuti orang yang aman atau orang-orang yang dijaga keamanannya oleh negara, membunuh anak-anak, wanita dan orang tua dengan nama jihad dari agama ini adalah tidak benar, perbuatan ini menentang Allah ar-Rafiiq, Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum Mukminin. Mereka telah keluar dari jalannya ulama yang pemahaman ilmunya sangat mendalam.[45]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Pasal "Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Menegakkan Jihad Fii Sabiilillaah Bersama Ulil Amri".
 _______
Footnote
[1]. Lisaanul ‘Arab (II/395-396), Mu’jamul Wasiith (I/142).
[2]. Mufradaat Alfaazhil Qur-aan (hal. 208).
[3]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (I/319) Ibnul Atsir.
[4]. Mufradaat Alfaazhil Qur-aan (hal. 208) oleh al-‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani (wafat th. 425 H) t.
[5]. Fat-hul Baari (VI/3) oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani.
[6]. Ibid.
[7]. HR. Ahmad (III/124), an-Nasa-i (VI/7) dan al-Hakim (II/81) dari Sahabat Anas bin Malikz, dengan sanad yang shahih.
[8]. Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (X/192-193).
[9]. Ibid, (X/191).
[10]. Lihat al-Jihaad fii Sabiilillaah Haqiiqatuhu wa Ghaayatuhu (I/50) oleh Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad Qadiry, cet. II/Darul Manarah-Jeddah, th. 1413 H.
[11]. Fiq-hus Sunnah oleh Sayyid Sabiq (III/40) dan al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz (hal. 481) oleh ‘Abdul ‘Azhim Badawi.
[12]. HR. Al-Bukhari (no. 527) dan Muslim (no. 85 (137)) dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu
[13]. HR. Muslim (no. 84 (136)).
[14]. HR. Ahmad (II/32) sanadnya shahih. Lihat Musnad Ahmad (no. 4873) dan Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (III/477).
[15]. HR. Al-Bukhari (no. 2810, 3126), Muslim (no. 1904) dan Ahmad (IV/392, 397, 402, 405, 417) dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari .
[16]. Tafsir Ibnu Katsir (I/270).
[17]. HR. Al-Bukhari (no. 2783, 2825, 3077), Muslim (no. 1353), Abu Dawud (no. 2480), at-Tirmidzi (no. 1590), an-Nasa-i (VII/146) dan Ahmad (I/266) dari Sahabat Ibnu ‘Abbas, dan juga oleh Muslim (no. 1864) dari ‘Aisyah.
[18]. Risaalatul Irsyaad ilaa Bayaanil Haqq fii Hukmil Jihaad (hal. 44-73) oleh Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, cet. II/Daar Ulama' Salaf, th. 1414 H.
[19]. Lihat al-Jihad fii Sabiilillaah Haqiiqatuhu wa Ghaayatuhu (I/56) oleh Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad Qadir.
[20]. Lihat Risaalatul Irsyaad ilaa Bayaanil Haqq fii Hukmil Jihaad (hal. 89-90) oleh Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, Taudhiihul Ahkaam Syarah Bulughul Maram (VI/331-332) syarah ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman al-Bassam, cet. V/Maktabah al-Asadi, th. 1423 H.
[21]. Lihat al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz (hal. 487) oleh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, cet. III/Daar Ibnu Rajab, th. 1421 H.
[22]. HR. Al-Bukhari (no. 1520), Ibnu Majah (no. 2901) dan Ahmad (VI/165), lafazh ini miliki Ibnu Majah.
[23]. Lihat at-Taubah:120-121.
[24]. Lihat ash-Shaaf: 10-13
[25]. Lihat at-Taubah: 19-21.
[26]. Lihat at-Taubah: 52.
[27]. Lihat Ali ‘Imran: 142.
[28]. Lihat Ali ‘Imran: 169-171.
[29]. HR. Al-Bukhari (no. 2785), Muslim (no. 1878), at-Tirmidzi (no. 1619) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.
[30]. HR. Al-Bukhari (no. 2790) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
[31]. HR. Al-Bukhari (no. 3024-3025) dari Sahabat ‘Abdullah bin Abi ‘Aufa Radhiyallahu ‘anhu
[32]. HR. At-Tirmidzi (no. 1663), Ibnu Majah (no. 2799) dan (Ahmad IV/131) dari Sahabat Miqdam bin Ma’di al-Kariba Radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”
[33]. HR. Bukhari (no. 2792), Fat-hul Baari (VI/13-14) dari Sahabat Anas bin Malik.
[24]. HR. Muslim (no. 1887) dan Tirmidzi (no. 3011) dari Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu
[35]. HR. Muslim (no. 1886) dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu at-Tirmi-dzi (no. 1640), dari Sahabat Anas Radhiyallahu ‘anhu, shahih.
[36]. Lihat Tafsiiruth Thabari (II/200).
[37]. HR. Al-Bukhari (no. 25) dan Muslim (no. 22) dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma
[38]. Lihat Tafsiir al-Qurthubi (II/236), cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyah.
[39]. Lihat Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (hal. 89), Mu-assasah ar-Risalah, cet. I, th. 1420 H.
[40]. Muhimmatul Jihad oleh ‘Abdul Aziz bin Rais ar-Rais, th. 1424 H.
[41]. Lihat Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibaad (III/10-11), Muassasah ar-Risalah, cet. XXV/th. 1412H.
[42]. Lihat QS. Al-Baqarah: 159 dan 174.-Pent.
[43]. Lihat juga QS. At-Tahrim: 9
[44]. HR. Muslim (no. 1910), Abu Dawud (no. 2502), an-Nasa-i (VI/8), Ahmad (II/374), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
[45]. Lihat Mujmal Masaailil Iman wal Kufri al-‘Ilmiyyah fii Ushulil Aqidah as-Salafiyyah point 8 tentang Jihad fii Sabilillaah (hal. 57-60).

Keagungan Jihad di Dalam Al-Quran

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102


OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI 
Keagungan Jihad di Dalam Al-Quran

Al-Quran telah menempatkan jihad pada urutan yang paling utama di antara ibadah-ibadah yang lain. Al-Quran menyatakan dengan sangat jelas, agar kaum Muslim mencintai Allah dan RasulNya, serta jihad di jalan Allah di atas cintanya kepada yang lain. Allah SWT berfirman;

“Katakanlah 'Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” [TMQ al-Taubah (9):24]

Al-Quran juga membandingkan perbuatan-perbuatan baik di dalam Islam dengan aktiviti jihad fi sabilillah. Allah swt berfirman:

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” [TMQ al-Taubah (9):19]

Al-Quran juga melebihkan mujahid (orang yang berjihad) di atas orang tidak pergi berjihad. Allah swt berfirman:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang), satu darjat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (syurga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar (iaitu) beberapa darjat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [TMQ al-Nisa’ (4):95-96]

Keutamaan dan Keluhuran Jihad di Dalam Sunnah

Hadis-hadis shahih telah menuturkan keagungan dan keluhuran jihad fi sabilillah di atas amal-amal soleh yang lain.

1. Jihad Adalah Amal Yang Paling Utama

Di dalam sebuah hadis dituturkan, bahawa Rasulullah saw telah menetapkan kedudukan jihad sebagai amal yang utama dibandingkan dengan amal-amal yang lain, setelah beriman kepada Allah SWT. Bahkan, jihad ditempatkan sebagai ra’s al-’amal (pangkal dari amal). Imam Bukhari menuturkan sebuah hadis dari Abu Dzarr ra, bahawasanya ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:

“Amal apa yang paling utama? Nabi SAW menjawab, “Iman kepada Allah, dan jihad di jalanNya.”[HR. Bukhari]
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, ‘Hadits ini menunjukkan bahawa jihad merupakan amal yang paling utama setelah iman kepada Allah.”
[1]

2. Orang Yang Pergi Berjihad Tidak Boleh Ditandingi Oleh Orang Yang Tidak Berangkat Berjihad

Dalam riwayat lain dinyatakan, bahawa kaum Mukmin yang tidak berangkat jihad, meskipun ia berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan amal kebaikan dan taqwa, dirinya tidak mampu menyamai orang yang pergi ke medan jihad. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah ra, bahawasanya para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:

“Ya Rasulullah! Amal apakah yang boleh menyamai jihad fi sabilillah? Nabi SAW bersabda, “Kalian semua tentu tidak akan sanggup mengerjakannya.” Para sahabat pun mengulangi pertanyaannya dua atau hingga tiga kali, namun setiap kali diajukan pertanyaan itu, Rasulullah SAW menjawab, “Kalian tidak akan mampu mengerjakannya.” Selanjutnya, pada pertanyaan yang ketiga, baginda SAW bersabda, “Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah seperti halnya sa’im (orang yang berpuasa) yang selalu mentaati ayat-ayat Allah, dan ia tidak berhenti dari solat dan puasanya, hingga mujahid di jalan Allah itu pulang kembali.” [HR Muslim]

Ini adalah redaksi hadis menurut versi Muslim. Sedangkan menurut versi Imam Bukhari disebutkan,

“Seorang lelaki mendatangi Rasulullah SAW, dan bertanya, “Tunjukkan kepadaku, amal apakah yang boleh menyamai jihad? Nabi SAW menjawab, “Aku tidak mendapati amal yang boleh menyamai jihad? Kemudian baginda SAW bertanya, “Apakah kamu mampu (mengerjakannya), jika seorang mujahid pergi berjihad, lalu kamu masuk ke masjidmu, kamu kerjakan solat tanpa pernah berhenti, dan kamu kerjakan puasa tanpa pernah berbuka? Kemudian ia berkata, “Lantas, siapa yang mampu mengerjakan hal itu?” Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya, berperangnya seorang mujahid berapa pun lamanya, nescaya akan ditulis baginya kebaikan-kebaikan.” [HR. Bukhari]

Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam Fath al-Baariy menyatakan,

“Imam Fudlail bin ‘Iyadl mengatakan, “Hadits ini menjelaskan keagungan jihad. Sebab, puasa dan ibadah-ibadah lain yang telah disebutkan keutamaan-keutamaannya di dalam hadis ini, seluruhnya setara dengan jihad. Bahkan, semua hal mubah yang dilakukan oleh seorang mujahid sebanding dengan pahala orang yang mengerjakan solat dan ibadah lainnya. Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, “Kamu tidak akan sanggup mengerjakannya.” Sedangkan keutamaan tidak ditetapkan dengan jalan qiyas, akan tetapi ia adalah ketetapan dari Allah SWT kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Hadis ini menjadi bukti, bahawa jihad adalah seutama-utama amal secara mutlak.” [2]

Menurut Imam Nawawi, hadis ini menunjukkan keagungan dan keutamaan jihad dibandingkan amal yang lain. Sebab, solat, puasa, serta mentaati ayat-ayat Allah merupakan amal yang utama. Akan tetapi, Allah SWT menyetarakan kedudukan seorang mujahid dengan orang yang mengerjakan solat, puasa, dan mentaati ayat-ayatNya tanpa pernah berhenti –padahal ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia pun. Oleh karena itu, hadis ini dengan sangat jelas menunjukkan, bahawa jihad adalah seutama-utama ibadah di sisi Allah SWT. [3]

3. Jihad Sebagai Wasilah Menghindarkan Seksa

Sunnah juga menjelaskan bahawa jihad fi sabilillah merupakan wasilah (medium) untuk menyelamatkan diri dari api neraka dan seksa Allah di hari kiamat kelak. Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat, bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah akan dijilat api neraka, debu-debu yang melekat di kaki seorang hamba yang berjihad di jalan Allah.” [HR Bukhari]

Hadis ini juga menunjukkan keutamaan dan keagungan jihad di jalan Allah. Ibnu al-Munayyir menyatakan, bahawa siapa saja yang kakinya berdebu karena berjihad di jalan Allah, nescaya Allah akan haramkan dirinya masuk ke dalam api neraka, baik ia berperang secara langsung mahupun tidak. [4] Sebab, debu-debu yang melekat di kaki para mujahid akan menyelamatkan dirinya dari seksa api neraka. Di dalam riwayat lain dinyatakan,

“Siapa saja yang kakinya berdebu karena berjihad di jalan Allah, nescaya Allah akan menjauhkan dirinya dari api neraka sejauh 1000 tahun perjalanan penunggang kuda yang memecut laju.” [HR Imam al-Thabarani di dalam al-Ausath].

4. Jihad Dapat Menghapus Dosa

Di riwayat yang lain juga diceritakan mengenai keberkatan jihad fi sabilillah meskipun dilakukan sebentar; yakni dapat menghapus dosa-dosa orang yang melakukannya. Dari Ibnu ‘Aidz diriwayatkan, bahawasanya ia berkata,

“Rasulullah SAW keluar mendatangi jenazah seorang lelaki. Ketika jenazah itu diletakkan, ‘Umar bin Khaththab berkata, “Jangan engkau solatkan Ya Rasulullah! Dia itu orang fajir.” Nabi SAW segera menoleh kepada orang banyak dan bertanya, “Apakah ada di antara kalian yang pernah melihat dirinya mengerjakan amal Islami? Seorang laki-laki menjawab, “Benar, Ya Rasulullah! Ia pernah menyibukkan diri dalam jihad di jalan Allah di suatu malam.” Nabi SAW pun mensolatinya, dan kemudian mengusap jenazah itu dengan tanah, seraya berkata, “Sesungguhnya, sahabatmu menduga engkau termasuk penduduk neraka, akan tetapi aku bersaksi bahawa engkau adalah penduduk syurga.” [HR. Imam Baihaqiy di Sya'b al-Iimaan];

Dan masih banyak lagi hadis-hadis yang memiliki pengertian yang sama.

5. Kaum Mujahid Adalah Seutama-utama Manusia

Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Abu Sa’id al-Khudriy, bahawasanya ia berkata:

“Rasulullah SAW ditanya, siapakah orang yang mulia (utama)? Beliau menjawab, “Seorang laki-laki yang berjihad di jalan Allah.” [HR Bukhari]

Hadis ini dengan sarih (jelas) telah menjelaskan kepada kita, bahawa orang yang berjihad di jalan Allah menduduki tempat yang utama. Kaum salaf al-soleh sangat memuliakan orang-orang yang dimuliakan Allah SWT. Mereka berlumba-lumba untuk memuliakan dan menghormati orang yang berjihad di jalan Allah. Di dalam kitab al-Sair al-Kabiir dituturkan sebuah riwayat dari Mujahid (beliau adalah seorang tabi’in dan termasuk muridnya Ibnu Umar), bahawasanya ia (Mujahid) berkata,

“Saya hendak pergi berjihad”. Mendengar ini, Ibnu Umar segera menuntun kudaku!! Aku pun melarang dirinya melakukan hal itu. Namun, ia berkata, “Apakah kamu tidak suka aku mendapatkan pahala? Sungguh, telah sampai berita kepada kami (Ibnu ‘Umar) bahawa orang yang membantu kaum Mujahid, maka kedudukannya diantara penduduk dunia tak ubahnya dengan kedudukan Malaikat Jibril di antara penduduk langit.” [5]

Jumaat, 11 Julai 2014

KERUNTUHAN AL-AQSA PETANDA AWAL KIAMAT

Masjid Al-Aqsa dalam bahaya

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANUR

Masjid Al-Aqsa dalam bahaya

Ini bagi kita ialah isu kemanusiaan, kerana mereka dengan terang terang telah melakukan kezaliman, pembunuhan, dan memusnahkan harta benda. Sepertimana kita lihat apa yang terjadi di Gaza baru-baru ini.

Masjid al-Aqsa dalam bahaya
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على اشرف الانبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ،، أما بعد:

Sidang Jumaat yang dimuliakan….
Sesungguhnya apa yang sedang berlaku terhadap Masjid Al-Aqsa pada hari ini merupakan satu percubaan Zionis yang kejam bagi membakar dan memusnahkan Masjid Al-Aqsa serta menghapuskan kesan-kesan kesucian Bandar Al-Quds. Dengan bertujuan menyingkirkan umat Islam dan mengubah bandar tersebut menjadi bandar Yahudi.

Menjadi satu kewajipan atas setiap muslim, bahkan setiap manusia yang mempunyai kebebasan dan hak untuk bangun menegakkan kebenaran dan menghapuskan kebatilan, serta mempertahan masjid Al-Aqsa dan Palestin umumnya.
Ini bagi kita ialah isu kemanusiaan, kerana mereka dengan terang terang telah melakukan kezaliman, pembunuhan, dan memusnahkan harta benda. Sepertimana kita lihat apa yang terjadi di Gaza baru-baru ini.
Dan isu ini juga ialah isu umat Islam, yang mana akan ditanya di hadapan Allah  SWT sekiranya mereka tidak berusaha membantu saudara mereka di Palestin serta tidak berusaha dan bekerja keras sedaya upaya untuk mengembalikan Masjid Al-Aqsa dan Palestin umumnya.
Sesungguhnya pembinaan semula gereja Yahudi yang sudah roboh berhampiran dengan masjid Al-Aqsa itu ialah satu perkembangan yang sangat bahaya dalam usaha mengubah al-Quds menjadi bandar Yahudi. Kerana bagi mereka, pembinaan gereja ini ialah langkah terakhir bagi membina Haikal Sulaiman yang didakwa, dan satu perancangan untuk merobohkan masjid Al-Aqsa.
Daripada sini kita sebagai umat Islam mesti mempunyai pendirian untuk membantu Masjid Al-Aqsa, memahami isu Al-Aqsa dengan mendalam serta mengetahui peranan kita sebagai seorang Muslim iaitu seperti berikut:
Pertama: kedudukan dan kemuliaan Masjid Al-Aqsa
  1. Masjid ini mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Islam kerana ia adalah tempat Isra’ junjungan kita Nabi Muhamad SAW sepertimana firman Allah SWT:
{ سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} الإسراء/1
Maksudnya: Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya (Muhamad) pada waktu malam dari Masjil Haram ke Masjid Al-Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya tanda tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Pada malam Isra’ Mikraj ini juga nabi kita Muhamad SAW telah menjadi imam solat bersama para Anbiya’ dalam masjid Al-Aqsa dan di sini juga nabi kita mewarisi bendera dan risalah Anbiya’ sebelumnya.
  1. Masjid Al-Aqsa ialah kiblat yang  pertama bagi umat Islam. Kerana inilah kiblat yang ditujukan oleh nabi kita (SAW) dan para sahabat selama 17 bulan semasa mereka berada di Madinah. Sehinggalah Allah SWT menurunkan ayat Al-Quran :
{قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ} البقرة: 144
Maksudnya: Kami melihat wajahmu (Muhamad) sering merenung ke langit, maka kami palingkan engkau ke arah kiblat yang engkau ingini, maka hadapkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu kearah itu. Dan sesungguhnya orang orang yang diberi kitab (Taurat dan injil) tahu. Bahawa itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka, dan Allah tidak akan lalai tentang apa yang sedang mereka lakukan.
  1. Fadilat solat di dalam masjd ini bersamaan 500 solat di masjid lain. Sabda Rasulullah SAW:
«الصلاة في المسجد الحرام بمائة ألف صلاة والصلاة في مسجدي بألف صلاة، والصلاة في بيت المقدس بخمسمائة صلاة» (حديث حسن رواه الطبراني(.
Ertinya: Kelebihan  solat di dalam Masjdil Haram bersamaan dengan 100,000 solat (di tempat lain) , dan solat di dalam masjidku ini (Masjid Madinah) bersamaan 1000 solat. Dan solat di masjid Al-Aqsa bersamaan 500 solat - Riwayat Tabrani
  1. Ia salah satu daripada tiga masjid yang digalakkan untuk dikunjungi. Sepertimana sabda Rasulullah SAW bersabda:
«لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد: المسجد الحرام ومسجدي هذا، والمسجد الأقصى(( .
Ertinya: Tidak digalakan bermusafir kecuali kepada tiga buah masjid iaitu : Masjid Al-Haram, masjid ku ini (Madinah) dan Masjid Al-Aqsa.
Kedua: Tipu helah untuk merampas Masjid Al-Aqsa dan Al-Quds
Pada abad yang lalu, umat Islam telah mengalami kelemahan dan perpecahan sehingga menyebabkan kejatuhan khilafah Uthmaniah. Dan pada masa yang sama ikatan zionis mula ditubuhkan, bagi tujuan merampas tanah suci di Palestin dan menzahirkan warisan warisan palsu yang mereka dapat dari kitab taurat yang telah diputarbelitkan oleh mereka sendiri.
Dan bagi tujuan yang sama, Zionis Yahudi dan Kristian mula bersatu padu dan mengetepikan ketegangan di antara mereka yang sering berlaku demi melawan umat Islam serta merampas tanah suci di Palestin. Dan malangnya mereka telah berjaya dalam hal ini. Tentera British penjajah telah masuk ke tanah suci dan Masjid Al-Aqsa yang masih di bawah pemerintahan kerajaan Islam.
Dan mereka mula menyerang masjid ini bertubi-tubi sehinggalah menang ke atas tentera tentera Arab dan berjaya merampas Masjid Al-Aqsa serta menjadikannya sebagai pusat Zionis yang kejam ini bagi kali pertama dalam sejarah umat Islam.
Pada ketika itulah puak-puak Yahudi di merata dunia mula bergembira dan menyeru untuk rampasan Khaibar dan Madinah sebagai langkah seterusnya. Dan mereka melaungkan tema dan nasyid yang menyakitkan hati umat Islam dengan kata-kata, "Muhamad telah mati dan hanya mewariskan anak-anak perempuan."
Tetapi alhamdulilah masih terdapat segolongan orang Islam yang berjiwa suci mempertahankan masjid ini walaupun telah jatuh ke tangan Yahudi. Mereka sanggup menggadaikan nyawa, bersilih ganti dalam perjuangan mempertahankan Al-Aqsa. Dan membaik pulih bahagian yang telah rosak. Namun Zionis masih belum putus asa untuk memusnahkan masjid ini dan menggantikannya dengan haikal mereka dengan pelbagai cara dan tipu helah seperti menggali terowong di bawah masjid, jambatan dan jalan raya, serta menggalakan pengikut-pengikut mereka untuk membakar, memusnah,  mengebom bahagian bahagian tertentu di masjid ini dengan hasrat supaya Masjid Al-Aqsa runtuh secara sendiri, tanpa dihirau oleh umat Islam. Tetapi Allah SWT masih memelihara Masjid Al-Aqsa.
Keadaan sebegini telah berterusan selama dua tahun sehingga datangnya penyerang Yahudi Michael Dennis dan membakar Mimbar Salahudin dan sebahagian besar dari masjid. Namun para  penjajah dengan sengaja melengah-lengahkan kerja pemadaman api serta cuba menghalang orang Islam dari melakukannya, menyebabkan  sebahagian besar masjid telah musnah.
Jika kita lihat balik perancangan-perancangan untuk menimbuskan masjid ini pula, kita dapati pelbagai cara telah digunakan dan terdapat lebih dari 20 pertubuhan Zionis telah ditubuhkan bagi tujuan yang sama. Ini tidak termasuk ratusan cubaan secara peribadi dan kelompok yang turut  menjajah, membakar, mengebom, menakutkan para jemaah yang solat di sana.
Dengan ini ternyata, pemusnahan yang sedang berlaku di keliling masjid. Dan jalan raya merupakan salah satu perancangan untuk memusnahkan masjid yang mana puak puak Yahudi tidak jemu dan putus asa untuk melakukannya.
 
Ketiga: Al-Aqsa dalam bahaya
Pada tahuan 1968 persatuan Zionis telah mengumumkan penggabungan antara Bandar Al-Quds Timur dengan Bandar al-Quds Barat. Dan menjadikannya bandar yang disatukan.  Pada tahun 1980 pula mereka juga telah mengumumkan bahawa Bandar Al-Quds yang telah disatukan ini ialah bandar Yahudi yang kekal. Dan dimulakan dengan kerja-kerja mengubah Al-Quds Timur sebagai pusat Yahudi dengan secara beransur-ansur.
Di antara kerja mereka ialah:
1.         Membakar Masjid Al-Aqsa pada pagi hari Khamis, 21/08/1969.
2.         Menggali terowong secara berterusan di bawah halaman masjid dan kawasan-kawasan sekelilingnya, dengan alasan mencari Haikal Sulaiman yang didakwa. Dan kerja kerja ini lama-kelamaan akan menyebabkan runtuhnya Masjid Al-Aqsa.
3.         Membina perumahan di bandar dan perkampungan di sekeliling Al-Quds dengan merampas tanah hak milik rakyat Palestin umumnya dan penduduk Bandar Al-Quds secara khusus. Serta merobohkan tempat tinggal rakyat Palestin. Dalam masa yang sama memberi kebenaran kepada Yahudi untuk membina rumah.
4.         Melakukan pembunuhan beramai-ramai di Bandar Al-Quds. Termasuk dalam Masjid al-Aqsa, Kubah Sakhrah, Haram Ibrahimi di Bandar Al-Khalil dan lain lain.
5.         Usaha berterusan untuk menghalau peduduk asal dari Bandar Al-Quds sehingga Yahudi menjadi majoriti penduduk di bandar ini. Untuk itu mereka telah merampas kerakyatan rakyat Palestin dan mengenakan cukai yang dahsyat ke atas mereka, serta tidak memberi apa-apa kemudahan hidup kepada mereka.
7.         Membina pagar di sekeliling Bandar Al-Quds, dan juga di sekeliling tanah Palestin sehingga negara Palestin menjadi seperti penjara tertutup supaya rakyat Palestin tidak dapat bersatu, kenal-mengenal, tolong-menolong. Dan juga untuk mengasingkan Bandar Al-Quds dari segala bandar dan perkampungan lain di Palestin.
7.         Melarang penduduk arab dari menghampiri Bandar Al-Quds dan menghalang mereka dari solat dalam Masjid Al-Aqsa.
8.         Mengenakan pelbagai syarat untuk memasuki Masjid Al-Aqsa. Seperti menentukan had umur yang tertentu bagi jemaah yang ingin masuk terutama di hari Jumaat, sehingga ramai pemuda Palestin terpaksa solat di jalan raya.
9.         Menutup sejumlah organisasi organisasi arab dan Islam di Bandar Al-Quds, terutamanya organisasi akademik dan masyarakat.
10.       Membuat perancangan membina “Bandar Al-Quds terbesar” dengan merampas tanah penduduk arab di Palestin. Dan kerja ini sangat bahaya kerana ianya bertambah luas sehari demi sehari.
11.       Melakukan pembunuhan yang kejam keatas rakyat Palestin, serta menahan sebilangan yang besar pemuda Palestin di Bandar Al-Quds dan perkampungan disekeliling. Sehingga penduduk merasa gerun dan takut.
12.       Menyebarkan unsur-unsur yang dapat memusnahkan pemuda seperti dadah dan lain-lain.
Keempat: Peranan kita secara peribadi dan organisasi terhadap Masjid Al-Aqsa
Sidang Jumaat yang dimuliakan,
Bagaimana kita akan menjawab di hadapan Allah SWT nanti? Sesungguhnya Masjid Al-Aqsa kebelakangan ini sedang mengalami saat-saat kritikal. Kesombongan Yahudi sekarang sudah melampaui batas. Pembunuhan, pemusnahan dan sekatan demi sekatan dilakukan ke atas umat Islam. Zionis telah membuat persiapan, menentukan matlamat, dan menyiapkan perancangan untuk meruntuhkan Masjid Al-Aqsa dan membina Haikal di tapak itu. Namun malang sehingga ke hari ini, umat Islam yang begitu ramai tidak berjaya menghalang mereka.
Junjungan kita Muhamad SAW telah mengajak kita untuk sentiasa bersatu padu dan sentiasa menghampiri Masjid Al-Aqsa, menziarahi dan menunaikan solat di dalamnya. Baginda mengajak mereka membawa minyak untuk pelita-pelita di Masjid Al-Aqsa. Dan ini satu petanda baik bahawa Al-Quds akan jatuh ke tangan umat Islam. Dan akan jadi milik umat Islam. Petanda baik telah menjadi realiti, yang mana Al-Quds telah jatuh ke tangan umat Islam di zaman Umar al-Khatab pada tahun 15 Hijriah.
عَنْ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ: "ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ".، "فَإِنْ لَمْ تَأْتُوهُ وَتُصَلُّوا فِيهِ، فَابْعَثُوا بِزَيْتٍ يُسْرَجُ فِي قَنَادِيلِهِ". رواه الإمام أبو داود
Ertinya: Dari Maimunah r.a. berkata kepada Rasululah: Wahai Rasulullah, berilah padaku satu fatwa tentang Baitulmaqdis. Beliau menjawab, pergilah kamu solat dalam masjid Al-Aqsa. Jika kamu tidak mampu untuk pergi solat di dalamnya maka hantarlah minyak untuk dinyalakan pelita-pelita di masjid al-Aqsa.
Menjadi tanggungjawab ke atas umat Islam pada hari ini, menyelamatkan tempat Isra’ Rasulullah dan mempertahankannya dengan segala cara dan jalan yang mereka mampu. Dan ini adalah kewajipan akidah, kewajipan agama. Kerana Al-Aqsa sebahagian dari agama kita. Sebahagian dari akidah kita. Sebahagian dari ayat Al-Quran kita.
Antara peranan kita ialah:
1.         Peranan secara individu tidak kurang pentingnya dari peranan organisasi iaitu dengan niat yang ikhlas untuk membantu Masjid Al-Aqsa. Sering berdoa siang malam untuk Masjid Al-Aqsa dan pejuang  pejuang disana. Menyebarkan khabar kepada orang ramai, menyertai program menerusi radio, TV dan internet. Menghadiri tarikh-tarikh penting sempena peristiwa yang melibatkan isu Masjid Al-Aqsa serta berusaha untuk menghulurkan bantuan kewangan menerusi tabung tabung Al-Aqsa atau tabung-tabung kanak-kanak Aqsa. Dan juga dengan memperuntukkan sejumlah wang harian untuk  membantu Masjid Al-Aqsa.
2.         Dalam institusi keluarga pula perlu mempelajari sejarah dan isu Al-Aqsa serta  menghulurkan perbelanjaan harian (walau sekadar satu hari) untuk bersama Masjid Al-Aqsa. Begitu juga perlu mengajar anak-anak tentang kelebihan Masjid Al-Aqsa yang terdapat dalam Al-Quran dan hadis Rasulullah. Atau dengan menubuhkan perpustakaan kecil-kecilan yang mengandungi buku, pamplet atau kaset-kaset yang mengandungi isu Masjid Al-Aqsa.
3.         Pihak media pula perlu ada peranan tentang Masjid Al-Aqsa dalam penulisan mereka. Dan perlu sertakan gambar dan bukti dalam laporan-laporan mereka di surat khabar bagi memperlihatkan apa yang sedang dialami oleh Masjid Al-Aqsa. Dan mereka juga perlu menjelaskan isu-isu dan kebatilan yang sedang diwar-warkan oleh media Zionis tentang Masjid Al-Aqsa. Dan lebih dari itu lagi mereka perlu mengadakan sidang media, konferens, ceramah yang khusus tentang isu Masjid Al-Aqsa serta menganjurkan pertandingan kuiz tahunan tetang sejarah Islam dan  Masjid Al-Aqsa.
4.         Menjadi tanggungjawab ke atas para imam, khatib dan pendakwah membawa isu ini dalam ucapan mereka serta mengadakan sudut khas untuk isu  Masjid Al-Aqsa dalam perpustakaan  masjid, tabung  masjid serta menggantung gambar Masjid Al-Aqsa dalam masjid mereka supaya dapat mengingatkan para jemaah tentang isu ini, dan mengajak mereaka berdoa untuk kebaikan Masjid Al-Aqsa.
5.         Saudara kita pengguna internet juga perlu ada peranan menggunakan alat-alat tersebut untuk penyebaran maklumat dan sebarkan isu Masjid Al-Aqsa dalam perbahasan dan pidato mereka. Kerana alat-alat ini dapat menyebarkan berita dengan begitu pantas dan meluas.
6.         Organisasi dan persatuan pula perlu menganjurkan program program tentang Al-Aqsa dan menganjurkan promosi-promosi yang dapat mengumpul dana untuk Al-Aqsa serta mengadakan unit khas dalam organisasi dan promosi mereka untuk membantu Al-Aqsa. Begitu juga membuat pembentangan yang berterusan, menyediakan perpustakaan dan lain lain.
7.         Bekerjasama dengan semua organisasi dan pertubuhan yang bekerja untuk Masjid Al-Aqsa serta menganjurkan program program yang terlibat dengan isu masjid Al-Aqsa.
Kelima: Pertolongan Allah sudah hampir tiba
Bumi Syam adalah bumi jihad yang berterusan sehingga ke hari kiamat.
Ertinya: Dari Muaz r.a. Rasulullah SAW bersabda:
Wahai Muaz! Sesungguhnya Allah SWT akan membuka bumi Syam selepas ketiadaanku. Dari Arish hingga ke Furat. Lelaki, perempuan, hamba mereka akan berjihad hingga kehari kiamat. Sesiapa di kalangan kamu memilih salah satu tempat di bumi Syam atau Baitulmaqdis, maka dia berada dalam jihad hingga ke hari kiamat.
Allah SWT telah memberitahu kepada junjungan kita Muhamad SAW bahawa bumi Al-Aqsa ini akan dirampas atau diugut oleh musuh, kerana inilah baginda menggalakan umatnya agar berjihad mempertahankan bumi ini supaya tidak jatuh ketangan musuh dan berjihad untuk mengembalikannya jika ditakdir jatuh ke tangan musuh. Begitu juga baginda telah memberitahu tentang sebuah peperangan akan berlaku antara umat Islam dan Yahudi dan akhirnya akan dimenangi oleh umat Islam. Semua makhluk akan menyebelahi umat Islam termasuk batu-batu dan pokok. Dan semua akan bercakap dan menunjukkan di mana musuh berada.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: "لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ، فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ، حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ، فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ، إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ".  روى الإمام مسلم
Ertinya: dari Abi Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda: Tidak akan terjadi kiamat sehingga orang Islam berperang dengan Yahudi. Orang Islam akan membunuh orang Yahudi sehingga yahudi itu menyorok di belakang batu dan pokok. Maka batu dan pokok pun bercakap: Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini Yahudi di belakangku. Datanglah ke sini membunuhnya kecuali pokok Gharkad kerana itu adalah pokok  Yahudi. - riwayat Muslim.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : "لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ، لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ". قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ؟ قَالَ: "بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِس". روى الإمام أحمد في مسنده
Ertnya:  Dari Abi Umaimah berkata, Rasulullah SAW bersabda: Sentiasa ada sekumpulan dari umatku yang menegakkan kebenaran, mengasari musuh, dan musuh mereka tidak akan dapat memudaratkan mereka kecuali apa yang dibuat dari belakang mereka. Mereka sentiasa begitu sehingga datangnya pertolongan Allah SWT. Sahabat bertanya: Di manakah mereka wahai Rasulullah? Baginda menjawab: di Baitulmaqdis, dan sekeliling Baitulmaqdis. - riwayat Imam Ahmad
Maka kita sekalian diperintah oleh Allah swt. Untuk berusaha sedaya upaya, membantu Masjid Al-Aqsa, Baitulmaqdis dan Palestin keseluruhannya. Dan kita yakin pertolongan Allah akan datang, dan pertolongan Allah itu sudah hampir.
قال الله تعالي{ أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يأتكم مثل الذين خلوا من قبلكم مستهم البأساء والضراء وزلزلوا حتي يقول الرسول والذين آمنوا معه متي نصر الله ألا إن نصر الله قريب) البقرة 214.
Maksudnya: Adakah kamu menganggap bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cubaan) seperti (dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan digoncang (dengan pelbagai cubaan) sehingga Rasul dan orang orang iman bersamanya berkata, bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Jumaat, 4 Julai 2014

Keistimewaan Orang Yang Bersedekah

APA YANG DIKATAKAN BERSEDEKAH

Makna bersedekah adalah sangat luas berbeza dengan apa yang kita fahami menurut kebiasaan iaitu memberi seseorang wang atau makanan atau pakaian. Sebenarnya apa yang kita fahami dari hadis Rasulullah s.a.w. ia amat luas mencakupi apa sahaja bantuan, pertolongan dan sesuatu yang mengembiranya atau yang kita berikan kepada saudara mara, rakan taulan atau sesiapa sahaja, sehinggakan senyuman yang mengembirakan orang lain pun dianggap sedekah. Ini boleh kita fahami daripada ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis yang berikut.


Allah Mengurniakan Sesuatu Kepada Kita Untuk Disedekahkan.

Nabi telah menyatakan bahawa Allah telah mengurniakan sesuatu yang membolehkan seseorang untuk bersedekah seperti yang terdapat dalam hadis berikut: Segolongan orang miskin di kalangan sahabat telah mendatangi Baginda lalu bertanya: “Ya Rasulullah, orang kaya telah menguasai segala pahala kebaikan, mereka sembahyang, puasa seperti yang kami lakukan. Malah mereka mampu pula bersedekah dengan kelebihan harta mereka sedangkan kami tidak boleh?” Jawab Baginda: Tidakkah Allah telah membuatkan untuk kamu semua itu sesuatu yang kamu boleh sedekahkan. (Riwayat Muslim)

Melepaskan Hutang Adalah Sedekah.

Ini berdasarkan Firman Allah s.w.t.: “Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan dan jika kamu menyedekahkan (sebahagian atau semua hutang) itu, adalah lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (pahalanya).: (Al-Baqarah: 280)

Menyuruh Ma’ruf dan Mencegah Kemungkaran Adalah Sedekah.

Sabda Nabi s.a.w.: [Mafhumnya] Tiap muslim wajib Bersedekah. Para sahabat bertanya, “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?” Nabi s.a.w. menjawab, “Bekerja dengan keterampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu Bersedekah.” Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?” Nabi menjawab: “Menolong orang yang memerlukankan yang sedang teraniaya” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi menjawab: “Menyuruh berbuat ma’ruf.” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi s.a.w. menjawab, “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sedekah.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis yang lain, ada dinyatakan bahawa membuat sesuatu yang baik itu adalah sedekah: “Setiap melakukan perkara yang baik itu adalah sedekah.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Bersedekah Membawa Keberkatan Dan Kemuliaan

Rasulullah s.a.w. Bersabda yang bermaksud: “Tidak akan dikurangi harta dengan sebab bersedekah, Allah tidak menambah keampunan seseorang hamba melainkan seseorang itu ditambahkan dengan kemuliaan. Tidaklah seseorang itu merendah diri kerana mengharapkan keredhaan Allah melainkan akan diangkatkan darjatnya.” H.R. Muslim

Dalam hidup kita seharian ini, setiap langkah yang kita melangkah mungkin berupa sedekah. Contohnya melangkah ke masjid, iaitu setiap langkah akan menghapuskan dosa dan meningkatkan darjat seseorang di sisi Allah. Banyak lagi kategori bersedekah yang diterima sebagai ibadat tanpa kita sedari. Berikut ini akan dinyatakan apakah yang dikatakan sedekah.

Banyak Cara Untuk Bersedekah

Dari Abu Dzar r.a. katanya: “Beberapa orang sahabat Nabi s.a.w. pernah berkata kepada beliau,: “Kaum hartawan memperolehi pahala yang lebih banyak. Mereka solat seperti kami solat, puasa seperti kami puasa dan bersedekah dengan sisa harta mereka.” Jawab Rasulullah s.a.w.: “Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara untuk kamu bersedekah? Setiap kalimah tasbih adalah sedekah; setiap kalimah takbir adalah sedekah; setiap kalimah tahmid adalah sedekah; setiap kalimah tahlil adalah sedekah; amar makruf dan nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kepada yang mungkar) adalah sedekah; bahkan pada kemaluanmu pun terdapat pula unsur sedekah.” Mereka bertanya:”Kalau begitu, adakah kami mendapat pahala jika kami memuaskan nafsu syahwat kami?” Jawab Rasulullah s.a.w. “Jika kamu melakukannya dengan yang haram, tentunya kamu berdosa. Sebaliknya jika kamu melakukannya dengan yang halal, kamu mendapat pahala.” H.R. Bukhari

Pemberian Allah Kepada Kita Adalah Menurut Sebanyak Mana yang Kita Beri Kepada Orang Miskin

Allah s.w.t. berfirman dalam sebuah hadis qudsi: “Wahai manusia, perbendaharaan-Ku tidak akan habis selama-lamanya. Sebanyak mana engkau memberi, sebanyak itulah yang Ku-beri untukmu; sejauh mana engkau tahan, sejauh itulah pula yang Ku-tahan daripadamu. Kekikiranmu memberi bantuan kepada orang-orang miskin daripada harta yang Ku-Kurniakan kepadamu, adalah kerana engkau berburuk sangka terhadap-Ku dan kerana engkau takut menjadi miskin atau kerana engkau tidak percaya kepada-Ku.”
“Kerana, sesungguhnya Ku-jadikan engkau sejak semula mempunyai keinginan yang besar akan harta. Kerana itulah Aku telah memberimu harta. Sekarang, patutlah engkau tidak kikir dan bakhil membagikan hartamu itu kepada hamba-hamba-Ku; Aku telah pun menjamin gantinya, dan menjanjikan balasannya.” Hadis Qudsi, Imam al-Ghazali, Nasihat dan Bimbingan. Tahqiq: Dr. Abdul Hamid Salil Hamdan

Berbelanja untuk Keluarga Adalah Paling Besar Pahalanya

Bersusah payah memberi kesenangan kepada isteri dan berkorban mencari nafkah untuk anak-anak akan diberi ganjaran pahala yang besar oleh Allah s.w.t. Bahkan dikira suatu dosa besar sekiranya seorang suami atau ketua keluarga itu enggan memberi nafkah dan bakhil terhadap isteri dan anak-anaknya sedangkan ia mampu berbuat demikian. Nafkah adalah lebih daripada hanya peruntukan makanan bahkan yang dimaksudkan dengan nafkah adalah memberikan tempat tinggal, pakaian, makanan, perubatan, pendidikan dan perkara-perkara yang munasabah bagi kehidupan seseorang anggota keluarga. Keluarga yang bahagia akan terbentuk sekiranya setiap ahli keluarga memainkan peranan masing-masing. Keberkatan jua akan melimpah sekiranya setiap tanggungjawab itu dilakukan dengan mengambilkira kedudukan halal dan haramnya. Tidak semata-mata ingin mengecap kesenangan dengan jalan yang mudah sehingga akhirnya membawa padah kepada keluarga dan merosakkan rumahtangga.


Memberi nafkah kepada keluarga adalah perkara yang paling besar manfaatnya berbanding memerdekakan hamba atau sedekah kepada fakir miskin. Untuk membolehkan kita memberi nafkah, kita terlebih dulu perlu mempunyai sesuatu untuk disedekahkan. Ringkasnya kita perlu mempunyai sumber pendapatan atau kekayaan untuk disedekahkan.   Rasulullah s.a.w. telah bersabda yang maksudnya: “Satu dinar yang engkau belanjakan pada jalan Allah, satu dinar yang engkau gunakan untuk memerdekakan hamba, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada fakir miskin, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, yang paling besar pahala ganjarannya ialah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu” H.R. Muslim

Tasbih adalah Sedekah, Takbir adalah Sedekah, Tahmid adalah Sedekah, Tahlil adalah Sedekah.

Dalam satu riwayat,  Rasullullah s.a.w.  bersabda yang maksudnya: “Pada tiap-tiap pagi lazimkanlah atas tiap-tiap ruas anggota seseorang kamu bersedekah; tiap-tiap tahlil satu sedekah, tiap-tiap takbir satu sedekah, menyuruh berbuat baik satu sedekah, dan cukuplah (sebagai ganti) yang demikian itu dengan mengerjakan dua rakaat solat Dhuha .” (Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim)


Perintah Allah Amal Sedekah Di Rakam Dalam Al-Quran
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 195
Dan belanjakanlah (apa yang ada pada kamu) kerana (menegakkan) agama Allah, dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan (dengan bersikap bakhil) dan baikilah (dengan sebaik-baiknya segala usaha dan) perbuatan kamu; kerana sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 215
Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad): Apakah yang akan mereka belanjakan (dan kepada siapakah)? Katakanlah: Apa jua harta benda (yang halal) yang kamu belanjakan maka berikanlah kepada: Kedua ibu bapa dan kaum kerabat dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan orang-orang yang terlantar dalam perjalanan dan (ingatlah), apa jua yang kamu buat dari jenis-jenis kebaikan, maka sesungguhnya Allah sentiasa mengetahuiNya (dan akan membalas dengan sebaik-baiknya).
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 245
Siapakah orangnya yang (mahu) memberikan pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (yang ikhlas) supaya Allah melipatgandakan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah), Allah jualah Yang menyempit dan Yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 254
Wahai orang-orang yang beriman! Sebarkanlah sebahagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kamu, sebelum tibanya hari (kiamat) yang tidak ada jual beli padanya dan tidak ada kawan teman (yang memberi manfaat), serta tidak ada pula pertolongan syafaat dan orang-orang kafir, mereka itulah orang-orang yang zalim.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 261
Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 262
Orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan (agama) Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang mereka belanjakan itu dengan perkataan membangkit-bangkit (pemberiannya) dan tidak pula menyinggung atau menyakiti (pihak yang diberi), mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka dan tidak ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka dan mereka pula tidak akan berdukacita.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 263
(Menolak peminta-peminta sedekah) dengan perkataan yang baik dan memaafkan (kesilapan mereka) adalah lebih baik daripada sedekah (pemberian) yang diiringi (dengan perbuatan atau perkataan yang) menyakitkan hati dan (ingatlah), Allah Maha Kaya, lagi Maha Penyabar.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 264
Wahai orang-orang yang beriman! Jangan rosakkan (pahala amal) sedekah kamu dengan perkataan membangkit-bangkit dan (kelakuan yang) menyakiti, seperti (rosaknya pahala amal sedekah) orang yang membelanjakan hartanya kerana hendak menunjuk-nunjuk kepada manusia (riak) dan dia pula tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat. Maka bandingan orang itu ialah seperti batu licin yang ada tanah di atasnya, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu ditinggalkannya bersih licin (tidak bertanah lagi). (Demikianlah juga halnya orang-orang yang kafir dan riak itu) mereka tidak akan mendapat sesuatu (pahala) pun dari apa yang mereka usahakan dan (ingatlah), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 265
Dan bandingan orang-orang yang membelanjakan hartanya kerana mencari keredaan Allah dan kerana meneguhkan (iman dan perasaan ikhlas) yang timbul dari jiwa mereka, adalah seperti sebuah kebun di tempat yang tinggi, yang ditimpa hujan lebat, lalu mengeluarkan hasilnya dua kali ganda. Kalau ia tidak ditimpa hujan lebat maka hujan renyai-renyai pun (cukup untuk menyiraminya) dan (ingatlah), Allah sentiasa Melihat akan apa yang kamu lakukan.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 267
Wahai orang-orang yang beriman! Belanjakanlah (pada jalan Allah) sebahagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat), padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu (kalau diberikan kepada kamu), kecuali dengan memejamkan mata padanya dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 268
Syaitan itu menjanjikan (menakut-nakutkan) kamu dengan kemiskinan dan kepapaan (jika kamu bersedekah atau menderma) dan dia menyuruh kamu melakukan perbuatan yang keji (bersifat bakhil kedekut); sedang Allah menjanjikan kamu (dengan) keampunan daripadaNya serta kelebihan kurniaNya dan (ingatlah), Allah Maha Luas limpah rahmatNya, lagi sentiasa Meliputi PengetahuanNya.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 271
Kalau kamu zahirkan sedekah-sedekah itu (secara terang), maka yang demikian adalah baik (kerana menjadi contoh yang baik) dan kalau pula kamu sembunyikan sedekah-sedekah itu serta kamu berikan kepada orang-orang fakir miskin, maka itu adalah baik bagi kamu dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebahagian dari kesalahan-kesalahan kamu dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui secara mendalam akan apa yang kamu lakukan.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 272
Tidaklah engkau diwajibkan (wahai Muhammad) menjadiKan mereka (yang kafir) mendapat petunjuk (kerana kewajipanmu hanya menyampaikan petunjuk), akan tetapi Allah jualah yang memberi petunjuk (dengan memberi taufik) kepada sesiapa yang dikehendakinya (menurut undang-undang peraturanNya) dan apa jua harta yang halal yang kamu belanjakan (pada jalan Allah) maka (faedahnya dan pahalanya) adalah untuk diri kamu sendiri dan kamu pula tidaklah mendermakan sesuatu melainkan kerana menuntut keredaan Allah dan apa jua yang kamu dermakan dari harta yang halal, akan disempurnakan (balasan pahalanya) kepada kamu dan (balasan baik) kamu (itu pula) tidak dikurangkan.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 273
Pemberian sedekah itu) ialah bagi orang-orang fakir miskin yang telah menentukan dirinya (dengan menjalankan khidmat atau berjuang) pada jalan Allah (membela Islam), yang tidak berupaya mengembara di muka bumi (untuk berniaga dan sebagainya); mereka itu disangka: Orang kaya oleh orang yang tidak mengetahui halnya, kerana mereka menahan diri daripada meminta-minta. Engkau kenal mereka dengan (melihat) sifat-sifat dan keadaan masing-masing, mereka tidak meminta kepada orang ramai dengan mendesak-desak dan (ketahuilah), apa jua yang kamu belanjakan dari harta yang halal maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahuinya.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 274
Orang-orang yang membelanjakan (mendermakan) hartanya pada waktu malam dan siang, dengan cara sulit atau terbuka, maka mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka dan tidak ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, serta mereka pula tidak akan berdukacita.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 276
Allah susutkan (kebaikan harta yang dijalankan dengan mengambil) riba dan Ia pula mengembangkan (berkat harta yang dikeluarkan) sedekah-sedekah dan zakatnya. Dan Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang kekal terus dalam kekufuran, dan selalu melakukan dosa.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 280
Dan jika orang yang berhutang itu sedang mengalami kesempitan hidup, maka berilah tempoh sehingga dia lapang hidupnya dan (sebaliknya) bahawa kamu sedekahkan hutang itu (kepadanya) adalah lebih baik untuk kamu, kalau kamu mengetahui (pahalanya yang besar yang kamu akan dapati kelak).
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 8
Dan apabila kerabat (yang tidak berhak mendapat pusaka) dan anak-anak yatim serta orang-orang miskin hadir ketika pembahagian (harta pusaka) itu, maka berikanlah kepada mereka sedikit daripadanya dan berkatalah kepada mereka dengan kata-kata yang baik.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 39
Dan apakah (kerugian) yang akan menimpa mereka jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, serta mereka mendermakan sebahagian dari apa yang telah dikurniakan Allah kepada mereka? Dan (ingatlah) Allah sentiasa Mengetahui akan keadaan mereka.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 114
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang yang menyuruh bersedekah atau berbuat kebaikan atau mendamaikan di antara manusia dan sesiapa yang berbuat demikian dengan maksud mencari keredaan Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya pahala yang amat besar