AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Khamis, 16 Oktober 2014

Bahaya Buku Hitam" Yahudi Kitab TALMUD

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102



OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
 
 

Bahaya"Buku Hitam" Yahudi Kitab TALMUD

talmud
Kitab Talmud. (bahasa Ibrani: תלמוד)
Kitab Talmud, sebuah "buku hitam" Israel yang paling berbahaya bagi manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan.
Kitab Talmud adalah kitab suci yang terpenting bagi kaum Yahudi, bahkan lebih penting daripada Kitab Perjanjian Lama, yg juga dikenal dgn nama Kitab Taurat. Bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Talmud ‘Erubin’ 2b (edisi Soncino) yang mengingatkan kepada kaum Yahudi, “Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat Taurat”.
Para pendeta Parisi mengajarkan, doktrin dan fatwa yang berasal dari para rabbi (pendeta), lebih tinggi kedudukannya daripada wahyu yang datang dari Tuhan. Talmud mengemukakan hukum-hukumnya berada di atas Taurat, bahkan tidak mendukung isi Taurat. Bahkan para pendeta Talmud pun mengklaim bahwa sebagian dari isi Kitab Talmud merupakan himpunan dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s. secara lisan. Sampai dengan kedatangan Nabi Isa a.s. Kitab Talmud belum dihimpun secara tertulis seperti bentuknya yang sekarang.
Dalam tafsir Al Marâghi dijelaskan bahwa ‘Uzair adalah seorang pendeta (kâhin) Yahudi, ia hidup sekitar 457 SM. Menurut kepercayaan orang-orang Yahudi ‘Uzair adalah orang yang telah mengumpulkan kembali wahyu-wahyu Allah di kitab Taurat yang sudah hilang sebelum masa Nabi Sulaiman as. Sehingga segala sumber yang yang dijadikan rujukan utama adalah yang berasal dari ‘Uzair, karena menurut kaum Yahudi waktu itu ‘Uzair adalah satu-satunya sosok yang paling diagungkan, maka sebagian mereka akhirnya menisbatkan ‘uzair sebagai anak Allah.
Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah,9:30).
Dari ayat tsb nampak jelas bahwa orang-orang Yahudi telah menghina Allah, karena telah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, (QS. Al-Ikhlash 112 :3).
Seorang peneliti Yahudi, Hyam Maccoby, dalam bukunya ‘Judaism on Trial’ mengutip pemyataan Rabbi Yehiel ben Joseph, bahwa “Tanpa Talmud kita tidak akan mampu memahami ayat-ayat Taurat … Tuhan telah melimpahkan wewenang ini kepada mereka yang arif, karena tradisi merupakan suatu kebutuhan yang sama seperti kitab-kitab wahyu. Para arif itu membuat tafsiran mereka … dan mereka yang tidak pernah mempelajari Talmud tidak akan mungkin mampu memahami Taurat.”
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa penyelewengan dalam masalah akidah merupakan tindakan yang sangat sesat, karena sekitar 1/3 dari kandungan Al-Quran menjelaskan tentang kidah/kepercayaan atas semua rukun iman yang harus diyakini oleh setiap manusia.
Nabi Isa a.s. sendiri mengutuk tradisi ‘mishnah’ (Talmud awal), termasuk mereka yang mengajarkannya (para hachom Yahudi dan kaum Farisi), karena isi Kitab Talmud seluruhnya menyimpang, bahkan bertentangan dengan Kitab Taurat. Kaum Kristen, karena ketidak-pahamannya, hingga dewasa ini menyangka Perjanjian Lama merupakan kitab tertinggi bagi agama Yahudi. Sangkaan itu keliru.
Terhadap tradisi ‘mishnah’ itu para pendeta Yahudi menambah sebuah kitab lagi yang mereka sebut ‘Gemarah’ (kitab “tafsir” dari para pendeta). Tradisi ‘mishnah’ (yang kemudian dibukukan) bersama dengan “Gemarah’, itulah yang disebut Talmud. Ada dua buah versi Kitab Talmud, yaitu ‘Talmud Jerusalem’ dan ‘Talmud Babilonia’. ‘Talmud Babilonia’ adalah kitab yang paling otoritatif.
Memang ada kelompok di kalangan kaum Yahudi yang menolak Talmud, dan tetap berpegang teguh kepada kitab Taurat (Taurat ada dua Versi : Taurat asli dan Taurat versi Perjanjian Lama yang sekarang). Mereka ini disebut golongan 'Karaiyah', kelompok yang sepanjang sejarahnya paling dibenci dan menjadi korban didzalimi oleh para pendeta Yahudi orthodoks.
Kitab Talmud adalah sebuah kitab paling berbahaya yang pernah ada di muka bumi.
Kitab Talmud bukan saja menjadi sumber dalam penetapan hukum agama, tetapi juga menjadi ideologi dan prinsip-prinsip, serta arahan bagi penyusunan kebijakan negara dan pemerintah Israel, dan menjadi pandangan hidup orang Yahudi pada umumnya. Itu pula sebabnya mengapa negara Israel disebut sebagai negara yang rasis, chauvinistik, theokratik, konservatif, dan sangat dogmatik.
Ilmuwan terkenal dalam bidang kebudayaan Ibrani dan kajian tentang Talmud, Joseph Barcley, menyatakan: “....Sebagian teks yang ada dalam Talmud adalah ekstrim, sebagiannya lagi menjijikkan, dan sebagian lagi berisi kekufuran..... “karenanya, banyak penguasa negara (raja dan kaisar) dan penguasa agama (Paus) di Eropa mengharamkan beredarnya kitab ini".
Talmud merupakan manifesto yang paling berbahaya kepada perikemanusiaan. Ia lebih berbahaya daripada buku Mein Kampf, karya Hitler. bahkan Kitab Talmud ini menggariskan penghancuran total semua agama dan peradaban yang ada di dunia, demi terciptanya sebuah masyarakat Zionis internasional.
Dalam buku “An Interview of Illan Pappe, ” Baudoin Loos menyebutkan seorang sejarawan Yahudi Illan Pappe yang menyandang julukan “Orang Israel yang paling dibenci di Israel”. Pappe adalah salah seorang Yahudi yang memilih memihak pada hati nurani dan tanpa takut membongkar mitos-mitos Zionisme.
anak2israelSaat ditanya, kenapa orang Israel bisa melakukan berbagai kekejaman terhadap orang Palestina, Pappe menjawab, “Ini buah dari sebuah proses panjang pengajaran paham, indoktronasi, yang dimulai sejak usia taman kanak-kanak, semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada, dan penuh kebencian: Orang itu memang penuh kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah dirampas tanahnya.”[1]
anak2israel2Indoktrinasi terhadap anak-anak Israel berlanjut hingga ia besar. Ayat-ayat Talmud dijadikan satu-satunya “pedoman moral” bagi mereka. Yang paling utama adalah indoktrinasi bahwa "hanya orang-orang bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia melainkan binatang." (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a). “Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a). "Orang-orang Non Yahudi boleh dibantai / dibunuh karena hukumnya Wajib." (Sanhedrin 58).
anak2israel3Penanaman doktrin rasisme yang terdapat dalam Talmud dilakukan para orangtua kaum Zionis kepada anak-anak mereka sejak dini. Survei yang diadakan oleh Ary Syerabi, mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat dia bergabung dengan London Institute for Economic Studies. Ary Serabi ingin mengetahui perasaan apa yang ada di dalam benak anak-anak Israel terhadap anak-anak Palestina sebaya mereka yang sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu Ary memberikan sehelai kertas dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata, “Tulislah surat buat anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan pada mereka. ”
anak2libanonHasilnya sungguh mencengangkan. Anak-anak Israel yang menyangka suratnya benar-benar dikirim kepada anak-anak Palestina. Mereka menulis surat mereka dengan sebenar-benarnya, keluar dari hati terdalam. Apa saja yang mereka tulis? Salah satu surat ditulis oleh seorang anak perempuan Israel berusia 8 tahun. Ia mengaku menulis surat kepada anak perempuan Palestina seusianya. Isi suratnya antara lain:
mayat-anak2-korban-israel"Sharon akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung… dan membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami, wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) dari mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian…ha…ha…ha”
Bocah Israel itu menggambar sosok Sharon dengan kedua tangannya menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.
qana1996-a'Protocols of Learned Elders of Zion' (Protokol Para Pemuka Agama Yahudi) adalah rencana praktis atau kertas kerja untuk merealisasikan semua kandungan Taurat dan Talmud. Jika Talmud merupakan buah pahit dari ajaran Perjanjian Lama (Taurat), maka Protol Yahudi ini merupakan kertas kerja yang meringkas semua ajaran Talmud kepada rencana strategis modern dan kontemporer.
Metoda kerja yang dipakai oleh ‘Protokol’ untuk menghancurkan suatu masyarakat cukup jelas. Memahami metoda itu penting jika seseorang ingin menemukan makna dari arus serta arus-balik yang membuat orang menjadi frustrasi ketika mencoba memahami kekacauan keadaan masa kini. Orang menjadi bingung dan hilang semangat oleh berbagai teori masa kini dan suara-suara yang centang-perenang. Setiap suara atau teori itu seakan-akan dapat dipercaya dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. Kalau saja kita dapat memahami makna dari suara yang centang-perenang dan berbagai teori yang amburadul itu, maka hal itu akan menyadarkan kita bahwa kebingungan dan hilangnya semangat masyarakat merupakan sasaran yang dituju oleh ‘Protokol’. Ketidakpastian, keragu-raguan, kehilangan harapan, ketakutan, semuanya ini merupakan reaksi yang diciptakan oleh program yang diuraikan di dalam ‘Protokol’ yang diharapkan tercapai. Kondisi masyarakat dewasa ini merupakan bukti efektifnya program tersebut.
Pelaksanaan ajaran Talmud tentang keunggulan kaum Yahudi yang didasarkan pada ajaran kebencian itu telah menyebabkan penderitaan yang tak terperikan terhadap orang lain sepanjang sejarah ummat manusia sampai dengan saat ini, khususnya di tanah Palestina. Ajaran itu telah dijadikan dalih untuk membenarkan pembantaian secara massal penduduk sipil Arab-Palestina. Kitab Talmud menetapkan bahwa semua orang yang bukan-Yahudi disebut “goyim”, sama dengan binatang, derajat mereka di bawah derajat manusia. Ras Yahudi adalah “ummat pilihan”, satu-satunya ras yang mengklaim diri sebagai keturunan langsung dari Nabi Adam a.s.
Beberapa kutipan yang diangkat dari Kitab Tamud dalam uraian berikut ini merupakan dokumen asli yang tidak-terbantahkan, dengan harapan dapat memberikan pencerahan kepada segenap ummat manusia, termasuk kaum Yahudi, tentang kesesatan dan rasisme dari ajaran Talmud yang penuh dengan kebencian, yang menjadi kitab suci baik bagi kaum Yahudi Orthodoks maupun Hasidiyah di seluruh dunia.
talmud-unmaskedBeberapa Contoh Isi Ajaran Talmud
Erubin 2b, “Barangsiapa yang tidak taat kepada para rabbi mereka akan dihukum dengan cara dijerang di dalam kotoran manusia yang mendidih di neraka”.
Moed Kattan 17a, “Bilamana seorang Yahudi tergoda untuk melakukan sesuatu kejahatan, maka hendaklah ia pergi ke suatu kota dimana ia tidak dikenal orang, dan lakukanlah kejahatan itu disana”
Menganiaya seorang Yahudi Sama Dengan Menghujat Tuhan dan Hukumannya ialah Mati
Sanhedrin 58b, “Jika seorang kafir menganiaya seorang Yahudi, maka orang kafir itu harus dibunuh”.
Dibenarkan Menipu Orang yang Bukan-Yahudi
Sanhedrin 57a, “Seorang Yahudi tidak wajib membayar upah kepada orang kafir yang bekerja baginya”.
Orang Yahudi Mempunyai Kedudukan Hukum yang Lebih Tinggi
Baba Kamma 37b, “Jika lembu seorang Yahudi melukai lembu kepunyaan orang Kanaan, tidak perlu ada ganti rugi; tetapi ,jika lembu orang Kanaan sampai melukai lembu kepunyaan orang Yahudi maka orang itu harus membayar ganti rugi sepenuh-penuhnya”.
Orang Yahudi Boleh Mencuri Barang Milik Bukan-Yahudi
Baba Mezia 24a, “Jika seorang Yahudi menemukan barang hilang milik orang kafir, ia tidak wajib mengembalikan kepada pemiliknya”. (Ayat ini ditegaskan kembali di dalam Baba Kamma 113b),
Sanhedrin 57a, “Tuhan tidak akan mengampuni seorang Yahudi ‘yang mengawinkan anak-perempuannya kepada seorang tua, atau memungut menantu bagi anak-lakinya yang masih bayi, atau mengembalikan barang hilang milik orang Cuthea (kafir)’ …”.
Orang Yahudi Boleh Merampok atau Membunuh Orang Non-Yahudi
Sanhedrin 57a, “Jika seorang Yahudi membunuh seorang Cuthea (kafir), tidak ada hukuman mati, Apa yang sudah dicuri oleh seorang Yahudi boleh dimilikinya”.
Baba Kamma 37b, “Kaum kafir ada di luar perlindungan hukum, dan Tuhan membukakan uang mereka kepada Bani Israel”.
Orang Yahudi Boleh Berdusta kepada Orang Non-Yahudi
Baba Kamma 113a, “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta untuk menipu orang kafir”.
Yang Bukan-Yahudi adalah Hewan di bawah Derajat Manusia
Yebamoth 98a, “Semua anak keturunan orang kafir tergolong sama dengan binatang”.
Abodah Zarah 36b, “Anak-perempuan orang kafir sama dengan ‘niddah’ (najis) sejak lahir”.
Abodah Zarah 22a – 22b, “Orang kafir lebih senang berhubungan seks dengan lembu”.
Ajaran Gila di dalam Talmud
Gittin 69a, “Untuk menyembuhkan tubuh ambil debu yang berada di bawah bayang-bayang jamban, dicampur dengan madu lalu dimakan“.
Shabbath 41a, “Hukum yang mengatur keperluan bagaimana kencing dengan cara yang suci telah ditentukan”.
Yebamoth 63a, ” … Adam telah bersetubuh dengan semua binatang ketika ia berada di Sorga”.
Yebamoth 63a, “…menjadi petani adalah pekerjaan yang paling hina “.
Sanhedrin 55b, “Seorang Yahudi boleh mengawini anak-perempuan berumur tiga tahun (persisnya, tiga tahun satu hari)”.
Sanhedrin 54b, “Seorang Yahudi diperbolehkan bersetubuh dengan anak-perempuan, asalkan saja anak itu berumur di bawah sembilan tahun”.
Kethuboth 11b, “Bilamana seorang dewasa bersetubuh dengan seorang anak perempuan, tidak ada dosanya”.
Yebamoth 59b, “Seorang perempuan yang telah bersetubuh dengan seekor binatang diperbolehkan menikah dengan pendeta Yahudi. Seorang perempuan Yahudi yang telah bersetubuh dengan jin juga diperbolehkan kawin dengan seorang pendeta Yahudi”.
Abodah Zarah 17a, “Buktikan bilamana ada pelacur seorangpun di muka bumi ini yang belum pernah disetubuhi oleh pendeta Talmud Eleazar”.
Hagigah 27a, “Nyatakan, bahwa tidak akan ada seorang rabbi pun yang akan masuk neraka”.
Baba Mezia 59b, “Seorang rabbi telah mendebat Tuhan dan mengalahkan-Nya. Tuhan pun mengakui bahwa rabbi itu memenangkan debat tersebut”.
Gittin 70a, “Para rabbi mengajarkan, ‘Sekeluarnya seseorang dari jamban, maka ia tidak boleh bersetubuh sampai menunggu waktu yang sama dengan menempuh perjalanan sejauh setengah mil, konon iblis yang ada di jamban itu masih menyertainya selama waktu itu, kalau ia melakukannya juga (bersetubuh), maka anak-keturunannya akan terkena penyakit ayan”.
Gittin 69b, “Untuk menyembuhkan penyakit kelumpuhan campur kotoran seekor anjing berbulu putih dan campur dengan balsem; tetapi bila memungkinkan untuk menghindar dari penyakit itu, tidak perlu memakan kotoran anjing itu, karena hal itu akan membuat anggota tubuh menjadi lemas “.
Pesahim 11a, “Sungguh terlarang bagi anjing, perempuan, atau pohon kurma, berdiri di antara dua orang laki-laki. Karena musibah khusus akan datang jika seorang perempuan sedang haid atau duduk-duduk di perempatan jalan “.
Menahoth 43b-44a, “Seorang Yahudi diwajibkan membaca doa berikut ini setiap hari, ‘Aku bersyukur, ya Tuhanku, karena Engkau tidak menjadikan aku seorang kafir, seorang perempuan, atau seorang budak belian’ “.
Inilah sebagian kecil dari ayat-ayat hitam Talmud. Setiap hari Sabtu yang dianggap suci (Shabbath), mereka mendaras Talmud sepanjang hari dan mengkaji ayat-ayat di atas. Mereka menganggap Yahudi sebagai ras yang satu-satunya berhak disebut manusia. Sedangkan ras di luar Yahudi mereka anggap sebagai binatang, termasuk orang-orang liberalis yang malah melayani kepentingan kaum Zionis.
Pengakuan Talmud
Abodah Zarah 70a, “Seorang rabbi ditanya, apakah anggur yang dicuri di Pumbeditha boleh diminum, atau anggur itu sudah dianggap najis, karena pencurinya adalah orang-orang kafir (seorang bukan-Yahudi bila menyentuh guci anggur, maka anggur itu dianggap sudah najis). Rabbi itu menjawab, tidak perlu dipedulikan, anggur itu tetap halal (‘kosher’) bagi orang Yahudi, karena mayoritas pencuri yang ada di Pumbeditha, tempat dimana guci-guci anggur itu dicuri, adalah orang-orang Yahudi”. (Kisah ini juga ditemukan di dalam Kitab Gemara, Rosh Hashanah 25b).
Ibadah Orang Farisi
Erubin 21 b, “Rabbi Akida berkata kepadanya, ‘Berikan saya air untuk mencuci tangan saya’. Ia menjawab, ‘Air itu tidak cukup bahkan untuk diminum, apalagi untuk membasuh tanganmu’ keluhnya. ‘Lalu apa yang harus saya perbuat ?’ tanya seseorang lainnya, ‘padahal engkau tahu menentang ucapan seorang rabbi diancam dengan hukuman mati?’ ‘Saya lebih baik mati daripada menentang pendapat kawan-kawan saya’ ” (Ritual cuci tangan ini terekam dikutuk Nabi Isa a.s. dalam Injil Matius 15 : 1- 9).
Genosida Dihalalkan oleh Talmud
Perjanjian Kecil, Soferim 15, Kaidah 10, “Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon ben Yohai, ‘Tob shebe goyyim harog’ (“Bahkan orang kafir yang baik sekali pun seluruhnya harus dibunuh”). Orang-orang Israeli setiap tahun mengikuti acara nasional ziarah ke kuburan Simon ben Yohai untuk memberikan penghormatan kepada rabbi yang telah menganjurkan untuk menghabisi orang-orang non-Yahudi [2].
Di Purim, pada tanggal 25 Februari 1994 seorang perwira angkatan darat Israel, Baruch Goldstein, seorang Yahudi Orthodoks dari Brooklyn, membantai 40 orang muslim, termasuk anak-anak, tatkala mereka tengah bersujud shalat di sebuah masjid. Goldstein adalah pengikut mendiang Rabbi Meir Kahane, yang menyatakan kepada kantor berita CBS News, bahwa ajaran yang dianutnya mengatakan orang-orang Arab itu tidak lebih daripada anjing, sesuai ajaran Talmud”.[3]
Ehud Sprinzak, seorang profesor di Universitas Jerusalem menjelaskan tentang falsafah Kahane dan Goldstein, “Mereka percaya adalah teiah menjadi iradat Tuhan, bahwa mereka diwajibkan untuk melakukan kekerasan terhadap ‘goyyim’, sebuah istilah Yahudi untuk orang-orang non-Yahudi”. [4]
Rabbi Yizak Ginsburg menyatakan, “Kita harus mengakui darah seorang Yahudi dan darah orang ‘goyyim’ tidaklah sama”. [5]
Rabbi Jacov Perrin berkata, “Satu juta nyawa orang Arab tidaklah seimbang dengan sepotong kelingking orang Yahudi”.[6]
Doktrin Talmud : Orang non- Yahudi Bukanlah Manusia
Talmud secara spesifik menetapkan orang non-Yahudi termasuk golongan binatang, bukan-manusia, dan secara khusus menyatakan bahwa mereka bukan dari keturunan Nabi Adam a.s. Ayat-ayat yang berkaitan itu ditemukan bertebaran di dalam Kitab Talmud, antara lain sebagai berikut :
Kerihoth 6b, “Menggunakan minyak untuk mengurapi. Rabbi kita mengajarkan, ‘Barangsiapa menyiramkan minyak pengurapan kepada ternak atau perahu, ia tidak melakukan dosa; bila ia melakukannya kepada ‘goyyim’, atau orang mati, dia tidak melakukan dosa. Hukum yang berhubungan dengan ternak dan perahu adalah benar, karena telah tertulis: terhadap tubuh manusia (Ibrani: Adam) tidak boleh disiramkan (Exodus 30:32); karena ternak dan perahu bukan manusia (Adam)’ “. “Juga dalam hubungan dengan yang meninggal (sepatutnya) ia dikecualikan, karena setelah meninggal ia menjadi bangkai dan bukan manusia lagi (Adam).
Tetapi mengapa terhadap ‘goyyim’ juga dikecualikan, apakah mereka tidak termasuk kategori manusia (Adam) ? Tidak, karena telah tertulis: ‘Wahai domba-domba-Ku, domba-domba di padang gembalaan-Ku adalah manusia (Adam)’ (Ezekiel 34:31): Engkau disebut manusia (Adam), tetapi ‘goyyim’ tidak disebut sebagai manusia (Adam)’ “.
Pada ayat-ayat terdahulu para rabbi membahas hukum Talmud yang melarang memberikan minyak suci bagi manusia. Dalam pembahasan itu para rabbi menjelaskan bukanlah suatu dosa untuk memberikan miyak suci itu kepada ‘goyyim’ (kaum non-Yahudi, seperti Muslim, Kristen, dan sebagainya), karena ‘goyyim’ tidak termasuk golongan manusia (harfiahnya: bukan keturunan Adam).
Yebamoth 61a, “Telah diajarkan: Begitulah Simeon ben Yohai menerangkan (61a) bahwa kuburan orang ‘goyyim’ tidak termasuk tempat yang suci untuk mendapatkan ‘ohel’ (memberikan sikap ruku’ terhadap kuburan), karena telah dikatakan, wahai domba-domba-Ku yang ada di padang gembalaan-Ku, kalian adalah manusia (Adam)’, (Ezekiel 34:31); kalian disebut manusia (Adam); tetapi kaum kafir ltu tldak disebut manusia (Adam)’ “.
Hukum Talmud menerangkan bahwa seorang Yahudi yang menyentuh bangkai manusia atau kuburan (Yahudi) menyebabkan ia ternajisi. Tetapi hukum Talmud mengajarkan, sebaliknya, jika seorang Yahudi menyentuh kuburan orang goyyim, hal itu membuat ia tetap suci, karena orang goyyim tidak termasuk golongan manusia (Adam).
Baba Mezia 114b, “Dia (Rabbah) berkata kepadanya: ‘Apakah engkau bukan pendeta: mengapa engkau berdiri di atas kuburan ? Ia menjawab: ‘Apakah guru belum mempelajari hukum tentang kesucian? Karena telah diajarkan: Simeon ben Yohai berkata:‘Kuburan kaum ‘goyyim’ tidak menajisi. Karena telah tertulis, ‘Wahai gembalaan-Ku gembalaan di padang rumput-Ku adalah manusia (Adam), dan ia berdiri di atas kuburan kaum ‘goyyim’ “.
Mengingat pembuktian berdasarkan nash Taurat (Ezekiel 34:31). disebut sampai berulang-kali pada ketiga ayat-ayat Talmud di atas tadi, padahal dalam kenyataannya Taurat tidak pernah menyebutkan bahwa hanya orang Yahudi saja yang termasuk golongan manusia. Para ‘hachom’ Talmud sangat menekankan kekonyolan ajaran mereka tentang kaum ‘goyyim’. Hal itu merupakan bukti bahwa mereka sebenarnya adalah rasis dan ideolog anti-kaum non-Yahudi, yang dalam kebuntuan nalarnya telah mendistorsikan ayat-ayat Taurat dalam rangka membenarkan kesesatan mereka.
Berakoth 58a, “Shila seorang Yahudi memberikan hukuman cambuk kepada seseorang yang telah bersetubuh dengan seorang perempuan Mesir: Orang yang dicambuk itu pergi mengadukannya kepada pemerintah, dan berkata: ‘Ada seorang Yahudi yang memberikan hukuman cambuk tanpa izin dari pemerintah’. Seorang petugas memerintahkan untuk memanggilnya (Shila). Ketika ia (Shila) tiba, ia ditanya: ‘Mengapa engkau mencambuk orang ini?’ Ia (Shila) menjawab: ‘ Karena ia telah menyetubuhi keledai betina’ “. “Petugas itu berkata kepadanya: ‘Apakah engkau mempunyai saksi-saksi?’ Ia(Shila) menjawab ‘Saya mempunyainya’. Kemudian (nabi) Elijah turun dari langit dalam bentuk manusia dan memberikan bukti. Petugas itu berkata lagi kepadanya: ‘Kalau demikian halnya seharusnya orang itu dihukum mati!’ Ia (Shila) menjawab: ‘Karena kami telah diasingkan dari negeri kami, kami tidak mempunyai wewenang untuk menjatuhkan hukuman mati; lakukanlah terhadapnya sesuai kehendak kalian’ “
“Ketika mereka masih mempertimbangkan perkara itu Shila pun berteriak.• ‘Kepada-Mulah ya Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kuasa’ (Kisah-kisah 29:11).
‘Apa kehendakmu? tanya petugas itu. Ia (Shila) menjawab.• ‘Apa yang kukatakan ialah: Terpujilah Yang Maha Pengasih yang telah menciptakan segala sesuatunya dari tanah serupa dengan Yang di Sorga, dan telah memberikan kepadamu sekalian tempat tinggal, dan membuat kalian mencintai keadilan’ “,
“Petugas itu berkata kepadanya (Shila).• ‘Apakah engkau sedemikian membantu kepada kehormatan pemerintah?’ Petugas itu memberi Shila sebuah tongkat dan berkata kepadanya: ‘Engkau boleh menjadi hakim. ‘ Tatkala petugas (orang ‘goyyim’) itu telah pergi, orang-orang yang ada disana berkata kepadanya (Shila).• ‘Apakah Yang Maha Pengasih membuat mu’zizat bagi kaum pendusta?’. Ia (Shila) menjawab mereka (‘goyyim’) disebut keledai? Karena telah tertulis: Daging mereka adalah daging keledai’ (Ezekiel 23:30)
Ia (Shila) memperhatikan orang-orang itu akan memberi-tahukan petugas-petugas itu bahwa ia (Shila) telah menyebut mereka sebagai keledai. Maka ia (Shila) berkata.• ‘Orang itu adalah penuntut hukum, dan Taurat telah mengatakan: Jika seseorang datang untuk membunuhmu, bangkitlah segera dan bunuh dia lebih dahulu.
Begitulah tongkat yang diberikan kepadanya itu dipukulkannya kepada terdakwa dan membunuhnya.’ Kemudian ia berkata: ‘Karena sebuah mu’zizat telah terjadi melalui ayat ini, maka aku melaksanakannya’ “.
Bagian ini terpaksa diutarakan agak panjang, tetapi agaknya terpaksa dikutip seluruhnya untuk memperlihatkan bagaimana kedzaliman kaum Yahudi. Sebagai tambahan bahwa nabi Elijah sampai perlu turun dari sorga ke bumi untuk menipu mahkamah kaum goyyim, disini Talmud mengajarkan, bahwa kaum ‘goyyim’ pada dasamya adalah binatang, sehingga karena itu Rabbi Shila (dan nabi Elijah) sama sekali tidaklah dapat disebut telah berdusta atau telah membuat dosa.
Ceritera itu menjelaskan bahwa sekiranya seseorang (termasuk orang Yahudi) mengungkapkan ajaran Talmud pandangan tentang kaum ‘goyyim’ sama dengan keledai, maka ia akan menerima hukuman mati. Karena mengungkapkan hal itu akan membuat kaum ‘goyyim’ murka dan akan menindas agama Yahudi.
Kutipan Talmud dari kitab Ezekiel ini merupakan “nash bukti” sangat penting, karena ayat itu menyatakan bahwa kaum ‘goyyim’ itu termasuk golongan binatang (keledai). Ayat dari kitab Ezekiel pada Kitab Perjanjian lama telah diubah dengan hanya mengatakan bahwa “orang Mesir memiliki kemaluan yang besar” (sindiran – sama dengan keledai). Hal ini tidak membuktikan atau menegaskan secara eksplisit bahwa orang Mesir yang dirujuk oleh Taurat sarna dengan binatang. Dalam hal ini Talmud memalsukan Taurat dengan cara mendistorsikan tafsir. Beberapa ayat Talmud yang lain yang mengkaitkannya dengan kitab Ezekiel 23:30 yang memperlihatkan watak rasis orang Yahudi ditemukan dalam Arakin 19b, Berakoth 25b, Niddah 45a, Shabbath 150a, dan Yebamoth 98a. Lagipula nash aseli Sanhedrin 37a hanya mengkaitkannya dengan persetujuan Tuhan untuk penyelamatan kaum Yahudi saja. [7]
Moses Maimonides Membenarkan Pembantaian
Begawan yang sangat dihormati, Moses Maimonides, mengajarkan tanpa tedeng aling-aling, bahwa kaum Kristen wajib dihabisi. Tokoh yang memberikan fatwa seperti itu memiliki kedudukan tertinggi dalam hirarki agama Yahudi.
Moses Maimonides dipandang sebagai penyusun hukum dan filosuf terbesar sepanjang sejarah Yahudi. Ia acapkali dengan penuh rasa hormat disebut dengan nama Rambam, dan disapa dengan panggilan Rabenu Moshe ben Maimon, yang artinya ‘Rabbi Kami Musa anak Maimun”.[8]
Inilah yang diajarkan oleh Maimonides tentang boleh tidaknya menyelamatkan nyawa kaum ‘goyyim’, atau bahkan’ orang Yahudi sekali pun yang berani menolak “inspirasi ilahiyah di dalam Talmud’.
“Sesungguhnya bila kita melihat seorang kafir (‘goyyim’) sedang terhanyut dan tenggelam di sungai, kita tidak boleh menolongnya. Kalau kita melihat nyawanya sedang terancam, kita tidak boleh menyelamatkannya.” [9]. Naskah dalam bahasa Ibrani edisi Feldheim 1981 tentang Mishnah Torah menyebutkan hal yang sarna seperti itu.
Dengan peringatan dari Maimonides itu, telah diwajibkan bagi kaum Yahudi untuk tidak boleh menyelamatkan nyawa atau memberikan pertolongan kepada seorang ‘goyyim’, ia sebenarnya menyatakan sikap kaum Yahudi yang sebenarnya yang dibebankan oleh Talmud terhadap kaum non-Yahudi.[10]
“Hal itu telah merupakan ‘mitvah’ (kewajiban agama) untuk , menghabisi para pengkhianat kaum Yahudi, para ‘minnim’, dan “apikorsim” dan membuat mereka jatuh ke dalam lobang kehancuran, karena mereka telah menyebabkan penderitaan kepada kaum Yahudi, dan menipu manusia untuk menjauh dari Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh Isa dari Nazareth dan para muridnya, dan Tzadok, Baithos dan murid-muridnya. Semoga terla’natlah mereka”.
Komentar penerbit Yahudi itu memuat pernyataan Maimonides bahwa Nabi Isa a.s. adalah contoh seorang ‘min’ (“pengkhianat” majemuknya ‘minnim’). Komentar itu juga menerangkan bahwa murid-murid Tzadok, yaitu kaum Yahudi yang menolak kebenaran Talmud dan mereka yang hanya mengakui hukum tertulis, yakni Taurat. Menurut buku ‘Maimonides’ Principles’ pada h.5, Maimonides memerlukan waktu dua-belas tahun untuk menyimpulkan hukum dan keputusan dari Talmud, dan mensistemasikan kesimpulannya itu ke dalam 14 jilid. Karya itu akhirnya selesai pada tahun 1180 dan diberi judul ‘Mishnah Torah’, atau ‘Syari’at Taurat’.
Maimonides mengajarkan pada bagian lain dari ‘Mishnah Torah’, bahwasanya kaum ‘goyyim’ bukanlah golongan manusia: “Hanyalah manusia (kaum Yahudi), dan bukannya perahu, yang dapat memperoleh najis bila bersentuhan … Bangkai dari seorang ‘goyyim’ tidak menyebabkan najis bila bersentuhan dengan bayang-bayang seorang Yahudi … seorang ‘goyyim’ tidak sampai menyebabkan penajisan; dan bila seorang ‘goyyim’ menyentuh, membawa, atau membayangi … ‘goyyim’ itu tidak menyebabkan najis … mayat seorang ‘goyyim’ tidak menyebabkan menjadi najis; dan sekiranya’” seorang ‘goyyim’ menyentuh, membawa, atau menjatuhkan bayangannya kepada mayat, ia dianggap tidak pernah menyentuh mayat tersebut.” .[11]
Film ‘Schindlers List’ – Contoh Kebohongan Kaum Yahudi
481-1Teks Talmud (khususnya Talmud Babilonia) pada Sanhedrin 37a tidak mewajibkan orang Yahudi untuk menyelamatkan nyawa orang lain, terkecuali nyawa orang Yahudi. Moshe Maimonides memperkuat ajaran Talmud tersebut. Tetapi, beberapa buku yang ditulis oleh orang-orang Yahudi kontemporer (Hesronot Ha-shas) merujuk beberapa nash dari Talmud yang seolah-olah memuat frase nilai-nilai universal, seperti, “Barangsiapa membunuh kehidupan seseorang, hal itu sama dengan membunuh seluruh isi dunia; dan barangsiapa memelihara kehidupan seseorang ,,, hal itu seperti ia telah memelihara seluruh isi dunia”.
Bandingkan dengan al-Qur’an 5:32, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”.
Namun Hesronot Ha-ash mengakui ayat-ayat di atas tadi bukan katta-kata yang otentik dari Talmud yang asli. Dengan kata lain, ayat-ayat bemada universal tersebut bukanlah nash otentik dari Talmud. Jadi sekedar sebagai contoh, “versi universal” ini yang oleh Stephen Spielberg dituangkan ke dalam filmnya ‘The Schindler’s List’ yang terkenal itu (dan dikaitkan seolah-olah bersumber dari Talmud pada judul maupun iklan filmnya) adalah penipuan dan merupakan propaganda, yang dimaksudkan untuk memberikan polesan kemanusiaan kepada Talmud, yang pada hakekatnya adalah kitab yang penuh berisi semangat rasisme dan chauvinisme Yahudi. Dalam nash Talmud yang aseli tertulis pada ayat yang sama, “Barangsiapa memelihara bahkan satu nyawa orang Israeli, maka ia seperti memelihara seluruh isi dunia”. Sama seperti ayat-ayat yang lain, Talmud yang aseli hanya membicarakan perihal menyelamatkan orang-orang Yahudi.
Tipuan Orang Yahudi
Sanggahan para rabbi orthodoks bahwa tidak ada bukti dokumentasi otentik tentang rasisme dan semangat kebencian di dalam Talmud adalah bohong besar, karena di dalam Baba Kamma 113a, menyatakan bahwa “Orang Yahudi boleh berbohong untuk menipu kaum ’goyyim’ ‘.
The Simon Wiesenthal Center, sebuah pusat propaganda ruhubiyah Yahudi yang didukung oleh dana multi-jutaan dolar terpaksa memecat Rabbi Daniel Landes pada tahun 1995, karena rabbi ini menentang ajaran dehumanisasi oleh Talmud terhadap orang non-Yahudi. “Sikap ini benar-benar busuk”, katanya. Buktinya ? “Ya, pernyataan-pernyataan di dalamnya”.
Berdusta untuk menipu orang ‘goyyim’ telah lama menjadi panutan di dalam agama Yahudi. Ambil contoh sehubungan dengan debat pada abad ke-13 di Paris antara Nicholas Donin, seorang Yahudi yang telah memeluk agama Katolik –yang oleh Hyam Maccoby diakui mempunyai pengetahuan yang luas tentang Talmud”[12]- saat berkonfrontasi lawan Rabbi Yehiel. Pada waktu itu Yehiel tidak sedang berada di bawah ancaman hukuman, atau dicederai. Namun tanpa malu tetap saja berdusta sepanjang debat tersebut.
Sebagai contoh ketika ditanya oleh Donin apakah ada ayat-ayat yang menghujat Jesus di dalam Talmud, Yehiel menyanggahnya. Donin, seorang ahli dalam bahasa lbrani paham benar jawaban itu dusta maka. Ryam Maccoby, seorang komentator Yahudi mengenai debat tersebut, yang hidup di abad ke-20, membela kebohongan Rabbi Yehiel seperti ini, “Pertanyaan itu mungkin diajukan, apakah Yehiel benar-benar percaya yang Jesus tidak disebut-sebut di dalam Talmud atau, bisa juga ia mengajukan pertanyaan ini sebagai suatu tipuan yang cerdik, untuk menciptakan keadaan mendesak Yehiel … tentu saja Rabbi Yehiel dapat dimaafjkan bila ia tidak mengakui sesuatu yang tidak sepenuhnya dipercayainya, dalam rangka mencegah proses tiranik yang menghadapkan budaya dari suatu agama tertentu, terhadap agama yang lain”.[13]
Beginilah cara orang Yahudi menyanggah sampai dengan hari ini tentang adanya nash Talmud yang mengandung ayat-ayat yang penuh dengan kebencian. Sebuah kata tentang “kebohongan Yahudi diplesetkan dan disulap menjadi “dapat dimaafkan”, sementara setiap penyelidikan terhadap kitab-kitab suci Yahudi oleh peneliti non-Yahudi dipandang sebagai “proses tiranik”. Sementara itu serangan kaum Yahudi terhadap kitab-kitab Injil Perjanjian Baru dan al-Qur’an tidak pernah dianggap sebagai “proses tiranik”. Hanya kritik kaum non- Yahudi yang dianggap tiranik, sedangkan cara mempertahankan diri bagi orang Yahudi adalah berdusta.
Betapapun banyaknya sanggahan dan kebohongan yang keluar dari ‘The Anti-Defamation League’ (ADL – ‘Liga Anti-Penghinaan’ Yahudi) dan dari the Wiesenthal Center, dalam buku ini dikutip nash-nash baik dari Talmud maupun juga dari mufassir Talmud ‚paling’ terkemuka” di mata orang Yahudi sendiri, seperti Moses Maimonides,
Pada tahun 1994 Rabbi Tzvi Marx, direktur pendidikan teknologi terapan pada ‘Shalom Hartman Institute’ di Jerusalem, telah menulis semacam pengakuan yang menakjubkan tentang bagaimana kaum Yahudi di masa yang silam telah membuat dua jenis kumpulan kitab: kitab Talmud yang otentik sebagai bahan pelajaran bagi para pemuda mereka di sekolah-sekolah (‘kollel’) Talmud, dan sebuah lagi kitab Talmud yang telah “disensor dan diamendemen” yang ditujukan bagi konsumsi para ‘goyyim’ yang tidak mengerti apa-apa. Rabbi Marx menjelaskan bahwa versi tafsir Maimonides yang dikeluarkan untuk konsumsi umum, tertulis misalnya, “Barangsiapa membunuh seorang manusia, ia telah melanggar hukum”. Tetapi Rabbi Marx menyatakan, nash yang asli berbunyi, ” Barangsiapa membunuh seorang Israeli, ia melanggar hukum”. [14]
Buku Hesronot Ha-shas (“Yang Dihilangkan dari Talmud”) lalu menjadi penting dalam kaitan ini. Heshronot Ha-shas dicetak-ulang pada tahun 1989 oleh Sinai Publishing House, Tel Aviv. Heshronot Ha-shas menjadi sangat berharga bagi kita, karena buku ini menyusun suatu daftar panjang ayat-ayat Talmud yang diubah atau dihilangkan, dan daftar ayat-ayat yang dipalsukan dewasa ini, yang dibuat untuk konsumsi kaum ‘goyyim’ seolah-olah ayat-ayat itulah yang otentik. Popper (h.58-59) menjelaskan : “Tidak selalu yang disensor itu ayat-ayat panjang, tetapi acapkali satu kata pun dihapus. … Acapkali dalam hal seperti itu digunakan dalam rangka penghapusan dan penggantian”. [15]
Sebagai contoh pentarjamah versi Talmud dalam bahasa Inggris terbitan Soncino menterjemahkan kata lbrani ‘goyyim’ dengan sejumlah kata-ganti samaran seperti, “kafir, Cuthean, Mesir, penyembah berhala”, dan sebagainya. Tetapi sebenarnya kata-ganti ini merujuk kepada kata-aseli ‘goyyim’ (semua yang non- Yahudi).
Pada catatan-kaki no. 5 Talmud pada edisi Soncino dijelaskan bahwa, “Istilah orang Cuthea (Samaritan) disini adalah untuk menggantikan kata-aseli ‘goyyim’ … “ Hal itu merupakan praktek disinformasi yang lazim dipakai oleh kaum Farisi untuk menyangkal adanya ayat-ayat yang rasialistik di dalam Talmud yang telah diungkapkan terdahulu dalam buku ini, dalam rangka mengklaim bahwa ayat-ayat itu adalah “karangan dari orang-orang yang anti-Semit”, antara lain The Babylonian Talmud online Talmud versi Soncino dengan editor Rabbi Dr. Isidore Epstein of Jews’ College, London. Bandingkan penjelasan Seder ZERAIM (זרעים), MOED (מועד), NASCHIM (נשים ), NEZIKIN (נזיקין), KODASCHIM (קדשים), TOHOROTH (טהרות) oleh Rev. I. B. Pranaitis (Roman Catholic Priest) dalam buku The Talmud Unmasked, The Secret Rabbinical Teachings Concering Christians
Pada tahun 1994, Lady Jane Birdwood (80 tahun), ditangkap dan diadili di depan pengadilan pidana di London, hanya karena "Kejahatannya" menerbitkan sebuah pamflet berjudul ‘The Longest Hatred’ (Kebencian yang Paling Lama), berisi seluruh pernyatan kebencian di dalam Talmud yang diangkatnya dari ayat-ayat yang berisi kebencian kepada kaum ‘goyyim’ dan Kristen.
Sepanjang peradilan terhadapnya dia dituduh sebagai suatu kejahatan --sayang tidak mendapatkan perhatian dari media massa--, bahkan seorang Rabbi yg diundang sebagai saksi ahli pun menyanggah sepenuhnya bahwa kitab Talmud berisi ayat-ayat yang mengundang kebencian kepada kaum ‘goyyim’ dan Kristen, dan hanya karena kedudukan dan prestise rabbi tersebut, wanita tua yang malang itu dijatuhi hukuman “tiga bulan kurungan penjara dan denda senilai $ l000″
Dr. Israel Shahak dalam bukunya berjudul ‘Jewish History and Jewish Religion’, pada bab tentang Jesus di dalam Talmud pada h.57, dan h.105-106, menegaskan adanya ayat-ayat yang menganjurkan kebencian dan rasisme di dalam Talmud. Mereka yang menyangkal kenyataan ini adalah pembohong besar.
Tanggapan Dunia ‘Judeo-Kristen’ terhadap Talmud
Dewasa ini ada persekongkolan yang kuat antara dunia Kristen dan Yahudi. Anehnya di era modern ini tidak ada, bahkan tidak pernah ada, para Paus, Katolik serta tokoh-tokoh gereja Protestan yang menyerang atau mengecam ajaran rasisme di Talmud, atau kebencian mendarah-mendaging terhadap Kristen dan kaum ‘goyyim’ (muslim dan lain-lain) yang diajarkannya. Malah sebaliknya para pimpinan gereja Kristen, baik Katolik maupun Protestan, menganjurkan kepada para pengikut Jesus Kristus untuk mentaati, menghormati, bahkan membantu pengikut Talmud. Oleh karena itu kesimpulan kita tidak lain, para pemimpin gereja Katolik dan Protestan dewasa ini sebenarnya adalah pengkhianat paling nyata terhadap Jesus Kristus di muka bumi dewasa ini (periksa Perjanjian Baru Matius 23:13-15; I Thessalonika 2:14-16; Titus 1:14; Lukas 3:8-9; dan Kitab Wahyu 3:9).
Kaum Non-Yahudi adalah ‘Sampah’
Semua orang non-Yahudi dari segala ras dan agama apa pun menurut Talmud adalah super-sampah’, begitu menurut pendiri Habad-Lubavitch, Rabbi Shneur Zalman. Analisanya ditemukan di dalam majalah Yahudi ‚The New Republic’, yang dalam analisisnya menyatakan bahwa, “… ada ironi besar dalam pandangan universalisme messianik yang baru pada gerakan Habad khususnya pandangannya tentang kaum ’goyyim’ yakni pernyataan Habad yang tanpa tedeng aling-aling berisi penghinaan bernada rasial terhadap kaum ‘goyyim ‘. …berdasarkan pendapat para theolog Yahudi pada abad pertengahan – terutama sekali pemikiran penyair dan filosuf Judah Ha-Levi pada pada abad ke-12 di Spanyol, dan tokoh mistik Yahudi Judah Loewe pada abad ke-16 di Praha – mereka mencari ketetapan mengenai keunggulan kaum Yahudi berdasarkan ras dan bukannya pada keunggulan kerohanian … menurut pandangan mereka, secara mendasar kaum Yahudi itu lebih unggul atas ras mana pun, dan mengenai hal itu ditegaskan berulangkali dalam bentuk yang sangat ekstrim oleh Shneur Zalman dari Lyadi.
Pendiri Lubavitcher-Hasidisme itu mengajarkan, bahwa ada perbedaan hakiki antara jiwa orang Yahudi dengan jiwa kaum ‘goyyim’, bahwasanya hanyalah jiwa orang Yahudi yang di dalamnya terdapat dan memancarkan cahaya kehidupan ilahiyah. Sedangkan pada jiwa kaum ‘goyyim’, Zalman selanjutnya menyatakan, “sama sekali berbeda, karena terciptanya memang lebih inferior. Jiwa mereka sepenuhnya jahat, tanpa mungkin diselamatkan dengan cara apa pun.”
Akibat rujukan tentang kaum ‘goyyim’ menurut ajaran Rabbi Shneur Zalman, tanpa kecuali menyebabkan adanya penyakit dalam jiwa mereka. Dzat darimana jiwa kaum ‘goyyim’ terbuat penuh dengan “sampah” rohani. Itulah sebabnya mengapa jumlah mereka lebih banyak daripada kaum Yahudi, karena jumlah gabah lebih banyak daripada berasnya. Semua kaum Yahudi secara hakiki baik, dan semua kaum ‘goyyim’ secara hakiki jahat.
“Karakterisasi kaum ‘goyyim’ yang dinyatakan secara hakiki jahat dan dari segi kerohanian maupun biologis lebih inferior dari kaum Yahudi, belum pernah diralat dalam ajaran Habad masa kini”.[16]
Syari’at Yahudi Menuntut bahwa Kaum Kristen Wajib Dihukum Mati
Para ulama Taurat menetapkan, bahwa, “Taurat mewajibkan bahwa ummat yang benar akan mendapatkan tempatnya di Hari Kemudian. Tetapi, tidak semua kaum ‘goyyim’ akan memperoleh kehidupan yang abadi meskipun mereka taat dan berlaku shaleh menurut agama mereka … Dan meskipun kaum Kristen pada umumnya menerima Kitab Perjanjian Lama Ibrani sebagai kitab yang diwahyukan dari Tuhan, namun mereka (disebabkan adanya kepercayaan pada apa yang disebut mereka ketuhanan pada Jesus) sebenarnya kaum Kristen adalah penyembah berhala menurut Taurat, oleh karena itu patut dihukum mati, dan mereka kaum Kristen itu sudah dipastikan tidak akan memperoleh ampunan di Hari Kemudian.”
Takhayul Kaum Yahudi
Bukanlah mengada-ada bila edisi Talmud Babilonia dipandang sebagai kitab suci Yahudi yang paling otoritatif. Karena orang Kristen terperdaya oleh para pengkhotbah Yahudi, maka para Paus kian hari kian percaya dan meminta fatwa kepada rabbi Yahudi sebagai “nara sumber yang shahih” untuk mendapatkan keterangan bila berkaitan dengan kitab Perjanjian Lama, yang tanpa mereka sadari berkonsultasi dengan para okultis (juru-ramal).
Yudaisme adalah agama kaum Farisi dan para pendeta Babilonia, yang menjadi sumber ajaran Talmud dan Qabala, yang di kemudian hari membentuk agama Yudaisme. Kitab suci Yudaisme Orthodoks lainnya, seperti ‘Kabbalah’, isinya penuh dengan ajaran tentang astrologi, ramal-meramal, gematria, nekromansi (sihir), dan demonologi (ilmu hitam).
Jika seorang Yahudi ingin bertaubat ia cukup mengangkat seekor ayam, membaca mantera untuk keperluan itu, dan mengibas-kibaskannya di atas kepalanya untuk memindahkan dosa- dosanya kepada ayam tersebut. Yang dapat kita katakan mengenai hal ini tidak lain adalah takhayul dalam arti yang sebenar-benarnya. Selanjutnya lambang Israel yang mereka sebut sebagai “bintang Nabi Daud” sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Nabi Daud a.s. Bintang itu adalah hexagram (bersudut enam) supranatural yang melambangkan yantra dari androgen (kelenjar yang memberikan karakteristik pada kaum laki-Iaki), yang dihubungkan dengan para Khazar Bohemia pada abad ke-14.
Penyesatan publik dengan penggunaan nama “negara Israel” yang didirikan pada tahun 1948, merupakan buah hasil persekongkolan antara kaum Bolshevik-Yahudi dengan kaum Zionis yang atheis; nama itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kelanjutan kerajaan Nabi Daud, tetapi dikukuhkan melalui pcngakuan pertama di PBB yang diberikan oleh diktator komunis Uni Sovyet Joseph Stalin).
Kaum Kristen akan lebih terbuka matanya bila berkunjung ke komunitas Yahudi Hasidik menonton acara ‘Purim’, dimana sebuah patung serupa Halloween meloncat-loncat (seperti ‘jailangkung’). Meskipun upacara ‘Purim’ itu merujuk kepada Kitab Esther yang disebutkan sebagai nash dasarnya, dalam prakteknya upacara ‘Purim’ tidak lain adalah sebuah tradisi kaum kafir Bacchan.[17]
Para rabbi orthodoks menggunakan kutukan, mantra, imej, dan sebagainya, yang mereka anggap lebih besar kuasanya dari kuasa Tuhan. Kesesatan itu mereka ambil dari ajaran Sefer Yezriah, (sebuah buku tentang ilmu sihir kaurn Qabalis). Kaum non-Yahudi dapat menyaksikan ulangan perilaku paganisme Babilonia kuno setiap kali mereka mengamati ritual para rabbi agama Yudaisme.[18]
Dengan mengetahui ajaran Talmud yang menjadi dasar konstitusi prinsip, dan arah kebijakan negara dan pemerintah Israel, mudah dipahami mengapa negara Israel sangat arogan dengan kebuasan yang melebihi Nazi Jerman.



Khamis, 2 Oktober 2014

IDIOLOGI ISLAM

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية:  102

 


OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
   

IDIOLOGI ISLAM

Hakikat Ideologi
Secara harfiah, kata idelogi bukan berasal dari islam. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, idea dan logos; Idea berarti gagasan, sedangkan logos berarti pengetahuan. Dalam istilah politik, ideologi adalah sistem ide yang menyangkut filsafat, ekonomi, politik, kepercayaan sosial dan ide-ide. Atau dalam ungkapan yang lebih sederhana bisa didefinisikan dengan pemikiran yang mendasar, yang tidak dibangun berdasarkan pemikiran lain. Pemikiran mendasar seperti ini adalah pemikiran dasar (ushûl), bukan cabang (furû'), sekalipun kadang ada pemikiran cabang yang bisa menghasilkan pemikiran lain, seperti Patriotisme, Nasionalisme dan sebagainya. Pemikiran cabang seperti ini, memang bisa menghasilkan pemikiran lain, tetapi tidak otomatis akan menjadikannya sebagai ideologi, karena pemikiran tersebut bukan pemikiran dasar. Pemikiran ini hanya layak disebut kaidah (qâ'idah), bukan ideologi (mabda').

Adapun pemikiran ushûl, dalam pandangan ulama' Usuludîn adalah akidah; pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia dan kehidupan, serta apa yang ada sebelum kehidupan (Allah), dan apa yang ada setelahnya (Hari Kiamat), berikut semuanya hubungan dengan sebelum dan sesudah kehidupan (syariat dan hisâb/perhitungan amal). Karena pemikiran ushul ini merupakan asas kehidupan; jika manusia melihat pada dirinya, misalnya, dia akan menemukan, bahwa dia hidup di alam, maka selama dia tidak mempunyai pemikiran mengenai dirinya, kehidupan dan alam yang ada di sekelilingnya, dari aspek ada dan penciptaannya, maka dia tidak akan mampu memunculkan pemikiran yang layak untuk dijadikan asas kehidupannya.
Hanya saja tidak semua pemikiran akidah bisa menjadi ideologi, kecuali pemikiran akidah yang rasional; akidah yang lahir dari pembahasan rasional. Jika akidah tersebut merupakan dogmatis atau doktriner, maka ia tidak akan pernah menjadi pemikiran, karena tidak mempunyai realitas, dan karena itu tidak disebut pemikiran yang menyeluruh, sekalipun disebut akidah. Contohnya, pemikiran mengenai eksistensi tiga oknum Tuhan, Bapak, Anak dan Roh Kudus, diyakini sama dengan satu, adalah pemikiran yang tidak bisa dibuktikan realitasnya. Sebab, secara logis satu berbeda dengan tiga, dan terbukti secara riil, satu adalah satu, dan tiga adalah tiga, dimana masing-masing adalah realitas yang berbeda. Maka, menyatakan ide trinitas sebagai ide ketuhanan yang maha esa, jelas bertentangan dengan realitas. Karena itu, akidah seperti ini hanya diterima sebagai dogma dan doktrin kebenaran, bukan sebagai hasil pembahasan rasional, yang terbukti realitasnya. Dengan demikian, akidah seperti ini tidak layak menjadi ideologi.
Selain definisi di atas, ideologi juga bisa didefinisikan dengan akidah rasional yang mampu memancarkan sistem. Maka, bisa disimpulkan bahwa Islam adalah ideologi, karena akidahnya merupakan akidah rasional yang mampu memancarkan sistem, yaitu akumulasi hukum syara' untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Masalah hubungan manusia dengan tuhannya, dirinya sendiri dan juga sesamanya. Dengan demikian, Islam bukan hanya agama, tetapi juga ideologi. Berbeda dengan Kristen, Yahudi, maupun yang lain, atau Kapitalisme dan Sosialisme. Kristen dan Yahudi hanyalah agama; masing-masing hanya mengajarkan spiritualisme, tanpa sistem yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan hidup manusia. Sementara Kapitalisme dan Sosialisme adalah ideologi, bukan agama, karena tidak mampu menyelesaikan masalah spiritualitas manusia yang muncul dari naluri beragama mereka.
Maka, menyatakan ideologi sebagai ciptaan akal manusia, semata karena melihat Kapitalisme dan Sosialisme, kemudian digeneralisir untuk menyebut semua ideologi adalah produk akal jelas merupakan kesalahan logis. Ideologi memang pemikiran yang bersemayam pada benak manusia, tapi sumber pemikiran itu bisa dari kejeniusan akal, dan bisa pula dari wahyu Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Islam sebagai ideologi yang terbukti ketangguhannya sepanjang zaman, baik ketika diemban oleh negara maupun tidak, adalah ideologi yang bukan merupakan produk akal manusia, melainkan dari wahyu Allah SWT semata (lihat QS. Al Baqarah 32, QS. Al Mukmin 2, dan QS. An Najm 3-4, QS. An Nahl 44).
Demikian juga menyamakan Islam dengan Kristen dan Yahudi, karena masing-masing sama-sama merupakan agama yang mengajarkan spiritualitas juga jelas merupakan kesalahan analitis. Sebab, Kristen dan Yahudi tidak mempunyai konsepsi kehidupan, selain konsepsi keakhiratan, dan masing-masing agama ini tidak mempunyai sistem untuk menyelesaikan seluruh permasalahan kehidupan. Lebih-lebih kemudian menyamakan Islam dengan Kristen dan Yahudi sebagai sumber konflik, karena itu Islam harus dijauhkan dari wilayah politik, dan dikembalikan pada relnya sebagai ajaran spiritual yang berfungsi mencerahkan jiwa, jelas merupakan kesalahan logika yang sangat fatal. Semuanya ini merupakan kesalahan berfikir yang sengaja ditanamkan oleh para pengemban ideologi Kapitalis dan Sosialis, alias orang-orang kafir imperialis, dengan tujuan licik agar umat Islam tidak bisa bangkit membebaskan diri dari cengkeraman penjajahan mereka.

Realitas Akidah Islam sebagai Ideologi

Sebagai ideologi, akidah Islam adalah akidah rasional yang mampu memancarkan sistem. Rasionalitas akidah Islam ini, bisa dibuktikan dengan tidak adanya kontradiksi antara apa yang diyakini dengan realitasnya, dan bisa dibuktikan. Keyakinan mengenai adanya Allah sebagai pencipta alam, manusia dan kehidupan, misalnya, sesuai dengan realitas alam, manusia dan kehidupan itu sendiri yang terbatas. Dengan keterbatasannya, masing-masing membutuhkan kepada yang lain. Tentu, yang dibutuhkan adalah zat yang tidak terbatas, baik waktu, tempat maupun yang lain. Maka, yang dibutuhkan pasti zat yang azali (azaliyu al-wujûd), yang ada dengan sendirinya (wâjib al-wujûd) dan tidak didahului yang lain. Dia bukan makhluk (makhlûq), bukan pencipta dirinya sendirinya sendiri (khâliq li nafshi), tetapi azali (azaliyu al-wujûd). Dialah Allah SWT. zat yang Maha Esa, tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Allah berfirman:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ  اللهُ الصَّمَدُ  لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ  وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya, segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (Q.s. al-Ikhlâs [112]: 1-4).

Dia juga berfirman:

هُوَ اْلأَوَّلُ وَاْلآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.s. al-Hadîd [57]: 3)

Sedangkan keyakinan mengenai al-Qur'an sebagai firman Allah, sesuai dengan realitas al-Qur'an yang merupakan kitab suci berbahasa Arab. Sebagai kitab suci yang berbahasa Arab, ada tiga kemungkinan bagi al-Qur'an: Pertama, al-Qur'an adalah kata-kata orang Arab (kalâm al-'Arab), dan kemungkinan ini jelas batil, karena terbukti sejak diturunkannya al-Qur'an hingga sekarang, atau sekitar 14 abad, tidak ada satu orang Arab pun yang bisa membuatnya, atau membuat satu surat sepertinya, padahal tantangan al-Qur'an kepada mereka sejak turunnya tetap berlanjut sepanjang masa. Kedua, al-Qur'an adalah sabda Muhammad saw. (kalâm Muhammad), dan kemungkinan ini juga batil, karena dua alasan: Pertama, Muhammad saw. adalah orang Arab, sehingga kepadanya berlaku tantangan terhadap bangsa Arab pada kemungkinan pertama tersebut, dan jika semua orang Arab terbukti tidak mampu, maka demikian juga dengan Muhammad saw. Sebab, beliau merupakan bagian dari orang Arab. Kedua, dari mulut Rasul telah keluar dua nash yang berbeda, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah, sementara masing-masing mempunyai gaya bahasa yang berbeda. Jika keduanya keluar dari mulut yang sama, dan sabda atau kata orang yang sama, tentu keduanya pasti sama, dari sisi gaya bahasa dan ungkapannya. Ternyata, masing-masing sangat jauh perbedaannya. Maka, jelas al-Qur'an bukan merupakan sabda atau kata-kata Muhammad saw. Ketiga, al-Qur'an adalah firman Allah SWT. dan inilah realitas al-Qur'an, setelah dibuktikan dengan dua kemungkinan sebelumnya. Allah juga berfirman:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ
"Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya al-Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam (bahasa non-Arab), sedangkan al-Qur'an adalah dalam bahasa Arab yang terang." (Q.s. an-Nahl [16]: 103).

Adapun keyakinan mengenai Muhammad saw. sebagai Nabi dan Rasul Allah adalah keyakinan yang dibangun berdasarkan realitas, bahwa beliaulah yang menyampaikan al-Qur'an, yang merupakan firman Allah SWT. Sementara tidak seorang manusiapun yang diberi tugas untuk menyampaikan kitab suci yang diturunkan Allah SWT, kecuali dia adalah seorang nabi dan Rasul yang diutus oleh-Nya. Allah SWT. berfirman:

 وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepda umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan." (Q.s. an-Nahl [16]: 44)

Keyakinan terhadap perkara di atas terbukti tidak bertentangan dengan realitas yang ada; ketiganya juga bisa dijangkau indra manusia. Sementara keyakinan terhadap malaikat, kitab-kitab terdahulu, rasul-rasul lain selain Muhammad saw. dan Hari Kiamat, adalah keyakinan yang juga tidak bertentangan dengan realitas yang diyakini. Karena keempat realitas tersebut dinyatakan keberadaannya oleh nash yang qath'i dan pasti benar, baik al-Qur'an dan as-Sunnah. Hal ini dinyatakan oleh Allah SWT. dalam firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (Q.s. an-Nisâ [4]: 136)

ini jelas berbeda dengan kepercayaan pada hantu, misalnya, yang sama sekali tidak terbukti realitasnya, baik secara indrawi maupun penukilan yang dinyatakan oleh nash yang qath'i.
Adapun keyakinan terhadap qadhâ' dan qadar, sebagaimana yang dibahas oleh Mutakallimin, sebagai perbuatan yang memaksa manusia, baik yang berasal darinya maupun yang menimpa dirinya, serta khasiyyât benda diciptakan Allah; dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah adalah keyakinan yang sesuai dengan realitas, baik perbuatan maupun benda.
Semuanya ini membuktikan rasionalitas akidah Islam sebagai keyakinan yang bulat, tidak bertentangan dengan realitas dan bersumber dari dalil. Dengan keyakinan yang rasional mengenai adanya Allah sebagai pencita alam, manusia dan kehidupan, serta keyakinan yang rasional mengenai al-Qur'an sebagai syariat yang diturunkan oleh Allah kepada Muhammad agar disampaikan kepada seluruh umat manusia, sebagai standar akuntabilitas di hadapan Allah, serta Muhammad sebagai Rasul, sang pembawa dan penjelas syariat, dan Hari Kiamat yang menjadi hari pembalasan dan perhitungan (hisâb), maka gambaran tersebut akan mempengaruhi tingkah lakunya dalam kehidupan, yang akan menempatkannya pada jalur yang benar dan konsisten. Pada saat itulah, visi dan misi hidupnya sebagai pengemban risalah yang agung dan mulia di muka bumi akan terwujud. Kemudian, sistem yang terpancar dari risalah tersebut akan ditegakkan di muka bumi dengan dorongan keyakinan yang bulat serta ketakwaan yang tinggi kepada Allah SWT. Inilah hakikat akidah rasional Islam, yang memancarkan sistem dalam kehidupan.
Dengan demikian, akidah Islam merupakan akidah yang dibangun berdasarkan akal. Sebab, setiap muslim dituntut agar mengimani semua perkara yang diyakininya dengan akal, baik secara langsung dengan akal maupun secara tidak langsung bila memang tidak bisa dijangkau oleh akal; yaitu dengan memahami realitas yang dinyatakan oleh dalil-dalil dari nash qath’I (Al Quran dan As Sunnah) yang telah dibuktikan kebenarannya dengan akal. Disamping itu akidah Islam juga sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, akidah Islam mengakui kebutuhan manusia kepada Allah Sang Pencipta, bukan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, tapi juga hubungan manusia dengan sesamanya, dan dengan dirinya sendiri.

Lahirnya Sistem Islam dari Akidah Islam

Sebagai akidah rasional yang memancarkan sistem, ideologi Islam mempunyai proses yang berbeda dengan Kapitalisme maupun Sosialisme. Jika realitas kehidupan dan akal manusia merupakan satu-satunya sumber bagi Kapitalisme untuk melahirkan sistemnya, sementara faktor produksi dan akal manusia merupakan satu-satunya sumber bagi Sosialisme untuk melahirkan sistemnya, maka Islam berbeda dengan keduanya. Sistem Islam lahir dari sumber yang tetap, yaitu nash-nash syara’ yang tetap, Al Quran dan As Sunnah, serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya sebagai sumber sistem yang layak, yakni Ijma’ Sahabat Rasulullah saw. dan Qiyas; dengan cara memahami nash-nash tersebut, memahami realitas yang terjadi dalam kehidupan, dan mengkompatibelkan realitas dengan nash. Jika realitas itu kompatibel dengan nash, berarti hukum yang terdapat dalam nash tersebut merupakan hukum atas realitas itu. Dan demikian sebaliknya. Dengan mekanisme ini, sistem Islam tidak akan mengalami perubahan sepanjang waktu dan tempat. Pada waktu yang sama, di setiap waktu dan tempat akan lahir para ahli hukum Islam (fuqaha/mujathid) yang akan mampu menggali hukum (ijtihad) dari nash-nash tersebut untuk menyelesaikan berbagai persoalan baru yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.
Adapun sistem yang lahir dari akidah Islam adalah sistem yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan dirinya sendiri. Sistem tersebut meliputi dua aspek: Pertama, penyelesaian masalah (mu'âlajah li masyâkil al-insân), yang meliputi: 'ibadâh, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan jihad; mu'âmalah seperti sistem pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan politik luar negeri; serta akhlâq. Kedua, metode (tharîqah), baik untuk menerapkan Islam, seperti Khilafah Islam, atau menjaga Islam, seperti sanksi hukum ('uqûbât) yang dterapkan oleh Khilafah Islam, ataupun menyebarluaskan Islam, seperti dakwah dan jihad yang diemban oleh Khilafah Islam.
Maka, dengan adanya Khilafah Islam, seluruh penyelesaian masalah yang lahir dari akidah Islam tersebut bisa diterapkan dan dijaga, sehingga tidak ada satupun hukum Islam yang diabaikan, atau bahkan ditinggalkan. Dalam hal ini, al-Ghazâli menyatakan:

"Agama adalah asas, sedangkan sulthan (imam atau khalifah) adalah penjaga; Apa saja yang (tegak) tanpa asas, pasti akan runtuh, sedangkan apa saja yang (ada) tanpa penjaga, pasti juga akan hilang."

Khilafah Islam akan mengadopsi hukum Islam untuk menjadi UUD dan perundang-undangan negara. Dengan cara itulah, hukum-hukum Islam tersebut bisa diterapkan. Ini didukung dengan ketakwaan rakyat, dan kontrol masyarakat yang tinggi terhadap setiap bentuk penyimpangan atau penyelewengan dari hukum tersebut.
Sementara untuk menjaga Islam, sistem sanksi (nizhâm al-'uqûbat) yang dilaksanakan oleh khalifah sebagai bagian dari hukum Islam, benar-benar terbukti mampu menjaga keutuhan ajaran Islam. Mengingat sanksi ini berfungsi sebaga zawâjir (preventif) dan jawâbir (kuratif); preventif bagi orang lain, supaya tidak melakukan kesalahan yang sama, sebagamana firman Allah:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُولِي اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Dan dalam qishaas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (Q.s. al-Baqarah: 179)

Dan kuratif bagi orang-orang yang dijatuhi sanksi, sehingga di akhirat tidak akan dijatuhi lagi hukuman oleh Allah, sebagaimana hadits Nabi yang menyatakan:

«وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوْقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ»
"Dan siapa saja yang melakukan sesuatu dari perbuatan (dosa) itu, kemudian dikenakan sanksi di dunia, maka itu merupakan tebusan baginya (di akhirat)." (H.r. al-Bukhâri).

Maka, dengan diterapkannya sanksi tersebut, bukan hanya Islam saja yang terjaga, tetapi juga kemaslahatan vital (al-mashlahah ad-dharûriyyah) ummat manusiapun akan terjaga, baik berkaitan dengan agama, keturunan, akal, jiwa, harta, kehormatan, keamanan maupun negara.
Sementara untuk menyebarluaskan Islam, Khilafah Islam akan melakukan dakwah secara praktis (dalam istilah orang Indonesia dakwah bil hal) di tengah masyarakat, baik muslim maupun non-muslim, dengan menerapkan Islam secara utuh. Dengan begitu cahaya Islam akan bersinar kembali, dan orang-orang non-muslim akan masuk Islam secara berbondong-bondong. Sementara keluar, Khilafah Islam akan melakukan propaganda tentang Islam, dengan berbagai sarana yang memungkinkan, serta melaksanakan jihad sebagai langkah terakhir untuk menghancurkan tembok penghalang, yang menghalangi sampainya Islam kepada seluruh umat manusia. Firman Allah SWT.:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللهِ 
"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah." (Q.s. al-Baqarah [2]: 193).

Dengan pemahaman Islam yang utuh seperti inilah para sahabat Rasulullah saw. berhasil melanjutkan dakwah dan kehidupan Islam yang dibangun Rasulullah saw. sehingga Islam di masa mereka tersebar luas dan berdaulat sampai ke hampir 2/3 belahan dunia. Panji-panji tauhid pun berkibar, hukum-hukum Allah yang sempurna ditegakkan, keadilan dan kesejahteraan ditebarkan. Kalau hari ini umat ini ingin mengulangi sukses Rasul dan para sahabatnya serta para pelanjut kejayaan Islam berikutnya, pertama kali yang harus ditempuh adalah melakukan rekonstruksi pemikiran mereka tentang Islam yang utuh, yakni menanamkan kembali pemahaman Islam sebagai mabda atau ideologi. Tidak ada jalan lain

IDEOLOGI DI DUNIA

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية:  102

 


OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
   

IDEOLOGI DI DUNIA


Apabila kita telusuri seluruh dunia ini, maka yang kita dapati hanya ada tiga mabda (ideologi). Yaitu Kapitalisme, Sosialisme termasuk Komunisme, dan Islam. Dua mabda yang pertama yaitu Kapitalisme dan Sosialisme, masing-masing diemban oleh satu atau beberapa negara. Tetapi yang paling menonjol saat ini adalah Kapitalisme, yang diemban oleh negara berpengaruh seperti Amerika Serikat (AS). Sedangkan pengaruh sosialisme tidaklah sekuat kapitalisme, walaupun negara seperti Korea Utara, Laos, Kuba, Vietnam dan Tiongkok mengemban dan menyebarkannya. Sedangkan mabda yang ketiga yaitu Islam, saat ini tidak diemban oleh satu negarapun, melainkan diemban oleh individu-individu dalam masyarakat. Sekalipun demikian, mabda ini tetap ada di seluruh penjuru dunia.

Mabda adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Sedangkan peraturan yang lahir dari aqidah ini tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara aqidah serta untuk mengemban mabda. Penjelasan tentang cara pelaksanaan, pemeliharaan aqidah, dan penyebaran risalah dakwah inilah yang dinamakan thariqah. Selain dari itu -- yaitu aqidah dan berbagai pemecahan masalah hidup -- dinamakan fikrah. Jadi mabda mencakup dua bagian, yaitu fikrah dan thariqah. (baca Qiyadah Fikriyah -- Nidzomul Islam).

Masing-masing mabda (ideologi) tersebut mempunyai akidah atau dasar pemikiran (pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini) yang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut 

1.    Kapitalisme

Aqidah (ide dasar) Kapitalisme adalah sekularisme, yaitu pemisahan antara agama dengan kehidupan. Ide ini secara tidak langsung mengakui eksistensi Tuhan, akan tetapi agama hanya sekedar hubungan antara individu dengan Penciptanya saja. Dengan demikian, didalam aqidah sekuler secara tersirat mengandung pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup.

Mabda ini bersumber dari akal semata, akal yang terbatas, Ide sekularisme adalah dasar atau ‘aqidahnya. Mabda Kapitalisme tidak sesuai dengan fitrah manusia karena di satu sisi mengakui keberadaan "Tuhan", namun di sisi lain manusialah yang dianggap layak untuk menetapkan aturan.

2.    Sosialisme

Adapun sosialisme, termasuk juga komunisme, dua-duanya memandang bahwa alam semesta, manusia, dan hidup merupakan materi belaka, dan bahwasanya materi menjadi asal dari segala sesuatu. Dari perkembangan dan evolusi materi inilah benda-benda lainnya menjadi ada. Tidak ada satu zat pun yang terwujud sebelum alam materi ini.

Ide ini berpandangan bahwa materi bersifat kekal, tidak berawal dan tidak berahkir, materi bersifat wajibul wujud (wajib adanya). Ide ini mengingkari adanya Pencipta, sebab segala sesuatu berasal dari materi dan akan kembali lagi menjadi materi.

Aqidah ini juga bersumber dari akal manusia yang terbatas, tidak sesuai dengan fitrah manusia, sebab tidak meyakini adanya Pencipta ("Bukankan setiap manusia mempunyai naluri beragama?")dan manusia dianggap sebagai pusat segalanya. Hukum dibuat berdasarkan tolok ukur materi, tujuan tertinggi adalah materi.



Persamaan antara Sosialisme dengan Kapitalisme adalah dua-duanya sama-sama menganggap bahwa nilai-nilai yang paling tinggi dan terpuji pada manusia adalah nilai-nilai yang ditetapkan oleh manusia itu sendiri. Dan bahwasanya kebahagiaan itu adalah dengan memperoleh sebesar-besarnya kesenangan yang bersifat jasmaniah. Adapun berdasarkan sumbernya, maka aqidah dua ideologi ini murni bersumber dari akal manusia yang terbatas.

Keduanya juga sependapat dalam memberikan kebebasan pribadi bagi manusia, bebas berbuat semaunya menurut apa yang diinginkannya selama ia melihat dalam perbuatannya itu terdapat kebahagiaan. Maka dari itu tingkah laku atau kebebasan pribadi merupakan sesuatu yang diagung-agungkan oleh kedua mabda ini.

Sedangkan pandangan Sosialisme dan Kapitalisme terhadap individu dan masyarakat tidaklah sama. Kapitalisme adalah mabda yang individualis, definisi masyarakat adalah kumpulan dari individu-individu, kebebasan individu dijamin oleh negara. Kebebasan adalah yang paling penting, serba bebas (liberalisme) dalam masalah ‘aqidah, pendapat, pemilikan dan kebebasan pribadi.

Dalam perekonomiannya, ekonomi berada di tangan para pemilik modal. Setiap orang dapat menempuh cara apa saja dalam berekonomi. Tidak dikenal sebab-sebab kememilikan terhadap sumber kekayaan dan tidak membatasi jumlah banyaknya kekayaan yang dimiliki individu.

Berbeda dengan Kapitalis, definisi masyarakat dalam sosialisme adalah "masyarakat dibentuk oleh unsure manusia, alam dan alat-alat produksi dan interaksi antara ketiganya." Negara di atas segalanya. Individu merupakan salah satu gigi roda dalam roda masyarakat yang berupa sumber daya alam, manusia, barang produksi dan lain-lain. Standar perilaku ditentukan oleh negara.

Dalam ide ini, ekonomi berada di tangan negara, tidak ada sebab kepemilikan, semua orang boleh mencari kekayaan dengan cara apapun, namun jumlah kekayaan yang boleh dimiliki dibatasi, kondisi ekonomi harus samarasa-samarata secara real.

3.    Islam

Adapun Islam, ‘aqidah Islam bersumber dari wahyu Allah SWT kepada Rasulullah. Dasar ‘aqidahnya adalah "Laa ilaaha illaa Allah, Muhammad Rasulullah."

Aqidah Islam menetapkan bahwa sebelum kehidupan ini ada sesuatu yang wajib diimani keberadaannya, yaitu Allah SWT, dan menetapkan pula iman terhadap alam sesudah kehidupan dunia, yaitu hari Kiamat. Juga bahwasanya manusia dalam kehidupan dunia ini terikat dengan perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya, yang merupakan hubungan kehidupan ini dengan sebelumnya.

Manusia terikat pula dengan pertanggungjawaban atas kepatuhannya memenuhi semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Seluruh perbuatan terikat dengan hukum syara’.

Islam sesuai dengan fitrah manusia, karena Islam menetapkan bahwa manusia itu lemah, maka segala aturan apa pun harus berasal dari Allah SWT melalui wahyu yang disampaiakan kepada Rasulullah untuk seluruh umat manusia.

Masyarakat dipandang sebagai kumpulan individu-individu yang dipersatukan oleh pemikiran, peasaan dan sistem aturan yang sama. Individu adalah salah satu anggota masyarakat, individu diperhatikan demi kebaikan masyarakat dan masyarakat diperhatikan untuk kebaikan individu.

Dalam perekonomiannya, setiap orang bebas menjalankan aktifitas ekonomi dengan membatasi sebab kepemilikan dan jenis pemiliknya. Adapun jumlah kekayaan yang boleh dimiliki tidak dibatasi.

Ideologi Dunia (Kapitalisme, Sosialisme dan Mabda'nya & Islam)

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية:  102

 


OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
 
Kapitalisme dan Sosialisme adalah mabda' yang lahir akibat kezaliman manusia. Mabda' ini lahir setelah terjadinya penindasan Gereja pada abad pertengahan. Dorongan yang lahir waktu itu menolak intervensi agama sama sekali atau menerima dengan syarat. Dari sinilah, sejarah Kapitalisme dan Sosialisme sebagai mabda' kemudian bermuara dan berkembang. Dari segi sumber ajaran, masing-masing mabda' tersebut bersumber dari akal. Akalah yang menentukan segalanya, baik yang berkaitan dengan akidah maupun sistemnya. Semuanya ditentukan oleh akal manusia.

Dari segi akidah, Kapitalisme dibangun berdasarkan ide pemisahan antara agama dengan kehidupan (fahsl ad-dîn ‘an al-hayât) atau yang populer dengan istilah Sekularisme. Kapitalisme masih mengakui eksistensi agama, tetapi agama tidak dibolehkan mengatur urusan kehidupan manusia. Agama hanya diberi otoritas untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dalam masalah ritual dan spiritual, sedangkan dalam masalah kehidupan, manusialah yang berhak mengatur sendiri urusannya. Sebab ini merupakan urusan manusia dengan manusia, bukan manusia dengan Tuhan. Karena akidahnya seperti ini,maka pandangan hidupnya menjadi pragmatis, yang melakukan dan meninggalkan sesuatu berdasarkan asas manfaat (pertimbangan untung dan rugi). Artinya, jika ada keuntungan akan dilakukan, tetapi kalau menyebabkan kerugian akan ditinggalkan. Inilah asas manfaat yang menjadi pandangan orang Kapitalis.Agar pandangan tersebut bisa direalisasikan, orang Kapitalis menetapkan Liberalisme (kebebasan) sebagai metodenya.Dengan kedua standar di atas, kesalahan Kapitalisme dapat dijelaskan, antara lain:

Pertama, dari segi kesesuaiannya dengan fitrah manusia, dapat dijelaskan, bahwa manusia mempunyai fitrah beragama yang dengan fitrah tersebut dia memerlukan Zat Yang Maha Agung dan itulah Tuhan. Kebutuhan manusia pada Tuhan sesungguhnya tidak terbatas pada waktu ibadah, sebab di luar ibadah pun manusia tetap manusia, yang mempunyai kelemahan, kekurangan dan karena itu memerlukan Zat Yang Maha Agung. Kebutuhan manusia kepada Zat Yang Maha Agung ini merupakan fitrah. Meskipun ketika keperluan ini tidak dipenuhi tidak akan menyebabkan kematian. Namun harus difahami, bahwa kelemahan dan kekurangan manusia mengharuskan adanya kebutuhan manusia pada Zat Yang Maha. Hal ini memustahilkan fitrah manusia terpuaskan oleh sesamanya. Karena itu, jika konsepsi mabda' ini mengajarkan pemisahan agama dari kehidupan, artinya akidah tersebut bertentangan dengan fitrah manusia yang lemah, yang seakan-akan manusia mempunyai fitrah Maha Kuasa, termasuk kekuasaan mengatur kehidupannya. Belum lagi akal yang menghasilkan mabda' ini cenderung berubah, mempunyai
keterbatasan dan tidak konsisten. Jika sumber mabda' tersebut seperti ini, berarti produk mabda'-nya juga sama, yakni sama-sama kacau, lemah dam terbatas.

Contoh terbaik adalah ketidakkonsistenan konsep ekonomi Kapitalis. Dalam Kapitalisme tidak pernah ada keadilan, tetapi karena mabda' ini diambang kehancuran akibat serangan Sosialisme, maka dirumuskanlah ide keadilan sosial, agar bisa memberantas ketimpangan sosial yang ditimbulkannya.
Kasus lain adalah perubahan konsep ekonomi klasik Adam Smith dan David Richardo. Konsep ini ini kemudian banyak ditinggalkan seiring dengan perubahan zaman. Setelah itu berdirilah mazhab baru, seperti Marxis, Keynesian, Neo-Keynesian, dan NeoKlasik. Ini sudah cukup untuk membuktikan kelemahan mabda' tersebut dari segi ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia.

Kedua, kesalahan mabda' tersebut dilihat dari segi asas karena tidak dibangun berdasarkan akal, dapat difahami, bahwa Kapitalisme adalah mabda' yang dibangun berdasarkan prinsip kompromi (al-hall alwasath) antara tokoh gereja dengan filsuf. Bukan karena partimbangan logis menurut akal. Artinya, mereka menetapkan langkah kompromi untuk mendamaikan konflik yang terjadi antara pihak gereja dengan kaum intelektual. Maka, dalam berbagai aspek mabda’ ini telah mengkompromikan antara yang haq dengan yang batil, antara Islam dengan kekufuran, dan antara petunjuk dengan kesesatan. Karena itu, Kapitalisme yang dibangun berdasarkan ide pemisahan antara agama dengan kehidupan itu bukan karena partimbangan rasional, melainkan karena usaha untuk mendamaikan konflik yang terjadi. Sedangkan Sosialisme dan Komunisme, dari segi akidahnya dibangun berdasarkan materi. Dalam pandangan Sosialisme, alam, manusia dan kehidupan berasal dari materi. Semua yang ada merupakan ujud materi. Perubahan dari satu bentuk benda kepada bentuk benda lain juga merupakan proses perubahan materi (materialism dialectic). Semua yang ada hanya mencerminkan ujud materi. Inilah yang disebut Materialisme. Akidah Sosialisme dan Komunisme mengatakan, bahwa materi merupakan asal segala wujud dan tidak ada yang lain. Mereka menolak adanya Allah sebagai Sang Pencipta. Dengan begitu jelas mereka menolak agama. Sebaliknya mereka menciptakan “agama” baru dengan menyembah dan mengagungagungkan benda. Mereka mengatakan, bahwa agama adalah candu yang akan merusak masyarakat.

Inilah yang menjadi kenyakinan Marxisme, Leninisme, Titoisme dan sebagainya. Karena akidahnya menolak agama, sistem kehidupannya kemudian dibangun berasaskan akal yang hampa dari ajaran agama. Dalam pandangan akal mereka, materi berubah dari satu bentuk kepada bentuk lain adalah ujud perubahan materi, yang biasanya dikenal dengan sebutan dialetika materialisme.Sedangkan cara untuk mewujudkan perubahan tersebut adalah dengan menciptakan pertentangan antara satu materi dengan materi yang lain; atau menciptakan konflik antara satu pihak dengan pihak lain.

Dari uraian di atas, kesalahan Sosialisme dapat difahami, antara lain:

Pertama, berdasarkan standarketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia, yang dapat disimpulkan, bahwa fitrah manusia memerlukan agama dan lemah itu telah dinafikan oleh Sosialisme. Alasannya karena agama telah dianggap sebagai candu bagi masyarakat. Dengan begitu, naluri beragama manusia telah dibunuh dan dikubur hidup-hidup. Ini jelas bertentangan dengan fitrah manusia.

Kedua, dilihat dari segi akidah Sosialisme yang tidak dibangun berdasarkan akal, sebaliknya berdasarkan materi. Ini artinya, bahwa materi dalam pandangan Sosialisme adalah azali. Tentu ini sangat bertentangan dengan akal, karena zat yang azali seharusnya tidak memerlukan kepada yang lain dan tidak terbatas. Sebaliknya materi jelas memerlukan kepada yang lain dan terbatas. Sebagai contoh, materi dianggap sebagai sumber kehidupan, sedangkan materi itu sendiri tidak dapat melahirkan dirinya sendiri.Disamping itu, materi mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Matahari, misalnya, ketika terbit dari timur ke barat dan terus-menerus secara konsisten, tentu memerlukan garis orbit yang sekaligus merupakan sistem bagi terbit dan tenggelamnya matahari. Pertanyaannya adalah benarkah matahari mengikuti garis orbitnya tanpa ada yang mengatur? Tentu mustahil. Maka, benarkah matahari yang memerlukan garis orbit itu disebut tidak memerlukan apapun atau memerlukan siapapun? Tentu tidak masuk akal. Ini adalah salah satu contoh. Dengan demikian, Sosialisme telah gagal menjelaskan, bahwa materi bersifat azali.

Demikian halnya konsep dialektika materialisme Hegel yang kemudian dikembangkan oleh Karl Marx yang menyatakan, bahwa perubahan bentuk secara material dari satu bentuk kepada bentuk lain adalah dialektika materialisme dari satu kesatuan eksistensi yang di dalamnya terdapat tesis, antitesis dan sintesis. Mereka, misalnya, mengatakan bahwa kulit yang mengelupas dan proses terbentuknya kulit baru merupakan ujud dialektika materialisme. Sebab, di dalam struktur sel yang menyusun kulit terdapat protoplasma dan sitoplasma yang saling bertarung, sehingga terbentuk kulit baru setelah kulit yang lama mengelupas karena matinya sel yang ada di dalamnya. Mereka, berkesimpulan, bahwa setiap perubahan hakikatnya terjadi secara alami mengikuti kesatuan eksistensi. Tentu saja kesimpulan ini terlalu menyederhanakan masalah, yang sekaligus menunjukkan bahwa kesimpulan berfikir ini tidak dibangun dengan kerangka argumentasi yang rasional.

Kasus kulit mati dan berubah menjadi kulit baru di atas tidak bisa disederhanakan karena adanya protoplasma dan sitoplasma dalam struktur sel saja, sebab ada faktor-faktor lain yang juga ikut mempengaruhi, seperti kondisi cuaca, kekurangan zat tertentu dalam tubuh manusia atau pengaruh keadaan di luar diri manusia, yang semuanya itu justru menunjukkan bahwa perubahan material tersebut mustahil terjadi secara automatis karena adanya tesis, antitesis, dan sintesis dalam satu eksistensi material. Disamping itu, hakikatnya ini merupakan kemaujudan dan kemusnahan satu materi, dimana setiap materi akan mengalami kemaujudan dan kehancuran. Jadi ini sebenarnya bukan merupakan ujud kontradiksi yang terjadi dalam diri manusia.

Contoh yang lain adalah proses kloning hewan yang mencampurkan antara sel sperma jantan dengan sel telur betina sehingga menghasilkan keturunan baru merupakan ujud dialektika materialisme. Ketika ada dua hal yang saling berlawanan dalam satu kesatuan eksistensi, yaitu sel sperma dan sel telur. Namun, uniknya sel sperma dan sel telur tersebut agar bisa menjadi janin, harus mempunyai kromosom yang berjumlah 23 dengan 23 sehingga sama dengan 46 kromosom. Jika jumlah kromosomnya kurang, maka tidak akan dapat dibuai menjadi zygot. Ini membuktikan, bahwa adanya sel sperma dan sel telur saja belum cukup, tetapi harus ada jumlah tertentu. Jumlah tertentu ini merupakan sunnatullah yang tidak dapat dilalui oleh siapapun. Setelah disatukan dalam jumlah yang pas, masih ada sunnatullah yang lain, yaitu harus dimasukkan dalam rahim hewan dan bukan tabung ataupun yang lain. Ini juga tidak dapat dihindarkan oleh manusia.

Jadi ini bukan merupakan proses dialetika materialisme, sebaliknya justru membuktikan eksistensi Zat Yang Ada di balik penciptaan tersebut. Zat yang menentukan keunikan proses dan keistimewaan masing-masing materi. Dengan demikian jelas, bahwa akidah Sosialisme ini tidak dibangun berdasarkan akal, tetapi dibangun berdasarkan materi. Ciri dan sifat-sifat material itulah yang mempengaruhi pandangan akidah tersebut.

Islam sebagai Agama dan Mabda'/Ideologi

Dalam konteks Islam sebagai agama dan mabda' dewasa ini memang tidak diemban lagi oleh sebuah negara, sehingga kesan Islam yang utuh dan komprehensif memang tidak kelihatan. Tetapi, kenyataan ini tidak membuktikan bahwa Islam tidak absah dan layak untuk menjadi agama dan mabda' alternatif. Sebab, harus dipisahkan antara realitas Islam saat ini dengan muatan ajarannya. Jika realitas Islam saat ini dipergunakan untuk menentukan kebenaran atau kesalahan muatan ajarannya, tentu merupakan tindakan yang menyesatkan. Lebih-lebih ketiadaan Islam dalam realitas kehidupan masyarakat dan negara saat ini bukan karena kelemahan Islam, tetapi karena usaha orang-orang kafir yang sengaja menghancurkan Islam dengan berbagai gerakan destruktif dalam Khilafah Islam waktu itu. Karena itulah, maka untuk menentukan sah dan tidaknya, tidak dapat dilihat dengan standar ini, tapi harus dikembalikan kepada kedua standar di atas.

Untuk itu harus difahami, bahwa asas akidah Islam adalah keimanan kepada Allah SWT, Malaikat, Kitab,Rasul, Hari Kiamat serta Qadha’ dan Qadar. Dengan asas akidah Islam seperti ini, Islam sebagai agama dan mabda' telah mengakui adanya Pencipta alam, manusia dan kehidupan. Sang Pencipta itu juga diakui sebagai Zat Yang Maha segalanya. Karena Dia tidak dapat disamakan dengan apapun dalam kehidupan mereka. Islam juga mengakui kelemahan dan keterbatasan manusia yang merupakan fitrahnya. Karena itu, manusia tidak dapat memisahkan diri dengan Allah SWT dalam keadaan apapun. Inilah yang melahirkan kesedaran mengenai perlunya aturan kehidupan dari Allah dan bukan dari yang lain, baik dalam bidang ibadah, ekonomi, politik, sosial, pendidikan, pemerintahan, sanksi hukum dan sebagainya.

Di sinilah penghargaan Islam kepada fitrah manusia. Fitrah manusia tersebut tidak dibunuh atau dibiarkan memenuhi keperluannya sendiri, namun diatur dengan baik sehingga seluruh keperluannya dapat dipenuhi dengan baik dan sistematis. Ini membuktikan, bahwa baik dalam konteks spiritual maupun politik, Islam tidak bertentangan dengan fitrah manusia. Sedangkan dari segi Islam dibangun berdasarkan akal dan bukan materi, ataupun jalan kompromi dapat dilihat dalam konsep tawhîd, yaitu konsep yang mengajarkan, bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Esa dari segi ulûhiyyah maupun rubûbiyyah. Konsep tawhîd ulûhiyyah adalah konsep pengesaan Allah sebagai satu-satunya Zat Yang disembah (wahdâniyyah al-ibâdah). Inilah makna ilâh yaitu al-ma’bûd (Zat yang disembah). Sedangkan tawhîd rubûbiyyah, mengajarkan pengesaan Allah sebagai satu-satunya Zat Yang Maha Pencipta dan Mengatur (wahdâniyah al-khalq wa at-tadbîr) seluruh makhluk yang ada.Konsep tauhid ini berangkat dari konsep pengesaan Zat Allah, bahwa tidak ada Zat lain yang berhakdisebut sebagai Tuhan.

Dengan demikian, rasionalitas konsep ketuhanan ini dapat dibuktikan: Pertama, dari aspek monoteis, ketika Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Zat yang Maha Esa, yang secara logis jika ada tuhan lai selain Allah, dunia ini pasti akan hancur. Dengan begitu, konsep Monoteisme, bahwa Allah adalah Zat yang Maha Esa adalah konsep yang rasional dan tidak bertentangan dengan realitas. Kedua, dari segi Zat, bahwa Tuhan harus azali sedangkan Zat Yang Azali itu harus tidak memerlukan (ghayr almuhtâj) pada yang lain dan tidak mempunyai keterbatasan (ghayr almahdûd). Secara nyata semua yang nampak pada alam, manusia dan kehidupan ini tidak ada satupun yang mempunyai ciri seperti itu, sehingga tidak satupun yang ada di dunia ini berhak untuk dijadikan sebagai Tuhan, baik manusia, alam atau kehidupan. Karena tidak ada yang lain, dan Dialah satu-satunya Zat tadi, maka Dialah yang berhak dipertuhankan.

Konsepsi tawhîd ini juga menyatakan bahwa tidak ada yang berhak untuk menciptakan maupun mengaturmanusia, alam dan kehidupan ini kecuali Allah SWT. Inilah konsep tawhîd yang diajarkan Islam. Karenaitu, Allah bukan hanya diesakan ketika sedang melakukan ibadah, tetapi juga diesakan dalam interaksi sosial, ekonomi, politik, pemerintahan dan sebagainya.

Dengan demikian, Islam anti Sekularisme apalagi Atheisme. Karena itu, pandangan hidup seorangmuslim harus dibentuk dengan dasar akidah ini, yaitu akidah yang memandang segala sesuatu yang menyangkut perbuatan dan benda yang digunakan untuk melakukan perbuatan berdasarkan standar halalharam, atau berdasarkan perintah dan larangan Allah. Aadapun cara untuk mewujudkan pandangan halalharam tersebut adalah dengan terikat dengan hukum Allah SWT. Wassalam.
 

Perbandingan Aqidah Islam, Kapitalisme -Sekularisme dan Sosialis - Komunis Dan Mabda'nya

بسم الله الرحمن الر حيم
إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية:  102
 

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Perbandingan Aqidah Islam, Kapitalisme -Sekularisme dan Sosialis - Komunis Dan Mabda'nya


Akidah yang sahih adalah akidah yang dibangun berdasarkan akal, sesuai dengan fitrah manusia dan naluri beragamanya. Dibangunnya akidah berdasarkan akal, artinya tidak mencukupkan hanya pada perasaan, tetapi juga pada bukti-bukti yang terindra. Bukti-bukti tersebut berasal dari dalam ataupun dari luar diri manusia, serta dari alam kehidupan, hewan, atau dari bintang-bintang dan benda angkasa lainnya. Kesesuaian akidah dengan fitrah dan naluri beragama, artinya tidak mengabaikan naluri yang ada pada manusia. Di samping itu, bahwasanya penampakan dan kecenderungan naluri ini membutuhkan pengaturan. Apabila tidak diatur, kehidupan manusia akan rusak dan sengsara. Contohnya, naluri beragama yang tidak mampu membuat aturan untuk mengatur dirinya dan tatacara beribadah, serta tidak bisa menentukan siapa yang berhak untuk disembah.

Mabda’ atau ideologi dibangun di atas akal (pemikiran) dan bukan pada asas materi dan kompromi. Pertanyaannya sekarang, materi apa yang mungkin dijadikan landasan akidah? Apakah ada saat ini mabda’ yang dibangun berdasarkan materi? Apa yang dimaksud dengan metode kompromi? Lalu, adakah mabda’ yang dibangun berdasarkan metode kompromi di dunia saat ini?

Dunia saat ini dipenuhi dengan berbagai pemikiran, pendapat, dan juga keyakinan. Di antaranya ada yang berhubungan dengan langit (ajaran samawi); ada yang berhubungan dengan bumi (ajaran buatan manusia); serta ada yang menggabungkan antara ajaran langit dan bumi dengan berbagai bentuknya. Pembahasan kita terfokus pada pemikiran yang menyeluruh, yaitu pemikiran yang memberikan penafsiran tentang segala yang ada di dunia ini. Yaitu, yang terdiri dari manusia, alam semesta, dan kehidupan; realitas yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia ini; serta hubungan semuanya dengan realitas yang ada sebelum dan sesudah kehidupan.

Dengan pemikiran seperti ini, akan menjawab pertanyaan manusia dari mana dia berasal, ke mana dia akan kembali, serta kaitan di antara keduanya. Penafsiran atau jawaban terhadap pertanyaan tersebut memberikan kaidah (landasan) berpikir bagi manusia untuk mengatur pemikiran dan pemahaman dalam kehidupannya. Kita tidak akan membahas jauh pemikiran-pemikiran parsial yang mencoba menafsirkan beberapa aspek kehidupan. Hal ini sebagaimana dalam ajaran Budha yang menempatkan aspek ruhani dan tatacara keagamaannya sebagai perantara untuk keluhuran individu manusia, tanpa memperhatikan kemajuan masyarakat. Selain itu, sebagaimana yang dilakukan oleh penganut Hindu berupa pengagungan pada sapi dan sibuk dengan membeda-bedakan masyarakat dalam kasta-kasta.

Ini contoh-contoh pemikiran parsial yang berhubungan dengan bentuk apa yang ada di langit. Adapun contoh pemikiran yang menolak hubungan dengan langit, seperti halnya aliran wujûdiyah (eksistensialisme) yang memandang adanya manusia seperti gambaran adanya alam keseluruhan, serta menolak pengakuan terhadap naluri beragama pada manusia dan sifat manusia yang membutuhkan yang lain bagaimanapun keadaannya. Seperti paham utopia (kemustahilan) yang memandang, ketika terlepasnya seluruh ikatan kehidupan dan hubungan sosial masyarakat, terdapat asas terbentuknya individu dan masyarakat. Pada hakikatnya hal ini merupakan respon dari pemikiran materialis, serta hawa nafsu yang melanda masyarakat Timur dan Barat.

Saat ini kita kesampingkan pemikiran-pemikiran parsial yang tidak akan pernah beranjak pada derajat mabda’, serta kita akan melihat pemikiran mabda’. Mabda yang ada di dunia saat ini tidak lebih dari tiga, yaitu mabda’ Kapitalisme Demokrasi di dunia Barat dalam bentuk negara, kemudian mabda’ ini diikuti oleh negara-negara di dunia Timur; mabda’ Sosialisme Komunisme; dan mabda’ Islam. Mengapa urutannya demikian? Karena disesuaikan dengan mabda’ mana yang lebih dominan diterapkan di dunia saat ini. Kapitalisme sebagai sebuah negara telah menguasai dunia hingga negeri-negeri Sosialis bertekuk lutut karenanya, bahkan pemikiran mereka telah tercerabut. Adapun mabda’ Islam tak satupun negara di dunia ini yang menerapkannya. Kita hanya menemukan beberapa bagian telah terhapus karena berbagai bentuk bujuk rayu terhadap masyarakatnya, sebagaimana kita mendapati pula sebagian masyarakat yang lain mengumumkan perang terhadap Islam dengan bentuk lain dan slogan-slogan lain.

Sekarang akan kita dalami kemunculan masing-masing dari ketiga mabda’ tersebut. Kita akan membahasnya dengan cara membandingkan kaidah-kaidahnya, tatacara mencapai kepemimpinan berpikir di masyarakat, dan pengaturan aspek kehidupan dengan syariatnya. Dimulai dengan mabda’ yang lebih banyak bahaya dan pengaruhnya di dunia sekarang, yaitu mabda’ Kapitalisme Demokrasi. Dari mana asalnya penamaan mabda’ ini? Kita dapati nama mabda’ ini berasal dari fakta pemaksaan akidah mabda’ ini kepada masyarakatnya. Yaitu, munculnya kelompok orang yang memiliki kekayaan (kapital) dan dominasi mereka atas masyarakat. Akan tetapi, bagaimana lahirnya akidah ini dan bagaimana akidah ini dapat menimbulkan dominasi pada masyarakat dan dunia?

Pada masa lalu, para penguasa Eropa dan Rusia menjadikan agama sebagai alat untuk menguasai dan mengeksploitasi masyarakat melalui kaki tangan mereka, yaitu kaum agamawan (rijâluddîn). Kita tidak lupa dengan terjadinya peperangan yang berlarut-larut di antara mereka. Pada saat itulah, banyak dari filsuf dan ilmuwan mengingkari agama sama sekali, serta ada pula di antara mereka yang berpendapat untuk memisahkan agama dari kehidupan dan dari penataan urusan kehidupan.

Pada akhirnya, mereka menyepakati ide untuk menjauhkan agama agar tidak turut campur dalam urusan kehidupan. Kesepakatan ini mengantarkan pada pemisahan agama dari negara sebagai lembaga yang berwenang mengatur kehidupan. Masalah ini selesai dengan kesimpulan mengabaikan agama dan tidak dibahas apakah agama diakui atau tidak karena pembahasan dibatasi dengan keharusan memisahkan agama dari kehidupan.

Akan tetapi, mengapa ide pemisahan agama dari kehidupan (Sekularisme) ini dianggap sebagai jalan tengah? Karena pemikiran ini mencoba mendamaikan kaum agamawan (para pendeta Nasrani)—yang menginginkan segala sesuatu tunduk pada mereka dengan dalih agama— dengan para filsuf dan kaum intelektual—yang menolak agama dan kekuasaan kaum agamawan.

Ide sekular ini mengakui adanya agama, tetapi menolak campur tangannya dalam menata kehidupan. Maksud dari pengakuan ini adalah mereka mengakui adanya Pencipta alam semesta sebagaimana mereka mengakui adanya Hari Kiamat, yang berarti ide ini pun mengakui apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Karena itu, ide ini menjadi akidah yang mencakup pemikiran dasar tentang kehidupan dan pemikiran cabang untuk menyelesaikan problem kehidupan yang dibangun di atas akidahnya.
Sekarang, bagaimana lahirnya akidah Sosialisme? Akidah ini lahir dari hasil berpikir para intelektual yang ternama di Eropa, di antaranya adalah Hegel, Karl Marx, dan Lenin. Mereka menolak agama dan kekuasaan pendeta Nasrani, mereka tidak melihat adanya jalan tengah (kompromi) untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Akhirnya, mereka mengakhiri pemikiran memisahkan agama dari kehidupan dan dari negara. Kemudian, mereka hanya mempunyai pendapat bahwa kehadiran agama harus ditolak. Hal ini berarti mereka menolak realitas yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia.

Mereka hanya melihat kehidupan ini sebagai materi yang terdiri dari manusia, alam semesta, dan kehidupan. Materi adalah asal dari segala sesuatu, serta evolusi materi akan mewujudkan segala sesuatu. Ini berarti mereka menolak adanya Pencipta sesuatu yang ada dan mengingkari aspek ruhani pada segala sesuatu itu. Mengakui adanya aspek ruhani—menurut mereka—berbahaya bagi manusia, mereka meyakini agama adalah candu bagi masyarakat, sebagaimana yang dikatakan oleh Marx, dan atas dasar inilah akidah Sosialisme ditegakkan.

Dengan demikian, materi adalah dasar pemikiran bagi mereka karena proses berpikir menurut mereka adalah refleksi materi (benda) pada otak, tidak lebih dari itu. Evolusi materi dianggap merupakan penyebab dari segala sesuatu yang ada. Mereka mengingkari adanya Pencipta dan Hari Kiamat. Materi itu azali sehingga kehidupan dunia ini hanya untuk kehidupan itu saja. Di atas pemikiran seperti inilah, dibangun seluruh pemikiran cabang dan aturan kehidupan mereka.

Ide Sosialisme ini bukan filsafat khayali, tetapi sebuah mabda’ dan kenyataannya dianut oleh banyak negara, seperti Uni Soviet sebagai negara adidaya di masa lalu yang menunjukkan kekuatannya di dunia. Sayangnya, mereka tidak memperhatikan faktor terjadinya kehancuran negaranya sehingga bukan saja hancur, namun terpisah menjadi negeri-negeri lebih kecil yang akhirnya tidak menganut Sosialisme, tetapi menganut ide Kapitalisme Demokrasi.

Bagaimana dengan lahirnya Akidah Islam? Akidah Islam datang dari wahyu Allah Swt yang disampaikan kepada Rasul-Nya Muhammad saw Allah Swt memerintahkan Muhammad untuk menyampaikan risalah Islam ini kepada seluruh manusia, yang diawali dengan bangsa Arab—dan risalah ini turun dengan menggunakan bahasa mereka, kemudian diakhiri dengan seluruh wilayah di dunia. Mereka tidak saja mengamalkan risalah ini, tetapi juga terikat untuk meneladani Muhammad dalam dakwah dan penerapan Islam. Kalimat Syahadat, ‘Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah’ yang berarti tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Swt meniscayakan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana wajib pula mengaitkan segala aktivitas dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad saw

Hal ini berarti adanya kehidupan ini karena adanya Pencipta yang juga Pengatur kehidupan ini, lalu Dia akan membangkitkan manusia pada Hari Kiamat untuk membalas setiap jiwa terhadap apa yang diyakini dan dilakukannya. Dengan demikian, Islam memandang bahwa kehidupan dunia ini ada yang telah menciptakannya dan juga mengaturnya. Hubungan kehidupan ini dengan Pencipta adalah, Dia (Allah Swt) telah menciptakan kehidupan dan mengatur segala urusan-Nya. Adapun hubungan dunia ini dengan sesudahnya, yaitu Hari Kiamat adalah adanya balasan bagi semua keyakinan dan perbuatan. Dengan kenyataan seperti ini, Akidah Islam adalah akidah praktis yang memberikan solusi bagi semua problem kehidupan dan tentu saja Akidah Islam adalah akidah ideologis.

 
 
 
 
 

Agama & Kepercayaan Jahiliah

بسم الله الرحمن الر حيم
إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102
OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
 
 
 

Agama & Kepercayaan Jahiliah


Bentuk Agama dan Kepercayaan Masyarakat Arab Sebelum Kedatangan  Islam.
 Pengenalan :
  •  Zaman sebelum kedatangan Islam dikenali sebagai zaman Jahiliah, iaitu bermula dari tempoh keruntuhan empangan maarib sehingga zaman  kedatangan Islam ( 610 M)
  • Ciri-ciri masyarakat Jahiliah, tidak mempunyai nabi dan rasul serta kitab suci sebagai panduan.
  • Nabi Muhammad s.a.w menerima wahyu yang pertama pad 610 M. Perkataan Jahiliah yang bererti bodoh menepati ciri-ciri masyarakat pada tempoh masa tersebut dalam semua aspek kehidupan.
  • Kepercayaan masyarakat Jahiliah terbahagi kepada 2 iaitu, kepercayaan agama dan kepercayaan adat. Kepercayaan agama ialah bentuk-bentuk agama yang diamalkan oleh bangsa Arab, sementara kepercayaan adat lebih merupakan kepercayaan tahyul dan tradisi lama yang diwarisi.
  • Kepercayaan adat tidak mempunyai konsep penyembahan sebaliknya membentuk sebahagian daripada budaya hidup mereka.
 Isi :
Kepercayaan agama terbahagi dua iaitu Agama Samawi ( agama langit ) yang diturunkan oleh Allah melalui nabi-nabi dan mempunyai kitab, dan agama ardhi ( agama ciptaan ) yang direka oleh manusia sendiri.
1.         Agama Hanif :
Agama yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim. Penganutnya digelar Hunafa”. Agama ini tidak mempunyai kitab tetapi suhuf. Agama ini mentauhidkan Allah sebagai Tuhan yang Esa. Antara tokoh yang menganut agama ini ialah Waraqah bin Naufal dan Nabi Muhammad s.a.w sendiri.
2.         Agama Yahudi :
Agama yang dianuti oleh masyarakat arab sebelum Islam. Agama ini dibawa oleh Nabi Musa serta mempunyai kitab suci, iaitu kitab Taurat. Walau bagaimanapun golongan Bani Israel telah mengubah kandungan kitab ini demi kepentingan peribadi sehingga agama ini dianggap syirik kerana menduakan Allah.
3.         Agama Nasrani :
Agama ini juga telah diselewengkan oleh golongan pendeta agama tersebut. Meskipun Allah telah menurunkan kitab Injil kepada Nabi Isa, namun penganut agama ini telah mengubah kandungan asalnya. Penganut agama asal agama Nasrani dikenali dengan gelaran ahli kitab.
4.         Agama Wathani :
Majoriti masyarakat Jahiliah menganut agama wathani, iaitu agama sembah berhala yang diperbuat daripada batu, kayu atau emas. Sesetengah Arab percaya berhala dapat memberikan manafaat dan mudarat, mempunyai keberkatan dan sebagainya.  Terdapat 360 buah berhala disekeliling kaabah. Antara yang popular ialah Al-Uzza, Al-Manat, dan Al-Hubal.
5.         Agama Majusi :
Agama ini juga digelar Zoroaster dan berasal dari Farsi. Mereka menyembah matahari dan api. Pendeta-pendeta Majusi menyembah matahari 4 kali dalam satu hari. Agama ini banyak mengandungi cerita khayal dan turut menghalalkan perkahwinan ibu dengan anak serta adik beradik.
6.         Agama penyembahan Cekarawala :
Mereka menyembah matahari, bulan dan bintang serta beranggapan semua cekarawala merupakan sumber tenaga dan kekuatan.
7.         Agama Animisme :
Mereka menyembah objek-objek alam sekeliling seperti pokok, mereka percaya air dan pokok merupakan sumber kehidupan dan padang pasir yang kering sebagai tempat kediaman tuhan yang jahat.
8.         Agama Penyembahan Makhluk Halus ( Polydemonisme ) :
Mereka menyembah malaikat, Jin, roh nenek moyang dan sebagainya. Makhluk makhluk ini dianggap mempunyai kuasa ghaib dan boleh menjadi perantaraan dengan Tuhan, dan menjamin keselamatan mereka.
9.         Penyembahan Tuhan Padang Pasir.
Penganutnya digelar Ahl-al-Saf ( ‘ahlil-saf’ ). Mereka percaya bahawa padang pasir wujud tetapi tidak pernah ditemui. Amalan mereka membawa api pada waktu malam dan berjalan-jalan di tengah padang pasir sambil menyanyi.
10.       Kepercayaan tahyul :
  • Kepercayaan tangkal azimat
  • Roh orang mati menjadi burung.
  • Percaya kepada ahli nujum.
  • Percaya kepada ahli sihir.
  • Percaya kepada binatang yang melintas di tengah-tengah perjalanan- Jika ke kiri membawa kepada keburukan, manakala ke kanan akan membawa kebaikan.
  • Mengorbankan anak perempuan merupakan perbuatan yang mulia.
  • Mengikat tali pada mana-mana pokok, jika ikatan terlerai sekembalinya suami dari perantauan, ini bermakna isterinya telah berlaku curang.
  • Membuat keputusan melalui anak panah.

Kesimpulan :
Gambaran kehidupan masyarakat Jahiliah di atas menunjukkan mereka tidak mempunyai peraturan hidup yang jelas, sebaliknya menurut hawa nafsu semata-mata.