AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Isnin, 16 Februari 2015

Hukum Bunuh Diri dan Menyembahyangkan Jenazahnya

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI



Hukum Bunuh Diri dan Menyembahyangkan Jenazahnya

Kesalahan membunuh diri merupakah satu kesalahan yang terlalu besar. Orang yang membunuh dirinya akan diazab di akhirat kelak sebagaimana dia membunuh dirinya di dunia sepertimana dijelaskan oleh Nabi S.A.W.
Abu Hurairah R.A. meriwayakan dari Nabi S.A.W.

مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ ‏ ‏تَحَسَّى ‏ ‏سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

Maksudnya: “Sesiapa yang terjun dari bukit membunuh dirinya, dia akan terjun ke dalam neraka jahannam kakal di dalamnya selama-lamanya. Sesiapa yang meminum racun membunuh diiri, racun itu akan berada di dalam gengamannya, dia akan menghirup racun itu di dalam neraka jahannam kekal di dalamnya selama-lamanya. Siapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu akan berada dalam gengamannya, dia akan menikamkannya di perutnya di dalam neraka jahannam, kekal di dalamnya selama-lamanya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Daripada Thabit bin Dhohak R.A. (ثابت بن الضحاك), sabda Nabi S.A.W.:

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ فِيْ الدُّنْيَا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Maksudnya: “Sesiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu benda di dunia, dia akan diazabkan dengan benda tersebut di hari kiamat.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Daripada Jundub bin Abdillah R.A. (جندب بن عبد الله), katanya Nabi S.A.W. bersabda:

‏كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا ‏ ‏ رَقَأَ ‏ ‏ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ‏ ‏بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Maksudnya: “Dahulu dikalangan umat sebelum kamu ada seorang lelaki yang ada kecederaan (kemudian menjadi ulser), lalu dia tidak bersabar menanggung kesakitannya, lalu dia mengambil pisau dan memotong tangannya sehingga darah tidak berhenti sehinggalah dia mati. Firman Allah S.W.T.: “Tergesa-gesa hambaku kepadaKu (dengan membunuh diri), aku haramkan untuknya syurga.” (al-Bukhari dan Muslim)
Hukum Orang Bunuh Diri

Perbuatan membunuh diri adalah termasuk di dalam kesalahan dosa-dosa besar, perbuatan membunuh diri ini TIDAK termasuk di dalam perkara yang menyebabkan seseorang terkeluar daripada Islam (Murtad) sebagaimana yang difahami oleh sebagai daripada kita, melainkan bagi orang yang menghalalkan perbuatan tersebut, jika dia menghalalkannya maka ketika itu dia dihukumkan sebagai kafir/murtad.

Kita tidak menghukumkan orang yang bunuh diri sebagai murtad, kerana Nabi S.A.W. tidak melarang para sahabat dari menyembahyangkan jenazah orang yang membunuh diri. Namun baginda sendiri tidak menyembahyangkan jenazah orang tersebut sebagai pengajaran bagi orang lain. Maka menjadi sunnah kepada para ulama dan orang yang dipandang mulia, tidak menyembahyangkan jenazah orang yang mati membunuh diri sebagai mengikut perbuatan Nabi S.A.W. dan sebagai pengajaran kepada orang lain.
Daripada Jabir bin Samurah (جابر بن سمرة) R.A. katanya:



‏أُتِيَ النَّبِيُّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏بِرَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ ‏ ‏بِمَشَاقِصَ ‏ ‏فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ

Maksudnya: “Didatangkan kepada Nabi S.A.W. jenazah seorang lelaki yang membunuh diri dengan anak panah, lalu baginda tidak menyembahyangkan untuknya.” (Muslim)
Al-Imam al-Nawawi di dalam Syarah Sahih Muslim ketika mensyarahkan hadith ini menyebut:

“Hadith ini menjadi dalil bagi ulama yang berpendapat tidak disembahyangkan jenazah orang yang membunuh diri disebabkan maksiat yang dia lakukan, inilah mazhab ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz dan al-Auza’ie. Manakal al-Hasan, al-Nakha’ie, Qatadah, Malik, Abu Hanifah, al-Syafi’ie dan kebanyakan ulama berpendapat: Disembahyangkan ke atas jenazah orang yang membunuh diri. (Jumhur) kebanyakan ulama ini menjawab tentang hadith ini yang baginda tidak menyembahyangkannya sebagai melarang manusia dari melakukan perbuatan yang sama (membunuh diri), namun jenazah itu disembahyangkan oleh para sahabat…”

Adapun mengenai teks hadith yang menyatakan orang yang membunuh diri itu kekal selama-lamanya di dalam neraka, para ulama menyatakan, ia ditujukan kepada orang yang menghalalkan perbuatan membunuh diri tersebut, atau maksudnya boleh difahami dengan memanjangkan tempoh azab ke atasnya di dalam neraka.
 PERTANYAAN: Apa wajib mensolatkan orang yang matinya bunuh diri? Atau orang meninggal dalam keadaan maksiat (pelaku dosa besar).Jemaah (Ahad, 24-03-2013). JAWAB: Hukum solat jenazah yang bukan karena mati syahid adalah “Fardhu Kifayah ;  فرضٌ كِفاية ; Collective Duty” bagi orang yang masih hidup, menurut Ijma’ seperti mengurus mayit, memandikannya, mengkafaninya, dan menguburkannya.

Jika solat jenazah dilakukang sebagian orang walau hanya satu orang maka terlepaslah dosa bagi yang tidak mensolatkanya atau mengurusnya. Solat jenazah ini merupakan diantara ritual khusus dalam Islam yang tidak dimiliki oleh ajaran umat-umat lain, termasuk juga masalah bagian sepertiga hak waris yang harus diwasiatkan oleh si mayit dari harta yang dimilikinya kepada ahli warisnya.

Tentang solat jenazah para sahabat mensolati Nabi SAW ketika beliau wafat, begitu juga Nabi Muhammad Saw memerintahkan para sahabat melakukan solat jenazah atau solat ghaib (ketika raja Annajasyi wafat) meskipun mayit tersebut anak-anak. Tentang anjuran solat jenazah ini dapat dilihat Hadis-hadis yang diriwayatkan dan bersumber dari: Ibnu Abbas, Imam Ahmad, Abu Dawud, Imam Annasa’I, At-Turmudzi, Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Para ulama berbeda pendapat, apakah boleh mensolatkan orang yang matinya dalam keadaan dosa besar? Seperti mati bunuh diri, pembunuh, penzina muhsan (laki-laki atau wanita yang sudah menikah melakukan zina), teroris, perampok yang membunuh, dll. Perbedaan pendapat para ulama tersebut diantara sebagai berikut:

1.Menurut Madzhab Hanafi (Imam Hanafi : Bagdad, 80-150 H) wajib bagi orang Islam mensolati orang muslim yang meningggal terkecuali orang yang mati dalam keadaan:
a.Bughat atau makar seperti teroris yaitu mereka adalah orang Islam yang keluar dari ketaatan terhadap Imam atau pemimpin (Islam) yang tidak dibenarkan oleh syari’at. Jika mereka mati jenazahnya tidak wajib dimandikan dan disolati. Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.

b.Qithaa’ At-Thuruq yaitu orang perampok, pemalak yang menggunakan senjata atau dengan cara-cara pemerasan, bertindak kriminal yang dapat mematikan atau meresahkan masyarakat. Jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disolati. Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.

c.Mati Syahid (Syahid dunia) yaitu orang yang mati ketika berperang di jalan Allah (Jihad fi Sabilillah), maka jenazahnya tidak disolati.

d.Ahlu Al’ashabiyah yaitu orang yang fanatik terhadap kelompok, suku, ras, golongannya, dll. Jika mereka mati karena mempertahankan kefanatikannya maka jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disolati, karena mereka ini digolongkan kepada Allu Al’ashabiyah sama hukumnya dengan Bughat (makar). Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.

e.Orang yang mati bunuh diri begitu juga orang-orang yang mati dalam kondosi melakukan dosa-dosa besar. Begitu juga tidak disolatkan mayit orang yang membunuh orang tuanya, namun jika ia mati dalam kondisi terhukum (mati dalam Qishah) maka mayitnya boleh dimandikan.

Namun sebahagian mufti yang bermadzhab Hanafi memfatwakan bagi orang yang matinya karena bunuh diri dengan sengaja (atau pelaku dosa besar) boleh dimandikan dan disolati, begitu juga menurut madzhab Syafi’i (Imam Syafi’I : 150-204 H). Karena mereka para pelaku dosa-dosa besar masih dianggap orang Islam sebagaimana orang Muslim lainnya, namun perbuatan mereka adalah tergolong orang yang fasik.

2.Menurut pengikut Abu Yusuf dan Ibnu Al Hammam bagi pelaku dosa besar tidak disolatkan jenazahnya sebagaimana Rasulullah Saw pun tidak melakukan hal tersebut. Sebagaimana Hadis Shahih yang diriwayatkan Imam Muslim : ( أنه عليه السلام أتى برجل قتل نفسه , فلم يصلي عليه ; Nabi Muhammad Saw ketika mendatangi orang yang mati karena bunuh diri, beliau tidak mensolatkannya).

3.Menurut Madzhab Malik (Imam Malik : 93H-179 H) orang yang mati karena dosa-dosa besar atau mereka mati karena di Qishah (hukum mati karena dosa besar) boleh disolatkan jenazahnya, namun bagi Imam (para ulama atau orang –orang yang shalih) sebaiknya tidak mensolatkannya. Sebagaimana Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mensolati pelaku dosa besar seperti mati bunuh diri, namun beliau tidak melarang bagi orang lain yang ingin menshalatkannya. Pendapat ini juga disepakati oleh Madzhab Hanabilah (Imam Ahmad : 164-241 H).

Pendapat yang rajih adalah pendapat Imam Syafi’i dan jumhur ulama bahwa orang yang pelaku dosa besar menjadi Fardu Kifayah mengurus jenazah dan mensolatinya. Sebaiknya bagi seluruh para ulama atau masyarakat untuk melakukan mensolatinya, ini merupakan syi’ar agar bagi pelaku dosa-dosa besar yang belum sadar (yang masih dalam kubangan lembah nista) dapat melakukan tobat kembali kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Wallahua’lam.
PERTANYAAN: Apa wajib mensolatkan orang yang matinya bunuh diri? Atau orang meninggal dalam keadaan maksiat (pelaku dosa besar).Jemaah (Ahad, 24-03-2013). JAWAB: Hukum solat jenazah yang bukan karena mati syahid adalah “Fardhu Kifayah ;  فرضٌ كِفاية ; Collective Duty” bagi orang yang masih hidup, menurut Ijma’ seperti mengurus mayit, memandikannya, mengkafaninya, dan menguburkannya.
Jika solat jenazah dilakukang sebagian orang walau hanya satu orang maka terlepaslah dosa bagi yang tidak mensolatkanya atau mengurusnya. Solat jenazah ini merupakan diantara ritual khusus dalam Islam yang tidak dimiliki oleh ajaran umat-umat lain, termasuk juga masalah bagian sepertiga hak waris yang harus diwasiatkan oleh si mayit dari harta yang dimilikinya kepada ahli warisnya.
Tentang solat jenazah para sahabat mensolati Nabi SAW ketika beliau wafat, begitu juga Nabi Muhammad Saw memerintahkan para sahabat melakukan solat jenazah atau solat ghaib (ketika raja Annajasyi wafat) meskipun mayit tersebut anak-anak. Tentang anjuran solat jenazah ini dapat dilihat Hadis-hadis yang diriwayatkan dan bersumber dari: Ibnu Abbas, Imam Ahmad, Abu Dawud, Imam Annasa’I, At-Turmudzi, Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Para ulama berbeda pendapat, apakah boleh mensolatkan orang yang matinya dalam keadaan dosa besar? Seperti mati bunuh diri, pembunuh, penzina muhsan (laki-laki atau wanita yang sudah menikah melakukan zina), teroris, perampok yang membunuh, dll. Perbedaan pendapat para ulama tersebut diantara sebagai berikut:
1.Menurut Madzhab Hanafi (Imam Hanafi : Bagdad, 80-150 H) wajib bagi orang Islam mensolati orang muslim yang meningggal terkecuali orang yang mati dalam keadaan:
a.Bughat atau makar seperti teroris yaitu mereka adalah orang Islam yang keluar dari ketaatan terhadap Imam atau pemimpin (Islam) yang tidak dibenarkan oleh syari’at. Jika mereka mati jenazahnya tidak wajib dimandikan dan disolati. Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.

b.Qithaa’ At-Thuruq yaitu orang perampok, pemalak yang menggunakan senjata atau dengan cara-cara pemerasan, bertindak kriminal yang dapat mematikan atau meresahkan masyarakat. Jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disolati. Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.
c.Mati Syahid (Syahid dunia) yaitu orang yang mati ketika berperang di jalan Allah (Jihad fi Sabilillah), maka jenazahnya tidak disolati.
d.Ahlu Al’ashabiyah yaitu orang yang fanatik terhadap kelompok, suku, ras, golongannya, dll. Jika mereka mati karena mempertahankan kefanatikannya maka jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disolati, karena mereka ini digolongkan kepada Allu Al’ashabiyah sama hukumnya dengan Bughat (makar). Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.
e.Orang yang mati bunuh diri begitu juga orang-orang yang mati dalam kondosi melakukan dosa-dosa besar. Begitu juga tidak disolatkan mayit orang yang membunuh orang tuanya, namun jika ia mati dalam kondisi terhukum (mati dalam Qishah) maka mayitnya boleh dimandikan.
Namun sebahagian mufti yang bermadzhab Hanafi memfatwakan bagi orang yang matinya karena bunuh diri dengan sengaja (atau pelaku dosa besar) boleh dimandikan dan disolati, begitu juga menurut madzhab Syafi’i (Imam Syafi’I : 150-204 H). Karena mereka para pelaku dosa-dosa besar masih dianggap orang Islam sebagaimana orang Muslim lainnya, namun perbuatan mereka adalah tergolong orang yang fasik.
2.Menurut pengikut Abu Yusuf dan Ibnu Al Hammam bagi pelaku dosa besar tidak disolatkan jenazahnya sebagaimana Rasulullah Saw pun tidak melakukan hal tersebut. Sebagaimana Hadis Shahih yang diriwayatkan Imam Muslim : ( أنه عليه السلام أتى برجل قتل نفسه , فلم يصلي عليه ; Nabi Muhammad Saw ketika mendatangi orang yang mati karena bunuh diri, beliau tidak mensolatkannya).
3.Menurut Madzhab Malik (Imam Malik : 93H-179 H) orang yang mati karena dosa-dosa besar atau mereka mati karena di Qishah (hukum mati karena dosa besar) boleh disolatkan jenazahnya, namun bagi Imam (para ulama atau orang –orang yang shalih) sebaiknya tidak mensolatkannya. Sebagaimana Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mensolati pelaku dosa besar seperti mati bunuh diri, namun beliau tidak melarang bagi orang lain yang ingin menshalatkannya. Pendapat ini juga disepakati oleh Madzhab Hanabilah (Imam Ahmad : 164-241 H).
Pendapat yang rajih adalah pendapat Imam Syafi’i dan jumhur ulama bahwa orang yang pelaku dosa besar menjadi Fardu Kifayah mengurus jenazah dan mensolatinya. Sebaiknya bagi seluruh para ulama atau masyarakat untuk melakukan mensolatinya, ini merupakan syi’ar agar bagi pelaku dosa-dosa besar yang belum sadar (yang masih dalam kubangan lembah nista) dapat melakukan tobat kembali kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Wallahua’lam.
- See more at: http://kabarwashliyah.com/2013/03/24/hukum-solat-jenazah-yang-mati-bunuh-diri/#sthash.HwAbTadM.dpuf
PERTANYAAN: Apa wajib mensolatkan orang yang matinya bunuh diri? Atau orang meninggal dalam keadaan maksiat (pelaku dosa besar).Jemaah (Ahad, 24-03-2013). JAWAB: Hukum solat jenazah yang bukan karena mati syahid adalah “Fardhu Kifayah ;  فرضٌ كِفاية ; Collective Duty” bagi orang yang masih hidup, menurut Ijma’ seperti mengurus mayit, memandikannya, mengkafaninya, dan menguburkannya.
Jika solat jenazah dilakukang sebagian orang walau hanya satu orang maka terlepaslah dosa bagi yang tidak mensolatkanya atau mengurusnya. Solat jenazah ini merupakan diantara ritual khusus dalam Islam yang tidak dimiliki oleh ajaran umat-umat lain, termasuk juga masalah bagian sepertiga hak waris yang harus diwasiatkan oleh si mayit dari harta yang dimilikinya kepada ahli warisnya.
Tentang solat jenazah para sahabat mensolati Nabi SAW ketika beliau wafat, begitu juga Nabi Muhammad Saw memerintahkan para sahabat melakukan solat jenazah atau solat ghaib (ketika raja Annajasyi wafat) meskipun mayit tersebut anak-anak. Tentang anjuran solat jenazah ini dapat dilihat Hadis-hadis yang diriwayatkan dan bersumber dari: Ibnu Abbas, Imam Ahmad, Abu Dawud, Imam Annasa’I, At-Turmudzi, Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Para ulama berbeda pendapat, apakah boleh mensolatkan orang yang matinya dalam keadaan dosa besar? Seperti mati bunuh diri, pembunuh, penzina muhsan (laki-laki atau wanita yang sudah menikah melakukan zina), teroris, perampok yang membunuh, dll. Perbedaan pendapat para ulama tersebut diantara sebagai berikut:
1.Menurut Madzhab Hanafi (Imam Hanafi : Bagdad, 80-150 H) wajib bagi orang Islam mensolati orang muslim yang meningggal terkecuali orang yang mati dalam keadaan:
a.Bughat atau makar seperti teroris yaitu mereka adalah orang Islam yang keluar dari ketaatan terhadap Imam atau pemimpin (Islam) yang tidak dibenarkan oleh syari’at. Jika mereka mati jenazahnya tidak wajib dimandikan dan disolati. Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.

b.Qithaa’ At-Thuruq yaitu orang perampok, pemalak yang menggunakan senjata atau dengan cara-cara pemerasan, bertindak kriminal yang dapat mematikan atau meresahkan masyarakat. Jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disolati. Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.
c.Mati Syahid (Syahid dunia) yaitu orang yang mati ketika berperang di jalan Allah (Jihad fi Sabilillah), maka jenazahnya tidak disolati.
d.Ahlu Al’ashabiyah yaitu orang yang fanatik terhadap kelompok, suku, ras, golongannya, dll. Jika mereka mati karena mempertahankan kefanatikannya maka jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disolati, karena mereka ini digolongkan kepada Allu Al’ashabiyah sama hukumnya dengan Bughat (makar). Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.
e.Orang yang mati bunuh diri begitu juga orang-orang yang mati dalam kondosi melakukan dosa-dosa besar. Begitu juga tidak disolatkan mayit orang yang membunuh orang tuanya, namun jika ia mati dalam kondisi terhukum (mati dalam Qishah) maka mayitnya boleh dimandikan.
Namun sebahagian mufti yang bermadzhab Hanafi memfatwakan bagi orang yang matinya karena bunuh diri dengan sengaja (atau pelaku dosa besar) boleh dimandikan dan disolati, begitu juga menurut madzhab Syafi’i (Imam Syafi’I : 150-204 H). Karena mereka para pelaku dosa-dosa besar masih dianggap orang Islam sebagaimana orang Muslim lainnya, namun perbuatan mereka adalah tergolong orang yang fasik.
2.Menurut pengikut Abu Yusuf dan Ibnu Al Hammam bagi pelaku dosa besar tidak disolatkan jenazahnya sebagaimana Rasulullah Saw pun tidak melakukan hal tersebut. Sebagaimana Hadis Shahih yang diriwayatkan Imam Muslim : ( أنه عليه السلام أتى برجل قتل نفسه , فلم يصلي عليه ; Nabi Muhammad Saw ketika mendatangi orang yang mati karena bunuh diri, beliau tidak mensolatkannya).
3.Menurut Madzhab Malik (Imam Malik : 93H-179 H) orang yang mati karena dosa-dosa besar atau mereka mati karena di Qishah (hukum mati karena dosa besar) boleh disolatkan jenazahnya, namun bagi Imam (para ulama atau orang –orang yang shalih) sebaiknya tidak mensolatkannya. Sebagaimana Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mensolati pelaku dosa besar seperti mati bunuh diri, namun beliau tidak melarang bagi orang lain yang ingin menshalatkannya. Pendapat ini juga disepakati oleh Madzhab Hanabilah (Imam Ahmad : 164-241 H).
Pendapat yang rajih adalah pendapat Imam Syafi’i dan jumhur ulama bahwa orang yang pelaku dosa besar menjadi Fardu Kifayah mengurus jenazah dan mensolatinya. Sebaiknya bagi seluruh para ulama atau masyarakat untuk melakukan mensolatinya, ini merupakan syi’ar agar bagi pelaku dosa-dosa besar yang belum sadar (yang masih dalam kubangan lembah nista) dapat melakukan tobat kembali kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Wallahua’lam.
- See more at: http://kabarwashliyah.com/2013/03/24/hukum-solat-jenazah-yang-mati-bunuh-diri/#sthash.HwAbTadM.dpuf
PERTANYAAN: Apa wajib mensolatkan orang yang matinya bunuh diri? Atau orang meninggal dalam keadaan maksiat (pelaku dosa besar).Jemaah (Ahad, 24-03-2013). JAWAB: Hukum solat jenazah yang bukan karena mati syahid adalah “Fardhu Kifayah ;  فرضٌ كِفاية ; Collective Duty” bagi orang yang masih hidup, menurut Ijma’ seperti mengurus mayit, memandikannya, mengkafaninya, dan menguburkannya.
Jika solat jenazah dilakukang sebagian orang walau hanya satu orang maka terlepaslah dosa bagi yang tidak mensolatkanya atau mengurusnya. Solat jenazah ini merupakan diantara ritual khusus dalam Islam yang tidak dimiliki oleh ajaran umat-umat lain, termasuk juga masalah bagian sepertiga hak waris yang harus diwasiatkan oleh si mayit dari harta yang dimilikinya kepada ahli warisnya.
Tentang solat jenazah para sahabat mensolati Nabi SAW ketika beliau wafat, begitu juga Nabi Muhammad Saw memerintahkan para sahabat melakukan solat jenazah atau solat ghaib (ketika raja Annajasyi wafat) meskipun mayit tersebut anak-anak. Tentang anjuran solat jenazah ini dapat dilihat Hadis-hadis yang diriwayatkan dan bersumber dari: Ibnu Abbas, Imam Ahmad, Abu Dawud, Imam Annasa’I, At-Turmudzi, Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Para ulama berbeda pendapat, apakah boleh mensolatkan orang yang matinya dalam keadaan dosa besar? Seperti mati bunuh diri, pembunuh, penzina muhsan (laki-laki atau wanita yang sudah menikah melakukan zina), teroris, perampok yang membunuh, dll. Perbedaan pendapat para ulama tersebut diantara sebagai berikut:
1.Menurut Madzhab Hanafi (Imam Hanafi : Bagdad, 80-150 H) wajib bagi orang Islam mensolati orang muslim yang meningggal terkecuali orang yang mati dalam keadaan:
a.Bughat atau makar seperti teroris yaitu mereka adalah orang Islam yang keluar dari ketaatan terhadap Imam atau pemimpin (Islam) yang tidak dibenarkan oleh syari’at. Jika mereka mati jenazahnya tidak wajib dimandikan dan disolati. Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.

b.Qithaa’ At-Thuruq yaitu orang perampok, pemalak yang menggunakan senjata atau dengan cara-cara pemerasan, bertindak kriminal yang dapat mematikan atau meresahkan masyarakat. Jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disolati. Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.
c.Mati Syahid (Syahid dunia) yaitu orang yang mati ketika berperang di jalan Allah (Jihad fi Sabilillah), maka jenazahnya tidak disolati.
d.Ahlu Al’ashabiyah yaitu orang yang fanatik terhadap kelompok, suku, ras, golongannya, dll. Jika mereka mati karena mempertahankan kefanatikannya maka jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disolati, karena mereka ini digolongkan kepada Allu Al’ashabiyah sama hukumnya dengan Bughat (makar). Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.
e.Orang yang mati bunuh diri begitu juga orang-orang yang mati dalam kondosi melakukan dosa-dosa besar. Begitu juga tidak disolatkan mayit orang yang membunuh orang tuanya, namun jika ia mati dalam kondisi terhukum (mati dalam Qishah) maka mayitnya boleh dimandikan.
Namun sebahagian mufti yang bermadzhab Hanafi memfatwakan bagi orang yang matinya karena bunuh diri dengan sengaja (atau pelaku dosa besar) boleh dimandikan dan disolati, begitu juga menurut madzhab Syafi’i (Imam Syafi’I : 150-204 H). Karena mereka para pelaku dosa-dosa besar masih dianggap orang Islam sebagaimana orang Muslim lainnya, namun perbuatan mereka adalah tergolong orang yang fasik.
2.Menurut pengikut Abu Yusuf dan Ibnu Al Hammam bagi pelaku dosa besar tidak disolatkan jenazahnya sebagaimana Rasulullah Saw pun tidak melakukan hal tersebut. Sebagaimana Hadis Shahih yang diriwayatkan Imam Muslim : ( أنه عليه السلام أتى برجل قتل نفسه , فلم يصلي عليه ; Nabi Muhammad Saw ketika mendatangi orang yang mati karena bunuh diri, beliau tidak mensolatkannya).
3.Menurut Madzhab Malik (Imam Malik : 93H-179 H) orang yang mati karena dosa-dosa besar atau mereka mati karena di Qishah (hukum mati karena dosa besar) boleh disolatkan jenazahnya, namun bagi Imam (para ulama atau orang –orang yang shalih) sebaiknya tidak mensolatkannya. Sebagaimana Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mensolati pelaku dosa besar seperti mati bunuh diri, namun beliau tidak melarang bagi orang lain yang ingin menshalatkannya. Pendapat ini juga disepakati oleh Madzhab Hanabilah (Imam Ahmad : 164-241 H).
Pendapat yang rajih adalah pendapat Imam Syafi’i dan jumhur ulama bahwa orang yang pelaku dosa besar menjadi Fardu Kifayah mengurus jenazah dan mensolatinya. Sebaiknya bagi seluruh para ulama atau masyarakat untuk melakukan mensolatinya, ini merupakan syi’ar agar bagi pelaku dosa-dosa besar yang belum sadar (yang masih dalam kubangan lembah nista) dapat melakukan tobat kembali kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Wallahua’lam.
- See more at: http://kabarwashliyah.com/2013/03/24/hukum-solat-jenazah-yang-mati-bunuh-diri/#sthash.HwAbTadM.dpuf

Sabtu, 14 Februari 2015

DAKWAH DAN UJIAN ( الدعوة والمحنة )


Foto Al-Fadhil Ustaz Muhamad Najib. 

EPISODE SEBUAH
PERJUANGAN

" Perjuangan tidak akan berakhir hari ini sebagaimana ia tidak bermula hari ini "
DAKWAH DAN UJIAN
( الدعوة والمحنة )

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

 
OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
Hidup manusia adalah penuh dengan ujian, dugaan, kesusahan, rintangan dan cubaan. Adalah mustahil bagi seseorang manusia dapat hidup tanpa menempuh ujian dan dugaan. Ini semua berlaku kepada manusia biasa. Bagaimana pula dengan para pendakwah dan pejuang Islam?
Tentulah mereka lebih banyak dan hebat ujian yang diterima. Setiap orang yang berjuang pada jalan Allah, berdakwah mengajak meninggalkan perkara-perkara yang disukai oleh hawa nafsu dan menerima ajaran Islam ; MAKA sudah tentu akan ditentang dan diperangi oleh golongan Taghut dan pendokong kebatilan. Mereka menjalankan amar makruf nahi mungkar akan ditentang oleh pendokong kemungkaran. Firman Allah,Foto Al-Fadhil Ustaz Muhamad Najib.
وما نقموا منهم إلا أن يؤمنوا بالله العزيز الحميد
Maksudnya, “ Dan tidak mereka menyiksa mereka melainkan kerana mereka beriman kepada Allah Yang Maha Mulia Lagi Maha Terpuji “.
Surah al-Buruj : 8.
Oleh yang demikian hidup pendokong gerakan Islam sentiasa dalam ujian, tekanan, fitnah dan dugaan yang tidak putus-putus. Apatah lagi gerakan dakwah Islamiyah menentang segala bentuk kezaliman dan maksiat, menentang Jahiliyah dalam semua bentuk dan corak samada kebudayaan, pemikiran, perlembagaan, sistem dan lain-lain.
Ujian dalam gerakan Islam dan dakwah Islamiyah juga merupakan suatu pengertian KHUSUS yang tidak terdapat dalam mana-mana gerakan yang tidak islamik. Malah Allah Ta’ala telah menjelaskan di dalam al-Quran bahawa dakwah Islamiyah memakan masa dan penuh kesusahan. Firman Allah dalam surah at-Taubah ayat 42,
لو كان عرضا قريبا وسفرا قاصدا لاتبعوك ولكن بعدت عليهم الشقة ..
Maksudnya, “ Kalaulah ia (perjuangan Islam) merupakan habuan dunia yang dekat dan perjalanan yang senang (ditujui) dan pendek nescaya mereka akan mengikut engkau TETAPI perjalanan itu jauh dan penuh kesusahan”.
Berkata Imam Ibn al-Qayyim, “ Wahai mereka yang pondan keazamannya, jalan dakwah ini ialah jalan yang mana Nabi Adam telah penat, Nabi Nuh telah mengeluh (mengadu), Nabi Ibrahim dicampakkan ke dalam api, Nabi Ismail disembelih, Nabi Zakariyya digergaji dan Nabi Yahya disembelih”.
UJIAN ADALAH SATU CARA DIDIKAN (TARBIYYAH)
Ujian dalam gerakan Islam dan dakwah adalah suatu cara yang penting UNTUK membina dan membentuk peribadi seseorang pejuang dan da’i, suatu asas pemilihan dalam pimpinan Islam; siapa yang tahan uji maka dialah yang layak memegang teraju pimpinan begitulah sebaliknya WALAUPUN mempunyai ijazah yang tinggi atau pandai berpidato,kerana dengan ujian akan lahirlah mereka yang kuat iman, dan juga dan juga mereka yang munafik,Firman Allah, >
Maksudnya ,Dan ada diantara manusia yang berkata,kami telah beriman dengan Allah,maka apabila di uji pada jalan Allah dia menganggap ujian dari manusia itu sama seperti azab dari Allah……….dan sesungguhnya Allah akan mengetahui mereka yang beriman dan mengetahui orang yang munafikin”.
- al-‘Ankabut : 11 - 15.
FirmanNya lagi:
ليميز الله الخبيث من الطيب
Maksudnya ,Supaya Allah dapat membeza yang baik dari yang buruk “.
- Surah al-Anfal : 37
Telah menjadi sunatullah bahawa kebenaran akan terus bertarung dengan kebatalan , apabila lahirnya sesuatu kebenaran maka turut lahirlah kepalsuan untuk menentangnya , dan untuk menutup dan menghancurkannya.Firman Allah dalam surah Al-Jin ayat 19,
وأنه لما قام عبدالله يدعوه كادوا يكونون عليه لبدا قل إنما أدعو ربى ولاأشرك به أحدا
Maksudnya ,’Dan sesungguhnya apabila bangun sesearang hamba Allah menjalankan dakwah,hampirlah mereka bermuafakat menentangnya .Katakanlah sesungguhnya aku menyembah tuhanku dan tidak aku syirik dengannya seseorang jua pun”.
dan firmanNya :
يريدون ليطفئوا نور الله بأفواههم والله متم نوره ولوكره الكافرون
Maksudnya,” Mereka bertujuan untuk memadam cahaya Ugama Allah dengan mulut mereka , pada hal Allah akan menyempurnakan cahaya ugamanya , walau dibenci oleh seluruh orang - orang kafir”
Sejak lahirnya para Rasul dan para pendakwah lagi pertarungan di antara mereka dan golongan pendukung parti Syaitan dan kebatilan wujud. Apabila Allah menjadikan Nabi Adam maka Iblis berusaha siang dan malam untuk menentang Nabi Adam ,Nabi Nuh ditentang kaumnya , anak dan isterinya , Nabi Ibrahim ditentang oleh Raja Namrud dan kaumnya , Nabi Musa ditentang oleh Firaun , Haman ,Qarun, Musa Samiriy , dan Bal’am bin Ba’ura .Nabi Muhammad ditentang oleh keluarganya dan musyrikin Makkah , sebab itulah Nabi Muhammad bersabda :
إن أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الأمثال فالأمثال,,,, رواه الترمذى
Maksudnya, “Sesungguhnya manusia yang dahsyat ujian di antara manusia ialah Para Ambia’, kemudian orang yang yang hampir sama dengan mereka,”
dan sabdanya lagi,
إذا أراد الله بعبد خيرا عجل له العقوبة في الدنيا
رواه الترمذى والحاكم والبيهقى
Maksudnya:Apabila Allah mengehendaki dengan seseorang hamba akan kebajikan nescaya menyegerakan baginya siksaan di dunia.”
Sebab itulah seruluh Nabi dan Rasul mrnempuh berbagai - bagai ujian dan dugaan makin besar darjat kenabian dan kerasulan mereka makin besar pula ujian yang diterima dari Allah , begitu juga para pendakwah dan pejuang Islam yang mengikut jejak langkah mereka dengan baik.
Para sahabat Rasulullah diuji dengan dengan berbagai - bagai ujian. Khususnya para Muhajirin, sehingga Allah mencatit sejarah ujian mereka dalam Al - Quran, FirmanNya:
أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يأتكم مثل الذين خلوا من قبلكم مستهم البأساء والضراء وزلزلوا حتى يقول الرسول والذين ءامنوا متى نصر الله ألا إن نصر الله قريب .. البقرة 214
Maksudnya,” Adakah kamu menyangka bahawa kamu dapat memasuki syurga , padahal belum datang kepada kamu contoh mereka - mereka yang sebelum kamu, mereka ditimpa kesusahan,kemiskinan dan bala petaka dan mereka digoncang dengan ujian, sehingga berkata para sahabat yang berada bersama - sama Rasulullah , bilakah pertolongan Allah datang ? Tidaklah pertolongan Allah itu hampir".
Para sahabat Rasulullah di zaman Makki diuji dengan berbagai - bagai ujian ada diantara mereka yang dibunuh, mereka diseksa, dipukul dan sebagainya. Sebagai contoh ;Khubaib Bin Adiy ditangkap dan diseksa kemudian dijual kepada seorang ketua kafir untuk dibunuh dan disula dan sebelum dibunuh beliau disula dan dipotong-potongkan anggotanya tetapi beliau tetap mengatakan لا إ له إلا الله محمد رسول الله hinggalah beliau mati dengan iman yang kuat.
Di zaman para Tabiin dan Al- Tabii tidak kurang juga ujian yangditerima oleh pendakwah dan alim ulama ‘ sebagai contoh :
· Said bin Jubair disembelih oleh Al - Hajaj bin Yusof Al Thaqafi
· Imam Abu Hanifah ditangkap dan diseksa
· Imam Al Shafei di tangkap
· Imam Ahmad Bin Hambal di tangkap , dipukul dan diseksa

Di zaman kerajaan Tartar dan di zaman berikutnya banyak para pendakwah, alim ulama’ tangkap , dipenjara dan diseksa ,termasuklah Iman Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim.
Di zaman moden ini ramai pendakwah dan pejuang Islam yang ditangkap dan diseksa serta dibunuh. Di antara mereka ialah Imam as-Syahid Hassan alBanna, Sayyid Qutb, as-Syahid Abdul Qadir ‘Audah dan lain-lain.
Dalam hal ini, Imam Hassan al-Banna menegaskan dalam bukunya, بين الأمس واليوم ;
“ Saya suka berterus terang kepada tuan-tuan sekalian bahawa sesungguhnya dakwah kamu ini masih belum dikenali oleh kebanyakan manusia. Dan di hari mereka dikenali dan diketahui tujuan serta matlamat perjuangan , kamu akan menerima tentangan yang paling hebat, permusuhan yang keras dan kamu akan berhadapan dengan kesusahan dan rintangan yang amat banyak, Dan di masa itulah kamu barulah mulai menjalani jalan-jalan para pendakwah.
Sekarang, kamu masih belum dikenali, kamu masih dalam peringkat merintis jalan dakwah serta masih dalam peringkat membuat persediaan untuk berjuang dan berjihad.
Kejahilan rakyat adalah menjadi batu penghalang yang besar di hadapan kamu Dan kamu akan jumpa di kalangan ahli agama Islam dan ulamak rasmi yang merasa pelik cara kamu memahami Islam serta mereka akan menafikan perjuangan kamu untuk membela ugama Islam. Dan kamu akan dapati seluruh pemimpin negara, ketua masyarakat dan mereka yang mempunyai kekuasaan dalam negara AKAN dengki dan memarahi kamu.
Dan seluruh kerajaan di dunia waktu itu akan bangun menentang secara bersama dan setiap kerajaan akan menghad dan menghalang keaktifan dan aktiviti-aktiviti kamu serta meletakkan batu penghalang di jalan-jalan kamu……mereka akan meminta bantuan dan kerjasama daripada kerajaan yang lemah dan orang yang tidak berakhlak mulia UNTUK menentang kamu. Dan semua mereka itu akan menimbulkan keraguan, kesamaran, kekeliruan dan tuduhan liar terhadap dakwah kamu.
Mereka akan meletakkan segala kelemahan dan kekurangan di atas dakwah kamu serta berusaha untuk mewujudkan/menjelaskan bahawa buruknya dakwah kamu kepada masyarakat umum DENGAN menggunakan kekuatan dan kekuasaan serta harta dan pengaruh mereka.
Firman Allah,
يريدون ليطفئوا نور الله بأفواههم والله متم نوره ولوكره الكافرون - الصف : 6
Maksudnya,” Mereka bertujuan untuk memadam cahaya Ugama Allah dengan mulut mereka , pada hal Allah akan menyempurnakan cahaya ugamanya , walau dibenci oleh seluruh orang - orang kafir”
Kamu dengan itu tidak syak-ragu lagi telah memasuki ke dal;am tahap percubaan dan ujian….kamu akan dipenjara, ditangkap, dipindah kerja, diburu, dirampas hartabenda mu, dibekukan segala kerja dan aktiviti kamu, rumah dan kediaman kamu akan digeledah Dan mungkin ujian dan dugaan ini lama dan panjang masanya. Firman Allah lagi,
أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا ءامنا وهم لايفتنون - العنكبوت 2
Maksudnya, “ Adakah manusia menyangka bahawa mereka ditinggalkan oleh kerana mereka berkata “ Kami telah beriman” sedangkan mereka tidak diuji? “.
Malah Allah telah berjanji dengan kamu selepas itu bahawa ia akan memberi pertolongan kepada seluruh Mujahidin”.
JENIS-JENIS UJIAN
Ujian dalam dakwah Islamiyah amat banyak sekali,ada yang bercorak ujian rohani dan ada yang bercorak jasmani dan kebendaan.
Syed Qutb dalam kitab في ظلا ل القرآن telah menggariskan jenis - jenis ujian yang dihadapi oleh para pendakwah.
1. Penyeksaan dan perkara - perkara yang menyakitkan hati pendakwah yang datang dari pendokong - pendokong gerakan yang batil.
2. Ujian anak isteri, keluarga, dan kekasih yang mana pendakwah takutkan mereka itu diseksa dan diuji dengan sebabnya.
3. Ujian kekayaan dan habuan dunia datang melimpah kepada penyokong - penyokong kebatilan,sedangkan para pendakwah kosong dari habuan seperti itu.
4. Ujian merasakan dirinya dagang dan keseorangan dalam dakwah Islamiah sedangkan orang ramai tidak menyokong kebenaran dan dakwah Islamiah , malah mereka bermuafakat menentang dakwah Islamiah.
5. Ujian perpecahan umat dan negara Islam dan walaupun mereka berpecah dan melakukan maksiat mereka dapat hikmah dari Allah.
6. Ujian keatas nyawa.
7. Ujian tekanan hawa nafsu dan keinginan
8. Ujian tarikan hendak kekal di dunia ini.
9. Ujian berat tulang dan daging atau ujian malah bergerak untuk menjalankan dakwah Islamiah danberjuang kerana Islam.

10.Ujian rindukan kepada harta benda dunia , pangkat serta kekuasaan.
11.Ujian rindukan kepada kemewahan hidup di dunia dan tidak mahu bersusah payah.
12.Ujian susah hendak kekal di atas Istiqamah dan tetap pendirian di atas jalan Iman, kerana lambat kejayaan dapat dicapai.

CARA MENGATASI UJIAN
Pendakwah - pendakwah apabila diduga denganujian dan cabaran atau tekanan dan sebagainya hendaklah dia menghadapi dengan cara - cara berikut :
1. Sabar dan tetap pendirian dalam menghadapi cabaran dan ujian disamping mencari jalan yang diredhai Allah bagi mengatasinya.
2. Membanyakkan membaca Al - Quran dan Doa kepada Allah.
3. Mengingati bahawa umur dunia amatlah pendek dan tidak mengharap agar dunia ini sebagai syurga.
4. Mengingati bahawa sudah menjadi sunnah Allah kepada manusia dalam hidup dunia ini diuji dengan berbagai ujian.
5. Mengingati bahawa para Rasul dan Nabi lebih kuat ujian dan godaan dari kita.
6. Mengingati bahawa semua ujian atau bala yang dikenakan ke atas kita bukanlah merupakan lontaran sesat tetapi mengikut sunnah Allah qada’ dan qadar daarinya.
7. Mengingati bahawa dalam sesuatu ujian dan godaan yang terkena kepada kita memang dengan tujuan dan hikmat yang banyak dan mungkin boleh menguatkan iman dan dapat menghilangkan karat dosa.
8. Mengingati bahawa nyawa kita dan harta benda dan apa saja yang ada pada kita ini semua milik Allah yang diberi pinjam buat sementara waktu saja dan kita sekelian hamba tak lebih dari itu.
9. Mengingati bahawa setiap ujian dan bala yang menimpa kita di dunia ini akan diberi pahala yang besar sekiranya kita tahan uji dan sabar menghadapinya.
Mengingati bahawa setiap bala dan ujian di serata dunia ini walau bagaimana pun besar dan dasyat sekalipun, sekeliannya tidak dapat dibandingkan dengan siksaan Allah di akhirat Nanti.
Yang baik dari Allah yang kurang baik atas kelemahan hamba sendiri
Oleh Al-Fadhil Ustaz Muhamad Najib

Jumaat, 13 Februari 2015

SELAMAT BEREHAT MURABBIKU


بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

SELAMAT BEREHAT MURABBIKU

Published February 13, 2015 by wana93


Bismillah.
Saat ini, detik ini, saya pasti, bukan saya seorang saja yang merasa kehilangannya. Bukan saya seorang saja yang merasa pilu dan hiba atas pemergiannya. Bukan saya seorang saja yang membelek kenangan bersamanya. Tapi, selautan manusia telah menjadi saksi akan kemuliaan dirinya. Ribuan, mungkin hampir jutaan manusia telah mengiringi jenazahnya.

IMG_23339970823327


Subhanallah
Betapa ramainya jiwa manusia yang mencintainya. Betapa banyaknya mata yang menangisi pemergiannya. Betapa banyaknya tembakan doa daripada ummah untuknya.

SubhanallahTerfikirkah kita, “Bagaimana agaknya keadaan ummah semasa pemergian Nabi Muhammad s.a.w yang tercinta?”


IMG_38422522646111


“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasai mati…” (Surah Al-Ankabuut : 57)
Jika sebelum ini, kurang malah jarang sekali media massa yang popular mahu khabarkan berita tentangnya, mahu kongsikan perkembangannya, mahu berinya ruang untuk menerang dan berbicara, akan tetapi, sejak pemergiannya, media massa mula sibuk menyediakan ruang untuk merakam pemergiannya, namanya pula dinaikkan media massa semula, kemuliaannya mula disebarluaskan dan lain-lain lagi.

Alam menjadi saksi selayaknya untuk 'dia', hamba pilihan Allah yang mulia. :')

Alam menjadi saksi selayaknya untuk ‘dia’, hamba pilihan Allah yang mulia. :’)
“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” (Surah al-mukminun : 15-16)

12 Februari 2015

Tarikh itu pastinya menjadi tarikh keramat buat kita semua, lebih-lebih lagi buat pencinta ulamak, buat penggerak-penggerak jemaah Islam kerana tarikh itu merupakan tarikh pemergian seorang ulamak Nusantara yang amat disegani dan dihormati, Tuan Guru Nik Aziz Bin Nik Mat. Tarikh yang sama juga merupakan tarikh pemergian Imam Hasan Al-Banna – pengasas Ikhwanul Muslimin.
Mendapat perkhabaran pemergian TGNA, hati dan fikiran terasa lemah semacam. Saya hanya setia menanti perkembangan di atas talian online saja (melalui FB dan Whatsap, tv takde astro Awani, nak tengok live tv kelantan, internet tak laju), tak berkesempatan untuk nak ke bumi Kelantan sana. Beberapa muslimin PEDAMAI berkesempatan untuk ke sana. Mereka begitu bersemangat! Saya sangat kagum dengan semangat mereka! Semangat pemuda!





Kematian Yang Menghidupkan

Sungguh, ‘kematian’ ini adalah kematian yang menghidupkan! Suasananya seakan sama saat pemergian Ahmad Ammar di Turki sana. Bezanya, arwah Ahmad Ammar adalah seorang yang tidak dikenali semasa hayatnya, akan tetapi tersingkap peribadinya yang mulia dan kebaikannya saat selepas pemergiannya. Jenazahnya dikebumikan di negara Turki sana. Ramai manusia mengiringi jenazahnya. Arwah TGNA pula adalah seorang yang sangat dikenali dan dikagumi ramai semasa hayatnya kerana beliau merupakan ulamak dan selepas pemergiannya, banyak jiwa dan hati yang menangis! Lautan manusia hadir membanjiri Kg Pulau Melaka, Kota Bharu, Kelantan.

Subhanallah

Subhanallah

Jika diamati betul-betul, sungguh-sungguh, jika dimengerti sedalam-dalamnya, perjuangan ini panjang jalannya! Tidak terhenti dengan ‘kematian’! Para ‘alim ulamak, ustaz dan asatizah, murabbi pasti akan kembali pada-Nya, hanya Rabb yang kekal abadi. Bukan bererti, mereka telah pergi, kita pun dah hilang semangat dan terus berhenti! Tidak! Bahkan ianya menghidupkan hati-hati kita, jiwa-jiwa kita dan semangat muda-mudi kita untuk teruskan perjuangan dakwah dan tarbiah serta gerakan-gerakan Islam.
Apabila golongan-golongan tua ‘direhatkan’, maka, golongan-golongan muda mestilah lebih keras dan tekun untuk ‘bekerja’. Dunia ini tempat untuk kita berpenat, akhirat sana tempat untuk kita berehat. Jalan ini, jalan dakwah, tarbiah dan perjuangan adalah sunnah terbesar Nabi Muhammad s.a.w. Jalan ini bermatlamatkan satu iaitu mahu Islam dijulang dan didaulatkan!
Andai semasa hayat TGNA, kita tidak berapa kenal akan dirinya, tidak pernah bersua dengannya, tidak pernah membaca buku-buku tintanya, tidak pernah mendengar ceramah/kuliahnya, maka, jangan berasa hina dan kecewa! Gagahkan diri! Ubah diri! Kenali dirinya agar bertambah cinta pada golongan ulamak, bacalah buku-buku hasil tintanya, cuba dengar ceramah/kuliahnya yang ada dalam Youtube, CD dan lain-lain lagi. Nescaya, kita akan rasa ‘sesuatu’ terhadapnya. Bukan rasa benci, bukan rasa mahu menghina dan mengutuk para ulamak akan tetapi rasa kasih, sayang dan cinta pada golongan ulamak. Jika ada yang berbeza pandangan dalam isu politik, maka, itu terpulang pada individu itu sendiri. Akan tetapi, jasa beliau dalam gerabak politik, dakwah, tarbiah dan perjuangan Islam, memang tak dapat disangkal! Ramai sudah kader-kader dakwah yang lahir hasil daripada tarbiah dirinya.

Kenal Untuk Cinta

Kenal Untuk Cinta

Akhir kalam, suka untuk saya kongsikan di sini, firman Allah Ta’ala yang bermaksud :
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal soleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. ” (Surah Al-Furqan : 63-71)
Dalam satu buku tulisan arwah TGNA, “PEMISAH ANTARA IMAN DAN KUFUR” (cetakan pertama : 1996), ayat di atas ada disebut dalam satu topik iaitu ‘Sifat-sifat Hamba Allah Yang Mendapat Kemuliaan’. Buku ini merupakan buku pertama TGNA yang saya baca. Selepas itu, barulah saya seronok nak mencari dan membaca buku-buku tulisan beliau lagi. Sungguh, sifat-sifat yang mulia itu ada pada diri arwah TGNA.

Selamat berehat murabbi ummah

Selamat berehat murabbi ummah
Selamat berehat murabbi ummah, moga kita dapat bersua di akhirat sana, di hadapan Allah! Insya-Allah! Nabi Muhammad s.a.w yang kita rindui dan cintai juga telah lama pergi, namun, tetap menjadi tugas kita untuk  menyambung wasilah dakwah, tarbiah dan perjuangan Baginda s.a.w.
Moga Allah redha.
Pemuda pemudi! Bangkitlah! Tanggungjawab, tugas dan amanah kita lebih banyak daripada masa yang kita ada! 
Ismail bin Abi Uwais telah menceritakan kepada kami, berkata Malik, telah menceritakan kepadaku daripada Hisyam bin Urwah daripada ayahnya daripada Abdillah bin Amru bin al-Asr r.anhuma katanya : Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT tidak menghapus ilmu pengetahuan dengan cara mengambil sekaligus daripada hamba-hamba-Nya. Tetapi Allah SWT menghapus ilmu pengetahuan itu dengan kematian ulama sehingga tiada lagi yang ‘alim. Ketika itu, orang ramai melantik ketua-ketua mereka dari kalangan yang jahil dan apabila mereka ditanya, mereka memberi fatwa dengan sewenang-wenangnya tanpa berpandukan ilmu pengetahuan. Maka mereka sesat lagi menyesatkan.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Kalau sebelum ni, kita malas belajar! Ubahlah! Rajinkan belajar dan menuntut ilmu terutama ilmu agama! Ambil peluang untuk kenali, dekati, ziarahi, tadah kitab dan belajar dengan para ‘alim ulamak, para ustaz dan asatizah, sebelum mereka ‘dipanggil pulang’. Rajinkan diri untuk hadir ke majlis-majlis ilmu. Kalau sebelum ni, kita asyik beralasan, tak sempat nak buat kerja-kerja Islam, tak sempat nak turun ke lapangan untuk kerja-kerja dakwah dan tarbiah, maka, ubahlah! Susun masa dan gerak kerja kita! Percayalah, makin kita sibuk, makin kita pandai nak urus masa! Jangan pernah biarkan hati dan diri melekat pada duniawi! Tajdid kembali niat kita, moga benar hanya kerana-Nya!
 

Integriti Ulama Penentu Kekuatan Ummah


Salah satu perkara utama yang sering menjadi perhatian masyarakat dalam sesebuah negara Islam ialah sejauh mana dua golongan yang amat berpengaruh iaitu ulama’ dan umara’ berperanan memperkasakan ummah. Menurut hadith yang diriwayatkan daripada Abu Naim bahawa Rasulullah SAW bersabda mafhumnya:
Ada dua kelompok manusia, jika kedua-duanya baik, maka masyarakat akan jadi baik, dan jika kedua-duanya rosak, maka masyarakat akan rosak, mereka itu ialah ulama’ dan umara’’.
Secara ringkasnya dalam konteks umat Islam di rantau ini ulama’ adalah merujuk kepada mereka yang mengetahui dan memahami agama secara mendalam. Tanpa ulama’ semua orang akan menjadi jahil dan akan bertindak mengikut hawa nafsu semata-mata. Kerana itu para ulama’ merupakan anugerah besar buat umat manusia bagi membimbing mereka ke jalan yang benar.
Imam Ahmad meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda yang mafhumnya:
Bandingan para ulama’ di bumi ini samalah seperti bintang-bintang di langit yang dijadikan pedoman dalam kegelapan di laut dan di darat. Kalau bintang-bintang itu pudar maka mereka yang berpandukannya nyaris sesat ”.
Manakala umara’ pula merujuk kepada pemerintah yang memimpin sesebuah masyarakat. Tanpa pemerintah, masyarakat menjadi kacau bilau. Malah ajaran Islam dan syariah tidak akan dapat dilaksanakan. Imam al-Baihaqi meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda yang mafhumnya:
Sesungguhnya penguasa atau pemerintah yang adil itu adalah bayangan Allah di bumi yang menjadi tempat berlindung bagi setiap orang yang dizalimi”.
Menjelaskan betapa berat peranan sebagai umara’ ini, Khalifah Umar ibnu al-Khattab pernah memberi nasihat dan peringatan kepada Abu Musa al-Asy’ari, Gabenor Mesir ketika itu bahawa:
Penguasa yang paling berbahagia ialah mereka yang rakyatnya merasa bahagia hidup di bawah pemerintahannya. Sementara penguasa yang paling celaka pula ialah mereka yang rakyatnya merasa celaka hidup dibawah pemerintahannya. Ingat jangan hidup bermewahan kerana para pegawai kamu akan meniru kamu. Bandingkan diri kamu sama seperti binatang ternakan. Apabila binatang itu dibawa ke padang rumput yang menghijau ia akan makan banyak sehingga menjadi gemuk. Kegemukannya itu akan menjadi sebab kepada kebinasaannya kerana ia akan disembelih untuk dimakan”.

Imam al-Ghazali ketika mengulas peranan ulama’ dan umara’ pada zamannya pula menyatakan bahawa:
Adalah menjadi kebiasaan bagi ulama’ untuk melakukan kerja amar makruf dan nahi munkar tanpa mengira sangat tentang kekejaman pemerintah. Mereka percaya bahawa Allah akan menjaga mereka. Mereka rela menjadi syahid kalau ditakdirkan begitu oleh Allah. Oleh kerana mereka itu ikhlas, bersikap jujur dan menyumbangkan tenaga semata-mata untuk menegakkan ilmu, maka orang ramai mudah menerima nasihatnya. Tetapi sekarang lidah para ulama’ telah menjadi kelu kerana diikat oleh kepentingan. Kalaupun mereka bercakap, tidak akan berjaya kerana pembawaan hidup mereka sendiri berbeza dengan apa yang dicakapkan. Sesungguhnya rakyat rosak kerana pemerintah dan pemerintah rosak kerana ulama’. Sementara ulama’ pula rosak kerana tamak harta dan pangkat”.

Berdasarkan hadith-hadith dan pandangan tokoh-tokoh ulama’ tersebut ternyata terdapat kebimbangan bahawa kelemahan integriti atau kekurangan sifat amanah, kejujuran, keikhlasan dan jatidiri di kalangan ulama’-umara’ itu akan menjejaskan kekuatan ummah. Oleh kerana itu berdasarkan pemerhatian mimbar isu-isu integriti inilah yang menimbulkan ketegangan hubungan di antara ulama’ dengan umara’ dan ulama’-sesama ulama’. Persoalan besar timbul ialah apakah kaedah untuk mengukuhkan dan mempertingkatkan integriti ulama’ dan umara’.
Firman Allah SWT dalam surah an- Nisaa’ ayat 59 maksudnya:
Wahai orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul dan kepada Ulil-Amri dari kalangan kamu. Kemudian jika kamu berselisih dalam sesuatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya jika benar kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu), dan lebih elok pula kesudahannya.”
Berdasarkan ayat ini jelas Allah mencabar dan memberi peringatan jika kita beriman, maka rujuklah dan berpeganglah dengan al-Quran dan sunnah untuk mencari jalan penyelesaian dalam isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan Islam dan ummah.
Islam adalah agama yang mewujudkan sistem cara hidup menyeluruh kepada manusia dari segi akidah, syariah, akhlak, politik, ekonomi, dan sosial yang berkait rapat satu sama lain. Sistem cara hidup ini mempengaruhi pembangunan duniawi dan ukhrawi manusia. Dengan demikian kerjasama dan hubungan harmoni ulama’ dan umara’ akan membantu memperkasakan ummah dan menentukan negara berada di landasan yang selari dengan Siasah Shar’iyah. Memang disedari bahawa bidang kuasa ulama’ di negara ini adalah terbatas berbanding bidang kuasa umara’ yang luas. Oleh itu, walaupun tinggi integriti ulama’, dan hebat kewara’kan ulama’ tetapi keputusan terakhir merancang dan melaksanakan pembangunan umat dan negara terletak di bawah bidang kuasa umara’.
Selari dengan tanggungjawab ulama’, maka menjadi tanggungjawab bersama mengingatkan bahawa ulama’ tidak boleh berdiam diri dalam memperjuangkan hak-hak kepentingan Islam dan menyelesaikan masalah ummah. Suara ulama’ sentiasa ditunggu dan diperhatikan oleh masyarakat Islam yang cintakan agamanya.
Firman Allah SWT dalam surah Faathir ayat 28 maksudnya:
Sebenarnya yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-Nya hanyalah ulama’ (orang yang berilmu).”
Mimbar amat yakin langkah umara’ atau pemerintah menjemput ulama’ dalam membincangkan isu-isu negara dari masa ke masa adalah selari dengan tuntutan Islam.
Adalah diseru ulama’-umara’ yang berada di kampung-kampung dan di bandar-bandar serta sidang jemaah sekalian dalam usaha memperkasakan ummah, marilah kita mewujudkan dan mengekalkan integriti berdasarkan syor seperti berikut:
  1. Bercakap benar dan mengakui kesilapan,
  2. Mengamalkan apa yang dicakapkan,
  3. Menunaikan janji dan komitmen yang dibuat,
  4. Bersedia menanggung risiko dalam usaha mempertahankan pendapat; dan
  5. Tidak mengambil kesempatan untuk kepentingan diri.
Maksudnya: “Sesiapa yang berkehendakkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi usaha mereka di dunia, dan mereka tidak dikurangkan daripadanya. Mereka tidak beroleh di akhirat kelak selain daripada neraka, dan gugurlah apa yang mereka lakukan di dunia, dan batallah apa yang mereka telah kerjakan)”. (Sural Huud: 15-16)

Khamis, 12 Februari 2015

KEZALIMAN ,MENYOKONG,DAN BENCANA


بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102

 
OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Bencana karena kezaliman
Dalam Al-Quran surat Al- Anfaal ayat 25, Allah SWT berfirman, :
"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya."
Mengomentari ayat ini, Ibnu 'Abbas berkata, "Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin agar tidak mendiamkan saja kemungkaran terjadi di sekitar mereka sehingga azab tidak menimpa secara merata kepada mereka. Di dalam Shahih Muslim dari Zainab binti Jahsy bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah kami.?" Beliau menjawab, "Ya, bila keburukan telah demikian banyak."
Ayat tersebut menyiratkan bahwa siksaan atau azab yang ditimpakan Allah sebagai balasan atas kezaliman yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok kecil orang tidak saja menimpa si pelaku kezaliman tetapi bisa juga menimpa orang-orang lain yang tidak bersalah atau tidak terlibat dalam kezaliman tersebut.
Orang-orang yang tidak bersalah sering harus turut menanggung penderitaan yang timbul sebagai azab atas kezaliman yang dilakukan orang lain.
Korupsi dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan adalah bentuk kezaliman lain yang berakibat serupa. Para pelakunya mendapatkan "kenikmatan" dan "kemakmuran" di atas penderitaan masyarakat banyak.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ummu Salamah, dia berkata :
"Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Bila perbuatan- perbuatan maksiat di tengah umatku telah nyata, maka Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka secara merata." Ia berkata, "Lalu aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, bukankah di tengah mereka itu ada orang-orang yang shalih.?' Beliau menjawab, "Benar."
Ia berkata lagi, "Bagaimana jadinya mereka.?" Beliau bersabda, "Apa yang menimpa orang-orang menimpa mereka juga, kemudian nasib akhir mereka mendapatkan ampunan dan keridlaan dari Allah."
Fitnah, kerusakan, atau azab yang terjadi akibat perbuatan maksiat itu tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi juga orang lain yang tidak terlibat langsung. Realitas ini digambarkan Rasulullah Saw. dengan sabdanya :
"Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, 'Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.' Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa. Jika mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan semuanya"
(H.R Al-Bukhari)
Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu, ia berkata :
"Rasulullah Saw. bersabda, 'Tidak halal darah seorang Muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal, yaitu orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa (orang lain) tanpa alasan syar'i, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama'ah (kaum Muslimin)'."
(H.R al-Bukhari dan Muslim)
Bahkan Beliau menegaskan bahwa dosa membunuh seorang Mukmin lebih besar daripada hancurnya dunia.
Allah SWT tidak akan membinasakan kota-kota kecuali jika penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman
Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa Indonesia, khususnya sebagian daerah di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa manusia kepada Sang Pencipta. Dalam Quran Surat Al Qhashash ayat ke-59 Allah mengatakan bahwa, "dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman".
Kalimat terakhirlah yang menjadi indikasi dari semua bencana yang yang ada. Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini.
Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Kerusakan lingkungan hidup terjadi karena adanya tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung sifat fisik dan/atau hayati sehingga lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan yang membuat kerusakan lingkungan hidup di darat, air maupun di udara.
Nilai-nilai moral yang dulunya diagungkan-agungkan masyarakat kian tergerus seiring makin terbukanya katup globalisasi membuat budaya masyarakat kita kian tergantikan dengan budaya barat yang modern. Lihatlah sekeliling kita, betapa nilai-nilai adab, etika dan akhlak yang kian terpuruk semakin jelas. Budaya malu dan kesopanan terasa kian menghilang.
Sebagai langkah awal agar pelaku kezaliman yang merusak alam dan pelaksana kemaksiatan bersegera untuk meninggalkan semua perbuatannya yaitu dengan peringatan dan pelajaran akan kengerian dan sakitnya menghadapi kematian. "Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke tenggorokan, dan dikatakan (kepadanya): 'Siapakah yang dapat menyembuhkan?', dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmu-lah pada hari itu kamu dihalau." (Q.S Al-Qiyamah : 26-30).
Namun langkah di atas tidak akan berjalan dengan baik dan menjadi mata rantai sebuah solusi tanpa adanya pemerintahan yang bersih, peduli, amanah dan serius dalam menjalankan roda pemerintahan yang semestinya. Hal lain yang juga perlu di perhatikan adalah dengan menyerahkan urusan kepada ahlinya, bukan lagi asal tunjuk, asal-asalan dengan dasar kepentingan golongan atau sekelompok orang tertentu.
Selama kemaksiatan dan kemungkaran merajalela tanpa ada sedikitpun usaha untuk menghentikannya, yakinlah bencana itu akan datang silih berganti.
Karena itu marilah kita berbenah, memulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan tempat kita berada untuk istiqamah dalam mengamalkan dan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah SWT melindungi kita semua,
MENYOKONG KEZALIMAN

Maksudnya : Sesungguhnya selepasku ini akan adanya pera pemimpin yang melakukan kezaliman dan pembohongan. Sesiapa yang membenarkan pembohongan mereka dan menolongan kezaliman mereka maka dia bukan dariku dan aku bukan darinya dan dia tidak akan mendatangi telaga (di syurga) dan sesiapa yang tidak membenar pembohongan mereka dan tidak menolong kezaliman mereka, maka dia dari kalanganku dan akan dari kalangannya dan dia akan mendatangkan telaga di syurga. (Kata al-Haitami: Hadith ini diriwayatkan oleh oleh Ahmad, al-Bazzar dan al-Tabarani di dalam al-Kabir dan al-Ausod . Para perawi salah satu sanad al-Bazzar dan Ahmad adalah para perawi Sahih al-Bukhari)
KETERANGAN
Dengan wahyu Allah, Allah telah mengkhabarkan kepada NabiNya tentang keadaan-keadaan yang bakal berlaku selepas ketiadaan baginda. Antaranya, akan wujudnya para pemimpin yang zalim dan penipu. Sesiapa yang menyokong mereka maka Nabi s.a.w. tidak mengakuinya sebagai pengikut baginda dan tidak akan membenarkan mereka meminum air telaga di syurga, dalam kata lain tidak memasuki syurga melainkan diazab di atas jenayah sokongan mereka kepada para pemimpin jenis tersebut. Sesiapa yang tidak menyokong dan menolong para pemimpin yang zalim dan pembohong maka dia adalah pengikut Nabi dan akan memasuki syurga.
Mukmin yang sebenar akan bimbang dan merasa takut dengan amaran ini. Tidak mengapa seseorang dipecat dari menjadi ahli sesuatu pertubuhan, tetapi yang yang sangat bahaya dan menakutkan apabila kita dipecat dari menjadi pengikut Nabi s.a.w. Di manakah golongan ini akan berhimpun di akhirat jika Nabi s.a.w. tidak menerima mereka sebagai pengikutnya? Sesungguhnya asas utama kezaliman pemerintahan yang wujud sekarang adalah kerana tidak melaksanakan syariat Allah. Firman dalam Surah al-Maidah ayat 45:
Maksudnya : Sesiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang yang zalim.
Dengan kezaliman yang asas ini para pewaris Fir`aun menambahkan lagi kezaliman demi kezaliman. Membolot harta rakyat dan menzalimi setiap yang bangun menasihatinya.
Larangan Menyokong Puak Yang Mungkar
Firman Allah dalam Surah al-`An`am, ayat 68 :
Maksudnya : Dan apabila engkau melihat orang-orang yang memperkatakan dengan cara mencaci atau mengejek-ejek ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka memperkatakan soal yang lain; dan jika engkau dilupakan oleh Syaitan (lalu engkau duduk bersama mereka), maka janganlah engkau duduk lagi bersama-sama kaum yang zalim itu, sesudah engkau mengingati (akan larangan itu).
Kata al-Qadi Abu Bakr Ibn al-`Arabi: “Ayat ini adalah dalil bahawa tidak dihalalkan duduk bersama ahli mungkar”( Ahkam al-Quran, jld. 2, m.s. 260, cetakan Dar al-Fikr)
Duduk bersama golongan munkar tidak dibenarkan apatah lagi menyokong, membantu dan menolongnya.
Firman Allah dalam Surah an-Nisa` ayat 140: Maksudnya:Dan sesungguhnya Allah telahpun menurunkan kepada kamu (perintahNya) di dalam Kitab (Al-Quran), iaitu: apabila kamu mendengar ayat-ayat keterangan Allah diingkari dan diejek-ejek (oleh kaum kafir dan munafik), maka janganlah kamu duduk (bergaul) dengan mereka sehingga mereka masuk kepada memperkatakan soal yang lain; kerana sesungguhnya (jika kamu melakukan yang demikian), tentulah kamu sama seperti mereka.
Kata al-Imam al-Qurtubi dalam menafsirkan ayat ini: “Ayat ini menjadi dalil wajibnya menjauhi ahli maksiat apabila jelas kemungkaran mereka. Ini kerana sesiapa yang tidak menjauhi mereka bererti redha dengan perbuatan mereka.”
Katanya lagi: “Firman Allah إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ (kalau demikian, kamu sama seperti mereka) sesiapa yang duduk dalam majlis maksiat (menderhakai Allah) dan tidak membantahi mereka maka dia menanggung dosa yang sama seperti mereka. Maka hendaklah dia membantah mereka sekiranya mereka bercakap dan melakukan maksiat. Sekiranya dia tidak mampu untuk membantahi mereka maka hendaklah dia meninggalkan mereka supaya tidak termasuk dalam golongan yang disebut dalam ayat ini (Tafsir Ayat al-Ahkam, jld. 5, 418, Dar al-Fikr, Beirut)
Sesiapa yang terus menyokong golongan atau pemimpin yang melakukan kejahatan dan kezaliman serta mempermainkan ayat-ayat Allah, maka sesungguh dia sama-sama menanggung dosa dengan pemimpin tersebut. Mungkin dia berkata, saya tidak menzalimi orang lain, atau mempersendakan agama tetapi sekadar menjadi ahli biasa parti sahaja, sedangkan pemimpinnya zalim dan jahat maka dia turut menanggung dosa.
Firman Allah dalam Surah al-Ahzab ayat 66-67- Maksudnya : Pada masa muka mereka dibalik-balikkan dalam neraka, mereka berkata (dengan sesalnya): “Alangkah baiknya kalau kami dahulu (semasa di dunia) taat kepada Allah serta taat kepada Rasul. Dan mereka berkata lagi: “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mematuhi kehendak ketua-ketua dan orang-orang besar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.
Demikianlah halnya ahli neraka yang dahulu menjadi pengikut setia para pemimpin yang melanggari ajaran Allah dan RasulNya. Mereka yang taat dan terus setia sehingga akhirnya mereka dihumbankan ke dalam neraka.
Firman Allah dalam Surah Hud ayat 113:
Maksudnya:Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang berlaku zalim maka (kalau kamu berlaku demikian), api neraka akan membakar kamu, sedang kamu tidak ada sebarang penolong pun yang lain dari Allah. Kemudian (dengan sebab kecenderungan kamu itu) kamu tidak akan mendapat pertolongan.


 
Peringatan 

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُونَ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik". [Ali Imron :110]
Demikian pula, Allah membedakan kaum mukminin dari kaum munafikin dengan hal ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلاَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمُُ
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".[At-Taubah:71]
Lihat dan perhatiakan 11 Tip Untuk Pemimpin Zalim Supaya Terus Memerintah.
Pertama - Menutup mulut golongan agama dengan memberi kuasa dan pangkat dengan itu mereka akan menjadi Syaitan Bisu dan membiarkan kezaliman pemimpin supaya masyarakat berfikir seolah-olah Islam membenarkan pemimpin berlaku zalim dan rakyat seolah wajib taat pada kezaliman tersebut.
Kedua - Menutup mulut golongan agama yang menerangkan hukum Islam dan yang menentang kemaksiatan dan kezaliman kepimpinan pemimpin dengan memasukkan mereka ke pusat tahanan tanpa bicara dan tanpa memberitahu kesalahan mereka dan menuduh mereka golongan komunis.Maka rakyat akan berfikir bahawa golongan agama tersebut kononnya golongan komunis dan masyarakat akan menyokong kezaliman pemimpin.
Ketiga - Menguasai sistem pendidikan untuk memansuhkan pelajaran tulisan jawi untuk memastikan masyarakat semakin jahil. Menghalang mana-mana sekolah khususnya sekolah agama dari memahami Islam secara menyeluruh kerana pelajar tersebut akan menjadi da'ie dan jundullah yang bakal mengungat kuasa pemimpin zalim. Ia akan membuatkan masyarakat bertambah jahil dari membaca dan memahami al quran dan memahami al Quran dan as Sunnah. Maka kejahilan masyarakat akan menguntungkan pemimpin yang zalim untuk terus berkuasa.
gambar hiasan
Keempat - Turut mewajibkan kelas tarian kepada semua sekolah termasuklah sekolah agama dengan menjadikan artis-artis yang rosak akhlak sebagai idola , maka pelajar akan sentiasa leka dengan hiburan dan belajar sekadar untuk lulus dann bukannya menjadi individu Muslim dan Mukmin. Kelembapan minda pelajar-pelajar berkaitan agama akan mengurangkan jumlah da'ie dan jundullah yang bakal menentang kezaliman pemimpin pada masa akan datang.
Kelima - Menambah dana untuk hiburan seperti di televisyen dan kelab malam. Hiburan melalaikan tersebut akan melalaikan masyarakat untuk mereka sentiasa "bersyukur" atas keamanan dalam melakukan maksiat. Masyarakat akan "istiqomah" dalam berhibur dan tidak mempedulikan sistem politik dan kepimpinan negara maka masyarakat yang "bersyukur" dan "istiqomah" tersebut akan terus menyokong kezaliman pemimpin.
Keenam - Perbanyakkan program-program bantuan namun berjenamakan parti politik dengan menggunakan dana kerajaan maka dengan itu masyarakat yang sentiasa "bersyukur" dan "istiqomah" tersebut akan terhutang budi dengan parti politik pemimpin yang zalim dan berfikiran seolah-olah dana tersebut hak milik parti politik tersebut dan bukannya milik seluruh rakyat. Maka minda masyarakat akan berfikir jika parti politik lain yang memerintah maka tiada dana kerana kesemua dana adalah milik parti politik pemimpin yang zalim maka dengan itu masyarakat akan terus menyokong parti politik pemimpin yang zalim demi memastikan mempunyai dana bantuan.
gambar hiasan
Ketujuh - Permainkan isu agama dan perkauman. Masyarakat akan bertelagah dan lupa kezaliman pemimpin dan mereka akan menyajak perpaduan atas tiket sesama bangsa untuk mengekal kuasa pemimpin yang zalim walaupun hakikatnya perpaduan tersebut adalah untuk kepentingan kroni. Maka masyarakat akan lupa perpaduan wajib atas dasar Islam dan terus bersatu demi kroni serta sanggup di zalimi yang kononnya untuk kebahagian anak cucu.
Kelapan - Menghalang atau menyekat mana-mana blogger yang membongkar kezaliman pemimpin dan membiarkan blogger-blogger lucah terus berleluasa untuk memastikan masyarakat "fokus" mencari kepuasan seks dan terlupa untuk mencari kesahihan informasi di internet. Apabila masyarakat dahagakan seks dan tidak mempunyai informasi yang jelas maka setiap informasi yang membodek kerajaan yang zalim akan didengar dan terus telan.
Kesembilan - Sekat suara mahasiswa dan ilmuan di universiti dengan mengatakan seandai mereka mengambil tahu hal elwal politik maka pembelajaran dan pengajaran mereka di universiti akan terjejas. Menaikkan pangkat mana-mana ilmuan di universiti dengan syarat mereka perlu "PEKAK" terhadap isu samasa. Dan juga memastikan mahasiswa yang "PEKAK" terhadap isu semasa dan yang sentiasa "bersyukur" dinaikkan menjadi pemimpin mahasiswa dengan itu mahasiswa yang peka terhadap isu semasa akan dikongkong dari menentang kezaliman pemimpin.
Kesepuluh - Ketika pemimpin dan kroni mengaut harta rakyat dengan menaikkan harga barang atau minyak atau apa saja dan ketika masalah kepimpinan sedang berlaku (seperti tanah negara terjual ke negara lain) sila buat provokasi fitnah seks dan berbagai jenis fitnah ke atas musuh parti politik serta memperbanyakkan hiburan secara maksimum secara tiba-tiba untuk memastikan masyarakat lupa bahawa hartanya dan harta negara sedang dikikis.
Kesebelas - Buat satu trademark seperti 1 Israel di mana dengan menyamatarakan cara kehidupan setiap masyarakat tidak kira agama dengan menyebabkan cara kehidupan masyarakat Islam tidak mengikut kaedah Islam tetapi mengikut kaedah campur agama atas tiket keperbagaian agama dan bangsa. Maka akan wujud sebilangan golongan yang menyokong kemaksiatan pemimpinan seperti menyokong penambahan kelab malam atas tiketkeperbagaian agama dan bangsa walaupun hakikatnya masyarakat Islam menjadi mangsa hiburan melalaikan.
Untuk melaksanakan 11 tip ini memerlukan dana kewangan yang banyak dan masa cukup lama namun saya amat yakin pemimpin yang zalim mampu melaksanakan 11 tip tersebut untuk terus berkuasa dalam kezaliman.
Dan untuk memastikan 11 tip ini terlaksana mungkin pemimpin yang zalim boleh memastikan Syaitan Bisu untuk "istiqomah" berdoa keterusan kekuasaan pemimpin tersebut.
Oleh yang demikian kewajiban menegakkan amar ma'ruf nahi munkar tidak hanya berlaku bagi orang lain saja. Penegakkan ini juga harus berjalan beriringan dengan penegakkan amar ma'ruf nahi munkar bagi diri sendiri/pribadi. Dengan demikian, maka tidak akan terjadi ketimpangan, dimana seseorang mampu menegakkan perintah tersebut bagi orang lain, sementara dirinya tidak terjamah dengan perintah tersebut.
Nabi menggambarkan kondisi orang tersebut sebagai seorang yang yang dilemparkan ke Neraka, kemudian di dalamnya ia berputar-putar di sekitar penduduk neraka seperti keledai memutari mesin giling tepung:
عَنْ اُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ بْنِ حَارِثَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ يُجَاءُ بِرَجُلٍ فَيُطْرَحُ فِى النَّارِ فَيَطْحَنُ فِيْهَا كَطَحْنِ اْلحِمَارِ بِرَحَاهُ فَيَطِيْفُ بِهِ اَهْلُ النَّارِ فَيَقُوْلُوْنَ أَيْ فُلَانٌ اَلَسْتَ كُنْتَ تَأْمُرُ بِاْلمَعْرُوْفِ وَتَنْهَي عَنِ اْلمُنْكَرِ فَيَقُوْلُ اِنِّى آمِرٌ بِاْلمَعْرُوْفِ وَلَا أَفْعَلُهُ وَاَنْهَى عَنِ اْلمُنْكَرِ وَأَفْعَلُهُ
"Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Suatu saat nanti ada seorang laki-laki yang didatangkan dan kemudian dilemparkan ke dalam api neraka. Di dalamnya ia berputar-putar seperti keledai yang berputar-putar mengelilingi mesin giling tepung, maka berkumpullah penghuni neraka mengelilingi dan bertanya: "Hai Fulan!, Bukankah engkau adalah yang dulu memerintah untuk berbuat ma'ruf dan mencegah dari kemunkaran? Ia menjawab, "Ya, dulunya aku adalah yang menyuruh berbuat ma'ruf tapi aku sendiri tidak melakukannya. Aku mencegah kemunkaran, namun aku sendiri melakukannya". (HR. Bukhari)
Orang yang digambarkan dalam hadis di atas ibarat lilin. Ia mampu menerangi di sekitarnya, akan tetapi ia sendiri habis termakan api. Allah mencerca dan mempertanyakan kepribadian orang tersebut sebagai orang yang tidak berfikir.
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti (berfikir)? (QS. Al-Baqarah: 44).
Meski demikian, bukan berarti bahwa untuk amar ma'ruf nahi munkar harus menunggu pribadi seseorang menjadi baik. Al-Asqalani menyatakan bahwa sebagian ulama berpendapat, wajib hukumnya melakukan amar ma'ruf nahi munkar bagi seseorang yang ada telah memiliki kemampuan untuk itu dan tidak ada kekhawatiran bahaya pada dirinya sekalipun di tidak melakukannya. Karena secara umum, orang melakukan amar ma'ruf diberi pahala apalagi kalau dia merupakan seorang yang patuh menjalankan agama.
Lebih lanjut al-Asqalani menyatakan bahwa menegakkan amar ma'ruf nahi munkar dilakukan pada saat seseorang telah menegakkannya pada dirinya adalah merupakan konsep ideal (afdhal).
Semoga kita mendapat hidayahnya Amin.....
Wallahu A'lam