AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Sabtu, 24 November 2012

“HISTORICAL EVENTS OF MAKKAH” KHUTBAH HAJI WADA’ RASULULLAH (SAW)

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102


                                     OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

“HISTORICAL EVENTS OF MAKKAH”


KHUTBAH HAJI WADA’ RASULULLAH (SAW)
Nabi Muhammad (SAW) mendakwahkan Islam selama dua puluh tiga tahun dibawah keadaan yang amat sangat susah. Tibalah saatnya Allah (SWT) berkehendak untuk menganugerahkan buah atas ketulusan usaha dakwah yang telah beliau lakukan. Rasulullah (SAW) melaksanakan ibadah haji yang terakhir pada tahun ke 10 Hijriyah dengan diikuti oleh 124,000 (seratus dua puluh empat ribu) Mukmin. Beliau (SAW) menyampaikan khutbah bersejarah di padang Arafah pada hari ke-9 bulan Dzulhijah, sambil berdiri di Jabal Rahmah, menjelang waktu shalat Dzuhur. Bilal (RA) dan Rabiah bin Khalaf mengulangi kalimat-kalimat Rasulullah (SAW) untuk para jamaah yang berada jauh dari tempat berdiri Rasulullah (SAW).
Beliau (SAW) berwasiat, "Perhatikanlah dengan seksama yang aku sampaikan kepadamu, sebab mungkin saja hari ini adalah kali terakhir pertemuanku dengan kalian semua di tempat ini. Jika kalian semua takut kepada Allah (SWT) dan mentaati Allah (SWT), Dia akan memelihara keselamatan hidupmu, harta-bendamu, dan kehormatanmu sampai tiba saatnya Dia memanggilmu kembali kepada-Nya."
Sampai disini, Nabi (SAW) bertanya kepada para jamaah, “Sudahkah aku tunaikan tugasku sebagai pembawa risalah kepada kalian? Wahai Allah, sudahkah aku tunaikan tugas yang telah Engkau amanatkan kepadaku?” Semua yang hadir serentak menjawab, “Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menunaikan tugas risalahmu kepada kami.”
Rasulullah (SAW) melanjutkan, "Lakukan apa yang aku wasiatkan kepada kalian. Aku minta kalian mengembalikan harta orang-orang yang dititipkan kepadamu dalam bentuk aslinya dan janganlah kalian secara sengaja mengkhianati amanat yang diserahkan kepada kalian. Janganlah kalian memberlakukan riba. Islam mengharamkan pungutan riba (bunga) yang dikenakan atas beda waktu pembayaran. Namun tidak mengapa bagi kalian untuk menerima pengembalian nilai pokoknya.
Hanyalah riba yang diharamkan oleh Allah (SWT). Maka dari itu, aku tegaskan disini bahwa riba yang seharusnya diterima oleh pamanku Abbas (RA) ditiadakan dan menjadi kosong nilainya.”
“Camkanlah! Bahwa jika seseorang membunuh orang lain, maka si pembunuh haruslah diganjar hukuman mati. Namun, bila pembunuhan itu terjadi tanpa kesengajaan (berniat untuk) membunuh maka si pembunuh wajib membayar denda sejumlah seratus ekor onta.

Beliau (SAW) melanjutkan, "Setan menjadi sangat berang mengetahui bahwa tak seorangpun yang tersisa lagi di tanah kalian, yang bersedia mendengar bisikannya, apalagi bersedia mengikuti ajakannya. Namun janganlah kalian lupa, setan akan selalu membuntuti kalian sepanjang waktu. Setan akan selalu berusaha membelokkan jalanmu menuju arah yang melalaikan. Setan tahu persis bahwa dirinya tak dapat mengacaukan urusan-urusan agama kalian. Sungguhpun demikian, setan akan berusaha mengacaukan kalian melalui urusan kalian di bidang lain, dalam wujud bid’ah (hal-hal baru). Maka kalian sendirilah yang harus selalu waspada untuk melindungi diri kalian sendiri dari setan. Bahkan kalian harus tetap waspada dalam urusan sekecil apapun, agar setan tak berpeluang melibatkan dirinya didalam urusanmu yang sepele, dalam rangka menghancurkan pijakan kalian dalam beragama."
"Dengarlah, jangan berusaha memasukkan bulan biasa kedalam bulan suci. Hal itu tergolong bid’ah. Bulan-bulan Islam adalah sebagaimana yang telah Allah (SWT) sebutkan didalam Al-Quran. Ada dua-belas bulan didalam satu tahun, empat diantaranya adalah bulan-bulan suci, yakni bulan Rajab, Dzulqa’idah, Dzulhijah dan Muharram."
"Sekarang, aku hendak menasehati kamu semua perihal perempuan (istri-istri)-mu. Mereka mempunyai hak atas diri kalian dan kalian pun memiliki hak atas mereka. Menjadi tugas kalianlah untuk melindungi kehormatan kalian dan tidak mengijinkan masuk ke dalam rumahmu orang-orang yang tak kamu sukai. Bilamana istri-istrimu tidak seksama dalam memenuhi kewajiban mereka terhadapmu, diperbolehkan bagimu memukulnya secara perlahan, bukan pukulan keras yang menyakitinya. Dan bila mereka telah memenuhi kewajibannya terhadap kalian secara patut, kalian wajib mencukupi mereka dengan makanan yang baik dan pakaian yang pantas. Aku nasehatkan kepada kalian, berlakulah lemah-lembut terhadap istri-istri kalian dan berbaik-hatilah serta penuh kasih-sayang terhadap mereka. Mereka adalah amanat Allah (SWT) kepada dirimu dan kamu diijinkan menikahi mereka sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah (SWT). Sekali lagi aku tegaskan, berhati-hatilah terhadap Allah (SWT) dan berlaku lembutlah terhadap istri-istri kalian. "
Sampai disini, Nabi (SAW) bertanya,” Sudahkah aku tunaikan tugasku sebagai pembawa risalah kepada kalian? Wahai Allah, sudahkah aku tunaikan tugas yang telah Engkau amanatkan kepadaku?” Semua yang hadir pun serentak menjawab, “Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menunaikan tugas risalahmu kepada kami.”
Beliau pun melanjutkan, "Simaklah baik-baik. Setiap Mukmin bersaudara sutu dengan yang lain didalam Islam. Berlakulah saling menghormati dan melindungi harta sesama kalian. Seorang mukmin diharamkan mengambil harta yang lain tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada pemiliknya. Perhatikanlah, janganlah kalian saling bunuh-membunuh sepeninggalku. Berpegang-teguhlah kalian semua pada tali Ukhuwah Islamiyah. Aku harus meninggalkan dunia ini, dan aku tinggalkan kepada kalian Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku sebagai pedoman bagi kalian. Dengan berpegang pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat.
"Dengarlah, Tuhan kalian adalah satu dan leluhur kalian pun satu. Kalian semua adalah anak-cucu Adam (AS). Sedangkan Adam (AS) telah diciptakan-Nya dari tanah. Maka, kalian semua pun juga sama-sama berasal dari tanah, maka tak seorang pun dari kalian lebih unggul/utama dari pada yang lain. Sesungguhnya, yang lebih utama diantara kalian dalam pandangan Allah (SWT) adalah yang paling taqwa kepada-Nya. Dengan demikian tak seorang Arab pun yang boleh mengaku bahwa dirinya lebih utama daripada yang bukan orang Arab. Keutamaan seseorang diukur dari ketaatannya dan besarnya rasa takutnya kepada Tuhan."
Sampai disini Rasulullah (SAW) kembali mengulang pertanyaan yang sama, apakah beliau telah menyampaikan risalah kepada mereka, dan para jamaah pun serempak memberikan jawaban yang sama pula, bahwa beliau (SAW) telah menyampaikan semuanya kepada mereka.
Selanjutnya, Nabi (SAW) menambahkan, "Aku minta kepada kalian yang hari ini menyimak pesan-pesanku agar menyampaikan pesan-pesan ini kepada mereka yang pada hari ini tidak hadir disini, dengan demikian maka pesan-pesanku ini akan sampai kepada seluruh Ummat Muslim.” “Wahai saudara-saudaraku dalam Islam yang kucintai, Allah (SWT) telah menetapkan bagian warisan yang berhak diterima oleh setiap ahli waris. Maka, janganlah kalian membuat wasiat untuk bagian orang lain yang lebih besar dari bagian yang diterima oleh para ahli waris, yang mana Allah (SWT) telah menetapkan besarannya. Jika kamu ingin mewasiatkan harta kepada seorang asing, yang bisa saja tak memiliki hubungan kekerabatan dengan mu, janganlah bagian untuknya melebihi dari sepertiga dari nilai harta (warisan)-mu."
Rasulullah (SAW) menutup khutbah beliau dengan Assalaamu’alaikum (semoga Allah (SWT) melimpahkan keselamatan, kedamaian, kesejahteraan atas diri kamu sekalian). Sesudah Rasulullah (SAW) menutup khutbah beliau, Allah (SWT) pun menurunkan wahyu-Nya. Wahyu itu adalah ayat ke-3 dari Surah Al-Ma'idah,

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Ibnu Umar (RA) meriwayatkan bahwa, manakala Umar bin Khattab (RA) mendengarkan ayat ini, ia langsung bercucuran air-mata. Hadirin yang lainpun bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis? Umar (RA) menjawab, "Setelah puncak dilalui, niscaya lembah akan didapati." (Bukhari)
Kaum Yahudi berkata kepada Umar (RA) , "Andaikan Al-Ma'idah ayat-3 telah diturunkan kepada Yahudi, niscaya pada hari itu Yahudi pasti telah merayakan sebuah Hari Raya." Maka, berkata Umar (RA) kepada mereka,"Aku mengetahui bahwa ayat itu diwahyukan kepada Muhammad (SAW) pada hari Arafah di Padang Arafah, yang juga bertepatan dengan hari Jum’at.

Dengan demikian, pada hari itu Ummat Muslim telah merayakan dua Hari Raya.(Bukhari dan Muslim)


 

HISTORICAL EVENTS OF MAKKAH'PENAKLUKAN MAKKAH

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102


                                     OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI



“HISTORICAL EVENTS OF MAKKAH”


PENAKLUKAN MAKKAH 

(Tahun 8 Hijriyah)
Ditaklukannya kota Makkah merupakan kemenangan yang paling bernilai penting bagi Ummat Muslim, sebab dengan tercapainya kemenangan ini berhala-berhala dan mereka yang menyembah berhala telah dikeluarkan dari Baitullah (Ka’bah) dan sekaligus telah tegaknya agama Allah. Penghargaan dan kehormatan baru telah dianugerahkan kepada Rasulullah (SAW) beserta para pengikut beliau.
Kekalahan telak kaum kafir Quraisy yang kaya dan sombong memberikan bukti bahwa Islam adalah agama yang benar. Maka banyaklah suku-suku Arab yang lain pun dengan sukacita dan sukarela memeluk Islam.

KELICIKAN KAUM KAFIR
Selanjutnya saya akan kemukakan secara ringkas keadaan yang mengarah pada tercapainya kemenangan besar ini. Kaum Quraisy Makkah telah melanggar perjanjian Hudaibiyah di bulan Dzulqaidah tahun ke-6 Hijriyah. Kelicikan mereka adalah mengabaikan dan meniadakan perjanjian itu. Ini karena mereka ketakutan terhadap ummat Muslim dan berharap agar dilakukan perubahan terhadap perjanjian itu. Maka mereka mengutus salah seorang pemimpin mereka; Abu Sufyan; ke Madinah dengan maksud mengubah isi perjanjian. Sesampai di Madiah yang ia kunjungi pertama adalah anak perempuannya, Ummu Habibah (RA), yang juga istri Nabi (SAW).
Manakala Abu Sufyan baru saja hendak duduk diatas tilam yang tergelar diatas lantai tanah rumah anaknya, Ummu Habibah menggulung tilam itu seraya berkata kepada ayahnya, "Tilam ini untuk Rasulullah (SAW). Engkau tak boleh mendudukinya sebab engkau seorang penyembah berhala yang tak menentu." Abu Sufyan merasa sangat kecewa dengan perlakuan putrinya itu. Ia juga berkunjung kepada Abu Bakar (RA), Umar (RA), Ali (RA), and Fatimah (RA) dan meminta pertolongan mereka. Mereka semua menyambut dingin kedatangannya. Maka iapun patah-arang dan pulang kembali ke Makkah.
Persiapan untuk memasuki Makkah dengan kekuatan penuh pun dilakukan oleh Rasulullah (SAW). Beliau pun berdoa, "Wahai Allah, aku mohon kepada-Mu janganlah ada seorangpun dari mata-mata kaum kafir Makkah yang melihat kedatangan kami, agar kami dapat menangkap mereka semua secara mendadak."

PERTOLONGAN ALLAH (SWT)
Beberapa kali telah dilancarkan usaha oleh orang-orang Quraisy, namun Allah (SWT) menggagalkan usaha itu. Pasukan Muslim pun telah begitu dekat dengan Makkah. Kaum Quraisy telah menjadi sangat kecut bercampur was-was disebabkan oleh kecurangan mereka sendiri. Termasuk Abu Sufyan pemimpin mereka yang biasanya berkeliling kota Makkah pada malam hari demi berjaga-jaga atas bahaya yang mengancam. Suatu malam, Abbas (RA) paman Nabi (SAW), berpapasan dengan Abu Sufyan. Abbas (RA) memberitahu Abu Sufyan bahwa Rasulullah (SAW) dan pasukannya telah berada di Makkah.
Abu Sufyan berkata, "Kaum Quraisy sekarang ini telah benar-benar berantakan akibat serbuan mendadak ini." Abbas (RA) pun menasehatinya, "Jika seseorang kami melihatmu, tentu ia akan membunuhmu. Aku sarankan kamu ikut denganku dan aku yang akan meminta perlindungan atas dirimu kepada Rasulullah (SAW)." Abu Sufyan pun meng-iya-kan saran itu. Nabi (SAW) bertanya kepada Abu Sufyan, "Masih sajakah kamu belum mengakui bahwa aku adalah Nabi utusan Allah (SWT)?" Abbas (RA) pun menasehati Abu Sufyan, "Sebaiknya engkau segera memeluk Islam sebelum seseorang membunuhmu." Maka Abu Sufyan pun berkata, "Aku bersaksi bahwa tiada yang patut disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah (SAW)." Abbas (RA) meminta agar Rasulullah (SAW) memberi penghargaan kepada Abu Sufyan mengingat ia adalah seorang pemimpin Quraisy yang disegani.
Maka Nabi (SAW) pun bersabda, "Barang siapa masuk kedalam rumah Abu Sufyan ia aman, barang siapa masuk kedalam rumahnya sendiri ia aman, barang siapa masuk kedalam Masjidil-Haram pun juga aman."

PASUKAN MUSLIM MASUK KOTA MAKKAH
Khaled bin Walid (RA) bersama pasukannya bergerak masuk kota Makkah dari sisi kanan, Zubair bin Awwam (RA) dari sisi kiri, sementara Abu Ubaidah (RA) memimpin pasukan yang berjalan kaki. Rasulullah (SAW) bergerak menuju Baitullah dalam kawalan kaum Anshar dan Muhajirin. Pasukan Muslim tak mendapati hambatan apapun kecuali sekelompok kecil pemuda Quraisy tak dikenal yang berusaha menghentikan langkah Khalid bin Walid (RA). 8 orang dari mereka tewas dalam pertempuran singkat itu, sementara sisanya tunggang-langgang meninggalkan pertempuran. Dua orang pejuang Muslim, entah bagaimana terpisak dari kelompok pasukannya. Mereka berusaha menuju Ka’bah melalui jalur yang lain, maka mereka berdua pun terbunuh oleh pasukan kafir.
Seluruh pasukan Muslim bergabung dengan Nabi (SAW) di bukit Shafa yang tepat berada di perbatasan Masjidil Haram.

MEMASUKI MASJIDIL HARAM
Rasulullah (SAW) masuk ke dalam Masjidil Haram, mencium Hajar Aswad dan melanjutkan dengan berkeliling Ka’bah dengan menunggang onta beliau. Pada waktu itu terdapat 360 berhala yang tergeletak di atas atap Rumah Allah (SWT).
Beliau (SAW) ketika itu membawa busur panah, disentuhnya berhala-berhala itu dengan busur panah beliau sambil mengumandangkan Ayat ke-81 dari Surah Al-Isra’

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

Setiap berhala yang tersentuh busur panah Rasulullah (SAW) jatuh terjerembab dengan muka menghadap ke tanah. Beliau (SAW) pun memanggil Usman bin Talhah dan memintanya menyerahkan kunci pintu Ka’bah.

DI DALAM BAITULLAH
Rasulullah (SAW) melihat banyak gambar di dalam Ka’bah, diantaranya ada yang menggambarkan Nabi Ibrahim (AS) dan Nabi Ismail (AS) sedang menggenggam anak-panah undian di tangan mereka. Seluruh gambar itu pun disingkirkan oleh Nabi Muhammad (SAW) dari dalam Baitullah.
Rasulullah (SAW) menutup pintu Ka’bah. Waktu itu, Bilal (RA) dan Usamah (RA) bersama Rasulullah (SAW) berada didalam Ka’bah. Beliau (SAW) mengerjakan shalat didalam Ka’bah, setelah itu berkeliling ruangan Ka’bah sambil berdziikir Allahu Akbar, Allahu Akbar.Selanjutnya beliau keluar dari Baitullah dan menyaksikan bahwa kaum Quraisy telah resah menantikan apa yang akan dilakukan oleh Rasulullah (SAW) selanjutnya.
Sambil berpegangan pada pintu Ka’bah Rasulullah (SAW) menyampaikan khutbah kepada kaum Quraisy.
Beliau (SAW) bersabda, "Tiada tuhan yang patut disembah kecuali Allah (SWT). Hanya Dia. Tidak ada sekutu bagu-Nya. Dia memenuhi janji-Nya dan memberi pertolongan kepada hambanya yang patuh kepada-Nya, sendirian saja Dia mengalahkan semua musuh-musuh-Nya … Allah (SWT) telah menghancurkan sifat sombong dan membanggakan diri dari para kakek-moyang kalian. Semua manusia adalah keturunan Adam (AS) dan Adam terbuat dari tanah." Kemudian Rasulullah (SAW) membacakan Surah Al-Hujarat, Ayat-13.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Sementara sambil menyimak khutbah fikiran orang-orang Quraisy diliputi kekhawatiran. Terlintas dalam benak mereka berbagai hal yang mungkin akan terjadi mengingat bahwa dahulu mereka telah menyiksa Nabi (SAW) dan para pengikutnya, pernah berusaha membunuh mereka dan mengusir mereka dari tanah kelahiran. Kaum kafir itupun telah memicu tiga pertempuran besar dengan tujuan mengenyahkan Ummat Muslim dari muka bumi. Maka kaum kafir Quraisy pun berfikir bahwa Rasulullah (SAW) boleh jadi akan memerintahkan pengikutnya untuk membunuh mereka semua ataupun mengambil alih apapun yang mereka miliki atau, paling tidak, mereka semua akan dijadikan budak.
Rasulullah (SAW) bertanya kepada orang-orang Quraisy: "Apakah yang kalian kira akan kuperbuat terhadap kalian pada hari ini?" Mereka berkata, "Kebaikan, sebab engkau adalah kerabat kami yang berbudi luhur." Sampai disini, Rasulullah (SAW) mengatakan kepada mereka," Akan kuperlakukan kalian sebagaimana halnya Nabi Yusuf (AS) memperlakukan saudara-saudaranya." Dan Rasulullah (SAW) menyatakan pemberian maafnya yang begitu besar, beliau pun membacakan kalimat maaf Nabi Yusuf (AS) yang terabadikan dalam Surah Yusuf Ayat-92:

Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu,

Dengan kata lain, Nabi (SAW) mengatakan, "Kalian bebas dari segala tuntutan. Tak seorangpun akan membahayakan kalian pada hari ini." Betapa tak ada contoh lain dalam sejarah kehidupan manusia, sebuah pemberian maaf yang begitu besar kepada musuh yang sangat haus-darah.

BISIK-BISIK ANTAR PEMUKA QURAISY
Waktu shalat Dzuhur telah masuk. Rasulullah (SAW) menyuruh Bilal (RA) untuk mengumandangkan Adzan. Bilal (RA) naik ke atap Ka’bah dan mengumandangkan Adzan. Sementara Bilal (RA) sedang adzan, tiga pemuka Quraisy yang berpengaruh saling berbisik satu sama lain sambil duduk di pelataran Ka’bah. Attab bin Asid berbisik kepada Harits bin Hisyam, "Untunglah ayahku sudah meninggal dunia dan tak sempat menyaksikan ‘monyet hitam’ ini berteriak-teriak di atas rumah suci ini. Andai ia menyaksikan kejadian ini tentulah ia akan sangat bersedih." Haris menimpali, "Dengarlah, jika aku yakin bahwa ia (maksudnya Muhammad (SAW)- pent.) benar-benar seorang Nabi, Tentu aku menjadi pengikutnya." Orang ketiga, yakni Abu Sufyan, berkata, "Aku takkan berkomentar apapun. Jika ku lakukan juga, bahkan bebatuan di sekeliling kita ini akan menyampaikan pembicaraan kita ini kepadanya."
Jibril (AS) menyampaikan kepada Nabi (SAW) perihal bisik-bisik mereka itu. Maka beliau (SAW) pun berjalan menghampiri mereka bertiga dan berkata, "Aku mengetahui apa yang baru saja kalian perbincangkan." Dan, beliau (SAW) kemudian mengulang isi percakapan mereka. Maka serentak Harits and Attab berucap, "Kami bersumpah bahwa tidak ada orang disekitar manakala kami tadi saling berbisik, sehingga ia dapat mendengar kami dan melaporkan isi pembicaraan kami kepadamu. Maka kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah, dan bahwa engkau adalah Rasul (Utusan) Allah."
Nabi Muhammad (SAW) meninggalkan Makkah setelah tinggal disana selama 13 hari. Hal yang mengagumkan adalah, Attab bin Asid diangkat oleh Rasulullah (SAW) sebagai gubernur Makkah. Beliau (SAW) juga mengembalikan kunci pintu Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah yang pada waktu itu masih belum beriman. Utsman bin Thalhah sangat terkejut dan heran atas kebaikan budi Rasulullah (SAW) kepadanya, maka ia pun serta merta memeluk Islam. Rasulullah (SAW) mengumumkan bahwa kunci Ka’bah akan tetap berada di tangan keluarga Utsman bin Thalhah hingga datangnya Hari Kiamat.

KEKHAWATIRAN KAUM ANSHAR
Kaum Anshar berbincang-bincang diantara mereka. Makkah adalah kota asal Nabi (SAW). Di kota inilah beliau (SAW) dilahirkan. Kini Allah (SWT) telah menganugerahkan kemenangan atas kota suci ini kepadanya. Tentu Rasulullah (SAW) akan lebih cenderung untuk memilih tetap tinggal di tanah kelahirannya. Selama pembicaraan ini berlangsung, Rasulullah (SAW) sedang khusyuk berdoa di bukit Shafa. Usai memanjatkan doa, beliau memanggil kaum Anshar dan bertanya kepada mereka, "Apakah yang sedang kalian perbincangkan antar kalian sendiri?" Mereka pun merasa malu. Setelah Rasulullah (SAW) mendesak untuk diberitahu mereka pun mengungkapkan apa yang menjadi kekhawatiran mereka kepada beliau (SAW). Maka Rasulullah (SAW) memberikan penegasan kepada kaum Anshar, "Jangan khawatir, kini hidup dan mati aku bersama kalian." Dan kaum Anshar pun merasa sangat bahagia.
Demikianlah adanya, Sepanjang hayatnya, Rasulullah (SAW) tetap bermukim di Madinah walaupun setelah Makkah ditaklukan. Hal ini menunjukkan betapa berartinya kota Madinah.

PENGHANCURAN BERHALA-BERHALA UTAMA
Setelah penaklukan Makkah, Rasulullah (SAW) mengutus Khalid bin Wallid (RA) untuk menghancurkan ‘Uzza, Amru bin Ash (RA) diutus untuk menghancurkan Suwwa, dan Sa'ad bin Zaid (RA) diutus untuk menghancurkan Manaat. Dengan demikian agama Allah telah ditegakkan di dalam dan di sekeliling kota Makkah.

BERBONDONG-BONDONG MEMELUK ISLAM
Dua ribu orang lelaki dan perempuan dari suku Quraisy memeluk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah (SAW) di bukit Shafa. Banyak suku-suku bangsa Arab yang lainnya pun, yang sebelumnya telah yakin atas kenabian Muhammad (SAW), namun selama ini enggan menyatakan lantaran sepak-terjang kaum Quraisy, kini pun bersama-sama dalam jumlah besar memeluk Islam. Perhatikan Surah An-Nasr, Ayat 1-3

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.

Ketika Rasulullah (SAW) membacakan ayat-ayat ini, para sahabat nampak sangat berbahagia, namun Abbas (RA) mulai menangis terisak-isak. Rasulullah (SAW) pun menanyainya gerangan apa yang menyebabkan tangisnya. Abbas (RA) berkata, "Ini adalah pertanda berakhirnya tugas risalah yang engkau emban dan boleh jadi Allah (SWT) akan segera memanggilmu untuk kembali kepada-Nya dalam waktu dekat." Rasulullah (SAW) sependapat dengan pemikirannya.
Sebagaimana sekarang kita ketahui, Surah An-Nasr adalah surah terakhir yang diwahyukan secara utuh kepada Rasulullah (SAW), dan beliau (SAW) wafat delapan puluh hari setelah turunnya surah ini.


“HISTORICAL EVENTS OF MAKKAH”KEMENANGAN BESAR

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102


                                     OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI



“HISTORICAL EVENTS OF MAKKAH”



KEMENANGAN BESAR
(TAHUN KE-6 HIJRIYAH)

Dalam tahun ke-6 Hijriyah tercapailah kesepakatan untuk membuat perjanjian antara para pemimpin kaum kafir Makkah dengan Nabi Muhammad (SAW) di sebuah wilayah bernama Hudaibiyah yang terletak diluar kota Makkah. Tempat ini sekarang benama Syamisah. Banyak butir-butir kesepakatan dalam perjanjian ini yang sepintas tampak merugikan Muslim dan membingungkan bagi sebagian sahabat Rasulullah. Namun, hal ini kemudian berubah membuahkan kemenangan luar biasa bagi Ummat Islam dan sekaligus membuktikan bahwa Rasulullah (SAW) sangat bijak dalam pemikiran dan berwawasan jauh ke depan.
Perjanjian ini juga memberikan bukti bahwa:
1. Musuh-musuh Allah (SWT) merencanakan tipu daya dan Allah (SWT) pun merencanakan. Dan sesungguhnya Allah (SWT) adalah yang Terbaik dalam merencanakan. Surah Al-Anfal, Ayat-30.

Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

2. Nabi Muhammad (SAW) tak pernah mengatakan sesuatu hal yang religius melainkan itu telah diwahyukan Allah (SWT) kepada beliau. Surah An-Najm, Ayat 3-4

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

3. Allah (SWT) telah memuliakan para sahabat Rasulullah (SAW) karena Dia telah mengetahui ketulusan mereka dan apa yang menjadi isi hati mereka. Allah (SWT) telah memasukkan ketenangan dan kesabaran kedalam hati mereka dikala menghadapi saat-saat kritis dan membingungkan dan menjadikan mereka condong untuk berlaku santun dan bersahaja di saat-saat sedemikian genting. Allah (SWT) memberikan penghargaan tinggi terhadap kualitas mereka dan telah mengabarkan balasan atas mereka untuk generasi-generasi setelahnya. Surah Al-Fath, Ayat-26:

dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.

Oleh sebab itu, sangat mengherankan bagi saya bahwasanya sebagian orang berani mengatakan hal-hal yang tak sepatutnya mereka tujukan kepada beberapa sahabat Rasulullah (SAW) sedangkan Allah (SWT) jelas-jelas menyatakan pujian-Nya terhadap mereka didalam Al-Qur'an.
Sekarang, marilah kita telusuri rangkaian peristiwa yang berlangsung kala itu. Para penyembah berhala di Makkah telah mengusir Rasulullah (SAW) dan para sahabat dan pengikut beliau dari kampung halaman mereka sendiri di Makkah hanya karena sebuah alasan yakni, karena mereka menyembah Tuhan Yang Esa. Kaum kafir itu juga menyulut tiga peperangan besar melawan orang-orang mukmin (Badar, Uhud dan Ahzab) dengan tujuan mengenyahkan ummat Islam dari permukaan bumi. Sementara itu, Rasulullah (SAW) memperoleh mimpi bahwa beliau dan para sahabat sedang berada di Makkah dalam rangka ibadah Umrah. Namun demikian tidak cukup jelas kapan terjadinya peristiwa (didalam mimpi) itu. Rasulullah (SAW) pun menceritakan perihal mimpi beliau ini kepada para sahabat di Madinah. Karena mimpi Rasulullah (SAW) selalu benar, maka beliau memaklumatkan persiapan perjalanan ibadah Umrah. Bahkan penduduk desa-desa disekitar Madinah pun diajak serta.
Sebagian besar orang-orang dusun itu tidak bersedia, malahan meniupkan kabar bahwa Rasulullah (SAW) bermaksud membawa mereka kedalam peperangan melawan kaum Quraisy Makkah yang begitu perkasa, karena beliau bermaksud menjerumuskan mereka dalam kehancuran. Alqur’an Surah Al-Fath ayat-12:

Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.

Rasulullah (SAW) berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk ibadah Umrah bersama 1400 sahabat. Mereka telah berpakaian Ihram dan membawa binatang ternak untuk korban. Manakala rombongan telah mencapai pinggiran kota Makkah, mereka dapati kaum kafir dengan persenjataan lengkap menghentikan perjalanan mereka dan melarang mereka memasuki Makkah. Khalid bin Walid; yang pada waktu itu belum beriman; dengan pasukannya telah siap menyerang rombongan Muslimin dan mereka juga telah menduduki tempat-tempat yang terdapat mata air.

SATU MUKJIZAT
Nabi Muhammad (SAW) menghindar dari Khalid bin Walid menuju tempat yang tidak terdapat air.
Beliau menemukan sebuah sumur yang masih ada bekas jejak air di dasarnya. Beliau masukkan sedikit air ke mulut beliau lalu disemburkannya kedalam sumur, lalu beliau minta salah seorang sahabat untuk membidikkan anak panah beliau (SAW) ke dasar sumur. Para sahabat pun kemudian menyaksikan air memancar dari dasar sumur itu sampai setinggi bibir sumur. Maka rombongan Muslimin pun mengisi penuh tempat-tempat air mereka dan mendirikan shalat Dzuhur. Khalid bin Walid berkata kepada pasukannya, “Kita telah menyia-siakan kesempatan emas.
Seharusnya tadi kita serang mereka selagi mereka sibuk shalat. Kita akan serang mereka di waktu mereka mengerjakan shalat berikutnya.” Pada waktu itu Allah (SWT) pun mewahyukan petunjuk-Nya kepada Muslimin perihal tata-cara mendirikan shalat sewaktu dalam keadaan bahaya semisal perang.
Shalat semacam ini disebut Shalatul-Khauf.

UTSMAN (RA) YANG DIHORMATI
Utsman (RA) adalah sosok yang dihormati oleh kalangan mukminin maupun oleh orang-orang kafir. Rasulullah (SAW) mengutusnya sebagai duta Mukminin ke Makkah, dalam rangka memberikan penjelasan kepada para pemimpin kafir Quraisy bahwasanya kedatangan rombongan Mukminin adalah untuk melaksanakan ibadah Umrah, bukannya untuk berperang melawan mereka. Orang-orang Quraisy telah mengambil keputusan bahwa mereka melarang orang-orang Muslim memasuki kota Makkah.
Namun mereka mengijinkan Utsman (RA) mengerjakan Umrah. Utsman (RA) pun berkata," Aku tak kan berumrah kecuali Rasulullah (SAW) mengerjakannya." Kaum Quraisy menempatkan limapuluh orang pasukan mereka pada jarak yang begitu dekat dengan rombongan Muslim agar bila ada kesempatan mereka bisa dengan mendadak menyerang Nabi (SAW). Namun, Muhammad bin Muslima (RA), pengawal Beliau (SAW), berhasil menangkap limapuluh orang itu dan menghadapkan mereka kepada Nabi (SAW). Begitu kejadian ini diketahui oleh orang-orang Quraisy, maka mereka pun menahan Utsman (RA) dan sepuluh orang Mukmin lain yang telah berhasil memasuki Makkah sebagai sandera. Situasi menegangkan pun tak terelakkan. Masing-masing pihak bisa saja dengan mudah membunuh sandera/tawanan yang ada di tangan mereka masing-masing.
Tertiuplah kabar-burung bahwasanya Utsman (RA) dan 10 Muslim yang ditahan telah dibunuh oleh kaum kafir.

BAI’AT UR RIDWAN (SUMPAH SETIA)
Mendengar berita ini Rasulullah (SAW) segera mengumpulkan seluruh Mukminin dibawah sebuah pohon dan mengambil sumpah mereka untuk bersedia berjihad memerangi orang-orang kafir. Maka segera saja setiap muslim satu-persatu berbai’at (bersumpah) dengan cara meletakkan tangannya ke atas tangan Rasulullah (SAW). Terakhir, beliau (SAW) meletakkan satu tangan beliau sendiri ke atas tangan beliau yang lain sambil mengatakan bahwa yang satu adalah tangan Utsman (RA), dengan demikan beliau telah mewakili Utsman (RA) berbai’at.
Ini adalah salah satu cara penghormatan unik terhadap Utsman (RA), dimana Rasulullah (SAW) mengibaratkan tangan beliau sebagai tangan Utsman (RA). Sementara itu, Utsman (RA) telah kembali ke tengah-tengah rombongan mukminin, maka iapun bisa berbai’at untuk dirinya sendiri. Allah (SWT) sangat menyukai sumpah yang telah diucapkan oleh para sahabat ini. Mari kita sima Surah Al-Fath Ayat-18.

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).

Mereka yang ikut serta dalam peristiwa Bai’at ur ridwan ini telah diberi penghormatan besar oleh Allah (SWT) dan Rasul-Nya (SAW). Diriwayatkan oleh Jabir (RA) bahwasanya Rasulullah (SAW) bersabda,
"Kalian adalah adalah manusia-manusia terbaik yang hidup di muka bumi." (Sahihain)
Ummu Basyar (RA) meriwayatkan Rasulullah (SAW) bersabda, "Mereka yang telah berikrar dibawah pohon ini tidak akan masuk Neraka." (Muslim)
Dengan demikian mereka memperoleh nikmat Surga atas ikrar yang telah mereka ucapkan, sebagaimana Allah juga telah menjanjikan Surga bagi setiap mukmin yang ikut serta dalam perang Badar.

PERTOLONGAN ALLAH (SWT)
Allah (SWT) menumbuhkan rasa takut dalam hati kaum kafir Quraisy. Mereka mengirimkan tiga orang pemimpinnya, Suhail bin Amr, Hawaitab and Makraz untuk berunding dengan Rasulullah (SAW). Ketiga pimpinan ini menyampaikan kepada Nabi (SAW), "Utsman (RA) dan sepuluh orang Muslim yang lain tidak kami bunuh. Kami akan kembalikan mereka kepadamu jika limupuluh anggota kami pun kamu kembalikan kepada kami." Demikianlah, Allah (SWT) telah menyelamatkan mereka dari saling melukai. Surah Al-Fath Ayat-24:

Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka ditengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Perwakilan pemuka Quraisy yang menemui Rasulullah (SAW) juga dapat menyaksikan beberapa keistimewaan yang menggambarkan betapa para mukminin sangat mencintai, menghormati, dan setia kepada junjungan mereka Rasulullah (SAW). Setelah kembali ke Makkah, maka para pimpinan Quraisy ini menyarankan kepada warga mereka bahwasanya hal terbaik bagi mereka agar tidak hilang-muka adalah dengan mengadakan pejanjian gencatan senjata dengan pihak Muhammad (SAW).
”Jika Muslimin memasuki kota Makkah dengan kekuatan penuh maka seluruh masyarakat Arab yang lain pastilah akan menertawakan kita.” Demikian kata pemimpin Quraisy menegaskan. Lanjutnya, “Sebaiknya kita minta mereka untuk kembali ke Madinah tanpa mengerjakan Umrah untuk sekarang ini. Namun kita ijinkan mereka untuk melaksanakan Umrah tahun depan dan mereka boleh tinggal di Makkah selama tiga hari.” Usulan ini diterima oleh orang-orang Quraisy, kemudian mereka mengutus Suhaid bin Umar untuk kembali menemui Muhammad (SAW) guna membuat perjanjian tertulis dengan syarat-syarat sebagaiman mereka utarakan diatas. Suhail mengajukan persyaratan isi perjanjian sebagai berikut;

USULAN ISI PERJANJIAN HUDAIBIYAH
1. Muhammad (SAW) dan para pengikutnya tidak akan masuk kota Makkah pada tahun ini. Mereka diijinkan berkunjung ke Makkah pada tahun depan selama tiga hari.
2. Kedua belah pihak tidak akan saling menyerang satu sama lain selama sepuluh tahun.
3. Suku-suku yang lain bebas memilih untuk bergabung dengan Muslimin ataupun dengan kaum Quraisy sebagai kawan mereka.
4. Jika seorang dari Quraisy membelot kepada pihak Muslim, maka Muhammad (SAW) akan mengembalikan orang tersebut kepada kaum Quraisy. Namun, jika seseorang membelot dari Muhammad (SAW) dan meminta perlindungan kepada kaum Quraisy, maka orang tersebut tidak akan dikembalikan kepada Muhammad (SAW).

SAAT-SAAT YANG MENYENTUH HATI
Rasulullah (SAW) dan Suhail bin Amr sepakat atas usulan persyaratan diatas setelah melalui pembicaraan yang berlangsung dalam suasana panas diantara kedua pihak. Raulullah pun memanggil Ali (RA) dan mulailah beliau mendiktekan kalimat-kalimat perjanjian untuk ditulis.
Rasulullah (SAW) berkata kepada Ali (RA), "Tulislah, Bismillahirrahmanirrahim" Suhail menolak dan berkata, "Kami tidak mengenal Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Awali saja dengan tulisan Bismikallah, yang maksudnya Wahai Allah kami awali ini dengan nama-Mu." Rasulullah (SAW) meminta Ali (RA) menuliskan seperti yang dikatakan Suhail. Kemudian Rasulullah (SAW) memerintahkan Ali menulis, "Ini adalah perjanjian antara Muhammad Rasulullah dengan kaum Quraisy." Suhail menyela, "Jika kami menerimamu sebagai Utusan Allah, tentu kami tidak akan menghalangimu melakukan Umrah dan tidak pula kami beberapa kali memerangimu. Tuliskan saja Muhammad bin Abdullah." Mendengar itu, Nabi (SAW) berkata kepada to Ali (RA), "Tuliskan apa yang dikatakan Suhail dan hapuslah kata Rasulullah. Ali (RA) tidak mau menghapusnya. Usaid bin Hudhair (RA) dan Saad bin Ibada (RA) juga menahan tangan Ali (RA) seraya berkata, " Jangan kamu hapus. Jika orang Quraisy tidak setuju maka biarlah kita putuskan urusan diantara kita ini dengan pedang saja."
Rasulullah (SAW) adalah seorang yang buta aksara dan tak pernah sekalipun melakukan tulis-menulis dengan tangan beliau sendiri. Namun saat itu Allah (SWT) menganugerahi kemampuan kepada beliau (SAW), diambilnya kertas dari tangan Ali (RA) dan beliau gantikan sendiri kata-kata yang telah ditulis Ali (RA) dengan ‘Muhammad bin Abdullah’ sebagaimana dikehendaki Suhail. Mukminin pun kecewa dengan hal ini, namun mereka pun pasrah pada pilihan Rasulullah di saat-saat kritis itu.
Selanjutnya Rasulullah (SAW) minta kepada Suhail agar beliau (SAW) diperbolehkan mengelilingi Ka’bah pada tahun ini. Suhail menolak mentah-mentah permintaan itu seraya mengatakan bahwa orang-orang Arab akan menertawakan kaum Quraisy lantaran nampak bahwa mereka lebih lemah daripada Muhammad (SAW).
Para Muslimin, khususnya Umar (RA), memprotes keras butir ke-empat perjanjian ini, namun Rasulullah (SAW) bahkan tidak keberatan dengan hal itu.

UJIAN BAGI PARA SAHABAT
Manakala kaum Quraisy menolak kata Bismillah dan Rasulullah, nampak para sahabat mulai bersilat-lidah diantara mereka sendiri lantaran terdapat perbedaan pandangan diantara mereka. Namun mereka ketegangan itupun surut dan dapat menerima pilihan yang telah diambil oleh Rasulullah (SAW). Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepenuhnya menyerahkan keputusan pada Rasulullah (SAW). Sewaktu Rasulullah (SAW) meminta mereka berikrar untuk berperang, mereka pun melaksanakannya dengan sepenuh hati. Ketika Rasulullah (SAW) menetapkan pilihan diatas untuk menghindari pertempuran, sekali lagi para sahabat menyerahkan sepenuhnya pada pilihan dan keinginan Rasulullah (SAW). Allah (SWT) menyukai kepatuhan mereka kepada Rasul-Nya sebagaimana tersebut dalam firman-Nya, surah Al-Fath Ayat-26.

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


UJIAN SEKETIKA ATAS PERJANJIAN
Abu Jundal (RA), anak Suhail bin Amr, telah memeluk Islam di Makkah. Suhail, sang ayah, memenjarakannya di Makkah dan menyiksanya setiap hari. Entah bagaimana, Abu Jundal (RA) bisa melarikan diri dari Makkah dan tiba ditempat dimana perjanjian sedang dilakukan. Dengan kerendahan hati ia memohon perlindungan kepada Rasulullah (SAW). Suhail pun menolak, katanya, "Ini bertentangan dengan isi perjanjian. Jika tak engkau kembalikan ia kepadaku, maka aku takkan menandatangani perjanjian ini." Berkali-kali Rasulullah (SAW) meminta agar Suhail merelakan Abu Jundal (RA) untuk tetap bersama ummat Muslim. Suhail menolak dan menampar wajah Abu Jundal. Ia tarik sang anak pada bajunya dan dikumpulkan ia bersama para penyembah berhala. Rasulullah berkata kepada Abu Jundal, "Bersabarlah, Allah akan menyegerakan kemudahan bagimu dan ummat Muslim yang lemah lainnya yang berada di Makkah. Kami telah mengadakan perjanjian dengan kaum Quraisy. Kami tak hendak merusak janji."
Akhirnya perjanjian ditandatangani kedua belah pihak. Rasulullah (SAW) menyembelih ternaknya dan menanggalkan pakaian Ihram. Para sahabat pun melakukan hal yang sama dan selanjutnya memulai perjalanan kembali ke Madinah setelah sembilan belas hari berada di Hudaibiyah.

SATU LAGI MUKJIZAT
Ketika rombongan Muslimin sampai di Isfan dalam perjalanan pulang ke Madinah, persediaan makanan mereka telah sangat menipis. Rasulullah (SAW) menghamparkan alas berukuran besar keatas tanah dan meminta para sahabat meletakkan keatas alas itu sekecil apapun makanan yang masih mereka miliki. Manakala semua yang tersisa telah terkumpul, Rasulullah (SAW) berdoa memohon pertolongan Alah (SWT) kemudian mengundang semua orang untuk makan makanan yang tersedia diatas alas.
Seribu empat ratus sahabat pun makan sampai kenyang dan juga telah mengisi penuh tempat makanan mereka untuk bekal di perjalanan selanjutnya. Ternyata masih banyak kelebihan makanan yang tertinggal pada alas itu. Rasulullah (SAW) sangat gembira mendapati keberkahan yang diberikan Allah (SWT) ini.
BUAH DARI PERJANJIAN
Perjanjian Hudaibiyah telah membuahkan konsekuensi dalam banyak hal yang berjangkauan jauh ke depan.
1. Dengan tercapainya kesepakatan damai ini, Ummat Muslim dapat memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah lebih luas dan mencapai wilayah yang jauh. Rasulullah (SAW) mengirim surat kepada Raja Najashi di Habasyah, Raja Maqoqas di Mesir, Kisra’ di Persia, Kaisar di Romawi, Penguasa Bahrain, Penguasa Yamamah, Penguasa Damaskus dan Penguasa Amman.
2. Kaum Quraisy yang sejauh ini bersusah-payah bekerja untuk menghancurkan Ummat Islam, dengan menyetujui perjanjian ini berarti bahwa, didalam hati, mereka telah mengakui keperkasaan Ummat Muslim.
3. Semua bangsa Arab memiliki keleluasaan untuk mengirimkan utusan mereka kepada Ummat Muslim. Hal ini berarti pula sebuah kekalahan bagi kaum Quraisy, sebab selama ini mereka selalu menghalangi penyebaran Islam kepada suku-suku dari bangsa Arab.
4. Selama berlangsungnya negosiasi isi perjanjian, banyak pemimpin Quraisy yang berpengaruh bertemu dengan Rasulullah (SAW). Peristiwa ini telah menanamkan nilai-nilai Islami ke dalam hati mereka, sehingga banyak diantara mereka yang di kemudian hari pun memeluk Islam. Termasuk juga Suhail bin Amr.
5. Kaum Quraisy yang sejauh ini berketetapan untuk tidak akan pernah membiarkan Ummat Muslim masuk ke kota Makkah kapanpun juga, dengan adanya perjanjian ini berarti telah mencabut sendiri larangan mereka. Dengan demikian mereka telah menderita kekalahan dari dalam kelompok mereka sendiri.
6. Perjanjian ini telah meratakan jalan untuk penaklukan Makkah. Kemudian terjadilah penaklukan itu sekitar dua puluh satu bulan terhitung sejak disepakatinya perjanjian. Allah (SWT) mewahyukan kemenangan ini didalam Surah Al-Fath, Ayat-1:

Sesengguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.

Banyak rombongan perwakilan dari berbagai daerah berkunjung ke Madinah, dan banyak orang yang selanjutnya memeluk Islam. Sebagai gambaran nyata, dua puluh satu bulan setelah penandatanganan perjanjian (pada waktu penaklukan Makkah) pasukan muslim berjumlah sepuluh ribu orang, jauh lebih besar dibanding sejumlah seribu empat ratus orang pada waktu perjanjian Hudaibiyah.
7. Surah Al-Fath pun diturunkan. Kandungan surah ini tidak hanya terbatas pada prediksi atas berbagai penaklukan dan besarnya harta –benda hasil penaklukan itu, lebih dari itu semua adalah pernyataan bahwasanya Islam akan mengungguli agama-agama yang lain. Perhatikan Surah Al-Fath, Ayat-28 :

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

8. Yang sangat penting adalah menggaris-bawahi pernyataan Allah (SWT) didalam Surah Al-Fath, Ayat-29, bahwasanya: Muhammad adalah Utusan (Rasul) Allah. Oleh karena itu penghapusan sebutan ‘Rasulullah’ tidaklah menjadi soal. Ayat-29 dari Surah Al-Fath ini akan selalu berkumandang hingga datang hari kiamat kelak, dan sudah cukup sebagai bukti bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah.
9. Ibadah Umrah yang terlewatkan ditahun itu terlaksana pada tahun berikutnya. Ini membuktikan bahwa mimpi Nabi (SAW) adalah mimpi yang benar, didalam mimpi itu tidak tidak terdapat gambaran kapan akan berlangsung. Surah Al-Fath, Ayat-27.

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat..

Perhatikan bahwa dalam ayat ini Allah (SWT) juga menggunakan kata insya Allah; walaupun Dia Maha Mengetahui segala sesuatu; ini adalah pengajaran Allah (SWT) kepada kita agar menggunakan kata tersebut dalam semua pernyataan yang kita ucapkan. Pengajaran serupa juga terdapat dalam Surah Al-Kahfi, Surah Al-Qalam dan Surah Ash-Shaffat.
10. Proses tercapainya kesepakatan damai memperkuat tingkat keimanan para sahabat. Dalam hal ini iman dalam pengertian kepatuhan kepada Allah (SWT) and Rasul-Nya (SAW). Para sahabat telah menunjukkan kepatuhan yang dimaksud, tanpa menimbang suka atau tidak suka. Perhatikanlah Surah. Al- Fath , Ayat-4:

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Begitulah, Allah (SWT) mencintai para sahabat Rasulullah (SAW).


 

PERISTIWA BERSEJARAH ISRA' & MI'RAJ


بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمرانالآية: 102


                                     OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

PERISTIWA BERSEJARAH ISRA' & MI'RAJ

PERISTIWA BERSEJARAH ISRA' & MI'RAJ


1. Sebelum Israk dan Mikraj
Rasulullah S. A. W. mengalami pembedahan dada / perut, dilakukan oleh malaikat Jibrail dan Mika’il. Hati Baginda S. A. W.. dicuci dengan air zamzam, dibuang ketul hitam (‘alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan waswasnya. Kemudian dituangkan hikmat, ilmu, dan iman. ke dalam dada Rasulullah S. A. W. Setelah itu, dadanya dijahit dan dimeterikan dengan “khatimin nubuwwah”. Selesai pembedahan, didatangkan binatang bernama Buraq untuk ditunggangi oleh Rasulullah dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan “Israk” itu.

2. Semasa Israk (Perjalanan dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsa):
Sepanjang perjalanan (israk) itu Rasulullah S. A. W. diiringi (ditemani) oleh malaikat Jibrail dan Israfil. Tiba di tempat-tempat tertentu (tempat-tempat yang mulia dan bersejarah), Rasulullah telah diarah oleh Jibrail supaya berhenti dan bersembahyang sebanyak dua rakaat. Antara tempat-tempat berkenaan ialah:
i. Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah akan melakukan hijrah. ii. Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa A. S. menerima wahyu daripada Allah; iii. Baitul-Laham (tempat Nabi ‘Isa A. S. dilahirkan);
Dalam perjalanan itu juga baginda Rasulullah S. A. W. menghadapi gangguan jin ‘Afrit dengan api jamung dan dapat menyaksikan peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib. Antaranya :
- Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Rasulullah S. A. W. dibertahu oleh Jibrail : Itulah kaum yang berjihad “Fisabilillah” yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.
- Tempat yang berbau harum. Rasulullah S. A. W. diberitahu oleh Jibrail : Itulah bau kubur Mayitah (tukang sisir rambut anak Fir’aun) bersama suaminya dan anak-anak-nya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir’aun kerana tetap teguh beriman kepada Allah (tak mahu mengakui Fir’aun sebagai Tuhan).
- Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibrail memberitahu Rasulullah: Itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk sujud (sembahyang).
- Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu dari neraka Jahannam. Kata Jibrail : Itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.
- Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibrail: Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing-masing mempunyai isteri / suami.
- Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibrail: Itulah orang yang makan riba`.
- Lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibrail: Itulah orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.
- Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibrail: Itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.
- Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibrail: Itulah orang yang memakan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.
- Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibrail: Itulah orang yang bercakap besar (Takabbur). Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.
- Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya. Kata Jibrail: Itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.
- Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah S. A. W. tidak menghiraukannya. Kata Jibrail: Itulah orang yang mensesiakan umurnya sampai ke tua.
- Seorang perempuan bongkok tiga menahan Rasulullah untuk bertanyakan sesuatu. Kata Jibrail: Itulah gambaran umur dunia yang sangat tua dan menanti saat hari kiamat.
Setibanya di masjid Al-Aqsa, Rasulullah turun dari Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan sembahyang dua rakaat dengan segala anbia` dan mursalin menjadi makmum.
Rasulullah S. A. W. terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: Baginda membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.

3. Semasa Mikraj (Naik ke Hadhratul-Qudus Menemui Allah):
Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah S. A. W. dan Jibrail naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).
1. Langit Pertama: Rasulullah S. A. W. dan Jibrail masuk ke langit pertama, lalu berjumpa dengan Nabi Adam A. S. Kemudian dapat melihat orang-orang yang makan riba` dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan buruk. Penzina lelaki bergantung pada susu penzina perempuan.
11. Langit Kedua: Nabi S. A. W. dan Jibrail naik tangga langit yang kedua, lalu masuk dan bertemu dengan Nabi ‘Isa A. S. dan Nabi Yahya A. S.
111. Langit Ketiga: Naik langit ketiga. Bertemu dengan Nabi Yusuf A. S.
1v. Langit Keempat: Naik tangga langit keempat. Bertemu dengan Nabi Idris A. S.
v. Langit Kelima: Naik tangga langit kelima. Bertemu dengan Nabi Harun A. S. yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israil.
v1. Langit Keenam: Naik tangga langit keenam. Bertemu dengan Nabi-Nabi. Seterusnya dengan Nabi Musa A. S. Rasulullah mengangkat kepala (disuruh oleh Jibrail) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70,000 orang yang masuk syurga tanpa hisab.
v11. Langit Ketujuh: Naik tangga langit ketujuh dan masuk langit ketujuh lalu bertemu dengan Nabi Ibrahim Khalilullah yang sedang bersandar di Baitul-Ma’mur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah S. A. W., Nabi Ibrahim A. S. bersabda, “Engkau akan berjumapa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu lah HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH”. Mengikut riwayat lain, Nabi Irahim A. S. bersabda, “Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ialah lima kalimah, iaitu: SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA lah ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR dan WA lah HAULA WA lah QUWWATA ILLA BILLAHIL- ‘ALIYYIL-’AZHIM. Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga”. Setelah melihat beberapa peristiwa! lain yang ajaib. Rasulullah dan Jibrail masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersembahyang (Baitul-Makmur ini betul-betul di atas Baitullah di Mekah).
11x. Tangga Kelapan: Di sinilah disebut “al-Kursi” yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S. A. W. menyaksikan pelbagai keajaiban pada pokok itu: Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan sungai madu lebah. Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata-permata yang indah. Unggas-unggas emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. Baginda Rasulullah S. A. W. dapat menyaksikan pula sungai Al-Kautsar yang terus masuk ke syurga. Seterusnya baginda masuk ke syurga dan melihat neraka berserta dengan Malik penunggunya.
1x. Tangga Kesembilan: Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S. A. W. masuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki yang ghaib di dalam nur ‘Arasy, iaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu penuh kepada masjid dan tidak memaki ibu bapanya.
x. Rabbul-Arbab lalu dapat menyaksikan Allah S. W. T. dengan mata kepalanya, lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah dan Muhammad, Rasul-Nya:
Allah S. W. T : Ya Muhammad. Rasulullah : Labbaika. Allah S. W. T : Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan. Rasulullah : Ya, Rabb. Engkau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Engkau berikan dia kerajaan yang besar. Engkau berkata-kata dengan Musa. Engkau berikan Dawud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi. Engkau kurniakan kerajaan kepada Sulaiman yang tidak Engkau kurniakan kepada sesiapa pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin. Engkau ajarkan ‘Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati. Engkau lindungi dia dan ibunya daripada syaitan. Allah S. W. T : aku ambilmu sebagai kekasih. Aku perkenankanmu sebagai penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri keutamaan dan keistimewaan kepadamu pada hari qiamat. Aku kurniakan tujuh ayat (surah Al-Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa sebelummu. Aku berikanmu ayat-ayat di akhir surah al-Baqarah sebagai suatu perbendaharaan di bawah ‘Arasy. Aku berikan habuan daripada kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku kurniakanmu panji-panji Liwa-ul-hamd, maka Adam dan semua yang lainnya di bawah panji-panjimu. Dan aku fardhukan atasmu dan umatmu lima puluh (waktu) sembahyang.
4. Selesai munajat, Rasulullah S. A. W. di bawa menemui Nabi Ibrahim A. S. kemudian Nabi Musa A. S. yang kemudiannya menyuruh Rasulullah S. A. W. merayu kepada Allah S. W. T agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu sembahyang itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan lima waktu), akhirnya Allah perkenan memfardhukan sembahyang lima waktu sehari semalam dengan mengekalkan nilainya sebanyak 50 waktu juga.
5. Selepas Mikraj
Rasulullah S. A. W. turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mikraj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rejab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Wallahu’alam.
(Sumber : Kitab Jam’ul-Fawaa`id) Kesimpulannya, peristiwa Israk dan Mikraj bukan hanya sekadar sebuah kisah sejarah yang diceritakan kembali setiap kali 27 Rejab menjelang. Adalah lebih penting untuk kita menghayati pengajaran di sebalik peristiwa tersebut bagi meneladani perkara yang baik dan menjauhi perkara yang tidak baik. Peristiwa Israk dan Mikraj yang memperlihatkan pelbagai kejadian aneh yang penuh pengajaran seharusnya memberi keinsafan kepada kita agar sentiasa mengingati Allah dan takut kepada kekuasaan-Nya.
Seandainya peristiwa dalam Israk dan Mikraj ini dipelajari dan dihayati benar-benar kemungkinan manusia mampu mengelakkan dirinya daripada melakukan berbagai-bagai kejahatan. Kejadian Israk dan Mikraj juga adalah untuk menguji umat Islam (apakah percaya atau tidak dengan peristiwa tersebut). Orang-orang kafir di zaman Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam langsung tidak mempercayai, malahan memperolok-olokkan Nabi sebaik-baik Nabi bercerita kepada mereka.
Peristiwa Israk dan Mikraj itu merupakan ujian dan mukjizat yang membuktikan kudrat atau kekuasaan Allah Subhanahu Wataala. Allah Subhanahu Wataala telah menunjukkan bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam.
Mafhum Firman Allah S. W. T. : “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah Al-Israa’: Ayat 1). wallahua’lam..