بسم الله الرحمن الر حيم
إن
الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات
أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا
الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران
– الآية: 102
OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
Mencari Dan Memilih Pemimpin Dari Kacamata Islam
PERNYATAAN ini diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari r.a, Ia
berkata, "Aku dan dua orang dari kaumku datang menghadap Nabi Muhammad
SAW. Salah seorang mereka berkata, "Ya Rasulullah SAW angkatlah kami
sebagai pejabatmu." Satu orang lagi juga mengatakan perkataan yang sama.
Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Kami tidak akan memberikan jabatan
pemerintahan ini kepada orang yang meminta dan berambisi untuk
mendapatkannya," (HR Bukhari dan Muslim)
Selanjutnya,
diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah r.a, Ia berkata, "Rasulullah
SAW bersabda kepadaku, "Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta
jabatan pemerintahan, sebab apabila engkau diberi jabatan itu karena
engkau memintanya maka jabatan tersebut sepenuhnya dibebankan kepadamu.
Namun, apabila jabatan tersebut diberikan bukan karena permintaanmu maka
engkau akan dibantu dalam melaksanakannya," (HR Bukhari dan Muslim).
Bila
mencermati dua hadist Nabi Muhammad SAW ini sangat jelas bahwa dalam
ajaran Agama Islam tidak boleh memilih pemimpin yang minta dipilih atau
pemimpin yang mencalokan diri menjadi calon pemimpin. Dalam ajaran Islam
tidak dibenarkan memilih pemimpin yang mencalonkan diri, pemimpin tidak
boleh meminta untuk dipilih menjadi pemimpin akan tetapi pemimpin itu
harus diberi, diamanahkan ummat atau rakyat untuk dipilih menjadi
pemimpin.
Dari hadist Nabi Muhammad SAW itu terlihat adanya
larangan ummat Islam untuk memilih pemimpin yang mencalonkan diri,
pemimpin yang minta dipilih, pemimpin yang memohon dukungan,
menghiba-hiba minta dipilih menjadi calon pemimpin.
BERAT MENJADI PEMIMPINMenjadi
pertanyaan begitu tegas Nabi Muhammad SAW melarang ummatnya untuk
jangan memilih pemimpin yang minta dipilih menjadi pemimpin. Hal ini
sangat beralasan dan sangat tepat karena sangat berat menjadi seorang
pemimpin.
Beratnya menjadi pemimpin terlihat dalam hadist Nabi
Muhammad SAW yang diriwayatkan Auf bin Malik, Rasullullah bersabda,
"Jika kalian mau, aku beri tahu kepada kalian tentang jabatan, apa
hakikat jabatan itu? Awalnya adalah celaan, yang kedua adalah penyesalan
dan yang ketika adalah adzab di hari kiamat, kecuali orang yang berlaku
adil. Bagaimana mungkin ia dapat berlaku adil terhadap
keluarga-keluarganya?" (HR al-Bazzar).
Kemudian Nabi Muhammad SAW
bersabda, "Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap
kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan."
(HR Bukhari). Hadist berikutnya Nabi Muhammad SAW bersabda, "Kami tidak
menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula
kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya." (HR. Bukhari dan
Muslim)
Sebenarnya di dunia ini sudah ditunjukkan Allah SWT para
pemimpin yang pada dasarnya menyesal menjadi pemimpin. Hal ini terlihat
para pemimpin yang habis atau sedang menjabat harus berurusan dengan
hukum dan masuk penjara. Namun, hadist Nabi Muhammad SAW itu juga
mengatakan kebahagiaan para pemimpin yang dapat berlaku adil. Faktanya,
banyak pemimpin hari ini yang belum mampu menjalankan amanah yang
dimintanya sendiri.
Rasulullah SAW bersabda, "Apabila suatu
urusan dipercayakan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah
waktu kehancurannya." (HR. Bukhari). Satu tanda menjadi pemimpin itu
tidak mudah, sangat sulit dan Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan seorang
pemimpin memberikan pedoman untuk pemimpin yang baik.
Syarat
menjadi pemimpin itu pertama harus Shiddiq (berkata jujur), kedua harus
Fathonah (cerdas), ketiga harus Tabligh (mampu berkomunikasi) dan
keempat harus Amanah (bisa dipercaya). Empat syarat ini tidak mudah dan
harus ada dalam setiap diri pemimpin. Keempat syarat ini harus ummat
atau rakyat yang menilainya, apakah ada pada diri seseorang, apa bila
ada maka ummat atau rakyat yang memilihnya menjadi pemimpin.
Jika
ada pada diri seseorang yang empat syarat ini maka layaklah seseorang
itu menjadi pemimpin. Tidak perlu seseorang itu minta dipilih menjadi
pemimpin, cukup seseorang itu memenuhi syarat yang empat itu. Empat
syarat itu harus dimiliki dan harus dinilai ummat atau rakyat bahwa
seseorang itu memiliki atau tidak empat syarat tersebut. Apa bila tidak
dimiliki maka ummat atau rakyat tidak akan memilihnya menjadi pemimpin.
Empat
syarat ini mutlak harus dimiliki calon pemimpin maka dalam ajaran Islam
melarang seseorang meminta dirinya untuk dipilih menjadi pemimpin.
Tidak dibenarkan meminta-minta untuk dipilih menjadi pemimpin. Tidak
boleh mencalonkan diri dan yang dibenarkan dalam ajaran Islam adalah
dicalonkan atau dipilih ummat atau rakyat karena ummat atau rakyat
menilai seseorang itu layak menjadi seorang pemimpin.
Pemimpin
yang dimaksud Nabi Muhammad SAW itu adalah pemimpin yang terkait dengan
pemimpin ranah publik yakni mulai dari kepala desa (Lurah), bupati (wali
kota), gubernur, legislatif, DPD ataupun presiden. Ajaran Agama Islam
sudah memberikan petunjuk yang jelas mengenai bagaimana mencari dan
memilih pemimpin, baik melalui ayat ayat dalam Al Qur'an maupun hadits
hadits Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 28
yang artinya, "Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir
menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa
berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali
karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.
Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya
kepada Allah kembali (mu)."
Siapa yang dipilih calon pemimpin
menurut Agama Islam ditegaskan Allah SWT lagi dalam Al Qur'an Surat An
Nisa ayat 144 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan
orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi
Allah (untuk menyiksamu)?"
Peringatan Allah SWT ini cukup tegas
dalam Al Qur'an Surat Al Maidah ayat 51 yang artinya, "Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani
menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi
sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka
menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
lalim."
Dari hadist dan firman Allah SWT ini dalam memilih calon
pemimpin menurut ajaran Agama Islam cukup jelas dan tegas, tinggal lagi
bagaimana implementasinya dalam kehidupan ummat Islam sehari-hari. Hal
ini penting karena pemimpin menjadi penentu dalam kehidupan ummat Islam
sehari-hari dan ummat Islam harus mengetahui dengan baik dan benar
tentang kepemimpinan dan tentang tata cara memilih pemimpin menurut
ajaran Agama Islam.
Setiap ummat Islam harus mengetahui tata cara
memilih calon pemimpin menurut ajaran Agama Islam agar diperoleh
pemimpin yang benar-benar baik dan benar sehingga mampu membawa ummat ke
jalan yang baik dan benar pula. Bila ini dapat terwujud maka kehidupan
yang bahagia di dunia dan akhirat akan diperoleh ummat Islam.
Salah satu hal yg tidak bisa lepas dari kehidupan kita sebagai muslim
adalah memilih pemimpin. Yang dimaksud dengan pemimpin di sini terutama
yg terkait dengan pemimpin di ranah publik, seperti walikota, gubernur,
ataupun presiden.
Islam sendiri sudah memberikan petunjuk yg jelas mengenai bagaimana
mencari dan memilih pemimpin, baik melalui ayat2 di Al Qur’an maupun
hadits2 dari Rasululloh SAW.
Pertama, beragama Islam.
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi
wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat
demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena
(siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan
Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada
Allah kembali (mu).” (Ali Imran(3):28)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil
orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.
Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk
menyiksamu)?” (An Nisa(4):144)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil
orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu);
sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang
siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Al Maidah(5):51)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi
pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan
permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab
sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan
bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang
beriman.” (Al Maidah(5):57)
Kedua, laki-laki.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian
yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan
sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang
taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh
karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu
khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di
tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka
menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An Nisa(4):34)
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang mengangkat seorang wanita sebagai pemimpinnya.” (HR. Bukhari)
Ketiga, dewasa (baligh). Baligh di sini terutama mampu berpikir dengan baik, serta sudah bisa membedakan hal2 yg benar dan salah.
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum
sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang
dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan
pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata
yang baik.” (An Nisa(4):5)
Keempat, adil. Pengertian adil di sini adalah adil
secara umum, tidak berat sebelah memihak salah satu golongan, terutama
kelompok yg berkaitan dengan dirinya atau menguntungkan dirinya.
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa)
di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan
adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan
kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan
Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari
perhitungan.” (Shaad(38):26)
Kelima, amanah dan berlaku profesional serta mempunyai ilmu/pengetahuan di bidangnya.
Dengan berlaku amanah dan mempunyai pengetahuan di bidangnya, maka
seorang pemimpin akan dipercaya dan bisa dengan mudah memecahkan
persoalan2 yg timbul.
“Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir);
sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf(12):55)
Kita juga sering mendengar hadits Rasululloh SAW sebagai berikut
“Apabila suatu urusan dipercayakan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya.” (HR. Bukhari)
Keenam, sehat fisik dan mental, karena seorang
pemimpin seringkali dituntut bekerja keras tidak mengenal waktu serta
banyak mendapat tantangan dan serangan dari lawan2 politiknya.
“Dari Abu Dzar berkata, saya bertanya kepada Rasululloh SAW,
mengapa engkau tidak meminta saya memegang sebuah jabatan?; Abu Dzar
berkata lagi, lalu Rasululloh SAW menepuk punggung saya dengan tangannya
seraya berkata; Wahai Abu Dzar,sesungguhnya kamu seorang yang lemah.
Padahal, jabatan itu sesungguhnya adalah amanat (yang berat untuk
ditunaikan)” (HR. Muslim)
Rasululloh SAW juga menyatakan agar
TIDAK MEMILIH SESEORANG MENJADI PEMIMPIN KARENA YBS MENGINGINKANNYA.
“Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari r.a, ia berkata, “Aku dan
dua orang dari kaumku datang menghadap Nabi saw. Salah seorang mereka
berkata, ‘Ya Rasululloh SAW angkatlah kami sebagai pejabatmu.’ Satu
orang lagi juga mengatakan perkataan yang sama. Lalu Rasululloh SAW
bersabda, ‘Kami tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada
orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya’,” (HR Bukhari [7149] dan Muslim [1733]).
Dalam riwayat lain
“Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah r.a, ia berkata,
“Rasululloh SAW bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdurrahman, janganlah engkau
meminta jabatan pemerintahan, sebab apabila engkau diberi jabatan itu
karena engkau memintanya maka jabatan tersebut sepenuhnya dibebankan
kepadamu. Namun apabil jabatan tersebut diberikan bukan karena
permintaanmu maka engkau akan dibantu dalam melaksanakannya’,” (HR Bukhari [7147] dan Muslim [16522]).
Diriwayatkan dari Auf bin Malik dari Nabi saw. beliau bersabda,
“Jika kalian mau, aku beri tahu kepada kalian tentang jabatan, apa
hakikat jabatan itu? Awalnya adalah celaan, yang kedua adalah penyesalan
dan yang ketika adalah adzab di hari kiamat, kecuali orang yang berlaku
adil. Bagaimana mungkin ia dapat berlaku adil terhadap
keluarga-keluarganya?” (HR al-Bazzar [1597]).
“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap
kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (HR Bukhari no. 7148)
“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang
memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk
mendapatkannya.” (HR. Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733)
Dari sekian banyak syarat dan ketentuan dalam mencari dan memilih
seorang pemimpin, poin 1 dan 2, yakni beragama Islam dan laki-laki
seringkali menjadi bahan perdebatan tiada akhir. Pro dan kontra
seringkali terjadi dan berfokus pada 2 poin ini,terutama di Indonesia.
Tahun 1999, sempat terjadi perdebatan sengit ketika Megawati hendak
naik menjadi presiden. Mayoritas ulama dan kaum muslim menolak
pencalonan Megawati menjadi presiden terutama dengan dalil bahwa
harusnya laki2 yg lebih berhak menjadi pemimpin. Namun, ketika Megawati
menjadi presiden apa yg terjadi? Yg menjadi Wakil Presiden adalah Ketua
dari Partai Pembangunan Persatuan (PPP) yg notabene partai Islam. Ironis
kan?
:-)
Demikian pula dengan ‘predikat’ agama Islam yg mesti disandang oleh
pemimpin. Ada yg mengatakan bahwa agama Islam di sini bukan syarat
mutlak, alias mesti ada catatan khusus.
Saya setuju dengan pendapat ini, terutama jika kaum muslim hidup di
negara/lingkungan yg mayoritas non muslim. Sebagai contoh, kaum muslim
di Amerika Serikat jelas tidak bisa memilih pemimpin (presiden) yg
beragama Islam, terutama karena belum ada calon presiden dari kalangan
Islam. Namun, di beberapa negara bagian, kaum muslim sudah bisa
mempunyai senator yg beragama Islam.
Yang seringkali menjadi ganjalan di hati saya adalah sikap kaum muslim yg
menjadikan Islam sebagai SATU-SATUNYA SYARAT DALAM MEMILIH PEMIMPIN. Pokoknya Islam, pokoknya mesti yg seagama, seiman, pilih yg terbaik di antara yg terburuk, bla bla bla.
Saya, terus terang katakan bahwa orang2 yg memilih dg dasar demikian
sama halnya dengan membeli kucing dalam karung. Mungkin pernyataan ini
terlalu kasar atau liberal, namun mari kita kaji dan telaah lebih
mendalam sebelum anda marah ataupun tidak suka apalagi mencap saya
sebagai orang kafir ataupun orang liberal (JIL).
“Pokoknya Islam” ini seringkali menjadikan kaum
muslim (terutama di Indonesia) menjadi object politik yg selalu dibodohi
oleh orang2 licik, culas, dan jahat yg kebetulan memegang tampuk
kekuasaan. ‘Sialnya’ lagi, orang2 tersebut ternyata beragama Islam pula,
orang2 yg mengaku dan menyatakan bahwa sesama muslim itu saudara namun
dalam kenyataannya (dalam berpolitik) mereka seringkali tidak ragu
menusuk dari belakang kaum muslim.
Perilaku dan sikap “Pokoknya Islam” ini pula yg menjadikan agama
Islam menjadi bahan ejekan, cemoohan, dan dihina karena ternyata
pemimpin2 (beragama) Islam yg dipilih ternyata memiliki sifat korup,
jahat, culas, licik, khianat, dan perilaku2 tidak Islami lainnya.
“Ah, kalo itu kan urusan dia dengan ALLOH SWT.”
“Setidaknya itu yg terbaik dari yg terburuk.”
“Tugas kita harus mengingatkan dia, bla bla bla…”
Pernyataan2 di atas mungkin pernah kita dengar, tapi apa iya lantas
kita hanya berwacana dan beropini dengan pernyataan2 di atas?
Menurut saya, korupsi itu tidak sekedar kejahatan dan kemaksiatan yg
bisa diselesaikan urusannya dengan ALLOH SWT. Namun, juga terkait
(sangat) erat dengan hajat hidup orang banyak (masyarakat/manusia). Bagi
saya, seorang koruptor yg (ingin) bertobat tidak cukup hanya dengan
berdoa kepada ALLOH SWT agar dosa2nya diampuni. Akan tetapi, dia juga
mesti mengembalikan hak-hak masyarakat yg telah dia rampas dengan cara
yg lalim.
Berapa banyak masyarakat yg mati karena dana kesehatan dikorupsi?
Berapa banyak pengungsi dan orang yg tertimpa bencana mati kelaparan
karena bantuan yg mereka tidak jauh dari memadai atau layak? Berapa
banyak anak-anak yg tidak bisa sekolah karena dana pendidikannya disunat
sana sini?
Dengan kata lain, apabila ada
calon pemimpin yg beragama Islam namun perilakunya tidak Islami, maka JANGAN DIPILIH!
“Tugas kita harus mengingatkan dia, bla bla bla…”
Ah, menurut saya statement/pernyataan di atas hanya sekedar omong
kosong belaka! Saya tidak yakin dan tidak percaya masih ada pemimpin (di
Indonesia) seperti Umar bin Khatab yg ketika dia berkata,”Jika saya
salah, beritahu saya” dan kemudian ada seseorang yg tidak kalah lantang
berkata,”Umar, jika kamu salah, saya akan luruskan kamu dengan pedang”.
Terlalu bermimpi (kebangetan) jika saya mengharapkan ada pemimpin
seperti itu.
Lha wong pemimpin2 yg sudah ada saja, walau sudah diingatkan
berkali-kali (dari cara yg halus hingga demo besar2an) tidak pernah ada
tindakan yg nyata untuk melakukan perubahan sesuai yg diminta oleh
masyarakat.
“Ulama juga punya tanggung jawab moral dengan menegur pemimpin, bla bla bla…”
Lagi2 pernyataan yg membuai dan menina bobokan. Mengharapkan ulama di
Indonesia untuk bisa bersikap tegas dan menjaga moral di Indonesia
mirip mimpi di siang bolong. Ketika ulama sudah tunduk pada penguasa dan
setiap tindakannya adalah ‘pesanan’ dari penguasa, maka saat itu
matilah moral suatu masyarakat.
Pemimpin yg mengaku Islam namun pada kenyataannya berlaku khianat
(tidak amanah) juga tidak perlu dipilih! Slogan “Pilih ahlinya…” (yg
tentu saja ditujukan kepada dirinya) pada saat kampanye dan ternyata
saat menjabat tidak bisa dibuktikan bahwa dirinya ahli seperti yg
digembar-gemborkan, jelas merupakan suatu
KEBOHONGAN YANG SEDEMIKIAN NYATA! Bahkan jika kita menilik pada hadits Rasululloh SAW di atas,
“Apabila suatu urusan dipercayakan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya.”(HR. Bukhari) maka mestinya pemimpin2 ‘kacangan’ seperti itu banyak2 muhasabah dan bertobat, bukannya mencalonkan diri kembali menjadi pemimpin.
;-)
Jadi, mestinya mencari dan memilih pemimpin bukan sekedar beragama
Islam, namun dia juga mesti memenuhi syarat2 yg telah saya tuliskan di
atas.
Saya sendiri, jika ada pilihan calon pemimpin yg Islam namun berlaku
tidak adil, khianat, tidak bisa dipercaya dengan calon pemimpin yg non
muslim namun memiliki sifat adil, bisa dipercaya, tegas, maka saya akan
memilih pemimpin yg non muslim.
“Wah, anda menyalahi hukum ALLOH SWT, adzab akan menimpa anda!”
“Anda kafir!”
“Anda menyesatkan orang2!”
Sesungguhnya saya berlindung kepada ALLOH SWT atas kesalahan saya
dalam memilih pemimpin ini. Namun, saya mempunyai prinsip yg sama dengan
Ibnu Taimiyah yg mempunyai pendapat sebagai berikut:
“Sesungguhnya ALLOH SWT mendirikan (mendukung) negara yang adil meskipun
negara itu kafir, dan ALLOH SWT tidak mendukung (negara) yang zalim
sekalipun negara itu Muslim.”

pernyataan Ibnu Taimiyah mengenai pemimpin yg muslim tapi dzalim dengan pemimpin non muslim tapi adil.
Pernyataan Ibnu Taimiyah ini akan terasa relevan jika kita melihat
banyak negara2 kafir yg masyarakatnya bisa hidup dengan tenang dan
sejahtera, walau negara tersebut tidak punya sumber daya alam yg cukup.
Kita bisa lihat Jepang. Meski negara kafir itu sering dilanda bencana
gempa, gunung meletus, bahkan tsunami, namun kita bisa lihat
masyarakatnya hidup tenang, tolong menolong, tepat waktu, hormat pada
orang tua. Bandingkan dengan negara kita. Mayoritas Islam, tapi kekayaan
alam diambil orang, sering terjadi amuk massa, pemimpinnya korup,
masyarakatnya banyak yg hidup dengan kondisi yg memprihatinkan.
Arab (Saudi)? Di balik kekayaan sumber daya alam (minyak) yg dimiliki
dan kemakmuran yg dinikmati masyarakat Arab (Saudi), sebenarnya banyak
kebobrokan pemimpin dan masyarakatnya. Hanya saja, seperti tulisan saya
di
sini dan
sini, kaum muslim cenderung enggan untuk membahasnya, dengan berbagai alasan, terutama “jangan mengungkit aib saudaramu”.
;-)
Penutup,
Sebenarnya jika menjadikan figur Rasululloh SAW sebagai seorang pemimpin, maka syarat2 menjadi/memilih pemimpin itu ‘mudah’.
1. Shiddiq (berkata jujur)
2. Fathonah (cerdas)
3. Tabligh (mampu berkomunikasi)
4. Amanah (bisa dipercaya)
Sayangnya, seperti saya tulis di atas, banyak (calon) pemimpin yg
beragama Islam namun tidak memenuhi 4 kriteria di atas. Boro2 4 syarat,
bisa memenuhi 1 saja sudah bisa dikatakan ‘beruntung’.
;-)
Dan bagi saya, memilih pemimpin (beragama) Islam yg jahat sebenarnya
merugikan kita, di dunia dan di akhirat. Di dunia, kita dirugikan dengan
sifat jahatnya yg membuat banyak masyarakat sengsara. Di akhirat, kita
juga akan diminta pertanggungjawabannya karena memilih pemimpin yg
jelas2 jahat/tidak amanah/khianat.
Dan sesungguhnya, dengan memilih pemimpin Islam yg jahat, sebenarnya
kita sudah menjerumuskan saudara kita itu ke dalam jurang neraka.
Mengapa? Karena dengan menjadikan dia sebagai seorang pemimpin, maka dia
akan lebih leluasa melakukan tindak kejahatannya, seperti korupsi,
menyengsarakan masyarakat serta dampak kejahatannya akan lebih luas dan
merusak.
Seharusnya pemimpin Islam yg jahat itu merasa malu mencalonkan diri
sebagai pemimpin karena kejahatan yg dia lakukan sebenarnya mencoreng
nama Islam itu sendiri. Bagaimana mungkin orang2 (terutama non muslim)
bisa percaya Islam itu rahmatan lil ‘alamin (rahmat/anugerah bagi alam
semesta) jika ternyata untuk kelompok masyarakat yg kecil saja sudah
menjadi bencana dan menimbulkan kesengsaraan?
;-)
Terkait dengan pemilihan Gubernur DKI, banyak orang khawatir dengan
pasangan Jokowi-Basuki. Mereka melihat sosok Basuki yg Cina dan non
Islam adalah ancaman bagi kaum muslim (terutama di Jakarta). Tak ayal,
banyak black campaign yg ditujukan kepada mereka, yg (menurut saya)
lucunya juga dilakukan oleh ‘MUI DKI Jakarta’ seperti bisa dilihat di
sini.
Menurut saya, ketakutan itu terlalu berlebihan. Pertama, sosok Jokowi
sendiri adalah muslim yg bisa dipercaya. Hasil kepemimpinannya di Solo
membuktikan bahwa dia memenuhi 4 syarat pemimpin di atas. Kedua, Basuki
berada di posisi (calon) wakil gubernur. Dengan demikian, bukan
pengambil keputusan langsung. Tidak perlu taktu, masih ada Jokowi
(pemimpin yg Islam) yg diharapkan bisa ‘mengendalikan’ Basuki/Ahok agar
tidak melampaui batas, apalagi merugikan kaum muslim (Jakarta). Jika
anda masih takut dg Ahok dan tidak percaya dg Jokowi, coba cek agama
wakil walikota Solo. Yak, non muslim. So, Jokowi sudah punya pengalaman
bekerjasama dengan pemimpin yg non muslim.
Mari kita berdoa, semoga ALLOH SWT selalu melindungi kita dari pemimpin2 jahat, apalagi pemimpin jahat yg beragama Islam. Dan
PILIHLAH PEMIMPIN YG ADIL!
Semoga berguna.