AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Rabu, 28 Mei 2014

PEMIMPIN YANG MEMBAWA AZAB



بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102



 OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Pemimpin ZALIM yang membawa azab

Syaikul Islam Imam al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin pernah memberikan nasihat tentang cara berinteraksi dengan pemimpin yang zalim. 

"Jangan bergaul dengan para pemimpin dan pembesar yang zalim, bahkan jangan menemuinya. Berjumpa dan bergaul dengan mereka hanya membawa petaka. Dan sekiranya kamu terpaksa bertemu, jangan memuji-muji mereka, kerana Allah sangat murka ketika orang fasik dan zalim dipuji. Dan barangsiapa mendoakan mereka panjang umur, maka sesungguhnya dia suka agar Allah didurhakai di muka bumi. "

Tidak hanya tentang pertemuan, bahkan Imam al Ghazail mengeluarkan larangan menerima pemberian dari penguasa yang zalim. 

"Jangan menerima apa-apa pemberian dari golongan pembesar, meski kamu tahu pemberian itu berpunca dari yang halal. Sebab, sikap tamak mereka akan merosakkan agama. Pemberian itu akan menimbulkan rasa simpati (jika diterima). Lalu kamu akan mula menjaga kepentingannya mereka dan berdiam diri atas kezaliman yang mereka lakukan. Dan itu semua telah merosakkan agama. "

Peringatan susulan juga diungkapkan. Sekecil-kecilnya mudharat ketika seseorang menerima hadiah dari penguasa adalah, akan muncul rasa saya terhadap mereka. "Seterusnya kami akan mendoakan mereka kekal dan lama di atas kedudukannya. Mengharapkan orang yang zalim lama berkuasa sama seperti mengharapkan kezaliman berpanjangan atas hamba-hamba Allah dan alam akan musnah binasa. "

Jika sudah demikian, Imam al Ghazali mengajukan soalan yang luar biasa menyeramkan. "Apalagi yang lebih buruk dibanding dengan kerosakan agama?"

Setiap penguasa, selalu mempunyai kemungkinan untuk berbuat zalim, kecuali penguasa yang beriman kepada Allah, berteman dan dikeliling orang-orang yang beriman pula. Mereka saling mengingatkan dan memberi nasihat, hanya demi kebaikan, dan bukan untuk kepentingan.

Tapi ketika seorang penguasa dikelilingi orang-orang yang busuk dan jahat, maka kezaliman hanya tinggal menunggu masa untuk dirasakan. Dan ketika semua itu terjadi, kerosakan akan bermaharajalela, kehancuran di depan mata, menggelincirkan manusia dari jalan kebenaran dan menjadikan kesesatan sebagai panutan. Kerana itu, pemimpin yang zalim masuk menjadi salah satu golongan yang paling dibenci oleh Allah SWT.

Rasulullah bersabda, "Ada empat golongan yang paling Allah benci. Peniaga yang banyak bersumpah, orang fakir yang sombong, orang tua yang berzina, dan seorang pemimpin (penguasa) yang zalim." (HR. An-Nasai)

Bahkan, Rasulullah memberikan penegasan sanksi atas para pemimpin yang zalim. Dalam Shahih Bukhari Muslim disebutkan, Rasulullah bersabda, "Tidaklah ada seseorang hamba yang Allah beri kepercayaan untuk memimpin, kemudian pada saat matinya dia berada dalam (keadaan) melakukan penipuan terhadap rakyatnya, kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk syurga."

Alangkah ruginya para pemimpin seperti ini. Dan alangkah malangnya umat dan rakyat yang mendapat pemimpin seperti ini. Ketika seorang pemimpin zalim berkuasa, maka yang bertanggung jawab bukan hanya para pelaku kekuasaan; raja, maharaja, presiden bahkan gabenor dan kepala desa. Umat ​​dan rakyat pun akan bertanggung jawab memikul beban penguasa yang zalim.

Ibnu Taimiyyah dalam karyanya Siyasah Syari'iyah mengutip sebuah hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. "Barangsiapa yang mengangkat seseorang (pemimpin) untuk mengurusi perkara kaum Muslimin sementara dia mendapati ada seseorang yang lebih layak daripada orang yang diangkatnya, maka dia telah berkhianat pada Allah SWT dan Rasul-Nya."

Dalam hadis lain yang diriwayatkan dari sahabat Jabir ra, Rasulullah juga menegaskan bahawa mereka yeng memilih pemimpin dengan pamrih duniawi maka Allah tidak akan menyapa orang-orang seperti ini di akhirat nanti.

"Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak akan disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih. Mereka adalah; Orang yang mempunyai kelebihan air di padang pasir namun tidak mau memberikannya kepada orang yang berada di tengah perjalanan; orang yang menawarkan barang dagangan kepada orang lain setelah Ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahawa ia telah membelinya sekian dan sekian sehingga lawannya mempercayainya, padahal sebenarnya tidaklah demikian; dan seseorang yang mengikrarkan kepatuhannya kecuali untuk kepentingan dunia (harta), bila sang pemimpin memberinya ia akan patuh dan bila tidak memberinya ia tidak akan mematuhinya. "

Jauh-jauh hari, sesungguhnya Allah telah melakukan perlindungan agar kita tidak mempunyai kecenderungan hati pada orang-orang yang zalim. Sebab, kecenderungan itu akan mengantarkan kita pada azab yang pedih.

"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan." (QS Hud [11]: 113)

Sungguh, seorang pemimpin sejatinya adalah sebuah perisai yang melindungi rakyatnya. Seperti sabda Rasulullah, "Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya. "(HR Muslim)

Pemimpin dan yang dipimpin adalah mata rantai yang tidak boleh dipisahkan. Pemimpin lahir dari dan terpilih oleh orang-orang yang akan dipimpin. Ketika seorang pemimpin bersalah, maka bersalah pula mereka yang memilihnya. Ketika seorang pemimpin berbuat zalim, maka mereka yang memilih juga akan menanggung akibatnya.

Sungguh bukan pekerjaan ringan untuk menjaga dan menghalang-halangi para pemimpin agar tidak berbuat zalim. Orang-orang yang dipimpin harus menjaga para pemimpin dengan cara memastikan bahawa ketua negara melakukan kewajiban-kewajiban besarnya. Kewajiban pemimpin negara adalah menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, melaksanakan undang-undang syariat, dan bahkan kewajiban personal untuk tidak melakukan maksiat.

Umar bin Khattab ra lebih tegas lagi mengatakan, tugas seorang pemimpin adalah menjaga agama. "Pemimpin di angkat untuk menegakkan agama Allah," kata Umar bin Khattab.

Jika kita mampu menjaga para pemimpin yang terpilih, menjadi para pemimpin yang menegakkan agama Allah, menjaga akidah umatnya, memberantas kezaliman dan melaksanakan syariat, sungguh negeri ini ibarat potongan syurga di dunia. Apalagi Rasulullah bersabda bahawa menasihati para pemimpin untuk taat pada Allah, adalah salah satu perilaku yang mengundang ridha-Nya. "Sesungguhnya Allah redha terhadap tiga perkara dan membenci tiga perkara. Dia rela apabila kalian menyembah-Nya, berpegang tegug pada tali-Nya dan menasihati para pemimpin. Dan Allah membenci pembicaraan sia-sia, menghambur-hamburkan harta dan banyak bertanya. "

Ada beberapa perkara yang membuat pemimpin tergelincir pada perilaku zalim. Yang paling berbahaya adalah, ketika seorang pemimpin menuruti hawa nafsu dan mengejar kesenangan dunia. Kemudian, kolusi dan nepotisme yang tidak sesuai dengan peraturan kebenaran. Para penasihat yang buruk dan teman yang jahil, juga mampu menggelincirkan para pemimpin. Jika orang-orang yang lemah dan kaum kuffar dijadikan sebagai pembantu, kehancuran tinggal menunggu waktu. Rela dan mudah terpengaruh pada tekanan antarabangsa, juga menjadi penyebab pemimpin berlaku zalim.

Tugas umat, belum lagi selesai. Setelah terpilih, para pemimpin harus terjaga. Jika tidak, kita juga yang akan merasakan azab dan akibatnya. Sebab, keadilan seorang pemimpin adalah penawar dahaga bagi umatnya dan lebih utama dari ibadah ritual yang dilakukannya. "Keadilan seorang pemimpin walaupun sesaat jauh lebih baik daripada tujuh puluh tahun," demikian sabda Rasulullah. (HR Thabrani)

Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya, maka sungguh keadaan yang akan menimpa. "Yang aku takuti pada umatku adalah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan," sabda Rasulullah. (HR Dawud)

Jika pemimpin-pemimpin sesat telah memimpin, maka manusia akan berada pada penyelasan yang tiada tara seperti yang digambarkan Allah dalam firman-Nya. "Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata:" Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. " (QS al Ahzab [33]: 66)

Dan ketika kita sampai pada tahap itu, penyesalan paling besar pun tidak akan bermakna. Semoga kita adalah umat yang terbaik, dengan pemimpin-pemimpin yang soleh dan muslih. Bukan sebaliknya, umat yang dipimpin para penguasa yang zalim dan bathil. Semoga pemimpin kita tidak seperti pepatah, tongkat yang membawa rebah!

Selasa, 20 Mei 2014

Panduan dari AlQuran dan AlHadith tentang mencari pasangan hidup

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI



















Panduan dari AlQuran dan AlHadith tentang mencari pasangan hidup

Kita tidak boleh berputus asa untuk mencari isteri solehah atau suami soleh. Biar pun sudah banyak kali kita gagal dalam menyintai seseorang dan berniat untuk menjadikannya sebagai pasangan hidup kita dunia dan akhirat.  Biar pun kita pernah bercerai setelah berkahwin dan mengalami kegagalan-kegagalan lain yang seumpamanya. Perkahwinan adalah suatu yang dituntut di dalam Islam kerana ianya adalah satu perkara yang mulia , banyak hikmahnya dan sudah bermula dari dalam syurga dulu lagi. Berikut adalah beberapa panduan dari AlQuran dan AlHadith untuk mencari pasangan hidup agar kita dapat bahagia di dunia dan di akhirat insyaAllah.
“Dan kahwinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkahwin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesuciannya, sehingga Allah memampukan mereka dengan kurniaNya…….”. Surah An-Nur : ayat 32-33.
“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni’mat Allah ?” Surah An Nahl : Ayat 72
“Maha Suci Tuhan Yang telah menciptakan makhluk-makhluk semuanya berpasangan, samada dari yang ditumbuhkan oleh bumi atau dari diri mereka ataupun dari apa yang mereka tidak mengetahuinya.” Surah Yaa Sin : Ayat 36
“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, iaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah kerana ingin memelihara kehormatannya”. (Hadis Riwayat Ahmad 2: 251, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah hadis No. 2518, dan Hakim 2: 160 dari shahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu).
.
Panduan dari AlQuran
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir.” Surah Ar-Ruum : 21
“Dan Allah membuat isteri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika isteri Fir’aun berkata: “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam syurga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim.” (Perumpamaan yang lain bagi orang-orang beriman adalah) Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebahagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimah-kalimah Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.” Surah At-Tahrim: 11-12
Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: “Allah yang Maha Tinggi berfirman bahawasanya Dia membuat perbandingan bagi orang-orang yang membenarkan Allah dan mentauhidkanNya, dengan isteri Fir’aun yang beriman kepada Allah, mentauhidkanNya, dan membenarkan Rasulullah Musa ‘alaihissalam. Sementara wanita ini di bawah penguasaan suami yang kafir, satu dari sekian musuh Allah. Namun kekafiran suaminya itu tidak memudharatkannya, kerana ia tetap beriman kepada Allah. Sementara, termasuk ketetapan Allah kepada makhlukNya adalah seseorang tidaklah dibebani dosa orang lain (tapi masing-masing membawa dosanya sendiri, dan setiap jiwa mendapatkan apa yang ia usahakan.” (Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an/ Tafsir Ath-Thabari, 12/162)
Seorang isteri yang shalihah, ia akan bersabar dengan kekurangan yang ada pada suaminya dan sabar dengan kesulitan hidup bersama suaminya. Tidaklah ia mudah berkeluh kesah di hadapan suaminya atau mengeluhkan suaminya kepada orang lain, apalagi mengumpat suami, menceritakan aib/ cacat dan kekurangan sang suami. Bagaimana pun kekurangan suaminya dan kesempitan hidup bersamanya, ia tetap bersyukur di sela-sela kekurangan dan kesempitan tersebut, kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih lelaki muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir sebagai pendamping hidupnya. Dan tidak memberinya suami seperti suami Asiyah bintu Muzahim yang sangat kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbuat aniaya terhadap isteri kerana ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan. Di dalamnya ada malaikat yang kasar lagi bengis yang tidak mengingkari terhadap apa yang diperintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. Surah At-Tahrim : 6
“Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara (mereka)”. Surah An-Nisaa : ayat 34.
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” Surah Al Baqarah : Ayat 221
“Diharamkan atas kamu (mengahwini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapamu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengahwininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkahwinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Surah An Nisaa’ : Ayat 23
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. Surah Al Furqaan : Ayat 74
.
.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” Surah Al Israa’ : Ayat 32
.
Panduan dari AlHadith
Rasulullah S.a.w bersabda yang mafhumnya, “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (Hadith Riwayat Thabrani dan Hakim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai banyak anak (subur), kerana aku bangga dengan sebab banyaknya kalian di hadapan para nabi nanti pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad No: 13594 , dan disahihkan oleh Ibnu Hibban)
“Wanita dikahwini kerana empat hal: Kerana hartanya, kerana keturunannya, kerana kecantikannya, dan kerana agamanya. Maka hendaklah kamu pilih kerana agamanya, sebab kalau tidak demikian, nescaya kamu akan celaka”. (Hadith Shahih Riwayat Bukhari 6:123, Muslim 4:175).
“Daripada Abu Hurairah RA berkata,sabda Rasullullah SAW kepada seorang lelaki yang hendak berkahwin dengan seorang perempuan: “Adakah kamu telah melihatnya?jawabnya tidak(kata lelaki itu kepada Rasullullah).Pergilah melihatnya supaya perkahwinan kamu terjamin berkekalan.” (Hadis Riwayat Tarmizi dan Nasai)
Rasulullah s.a.w bersabda dalam satu hadis, ‘Jika kamu meminang wanita, maka jika boleh melihat pada wanita tersebut untuk dinikahi, maka laksanakanlah.” (Riwayat Jabir)
Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kahwin, kerana ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” Muttafaq Alaihi.
Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seseorang di antara kamu melamar seseorang yang sedang dilamar saudaranya, hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.
“Barangsiapa memberi kerana Allah, menolak kerana Allah, mencintai kerana Allah, membenci kerana Allah, dan menikah kerana Allah, maka sempurnalah imannya.” (HR. Abu Dawud)
Dari Zakwan ia berkata: Aku mendengar Aisyah berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang seorang gadis perawan yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah ia harus dimintai persetujuan ataukah tidak? Beliau menjawab: Ya, harus dimintai persetujuan! Lalu Aisyah berkata: Aku katakan kepada beliau, perempuan itu merasa malu. Rasulullah saw. bersabda: Itulah tanda setujunya bila ia diam. (Shahih Muslim No.2544)
“Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita (isteri) yang sholehah.” (HR. Muslim)
.
.
Kesimpulan
Banyak lagi panduan lain dari AlQuran dan AlHadith tentang perihal mencari pasangan hidup. Di sini hanya disertakan beberapa sahaja yang sempat saya cari.  Jika anda ada tambahan-tambahan lagi, sila berkongsi di ruangan komen deh ;)
Tiada tempat lagi untuk kita bergantung dan berharap agar diberi kebaikan selain dari bergantung dan berharap kepada Allah S.w.t.  Semoga Dia memberi segala kebaikan dan yang terbaik buat kita semua termasuklah pasangan yang dapat membahagiakan hidup kita di dunia dan di akhirat, amiin.
Ibnu Mas’ud r.a pernah berkata yang maksudnya, “Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah sebagai seorang bujang.”  [Ihya' Ulumuddin dan Tuhfatul 'Arus  hal 20]
“Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah S.W.T akan menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.” (Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas r.a.)
“…(iaitu) orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.” Surah Ar-Ra’d : ayat 28

Mencari Dan Memilih Pemimpin Dari Kacamata Islam

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI




























Mencari Dan Memilih Pemimpin Dari Kacamata Islam


PERNYATAAN ini diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari r.a, Ia berkata, "Aku dan dua orang dari kaumku datang menghadap Nabi Muhammad SAW. Salah seorang mereka berkata, "Ya Rasulullah SAW angkatlah kami sebagai pejabatmu." Satu orang lagi juga mengatakan perkataan yang sama. Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Kami tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya," (HR Bukhari dan Muslim)

Selanjutnya, diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah r.a, Ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda kepadaku, "Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan pemerintahan, sebab apabila engkau diberi jabatan itu karena engkau memintanya maka jabatan tersebut sepenuhnya dibebankan kepadamu. Namun, apabila jabatan tersebut diberikan bukan karena permintaanmu maka engkau akan dibantu dalam melaksanakannya," (HR Bukhari dan Muslim).

Bila mencermati dua hadist Nabi Muhammad SAW ini sangat jelas bahwa dalam ajaran Agama Islam tidak boleh memilih pemimpin yang minta dipilih atau pemimpin yang mencalokan diri menjadi calon pemimpin. Dalam ajaran Islam tidak dibenarkan memilih pemimpin yang mencalonkan diri, pemimpin tidak boleh meminta untuk dipilih menjadi pemimpin akan tetapi pemimpin itu harus diberi, diamanahkan ummat atau rakyat untuk dipilih menjadi pemimpin.

Dari hadist Nabi Muhammad SAW itu terlihat adanya larangan ummat Islam untuk memilih pemimpin yang mencalonkan diri, pemimpin yang minta dipilih, pemimpin yang memohon dukungan, menghiba-hiba minta dipilih menjadi calon pemimpin.

BERAT MENJADI PEMIMPIN

Menjadi pertanyaan begitu tegas Nabi Muhammad SAW melarang ummatnya untuk jangan memilih pemimpin yang minta dipilih menjadi pemimpin. Hal ini sangat beralasan dan sangat tepat karena sangat berat menjadi seorang pemimpin.

Beratnya menjadi pemimpin terlihat dalam hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Auf bin Malik, Rasullullah bersabda, "Jika kalian mau, aku beri tahu kepada kalian tentang jabatan, apa hakikat jabatan itu? Awalnya adalah celaan, yang kedua adalah penyesalan dan yang ketika adalah adzab di hari kiamat, kecuali orang yang berlaku adil. Bagaimana mungkin ia dapat berlaku adil terhadap keluarga-keluarganya?" (HR al-Bazzar).

Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan." (HR Bukhari). Hadist berikutnya Nabi Muhammad SAW bersabda, "Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebenarnya di dunia ini sudah ditunjukkan Allah SWT para pemimpin yang pada dasarnya menyesal menjadi pemimpin. Hal ini terlihat para pemimpin yang habis atau sedang menjabat harus berurusan dengan hukum dan masuk penjara. Namun, hadist Nabi Muhammad SAW itu juga mengatakan kebahagiaan para pemimpin yang dapat berlaku adil. Faktanya, banyak pemimpin hari ini yang belum mampu menjalankan amanah yang dimintanya sendiri.

Rasulullah SAW bersabda, "Apabila suatu urusan dipercayakan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya." (HR. Bukhari). Satu tanda menjadi pemimpin itu tidak mudah, sangat sulit dan Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan seorang pemimpin memberikan pedoman untuk pemimpin yang baik.

Syarat menjadi pemimpin itu pertama harus Shiddiq (berkata jujur), kedua harus Fathonah (cerdas), ketiga harus Tabligh (mampu berkomunikasi) dan keempat harus Amanah (bisa dipercaya). Empat syarat ini tidak mudah dan harus ada dalam setiap diri pemimpin. Keempat syarat ini harus ummat atau rakyat yang menilainya, apakah ada pada diri seseorang, apa bila ada maka ummat atau rakyat yang memilihnya menjadi pemimpin.

Jika ada pada diri seseorang yang empat syarat ini maka layaklah seseorang itu menjadi pemimpin. Tidak perlu seseorang itu minta dipilih menjadi pemimpin, cukup seseorang itu memenuhi syarat yang empat itu. Empat syarat itu harus dimiliki dan harus dinilai ummat atau rakyat bahwa seseorang itu memiliki atau tidak empat syarat tersebut. Apa bila tidak dimiliki maka ummat atau rakyat tidak akan memilihnya menjadi pemimpin.

Empat syarat ini mutlak harus dimiliki calon pemimpin maka dalam ajaran Islam melarang seseorang meminta dirinya untuk dipilih menjadi pemimpin. Tidak dibenarkan meminta-minta untuk dipilih menjadi pemimpin. Tidak boleh mencalonkan diri dan yang dibenarkan dalam ajaran Islam adalah dicalonkan atau dipilih ummat atau rakyat karena ummat atau rakyat menilai seseorang itu layak menjadi seorang pemimpin.

Pemimpin yang dimaksud Nabi Muhammad SAW itu adalah pemimpin yang terkait dengan pemimpin ranah publik yakni mulai dari kepala desa (Lurah), bupati (wali kota), gubernur, legislatif, DPD ataupun presiden. Ajaran Agama Islam sudah memberikan petunjuk yang jelas mengenai bagaimana mencari dan memilih pemimpin, baik melalui ayat ayat dalam Al Qur'an maupun hadits hadits Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 28 yang artinya, "Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)."

Siapa yang dipilih calon pemimpin menurut Agama Islam ditegaskan Allah SWT lagi dalam Al Qur'an Surat An Nisa ayat 144 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?"

Peringatan Allah SWT ini cukup tegas dalam Al Qur'an Surat Al Maidah ayat 51 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim."

Dari hadist dan firman Allah SWT ini dalam memilih calon pemimpin menurut ajaran Agama Islam cukup jelas dan tegas, tinggal lagi bagaimana implementasinya dalam kehidupan ummat Islam sehari-hari. Hal ini penting karena pemimpin menjadi penentu dalam kehidupan ummat Islam sehari-hari dan ummat Islam harus mengetahui dengan baik dan benar tentang kepemimpinan dan tentang tata cara memilih pemimpin menurut ajaran Agama Islam.

Setiap ummat Islam harus mengetahui tata cara memilih calon pemimpin menurut ajaran Agama Islam agar diperoleh pemimpin yang benar-benar baik dan benar sehingga mampu membawa ummat ke jalan yang baik dan benar pula. Bila ini dapat terwujud maka kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat akan diperoleh ummat Islam.

Salah satu hal yg tidak bisa lepas dari kehidupan kita sebagai muslim adalah memilih pemimpin. Yang dimaksud dengan pemimpin di sini terutama yg terkait dengan pemimpin di ranah publik, seperti walikota, gubernur, ataupun presiden.
Islam sendiri sudah memberikan petunjuk yg jelas mengenai bagaimana mencari dan memilih pemimpin, baik melalui ayat2 di Al Qur’an maupun hadits2 dari Rasululloh SAW.
Pertama, beragama Islam.
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran(3):28)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (An Nisa(4):144)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Al Maidah(5):51)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (Al Maidah(5):57)
Kedua, laki-laki.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An Nisa(4):34)
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang mengangkat seorang wanita sebagai pemimpinnya.” (HR. Bukhari)
Ketiga, dewasa (baligh). Baligh di sini terutama mampu berpikir dengan baik, serta sudah bisa membedakan hal2 yg benar dan salah.
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (An Nisa(4):5)
Keempat, adil. Pengertian adil di sini adalah adil secara umum, tidak berat sebelah memihak salah satu golongan, terutama kelompok yg berkaitan dengan dirinya atau menguntungkan dirinya.
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shaad(38):26)
Kelima, amanah dan berlaku profesional serta mempunyai ilmu/pengetahuan di bidangnya. Dengan berlaku amanah dan mempunyai pengetahuan di bidangnya, maka seorang pemimpin akan dipercaya dan bisa dengan mudah memecahkan persoalan2 yg timbul.
“Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf(12):55)
Kita juga sering mendengar hadits Rasululloh SAW sebagai berikut
“Apabila suatu urusan dipercayakan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya.” (HR. Bukhari)
Keenam, sehat fisik dan mental, karena seorang pemimpin seringkali dituntut bekerja keras tidak mengenal waktu serta banyak mendapat tantangan dan serangan dari lawan2 politiknya.
“Dari Abu Dzar berkata, saya bertanya kepada Rasululloh SAW, mengapa engkau tidak meminta saya memegang sebuah jabatan?; Abu Dzar berkata lagi, lalu Rasululloh SAW menepuk punggung saya dengan tangannya seraya berkata; Wahai Abu Dzar,sesungguhnya kamu seorang yang lemah. Padahal, jabatan itu sesungguhnya adalah amanat (yang berat untuk ditunaikan)” (HR. Muslim)
Rasululloh SAW juga menyatakan agar TIDAK MEMILIH SESEORANG MENJADI PEMIMPIN KARENA YBS MENGINGINKANNYA.
“Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari r.a, ia berkata, “Aku dan dua orang dari kaumku datang menghadap Nabi saw. Salah seorang mereka berkata, ‘Ya Rasululloh SAW angkatlah kami sebagai pejabatmu.’ Satu orang lagi juga mengatakan perkataan yang sama. Lalu Rasululloh SAW bersabda, ‘Kami tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya’,” (HR Bukhari [7149] dan Muslim [1733]).
Dalam riwayat lain
“Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah r.a, ia berkata, “Rasululloh SAW bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan pemerintahan, sebab apabila engkau diberi jabatan itu karena engkau memintanya maka jabatan tersebut sepenuhnya dibebankan kepadamu. Namun apabil jabatan tersebut diberikan bukan karena permintaanmu maka engkau akan dibantu dalam melaksanakannya’,” (HR Bukhari [7147] dan Muslim [16522]).
Diriwayatkan dari Auf bin Malik dari Nabi saw. beliau bersabda, “Jika kalian mau, aku beri tahu kepada kalian tentang jabatan, apa hakikat jabatan itu? Awalnya adalah celaan, yang kedua adalah penyesalan dan yang ketika adalah adzab di hari kiamat, kecuali orang yang berlaku adil. Bagaimana mungkin ia dapat berlaku adil terhadap keluarga-keluarganya?” (HR al-Bazzar [1597]).
“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (HR Bukhari no. 7148)
“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733)
Dari sekian banyak syarat dan ketentuan dalam mencari dan memilih seorang pemimpin, poin 1 dan 2, yakni beragama Islam dan laki-laki seringkali menjadi bahan perdebatan tiada akhir. Pro dan kontra seringkali terjadi dan berfokus pada 2 poin ini,terutama di Indonesia.
Tahun 1999, sempat terjadi perdebatan sengit ketika Megawati hendak naik menjadi presiden. Mayoritas ulama dan kaum muslim menolak pencalonan Megawati menjadi presiden terutama dengan dalil bahwa harusnya laki2 yg lebih berhak menjadi pemimpin. Namun, ketika Megawati menjadi presiden apa yg terjadi? Yg menjadi Wakil Presiden adalah Ketua dari Partai Pembangunan Persatuan (PPP) yg notabene partai Islam. Ironis kan? :-)
Demikian pula dengan ‘predikat’ agama Islam yg mesti disandang oleh pemimpin. Ada yg mengatakan bahwa agama Islam di sini bukan syarat mutlak, alias mesti ada catatan khusus.
Saya setuju dengan pendapat ini, terutama jika kaum muslim hidup di negara/lingkungan yg mayoritas non muslim. Sebagai contoh, kaum muslim di Amerika Serikat jelas tidak bisa memilih pemimpin (presiden) yg beragama Islam, terutama karena belum ada calon presiden dari kalangan Islam. Namun, di beberapa negara bagian, kaum muslim sudah bisa mempunyai senator yg beragama Islam.
Yang seringkali menjadi ganjalan di hati saya adalah sikap kaum muslim yg menjadikan Islam sebagai SATU-SATUNYA SYARAT DALAM MEMILIH PEMIMPIN. Pokoknya Islam, pokoknya mesti yg seagama, seiman, pilih yg terbaik di antara yg terburuk, bla bla bla.
Saya, terus terang katakan bahwa orang2 yg memilih dg dasar demikian sama halnya dengan membeli kucing dalam karung. Mungkin pernyataan ini terlalu kasar atau liberal, namun mari kita kaji dan telaah lebih mendalam sebelum anda marah ataupun tidak suka apalagi mencap saya sebagai orang kafir ataupun orang liberal (JIL).
“Pokoknya Islam” ini seringkali menjadikan kaum muslim (terutama di Indonesia) menjadi object politik yg selalu dibodohi oleh orang2 licik, culas, dan jahat yg kebetulan memegang tampuk kekuasaan. ‘Sialnya’ lagi, orang2 tersebut ternyata beragama Islam pula, orang2 yg mengaku dan menyatakan bahwa sesama muslim itu saudara namun dalam kenyataannya (dalam berpolitik) mereka seringkali tidak ragu menusuk dari belakang kaum muslim.
Perilaku dan sikap “Pokoknya Islam” ini pula yg menjadikan agama Islam menjadi bahan ejekan, cemoohan, dan dihina karena ternyata pemimpin2 (beragama) Islam yg dipilih ternyata memiliki sifat korup, jahat, culas, licik, khianat, dan perilaku2 tidak Islami lainnya.
“Ah, kalo itu kan urusan dia dengan ALLOH SWT.”
“Setidaknya itu yg terbaik dari yg terburuk.”
“Tugas kita harus mengingatkan dia, bla bla bla…”
Pernyataan2 di atas mungkin pernah kita dengar, tapi apa iya lantas kita hanya berwacana dan beropini dengan pernyataan2 di atas?
Menurut saya, korupsi itu tidak sekedar kejahatan dan kemaksiatan yg bisa diselesaikan urusannya dengan ALLOH SWT. Namun, juga terkait (sangat) erat dengan hajat hidup orang banyak (masyarakat/manusia). Bagi saya, seorang koruptor yg (ingin) bertobat tidak cukup hanya dengan berdoa kepada ALLOH SWT agar dosa2nya diampuni. Akan tetapi, dia juga mesti mengembalikan hak-hak masyarakat yg telah dia rampas dengan cara yg lalim.
Berapa banyak masyarakat yg mati karena dana kesehatan dikorupsi? Berapa banyak pengungsi dan orang yg tertimpa bencana mati kelaparan karena bantuan yg mereka tidak jauh dari memadai atau layak? Berapa banyak anak-anak yg tidak bisa sekolah karena dana pendidikannya disunat sana sini?
Dengan kata lain, apabila ada calon pemimpin yg beragama Islam namun perilakunya tidak Islami, maka JANGAN DIPILIH!
“Tugas kita harus mengingatkan dia, bla bla bla…”
Ah, menurut saya statement/pernyataan di atas hanya sekedar omong kosong belaka! Saya tidak yakin dan tidak percaya masih ada pemimpin (di Indonesia) seperti Umar bin Khatab yg ketika dia berkata,”Jika saya salah, beritahu saya” dan kemudian ada seseorang yg tidak kalah lantang berkata,”Umar, jika kamu salah, saya akan luruskan kamu dengan pedang”. Terlalu bermimpi (kebangetan) jika saya mengharapkan ada pemimpin seperti itu.
Lha wong pemimpin2 yg sudah ada saja, walau sudah diingatkan berkali-kali (dari cara yg halus hingga demo besar2an) tidak pernah ada tindakan yg nyata untuk melakukan perubahan sesuai yg diminta oleh masyarakat.
“Ulama juga punya tanggung jawab moral dengan menegur pemimpin, bla bla bla…”
Lagi2 pernyataan yg membuai dan menina bobokan. Mengharapkan ulama di Indonesia untuk bisa bersikap tegas dan menjaga moral di Indonesia mirip mimpi di siang bolong. Ketika ulama sudah tunduk pada penguasa dan setiap tindakannya adalah ‘pesanan’ dari penguasa, maka saat itu matilah moral suatu masyarakat.
Pemimpin yg mengaku Islam namun pada kenyataannya berlaku khianat (tidak amanah) juga tidak perlu dipilih! Slogan “Pilih ahlinya…” (yg tentu saja ditujukan kepada dirinya) pada saat kampanye dan ternyata saat menjabat tidak bisa dibuktikan bahwa dirinya ahli seperti yg digembar-gemborkan, jelas merupakan suatu KEBOHONGAN YANG SEDEMIKIAN NYATA! Bahkan jika kita menilik pada hadits Rasululloh SAW di atas, “Apabila suatu urusan dipercayakan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya.”(HR. Bukhari) maka mestinya pemimpin2 ‘kacangan’ seperti itu banyak2 muhasabah dan bertobat, bukannya mencalonkan diri kembali menjadi pemimpin. ;-)
Jadi, mestinya mencari dan memilih pemimpin bukan sekedar beragama Islam, namun dia juga mesti memenuhi syarat2 yg telah saya tuliskan di atas.
Saya sendiri, jika ada pilihan calon pemimpin yg Islam namun berlaku tidak adil, khianat, tidak bisa dipercaya dengan calon pemimpin yg non muslim namun memiliki sifat adil, bisa dipercaya, tegas, maka saya akan memilih pemimpin yg non muslim.
“Wah, anda menyalahi hukum ALLOH SWT, adzab akan menimpa anda!”
“Anda kafir!”
“Anda menyesatkan orang2!”
Sesungguhnya saya berlindung kepada ALLOH SWT atas kesalahan saya dalam memilih pemimpin ini. Namun, saya mempunyai prinsip yg sama dengan Ibnu Taimiyah yg mempunyai pendapat sebagai berikut:
“Sesungguhnya ALLOH SWT mendirikan (mendukung) negara yang adil meskipun negara itu kafir, dan ALLOH SWT tidak mendukung (negara) yang zalim sekalipun negara itu Muslim.”
pernyataan Ibnu Taimiyah mengenai pemimpin yg muslim tapi dzalim dengan pemimpin non muslim tapi adil.
Pernyataan Ibnu Taimiyah ini akan terasa relevan jika kita melihat banyak negara2 kafir yg masyarakatnya bisa hidup dengan tenang dan sejahtera, walau negara tersebut tidak punya sumber daya alam yg cukup. Kita bisa lihat Jepang. Meski negara kafir itu sering dilanda bencana gempa, gunung meletus, bahkan tsunami, namun kita bisa lihat masyarakatnya hidup tenang, tolong menolong, tepat waktu, hormat pada orang tua. Bandingkan dengan negara kita. Mayoritas Islam, tapi kekayaan alam diambil orang, sering terjadi amuk massa, pemimpinnya korup, masyarakatnya banyak yg hidup dengan kondisi yg memprihatinkan.
Arab (Saudi)? Di balik kekayaan sumber daya alam (minyak) yg dimiliki dan kemakmuran yg dinikmati masyarakat Arab (Saudi), sebenarnya banyak kebobrokan pemimpin dan masyarakatnya. Hanya saja, seperti tulisan saya di sini dan sini, kaum muslim cenderung enggan untuk membahasnya, dengan berbagai alasan, terutama “jangan mengungkit aib saudaramu”. ;-)
Penutup,
Sebenarnya jika menjadikan figur Rasululloh SAW sebagai seorang pemimpin, maka syarat2 menjadi/memilih pemimpin itu ‘mudah’.
1. Shiddiq (berkata jujur)
2. Fathonah (cerdas)
3. Tabligh (mampu berkomunikasi)
4. Amanah (bisa dipercaya)

Sayangnya, seperti saya tulis di atas, banyak (calon) pemimpin yg beragama Islam namun tidak memenuhi 4 kriteria di atas. Boro2 4 syarat, bisa memenuhi 1 saja sudah bisa dikatakan ‘beruntung’. ;-)
Dan bagi saya, memilih pemimpin (beragama) Islam yg jahat sebenarnya merugikan kita, di dunia dan di akhirat. Di dunia, kita dirugikan dengan sifat jahatnya yg membuat banyak masyarakat sengsara. Di akhirat, kita juga akan diminta pertanggungjawabannya karena memilih pemimpin yg jelas2 jahat/tidak amanah/khianat.
Dan sesungguhnya, dengan memilih pemimpin Islam yg jahat, sebenarnya kita sudah menjerumuskan saudara kita itu ke dalam jurang neraka. Mengapa? Karena dengan menjadikan dia sebagai seorang pemimpin, maka dia akan lebih leluasa melakukan tindak kejahatannya, seperti korupsi, menyengsarakan masyarakat serta dampak kejahatannya akan lebih luas dan merusak.
Seharusnya pemimpin Islam yg jahat itu merasa malu mencalonkan diri sebagai pemimpin karena kejahatan yg dia lakukan sebenarnya mencoreng nama Islam itu sendiri. Bagaimana mungkin orang2 (terutama non muslim) bisa percaya Islam itu rahmatan lil ‘alamin (rahmat/anugerah bagi alam semesta) jika ternyata untuk kelompok masyarakat yg kecil saja sudah menjadi bencana dan menimbulkan kesengsaraan? ;-)
Terkait dengan pemilihan Gubernur DKI, banyak orang khawatir dengan pasangan Jokowi-Basuki. Mereka melihat sosok Basuki yg Cina dan non Islam adalah ancaman bagi kaum muslim (terutama di Jakarta). Tak ayal, banyak black campaign yg ditujukan kepada mereka, yg (menurut saya) lucunya juga dilakukan oleh ‘MUI DKI Jakarta’ seperti bisa dilihat di sini.
Menurut saya, ketakutan itu terlalu berlebihan. Pertama, sosok Jokowi sendiri adalah muslim yg bisa dipercaya. Hasil kepemimpinannya di Solo membuktikan bahwa dia memenuhi 4 syarat pemimpin di atas. Kedua, Basuki berada di posisi (calon) wakil gubernur. Dengan demikian, bukan pengambil keputusan langsung. Tidak perlu taktu, masih ada Jokowi (pemimpin yg Islam) yg diharapkan bisa ‘mengendalikan’ Basuki/Ahok agar tidak melampaui batas, apalagi merugikan kaum muslim (Jakarta). Jika anda masih takut dg Ahok dan tidak percaya dg Jokowi, coba cek agama wakil walikota Solo. Yak, non muslim. So, Jokowi sudah punya pengalaman bekerjasama dengan pemimpin yg non muslim.
Mari kita berdoa, semoga ALLOH SWT selalu melindungi kita dari pemimpin2 jahat, apalagi pemimpin jahat yg beragama Islam. Dan PILIHLAH PEMIMPIN YG ADIL!
Semoga berguna.


Isnin, 19 Mei 2014

Peristiwa Akhir Zaman Selepas turunnya Dan Setelah Kewafatan Nabi Isa

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI



Peristiwa Akhir Zaman Selepas turunnya Dan Setelah Kewafatan Nabi Isa AS

Dikisahkan apabila tiba di penghujung zaman nanti akan terjadilah satu peperangan yang terbesar dalam sejarah manusia iaitu peperangan diantara umat islam menentang kufar.
Perang Dunia ke 3 yang juga dikenali sebagai “Armagedon” ini merupakan perang terakhir antara kaum muslimin dengan orang-orang Yahudi sebelum kedatangannya hari kiamat.
Dalam perang tersebut pemimpin mereka Dajjal terbunuh, hingga seluruh Yahudi juga akan terbunuh sebanyak 70.000 orang. Itulah peperangan terakhir buat umat islam yang mempunyai TARAF tinggi bersama tentera Al Mahdi dan subuh yang terakhir sebelum dajjal terbunuh oleh Nabi Allah iaitu Isa as. Diriwayatkan apabila hampir subuh maka Imam Mahdi r.a pun memerintahkan tenteranya bersiap sedia untuk menunaikan solat subuh.
Bilal pun melaungkan azan kemudian masing-masing bersolat sunat fajar apabila semuanya selesai. Bilal pun berdiri dan melaungkan Iqomah menandakan solat akan didirikan .
Pada masa yg sama di luar sana 2 malaikat telah turun membawa seorang keturunan bani Israil dari langit, beliau adalah anak seorang perempuan yg suci. Beliau ialah Nabi Isa a.s . Nabi Isa a.s diturunkan ke menara putih di Masjid (sesetengah perpendapat Nabi Isa a.s turun di Masjid Ummayad, Damascus Syria) di mana Imam Mahdi r.a dan kaum muslimin bersolat subuh.
Turunnya Nabi Isa a.s untuk membuat perhitungan yg terakhir . Inilah detik terpadamnya fitnah yg menguasai manusia berabad – abad lamanya. Fitnah kaumnya tentang kematiannya disalib akan diperlihat kebenaran Al Quran bahawa jasadnya dinaikkan ke langit dan dikembalikan ke dunia untuk dipersaksikan keseluruhan umatnya yang telah sesat. Tanpa berlengah lagi nabi Isa a.s pun turun ke ruangan solat .Kelihatan ramai manusia sudah berdiri dan bersiap -siap untuk solat subuh .
Di dlm sebuah hadis ada menceritakan ketika Nabi Isa a.s turun ke bumi baginda memakai jubah yg berwarna putih kekuning-kuningan, berambut panjang sehingga mencecah bahu, rambutnya seolah-olah kelihatan basah seolah-olah ada air yg akan menitis ke pakaiannya, apabila di mengibaskan rambutnya jatuhlah mutiara daripadanya.
Diriwayatkan bahawa manusia yang pertama yang mengetahui turunnya Nabi Isa a.s ialah pesuruhnya iaitu dikenali sebagai Zarnab Bar’ala. Beliau hidup sejak zaman Rasulullah saw dan dipanjangkan usianya melebihi 2000 tahun. Pesuruh nabi Isa as. itu ditempatkan di suatu bukit dan di doakan umur yang panjang sehingga turunnya nabi Isa a.s dari langit. Maka Nabi Isa a.s pun mengucapkan salam kepada semua kaum muslimin, semua orang di situ mendengar dengan jelas salam itu lalu mereka semua berpaling ke arah suara itu. Masing-masing tertanya-tanya siapakah gerangan manusia yang baru memberi salam ini, tanpa berlengah maka Zarnab Bar’ala memperkenalkan manusia itu ialah Nabi Isa as Putera Maryam.
Maka tersenyumlah kaum muslimin ,suasana diselubungi perasaan syukur dan gembira.Nabi Isa a.s menyapa dan bersalam-salaman dengan kaum muslimin. Tidak menjadi masalah baginya untuk bermesra dengan kaum muslimin kerana baginda mengetahui banyak bahasa dunia. Tanpa berlengah Nabi Isa a.s dipersilakan ke hadapan untuk mengimamkan solat subuh Itulah subuh yg terakhir sebelum Dajjal lenyap di dunia yg fana ini.
Imam Mahdi yg berumur .......... tahun ketika itu mempersilakan Nabi Isa a.s manjadi Imam tetapi ditolak pelawaan itu dengan baik olehnya . Dlm hal ini Rasulullah saw mengulas dlm satu hadisnya …. “perbuatan Nabi Isa a.s adalah satu penghormatan untuk umat ini”.
Setelah selesai sahaja Imam Mahdi r.a dan nabi Isa a.s serta kaum muslimin bersolat subuh berjamaah. Nabi Isa a.s memerintahkan supaya pintu kubu di buka ,setelah pintu kubu dibuka maka kelihatanlah Si Mata Satu [Dajjal Al-Masih].
bersama tenteranya telah berbaris dan bersedia untuk berperang di pinggang-pinggang mereka terdapat pedang tantinum yg bersalut emas dan mereka semua bertongga kaum Yahudi ketika itu berjumlah seramai 70,000 tentera belum lagi termasuk bilangan jin dan kaum-kaum lain yg terpedaya dan mengikuti dajjal.
Nabi Isa yg berumur 33 tahun itu maju ke hadapan bersama-sama tentera Islam. Nabi Isa ketika mara ke hadapan sambil menundukkan kepalanya, apabila sampai betul-betul setentang dihadapan dajjal barulah Nabi Isa a.s mengangkat kepalanya dan merenung Dajjal dengan matanya . Dengan izin Allah maka keluarlah mukjizat dari mata Nabi Isa a.s dan terkena Dajjal , akibat renungan tajam Nabi Isa a.s itu jasad dajjal menjadi cair.
Maka kelihatanlah jelas muka sebenar dajjal dan tubuh badannya. Kaum manusia yg sesat tersihir terkejut melihat perubahan tuhannya(dajjal) itu maka mereka tersedar bahawa mereka telah di tipu dan lari bertempiaran melepaskan diri. Sesungguhnya tuhan yg diikuti selama 37 hari itu sebenarnya adalah dajjal.
Seperti maksud drp potongan hadis, "kemudian ia (Nabi Isa a.s) pergi menuju mereka (dajjal dan tenteranya) dan apabila ia dilihat oleh musuh Allah maka ia (dajjal) akan mencair seperti garam yg mencair, sekiranya ia membiarkan hal itu ,sesungguhnya musuh Allah akan binasa….."
Dajjal sangat mengenal manusia yg berdiri di hadapannya itu, sebenarnya mereka sudah pernah bertemu sebelum ini iaitu lebih kurang ............M tahun yg lampau. Maka dajjal sedar ajalnya sudah sampai, amat bodohlah sekiranya dia cuba untuk memerangi Nabi Isa a.s. Sudah tentu dia akan mati terbunuh dihadapan pengikutnya. Maka habislah gelaran pengiktirafan TARAF Tuhan yg baru diperolehi itu drp manusia.
Dajjal mengambil keputusan untuk melarikan diri, secara-tergesa-gesa lari ke arah timur apabila tiba di sana alangkah terkejutnya kerana di dapati musuhnya sudah ada di hadapan nya. Tanpa berlengah dajjal lari ke arah barat, sesampai di sana alangkah terkejutnya buat ke dua kalinya, Nabi Isa a.s sudah ada di hadapannya.
Sesungguhnya pada ketika ini ia merasa dekatnya ajal, dajjal tidak berputus asa lalu dia lari ke arah negaranya iaitu Israil, tetapi sebelum sampai ke kuilnya iaitu di suatu tempat di pintu masuk Lud, Dia melihat Nabi Isa a.s sudah berdiri di situ dengan sebatang lembing di tangannya. Pada kali ini Nabi Isa a.s sudah tidak lagi memberi peluang kepada dajjal.
Nabi Isa a.s merejam lembing ke arah dajjal dan seterusnya lembing itu menusuk tepat ke dada dajjal dan serta merta dajjal pun mati,maka tamatlah riwayat tukang fitnah terbesar di sepanjang zaman. Nabi Isa a.s kembali menemui kaum muslimin dan menunjukkan lembingnya yg dibasahi darah dajjal. Seperti yg diceritakan di sebuah hadis yg maksudnya ….. “akan tetapi Allah mengkehendaki untuk membunuhnya di tangan Isa Ibnu Maryam, maka Isa memperlihatkan darah dajjal di hujung tombaknya”
Kaum yahudi bertempiaran lari lalu bersembunyi di sebalik pokok-pokok dan batu-batu , mereka ketakutan kerana tuhannya dajjal sudah mati dibunuh, tidak ada sesiapa yang akan menaungi mereka.
Kaum muslimin ketika itu nekad mengejar tentera yahudi dan menghabiskan semua kaum yahudi zionis di muka bumi yg berabad mencengkam dunia.
Bukan setakat kaum muslimin memerangi kaum yahudi bahkan termasuklah pokok –pokok dan batu-batu. sekiranya mereka bersembunyi dibelakang pokok-pokok atau batu-batu. Pokok -pokok dan batu-batu itu itu akan bercakap “Wahai muslim dibelakangku ini ada orang yahudi maka bunuhlah ia ! lalu kaum muslimin itupun membunuh yahudi yg bersembunyi itu. Seperti yang diceritakan pada suatu hadis yang maksudnya ” Hai Muslim,hai hamba Allah, hai orang yg bertauhid, dibelakangku ada orang yahudi yang bersembunyi, maka datanglah ke sini dan bunuhlah ia ” hadis yang lain menyebut ”…. sehingga pohon dan batu-batun memanggil ” wahai roh Allah di sini ada Yahudi ” maka tidak ada seorang pun pengikut dajjal yg tidak di bunuh oleh Isa “.
Surah Al-Mai'dah -Ayat 5:78
"Orang-orang kafir Yahudi dari Bani Israil telah dilaknat (di dalam Kitab-kitab Zabur dan Injil) melalui lidah Nabi Daud dan Nabi Isa ibni Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka menderhaka dan selalu menceroboh".
- Seperti pencerobohan yahudi ke atas Palestin apa yg kita lihat sekarang ini dan telah terkandung dlm surah Al-Mai'dah di atas sebagai bukti sahih.
Di dalam sepotong hadis Rasulullah telah bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka, sehingga bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau kayu, lantas batu dan kayu itu berkata, “Wahai orang muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah ia,” kecuali pohon Gharqad kerana ia termasuk pohon Yahudi” (HR. Bukhari dan Muslim).
Surah Al-Mai'dah -Ayat 5:41
"Wahai Rasul Allah! Janganlah engkau menanggung dukacita disebabkan orang-orang yang segera menceburkan diri dalam kekufuran, iaitu dari orang-orang yang berkata dengan mulutnya: "Kami tetap beriman", padahal hatinya tidak beriman; demikian juga dari orang-orang Yahudi, mereka orang-orang yang sangat suka mendengar berita-berita dusta; mereka sangat suka mendengar perkataan golongan lain (pendita-pendita Yahudi) yang tidak pernah datang menemuimu; mereka ini mengubah serta meminda perkataan-perkataan (dalam Kitab Taurat) itu dari tempat-tempatnya yang sebenar. Mereka berkata: "Jika disampaikan kepada kamu hukum seperti ini maka terimalah dia, dan jika tidak disampaikannya kepada kamu, maka jagalah diri baik-baik". Dan sesiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka engkau tidak berkuasa sama sekali (menolak) sesuatu apapun (yang datang) dari Allah untuknya. Mereka ialah orang-orang yang Allah tidak mahu membersihkan hati mereka; bagi mereka kehinaan di dunia, dan di akhirat kelak mereka beroleh azab seksa yang besar".
Dajjal adalah seorang manusia dari keturunan Yahudi. Dia bukan Jin atau apa jua makhluk lain selain ia sebagai manusia yang ditangguhkan ajalnya “Minal Munzharin” seperti halnya Nabi Isa a.s. yang diangkat oleh Allah SWT ke atas langit dan ditangguhkan kematiannya sehingga beliau nantinya turun semula ke atas muka bumi ini (Masjid Ummayad, Damascus Syria) lalu beliau akan mati dan dikuburkan di Madinah Al Munawwarah bersebelahan makam baginda Nabi Muhammad SAW. Sama juga halnya dgn Nabi Khaidir a.s., para malaikat, para ambia dan iblis yang ditangguhkan kematian sehingga kiamat nanti..

Manusia Setelah Kewafatan Nabi Isa Di Akhir Zaman

Kedatangan Nabi Isa as akan didahului oleh keadaan dunia yang dipenuhi kezaliman, kesengsaraan dan peperangan besar yang melibatkan seluruh penduduk dunia, setelah itu kemunculan Imam Mahdi yang akan menyelamatkan kaum muslimin, kemudian kemunculan dajjal yang akan berusaha membunuh Imam Mahdi. Setelah dajjal menyebarkan fitnahnya selama 40 hari, maka Nabi Isa as akan diturunkan dari langit untuk menumpaskan dajjal.

Nabi Isa as akan tinggal di bumi selama 40 tahun, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits sahih dalam Sunan Abi Dawud, dari Abu Hurairah, "Baginda tinggal di bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan orang-orang Muslim menyalatinya." {1}

Janji Allah pasti berlaku pada semua hambanya, semua yang bernyawa pasti akan mati, begitu juga Nabi Isa as. Setelah menjadi pemimpin yang adil di akhir zaman, Allah SWT akan mewafatkan Nabi Isa. Hanya Allah SWT saja yang tahu bila dan dimana Nabi Isa akan diwafatkan. Setelah wafatnya Nabi Isa as dunia kemudian akan mengalami kiamat. 

HAPUSNYA ISLAM, HILANGNYA AL-QURAN DAN MUSNAHNYA ORANG-ORANG SOLEH

Setelah Islam tersebar meliputi Timur dan Barat, Utara dan Selatan akan tiba pada satu masa Islam kembali redup. Kejahatan berkembang, agama Agung dan al-Quran hilang, ilmu lenyap dan Allah SWT mencabut nyawa orang-orang yang dalam jiwanya masih mempunyai iman. Dengan demikian tidak tersisa di bumi, kecuali makhluk-makhluk yang paling jahat dan atas merekalah kiamat terjadi.

Ibn Majah dan al-Hakim menyampaikan dari Hudzaifah bin al-Yaman bahawa Rasulullah SAW bersabda "Islam dihapuskan seperti hilangnya warna baju sampai tidak diketahui apa itu puasa, apa itu solat, haji dan sedekah. Kitabullah dimusnahkan dalam satu malam sampai tidak tersisa satu ayat pun, dan yang tersisa adalah datuk-datuk dan nenek-nenek yang mengatakan 'Kami melihat orang tua kami mengatakan laa ilaaha ilaallaah, maka kami pun mengatakannya.'" {2}

Orang-orang yang tersisa ini tidak mengetahui Islam kecuali kalimat tauhid yang sudah hilang dan lenyap. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud bahawa Rasulullah SAW bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi kecuali atas orang-orang yang paling jahat." {3}

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW menjelaskan kepada kita bagaimana orang-orang soleh hilang diakhir zaman. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda "Allah mengirimkan angin dari Yaman lebih lembut dari sutera. Angin itu mencabut nyawa setiap orang yang dihatinya terdapat iman walaupun sebesar atom." {4}

Dari Anas diriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda "Tidak akan terjadi kiamat sampai dibumi Allah tidak disebut-sebut lagi 'Allah'." {5}

Dalam Shahih Muslim disampaikan dari an-Nawwas bin Sam'an, "Saad mereka dalam keadaan demikian, Allah mengirimkan angin yang sejuk, melewati bawah ketiak mereka, mencabut nyawa setiap Mukmin dan Muslim sehingga tinggallah orang-orang jahat yang bersuka ria seperti keldai. Pada merekalah kiamat terjadi." {6}

Bukhari meriwayatkan dengan sanad dari Mardas al-Aslami r.a bahawa Rasulullah SAW bersabda, "Orang-orang soleh akan hilang satu per satu, sehingga tinggallah satu orang-orang sampah seperti gamdum dan kurma, dan Allah sama sekali tidak mempedulikan mereka." {7}

Di antara contoh terhapusnya Islam ketika itu adalah terputusnya ibadah haji. Tidak ada lagi haji dan umrah. Dalam Musnad Abu Ya'la dan Mustadrak al-Hakim diriwayatkan dengan sanad yang sahih dari dari Abu Said r.a bahawa Rasulullah SAW bersabda "Kiamat tidak akan terjadi sampai Mekah tidak didatangi lagi untuk haji." {8}

Tidak diragukan lagi bahawa hal ini terjadi setelah angin yang berhembus dan mencabut nyawa orang-orang soleh. Sebelum itu ibadah haji terus berlangsung. Dalam Shahih al-Bukhari, diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri bahawa Rasulullah SAW bersabda "Masjid ini akan didatangi untuk haji dan umrah setelah keluarnya Yajuj Majuj. {9}

MANUSIA KEMBALI KEPADA KEJAHILAN DAN PENYEMBAHAN

Jika Islam dihapuskan, al-Quran dihilangkan dan angin yang sejuk mencabut nyawa semua orang yang dihatinya ada iman sekecil apapun, maka umat manusia akan kembali kepada kejahilan. Bahkan lebih dasyat daripadanya. Syaitan dipatuhi manakala berhala disembah.

Dalam hadits Abdullah bin Amr di dalam Shahih Muslim, Rasulullah SAW menceritakan kepada kita apa yang akan terjadi setelah kewafatan Nabi Isa as diakhir zaman, "Kemudian Allah mengirimkan angin yang dingin dari arah Siria, sehingga tidak tersisa dimuka bumi seorang pun yang di dalam hatinya terdapat sebuti zarah kebaikan dan keimanan. Semuanya mati, bahkan kalau ada di antara mereka yang masuk ke dalam gunung, maka angin itu akan masuk kepadanya dan mencabut nyawanya." Abdullah bin Amr berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda "Tinggallah orang-orang jahat dalam keringanan burung dan mimpi-mimpi binatang buas. Mereka tidak mengetahui kebaikan dan tidak menolak kemungkaran. Syaitan membuat peraturan dan berkata "Apakah kalian akan patuh?" Mereka menjawap "Apa yang Anda perintahkan?" Syaitan memerintahkan mereka untuk menyembah berhala. Pada waktu itu rezeki mereka melimpah ruah dan kehidupan mereka sejahtera. Kemudian ditiuplah sangkakala." {10}

Diantara berhala yang disembah ialah, Dzulkhilshah, Thaghiyah Daus, Lata dan Uzza. Dalam Shahih al-Bukhari diriwayatkan dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah SAW bersabda "Kiamat tidak akan terjadi sampai tangan dan kaki perempuan suku Daus menari dihadapan Dzulkhilshah, iaitu berhala yang disembah di zaman jahiliah. {11}

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Aisyah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Malam dan siang tidak akan hilang hingga Lata dan Uzza disembah." Aisyah berkata, "Ya Rasulullah SAW, saya menyangka ketika Allah SWT menurunkan ayat, "Dia-lah yang mengutuskan Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama kebenaran agar dia memenangkannya atas semua agama, walaupun semua orang-orang musyrik tidak menyukainya." {12} maka itu telah selesai." Baginda bersabda "Hal itu akan terjadi sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah menghembuskan angin yang sejuk lalu meninggallah semua orang yang dalam hatinya ada sebiji keimanan dan tinggallah orang-orang yang tidak memiliki kebaikan. Mereka lalu kembali kepada agama leluhur mereka. {13}

Di zaman itu, akhlak akan menjadi sangat lemah. Al-Bazzar dalam Musnad-nya dan Ibn Habban dalam Shahih-nya meriwayatkan dari Abdullah Ibn Umar, Rasulullah SAW bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi hingga orang-orang bersenggama {14} dijalan seperti keldai." Abdullah Ibn Umar bertanya, "Itu sungguh terjadi?" Baginda SAW menjawap "Ya, itu sungguh akan terjadi." Hadits ini mempunyai penguat pada riwayat al-Hakim iaitu sebuah hadits marfu' dari Abu Hurairah : "Demi zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, kiamat tidak akan terjadi hingga seseorang lelaki meniduri seorang wanita di jalanan. Orang yang paling baik saat itu, adalah orang yang berkata, "Hai, mengapa tidak kamu melakukan lakukan dibelakang tembok ini?" {15}

Hadits tersebut juga diperkuatkan dengan hadits an-Nawaas Ibn Sam'an dalam haditsnya yang panjang tentang Dajjal serta Yajuj Majuj. pada akhir hadits ini dikatakan, "Saat mereka dalam keadaan seperti itu, Allah mengirimkan angin yang sejuk yang berhembus di bawah ketiak mereka dan mengambil nyawa seluruh orang mukmin dan muslim. Tinggallah orang-orang jahat yang bersenggama seperti keldai. Pada merekalah kaimat terjadi. (HR Muslim, Ahmad, al-Hakim)

API YANG MENGHIMPUNKAN MANUSIA

Tanda terakhir yang terjadi sebelum hari kiamat adalah api yang keluar dari kawah Aden, yang mengiring manusia ke tempat mereka dihimpun. telah disebutkan hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan bahawa ada sepuluh tanda kiamat. Baginda bersabda, "Akhir dari semua tanda itu adalah api yang keluar dari Yaman, mengiring manusia ke tempat mereka dihimpun." {16}

Dalam Shahih al-Bukhari, dari Anas r.a disebutkan bahawa Abdullah Ibn Salam mengetahui kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah (Hijrah). Ia pun menemui Nabi SAW untuk menanyakan beberapa hal. dia berkata, "Saya akan menanyakan tiga masalah: apa tanda pertama kiamat?" Rasulullah SAW menjawap "Tanda pertamanya adalah api yang menghimpunkan manusia dari Timur ke Barat." {17}

Dalam Sunan at-Turmudzi, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a bahawa Rasulullah SAW bersabda "Sebelum kiamat akan keluar api dari Hadhramaut yang menghimpunkan manusia." Rapa sahabat bertanya, "Ya, Rasulullah, apa yang harus kami lakukan saat itu?" Jawap Baginda, "Jangan pergi ke Syam." {18}

Rasulullah SAW telah menceritakan bagaimana cara api itu mengumpulkan manusia. Dalam Shahih al-Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Manusia akan dihimpunkan dalam pelbagai keadaan: rindu, takut, dua orang menunggang satu unta, tiga orang menunggang satu unta, empat orang menunggang satu unta, sepuluh orang menunggang satu unta dan yang lain dihimpunkan oleh api yang duduk kalau mereka duduk, diam kalau mereka diam, berada di pagi hari kalau mereka berada di pagi hari, dan berada di sore hari kalau mereka berada di sore hari." {19}

Dalam Musnad Ahmad, Sunan at-Turmudzi dan Mustadrak al-Hakim diriwayatkan dengan sanad yang sahih Muawiyah Ibn Hidah bahawa Rasulullah SAw bersabda, "Kalian akan dihimpunkan dalam keadaan berjalan kaki atau berkenderaan atau ditarik dari muka-muka kalian di sini (sambil beliau menunjuk ke arah Syam). {20}

Yang terakhir dihimpunkan oleh api itu adalah dua orang gembala dari Muzayyanah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda "Madinah akan tetap baik seperti sebelumnya, tidak diserang kecuali oleh yang ringan-ringan (dari binatang buas dan burung). Yang terakhir dihimpunkan adalah dua orang gembala dari Muzayyanah. Mereka dibangunkan oleh kambing mereka, kemudian mereka mendapatinya menjadi buas hingga setelah mereka sampai ke tengah bukit, mereka terkapar dengan muka ke tanah. {21}

Negeri yang menjadi tempat perhimpunan oleh api itu adalah Syam (Syria). Dalam kitab Fadha 'il asy-Syam karangan ar-Rab'i dririwayatkan dari Abu Dzar dengan sanad sahih bahawa Rasulullah SAW bersabda, "Syam (Syria) adalah negeri perhimpunan dan penyebaran." Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, Ibn Majah dalam Sunan-nya dan ar-Rab'i dalam Fadha'il asy-Syam dari Maimunah binti Sa'd. {22}

Sebahagian ulama mengatakan bahawa perhimpunan ini terjadi di akhirat. Al-Qurthubi menisbahkan pendapat itu kepada al-Hulaimi dan Abu Hamid al-Ghazali. {23}

Al-Kithabi, ath-Thubi, al-Qadhi 'Iyadh, al-Qurthubi, Ibn Katsir dan Ibn Hajar berpendapat bahawa perhimpunan ini terjadi di akhir umur dunia, ketika api dibangkitkan dari kawah Aden dan manusia dihimpunkan ke negeri Syam (Syria). {24}

Ibn Katsir menghuraikan hadits-hadits ini :

Konteks hadits-hadits itu menunjukkan bahawa perhimpunan ini adalah perhimpunan orang-orang yang hidup diakhir umur dunia, dari luar tempat perhimpunan di daerah Syam (Syria). Mereka ada tiga golongan. Golongan pertama dihimpunkan sambil makan, berpakaian, dan berkenderaan. Golongan kedua  ada yang berjalan, dan ada juga berkenderaan. Mereka bergantian naik satu unta, sebagaimana telah disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim : dua orang menunggang satu unta, tiga orang menunggang satu unta, empat orang menunggang satu unta, sepuluh orang menunggang satu unta. Ertinya, mereka naik bergantian kerana tempat yang sempit, sebagaimana telah dijelaskan dan ditafsirkan oleh hadits yang lain. Golongan ketiga dihimpunkan oleh api yang keluar dari kawah Aden yang mengepung manusia dari belakang mereka dan mengiring mereka dari semua arah ke tempat perhimpunan. Orang yang tertinggal akan dimakan oleh api tersebut.

Semua itu menunjukkan bahawa ini terjadi diakhir umur dunia, pada ketika masih ada makanan dan minuman, kenderaan dan lain-lain dan ketika orang-orang yang tertinggal rombongan dimakan oleh api itu. Jika ini terjadi setelah tiupan kebangkitan, maka tidak ada lagi kematian dan menaiki kenderaan di tanah keras. Tidak ada lagi makanan dan minuman mahupun berpakaian. Walau bagaimanapun, Abu Bakar al-Baihaqi setelah meriwayatkan kebanyakan hadits ini mentafsirkan keadaan ini berlaku dihari kiamat. Beliau menyokong pendapatnya dengan menggunakan dalil "Hari ketika Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa menghadap Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami halau orang-orang yang derhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga." {25}

Bagaimana Abu Bakar al-Baihaqi dapat meyakini kebenaran pendapatnya dalam mentafsir ayat itu dengan hadits disebutkan "dua orang menunggang satu unta, tiga orang menunggang satu unta, empat orang menunggang satu unta, sepuluh orang menunggang satu unta," dan ada penegasan yang jelas ialah bahawa keemungkinan mereka mereka naik bergantian kerana tempat yang sempit. Pendapatnya tidak sesuai dengan fakta ini. {26} Wallahu a'lam.

Ahad, 18 Mei 2014

BAGAIMANA CARA KITA MENGHORMATI GURU

بسم الله الرحمن الر حيم
إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI


BAGAIMANA CARA KITA MENGHORMATI GURU
(BILANGAN  231 BAHAGIAN PERTAMA)

 (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

Tiada seorang pun dalam kehidupan insan, selain daripada kedua ibubapa yang lebih berjasa dan layak dihormati melebihi daripada guru. Tetapi guru adalah pewaris ilmu dan pewaris ilmu ialah ulama, sementara ulama pula adalah pewaris para nabi. Begitulah kedudukan ilmu, guru dan ulama adalah saling berkaitan. Mari renungkan firman Allah ini:

 Tafsirnya: “Allah menerangkan (kepada sekalian makhluk-Nya dengan dalil-dalil dan bukti), bahawasanya tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang sentiasa mentadbirkan (seluruh alam) dengan keadilan, dan malaikat-malaikat serta orang-orang yang berilmu (mengakui dan menegaskan juga yang demikian); tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.”
Surah ali-‘Imran:18))

Perhatikan dalam ayat ini, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta‘ala memulakan dengan nama-Nya, kemudian dengan para malaikat-malaikat-Nya dan kemudiannya dengan ahli ilmu – ini sudah cukup membuktikan betapa tingginya martabat ilmu dan ahli ilmu itu.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan bahawa Abu ’Umamah al-Bahili Radhiallahu ‘anhu telah  berkata: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: 

Maksudnya: “Kelebihan orang alim (ulama) atas ahli ibadat adalah seperti kelebihanku ke atas orang yang paling rendah di antara kamu. Kemudian Baginda bersabda lagi: Sesungguhnya para malaikat dan penduduk langit dan bumi hinggakan semut dalam lubangnya berserta ikan bersalawat (berdoa) untuk orang-orang yang mengajar kebaikan kepada manusia.”
(Hadits riwayat At-Tirmidzi)

Abu al-Aswad berkata: Tiada suatu pun yang lebih mulia daripada ilmu; raja-raja adalah pemimpin bagi rakyat sedangkan para ulama adalah pemimpin kepada raja.

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma pula berkata: Nabi Sulaiman ‘alaihissalam diberikan dua pilihan antara harta dan kekuasaan, Baginda memilih ilmu lalu Baginda pun dikurniakan juga dengan harta serta kekuasaan.

Kelebihan Mengajar Ilmu Yang Bermanfaat

Dalam Islam, mengajarkan ilmu yang bermanfaat itu adalah suatu amalan yang dipandang tinggi, sangat mulia dan satu kerjaya yang suci di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala serta Rasul-Nya.

Firman Allah Ta‘ala dalam Surah An-Nahl ayat 43 dan Surah Al-Anbiya’ ayat 7:


Tafsirnya: “Maka bertanyalah kamu kepada Ahlu’dz Dzikri jika kamu tidak mengetahui.”
(Surah An-Nahl: 43 dan Al-Anbiyaa’: 7)

Ahlu’dz Dzikri bermaksud orang-orang yang mengetahui tentang Kitab-Kitab Allah. Ayat ini menjadi dalil bahawa orang-orang yang tidak mengetahui sesuatu perkara hendaklah bertanya kepada orang-orang yang mengetahuinya.

Imam Ath-Thabarani meriwayatkan dalam kitabnya Al-Kabir bahwasanya Mu‘awiyyah Radhiallahu ‘anhu telah berkata bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Maksudnya: “Wahai manusia! Sesungguhnya ilmu itu hanya diperolehi dengan belajar dan feqh itu dengan mempelajari ilmu feqh. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan untuknya, nescaya diberikannya kefahaman dalam agama, dan sesungguhnya di antara hamba Allah yang takutkan Allah hanyalah para ulama.”
(Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Abu Sa‘ed al-Khudri Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
  
Maksudnya: “Akan datang kepada kamu beberapa kaum untuk mencari ilmu, maka apabila kamu melihat mereka hendaklah kamu katakan kepada mereka: Selamat datang, selamat datang, mengikut wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan hendaklah kamu mengajar mereka.”
(Hadits riwayat Ibnu Majah)

Amirul Mukminin Sayyidina Umar Ibnu Al-Khaththab Radhiallahu ‘anhu pula berkata: Kematian seribu ahli ibadat yang bangun beramal ibadat sepanjang malam dan berpuasa sepanjang siang lebih ringan dari kematian seorang alim yang mahir tentang apa yang Allah Ta‘ala halalkan dan apa yang diharamkan olehNya.

Yahya bin Mu‘az berkata: Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada ayah-ayah serta ibu-ibu mereka. Lalu ditanyakan kepadanya: Bagaimana pula begitu? Lalu Yahya menjawab: Ibu-bapa menjaga anak-anaknya daripada neraka (kesusahan) dunia, sedangkan para ulama menjaga mereka daripada neraka akhirat.

Sebahagian ulama berkata: Para ulama umpama pelita zaman. Tiap seorang daripada mereka merupakan pelita yang menyinari ahli zamannya.

Adab Ulama Menghormati Guru

Sesuai dengan ketinggian darjat dan martabat guru itu, maka tidak hairanlah bahawa para ulama sangat menghormati guru mereka. Di antara cara mereka memperlihatkan penghormatan mereka terhadap guru ialah:

1. Mereka merendah diri terhadap ilmu dan guru dan sentiasa menurut perintah serta nasihat guru dan sentiasa meminta pendapat serta pandangan  guru dalam setiap urusan mereka.

Mereka mentaati setiap arahan serta bimbingan guru umpama seorang pesakit yang tidak tahu apa-apa yang hanya mengikut arahan seorang doktor pakar yang mahir.

Mereka juga sentiasa berkhidmat untuk guru-guru mereka dengan mengharapkan balasan pahala serta kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala  dengan khidmat tersebut.

2. Mereka memandang guru dengan perasaan penuh hormat dan takzim serta mempercayai kesempurnaan keahlian dan kepakarannya dalam bidang perguruannya. Ini lebih membantu mereka sebagai pelajar untuk memperolehi manfaat daripada guru mereka dan akan mengukuhkan lagi apa yang didengar dan diajarkan oleh guru.

Ulama-ulama salaf sangat memuliakan dan menggagungkan guru-guru mereka. Ini jelas termaktub dalam kisah-kisah tentang akhlak  mereka dalam majlis-majlis ilmu dan kesopanan mereka terhadap guru-guru mereka. Sebagai contoh:

-         Mughirah berkata: Kami menghormati Ibrahim an-Nakha‘ie sepertimana kami menghormati raja.

-         Imam Asy-Syafi‘e pula berkata: Aku membelek kertas di hadapan Imam Malik perlahan-lahan kerana menghormatinya supaya dia tidak terdengar (bunyi belekan kertas tersebut).

-         Rabie‘ berkata: Demi Allah aku tidak berani meminum air sedangkan Imam Asy-Syafi‘e memandang kepadaku.

-         Sayyidina Ali Karramallahu wajhah berkata: Antara hak seorang alim ke atasmu ialah memberi salam ke atas orang ramai secara umum dan mengkhususkan gurumu dengan penghormatan yang khusus dan istimewa.

3. Mereka sentiasa mendampingi guru supaya mendapat berkat serta beroleh ilmu yang akan tercurah daripadanya pada bila-bila masa serta menjadikannya qudwah (ikutan).

Imam Asy-Syafi‘e misalnya, sejak pertemuannya dengan gurunya iaitu Imam Malik pada tahun 170 Hijrah, hampir tidak pernah meninggalkan gurunya sehingga gurunya itu wafat pada tahun 179 Hijrah. Ini kerana Imam Asy-Syafi‘e tidak pernah meninggalkannya kecuali ketika pergi ke Makkah untuk menjenguk ibunya  ataupun pergi ke pusat ilmu dan feqh. Itu pun setelah beroleh keizinan serta restu daripada gurunya. Jika direstui, Imam Malik akan menyiapkan bekal dan memberikannya wang perbelanjaan sambil mendoakan keselamatannya.

4. Mereka tidak menggunakan ganti nama diri seperti “engkau” dan “awak” dan tidak memanggil atau meneriaki guru dari jauh.

Al-Khatib berkata: Hendaklah dia berkata “Wahai guru, apakah pendapat kamu mengenai hal ini?” dan kata-kata seumpamanya. Dan tidak menggelarkannya dengan namanya kecuali disertakan dengan gelaran-gelaran yang menunjukkan penghormatan serta takzim kepadanya. Misalnya syeikh ataupun ustaz atau syeikh kami.

Maksudnya di sini, mereka memanggil guru dengan gelaran yang penuh adab serta penghormatan. Jika nama guru tersebut Muhammad misalnya, maka mereka akan memanggilnya dengan nama ustaz, cikgu, guru kami dan sebagainya dan tidak menyebutkan namanya kecuali disertakan dengan gelaran yang penuh penghormatan seperti Ustaz Muhammad, Cikgu Muhammad dan sebagainya meskipun sewaktu ketiadaan guru itu.

5. Mereka tidak sekali-kali berbantah-bantah ataupun berlawan cakap dengan guru. Sesungguhnya berbantah-bantah itu secara umumnya sudah merupakan suatu perbuatan yang keji, apatah lagi untuk berbantah-bantah dengan guru yang merupakan pembimbing serta qudwah! Perbuatan ini akan menjauhkan mereka sebagai pelajar daripada kebaikan dan merupakan penjerumus kepada kejahatan dan ianya adalah penyebab diharamkan ke atas mereka bermacam-macam bentuk kebaikan.

Sesungguhnya, menuntut ilmu itu adalah satu bentuk ibadah dan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, bukannya untuk bermegah-megah ataupun untuk berbantah-bantah dengan ilmu tersebut.

Dalam satu hadits riwayat Imam Al-Hakim, Ka‘ab bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
  
Maksudnya: “Barangsiapa mencari ilmu untuk menyaingi para ulama atau untuk bertengkar dengan orang-orang bodoh atau supaya hati manusia menghadap kepadanya maka ia akan masuk neraka.”
(Hadits riwayat Al-Hakim)

6. Mereka berterima kasih kepada guru atas segala tunjuk ajar serta bimbingannya terhadap segala kebajikan dan tegahan serta tegurannya ke atas segala kekurangan atau kemalasan dan sebagainya bagi memperbaiki diri dan mengganggap teguran, asuhan, didikan serta keprihatinan guru itu sebagai rahmat dan kurniaan yang tak terhingga kepada mereka oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Jika bimbingan serta teguran yang diberikan oleh guru itu sudah diketahui, maka mereka tidak menunjukkan yang mereka sebenarnya sudah mengetahuinya, bahkan mereka menghargai dan berterima kasih atas bimbingan serta keprihatinan guru tersebut terhadap mereka.

7. Jika mereka berhajat kepada guru mereka di luar waktu mengajar sedangkan guru tersebut sedang berehat ataupun tidur, maka guru itu tidak akan diganggu. Mereka akan menunggu sehingga guru tersebut terjaga dari tidur ataupun selesai dari berehat.

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma pernah mendatangi salah seorang daripada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bertanya kepadanya mengenai suatu hadits. Lalu dikatakan kepadanya: Dia sedang tidur. Maka duduklah Ibnu ‘Abbas di muka pintu. Lalu dikatakan kepadanya: Tidak perlukah kita mengejutkannya? Ibnu ‘Abbas pun menjawab: Jangan.

8. Mereka tidak mendatangi guru di luar daripada majlis ilmu yang umum (di luar dari jadual waktunya untuk mengajar dan sebagainya) kecuali dengan izinnya, sama ada guru mereka itu sedang bersendirian mahupun sedang bersama dengan orang lain.

Jika tidak ada izin daripada guru itu sedangkan guru itu mengetahui bahawa mereka sedang meminta izin untuk mendatanginya, maka mereka akan beredar dan tidak mengulangi isti’zan (permohonan izin) mereka.

 Adab Ulama Menghormati Guru



Sesuai dengan ketinggian darjat dan martabat guru itu, maka tidak hairanlah bahawa para ulama sangat menghormati guru mereka. Di antara cara mereka memperlihatkan penghormatan mereka terhadap guru ialah:



1. Mereka merendah diri terhadap ilmu dan guru dan sentiasa menurut perintah serta nasihat guru dan sentiasa meminta pendapat serta pandangan guru dalam setiap urusan mereka.

Mereka mentaati setiap arahan serta bimbingan guru umpama seorang pesakit yang tidak tahu apa-apa yang hanya mengikut arahan seorang doktor pakar yang mahir.

Mereka juga sentiasa berkhidmat untuk guru-guru mereka dengan mengharapkan balasan pahala serta kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan khidmat tersebut.



2. Mereka memandang guru dengan perasaan penuh hormat dan takzim serta mempercayai kesempurnaan keahlian dan kepakarannya dalam bidang perguruannya. Ini lebih membantu mereka sebagai pelajar untuk memperolehi manfaat daripada guru mereka dan akan mengukuhkan lagi apa yang didengar dan diajarkan oleh guru.
Ulama-ulama salaf sangat memuliakan dan menggagungkan guru-guru mereka. Ini jelas termaktub dalam kisah-kisah tentang akhlak mereka dalam majlis-majlis ilmu dan kesopanan mereka terhadap guru-guru mereka. Sebagai contoh:

- Mughirah berkata:
Kami menghormati Ibrahim an-Nakha‘ie sepertimana kami menghormati raja.


- Imam Asy-Syafi‘e pula berkata:

Aku membelek kertas di hadapan Imam Malik perlahan-lahan kerana menghormatinya supaya dia tidak terdengar (bunyi belekan kertas tersebut).


- Rabie‘ berkata:
Demi Allah aku tidak berani meminum air sedangkan Imam Asy-Syafi‘e memandang kepadaku.


- Sayyidina Ali Karramallahu wajhah berkata: Antara hak seorang alim ke atasmu ialah memberi salam ke atas orang ramai secara umum dan mengkhususkan gurumu dengan penghormatan yang khusus dan istimewa.



3. Mereka sentiasa mendampingi guru supaya mendapat berkat serta beroleh ilmu yang akan tercurah daripadanya pada bila-bila masa serta menjadikannya qudwah (ikutan).

Imam Asy-Syafi‘e misalnya, sejak pertemuannya dengan gurunya iaitu Imam Malik pada tahun 170 Hijrah, hampir tidak pernah meninggalkan gurunya sehingga gurunya itu wafat pada tahun 179 Hijrah. Ini kerana Imam Asy-Syafi‘e tidak pernah meninggalkannya kecuali ketika pergi ke Makkah untuk menjenguk ibunya ataupun pergi ke pusat ilmu dan feqh. Itu pun setelah beroleh keizinan serta restu daripada gurunya. Jika direstui, Imam Malik akan menyiapkan bekal dan memberikannya wang perbelanjaan sambil mendoakan keselamatannya.



4. Mereka tidak menggunakan ganti nama diri seperti "engkau" dan "awak" dan tidak memanggil atau meneriaki guru dari jauh.


Al-Khatib berkata: Hendaklah dia berkata
"Wahai guru, apakah pendapat kamu mengenai hal ini?" dan kata-kata seumpamanya. Dan tidak menggelarkannya dengan namanya kecuali disertakan dengan gelaran-gelaran yang menunjukkan penghormatan serta takzim kepadanya. Misalnya syeikh ataupun ustaz atau syeikh kami.


Maksudnya di sini, mereka memanggil guru dengan gelaran yang penuh adab serta penghormatan. Jika nama guru tersebut Muhammad misalnya, maka mereka akan memanggilnya dengan nama ustaz, cikgu, guru kami dan sebagainya dan tidak menyebutkan namanya kecuali disertakan dengan gelaran yang penuh penghormatan seperti Ustaz Muhammad, Cikgu Muhammad dan sebagainya meskipun sewaktu ketiadaan guru itu.



5. Mereka tidak sekali-kali berbantah-bantah ataupun berlawan cakap dengan guru. Sesungguhnya berbantah-bantah itu secara umumnya sudah merupakan suatu perbuatan yang keji, apatah lagi untuk berbantah-bantah dengan guru yang merupakan pembimbing serta qudwah! Perbuatan ini akan menjauhkan mereka sebagai pelajar daripada kebaikan dan merupakan penjerumus kepada kejahatan dan ianya adalah penyebab diharamkan ke atas mereka bermacam-macam bentuk kebaikan.

Sesungguhnya, menuntut ilmu itu adalah satu bentuk ibadah dan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, bukannya untuk bermegah-megah ataupun untuk berbantah-bantah dengan ilmu tersebut.

Dalam satu hadits riwayat Imam Al-Hakim, Ka‘ab bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Maksudnya:
“Barangsiapa mencari ilmu untuk menyaingi para ulama atau untuk bertengkar dengan orang-orang bodoh atau supaya hati manusia menghadap kepadanya maka ia akan masuk neraka.”

(Hadits riwayat Al-Hakim)



6. Mereka berterima kasih kepada guru atas segala tunjuk ajar serta bimbingannya terhadap segala kebajikan dan tegahan serta tegurannya ke atas segala kekurangan atau kemalasan dan sebagainya bagi memperbaiki diri dan mengganggap teguran, asuhan, didikan serta keprihatinan guru itu sebagai rahmat dan kurniaan yang tak terhingga kepada mereka oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Jika bimbingan serta teguran yang diberikan oleh guru itu sudah diketahui, maka mereka tidak menunjukkan yang mereka sebenarnya sudah mengetahuinya, bahkan mereka menghargai dan berterima kasih atas bimbingan serta keprihatinan guru tersebut terhadap mereka.



7. Jika mereka berhajat kepada guru mereka di luar waktu mengajar sedangkan guru tersebut sedang berehat ataupun tidur, maka guru itu tidak akan diganggu. Mereka akan menunggu sehingga guru tersebut terjaga dari tidur ataupun selesai dari berehat.
Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma pernah mendatangi salah seorang daripada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bertanya kepadanya mengenai suatu hadits. Lalu dikatakan kepadanya:
Dia sedang tidur. Maka duduklah Ibnu ‘Abbas di muka pintu. Lalu dikatakan kepadanya: Tidak perlukah kita mengejutkannya? Ibnu ‘Abbas pun menjawab: Jangan.



8. Mereka tidak mendatangi guru di luar daripada majlis ilmu yang umum (di luar dari jadual waktunya untuk mengajar dan sebagainya) kecuali dengan izinnya, sama ada guru mereka itu sedang bersendirian mahupun sedang bersama dengan orang lain.

Jika tidak ada izin daripada guru itu sedangkan guru itu mengetahui bahawa mereka sedang meminta izin untuk mendatanginya, maka mereka akan beredar dan tidak mengulangi isti’zan (permohonan izin) mereka.


Jika mereka ragu-ragu adakah guru tersebut terdengar ataupun tahu akan isti’zan mereka untuk mendatangi guru tersebut ataupun tidak, maka dalam hal ini mereka akan mengulang isti’zan tersebut tidak melebihi dari tiga kali ketukan di pintu. Mereka mengetuk dengan penuh adab dan perlahan-lahan dengan menggunakan kuku jari.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Al-Adab Al-Mufrad bahawa Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu telah berkata:

Maksudnya:
“Pintu-pintu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diketuk dengan menggunakan kuku-kuku jari.”


(Hadits riwayat Al-Bukhari)

Jika guru mereka itu jauh daripada pintu, maka tidaklah menjadi kesalahan daripada segi adab mereka untuk menguatkan sedikit ketukan dalam kadar kira-kira dapat didengar oleh guru tersebut dan jangan sampai melebihi daripada kadar ini.

Jika guru tersebut bertanya siapakah yang berada di luar pintu itu, maka mereka tidak hanya mengatakan "aku" tanpa menyebutkan nama kerana ini tidak disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam shahih Imam Al-Bukhari diriwayatkan bahawa Jabir Radhiallahu anhu’ telah berkata:

Maksudnya:
“Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membayar hutang bapaku lalu aku mengetuk pintu. Lalu Baginda bertanya "Siapa ini?” Kemudian aku menjawab "aku" . Baginda pun bersabda: "Aku! Aku! Seolah-olah Baginda tidak menyukainya.”


(Hadits riwayat Al-Bukhari)

Seandainya pintu bilik guru itu terbuka, maka mereka tidak akan mengintip atau menghadapkan muka mereka ke muka pintu, tapi mereka menjadikan muka pintu itu berada di sisi kanan atau kiri mereka atau dalam bahasa Brunei disebutkan menyiring, kemudian barulah mereka memberi salam.

Ini kerana antara adab isti’zan itu ialah meminta izin untuk melihat. Sahl bin Sa‘ad Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan:

Maksudnya:
“Seorang lelaki mengintip dari lubang kamar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah sisir yang digunakannya untuk menyisir rambutnya. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika aku tahu yang engkau mengintip nescaya akan aku tusukkan sisir ini ke matamu! Sesungguhnya isti’zan (permohonan izin) itu disyariatkan untuk keperluan melihat. ”


(Hadits riwayat Al-Bukhari)

9. Apabila mereka hendak berjumpa dengan guru, mereka akan memastikan diri mereka dalam keadaan yang sempurna dengan tubuh badan dan pakaian yang bersih, memotong kuku serta menghilangkan bau-bauan yang kurang enak sama ada ketika menemuinya secara persendirian apatah lagi ketika hendak menghadiri majlis ilmu yang umum seperti kelas dan sebagainya yang merupakan sejenis perkumpulan ibadah kerana dikhuatiri akan mengganggu kesejahteraan guru mahupun rakan-rakan pelajar yang lain.



Imam Malik sepanjang hidupnya, membiasakan mandi dengan baik dan teratur, memakai wangi-wangian dan mengenakan pakaian terbaik setiap kali ia menghadiri halaqah untuk belajar ataupun mengajar.

Mereka juga pada ketika itu akan mengosongkan hati daripada segala urusan di samping mensucikan minda serta fikiran, pendek kata sempurna jiwa dan raga untuk menerima pengajaran guru. Bukannya dalam keadaan mengantuk atau marah atau lapar yang bersangatan ataupun dalam keadaan dahaga dan sebagainya supaya dada mereka dilapangkan untuk menerima pengajaran yang diberikan dan mampu mengingati apa yang telah guru perdengarkan kepada mereka.

Ketika sedang belajar, mereka sentiasa menunjukkan adab terhadap kawan-kawan sekelas dan sesiapa sahaja yang menghadiri majlis ilmu atau kelas guru mereka itu. Hal ini merupakan sikap sopan terhadap guru dan pemeliharaan terhadap majlis ilmu ataupun kelasnya.