SUMBER AJARAN SYI'H SESAT
Sebenarnya dari mana umat syiah mengambil
ajaran agamanya? Mengapa kita sering mendengar kawan-kawan syiah
berdalil dari Shahih Bukhari?
Sebagaimana Ahlussunah memiliki kitab hadits yang
berasal dari Nabi,maka sebagai mazhab, syiah harus memiliki kitab-kitab
yang berisi sabda para imam ahlulbait, mereka yang wajib diikuti bagi
penganut syiah. Lalu mengapa syiah mengemukakan dalil dari kitab-kitab
hadits sunni seperti shahih Bukhari dan Muslim? Mereka menggunakan
hadits-hadits itu dalam rangka mendebat ahlussunah, bukan karena beriman
pada isi hadits itu. Lalu apa saja rujukan syiah Imamiyah?
Syiah
Imamiyah menganggap sabda 12 imam ahlulbait sebagai ajaran yang wajib
diikuti, ini sesuai dengan ajaran mereka yang menganggap 12 imam
ahlulbait sebagai penerus risalah Nabi. Sabda-sabda tersebut tercantum
dalam kitab-kitab syiah, namun sayangnya kitab-kitab itu tidak begitu
dikenal atau tepatnya sengaja tidak disebarluaskan oleh penganut syiah
di Nusantara. Insya Allah kami akan memudahkan pembaca untuk mendownload
sebagian kitab rujukan mereka yang memuat sabda-sabda para imam
ahlulbait. Tapi pembaca pasti penasaran untuk membaca sabda ahlulbait,
karena salah satu murid Imam Ja’far As Shadiq yang bernama Zurarah
mengatakan dalam sebuah riwayat dari Al Kisyi yang meriwayatkan dalam
bukunya Rijalul Kisyi dengan sanadnya dari Muhammad bin Ziyad bin Abi
Umair dari Ali bin Atiyyah bahwa Zurarah berkata: jika aku menceritakan
seluruh yang kudengar dari Abu Abdillah (Ja’far Asshadiq) maka laki-laki
yang mendengar perkataan Imam Ja’far pasti akan berdiri kemaluannya.
Rijalul Kisyi hal 134 (kira-kira cerita apa yang dibawa oleh Imam Ja’far
sehingga membuat kemaluan berdiri?)
Sedangkan
umat syiah mengatakan bahwa para imam mendapat ajaran dari imam
sebelumnya yang mendapatkan ajaran dari Nabi. Juga umat syiah
mengajarkan bahwa ajaran para imam harus diikuti. Tapi ternyata imam
yang satu ini suka mengajarkan cerita-cerita yang membuat kemaluan
berdiri. Jangan-jangan ajaran di atas sudah disensor. Lalu bagaimana
hukum menyensor ajaran ahlulbait yang wajib diikuti?
Literatur
syiah yang dianggap sebagai literatur utama yang memuat riwayat sabda
ahlulbait ada 8 kitab utama, ulama mereka menyebutnya dengan sebutan “al
jawami’ ats tsamaniah” (kitab kumpulan yang delapan) ini sesuai dengan
yang tercantum dalam kitab Muftahul Kutub Al Arba’ah jilid 1 hal 5 dan
A’yanus Syiah jilid 1 hal 288. Dalam makalahnya yang berjudul metode
praktis untuk pendekatan sunnah syiah (dimuat dalam masalah Risalatus
Islam, juga dimuat bersama makalah lain yang diambil dari majalah yang
sama dengan judul “persatuan islam” hal 233, Muhammad Shaleh Al Ha’iri
mengatakan: kitab shahih imamiyah ada delapan, empat di antaranya di
tulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup terdahulu, tiga
lagi ditulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup setelah
tiga yang pertama, yang kedelapan ditulis oleh Al Husein Nuri Thabrasi.
Kitab
pertama dan yang tershahih di antara delapan kitab di atas adalah Al
Kafi. Ini seperti disebutkan dalam kitab Adz Dzari’ah jilid 17 hal 245,
Mustadrak Al Wasa’il jilid 3 ha 432, Wasa’il Asy Syi’ah jilid 20 hal 71.
kitab-kitab di atas menyebutkan bahwa kitab Al Kafi adalah kitab yang
tershahih dari empat kitab utama mereka, karena kitab Al Kafi ditulis
pada era Ghaibah Sughra, yang mana saat itu masih mungkin untuk mengecek
validitas riwayat yang ada dalam kitab itu. karena pada era ghaibah
sughra imam mahdi masih dapat dihubungi melalui “duta yang empat” yang
dapat berhubungan dengan imam mahdi dan menerima seperlima bagian dari
harta syiah.
Jumlah
riwayat kitab Al Kafi ada 16099, seperti diterangkan dalam kitab A’yanus
Syi’ah jilid 1 hal 280. Kitab Al Kafi dijelaskan oleh para Ulama
Syi’ah, di antaranya adalah Al Majlisi –penulis Biharul Anwar- yang
menulis penjelasan kitab Al Kafi dan diberi judul Mir’aatul Uquul. Dalam
kitabnya itu Majlisi juga menilai validitas hadits Al Kafi, di antara
hadits yang dianggapnya shahih adalah hadits yang menerangkan bahwa Al
Qur’an telah diubah. Berikut terjemahan nukilan dari Mir’atul Uqul:
Abu
Abdillah berkata: “Al Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad
adalah 17 ribu ayat”. Al Kafi jilid 2 hal 463. Muhammad Baqir Al Majlisi
berkata bahwa riwayat ini adalah muwathaqah. Lihat di Mir’atul Uqul
jilid 2 hal 525.
Begitu
juga ada kitab lain yang berisi penjelasan riwayat Al Kafi, yaitu Syarh
Jami’ yang ditulis oleh Al Mazindarani begitu juga terdapat kitab yang
berjudul As Syafi fi Syarhi Ushulil Kafi, ada lagi kitab yang judulnya
At Ta’liqah Ala Kitabil Kafi yang ditulis oleh Muhammad Baqir Al
Husaini, tapi hanya menjelaskan sampai Kitabul Hujjah saja. Ada lagi
kitab Al Hasyiyah Ala Ushulil Kafi karangan Rafi’uddin Muhammad bin
Haidar An Na’ini, juga Badruddin bin Ahmad Al Husaini Al Amili.
Kitab
kedua adalah Man la Yahdhuruhul Faqih yang ditulis oleh Muhammad bin
Babawaih Al Qummi, yang juga dikenal dengan sebutan As Shaduq,
keterangan mengenai kitab ini adapat dilihat dalam kitab Raudhatul
Jannat jilid 6 hal 230-237, A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280, juga dalam
Muqaddimah kitab Man La Yahdhuruhul Faqih, kitab ini memuat 176 bab,
yang pertama adalah bab Thaharah dan ditutup dengan bab Nawadir. Kitab
ini memuat 9044 riwayat.
Disebutkan
dalam pengantar bahwa penulisnya sengaja menghapus sanad dari setiap
riwayat agar tidak terlalu memperbanyak isi kitab, juga disebutkan bahwa
penulisnya mengambil riwayat untuk ditulis dalam buku ini dari
kitab-kitab yang terkenal dan dapat diandalkan, penulis hanya
mencantumkan riwayat yang diyakini validitasnya. Ditambah lagi dengan
kitab Tahdzibul Ahkam, keterangan mengenai kitab ini dapat ditemui dalam
kitab mustadrakul wasa’il jilid 4 hal 719, kitab adzari’ah jilid 4 hal
504, juga dalam pengantar tahdzibul ahkam sendiri. Kitab ini ditulis
untuk memecahkan kontradiksi yang terjadi pada banyak sekali riwayat
syiah, kitab ini berisi 393 bab. Mengenai jumlah haditsnya akan kita
bahas kemudian.
Begitu
juga kitab Al Istibshar, yang terdiri dari tiga jilid, dua jilid memuat
bab ibadah, sementara pembahasan fiqih lainnya dicantumkan pada jilid
ketiga. Kitab ini memuat 393 bab, dalam kitabnya ini penulis hanya
mencantumkan 5511 hadits dan mengatakan: saya membatasinya supaya tidak
terjadi tambahan maupun pengurangan. Sementara dalam kitab Adz Dzari’ah
ila Tashanifisy Syi’ah disebutkan bahwa jumlah haditsnya ada 6531,
berbeda dengan penuturan penulisnya sendiri. Silahkan dirujuk ke Ad
Dzari’ah jilid 2 hal 14, A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280, pengantar Al
Istibshar, tulisan Hasan Al Khurasan. Kedua kitab di atas – Tahdzibul
Ahkam dan Al Istibshar- adalah karya ulama tersohor syiah yang bergelar “
Syaikhut Tha’ifah” yaitu Abu Ja’far Muhamamd bin Hasan Al Thusi (wafat
360 H). Al Faidh Al Kasyani dalam Al Wafi jilid 1 hal 11 mengatakan:
seluruh hukum syar’i hari ini berporos pada empat kitab pokok, yang
seluruh riwayat yang ada di dalamnya dianggap shahih oleh penulisnya.
Agho
Barzak Tahrani – salah satu mujtahid syiah masa kini- mengatakan dalam
kitab Adz Dzari’ah jilid 2 hal 14 : empat kitab ditambah dengan kitab
kumpulan hadits adalah dasar bagi hukum syar’I hingga saat ini. Pada
abad 11 Hijriah para ulama syiah menyusun beberapa kitab, empat di
antaranya disebut oleh ulama syiah hari ini dengan : Al Majami’ Al
Arba’ah Al Mutaakhirah” (empat kitab kumpulan hadits belakangan); empat
kitab itu adalah: Al Wafi yang disusun oleh Muhamad bin Murtadha yang
dikenal dengan julukan Mulla Muhsin Al Faidh Al Kasyani –wafat tahun
1091 H– terdiri dari tiga jilid tebal, dicetak di Iran, memuat 273 bab.
Muhammad Bahrul Ulum mengatakan bahwa kitab Al Wafi memuat 50 000 hadits
(lihat footnoote kitab Lu’lu’atul Bahrain hal 122) sementara Muhsin Al
Amin mengatakan bahwa Al Wafi memuat 44244 hadits, bisa dilihat dalam
A’yanus Syi’ah.
Lalu
kitab Biharul Anwar Al Jami’ah Li Durar Akhbar Aimmatil At-har karya
Muhammad Baqir Al Majlisi –wafat tahun 1110 atau 1111 H-. Ulama syiah
menyatakan bahwa Biharul Anwar adalah kitab terbesar yang memuat hadits
dari kitab-kitab rujukan syiah, bisa dilihat keterangan mengenai kitab
ini dalam Adz Dzari’ah jilid 3 hal 27, juga A’yanus Syi’ah jilid 1 hal
293. selain itu juga ada kitab wasa’ilus syi’ah ila tahsil masa’ilisy
syari’ah yang disusun oleh Muhammad bin Hasan Al Hurr Al Amili, yang
dianggap sebagai kitab terlengkap yang memuat hadits hukum fiqih bagi
syiah imamiyah.
Dalam
kitab ini terkumpul riwayat dari kitab empat utama dan ditambah dengan
riwayat lain dari kitab-kitab lain yang dianggap sebagai rujukan,
yangkonon jumlahnya mencapai tujuh puluh kitab-seperti dikatakan oleh
penulis kitab Adz Dzari’ah. Tetapi Syirazi dalam pengantar kitab wasa’il
menyebutkan jumlah kitab yang menjadi rujukan adalah 180 kitab lebih,
Al Hurr Al Amili menyebutkan judul-judul kitab yang menjadi rujukannya
yang berjumlah lebih dari delapan puluh kitab, dia juga menyebutkan
bahwa dia mengambil rujukan dari kitab0kitab selain yang telah
disebutkan, tetapi dia merujuknya dengan perantaraan nukilan kitab lain.
Silahkan merujuk pada Muqaddimatul Wasa’il yang situlis oleh Asyirazi,
begitu juga A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 292-293, Adz Dzari’ah jilid 4 hal
352-353, Wasa’ilusy Syi’ah jilid 1 hal 408, jilid 20 hal 36-49.
Lalu
kitab mustadrakul wasa’il wa mustanbtul masa’il yang disusun oleh
Husein Nuri Thabrasi –wafat 1320 H-. Agho Barzak Tahrani mengatakan:
kitab mustadrak wasa’il menjadi seperti kitab kumpulan hadits lainnya
yang harus ditelaah dan dijadikan rujukan oleh para mujtahid dalam
memutuskan hukum syareat, kebanyakan ulama kami saat ini tunduk
mengikuti kitab itu. Lihat kitab Adz Dzari’ah jilid 2 hal 110-111. lalu
Agho Barzak memperkuat pernyataannya dengan nukilan dari ulama-ulama
syiah yang menjadikan kitab mustadrak wasa’il sebagai rujukan utama
mereka. Adz Dzari’ah jilid 2 hal 111.
Jika
pembaca merasa pernah mendengar nama Nuri Thabrasi, dia adalah penyusun
kitab Fashlul Khitab fi Itsbati Tahriifi Kitaabi Rabbil Arbab – pemutus
perkara, pembuktian bahwa kitab Tuhan telah dirubah-, kitab itu
menyebutkan dalil-dalil yang memperkuat pendapat bahwa Al Qur’an yang
ada hari ini telah diselewengkan dan diubah oleh “tangan-tangan kotor”.
Dalam muqaddimah mustadrakul wasa’il, Agha Barzak Tahrani mengatakan :
Dia adalah salah seorang imam ahli hadits dan rijalul hadits di masa
ini, termasuk jajaran ulama besar syiah dan ulama besar islam di abad
ini.
Bagaimana orang
yang tidak beriman pada Al Qur’an menjadi ulama besar syiah? Pada
pengantar mustadrak wasa’il, Agha Barzak Thrani mengatakan bahwa salah
satu karya Husein Nuri Thabrasi adalah kitab Fashlul Khitab.
Imam atau Tuhan ? |
Syiah meyakini adanya dua belas imam yang menjadi
penerus kenabian. Bagi syiah, masalah imamah sudah tidak bisa ditawar
lagi, karena siapa saja yang menolak beriman pada salah satu saja dari
dua belas imam itu maka dia divonis menjadi kafir. Menolak beriman pada
salah satu imam saja sudah kafir –apalagi menolak beriman pada kedua
belas imam tersebut-.
Karena yang menolak dianggap kafir, maka sudah tentu
masalah imamah ini merupakan pokok yang terpenting bagi mazhab syiah.
Begitu juga para imam memiliki kedudukan yang sangat penting bagi syiah.
Sudah tentu penting, karena syiah meyakini bahwa para imam adalah
penerus kenabian. Barangkali pembaca bertanya-tanya apakah syiah
meyakini bahwa misi kenabian Nabi Muhammad belum selesai sehingga masih
diperlukan penerus lagi? Tetapi inilah keyakinan syiah. Syaikh Muhammad
Ridha Muzhaffar dalam kitab Aqaidul Imamiyah –yang berisi keyakinan
mazhab Syiah Imamiyah- pada halaman 66 mengatakan bahwa imam adalah
penerus kenabian. karena para imam adalah penerus kenabian, sudah tentu
memiliki sifat-sifat "linuwih" kelebihan yang membuat para imam berbeda
dengan kita-kita. Boleh jadi pembaca yang kebetulan syiah akan merah
telinganya ketika imamnya dibandingkan dengan kita-kita. Ok lah, supaya
para imam berbeda dengan para sahabat Nabi yang merampas hak khilafah
secara tidak berhak –ini sesuai dengan pendapat syiah-. Jika imam sama
dengan para sahabat Nabi, maka bisa jadi sahabat yang menjadi imam,
karena tidak ada perbedaan antara mereka. Maka akal mengharuskan adanya
perbedaan antara imam dan orang biasa.
Kembali
kita simak Syaikh Muhammad Ridha Muzhaffar dalam kitabnya di atas pada
halaman 67: Kami meyakini bahwa imam adalah sama seperti Nabi, harus
memiliki sifat yang sempurna dan menjadi yang terbaik dari seluruh
manusia.
Lalu mana
dalil dari Al Qur'an? Semestinya dalam Al Qur'an telah disebutkan hal di
atas, karena imam sama dengan Nabi. Tetapi sampai saat ini saya belum
menemukan satu ayat pun yang menerangkan adanya imam yang menjadi
penerus para Nabi. Jika dalam Al Qur'an termaktub bahwa Allah mengutus
para Nabi, dan memang Allah menjadikan imam sebagai penerus Nabi,
mestinya hal itu disebutkan dalam Al Qur'an. Kita lihat Al Qur'an banyak
sekali memuat ayat yang memerintahkan kita beriman pada Nabi. Tetapi
saya belum menemukan ayat yang menyuruh kita beriman pada imam. Yang ada
malah ayat yang menyuruh kita berdoa pada Allah minta dijadikan imam
bagi orang bertaqwa:
Dan
orang-orang yang berkata: "Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami
isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 25:74)
Apakah
mungkin kita diminta untuk menjadi penerus para Nabi yang memiliki
sifat "linuwih"? jika demikian maka jumlah imam tidak bisa dibatasi
dengan dua belas.
Kita
kembali ke pembahasan inti kita, yaitu para imam memiliki sifat
"linuwih" kelebihan. Lalu apa kelebihan para imam syiah yang dua belas?
Tidak ada kitab ahlussunnah yang menerangkan kelebihan dua belas imam
syiah. Karena tidak ada, terpaksa kita meng"explore" kitab syiah lagi.
Saya ucapkan selamat pada pembaca karena dengan membaca makalah ini anda
beruntung membaca riwayat-riwayat yang tidak bisa dibaca oleh banyak
orang. Bahkan penganut syiah sendiri belum tentu pernah membaca
riwayat-riwayat di bawah ini. Salah satu sisi kelebihan para imam adalah
dari sisi keilmuan. Ilmu para imam lebih dari ilmu manusia seluruhnya.
Jika ilmu para imam sama dengan ilmu para sahabat Nabi –misalnya- maka
apa bedanya para imam dan sahabat Nabi? Riwayat dari kitab Al Kafi jilid
1 hal 192, dari Abu Ja'far mengatakan: Kami adalah wali perintah Allah,
kami adalah pembawa ilmu Allah dan penyimpan wahyu Allah.
Sepertinya
Allah dianggap memerlukan para imam untuk menyimpan ilmuNya, jadi harus
"dititipkan" pada para imam syiah. Para imam menyimpan ilmu Allah
berarti para imam mengetahui segala sesuatu tanpa batas. Karena ilmu
Allah tidak ada batasannya. Bahkan dalam Al Qur'an ilmu Allah sebegitu
luas sehingga jika ditulis dengan tinta sebanyak tujuh lautan masih
kurang. Sebegitulah ilmu para imam. Ini jelas menyamakan antara imam
dengan Allah, karena ilmu Allah dianggap sama dengan ilmu para imam.
Lalu bagaimana dengan para Nabi? Jelas para Nabi tidak menyimpan segala
ilmu Allah, para Nabi adalah manusia biasa yang diutus oleh Allah utnuk
menyampaikan risalahNya kepada manusia. Segala tindakan Nabi dituntun
oleh wahyu yang turun pada mereka. maka sudah jelas para Nabi tidak
memiliki ilmu Allah, tidak mengetahui apa yang Allah ketahui. Berbeda
dengan para imam yang menjadi tempat simpanan ilmu Allah, artinya mereka
mengetahui apa saja yang Allah ketahui, ilmu mereka sama dengan ilmu
Allah. Jika memang demikian mestinya yang diutus oleh Allah bukannya
Nabi tetapi imam. Para Nabi sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi
pada ummat mereka setelah mereka wafat:
(Ingatlah),
hari diwaktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada
mereka): "Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu." Para rasul menjawab:
"Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang
mengetahui perkara yang ghaib." (QS. 5:109)
Tetapi
imam Ja'far di atas menyatakan bahwa para imam juga mengetahui
perkara-perkara yang ghaib, sama seperti Allah. Nabi Isa pun tidak tahu
apa yang terjadi dengan ummatnya. Allah bertanya pada Nabi Isa apakah
pernah menyuruh ummatnya untuk menyembah diri dan ibunya. Beliau
menjawab pertanyaan Allah:
Maha
Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku
(mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau
telah mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku
tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha
Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. (QS. 5:116)
Aku
tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau
perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: "Sembahlah Allah, Rabbku dan
Rabbmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah
Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan
Engkau adalah Maha Meyaksikan atas segala sesuatu. (QS. 5:117)
Ini
dikuatkan lagi oleh riwayat berikutnya –pada kitab dan halaman yang
sama- dari Surah bin Kulaib, Abu Ja'far –Muhammad Al Baqir- mengatakan
padanya: Demi Allah kami adalah penyimpan Allah di bumi dan langitnya,
bukan menyimpan emas dan perak tetapi menyimpan ilmuNya. Sebagai bukti
bahwa mereka memiliki ilmu Allah, terdapat riwayat yang menjabarkan ilmu
yang dimiliki para imam. Jelas para Nabi tidak memiliki ilmu Allah.
Mereka hanya memiliki pengetahuan hal ghaib ketika diberitahu oleh
Allah:
Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (QS. 72:26)
Kecuali
kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan
penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72:27)
Saya katakan pembaca benar-benar beruntung, mendapat kesempatan membaca
nukilan dari kitab syiah yang terbesar, yaitu kitab Biharul Anwar yang
terdiri dari kurang lebih 110 jilid –besar sekali-. Kali ini kita
menukil dari jilid 26 halaman 132:
Bab Allah membuatkan tiang bagi para imam untuk melihat perbuatan hamba.
Dari
Abu Abdullah –imam Ja'far Ash Shadiq-: mengatakan: Imam mendengarkan
suara ketika di perut Ibunya, ketika berusia empat bulan di kandungan
dituliskan di lengan kanannya: Dan telah sempurna kalimat Allah yang
benar dan adil, jika imam tersebut telah lahir maka akan nampak cahaya
antara langit dan bumi, jika dia mulia berjalan maka dibuatkan baginya
tiang dari cahaya untuk melihat apa yang ada antara timur dan barat.
Dalam
judul bab jelas sekali bahwa imam mengawasi perbuatan manusia yang ada
di bumi. Di sini kita bertanya lalu apakah tugas imam sebenarnya? Apakah
imam bertugas meneruskan kenabian atau bertugas mengawasi hamba? Lalu
ngapain si imam melihat perbuatan hamba? Apa tujuan imam melakukan hal
itu? Para Nabi tidak pernah dibuatkan tiang oleh Allah untuk melihat
perbuatan hamba di seluruh bumi. Tugas para Nabi adalah menyampaikan
risalah Allah, agar seluruh manusia menyembah Allah dan menjauhi
tuhan-tuhan palsu yang dibuat sendiri oleh penyembahnya. Para Nabi tidak
tahu apa yang terjadi esok hari, kecuali dengan apa yang diberitahukan
Allah pada mereka. Nabi tidak tahu menahu terhadap perbuatan hamba –yang
akan dibalas oleh Allah dengan balasan setimpal-. Tetapi tidak untuk
para imam, mereka juga melaksanakan tugas malaikat untuk mengawasi
hamba-hambanya.
Dalam
Al Kafi jilid 1 hal 261 Imam Abu Abdillah –Ja'far Ashadiq- Masih banyak
lagi riwayat tentang ke"linuwih"an para imam, semoga kita bisa
mengungkapnya. Para sahabat Nabi bukanlah imam yang bisa mengetahui yang
ghaib, mereka adalah manusia biasa yang lahir dalam keadaan normal
–tanpa tulisan ayat di lengannya-, bahkan banyak dari mereka adalah para
"mantan" preman, pemabok, penjudi dan banyak lagi sifat-sifat lainnya.
Anda tidak akan pernah menemukan riwayat dalam kitab ahlussunnah yang
menyatakan bahwa para sahabat adalah penyimpan ilmu Allah dan mampu
melihat amalan seluruh manusia di penjuru planet bumi ini. Sahabat tidak
memerlukan riwayat riwayat buatan manusia seperti itu, tetapi cukup
dengan ayat Al Qur'an yang abadi dan tidak akan dapat berubah selamanya,
yang hanya diyakini oleh orang Islam:
Sesungguhnya
Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji
setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di
dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi
balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS.
48:18)
Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 48:19)
Ayat
di atas membahas para sahabat yang bersama Nabi dalam peristiwa baiat
di hudaibiyah, jumlah mereka sekitar 1500 orang. Allah telah ridha pada
mereka padahal mereka masih hidup di dunia. Mereka para sahabat yang
dianggap "gembel" oleh raja persia, dan akhirnya kerajaan persia dikubur
oleh para sahabat untuk selamanya, ternyata diridhai oleh Rabb mereka.
Meskipun bangsa persia benci dan mendendam dalam hatinya. Tenang saja,
dendam itu tidak akan membangkitkan kerajaan Persia Raya dari kuburnya.
Dengan
keridhaan Allah ini cukuplah kebanggaan bagi mereka, cukuplah alasan
bagi kita untuk mencintai mereka, sebagai konsekwensi kecintaan kita
kepada Allah. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk membenci mereka yang
dicintai Allah. Tidak ada alasan bagi anda untuk membenci mereka,
jikalau anda masih beriman pada ayat di atas. Jika anda membenci
sahabat, -ingat, Abubakar dan Umar termasuk mereka yang berbaiat pada
Nabi di Hudibiyah-, silahkan anda keluar dari islam dan nyatakan dengan
terus terang, jangan malu atau takut menyuarakan keyakinan anda. Jika
anda menyembunyikan kebencian anda pada Abu Bakar dan Umar dalam hati,
maka Allah tetap mengetahui apa yang ada dalam hati kalian. Anda mesti
mengedepankan penilaian Allah daripada penilaian teman, guru, tetangga
maupun keluarga anda sendiri. Ini jika anda masih ingin disebut muslim
di dunia dan akherat.
Taqiyah Adalah Perisai Perlindungan Bagi Syiah |
Taqiyyah adalah ajaran penting dalam mazhab syi'ah, penting untuk anda ketahui.
Setiap ajaran pasti memiliki keyakinan-keyakinan dan
ajaran tertentu, dan lazimnya sebuah ajaran yang diinginkan untuk
berkembang, keyakinan itu ditulis dalam buku. Kita lihat prakteknya
agama Islam sendiri memiliki kitab yang memuat ajaran yang harus
diyakini oleh seorang muslim yaitu Al Qur'an, yang mengandung perintah
untuk bertanya kepada yang tahu ketika tidak mengerti tentang segala
sesuatu. Begitu juga Al Qur'an memuat sumpah Allah dengan pena, yang
dipahami oleh ummat Islam sebagai perintah untuk menulis dan membaca.
Sehingga keterangan dari ulama dituangkan dalam kitab-kitab yang dapat
dibaca hingga kini. Mazhab-mazhab fiqih dalam islam pun memiliki
kitab-kitab rujukan yang memuat pendapat mazhab itu. "Mazhab syiah" pun
demikian pula memiliki kitab-kitab rujukan yang memuat
keyakinan-keyakinan syiah, kitab ini berisi ucapan-ucapan ahlulbait, 11
imam yang konon harus diikuti. Konon lagi, 11 imam itu disebut juga
sebagai salah satu dari tsaqalain (dua pusaka) yang harus diikuti oleh
orang muslim. Pusaka satu lagi adalah Al Qur'an. Selain ucapan
ahlulbait, kitab-kitab itu juga memuat penjelasan-penjelasan ulama
syiah, yang juga harus diikuti karena status ulama menjelaskan ayat-ayat
Al Qur'an dan ucapan ahlulbait di atas. Tapi belakangan ulama syiah
naik pangkat menjadi wakil imam ma'sum (yang juga ma'dum = tidak ada)
untuk mengatur kehidupan keberagaamaan para penganut syiah.
Tetapi
buku-buku yang memuat ajaran syiah itu hampir seluruhnya susah diakses.
Terutama buku-buku yang memuat ucapan-ucapan ahlulbait, sumber
legalitas bagi syiah selain Al Qur'an, sehingga kita hanya mengetahui
ajaran syiah dari mulut-mulut pengikutnya atau dari buku-buku yang
ditulis oleh ulama masa kini dan tidak memuat langsung ucapan ahlulbait.
Ini menimbulkan kerancuan, di satu sisi orang akan mengira bahwa itulah
sebenarnya mazhab syiah, tetapi ada golongan lain dari umat Islam yang
berkesempatan untuk mengakses ke kitab-kitab induk syiah dan mendapati
ternyata ucapan dari penganut syiah tentang mazhabnya ternyata tidak
sesuai dengan isi kitab-kitab itu. Perlu diketahui bahwa kitab-kitab
syiah itu memuat ajaran-ajaran yang tidak pernah didapat dalam Al Qur'an
serta sabda Nabi SAW. Di sini umat dibuat bingung, akhirnya diadu
domba. Ini karena adanya sebagian umat yang celakanya mereka adalah kaum
intelektual tetapi terjangkit penyakit lugu dan polos. Mereka begitu
saja percaya dengan ucapan-ucapan penganut syiah yang berpropaganda
tentang ajarannya tanpa ingin mengecek ke sumber asli. Mereka
berbenturan dengan orang-orang yang ikhlas ingin mengingatkan umat akan
ajaran yang tidak sesuai dengan Al Qur'an dan sabda Nabi SAW. Akhirnya
umat pun diadu domba. Lebih berbahaya lagi bahwa mereka adalah kaum
intelektual yang didengar suaranya di masyarakat. Kasihan masyarakat
yang terbius oleh "angin surga" baik yang dilontarkan oleh penganut
syiah maupun dari intelektual yang lugu lagi polos –tapi intelek-.
Tidak
ada yang aneh jika kita melihat fenomena "intelek tapi lugu", karena
sikap lugu mereka tertipu oleh angin surga dari da'i-da'i syiah. Tetapi
yang patut dicermati adalah penganut atau ustadz-ustadz syiah, mengapa
mereka terkesan menutupi isi riwayat-riwayat dari ahlulbait? Mengapa
ucapan mereka berbeda dengan apa yang tercantum dalam buku-buku
riwayat-riwayat ahlulbait? Apakah mereka sengaja ingin menyembunyikan
riwayat ahlulbait atau mengapa? Ini yang barangkali terlintas pada benak
kita. Ataukah riwayat itu hanya diperuntukkan bagi kalangan khusus yang
sudah dianggap layak untuk mengaksesnya? Apa pun jawabannya,
kitab-kitab syiah sudah bukan barang langka lagi, mereka yang
benar-benar ingin pasti akan dapat menemukan dan mengaksesnya, meskipun
para ustadz syiah mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan.
Sebagai misal, anda tidak akan mendengar penganut atau ustadz syiah menukil riwayat di bawah ini:
Dari
Abu Abdillah –Ja'far Ash Shadiq- mengatakan: Ambillah harta orang
nashibi di mana saja kamu dapatkan, lalu bayar seperlimanya pada kami.
Riwayat
ini terdapat dalam kitab Tahdzibul Ahkam jilid 4 hal 122, Al Wafi
jilid6 hal 43, begitu juga dinukil oleh Al Bahrani dalam Al Mahasin An
Nifsaniyah, Al Bahrani mengatakan riwayat ini diriwayatkan dari banyak
jalur.
Siapakah yang
disebut dengan nashibi? Nashibi adalah orang yang memusuhi ahlulbait.
Tetapi syiah memiliki terminologi yang berbeda atas kata memusuhi
ahlulbait. yang dimaksud memusuhi ahlulbait bukanlah memusuhi alias
lawan kata cinta, seperti orang yang memusuhi Ali atau membenci Fatimah,
anda tidak akan menemui sikap demikian kecuali pada sebagian orang
khawarij yang memang sesat. Tetapi nashibi di sini bermakna mereka yang
mendahulukan selain Ali dalam khilafah, alias mereka yang berkeyakinan
bahwa Ali bukanlah yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Kita
lihat Al Bahrani di atas –nama lengkapnya Husain bin Muhammad Al Ashfur
Ad Darazi Al Bahrani- dalam kitab yang sama pada hal 157 memberikan
definisi bagi kata nashibi:
Ini karena kamu telah tahu bahwa nashibi adalah mereka yang mendahulukan selain Ali…
Maka
kata nashibi meliputi seluruh penganut ahlussunnah wal jamaah yang
meyakini fakta dan kenyataan yang ada bahwa khalifah setelah Nabi adalah
Abu Bakar. Riwayat di atas adalah ajakan untuk merampok, mencuri,
mencopet dan merampas harta ahlussunnah. Ini jelas dari riwayat di atas
yang menjelaskan ambillah harta nashibi –sunni- di mana saja, di jalan,
di rumahnya, di kantor, pokoknya di mana saja terdapat harta itu.
Barangkali situasi di Indonesia belum kondusif untuk melaksanakan
riwayat itu, tetapi riwayat di atas dipraktekkan di Irak hari ini, di
mana milisi syiah melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh
pasukan ortodok Serbia kepada muslimin Bosnia.
Anda
tidak akan mendengar riwayat ini dari ustadz syiah. Mengapa demikian?
Ternyata ajaran syiah terdapat sebuah ajaran yang membolehkan bagi
penganut syiah untuk menyembunyikan keyakinannya di depan non syiah,
keyakinan itu disebut dengna taqiyyah. Lagi-lagi menurut keterangan
ulama syiah sendiri bahwa taqiyah hukumnya wajib hingga imam ke 12
bangkit dari "tidur panjangnya". Ibnu Babawaih Al Qummi yang dijuluki
Ash Shaduq –yang selalu berkata benar- mengatakan:
Keyakinan
kami bahwa taqiyah adalah wajib, meninggalkan taqiyah sama seperti
meninggalkan shalat, tidak boleh ditinggalkan hingga keluarnya Imam
Mahdi siapa yang meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Imam Mahdi maka
telah keluar dari agama Allah (Islam), keluar dari agama Imamiyah dan
menyelisihi Allah, Rasul dan para imam. Bisa dilihat dalam kitab Al
I'tiqadat hal 114. Pada cetakan Darul Mufid tex di atas ada pada hal
108.
Ucapan ini
tentunya tidak berasal dari omong kosong maupun pendapat sendiri, karena
dalam ucapan di atas kita lihat ada kata: Keyakinan kami, berarti
adalah keyakinan mazhab syiah menurut As Shaduq. Juga ini bukan
satu-satunya ucapan ulama syiah tentang wajibnya taqiyah. Ucapan di atas
berdasar pada riwayat Ja'far Ash Shadiq yang bersabda:
Jika
kamu katakan bahwa orang yang meninggalkan taqiyah sama dengan orang
yang meninggalkan shalat maka kamu telah berkata benar.
Bisa
dilihat di kitab Biharul Anwar jilid 50 hal 181, jilid 75 hal 414, hal
421, As Sarair hal 476 Kasyful Ghummah jilid 3 hal 252, Man Laa
Yahdhuruhul Faqih jilid 2 hal 127 dan beberapa sumber lain.
Juga
terdapat riwayat yang mengatakan: Orang yang meninggalkan taqiyah
adalah kafir. Bisa dilihat di kitab Biharul Anwar 87 347 Fiqhur Ridha
338.
Dari sini saja
kita sudah bisa mengetahui bahwa tidak ada orang syiah yang tidak
bertaqiyah, tetapi sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga,
sepandai-pandai syiah bertaqiyah akhirnya terbongkar juga –bagi mereka
yang tidak lugu-. Perkataan As Shaduq di atas memberi jawaban bagi
kebingungan kita tentang mengapa ucapan ustadz syiah berbeda dengan isi
kitab mereka sendiri. Di samping itu kita jadi tahu dan akhirnya
berhati-hati dalam mendengar ucapan penganut syiah, karena apa yang
diucapkan di mulutnya tidak sesuai dengan keyakinan hatinya. Ini
dilakukan agar keyakinan yang sebenarnya diyakini tidak diketahui orang,
akhirnya dia selamat dan tidak dijauhi teman-temannya. Karena kaum
muslimin masih memiliki tingkat resistensi yang tinggi pada mereka yang
beraliran sesat, sehingga orang yang beraliran sesat bisa dijauhi dan
dimusuhi. Jika saja penganut syiah menampakkan keyakinan aslinya pasti
dia dimusuhi dan dijauhi. Kondisi demikian kurang menguntungkan karena
gerak penganut syiah untuk menyebarkan ajarannya menjadi sempit karena
dia ditolak di mana-mana.
Praktek menyembunyikan keyakinan agar tidak dibenci orang ini mirip dengan yang disebutkan dalam surat An Nisa' 41:
Praktek menyembunyikan keyakinan agar tidak dibenci orang ini mirip dengan yang disebutkan dalam surat An Nisa' 41:
Hai
Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang
bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang
mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati
mereka belum beriman.
Juga dalam surat A Fath ayat 11:
mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.
Juga dalam surat Ali Imran ayat 167:
Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya.
Repotnya, kita tidak memiliki indikator yang membuat kita tahu apakah penganut syiah yang sedang berbicara dengan kita sedang bertaqiyah atau tidak. Kita mengusulkan pada mereka yang berkompeten untuk menciptakan penemuan baru berupa indikator taqiyah, yang mungkin berupa lampu yang menyala bila seorang syiah sedang bertaqiyah. Jika tidak bisa lampu maka apa saja, seperti kerlingan mata atau tanda di kepala atau apa saja, yang penting orang lain di sekitarnya bisa tahu apakah dia sedang bertaqiyah atau tidak. Penemuan ini begitu mendesak supaya kaum muslimin tidak tertaqiyahi –baca: Tertipu- oleh penganut syiah yang menyembunyikan keyakinannya ketika tidak dalam keadaan bahaya. Lalu apakah para imam juga bertaqiyah? Sudah semestinya demikian, karena bagaimana sang imam menyuruh orang untuk bertaqiyah tapi diri mereka sendiri tidak bertaqiyah.
Di sini terdetik pertanyaan besar, yaitu bagaimana kita tahu para imam sedang bertaqiyah atau tidak? Jika kita membaca sebuah riwayat dari salah seorang imam, maka kita tidak tahu apakah sang imam mengucapkan sabdanya dalam keadaan taqiyah atau tidak hal ini penting untuk diketahui karena seperti di atas, taqiyah adalah menyembunyikan keyakinan sebenarnya dalam hati dan mengucapkan hal yang berbeda dengan apa yang diyakininya dalam hati. Maka penganut syiah tidak tahu apakah riwayat yang ada adalah benar-benar ajaran imam yang sebenarnya atau hanya taqiyah? Ini adalah masalah yang harus diselesaikan oleh syiah. Jika ada syiah yang berani menyanggah dengan mengatakan bahwa penerapan taqiyah dimulai dari era ghaibah –hilangnya imam- sughra maupun kubra, maka dengan mudah kita jawab: Jika memang demikian maka perintah taqiyah akan muncul tepat sebelum masa ghaibah, yaitu pada era imam Hasan Al Askari, bukannya muncul dari Imam Ja'far As Shadiq yang hidup jauh sebelum era ghaibah. Maka tidak ada yang menjamin bahwa sabda imam adalah benar-benar ajaran Allah, karena imam juga melakukan taqiyah. Di sini syiah terjebak dalam taqiyah, di mana dia tidak bisa membedakan ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang disampaikan saat bertaqiyah, yang sudah tentu berbeda dengan ajaran imam yang sebenarnya. Dari mana kita mengetahui ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang bertaqiyah? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti. Jadi ajaran syiah tidak diketahui mana yang benar-benar ajaran syiah 'yang dari Allah' dan mana yang taqiyah. Mestinya penganut syiah hari ini berhati-hati, jangan-jangan ajaran yang mereka anut saat ini bukanlah ajaran syiah sebenarnya, tetapi adalah ajaran dari para imam yang sedang bertaqiyah?!
Mari kita simak ucapan Al Bahrani dalam kitab Al Hadaiq An Nadhirah jilid 1 hal 89:
Banyak riwayat-riwayat syiah yang diucapkan ketika sedang bertaqiyah yang tidak sesuai dengan hukum sebenarnya.
Ini pengakuan yang berbahaya, yaitu banyak riwayat syiah yang memuat keterangan kebalikan dari keterangan sebenarnya. Pengakuan ini juga masih bisa kita ragukan, yaitu dari mana diketahui bahwa imam sedang bertaqiyah? Juga ini adalah riwayat yang diketahui bahwa imam mengucapkannya dalam keadaan bertaqiyah, lalu bagaimana dengan riwayat lain? Lagipula bagaimana imam bisa ketahuan sedang bertaqiyah? Apakah taqiyah imam bisa diketahui?
Juga dalam surat Ali Imran ayat 167:
Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya.
Repotnya, kita tidak memiliki indikator yang membuat kita tahu apakah penganut syiah yang sedang berbicara dengan kita sedang bertaqiyah atau tidak. Kita mengusulkan pada mereka yang berkompeten untuk menciptakan penemuan baru berupa indikator taqiyah, yang mungkin berupa lampu yang menyala bila seorang syiah sedang bertaqiyah. Jika tidak bisa lampu maka apa saja, seperti kerlingan mata atau tanda di kepala atau apa saja, yang penting orang lain di sekitarnya bisa tahu apakah dia sedang bertaqiyah atau tidak. Penemuan ini begitu mendesak supaya kaum muslimin tidak tertaqiyahi –baca: Tertipu- oleh penganut syiah yang menyembunyikan keyakinannya ketika tidak dalam keadaan bahaya. Lalu apakah para imam juga bertaqiyah? Sudah semestinya demikian, karena bagaimana sang imam menyuruh orang untuk bertaqiyah tapi diri mereka sendiri tidak bertaqiyah.
Di sini terdetik pertanyaan besar, yaitu bagaimana kita tahu para imam sedang bertaqiyah atau tidak? Jika kita membaca sebuah riwayat dari salah seorang imam, maka kita tidak tahu apakah sang imam mengucapkan sabdanya dalam keadaan taqiyah atau tidak hal ini penting untuk diketahui karena seperti di atas, taqiyah adalah menyembunyikan keyakinan sebenarnya dalam hati dan mengucapkan hal yang berbeda dengan apa yang diyakininya dalam hati. Maka penganut syiah tidak tahu apakah riwayat yang ada adalah benar-benar ajaran imam yang sebenarnya atau hanya taqiyah? Ini adalah masalah yang harus diselesaikan oleh syiah. Jika ada syiah yang berani menyanggah dengan mengatakan bahwa penerapan taqiyah dimulai dari era ghaibah –hilangnya imam- sughra maupun kubra, maka dengan mudah kita jawab: Jika memang demikian maka perintah taqiyah akan muncul tepat sebelum masa ghaibah, yaitu pada era imam Hasan Al Askari, bukannya muncul dari Imam Ja'far As Shadiq yang hidup jauh sebelum era ghaibah. Maka tidak ada yang menjamin bahwa sabda imam adalah benar-benar ajaran Allah, karena imam juga melakukan taqiyah. Di sini syiah terjebak dalam taqiyah, di mana dia tidak bisa membedakan ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang disampaikan saat bertaqiyah, yang sudah tentu berbeda dengan ajaran imam yang sebenarnya. Dari mana kita mengetahui ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang bertaqiyah? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti. Jadi ajaran syiah tidak diketahui mana yang benar-benar ajaran syiah 'yang dari Allah' dan mana yang taqiyah. Mestinya penganut syiah hari ini berhati-hati, jangan-jangan ajaran yang mereka anut saat ini bukanlah ajaran syiah sebenarnya, tetapi adalah ajaran dari para imam yang sedang bertaqiyah?!
Mari kita simak ucapan Al Bahrani dalam kitab Al Hadaiq An Nadhirah jilid 1 hal 89:
Banyak riwayat-riwayat syiah yang diucapkan ketika sedang bertaqiyah yang tidak sesuai dengan hukum sebenarnya.
Ini pengakuan yang berbahaya, yaitu banyak riwayat syiah yang memuat keterangan kebalikan dari keterangan sebenarnya. Pengakuan ini juga masih bisa kita ragukan, yaitu dari mana diketahui bahwa imam sedang bertaqiyah? Juga ini adalah riwayat yang diketahui bahwa imam mengucapkannya dalam keadaan bertaqiyah, lalu bagaimana dengan riwayat lain? Lagipula bagaimana imam bisa ketahuan sedang bertaqiyah? Apakah taqiyah imam bisa diketahui?
Dan banyak lagi pertanyaan yang susah didapat jawabannya.
Semoga bermanfaat untuk kita semua Agar dapat menguatkan Ajaran kita yakni Ahli Sunnah Waljamaah Yang kita Yakini khatta dapat merobek hujah-hujah para pendakwah Syi'ah yang sesat lagi menyesatkan.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan