AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

Rabu, 16 April 2014

Majlis Adat Perkahwinan Melayu

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102

Rahasia di Balik Musibah

بسم الله الرحمن الر حيم
إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102

Tidaklah Allah swt. menciptakan peristiwa, atau kejadian sesuatu yang sia-sia. Manusia dianjurkan untuk merenung dan mengambil pelajaran dari berbagai macam peristiwa yang terjadi. Islam sangat mendorong umatnya untuk menggunakan potensi yang Allah swt. berikan kepadanya; penglihatan, pendengaran, hati, panca indra yang lain agar difungsikan untuk merenung hikmah dibalik peristiwa.

قُلْ سِيرُوا فِي الأرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (11)

11. Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” QS. Al-An’am:11

Ayat yang senada seperti di atas sangatlah banyak dalam Al-Qur’an. Dengan redaksi yang beragam, tapi kesimpulannya adalah satu, menggunakan pemberian Allah untuk merenung dan mengambil pelajaran yang sangat berharga dari berbagai peristiwa bencana yang terjadi silih berganti ini. Ada beberapa rahasia dibalik musibah dan bencana yang selama ini terjadi bahwa:

Pertama, Allah Penentu Kehidupan, Dzat yang Maha Perkasa.

Bahwa dibalik kehidupan ini ada yang punya, ada yang mengatur. Dialah Allah Rabbul Izzah, Tuhan yang memiliki kemuliaan dan keperkasaan. Di Genggaman-Nya lah semua kehidupan ini dikendalikan. Allah hanya butuh berkata “Kun Fayakun, terjadi! maka terjadilah”. Allah memiliki nama-nama, di antaranya; Al-Khaliq –Pencipta-, Al-Muhaimin –Yang Mengatur-, Al-Muhyi –Yang Menghidupkan-, Al-Mumit –Yang Mematikan-, Adh-Dhaar –Yang Memberi Madharat-, An-Nafi’ –Yang memberi Manfaat-, dst.

Manusia tidak bisa mengatur-atur. Manusia tidak mungkin bilang “hai merapi, berhenti meletus… dst”, sebagaimana yang kita dengar dari pusat ahli vulkanologi dan mitigasi bencana. Allah swt. punya kehendak-Nya sendiri, bahkan Kehendak itu sudah ditulis semenjak zaman azali. Allah swt. berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22)

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” Al-Hadid/57:22

Perhatikan potongan akhir ayat akhir di atas “Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”

حدثنا عاصم ، قال : سمعت الحسن ، يقول في مرضه الذي مات فيه : « إن الله عز وجل قدر أجلا ، وقدر مصيبة ، وقدر معافاة ، وقدر طاعة ، وقدر معصية ، فمن كذب بالقدر فقد كذب بالقرآن ، ومن كذب بالقرآن ، فقد كذب بالحق »

Al-Hasan ketika menjelang mautnya berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mentaqdirkan ajal, dan mentaqdirkan musibah, mentaqdirkan kesehatan, mentaqdirkan ketaatan, mentaqdirkan kemaksiatan. Maka barangsiapa yang mengingkari taqdir, ia berarti mengingkari Al-Qur’an. Barangsiapa mengingkari Al-Qur’an, sungguh ia berarti mengingkari kebenaran.”

Kedua, Musibah Akibat Perbuatan Manusia

Musibah yang menimpa umat manusia adalah karena perbuatan mereka sendiri yang melanggar peraturan Allah, merusak ekosistem kehidupan, banyak melakukan kemaksiatan dan dosa, tidak menjalankan perintah dan syariat-Nya.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30) وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الأرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (31)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah. ” Syuro/42:30-31

Bukan karena ada unsur mistik, karena ini, karena itu, seperti karena bulan tertentu, karena hari tertentu dll. yang justeru merusak aqidah umat. Bencana karena ulah manusia, dan itu atas kuasa Allah swt.

Ketiga, Pahala Tergantung Besarnya Musibah

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، أَنَّهُ قَالَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Allah mengujinya. Maka barangsiapa ridha dengan ujian Allah, baginya ridha –dari Allah-, sebaliknya, siapa yang murka, maka baginya murka –dari Allah-.” HR. At-Tirmidzi

Karena itu, tidak perlu putus asa, jangan sampai menggadaikan aqidah dengan

Keempat, Musibah Dalam Rangka Tamhis (Seleksi)

Kehidupan ini bukan statis, tapi berputar. Ada yang baik ada yang buruk, ada yang berhasil ada yang juga gagal. Itu semua adalah dalam rangka untuk menseleksi secara alamiah kualitas manusia, dan sebagai batu ujian; apakah ia lulus dengan predikat baik, lulus dengan catatan, atau malah gagal dalam menjalani usjian tersebut.

وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ (11)

“Dan Sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.” Al-Ankabut/29:11

Ketika menjelaskan ayat ini, Mujahid berkomentar: “Manusia itu ada yang iman hanya di lisannya saja, maka ketika dia mendapatkan ujian, berupa kehilangan harta atau jiwa, sebagian manusia dilanda fitnah –goncang yang hebat-“ (Tafsir Al-Baghawi, Juz 6, Bab 11, Hal. 235)

Kelima, Istirja’ atau Mengembalikan Semua kepada Allah

Pertam kali menghadapi musibah, hendaknya iman yang berbicara, bukan hawa nafsu yang protes. Karena seseorang ditentukan oleh sikap pertama kalinya terhadap kejadian. Rasulullah saw. mengingatkan “Sesungguhnya sabar itu ketika merespon kejadian pertam kali.” Selanjutnya berdoa kepada Allah swt. agar diberikan pahala atas musibah itu dan memperoleh ganti yang jauh lebih baik.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أصاب أحدكم مصيبة فليقل إنا لله وإنا إليه راجعون اللهم عندك احتسب مصيبتي فأجرني عليها وأبدلني بها خيرا منها

Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah satu di antara kalian mendapatkan musibah, maka ucapkanlah; “Sesungguhnya kami milik Allah dan kami kembali kepada-Nya, “Allahumma ‘indaka ahtasibu mushibatii, fa ajirnii ‘alaihaa waabdilnii bihaa khairan minhaa. Ya Allah kepada-Mu saya ikhlaskan musibah yang menimpaku, maka berilah pahala kepadaku atas musibah ini, dan berilah saya ganti yang jauh lebih baik darinya.” Imam Muslim

Keenam, Musibah Menghapus Kesalahan dan Mengangkat Derajat

Inilah indahnya kehidupan bagi orang yang beriman. Ujian, bencana dan bala akan menggugurkan dosa-dosa dan sekaligus mengangkat derajatnya. Tidak sia-sia, tegantung ia meresponnya. Dari Aisyah ra. ia mendengar Rasulullah saw. bersabda:

عن عائشة قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول « مَا مِنْ مُؤْمِنٍ تَشُوكُهُ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَرَفَعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةً » رواه مسلم

“Tiada seorang mukmin yang tertusuk suatu duri atau bahkan yang jauh lebih sakit, kecuali Allah pasti akan menghapus kesalahan dan mengangkat derajat.” Imam Muslim

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « عجبًا لأمرِ الْمُؤْمِن ، إِنَّ أمرهُ كُلَّهُ خيرٌ ، ولَيْسَ ذلِكَ لأحَد إلاَّ للمُؤْمنِ ، إن أصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَر ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وإنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ ، فكَانَ خَيرًا لَهُ »

Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur. Jika sedangkan memperoleh keburukan, ia bersabar, kedua-duanya baik baginya, itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin.” Sahih Ibnu Hibban

Ketujuh, Musibah sebagai Peringatan

Kejadian bencana bisa dimaknai 3 hal; Pertama sebagai siksa, jika itu menimpa orang-orang yang tidak beriman. Kedua sebagai peringatan, jika menimpa orang-orang yang beriman tapi melakukan banyak dosa. Dan ketiga, sebagai sarana mengangkat derajat, yaitu bagi orang yang beriman, hamba-hamba Allah swt.

Allah swt. berfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَى قُلُوبِكُمْ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآَيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ (46) öقُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَغْتَةً أَوْ جَهْرَةً هَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ (47) وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ فَمَنْ آَمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (48)ÇÍÑÈ وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا يَمَسُّهُمُ الْعَذَابُ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (49)

46. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang Kuasa mengembalikannya kepadamu?” perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).

47. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, Maka Adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?”

48. dan tidaklah Kami mengutus Para Rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan Mengadakan perbaikan, Maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.

49. dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” QS. Al-An’am: 46-49

Ketujuh, Musibah Menyempurnakan Iman

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ مُسْتَكْمِلِ الإِيمَانِ مَنْ لَمْ يَعُدَّ الْبَلاءَ نِعْمَةً، وَالرَّخاءَ مُصِيبَةً، قَالُوا: كَيْفَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ:لأَنَّ الْبَلاءَ لا يَتْبَعُهُ إِلا الرَّخَاءُ، وَكَذَلِكَ الرَّخَاءُ لا تَتْبَعُهُ إِلا الْمُصِيبَة وليس بمؤمن مستكمل الإيمان من لم يسكن في صلاته” قالوا: ولم يا رسول الله؟ قال: “لأن المصلي يناجي ربه فإذا كان في غير صلاة إنما يناجي ابن آدم”.

رواه الطبراني.

Rasulullah saw. bersabda: “Tiada dianggap mukmin yang sempurna imannya orang yang tidak menganggap suatu bala’ sebagai sebuah kenikmatan, dan suatu kemudahan sebagai musibah. Para sahabat bertanya: Bagaimana itu ya Rasulullah? Rasul menjawab; “Karena tiak menyertai balak itu kecuali adanya kemudahan. Demikian juga dengan kemudian itu akan disertai dengan musibah.” Ath-Tabrani.

Allah swt. berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8)

5.Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” QS. Al-Insyirah:5-8.

Dibalik bencana ada hikmah, ada pelajaran, ada kebaikan. Mari kita renungkan, kita temukan rahasia di balik bencana yang selama ini terjadi. Allahu a’lam
 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI

 

10 Kesalahan Besar Dalam Majlis Adat Perkahwinan Melayu


Ini merupakan sedikit sebanyak kemungkaran dan bidaah yang sering dilakukan dalam majlis perkahwinan melayu..

Semoga perkongsian ini dapat dimanfaatkan bersama, insyaAllah..

Antara 10 kemungkaran dan bidaah dalam majlis kahwin melayu yang sering dilakukan ialah..

1. Membuka Aurat

Perbuatan mendedahkan aurat di khalayak ramai (para hadirin) oleh wanita pada masa ini semakin banyak dilakukan di dalam majlis-majlis walimah.

Malah ianya sudah menjadi satu trend (gaya) dalam kalangan umat Islam setiap kali pasangan pengantin melangsungkan majlis perkahwinan mereka.

Terdapat sebahagian wanita yang asalnya bertudung, tetapi apabila tiba hari perkahwinannya, dia dengan relanya membuka tudung dan mendedahkan bahagian-bahagian aurat tertentu.

Termasuk perbuatan mendedahkan aurat adalah dengan memakai pakaian yang ketat sehingga menggambarkan bentuk tubuh badan, mengenakan pakaian dengan kain yang jarang, dan mengenakan kain yang tipis.

Sedangkan Allah s.w.t berfirman:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman:

“Hendaklah mereka menahan pandangan dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (aurat) kecuali kepada (mahram mereka).”

(Surah an-Nuur, 24: 31)

2. Bersolek dan memakai wangi-wangian bagi wanita

Dari Abu Musa al-Asy’ary r.a, dia berkata:

Rasulullah s.a.w bersabda:

“Wanita yang memakai wangi-wangian, dan kemudian dia melintasi suatu kaum supaya mereka mencium bau wanginya, maka wanita tersebut adalah wanita penzina.”

(Hadith Riwayat Abu Daud, no. 4172, at-Tirmidzi, no. 2786)

Alasan dari larangan tersebut dapat dilihat dengan jelas iaitu menggerakkan panggilan syahwat (kaum lelaki).

Sebahagian ulama telah mengaitkan perkara lain dengannya, seperti memakai pakaian yang cantik (melawa), perhiasan yang ditampakkan, dan bercampur baur dengan kaum lelaki.

(Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bari, 2/279. Rujuk: Abu Malik Kamal, Ensiklopedia Fiqh Wanita, jil. 2, m/s. 151, Pustaka Ibnu Katsir)

Allah s.w.t berfirman:

“…Dan janganlah kamu berhias (tabarruj) dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.”

(Surah al-Ahzab, 33: 33)

3. Mencukur Kening dan Memakai Rambut Palsu

Sabda Rasulullah s.a.w:

“Allah melaknat orang yang membuat tatu dan wanita yang minta ditatu, wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu), yang mencukur alis (bulu kening), dan yang minta dicukur,

dan wanita yang merenggangkan giginya untuk kecantikan sehingga mengubah ciptaan Allah.”

(Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 4886)

4. Memanjangkan Kuku dan Mewarnakannya Dengan Pewarna

Rasulullah s.a.w bersabda:

“Termasuk fitrah bagi manusia itu ada lima:

Khitan, mencukur bulu kemaluan, merapikan misai, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”

(Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 5889)

Berkenaan permasalahan trend mewarnakan kuku ini, Syaikh al-Albani rahimahullah berkata:

“Ini adalah merupakan kebiasaan buruk yang dilakukan oleh wanita-wanita Eropah kepada wanita-wanita Islam, iaitu memanjangkan kuku dan mewarnakannya dengan warna merah atau selainnya dengan kuteks (pewarna/pengecat kuku).

Kebiasaan ini juga turut dilakukan oleh sebahagian pemuda.

Perbuatan ini selain mengubah ciptaan Allah, ia juga menjadikan pelakunya terlaknat dan perbuatan ini termasuk meniru-niru (tasyabbuh) perbuatan wanita-wanita kafir.“

Daripada Ibnu ‘Umar, Nabi s.a.w bersabda:

“Sesiapa yang meniru-niru perbuatan suatu kaum (kebiasaan orang kafir), maka dia termasuk di dalam golongan mereka.”

(Hadith Riwayat Abu Daud. Sahih menurut Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’, no. 6149, juga dijelaskan di dalam Jilbab al-Mar’atil Muslimah)

5. Mencukur Janggut

Sebahagian kaum lelaki muslim pada masa ini tidak lagi berminat memelihara janggut dan membenci memelihara janggut.

Malah, ada pula di antara mereka yang mencukur janggutnya semata-mata untuk nampak bergaya di majlis perkahwinannya.

Sedangkan, perbuatan memelihara janggut adalah sebuah sunnah yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w, dan di dalam banyak hadith-hadithnya berkenaan janggut ia menunjukkan sebuah perintah yang perlu diikuti.

Daripada Ibnu ‘Umar r.a, Rasulullah s.a.w bersabda:

“Selisihilah kaum majusi, rapikanlah misai, dan peliharalah janggut.”

(Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 5893)

6. Mengkhususkan Adanya Cincin Perkahwinan

Perbuatan bertukar cincin atau menetapkan adanya cincin perkahwinan, pertunangan, atau pun pernikahan, ianya sama sekali bukan berasal daripada ajaran Islam.

Ini adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah:

“Tindakan ini (menyarung cincin) selain meniru tradisi orang-orang kafir sehingga menjadi sebuah larangan, ia juga mengandungi pelanggaran terhadap dalil-dalil hadith yang melarang lelaki mengenakan cincin emas.”

(al-Albani, Adabuz Zifaf, m/s. 191, Media Hidayah)

Asal perbuatan (adat) menyarung cincin perkahwinan ini adalah berasal dari adat kepercayaan kuno kaum Nasrani (kristian).

Ini adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh al-Albani di dalam kitabnya, Adabuz Zifaf.

Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah (Mufti Saudi Arabia) menjelaskan:

“Kami tidak mengetahui dasar amalan ini (sarung cincin) di dalam syariat.”

(Muhammad al-Musnid, Fatawa Islamiyah, 3/129. Rujuk: Panduan Lengkap Nikah, Abu Hafsh Usamah, m/s. 230, Pustaka Ibnu Katsir)

7. Adat Bersanding dan Pelamin

Perbuatan mengadakan pelamin dan adat bersanding bukanlah sebuah amalan yang berasal dari ajaran Islam.

Malah, ia mungkin ditiru dan berasal dari ajaran Hindu atau pun Kristian.

Ini adalah kerana amalan tersebut sangat mirip dengan adat upacara perkahwinan mereka.

Menurut Syaikh Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin hafizahullah:

“Perbuatan ini (bersanding) adalah TIDAK dibenarkan.

Sebab ini adalah bukti atas tercabutnya rasa malu dan taqlid (mengikuti) kepada kaum yang suka kepada keburukan.

Perkaranya adalah jelas.

Pengantin wanita sepatutnya merasa malu menampakkan diri di hadapan manusia, lalu bagaimana dengan perbuatan tersebut yang sengaja dilakukan di hadapan orang-orang yang sengaja menyaksikannya?”

(Muhammad al-Musnid, Fatawa Islamiyah, 3/188. Rujuk: Panduan Lengkap Nikah, Abu Hafsh Usamah, m/s. 230, Pustaka Ibnu Katsir)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Di antara perkara mungkar, bahawa rasa malu sebahagian manusia telah tercabut dari mereka.

(Adalah) seorang suami datang di tengah kaum wanita dan naik pelamin bersama isterinya di hadapan kaum wanita, iaitu pada awal pertemuannya dengan isterinya untuk bersanding dengannya,

bersalaman tangan dengannya, mungkin menciumnya, dan mungkin memberikan hadiah kepadanya berserta coklat dan selainnya yang dapat menggerakkan syahwat dan mengakibatkan fitnah.”

(Min Munkaratil Afraah, m/s. 7, 10. Rujuk: Panduan Lengkap Nikah, Abu Hafsh Usamah, m/s. 231, Pustaka Ibnu Katsir)

8. Menabur Gula-gula, Coklat, dan Bunga

Perbuatan ini tidak terdapat di dalam syariat atau pun majlis walimah sebagaimana yang disunnahkan oleh Rasulullah s.a.w.

Ada pun sebenarnya, perbuatan ini termasuk meniru-niru perbuatan kaum kafir yang diambil dari perbuatan kaum kristian yang menabur bunga di acara-acara perkahwinan mereka.

Daripada Ibnu ‘Umar, Nabi s.a.w bersabda:

“Sesiapa yang meniru-niru perbuatan suatu kaum (kebiasaan orang kafir), maka dia termasuk di dalam golongan mereka.”

(Hadith Riwayat Abu Daud. Sahih menurut Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’, no. 6149, juga di dalam Jilbab al-Mar’atil Muslimah)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan di bawah penafsiran Surah al-Baqarah, [2:104]:

“Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman menyerupai (syi’ar) orang-orang kafir, sama ada dalam ucapan mahu pun perbuatan mereka.”

(Ibnu Katsir, Shahih Tafsir Ibnu Katsir (Judul asal: al-Mishbaahul Muniir fii Tahdziibi Tafsiiri Ibni Katsir, Selenggaraan Syaikh Syafiurrahman al-Mubarakfuri), jil. 1, m/s. 364, Pustaka Ibnu Katsir)

Sekiranya amalan tersebut disandarkan kepada agama, maka perbuatan tersebut termasuk meletakkan perbuatan yang tiada asalnya di dalam agama, maka ia adalah bid’ah lagi sesat.

Ini adalah kerana walimatul urus adalah sebuah aturcara agama sebagaimana yang diperintahkan (ditekankan) berdasarkan sunnah yang jelas.

Dari ‘Aisyah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda:

“Sesiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam agama kami ini, maka ianya tertolak.”

(Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 2697)

Dari Irbadh bin Sariyah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda:

“Berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang baru di dalam agama.

Setiap perkara yang baru (di dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

(Hadith Riwayat Abu Daud, no. 4607)

9. Adat Merenjis Air Mawar

Adat ini juga bukan berasal dari Islam.

Mungkin ia diambil dari amalan masyarakat Hindu.

Selain merupakan perbuatan yang ditokok tambah (bid’ah) di dalam walimatul urus, malah ianya juga boleh menjurus kepada perbuatan syirik sekiranya dengan perbuatan merenjis tersebut disertakan dengan i’tiqad (keyakinan-keyakinan) tertentu seperti mempercayai pasangan pengantin yang direnjis akan mendapat kebahagiaan dan seumpamanya.

Na'uzubillah....

10. Mewajibkan Adanya Duit dan Barang Hantaran

Adat ini ditetapkan oleh kebanyakan masyarakat Melayu secara umumnya iaitu dengan mewajibkan pihak lelaki (atau bakal/calon suami) supaya membayar sejumlah wang yang dinamakan sebagai wang hantaran kepada keluarga pihak perempuan.

Kebiasaannya (pada masa ini) sehingga RM10,000 atau lebih dari itu bergantung kepada status pendidikan atau pun permintaan wanita yang hendak dinikahi.

Nilai wang hantaran ini akan ditetapkan oleh sama ada bakal isteri atau pihak keluarga bakal isteri.

Sekali imbas, perbuatan ini adalah seakan-akan sebuah perbuatan jual beli wanita.

Dan wang ini akan diserahkan kepada keluarga si isteri.

Dan kemudiannya, kedua-dua pihak akan saling bertukar barang hantaran tertentu sesama mereka.

Di mana mereka mengkhususkan dengan jumlah bilangan tertentu, seperti 5 dulang dari lelaki berbalas 7 dulang barangan tertentu dari pihak perempuan,

atau 7 dulang dari pihak lelaki berbalas 9 dulang dari pihak perempuan,

atau 9 dulang dari pihak lelaki berbalas 11 dulang dari pihak perempuan, dan seterusnya.

Ada pun sebenarnya perbuatan ini langsung tidak pernah ditetapkan oleh Islam, dan perbuatan ini merupakan perbuatan bid’ah iaitu amalan yang ditokok tambah ke dalam majlis walimah umat Islam.

Adalah menjadi suatu yang sunnah di dalam agama supaya memudahkan urusan pernikahan (juga urusan yang lain),

tetapi, dengan ditambahnya amalan-amalan seperti ini, ia hanya akan menyusahkan (memberatkan) pasangan yang hendak berkahwin

dan ia sekaligus menggalakkan maksiat sekiranya perkahwinan ditangguhkan hanya semata-mata disebabkan perkara yang karut ini.

Dari Irbadh bin Sariyah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda:

“Berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang baru di dalam agama.

Setiap perkara yang baru (di dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

(Hadith Riwayat Abu Daud, no. 4607)

Namun, apa yang diwajibkan atau pun disunnahkan di dalam syariat hanyalah memberikan mahar (mas kahwin) oleh lelaki kepada wanita yang dinikahi,

sama ada berdasarkan apa yang diminta oleh wanita tersebut atau pun tanpa diminta.

Dan mas kahwin ini tidaklah semestinya di dalam bentuk wang ringgit atau barang-barang tertentu.

Ianya sama ada tertakluk berdasarkan apa yang diminta oleh wanita, atau pun bebas dengan apa yang hendak diberikan oleh si lelaki jika si wanita tidak menetapkannya.

Dan mahar adalah merupakan salah satu rukun dan syarat sahnya nikah.

Allah s.w.t berfirman:

“Berikanlah maskahwin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan…”

(Surah an-Nisaa’, 4: 4)

“… Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban…”

(Surah an-Nisaa’, 4: 24)

Dan mahar yang paling baik adalah mahar yang paling mudah, ringan atau tidak mahal (tidak menyusahkan dan memberatkan si suami).

Daripada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a, Rasulullah s.a.w bersabda:

“Pernikahan yang paling besar keberkahannya adalah yang paling mudah maharnya.”

(Hadith Riwayat Ahmad, no. 24595)

Perbuatan meninggikan atau memahalkan penetapan nilai mahar adalah satu perbuatan yang dibenci oleh agama sebagaimana disebutkan di dalam beberapa hadith.

Umar al-Khaththab r.a berkata:

“Ingatlah, janganlah meninggikan nilai mahar wanita.

Jika itu merupakan kemuliaan di dunia atau taqwa di sisi Allah, sudah tentu yang paling utama melakukannya adalah Rasulullah s.a.w.”

(Hadith Riwayat Abu Daud, no. 2106) (Rujuk: Amru Abdul Mun’im Salim, Panduan Lengkap Nikah, m/s. 76, Dar an-Naba’)

Sahih di dalam beberapa riwayat bahawa Rasulullah saw dan beberapa sahabat berkahwin dengan mengeluarkan mahar yang sangat kecil.

Malah di sebahagian keadaan, ada yang memberikan mahar dalam bentuk

cincin besi, baju besi, memerdekakan hamba, dengan hafazan Al-Qur’an, dengan mengajarkan surah-surah tertentu dari Al-Qur’an, dengan segenggam kurma, dengan mengislamkan seseorang, dengan sebiji emas sebesar biji kurma, dan selainnya.

– Wallahu a’lam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiada ulasan:

Catat Ulasan